13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni;  Apresiasi & Kapital – Sambutan untuk Pameran Tunggal I Ketut Jaya di Galeri Maya Sanur

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
October 18, 2024
in Ulas Rupa
Seni;  Apresiasi & Kapital – Sambutan untuk Pameran Tunggal I Ketut Jaya di Galeri Maya Sanur

I Ketut Jaya dan penulis

  • Artikel ini dibacakan saat memberi sambutan untuk pembukaan pameran tunggal  I Ketut Jaya, dengan tajuk “Mengisi Hari Mengasah Rasa”, di The Gallery Maya, Sanur, Jumat, 18 Oktober 2024

DALAM wacana perkembangan seni rupa dunia, apapun alirannya, dan sekarang kontemporer, semua mendapatkan penghargaan yang setara di mata seni. Tidak seperti sebelumnya, di mana telah terjadi dikotomi seni tinggi dan seni rendah—sebuah kegagalan dari wacana seni yang bergulir di Eropa Barat untuk membaca perkembangan seni diluar kebudayaanya sebagai yang bukan “avant garde”.  Tentu hal itu terjadi akibat dari sistem koloni, di mana kebudayaan di luar negara-negara Eropa dipandang sebagai seni yang berbau antropologis.

Berkembangnya seni di luar mainstream seni rupa yang dikenal selama ini, adalah buah dari perkembangan seni kontemporer. Seni-seni yang berbasis seni daerah atau suku pedalaman, menjadi seksi untuk dikemas ke permukaan sebagai tawaran alternatif baru untuk memperkaya khasanah seni rupa dunia.

Seniman dengan Teknologi

Hari ini, seni yang berbasis dan terinspirasi dari lokalitas menyeruak ke permukaan sebagai kekayaan tersembunyi. Apalagi teman-teman yang berkelindahan dengan adat/tradisi yang begitu kental di Bali. Sebagai insan kreatif, dengan berbagai wahana yang disodorkan hari ini oleh teknologi, seharusnya seniman menggunakannya seefektif mungkin untuk ajang promosi, pengenalan diri, juga bertemunya seniman dan apresiator.

Karya-karya I Ketut Jaya

Bagaimana perkembangan seni di tengah industri atau kapitalis me dewasa ini?

Apakah menjadi tantangan dalam berkesenian atau tergerusnya endapan cerminan atau potret situasi politik, atau apapun namanya, bagi seniman dalam mengangkat bacaannya ke dalam kanvas?

Terakhir ini, euforia terjadi untuk mengangkat seni yang berakar dari seni tradisi yang diolah dan dipersembahkan sebagai  bagian dari perkembangan seni kekinian, menyeruak di tanah air, terutama di Bali

Tapi, kembali kepada tugas seorang seniman sebagai katalis, sebuah bunga bunga kebudayaan, seniman sebagai soft power kebudayaan, kerja seniman tidak semata hasil sebagai tujuan. Tapi proses. berkesenian adalah way of life dan karya seni mempunyai destiny dan pada saatnya akan ketemu dengan apresiatornya.

Seni dan perubahan sebuah keniscayaan. Godaan endonisme apakah dapat dihindari di tengah hiruk pikuk dunia tanpa batas? Namun apresiasi di zaman sekarang apakah mengalami perubahan dengan lahirna gen milineal dan gen Z?

Seniman mempunyai waktu dan perenungan, justru seniman mempunyai jarak untuk jeda, berhenti sejenak untuk merenungi perjalanan dan memulai perjalanan kembali dengan kesadaran.

Karya-karya I Ketut Jaya

Sejauh mana seniman dapat membuat jarak dengan pasar atau membuka diri terhadap apresisi penikmat di tengah ego seniman?

Satu seniman dan seniman lainnya mempunyai pengalaman empiris yang berbeda, dan dari perbedaan kesadaran ini, tercipta karya yang berbeda.

Market mengalami fluktuasi, seperti ombak, ada pasang juga surut seniman, seperti halnya pendeta. Berfikir seimbang menghadapi keduanya.

Karya seni adalah artefak, di mana kesadaran dan catatan perjalanan seseorang tercatat. Sesuatu dari karya itu tercipta, dan nilai kemnusiaanya justru disitu. Tugas seniman adalah berkarya biarlah market bekerja dengan caranya. Suatu ketika modal kebudayaan dan modal ekonomi akan bersatu dan bersinergi.

Makna Sebuah Karya

Sebuah gambar bisa bertutur,
lewat ragam warna yang melebur,
di bentang alam disekitar sang pentadabur,
yang tak takabur dan mau jujur,
tentang laut yang ajarkan syukur.

Laut selalu mampu meredam kalut,
bahkan tentang ekonomi negeri yg carut marut,
deburnya terus mengulang “jangan takut”,
selama iman kita tak tercerabut,
Penciptamu tahu kapan kita patut
memiliki kekayaan berlimpah seperti laut

Laut memancarkan kekuatan
Dan memanjakan dengan keindahan
Laut tak menyebut pengorbanan
Melainkan Kesediaan dan Kemurahan
atas tangkapan kandungannya terutama ikan.

Laut sudah amat tua,
perkasa dan tak pernah lupa
tentang sejarah negeri digjaya
Armada Sriwijaya melewati jalur sutra
dilalui perahu negeri- negeri tetangga
sebagai bentang luas menuju sejahtera.

Laut masih akan selalu menjanjikan sejahtera
bagi sesiapa yang tahu cara meminta
dengan sangat patut dan bijaksana
tanpa mengeruk paksa yang berbuah bencana,
hanya pinta bijak yang bersahaja dan beretika.

Laut itu gemerlap indah dalam harmoni
bagai sebongkah tepi syurga yang jatuh ke bumi
tepat di hamparan elok Ibu Pertiwi.
Untuk menikmatinya siapa saja harus berani
menggunakan fikir, dzikir dan kerendahan hati.

(disadur dari; Bening, Oktober 2024)

***

Ada banyak hal dalam kasat mata tak terbaca, apakah itu politik, arah ekonomi dan ketidak siapan rakyat akan pemerintahan. Alam selelu memberi arti bagi kehidupan kemarin, kini pun esok.

Tak banyak yang mampu membaca tanda alam. Atau mata batin sudah tertutup keduniawian.

Entahlah, mungkin seniman..
Gaung didengungkan dalam janji di atas buku
Agama
Apakah hanya sebatas ucapan
Tanpa makna.

Sumpah tanpa takut akibat nya
Di negara yang mengaku paling beragama
Kala laut dikeruk isinya
Sekarang dikeruk pasirnya untuk meninggikan
Pulau seberang yang semakin meluas
Kita. Semakin tenggelam

***

Bagaimana dengan karya-karya Ketut Jaya alias Kaprus berbicara banyak tentang bagaimana sebuah karya water color disajikan dari sebuah perenungan, kadang  langsung on the spot di lokasi memberi dan mewarnai dalam keindahannya.

Bagaimana dan ke mana arah pencapain Ketut Jaya  dalam berkarya? Kenapa mengambil media kertas dengan water coulor?

Dan Ketut Jaya menjawab:

“Dalam berkarya;  bagi saya karakter media cat air itu unik. Harus .belajar sabar dalam proses berkarya. Penuh pertimbangan (bisa diterapkan dalam hidup), kenapa demikian, karena media  putih kertas sangat membantu karakter karya di media cat air itu. Dalam proses tahapan berkarya ada spontanitas, bentuk-bentuk yang  terjadi. Ada kesan bermain dalam mencampur warna. Betul-betul refresh perasaan dalam proses karya cat air.

Karya I Ketut Jaya

Selain itu mudah di bawa kemana saja karena saya suka jalan-jalan. Bisa gampang untuk mendokumentasi tempat, suasana yang saya kunjungi. Sebagai catatan perjalanan, mengangkat kesan yang dituangkan ke dalam karya.

Sebenarnya, seperti repleksi diri yang agak emosional,  media cat air bagian proses ke diri sendiri. Proses mengendalikan emosi, dimana ada saat menahan diri agar tidak kebablasan, juga karena  ada moment atau obyek yang harus kita pindahkan ke media cat air.”

Apa tantangan cat air?

“Karakter cat air terbentuk dari spontanitas menimbulkan artistik luar biasa bagi saya. Sesuai moment atau obyek yang kita rekam di kertas.

Tantangan melukis di alam. Berpacu dengan waktu.cahaya. Moment. Tapi justru karena itu kadang bisa membuat suatu karya luar biasa artistik. Tanpa sadar juga saat itu mendapatkan sepirit (aura) tempat obyek yang kita lukis, yang juga bisa dibawa suatu saat dlukis abstrak di studio.

Cat air juga melatih kepekaan rasa, insting, kelenturan menggores (artistik) belajar komposisi. Belajar warna. Kenapa suka ke alam, karena alam guru utama berkesenian.”

Penulis (paling kanan) dan I Ketut Jaya (nomor 2 dari kiri) bersama pengunjung pameran | Foto: Dok. Pria Dharsana

Semoga karya Bli Kamprus dapat apresiasi positif bagi perjalanan berkeseniannya.

Bali Sasih Kapat 18 November 2024

Resonansi Keberadaan: Pameran Tunggal Aprililia di Sika Gallery Ubud
Gelar Pameran ke-18, Edi Bonetski Sebut Diri Bukan Pelukis
Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Hardiman; Sekali Lagi, Jalak Bali
“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

4 Klub Top di Semifinal Tajun Cup V: Pemenang vs Pemenang, “Apah” vs “Akasa”

Next Post

Semarak Sanur Village Festival 2024, Pesta Rakyat dan Kreativitas yang Gegap Gempita

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Semarak Sanur Village Festival 2024, Pesta Rakyat dan Kreativitas yang Gegap Gempita

Semarak Sanur Village Festival 2024, Pesta Rakyat dan Kreativitas yang Gegap Gempita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co