24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Ngampan, Lampan, dan Sekeh    

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 19, 2024
in Esai
Tentang Ngampan, Lampan, dan Sekeh    

Batu Kembar Sawang Nungkak Gunung Payung, tampak Lampan indah sekali saat Tilem, 3 September 2024 | Foto : I Nyoman Tingkat

NGAMPAN adalah sebutan lain dari tebing-tebing dari timur ke barat sepanjang Pura Geger di Desa Adat Peminge hingga Uluwatu di Desa Adat Pecatu, bahkan sampai Jimbaran di Kecamatan Kuta Selatan, di Gumi Delod Ceking.

Istilah ngampan sama dengan Paparangan di Nusa Penida, kata I Ketut Langkir Kepala SMAN 1 Dawan, Klungkung. Secara topografi, antara Nusa Penida dan Gumi Delod Ceking memang mirip, baik flora maupun faunanya. Ikan-ikan laut Nusa Penida dan ikan laut Delod Ceking pun mirip.

Seperti telah saya ulas sebelumnya, ngampan di Gumi Delod Ceking berada di wilayah Desa Adat dengan status berbeda. Setidaknya ada lima desa adat memiliki wewidangan ngampan di Gumi Delod Ceking: Peminge, Kutuh, Ungasan, Pecatu, dan Jimbaran. Kelima Desa Adat yang ber-ngampan itu membentuk setengah lingkaran ibarat cincin yang membatasi laut Pantai Selatan Bali dari gempuran ombak, sebagai penahan gelombang.

Alam Delod Ceking telah menyiapkan sempedan pantai penawar abrasi, yaitu ngampan. Pasir-pasir pun secara alami disebar secara merata. Ketika dikeruk dan direkayasa kemudian dipindahkan karena kerakusan manusia, keselarasannya akan terganggu. Dampak ikutannya pun bisa abrasi pantai. Begitulah antara pasir laut dan ngampan sesungguhnya saling mendukung keseimbangan secara alamiah.

Namun, eksistensi ngampan di masing-masing desa adat berbeda-beda. Di Desa Adat Peminge, misalnya, ngampan sudah dikuasai investor. Akses turun ke laut bagi bandega tradisional pun menjadi terbatas padahal ia telah merawat sejak leluhurnya ada. Tidak ada lagi jalan tradisional berkearifan lokal yang disebut rurung klasiran menuju mulut pantai yang penuh taksu itu.

Rurung klasiran warisan Belanda itu sungguh visioner dalam memberikan akses berkeadaban dan berkebudayaan. Tiada krama yang kabebeng ‘buntu’ tanpa akses. Kabebeng identik dengan kasepekang dengan hukum pengucilan. Soal pemetaan akses, kita patut  berguru kepada Belanda yang visioner memberikan jalan keluar dari isolasi terpencil.

Bersyukurlah, ngampan menjadi karang pamupon Desa Adat Kutuh sehingga hak kelolanya di bawah desa adat. Walaupun jalan-jalan tradisional yang disebut rurung klasiran selebar 3 meter menuju pantai sudah tiada.

Inisiatif membelah tebing pada awal reformasi (1999) telah memproteksi jalur menuju pantai sebagai jalan utama melasti sekaligus menjadi akses utama menuju kawasan Wisata Pantai Pandawa yang mendunia itu. Walaupun sejumlah rurung klasiran sudah tiada, setidaknya krama Desa Adat Kutuh punya dua akses utama menuju laut, di Pantai Gunung Payung dan di Pantai Pandawa.

Hal serupa juga terjadi di Desa Adat Ungasan dengan pengelolaan ngampan di bawah kendali desa adat. Sementara di Desa Adat Pecatu, hak kelola ngampan ada yang menjadi pelaba pura dan sebagian telah dikuasai investor.

Penguasaan ngampan oleh investor semestinya dapat dikendalikan oleh desa adat melalui pararem sehingga keasrian dan kelestariannya dapat dijaga dan dirawat. Harmoni pun dapat dinikmati tidak hanya oleh penduduk sekitar tetapi juga oleh mereka yang lewat sebagai pelancong.

Jika tebing-tebing di Gumi Delod Ceking itu disebut ngampan, maka daratan di tengah laut disebut lampan. Lampan tampak bila air surut biasanya pada bulan mati (tilem) dan purnama.  Di sinilah bandega tradisional berburu ke laut untuk memenuhi kebutuhan pangan dan berguru untuk memenuhi kebutuhan spirit kehidupan yang dalam bin mahaluas, seluas samudera.

Di lampan, bandega tradisional bisa mendapatkan aneka kerang, kepiting, gurita, toro-toro ‘isi bulu babi’ yang mahaenak, juga bulung ‘rumput laut’. Semua itu sangat cocok untuk memenuhi gizi keluarga apalagi langsung diolah setelah didapat tanpa mampir ke kulkas.

Pastilah fresh maknyos. Begitulah lampan, daratan di tengah laut menyimpan aneka sumber makanan yang tiada habis asal dijaga dan dirawat dengan humanis sehingga biotanya tidak punah. 

Sekarang lampan bukan hanya melayani bandega tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan lauk-pauk keluarga, melainkan juga menjadi objek wisata yang memukau bagi pelancong dari berbagai negeri. Mereka memenuhi kebutuhan sekunder, yaitu plesir yang rekreatif.

Penyewaan kano di Pantai Pandawa, misalnya, kala laut surut, menjadikan lampan sebagai  latar foto boot yang alami berdebur ombak bertebing ngampan. Om-om dan mbak-mbak pasti suka cita mengabadikan. Ibarat pasangan raja dan ratu bersiram di laut lalu nginyah ‘berjemur‘ di lampan larut bersenyawa dengan angin laut yang membawa kenangan ke ujung samudera.

Jika mereka sedang bercinta, imajinasi pun dibangun. Cinta sedalam dan seluas samudera. Lampan Delod Ceking jadi saksi. Duh, mesranya!

Begitulah, lampan menyediakan sumber makanan dan narasi tanpa batas. Lebih-lebih pagi saat sunrise atau sore saat sunset dengan paduan jukung merapat ke darat. Sungguh lukisan alam superindah dengan latar ombak membentur lampan.

Ruang selfi terbuka berkeagungan semesta raya. Bila Chairil Anwar bilang, “sedang dengan cermin aku enggan berbagi”, para pelancong kini justru sebaliknya, “Aku selfi, maka aku ada”.  Bahkan bisa jadi viral yang sekaligus mempromosikan kawasan.

Kawasan di antara ngampan dan lampan disebut sekeh. Sekeh juga menjadi ladang bandega tradisional untuk berburu ikan-ikan kecil, seperti tawah, sangsit, jretjet, muduk. Penggunaan jaring di surut air laut pasti tenang, tidak terlalu membahayakan bagi mereka yang tidak bisa berenang. Akan tetapi, mereka harus tetap waspada karena banyak ranjau bulu babi yang membahayakan atau ikan-ikan yang salah tangkap atau sekadar lewat bisa mencelakakan.  

Baik bandega di sekeh maupun di laut lepas sama-sama punya tantangan. Oleh karena itu, perlu waspada dan eling. Laut yang dalam bahasa Bali disebut pasih, sering juga dimaknai kapah sih—‘jarangmemberi’.

Untuk mendapatkan anugerah pemberian dari Dewa Baruna, bendega dituntut dan dituntun untuk melaksanakan dharma bandega dengan kesadaran bahwa laut kaya tetapi tenget dan membahayakan. Pelih agulikan, bukan ikan yang didapat, bisa jadi justru dimangsa ikan.

Oleh karena laut itu tenget, bandega perlu terus inget, eling, dan waspada agar selamat dalam menempuh pendidikan maritim di laut senyatanya. Pendidikan demikian bisa berbuah mutiara untuk memuliakan kehidupan.

Pada akhirnya, bandega berkearifan lokal itu akan kembali memuliakan laut tidak saja dalam konteks kontak mencari sumber makanan, tetapi juga memuja spirit laut dalam ritual segara-giri, ritual nyegara-gunung.[T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: lampanngampansekeh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Next Post

𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗗𝗨 (𝟮)

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗗𝗨 (𝟮)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co