2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
August 17, 2024
in Cerpen
Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

ERLANGGA hampir saja putus asa setelah berkali-kali ia dan istrinya datang ke dokter spesialis untuk memeriksakan kesuburan. Sebab hasilnya ia tetap tidak bisa memberikan seorang buah hati untuk istrinya. Sang istri pun telah beberapa kali diberondong oleh orangtuanya sendiri dan keluarganya yang lain kapan akan punya bayi. Sampai macam besi panas telinganya ditanyai pertanyaan yang sama secara berulang-ulang, dan jawabannya juga sama, insyaAllah. InsyaAllah itu kapan akan terjadi, maka jawaban lain akan bersuara, Allahu a’lam. Padahal, tetangga sebelah rumahnya yang baru dua bulan menikah sekarang sudah hamil muda. Begitu juga dengan keponakan suaminya yang baru bongkar onderdil sudah hamil dua minggu.

Karena kehamilan itu tak kunjung-kunjung hadir, membuat hubungannya dengan istrinya menjadi seperti rawon tanpa penyedap rasa, hambar. Lagu dangdut Kandungan yang dibawakan oleh Rhoma Irama dan Soneta Grup seperti kaset kusut, meliuk-liuk. Lirik yang penuh keceriaan justru berubah menjadi lirik yang merajam-rajam hati lelaki muda itu. Oh, Tuhan, apakah nasibnya akan sama dengan para nabi yang diberi keturunan di hari tuanya, ketika ia sudah menjadi kakek-kakek? “Mungkin aku harus menemui beliau.” Akhirnya, Erlangga menemui orang itu.

***

Di belahan kota yang lain, seorang lelaki paro baya, tapi wajah dan pembawaannya seperti seorang remaja meski umurnya sudah berkepala empat, sedang dirundung wajah sedih. Tak lama kemudian, seorang guru paro baya menguluk salam di depan pintu ruang kantor lelaki paro baya itu.

“Pak Akmal, bisa saya dibuatkan raport milik Citra?” kata guru perempuan senior itu. “Kan Citra nggak punya raport semester ganjil?”

“Apakah surat mutasinya Citra sudah dikirim, Bu?” tanya guru lelaki bernama Pak Nizam itu.

“Sudah, Pak. Nanti uang kontribusinya saya kasih.”

“Baik, Bu.” Guru lelaki itu menyanggupi permintaan kawan sejawatnya. Dengan lincah karena sudah menguasai seluk-beluk dokumentasi, lelaki itu langsung menduplikat format raport semester ganjil dan merubah nama siswa yang sedang dibuatkan raport. Ia copas nomor induknya lengkap dengan alamat dan nama orangtuanya.

Tak sampai lima belas menit, pekerjaan yang diberikan padanya sudah selesai. Lalu, ia langsung mengeprint-nya.

“Sudah selesai, Bu.” Ia tersenyum.

“Terima kasih, Pak Akmal.” Guru perempuan senior yang tak lain adalah gurunya itu menerima lembaran raport yang baru saja selesai di-print dari tangan Pak Akmal. Lalu, ia memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah padanya.

“Sama-sama, Bu.”

Baru saja keceriaan hinggap di wajahnya, rasa hampa itu pun kembali merajai hatinya. Betapa tidak, sudah hampir tiga bulan ini ia tidak digaji oleh kepala sekolahnya. Sementara dirinya harus menafkahi keluarganya. Istrinya sudah ngambek stadium akhir karena sudah tidak punya uang simpanan lagi buat belanja. Anaknya tadi minta agar dibelikan es krim. Keponakannya yang cowok juga minta. Keponakan yang cewek minta dibelikan boneka.

Pulsa token listrik juga belum dibayar. Kepalanya cenut-cenut selama seminggu ini karena gaji yang diharapkan tak kunjung diberikan. Padahal, hari Senin yang lalu, kepala sekolahnya habis menerima kucuran dana BOS. Pergi ke mana larinya dana hibah dari pemerintah itu kalau bukan diambilnya sendiri. Sebab bulan depan kepala sekolahnya yang juga seorang kiai mau berangkat naik haji ke tanah suci. Dengan uang yang baru saja diterimanya dari upah membuat raport itu akan ia gunakan untuk membelikan apa yang diminta oleh anak-anak itu.

Sambil menunggu pekerjaan datang, pikirannya kembali disita oleh kondisi hidupnya yang menderita. Tidak. Ia sama sekali tidak pernah mengeluhkan nasibnya yang tidak sejahtera. Ia tidak pernah protes sama Tuhan yang telah membuat hidupnya seperti ini. Tidak. Sebab Tuhan telah mengaruniakan otak yang cerdas untuknya, dan Tuhan menyuruhnya agar ia mencari rizki dengan otak cerdasnya itu.

Sebenarnya selain bekerja di sekolah tersebut ia juga mengarang puisi dan cerpen yang dikirimnya ke koran. Bahkan, bulan ini ia sudah menyusun sebuah buku cerpen. Tapi…

***

Setelah memencet bel masuk di jam kedua, lelaki itu segera meninggalkan ruangannya untuk pergi mengisi pelajaran di kelas XI. Selain menulis, ia juga mengajar bahasa Inggris dan merangkap sebagai kepala TU. Di saat penjualan bukunya mengalami penurunan akibat semakin sepinya pembeli, ia memutuskan untuk mencari kerja sampingan di siang hari.

Dan, dengan ijazah S1 yang dimilikinya ia pun diterima sebagai guru pengampu bidang studi bahasa Inggris. Karena posisi kepala TU kosong, ia pun diminta oleh kepala sekolah agar menempati posisi tersebut di samping mengajar dan ia menyanggupi. Tapi, sampai di penghujung bulan ketiga ini, ia dan guru-guru yang lain belum juga menerima gaji.

Saat ia menguluk salam dan masuk ke dalam kelas tersebut, ingatannya kembali terlempar ke masa empat tahun yang lalu. Ketika itu, ia dapat dua tahun mengajar. Dan pada tahun ajaran baru, hatinya tertambat pada seorang gadis manis yang ia sebut Sweet Girl. Gadis itu adalah seorang yatim piatu, dan sejak kedua orangtuanya meninggal, ia diasuh oleh pamannya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri.

Perasaan cinta itu tiba-tiba muncul ketika Pak Akmal sedang mengajar bahasa Inggris. Ia menciptakan sebuah metode pendekatan terhadap siswa dengan cara membaca kata demi kata. Pas tiba giliran di meja gadis itu, jantung Pak Akmal berdegup kencang. Pandangan keduanya saling bersirobok. Begitu pun seterusnya kejadian itu terjadi secara berulang-ulang.

Karena magma di dalam hatinya hampir meledak, lelaki itu pun mencari gadis tersebut. Setelah ketemu, diam membisukan keduanya. Lalu, tanpa canggung, Pak Akmal mendekatinya dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu rupanya pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang dicintainya itu. Pak Akmal membawanya ke kamar mandi dan di dalam sana keduanya saling mengungkapkan cinta yang sudah tak tertahankan. Tiga tahun lamanya guru dan siswa itu menjalin hubungan rahasia. Tapi, setelah gadis itu lulus SMA, ia dijodohkan dengan seorang pemuda yang bekerja di kantor pengairan.

***

Sudah sebulan Erlangga menanti hasil yang diberikan oleh gurunya itu. Ya, di tengah keputusasaannya yang tak kunjung punya anak, ia mendatangi guru yang telah meruwatnya. Tapi, di tengah-tengah penantian itu, pemuda itu merasakan jenuh. Ia menyalahkan istrinya tidak bisa hamil.

“Apa salahnya jika datang lagi ke Pak Tarsun, Mas?” ujar istrinya sambil memegangi lengan suaminya itu.

“Untuk apa lagi kita ke sana? Semua cara telah kita tempuh. Tapi kamu tahu sendiri hasilnya bagaimana?” kata Erlangga kesal. Sikapnya berubah. Bahkan, ia tak sudi lagi menatap wajah gadis itu. “Mungkin kita sudah ditakdirkan tidak punya anak.”

Erlangga menepis tangan istrinya dan ia duduk di kursi ruang tamu sambil menyalakan rokok.

“Lalu kamu menyalahkan kalau aku mandul?!” Istrinya tersinggung atas perubahan sikap dan kata-kata yang meluncur dari mulut suaminya barusan. “Kalau kamu sudah tak cinta padaku lagi, aku pasrah kau ceraikan, Mas.”

“Aku curiga sama kamu. Mungkin kamu tidak bisa hamil karena hatimu masih cinta pada gurumu itu!” kata Erlangga lagi.

“Astaghfirullah, Mas! Kenapa pikiranmu seburuk itu padaku?” Gadis itu memang masih perasaan cinta pada lelaki menjadi cinta pertamanya itu. “Aku sudah menjadi milikmu, Mas.”

“Jasadmu memang milikku, namun hatimu masih menjadi miliknya.”

Air mata gadis itu meleleh ketika suaminya mengatakan seperti itu padanya. Betapa tidak, sejak memutuskan menerima untuk menikah dengan pemuda itu, ia bertekad untuk melupakan lelaki yang pernah menjadi cintanya, melupakan apa yang pernah ia lakukan dengan cintanya, dan berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran dan hatinya. Siapa lagi kalau yang ia lakukan hanya demi suaminya. Tapi lihatlah, lihatlah sekarang! Apa yang dikatakan oleh suaminya?

“Mulai detik ini, kamu akan kukembalikan kepada keluargamu,” ucap suaminya dengan kedua mata sembab.

“Kau tega padaku, Mas. Kau tega mengatakan bahwa aku yang bermasalah. Kau tidak bisa menerima keadaan. Kau tidak bisa menerima takdir.” Tangis gadis itu semakin pecah, lalu ia meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamar.

***

Pak Akmal terlihat sibuk siang itu ketika Bu Febri mengetuk pintu ruangannya.

“Iya, Bu.”

“Pak, di kantor guru ada seseorang yang mau masuk sebagai karyawan TU.”

“Apakah sudah menemui kepala sekolah, Bu?”

“Sudah. Sama kepala sekolah dia diminta untuk menemui sampeyan.”

“Suruh saja ke sini, Bu.”

Sambil menunggu seseorang yang mau menjadi karyawan TU itu, lelaki tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum rampung. Tak lama setelah itu, terdengarlah suara uluk salam seorang gadis dari luar. Suara yang tidak asing baginya. Lalu, Pak Akmal membuka pintu dan terkejutlah ia ketika tahu siapa yang berdiri di hadapannya saat itu.

“Amel!”

Seusai pulang bekerja, ia membawa gadis itu makan di luar sambil menonton film.

“Suamiku menuduhku akulah yang mandul,” kata gadis itu dengan sedih. “Padahal menurut keterangan surat dari dokter, masalah itu ada pada dirinya. Berbagai cara telah kami coba, namun hasilnya sama saja. Bahkan, suamiku datang ke gurunya untuk meminta bantuan. Setelah sebulan menunggu, hasilnya sia-sia. Dan puncaknya, ia menyalahkan aku dan mengembalikan aku pada keluargaku.”

Pak Akmal mendengarkan cerita gadis itu dengan saksama. Andai saja waktu itu ia langsung menikahinya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.

“Aku pun telah bercerai dengan istriku. Anakku memilih tinggal bersamaku,” ujar lelaki itu. “Mungkin inilah saatnya waktu untuk kita. Amel, apakah kau mau menjadi istriku?”

Gadis itu mengangguk dengan berurai air mata. Kata-kata itulah yang selama ini ia tunggu-tunggu dari orang yang dicintainya itu.

Setelah dua bulan pernikahan, terjadilah perubahan pada tubuh Amel. Ia kini dikabarkan telah hamil enam minggu. Sepasang suami istri itu sama-sama bahagia sambil menatap bulan jingga di atas atap rumah mereka. [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Next Post

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali -- Serangkain Indonesia Tour VMO

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co