13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tembakau, Kian Dilarang Kian Memukau

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 31, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, tanggal 31 Mei adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tembakau bagi kesehatan, serta mendorong kebijakan yang dapat mengurangi konsumsi tembakau di seluruh dunia.

Di Indonesia, angka perokok terus meningkat, dengan lebih dari 70 juta orang dewasa menggunakan tembakau, membuat negara kita sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia.  Memang tembakau di Indonesia adalah paradoks yang terus menyala, bahkan ketika negara sibuk meniup-niup bara api itu dengan kampanye anti-rokok.

Di tengah larangan iklan rokok, larangan merokok di ruang publik, dan mewajibkan tambahan gambar penuh kengerian dan seram di bungkusnya, toh hingga saat ini industri ini masih berdiri dengan tegak, tidak sekedar tegak, bahkan dengan gaya. Sebuah ironi yang tak kunjung usai. Tembakau, sebuah kenikmatan yang menolak punah. Sebuah budaya yang jika kini digelar di muka umum, dituding sebagai kriminal dan tak bermoral.

Kenapa bisa, tembakau tetap eksis? Bukankah sepetinya kita semua telah sepakat bahwa rokok membunuh? Bukankah anak muda sekarang konon dikabarkan lebih ‘sadar kesehatan’?. Mestinya vape, kafein, dan yoga dengan enteng bisa menggantikan gaya hidup nikotin yang dilabeli sesat ini? Nyatanya anak muda di samping menghirup vape, masih juga menghembuskan rokok di sela-selanya, kafein juga makin nikmat jika berkawan tembakau katanya, dan yoga tersempurnakan jika tersapu asapnya. Kenapa daya tahan tembakau dari masa ke masa begitu liat? Para pembaca yang budiman, lepas dari anda suka atau tidak suka tembakau, mari kita coba sapa tembakau ini dari beberapa sisi.

Negosiasi Antara Kenikmatan dan Ancaman Kematian

Berbicara tembakau ini agak unik , biasanya sih buntutnya bikin emosi. Karenanya agar lebih adil saya mencoba menginvestigasi beberapa perokok dan mencoba merangkumnya biar lebih mudah dicerna. Sebab, kalau saya kutipkan semuanya langsung dari penuturan mereka, sepertinya akan terdengar sentimentil.

Jadi begini, nampaknya, dalam konteks tubuh dan kenikmatan, tembakau bukan sekadar zat adiktif. Ia adalah ritual. Bagi banyak perokok, menghisap rokok bukan semata-mata aksi refleks, melainkan bentuk relasi yang intim dengan waktu. Menunda stres, menyusun pikiran, atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas hidup yang melelahkan. Di bawah atap seng warung kopi, di pinggir jalan yang berdebu, atau di beranda rumah selepas kerja, sebatang rokok hadir sebagai penanda, “ini waktuku.”

Tembakau, bagi mereka para perokok, menjadi teman yang diam namun akrab. Ia tidak memaksa, hanya menggoda. Dan justru di situlah letak daya pikatnya. Seorang tukang becak yang saya temui di Purwokerto pernah berkata sambil menyulut rokoknya, “Ini satu-satunya yang ngerti saya, Mas. Nggak cerewet, tapi nyenengin.” Di saat dunia menuntut produktivitas, efisiensi, dan kepatuhan, tembakau menyediakan ruang pelarian, betapa pun sempit dan berasap ruang itu.

Michel Foucault mungkin akan bilang,  ini adalah bentuk teknologi diri, suatu praktik di mana individu menggunakan metode atau kebiasaan tertentu untuk membentuk relasi dengan tubuh dan pikirannya. Dalam hal ini, merokok bukan sekadar kebiasaan mekanis, melainkan cara seseorang mengelola eksistensinya di dunia yang makin bising dan makin menekan. Ketika ruang-ruang kontemplatif semakin langka dan semua waktu dimonopoli oleh layar gawai, maka sebatang rokok menjadi semacam mediasi antara keheningan dan kewarasan. Ia membantu seseorang “berpikir seraya menghembuskan.”

Realita di masyarakat memperkuat narasi ini. Di desa-desa, bapak-bapak yang seharian mencangkul ladang memilih rokok linting sebagai penutup kerja keras. Kalau ini bukan karena ingin pamer maskulinitas, tapi karena dari dulu, sejak zaman simbah, “suguhannya ya ngelinting, bukan cuma kopi.” Di kota, pekerja kantoran yang suntuk di depan spreadsheet tak jarang turun ke smoking area, bukan sekadar untuk merokok, tapi untuk “bernapas secara berbeda.” Bahkan anak muda, yang katanya melek kesehatan, kadang tetap nyulut rokok kretek sambil berdalih: “Ini buat ide nulis, bro.”

Tentu, semua ini tidak menghapus fakta-fakta medis. Bahwa ada ancaman nyata di balik tiap hisapan. Paru-paru rusak, jantung terganggu, dan kantong pun menjerit. Tapi tubuh manusia, seperti kata Merleau-Ponty, bukan mesin kalkulasi rasional. Ia adalah entitas yang merasa, yang memilih pengalaman, dan yang terkadang rela rugi demi rasa. Di sinilah negosiasi terjadi, antara kenikmatan dan kematian, antara kesadaran akan risiko, dan hasrat untuk tetap hidup sejenak dengan lebih enak.

 Maka, pertanyaan filosofisnya bukan hanya, “apakah merokok itu salah?” tetapi juga “apa yang sedang diperjuangkan tubuh lewat sebatang rokok?” Dan di antara asap yang mengepul itu, jawaban yang dihadirkan mungkin tidak selalu logis. Tapi sangat manusiawi. Nah, sepertinya jelas kenapa para perokok itu terkesan ngeyel, bukan?

Negara: Sang Pendosa Moralis

Di satu sisi, negara terus menggencarkan kampanye anti-merokok. Tapi di sisi lain, ia tetap sigap menerima triliunan rupiah dari cukai tembakau. Tahun 2023, cukai rokok menyumbang lebih dari Rp200 triliun, menjadikannya salah satu sumber pendapatan negara terbesar. Namun menurut data WHO dan BPJS, biaya kesehatan akibat rokok jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai Rp400 triliun per tahun.

Lalu, kenapa tidak dilarang saja? Jawabannya tentu saja  karena negara bukan entitas moral murni, melainkan makhluk politik-ekonomi yang harus berkompromi. Jika tembakau dihapus hari ini, ratusan ribu petani tembakau akan kehilangan mata pencaharian, ribuan buruh pabrik linting gulung tikar, dan pemerintah kehilangan stabilitas sosial.

Tembakau bukan datang semata-mata dari ideologi jahat. Ia adalah tanaman yang sejak zaman kerajaan digunakan dalam ritual, pengobatan, dan diplomasi. Di era kolonial, tembakau adalah komoditas emas. Di era sekarang, ia berubah menjadi musuh publik. Namun, bagi masyarakat desa atau komunitas pinggiran kota, rokok masih menjadi lambang keakraban, solidaritas, bahkan maskulinitas. Di warung kopi, sebatang rokok bisa jadi pembuka percakapan, penutup kesepakatan, atau simbol resistensi kecil terhadap dunia yang terlalu bersih dan terlalu sibuk. Jadi nampaknya, dari sisi ini, melarang rokok begitu saja tanpa memahami makna sosialnya, sama seperti mencabut pohon tanpa memperhatikan apa alasan dia dulu ditanam.

Haruskah Dilarang atau Dibebaskan?

Iklan rokok di Indonesia adalah satu-satunya iklan, yang harus kreatif tanpa boleh menyebut produknya secara langsung. Maka lahirlah karya-karya visual dan narasi yang melebihi batas promosi. Mereka menciptakan dunia tersendiri,  petualangan, persahabatan, keberanian, maskulinitas, kebebasan. 

Larangan justru melahirkan estetika baru. Inilah yang disebut para teoritikus budaya sebagai efek dari represi,  kreativitas meningkat ketika ruang ekspresi dikekang. Dan mungkin, dalam banyak hal, iklan rokok justeru lebih berhasil membentuk citra diri anak muda ketimbang ceramah kesehatan dari lembaga pemerintah.

Jika kita bertanya apakah rokok harus dilarang, kita harus jujur dengan kosekuensinya. Apakah kita siap dengan transisi ekonomi bagi jutaan pekerja dan petani? Apakah kita punya alternatif budaya yang mampu menggantikan peran tembakau dalam ritual sosial? Sebaliknya, jika kita membebaskan tembakau sepenuhnya, apakah kita siap dengan lonjakan penderita kanker paru dan meningkatnya biaya publik untuk kesehatan?

Belum lagi melemahnya sumber daya manusia, karena pada tembakau menempel banyak stigma negatif yang berkaitan dengan budaya kerja dan sebagainya.  Ini bukan soal bermoral atau tidak. Ini soal keberanian untuk mengelola ambiguitas. Ini soal keberanian untuk menyusun ulang narasi tembakau, yang bukan sekadar sebagai produk industri, tapi sebagai warisan budaya yang butuh tata kelola bijak.

Menuju Keadilan Tembakau

Solusinya mungkin bukan pelarangan ekstrem apalagi  pembiaran total, tetapi transisi budaya. Tembakau bisa tetap hidup, bukan sebagai racun massal, tapi sebagai simbol budaya yang dikembalikan ke konteks aslinya.  Petani bisa dibantu untuk bertani secara berkelanjutan. Pabrik bisa diarahkan ke produk nikotin yang lebih aman. Edukasi bisa mengangkat narasi tentang kenikmatan yang bertanggung jawab, bukan kecanduan. Negara sendiri juga harus berani keluar dari jebakan cukai dengan mencari sumber pemasukan lain. Atau terus-menerus hidup dalam dosa struktural yang berbalut kebijakan kesehatan.

Tembakau, kian dilarang, kian memukau. Tapi mungkin justru karena ia dilarang. Karena dalam setiap larangan, ada daya tarik. Dalam setiap represi, ada ekspresi. Dalam surutnya sebatang rokok dari satu isapan demi satu isapan, momen itulah yang menyulut makna, bukan sekadar tembakau.  Dalam setiap asap yang membubung, ada kisah manusia yang mencari makna hidupnya. Semoga pembicaraan kita ini pun mampu menyulut makna, bukan sekadar pertikaian belaka. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: antirokokrokoktembakau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025

Next Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co