11 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala

Jaswanto by Jaswanto
November 3, 2024
in Ulas Buku
“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala

Buku kumpulan cerpen "Matinya Seorang Buruh Kecil" karya Anton Chekhov | Foto: Jaswan

DI kamar kotrakan saya ada tiga buku Anton Chekhov. Dua kumpulan cerpen (Matinya Seorang Buruh Kecil dan Pengakuan) dan satu naskah lakon (Tiga Saudari—terjemahan Trisa Triandesa). Saya tidak tahu asal-usul ketiga buku tersebut. Saya merasa tidak pernah membelinya. Tapi dugaan saya, ketiga buku ini saya ambil—untuk tidak mengatakan mencurinya—dari sebuah perpustakaan yang saya lupa itu di mana.

Tapi terlepas dari mana ketiga buku itu berasal, khusus kumpulan cerpen Matinya Seorang Buruh Kecil sudah saya baca berulang-ulang. Itu karena, selain saya menyukainya, juga tak banyak buku baru yang tersedia di rak kecil di kamar saya. (Kalau merasa tak cukup punya uang saya tidak membeli buku baru.)

Matinya Seorang Buruh Kecil di kamar saya ini tampaknya cukup klasik. Diterbitkan oleh Melibas tanpa tahun terbit. Sampulnya berwarna biru tua dengan foto Anton Chekhov dengan judul buku yang melingkarinya—lebih tepatnya berbentuk oval seperti telur.

Ada 13 cerpen dalam buku tipis ini, yang oleh penerbitnya disebut unik, “selain meng-‘KO’ kan, ia juga bisa membuat pembacanya tersenyum simpul dan senang. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan.”

Ungkapan tersebut benar adanya. Semua cerpen Chekhov dalam buku ini memang memiliki ending yang mengejutkan, tak tertebak. Cerita-cerita Chekhov yang lekat akan realitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial itu—cerita-cerita khas sastrawan Rusia—, ditulis dalam bahasa sederhana yang dipenuhi dengan unsur humor dan olok-olok, cerita-cerita dalam buku ini seperti menelanjangi sifat asli manusia.

Sejak cerpen pertama dalam buku ini, Peristiwa di Pengadilan (hlm. 17), saya sudah dibikin geleng-geleng kepala. Ketika seorang pengacara ternama harus membela terdakwa yang berdasarkan bukti dan fakta-fakta telah dinyatakan bersalah; tapi di penghujung cerita sungguh tak dapat saya kira. Satire. Sungguh membuktikan kata-kata si penulis di awal cerita yang menggambarkan bahwa sang tokoh, si pengacara, adalah orang yang penuh kharisma dan disegani oleh banyak orang.

Atau cerita yang menjadi banner kumpulan cerpen ini, Matinya Seorang Buruh Kecil (hlm. 25). Karena Chekhov berasal dari Rusia, awalnya saya mengira cerita ini akan dipenuhi dengan narasi yang heroik-heroik tentang buruh, perlawan kelas sosial, yang mengundang simpati dan gelombang protes dari aktivis demokrasi layaknya kematian Marsinah.

Tapi seketika saya geleng-geleng kepala sambil mengumpat kecil sembari tak percaya setelah tahu bahwa penyebab kematian buruh kecil itu, Kreepikov namanya, boleh dibilang sangat “sepele”—karena si buruh tidak sengaja bersin tatkala menonton opera yang tanpa sepengetahuannya semprotan bersinnya bersarang di jidat seorang petinggi tentara.

Dan lebih tak saya sangka lagi, buruh kecil itu mati bukan karena dibunuh oleh tentara tersebut, tapi karena tak mendapat maaf, “pengampunan” dari sang tentara. Kreepikov merasa, ketiadaan maaf adalah maut. Dan benar, sepulang dari kantor tentara itu ia mati terduduk di atas sofa. Titik. Sampai di situ saja cerpennya. Jancuk, Chekhov!

Cerpen Barang Antik (hlm. 43) dan Peti Mati (hlm. 67) juga tak kalah asyiknya. Dua cerpen ini membuat saya tertawa, selain terkejut. Kisah keduannya benar-benar tak dapat saya tebak. Di awal saya dibuat penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya; tapi mendekati akhir cerita, dengan semena-mena Chekov memberi jawaban—atau mematahkan asumsi saya sejak awal—begitu saja, “KO”.

Dan kisah Di kota Ada Surga (hlm. 117), ya Tuhan, air mata saya keluar karena terpingkal-pingkal. Cerpen ini bercerita tentang rahib-rahib yang menderita, katakanlah, shock culture. Rahib-rahib itu pada awalnya tinggal nyaman di tempat terpencil, jauh dari peradaban, terisolir. Namun ketika mereka mendengar kabar tentang kehidupan kota—oleh seorang yang tersesat dan pengalaman kepala biara—yang serba aduhai dan menggiurkan, mereka berbondong-bondong menyambanginya.

Meskipun kepala biara menggambarkan kota dengan penuh rayuan iblis, cantik moleknya dosa, menggiurkannya tubuh perempuan, tapi para rahib justru terpaku di tempatnya. Mereka menelan setiap kata yang diucapkan kepala biara dan hampir-hampir tak bisa bernapas karena keranjingan. Dan ketika esok harinya sang kepala biara keluar dari kamarnya, ia tak melihat seorang pun rahib tertinggal di biara. Mereka semua lari ke kota.

Humor dan Tak Ada Agitasi

Meski besar di Rusia, di mana dulu struktur masyarakat yang seluruh darah dagingnya dikenal oleh dunia sebagai masyarakat sosialis, tepatnya komunis, tapi tak satu pun cerpen Chekhov dalam antologi ini yang mengandung ajakan-ajakan agitasi pembangkangan seperti yang selalu dijunjung tinggi oleh rabi-rabi sejarah mereka, atau bercerita tentang soal-soal yang berbau semacam-semacam itu.

Membaca antologi cerpen “Matinya Seorang Buruh Kecil” memberi tahu saya bahwa Anton Chekhov ternyata bukan pribadi yang selalu suka pada cerita-cerita yang besar (grand naratives), semacam angan-angan internasionalisme atau universalisme, sebagaimana cita-cita adiluhung komunisme.

Ketiga belas cerpen dalam buku ini justru berkisah tentang hal-hal biasa, keseharian, kesederhanaan, kesahajaan, kemanusiaan, dan tentang orang-orang kecil dengan cara karikatural dan parodikal, humor. Ya, sangat humoris. Namun, meski terkesan “main-main”, lucu, parodis, di setiap cerita berkelebatan sindiran (satire) yang tajam atas sebuah struktur totalitarianisme komunis. Dalam wacana postkolonial, ingat, humor tidak sekadar dianggap remeh-temeh.

Seorang Cicero gemar melempar joke saat berbicara dan berargumen di depan orang banyak. Dianggap terlalu humoris untuk seorang pejabat publik di zamannya, seperti kata Ulwan Fakhri, Cicero pun dipandang bak badut. Wajar, kala itu, pendapat Plato dan Aristoteles bahwa tertawa cenderung terasosiasi dengan aktivitas kaum tak terhormat masih sangat dominan. “Humor,” kata Cicero, “bisa meruntuhkan perbedaan antara seorang orator dan komedian.”

Bagi saya, seperti Cicero, ketika humor digunakan dengan kadar yang pas dan bijak di muka umum, kuasa sosial hingga politik bisa dimenangkan. Tetapi saat humor digunakan dengan sembrono di hadapan orang-orang, kita bisa saja dicap sebagai badut seperti Cicero─tanpa prestasi yang selevel dengannya.

Humor, kata Ulwan Fakhri, “pada dasarnya hanya sebuah alat, sama seperti pisau. Mau dipakai untuk memasak makanan kesukaan orang yang ingin Anda bahagiakan, bisa. Mau ditodong-todongkan ke orang lain sembari tertawa puas menari-nari bahagia melihat muka tak nyaman mereka, bisa pula. Yang penting, mari lebih melek dan sadar dalam berhumor. Minimal, tahu apa yang sedang ingin Anda sendiri capai, meraup simpati atau untuk mengekspresikan diri.”

Dalam sistem kekuasaan totalitarian atau otoriter yang kerap membungkam kebebasan termasuk kreativitas dan memandulkan perayaan kebebasan berpikir, gaya-gaya humoris dan parodis menjadi kekuatan efektif untuk mencemooh identitas pongah penguasa.

Memang, humor—apalagi yang bersifat protes sosial—sangat digemari akhir-akhir ini. Orang-orang yang risau dan tidak puas terhadap keadaan masyarakat maupun polah-tingkah birokrat, demi menjaga keseimbangan jiwa, menumpahkan perasaan ketidakpuasan itu melalui tulisan-tulisan yang terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius, adalah sebuah jalan lain—dan penting.

Beberapa pengeluaran energi agresif yang bersifat primitif memang tidak bisa dituangkan begitu saja karena adanya batasan dalam masyarakat, maka desas-desus yang hendak disebarluaskan itu diubah dahulu ke dalam lelucon. Begitu pun dengan cerpen-cerpen dalam Matinya Seorang Buruh Kecil—yang membuat saya geleng-geleng kepala itu.[T]

Judul asli: Chekhov The Early Stories
Penulis: Anton Chekhov
Penerbit: Melibas
Tebal: 164

Menemukan Keaslian Dee Lestari pada “Tanpa Rencana”
Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)
“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali
Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah
Tags: Anton Chekhovapresiasi sastrabuku sastraCerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Kupu-Kupu, Hari-Hari Akhir Seorang Lansia

Next Post

 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails
Next Post
 Salib | Cerpen Erik Bhiu

 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Pergeseran Silaturahmi Idulfitri dan Krisis Komunikasi Antarpersona

LEBARAN tahun ini sepertinya akan terasa berbeda dari yang saya ingat waktu kecil. Bukan karena ketupat yang semakin jarang dibuat...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 11, 2026
Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata
Esai

Takbiran dalam Gening: Ngempet Raga di Tanah Dewata

PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini...

by Nur Kamilia
March 10, 2026
Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026
Panggung

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

PENILAIAN seni memang subjektif. Namun pada akhirnya, karya yang mampu menyatukan gagasan, visual, dan pementasan sering kali menonjol dengan sendirinya....

by Dede Putra Wiguna
March 10, 2026
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
Esai

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam...

by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Marwah yang Tak Terbeli

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak
Esai

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat...

by Ni Made Erika Suciari
March 10, 2026
Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng
Pemerintahan

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng

DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial....

by tatkala
March 9, 2026
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026
Panggung

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan
Opini

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini...

by Jro Gde Sudibya
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Esai

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

by Satria Aditya
March 9, 2026
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah
Panggung

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co