13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
August 17, 2024
in Cerpen
Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

ERLANGGA hampir saja putus asa setelah berkali-kali ia dan istrinya datang ke dokter spesialis untuk memeriksakan kesuburan. Sebab hasilnya ia tetap tidak bisa memberikan seorang buah hati untuk istrinya. Sang istri pun telah beberapa kali diberondong oleh orangtuanya sendiri dan keluarganya yang lain kapan akan punya bayi. Sampai macam besi panas telinganya ditanyai pertanyaan yang sama secara berulang-ulang, dan jawabannya juga sama, insyaAllah. InsyaAllah itu kapan akan terjadi, maka jawaban lain akan bersuara, Allahu a’lam. Padahal, tetangga sebelah rumahnya yang baru dua bulan menikah sekarang sudah hamil muda. Begitu juga dengan keponakan suaminya yang baru bongkar onderdil sudah hamil dua minggu.

Karena kehamilan itu tak kunjung-kunjung hadir, membuat hubungannya dengan istrinya menjadi seperti rawon tanpa penyedap rasa, hambar. Lagu dangdut Kandungan yang dibawakan oleh Rhoma Irama dan Soneta Grup seperti kaset kusut, meliuk-liuk. Lirik yang penuh keceriaan justru berubah menjadi lirik yang merajam-rajam hati lelaki muda itu. Oh, Tuhan, apakah nasibnya akan sama dengan para nabi yang diberi keturunan di hari tuanya, ketika ia sudah menjadi kakek-kakek? “Mungkin aku harus menemui beliau.” Akhirnya, Erlangga menemui orang itu.

***

Di belahan kota yang lain, seorang lelaki paro baya, tapi wajah dan pembawaannya seperti seorang remaja meski umurnya sudah berkepala empat, sedang dirundung wajah sedih. Tak lama kemudian, seorang guru paro baya menguluk salam di depan pintu ruang kantor lelaki paro baya itu.

“Pak Akmal, bisa saya dibuatkan raport milik Citra?” kata guru perempuan senior itu. “Kan Citra nggak punya raport semester ganjil?”

“Apakah surat mutasinya Citra sudah dikirim, Bu?” tanya guru lelaki bernama Pak Nizam itu.

“Sudah, Pak. Nanti uang kontribusinya saya kasih.”

“Baik, Bu.” Guru lelaki itu menyanggupi permintaan kawan sejawatnya. Dengan lincah karena sudah menguasai seluk-beluk dokumentasi, lelaki itu langsung menduplikat format raport semester ganjil dan merubah nama siswa yang sedang dibuatkan raport. Ia copas nomor induknya lengkap dengan alamat dan nama orangtuanya.

Tak sampai lima belas menit, pekerjaan yang diberikan padanya sudah selesai. Lalu, ia langsung mengeprint-nya.

“Sudah selesai, Bu.” Ia tersenyum.

“Terima kasih, Pak Akmal.” Guru perempuan senior yang tak lain adalah gurunya itu menerima lembaran raport yang baru saja selesai di-print dari tangan Pak Akmal. Lalu, ia memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah padanya.

“Sama-sama, Bu.”

Baru saja keceriaan hinggap di wajahnya, rasa hampa itu pun kembali merajai hatinya. Betapa tidak, sudah hampir tiga bulan ini ia tidak digaji oleh kepala sekolahnya. Sementara dirinya harus menafkahi keluarganya. Istrinya sudah ngambek stadium akhir karena sudah tidak punya uang simpanan lagi buat belanja. Anaknya tadi minta agar dibelikan es krim. Keponakannya yang cowok juga minta. Keponakan yang cewek minta dibelikan boneka.

Pulsa token listrik juga belum dibayar. Kepalanya cenut-cenut selama seminggu ini karena gaji yang diharapkan tak kunjung diberikan. Padahal, hari Senin yang lalu, kepala sekolahnya habis menerima kucuran dana BOS. Pergi ke mana larinya dana hibah dari pemerintah itu kalau bukan diambilnya sendiri. Sebab bulan depan kepala sekolahnya yang juga seorang kiai mau berangkat naik haji ke tanah suci. Dengan uang yang baru saja diterimanya dari upah membuat raport itu akan ia gunakan untuk membelikan apa yang diminta oleh anak-anak itu.

Sambil menunggu pekerjaan datang, pikirannya kembali disita oleh kondisi hidupnya yang menderita. Tidak. Ia sama sekali tidak pernah mengeluhkan nasibnya yang tidak sejahtera. Ia tidak pernah protes sama Tuhan yang telah membuat hidupnya seperti ini. Tidak. Sebab Tuhan telah mengaruniakan otak yang cerdas untuknya, dan Tuhan menyuruhnya agar ia mencari rizki dengan otak cerdasnya itu.

Sebenarnya selain bekerja di sekolah tersebut ia juga mengarang puisi dan cerpen yang dikirimnya ke koran. Bahkan, bulan ini ia sudah menyusun sebuah buku cerpen. Tapi…

***

Setelah memencet bel masuk di jam kedua, lelaki itu segera meninggalkan ruangannya untuk pergi mengisi pelajaran di kelas XI. Selain menulis, ia juga mengajar bahasa Inggris dan merangkap sebagai kepala TU. Di saat penjualan bukunya mengalami penurunan akibat semakin sepinya pembeli, ia memutuskan untuk mencari kerja sampingan di siang hari.

Dan, dengan ijazah S1 yang dimilikinya ia pun diterima sebagai guru pengampu bidang studi bahasa Inggris. Karena posisi kepala TU kosong, ia pun diminta oleh kepala sekolah agar menempati posisi tersebut di samping mengajar dan ia menyanggupi. Tapi, sampai di penghujung bulan ketiga ini, ia dan guru-guru yang lain belum juga menerima gaji.

Saat ia menguluk salam dan masuk ke dalam kelas tersebut, ingatannya kembali terlempar ke masa empat tahun yang lalu. Ketika itu, ia dapat dua tahun mengajar. Dan pada tahun ajaran baru, hatinya tertambat pada seorang gadis manis yang ia sebut Sweet Girl. Gadis itu adalah seorang yatim piatu, dan sejak kedua orangtuanya meninggal, ia diasuh oleh pamannya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri.

Perasaan cinta itu tiba-tiba muncul ketika Pak Akmal sedang mengajar bahasa Inggris. Ia menciptakan sebuah metode pendekatan terhadap siswa dengan cara membaca kata demi kata. Pas tiba giliran di meja gadis itu, jantung Pak Akmal berdegup kencang. Pandangan keduanya saling bersirobok. Begitu pun seterusnya kejadian itu terjadi secara berulang-ulang.

Karena magma di dalam hatinya hampir meledak, lelaki itu pun mencari gadis tersebut. Setelah ketemu, diam membisukan keduanya. Lalu, tanpa canggung, Pak Akmal mendekatinya dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu rupanya pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang dicintainya itu. Pak Akmal membawanya ke kamar mandi dan di dalam sana keduanya saling mengungkapkan cinta yang sudah tak tertahankan. Tiga tahun lamanya guru dan siswa itu menjalin hubungan rahasia. Tapi, setelah gadis itu lulus SMA, ia dijodohkan dengan seorang pemuda yang bekerja di kantor pengairan.

***

Sudah sebulan Erlangga menanti hasil yang diberikan oleh gurunya itu. Ya, di tengah keputusasaannya yang tak kunjung punya anak, ia mendatangi guru yang telah meruwatnya. Tapi, di tengah-tengah penantian itu, pemuda itu merasakan jenuh. Ia menyalahkan istrinya tidak bisa hamil.

“Apa salahnya jika datang lagi ke Pak Tarsun, Mas?” ujar istrinya sambil memegangi lengan suaminya itu.

“Untuk apa lagi kita ke sana? Semua cara telah kita tempuh. Tapi kamu tahu sendiri hasilnya bagaimana?” kata Erlangga kesal. Sikapnya berubah. Bahkan, ia tak sudi lagi menatap wajah gadis itu. “Mungkin kita sudah ditakdirkan tidak punya anak.”

Erlangga menepis tangan istrinya dan ia duduk di kursi ruang tamu sambil menyalakan rokok.

“Lalu kamu menyalahkan kalau aku mandul?!” Istrinya tersinggung atas perubahan sikap dan kata-kata yang meluncur dari mulut suaminya barusan. “Kalau kamu sudah tak cinta padaku lagi, aku pasrah kau ceraikan, Mas.”

“Aku curiga sama kamu. Mungkin kamu tidak bisa hamil karena hatimu masih cinta pada gurumu itu!” kata Erlangga lagi.

“Astaghfirullah, Mas! Kenapa pikiranmu seburuk itu padaku?” Gadis itu memang masih perasaan cinta pada lelaki menjadi cinta pertamanya itu. “Aku sudah menjadi milikmu, Mas.”

“Jasadmu memang milikku, namun hatimu masih menjadi miliknya.”

Air mata gadis itu meleleh ketika suaminya mengatakan seperti itu padanya. Betapa tidak, sejak memutuskan menerima untuk menikah dengan pemuda itu, ia bertekad untuk melupakan lelaki yang pernah menjadi cintanya, melupakan apa yang pernah ia lakukan dengan cintanya, dan berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran dan hatinya. Siapa lagi kalau yang ia lakukan hanya demi suaminya. Tapi lihatlah, lihatlah sekarang! Apa yang dikatakan oleh suaminya?

“Mulai detik ini, kamu akan kukembalikan kepada keluargamu,” ucap suaminya dengan kedua mata sembab.

“Kau tega padaku, Mas. Kau tega mengatakan bahwa aku yang bermasalah. Kau tidak bisa menerima keadaan. Kau tidak bisa menerima takdir.” Tangis gadis itu semakin pecah, lalu ia meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamar.

***

Pak Akmal terlihat sibuk siang itu ketika Bu Febri mengetuk pintu ruangannya.

“Iya, Bu.”

“Pak, di kantor guru ada seseorang yang mau masuk sebagai karyawan TU.”

“Apakah sudah menemui kepala sekolah, Bu?”

“Sudah. Sama kepala sekolah dia diminta untuk menemui sampeyan.”

“Suruh saja ke sini, Bu.”

Sambil menunggu seseorang yang mau menjadi karyawan TU itu, lelaki tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum rampung. Tak lama setelah itu, terdengarlah suara uluk salam seorang gadis dari luar. Suara yang tidak asing baginya. Lalu, Pak Akmal membuka pintu dan terkejutlah ia ketika tahu siapa yang berdiri di hadapannya saat itu.

“Amel!”

Seusai pulang bekerja, ia membawa gadis itu makan di luar sambil menonton film.

“Suamiku menuduhku akulah yang mandul,” kata gadis itu dengan sedih. “Padahal menurut keterangan surat dari dokter, masalah itu ada pada dirinya. Berbagai cara telah kami coba, namun hasilnya sama saja. Bahkan, suamiku datang ke gurunya untuk meminta bantuan. Setelah sebulan menunggu, hasilnya sia-sia. Dan puncaknya, ia menyalahkan aku dan mengembalikan aku pada keluargaku.”

Pak Akmal mendengarkan cerita gadis itu dengan saksama. Andai saja waktu itu ia langsung menikahinya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.

“Aku pun telah bercerai dengan istriku. Anakku memilih tinggal bersamaku,” ujar lelaki itu. “Mungkin inilah saatnya waktu untuk kita. Amel, apakah kau mau menjadi istriku?”

Gadis itu mengangguk dengan berurai air mata. Kata-kata itulah yang selama ini ia tunggu-tunggu dari orang yang dicintainya itu.

Setelah dua bulan pernikahan, terjadilah perubahan pada tubuh Amel. Ia kini dikabarkan telah hamil enam minggu. Sepasang suami istri itu sama-sama bahagia sambil menatap bulan jingga di atas atap rumah mereka. [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Next Post

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali -- Serangkain Indonesia Tour VMO

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co