13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗗𝗨 (𝟮)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 20, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

  • Catatan Harian 19 Agustus 2024

Penganut Hindu di Bali, Jawa, India, dan dimanapun secara bersama-sama memiliki kepercayaan bahwa Yama adalah Dewa Kematian. Baik secara tertulis dan lisan, Yama disebutkan sebagai Penguasa Kematian. Umumnya seseorang yang mengaku beragama Hindu, apakah mereka berlatar belakang etnis India atau Bali, pernah mendengar kisah perjalanan ke alam kematian yang akan disambut oleh Yama.

Yama juga dikenal dengan banyak nama lain, termasuk Kala (‘waktu’), Pashi (‘yang membawa jerat’) dan Dharmaraja (‘penguasa Dharma ‘).

Mari kita mendengarkan sebuah dialog Dewa Yama dan Yudhishthira.

Dalam cerita Yaksha Prashna , Dharmadeva (Yama) muncul sebagai ‘yaksha’ (roh alam) dalam bentuk burung bangau untuk menanyai dan menguji Yudhishthira perihal kebenaran.

Yaksha [Yama] bertanya, “Musuh apa yang tak terkalahkan? Apa yang merupakan penyakit yang tak tersembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan manusia macam apa yang hina”?

Yudhishthira menjawab, “Kemarahan adalah musuh yang tak terkalahkan. Ketamakan merupakan penyakit yang tak tersembuhkan. Mulialah orang yang menginginkan kesejahteraan semua makhluk, dan hinalah orang yang tidak memiliki belas kasihan”.

Selanjutnya kita dengarkan dialog Yama dan Nachiketa.

Dalam Katha Upanishad, Yama sebagai guru menurunkan ajaran bagi Nachiketa seorang anak pendeta yang secara mendalam mempelajari hakikat keberadaan, pengetahuan, Atman (yaitu jiwa, diri) dan moksha (pembebasan).

Yama berkata: “Aku tahu ilmu yang menuntun ke surga. Aku akan menjelaskannya kepadamu sehingga kamu akan memahaminya. Wahai Nachiketa, ingatlah bahwa ilmu ini adalah jalan menuju dunia tanpa akhir; penopang semua dunia; dan bersemayam dalam bentuk halus di dalam pikiran orang-orang bijak”. [Katha Upanishad, Bab 1, Bagian 1, Ayat

Begitulah, Yama tidak hanya menjadi Dewa atau Malaikat Kematian, tapi sesekali turun sebagai penguji, sesekali turun sebagai guru suci. Katha Upanishad memberikan jalan yang diajarkan oleh Dewa Yama.

Lontar-lontar Bali yang utama, seperti Bhuwana Kośa, Wrhaspatitattwa, Tattwajñā, Mahājñāna, Ganapatitattwa, dllnya menjabarkan jalan ajaran Yama dan Niyama (pengendalian diri dan pikiran yang dilandasi disiplin moral). Inilah pedoman atau arah berjalan, bertindak, berkata dan berpikir seiring jawaban Yudhishthira ketika menjawab pertanyaan Yama: Bagaimana meminimalkan kemarahan (yang adalah musuh yang tak terkalahkan). Bagaimana mengurangi ketamakan (yang adalah penyakit yang tak tersembuhkan). Bagaimana terus berusaha menjadikan diri tidak jauh dari pikiran mulia (menginginkan kesejahteraan semua makhluk), dan tidak menjadi manusia hina (orang yang tidak memiliki belas kasihan”).

Jalannya adalah PANCA NIYAMA, untuk melengkapi PANCA YAMA [telah diulas dalam MATI CARA HINDU (1)].

DEWA YAMA akan melihat sebaik apa kita menjalani NIYAMA: Aturan perilaku dalam menjalani hidup, tetapi disiplin ini berfokus pada bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri. PANCA NIYAMA adalah:

“Saucha” — bahasa Sansekerta untuk “kemurnian”

“Santosha” — Bahasa Sansekerta untuk “kepuasan”

“Tapa” — Bahasa Sansekerta untuk “disiplin diri”

“Svadhyaya” — bahasa Sansekerta untuk “belajar mandiri”

“Ishvara pranidhana” — bahasa Sansekerta untuk “menyerah pada sumber-muasal yang lebih tinggi”

Saucha

Secara harfiah berarti “kemurnian”,  saucha adalah prinsip sucian. Ini mengacu pada usaha sadar menjaga kesucian yang baik, juga menjauhi hal-hal yang tidak murni atau beracun dalam pikiran, perkataan, atau perbuatan. Mempraktikkan kesucian internal berarti menghindari keegoisan, gosip, dan topik-topik yang menyakitkan. Saucha juga menyiratkan pola makan dan minum yang moderat, tidak makan berlebih dan minum yang aneh-aneh, seimbang, dan sehat.

Santosa

Santosha secara harfiah berarti “kepuasan.” [rasa syukur mengenal cukup]. Ini adalah praktik menerima hidup apa adanya, menemukan kegembiraan dalam hidup kita sendiri, tidak menghayal-hayal kejauhan mendambakan kehidupan yang tidak kita miliki. Namun, Santosha tidak merujuk pada rasa puas diri. Menyerah tidak ingin mewujudkan cita-cita yang positif atau membiarkan diri kita dalam kemelaratan bukanlah praktik santosha. Sebaliknya, prinsip ini merujuk pada penerimaan terhadap momen saat ini — jika terasa sulit maka kita perbesar kesabaran agar tetap bisa sentosa pikiran sekalipun ujian cukup besar. Dengan mengusahakan ketenangan dan kedamaian dalam keadaan apa pun, kita perlahan belajar bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang.

Tapa

Secara harfiah berarti “panas”,  tapa merujuk pada pengendalian diri atas energi diri, yang energi diri kini kita “membakar” kotoran dalam pikiran, ucapan dan perbuatan kita. Ini memerlukan pengendalian diri dan usaha keras. Ketika hal-hal buruk dalam pikiran hilang, atau meredup, energi sejati Anda dapat muncul. Duduk menenangkan diri dan menunggu diri tenang, dan menunggu munculnya energi diri Anda muncul adalah usaha tapa. Ketika Anda terinspirasi, mulai bisa fokus, dan ”bersemangat” dalam melihat hidup,  tapa Anda mulai bekerja membantu dalam hidup Anda.

Swadhyaya

Secara harfiah berarti “belajar mandiri”,  svadhyaya membutuhkan perenungan dan refleksi diri saat kita menyelidiki hakikat diri kita sendiri. Dengan mengarahkan kesadaran kita ke dalam, kita perlahan akan mulai menyadari makna yang lebih dalam dari hidup kita, tujuan kehidupan kita, dan jalan spiritual kita. Jika Anda masih berpikir negatif tentang diri sendiri, Anda sedang melawan prinsip Swadhyaya. Berpikir positif bahwa hidup bukan sekedar dunia material dan ketubuhan, tapi hidup lebih dari sekedar penampakan luar, hidup jauh lebih mendalam, kita adalah ruh suci dan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari semesta yang penuh kasih adalah swadhyaya.

Īśvarapranidhāna

Niyama terakhir , Īśvarapranidhāna adalah praktik penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi atau diri Anda yang lebih tinggi. Īśvarapranidhāna adalah pengakuan tulus dari hati yag paling dalam untukmenyerahkan diri meminta tuntunan dan bimbingan KEKUATAN SUCI ALAM SEMESTA yang akan membawa kedamaian dan pengertian ke dalamngakui adanya keberadaan kekuatan yang lebih besar di alam semesta. Tidak masalah apakah Anda menyebut kekuatan ini sebagai “Hyang Widhi”, “Brahman”, “Tuhan,” “Bhatara,” “Pencipta,” “Sumber Suci,” “roh tak terbatas,” “kekuatan hidup universal,” atau istilah lainnya. Īśvarapranidhāna adalah pengakuan tulus dari hati yag paling dalam untukmenyerahkan diri meminta tuntunan dan bimbingan KEKUATAN SUCI ALAM SEMESTA yang akan menuntun kita, mengasihi kita, dan akan menemukan kita memasuki pemahaman mendalam tentang diri kita. SEPENUH HATI MENYERAHKAN DIRI BAHWA KEKUATAN ALAM SEMESTA AKAN MENGANTAR KITA MENUJU KEDAMAIAN DIRI.

YAMA dan NIYAMA adalah peta jalan untuk kehidupan yang mengantar damai dalam hidup, dan modal untuk membukakan jalan surga ketika ketika berjumpa Bhatara Yama. Yama dan niyama merupakan asal kebajikan dan pengaturan pikiran akar tidak sesat dalam berpikir tentang diri sendiri. Yama dan Niyama adalah prinsip-prinsip yang mendatangkan kedamaian, kegembiraan, dan pengertian tentang hakikat diri kita kenapa ada di dunia ini.

Lontar-lontar Bali yang utama, seperti Bhuwana Kośa, Wrhaspatitattwa, Tattwajñā, Mahājñāna, Ganapatitattwa, dllnya menyebutkan bahwa hidup Anda akan berubah menjadi sangat positif dan berlimpah berkah batin ketika Anda menapaki jalan Panca Yama dan Panca Niyama.

Bisa disederhanakan petunjuk Dewa Yama seperti ini: “Jika engkau mulai menjalani yama dan niyama dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, bersiaplah untuk perubahan-perubahan positif akan terjadi pada dirimu!”

Cara hidup berdasarkan YAMA dan NIYAMA adalah cara hidup ideal bagi penganut Hindu: Selama hidup dijamin hati dan pikiran damai, ketika memasuki kematian dijamin mendapat tuntunan Dewa Yama untuk memasuki gerbang surga dan alam-alam yang lebih tinggi. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

MATI CARA HINDU (1)
SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA

MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA

Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?

Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?

I GUSTI BAGUS SUGRIWA MEMBACA DASA BAYU

I GUSTI BAGUS SUGRIWA MEMBACA DASA BAYU

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Perlindungan Pohon dalam Undang-Undang Bali Kuno – Renungan Pasca Bencana

Tags: filosofi balifilsafathindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Ngampan, Lampan, dan Sekeh    

Next Post

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co