27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tembakau, Kian Dilarang Kian Memukau

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 31, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PARA pembaca yang budiman, tanggal 31 Mei adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tembakau bagi kesehatan, serta mendorong kebijakan yang dapat mengurangi konsumsi tembakau di seluruh dunia.

Di Indonesia, angka perokok terus meningkat, dengan lebih dari 70 juta orang dewasa menggunakan tembakau, membuat negara kita sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia.  Memang tembakau di Indonesia adalah paradoks yang terus menyala, bahkan ketika negara sibuk meniup-niup bara api itu dengan kampanye anti-rokok.

Di tengah larangan iklan rokok, larangan merokok di ruang publik, dan mewajibkan tambahan gambar penuh kengerian dan seram di bungkusnya, toh hingga saat ini industri ini masih berdiri dengan tegak, tidak sekedar tegak, bahkan dengan gaya. Sebuah ironi yang tak kunjung usai. Tembakau, sebuah kenikmatan yang menolak punah. Sebuah budaya yang jika kini digelar di muka umum, dituding sebagai kriminal dan tak bermoral.

Kenapa bisa, tembakau tetap eksis? Bukankah sepetinya kita semua telah sepakat bahwa rokok membunuh? Bukankah anak muda sekarang konon dikabarkan lebih ‘sadar kesehatan’?. Mestinya vape, kafein, dan yoga dengan enteng bisa menggantikan gaya hidup nikotin yang dilabeli sesat ini? Nyatanya anak muda di samping menghirup vape, masih juga menghembuskan rokok di sela-selanya, kafein juga makin nikmat jika berkawan tembakau katanya, dan yoga tersempurnakan jika tersapu asapnya. Kenapa daya tahan tembakau dari masa ke masa begitu liat? Para pembaca yang budiman, lepas dari anda suka atau tidak suka tembakau, mari kita coba sapa tembakau ini dari beberapa sisi.

Negosiasi Antara Kenikmatan dan Ancaman Kematian

Berbicara tembakau ini agak unik , biasanya sih buntutnya bikin emosi. Karenanya agar lebih adil saya mencoba menginvestigasi beberapa perokok dan mencoba merangkumnya biar lebih mudah dicerna. Sebab, kalau saya kutipkan semuanya langsung dari penuturan mereka, sepertinya akan terdengar sentimentil.

Jadi begini, nampaknya, dalam konteks tubuh dan kenikmatan, tembakau bukan sekadar zat adiktif. Ia adalah ritual. Bagi banyak perokok, menghisap rokok bukan semata-mata aksi refleks, melainkan bentuk relasi yang intim dengan waktu. Menunda stres, menyusun pikiran, atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas hidup yang melelahkan. Di bawah atap seng warung kopi, di pinggir jalan yang berdebu, atau di beranda rumah selepas kerja, sebatang rokok hadir sebagai penanda, “ini waktuku.”

Tembakau, bagi mereka para perokok, menjadi teman yang diam namun akrab. Ia tidak memaksa, hanya menggoda. Dan justru di situlah letak daya pikatnya. Seorang tukang becak yang saya temui di Purwokerto pernah berkata sambil menyulut rokoknya, “Ini satu-satunya yang ngerti saya, Mas. Nggak cerewet, tapi nyenengin.” Di saat dunia menuntut produktivitas, efisiensi, dan kepatuhan, tembakau menyediakan ruang pelarian, betapa pun sempit dan berasap ruang itu.

Michel Foucault mungkin akan bilang,  ini adalah bentuk teknologi diri, suatu praktik di mana individu menggunakan metode atau kebiasaan tertentu untuk membentuk relasi dengan tubuh dan pikirannya. Dalam hal ini, merokok bukan sekadar kebiasaan mekanis, melainkan cara seseorang mengelola eksistensinya di dunia yang makin bising dan makin menekan. Ketika ruang-ruang kontemplatif semakin langka dan semua waktu dimonopoli oleh layar gawai, maka sebatang rokok menjadi semacam mediasi antara keheningan dan kewarasan. Ia membantu seseorang “berpikir seraya menghembuskan.”

Realita di masyarakat memperkuat narasi ini. Di desa-desa, bapak-bapak yang seharian mencangkul ladang memilih rokok linting sebagai penutup kerja keras. Kalau ini bukan karena ingin pamer maskulinitas, tapi karena dari dulu, sejak zaman simbah, “suguhannya ya ngelinting, bukan cuma kopi.” Di kota, pekerja kantoran yang suntuk di depan spreadsheet tak jarang turun ke smoking area, bukan sekadar untuk merokok, tapi untuk “bernapas secara berbeda.” Bahkan anak muda, yang katanya melek kesehatan, kadang tetap nyulut rokok kretek sambil berdalih: “Ini buat ide nulis, bro.”

Tentu, semua ini tidak menghapus fakta-fakta medis. Bahwa ada ancaman nyata di balik tiap hisapan. Paru-paru rusak, jantung terganggu, dan kantong pun menjerit. Tapi tubuh manusia, seperti kata Merleau-Ponty, bukan mesin kalkulasi rasional. Ia adalah entitas yang merasa, yang memilih pengalaman, dan yang terkadang rela rugi demi rasa. Di sinilah negosiasi terjadi, antara kenikmatan dan kematian, antara kesadaran akan risiko, dan hasrat untuk tetap hidup sejenak dengan lebih enak.

 Maka, pertanyaan filosofisnya bukan hanya, “apakah merokok itu salah?” tetapi juga “apa yang sedang diperjuangkan tubuh lewat sebatang rokok?” Dan di antara asap yang mengepul itu, jawaban yang dihadirkan mungkin tidak selalu logis. Tapi sangat manusiawi. Nah, sepertinya jelas kenapa para perokok itu terkesan ngeyel, bukan?

Negara: Sang Pendosa Moralis

Di satu sisi, negara terus menggencarkan kampanye anti-merokok. Tapi di sisi lain, ia tetap sigap menerima triliunan rupiah dari cukai tembakau. Tahun 2023, cukai rokok menyumbang lebih dari Rp200 triliun, menjadikannya salah satu sumber pendapatan negara terbesar. Namun menurut data WHO dan BPJS, biaya kesehatan akibat rokok jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai Rp400 triliun per tahun.

Lalu, kenapa tidak dilarang saja? Jawabannya tentu saja  karena negara bukan entitas moral murni, melainkan makhluk politik-ekonomi yang harus berkompromi. Jika tembakau dihapus hari ini, ratusan ribu petani tembakau akan kehilangan mata pencaharian, ribuan buruh pabrik linting gulung tikar, dan pemerintah kehilangan stabilitas sosial.

Tembakau bukan datang semata-mata dari ideologi jahat. Ia adalah tanaman yang sejak zaman kerajaan digunakan dalam ritual, pengobatan, dan diplomasi. Di era kolonial, tembakau adalah komoditas emas. Di era sekarang, ia berubah menjadi musuh publik. Namun, bagi masyarakat desa atau komunitas pinggiran kota, rokok masih menjadi lambang keakraban, solidaritas, bahkan maskulinitas. Di warung kopi, sebatang rokok bisa jadi pembuka percakapan, penutup kesepakatan, atau simbol resistensi kecil terhadap dunia yang terlalu bersih dan terlalu sibuk. Jadi nampaknya, dari sisi ini, melarang rokok begitu saja tanpa memahami makna sosialnya, sama seperti mencabut pohon tanpa memperhatikan apa alasan dia dulu ditanam.

Haruskah Dilarang atau Dibebaskan?

Iklan rokok di Indonesia adalah satu-satunya iklan, yang harus kreatif tanpa boleh menyebut produknya secara langsung. Maka lahirlah karya-karya visual dan narasi yang melebihi batas promosi. Mereka menciptakan dunia tersendiri,  petualangan, persahabatan, keberanian, maskulinitas, kebebasan. 

Larangan justru melahirkan estetika baru. Inilah yang disebut para teoritikus budaya sebagai efek dari represi,  kreativitas meningkat ketika ruang ekspresi dikekang. Dan mungkin, dalam banyak hal, iklan rokok justeru lebih berhasil membentuk citra diri anak muda ketimbang ceramah kesehatan dari lembaga pemerintah.

Jika kita bertanya apakah rokok harus dilarang, kita harus jujur dengan kosekuensinya. Apakah kita siap dengan transisi ekonomi bagi jutaan pekerja dan petani? Apakah kita punya alternatif budaya yang mampu menggantikan peran tembakau dalam ritual sosial? Sebaliknya, jika kita membebaskan tembakau sepenuhnya, apakah kita siap dengan lonjakan penderita kanker paru dan meningkatnya biaya publik untuk kesehatan?

Belum lagi melemahnya sumber daya manusia, karena pada tembakau menempel banyak stigma negatif yang berkaitan dengan budaya kerja dan sebagainya.  Ini bukan soal bermoral atau tidak. Ini soal keberanian untuk mengelola ambiguitas. Ini soal keberanian untuk menyusun ulang narasi tembakau, yang bukan sekadar sebagai produk industri, tapi sebagai warisan budaya yang butuh tata kelola bijak.

Menuju Keadilan Tembakau

Solusinya mungkin bukan pelarangan ekstrem apalagi  pembiaran total, tetapi transisi budaya. Tembakau bisa tetap hidup, bukan sebagai racun massal, tapi sebagai simbol budaya yang dikembalikan ke konteks aslinya.  Petani bisa dibantu untuk bertani secara berkelanjutan. Pabrik bisa diarahkan ke produk nikotin yang lebih aman. Edukasi bisa mengangkat narasi tentang kenikmatan yang bertanggung jawab, bukan kecanduan. Negara sendiri juga harus berani keluar dari jebakan cukai dengan mencari sumber pemasukan lain. Atau terus-menerus hidup dalam dosa struktural yang berbalut kebijakan kesehatan.

Tembakau, kian dilarang, kian memukau. Tapi mungkin justru karena ia dilarang. Karena dalam setiap larangan, ada daya tarik. Dalam setiap represi, ada ekspresi. Dalam surutnya sebatang rokok dari satu isapan demi satu isapan, momen itulah yang menyulut makna, bukan sekadar tembakau.  Dalam setiap asap yang membubung, ada kisah manusia yang mencari makna hidupnya. Semoga pembicaraan kita ini pun mampu menyulut makna, bukan sekadar pertikaian belaka. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: antirokokrokoktembakau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Penuh Kelezatan di Ubud Food Festival 2025

Next Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co