23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
August 17, 2024
in Cerpen
Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

ERLANGGA hampir saja putus asa setelah berkali-kali ia dan istrinya datang ke dokter spesialis untuk memeriksakan kesuburan. Sebab hasilnya ia tetap tidak bisa memberikan seorang buah hati untuk istrinya. Sang istri pun telah beberapa kali diberondong oleh orangtuanya sendiri dan keluarganya yang lain kapan akan punya bayi. Sampai macam besi panas telinganya ditanyai pertanyaan yang sama secara berulang-ulang, dan jawabannya juga sama, insyaAllah. InsyaAllah itu kapan akan terjadi, maka jawaban lain akan bersuara, Allahu a’lam. Padahal, tetangga sebelah rumahnya yang baru dua bulan menikah sekarang sudah hamil muda. Begitu juga dengan keponakan suaminya yang baru bongkar onderdil sudah hamil dua minggu.

Karena kehamilan itu tak kunjung-kunjung hadir, membuat hubungannya dengan istrinya menjadi seperti rawon tanpa penyedap rasa, hambar. Lagu dangdut Kandungan yang dibawakan oleh Rhoma Irama dan Soneta Grup seperti kaset kusut, meliuk-liuk. Lirik yang penuh keceriaan justru berubah menjadi lirik yang merajam-rajam hati lelaki muda itu. Oh, Tuhan, apakah nasibnya akan sama dengan para nabi yang diberi keturunan di hari tuanya, ketika ia sudah menjadi kakek-kakek? “Mungkin aku harus menemui beliau.” Akhirnya, Erlangga menemui orang itu.

***

Di belahan kota yang lain, seorang lelaki paro baya, tapi wajah dan pembawaannya seperti seorang remaja meski umurnya sudah berkepala empat, sedang dirundung wajah sedih. Tak lama kemudian, seorang guru paro baya menguluk salam di depan pintu ruang kantor lelaki paro baya itu.

“Pak Akmal, bisa saya dibuatkan raport milik Citra?” kata guru perempuan senior itu. “Kan Citra nggak punya raport semester ganjil?”

“Apakah surat mutasinya Citra sudah dikirim, Bu?” tanya guru lelaki bernama Pak Nizam itu.

“Sudah, Pak. Nanti uang kontribusinya saya kasih.”

“Baik, Bu.” Guru lelaki itu menyanggupi permintaan kawan sejawatnya. Dengan lincah karena sudah menguasai seluk-beluk dokumentasi, lelaki itu langsung menduplikat format raport semester ganjil dan merubah nama siswa yang sedang dibuatkan raport. Ia copas nomor induknya lengkap dengan alamat dan nama orangtuanya.

Tak sampai lima belas menit, pekerjaan yang diberikan padanya sudah selesai. Lalu, ia langsung mengeprint-nya.

“Sudah selesai, Bu.” Ia tersenyum.

“Terima kasih, Pak Akmal.” Guru perempuan senior yang tak lain adalah gurunya itu menerima lembaran raport yang baru saja selesai di-print dari tangan Pak Akmal. Lalu, ia memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah padanya.

“Sama-sama, Bu.”

Baru saja keceriaan hinggap di wajahnya, rasa hampa itu pun kembali merajai hatinya. Betapa tidak, sudah hampir tiga bulan ini ia tidak digaji oleh kepala sekolahnya. Sementara dirinya harus menafkahi keluarganya. Istrinya sudah ngambek stadium akhir karena sudah tidak punya uang simpanan lagi buat belanja. Anaknya tadi minta agar dibelikan es krim. Keponakannya yang cowok juga minta. Keponakan yang cewek minta dibelikan boneka.

Pulsa token listrik juga belum dibayar. Kepalanya cenut-cenut selama seminggu ini karena gaji yang diharapkan tak kunjung diberikan. Padahal, hari Senin yang lalu, kepala sekolahnya habis menerima kucuran dana BOS. Pergi ke mana larinya dana hibah dari pemerintah itu kalau bukan diambilnya sendiri. Sebab bulan depan kepala sekolahnya yang juga seorang kiai mau berangkat naik haji ke tanah suci. Dengan uang yang baru saja diterimanya dari upah membuat raport itu akan ia gunakan untuk membelikan apa yang diminta oleh anak-anak itu.

Sambil menunggu pekerjaan datang, pikirannya kembali disita oleh kondisi hidupnya yang menderita. Tidak. Ia sama sekali tidak pernah mengeluhkan nasibnya yang tidak sejahtera. Ia tidak pernah protes sama Tuhan yang telah membuat hidupnya seperti ini. Tidak. Sebab Tuhan telah mengaruniakan otak yang cerdas untuknya, dan Tuhan menyuruhnya agar ia mencari rizki dengan otak cerdasnya itu.

Sebenarnya selain bekerja di sekolah tersebut ia juga mengarang puisi dan cerpen yang dikirimnya ke koran. Bahkan, bulan ini ia sudah menyusun sebuah buku cerpen. Tapi…

***

Setelah memencet bel masuk di jam kedua, lelaki itu segera meninggalkan ruangannya untuk pergi mengisi pelajaran di kelas XI. Selain menulis, ia juga mengajar bahasa Inggris dan merangkap sebagai kepala TU. Di saat penjualan bukunya mengalami penurunan akibat semakin sepinya pembeli, ia memutuskan untuk mencari kerja sampingan di siang hari.

Dan, dengan ijazah S1 yang dimilikinya ia pun diterima sebagai guru pengampu bidang studi bahasa Inggris. Karena posisi kepala TU kosong, ia pun diminta oleh kepala sekolah agar menempati posisi tersebut di samping mengajar dan ia menyanggupi. Tapi, sampai di penghujung bulan ketiga ini, ia dan guru-guru yang lain belum juga menerima gaji.

Saat ia menguluk salam dan masuk ke dalam kelas tersebut, ingatannya kembali terlempar ke masa empat tahun yang lalu. Ketika itu, ia dapat dua tahun mengajar. Dan pada tahun ajaran baru, hatinya tertambat pada seorang gadis manis yang ia sebut Sweet Girl. Gadis itu adalah seorang yatim piatu, dan sejak kedua orangtuanya meninggal, ia diasuh oleh pamannya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri.

Perasaan cinta itu tiba-tiba muncul ketika Pak Akmal sedang mengajar bahasa Inggris. Ia menciptakan sebuah metode pendekatan terhadap siswa dengan cara membaca kata demi kata. Pas tiba giliran di meja gadis itu, jantung Pak Akmal berdegup kencang. Pandangan keduanya saling bersirobok. Begitu pun seterusnya kejadian itu terjadi secara berulang-ulang.

Karena magma di dalam hatinya hampir meledak, lelaki itu pun mencari gadis tersebut. Setelah ketemu, diam membisukan keduanya. Lalu, tanpa canggung, Pak Akmal mendekatinya dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu rupanya pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang dicintainya itu. Pak Akmal membawanya ke kamar mandi dan di dalam sana keduanya saling mengungkapkan cinta yang sudah tak tertahankan. Tiga tahun lamanya guru dan siswa itu menjalin hubungan rahasia. Tapi, setelah gadis itu lulus SMA, ia dijodohkan dengan seorang pemuda yang bekerja di kantor pengairan.

***

Sudah sebulan Erlangga menanti hasil yang diberikan oleh gurunya itu. Ya, di tengah keputusasaannya yang tak kunjung punya anak, ia mendatangi guru yang telah meruwatnya. Tapi, di tengah-tengah penantian itu, pemuda itu merasakan jenuh. Ia menyalahkan istrinya tidak bisa hamil.

“Apa salahnya jika datang lagi ke Pak Tarsun, Mas?” ujar istrinya sambil memegangi lengan suaminya itu.

“Untuk apa lagi kita ke sana? Semua cara telah kita tempuh. Tapi kamu tahu sendiri hasilnya bagaimana?” kata Erlangga kesal. Sikapnya berubah. Bahkan, ia tak sudi lagi menatap wajah gadis itu. “Mungkin kita sudah ditakdirkan tidak punya anak.”

Erlangga menepis tangan istrinya dan ia duduk di kursi ruang tamu sambil menyalakan rokok.

“Lalu kamu menyalahkan kalau aku mandul?!” Istrinya tersinggung atas perubahan sikap dan kata-kata yang meluncur dari mulut suaminya barusan. “Kalau kamu sudah tak cinta padaku lagi, aku pasrah kau ceraikan, Mas.”

“Aku curiga sama kamu. Mungkin kamu tidak bisa hamil karena hatimu masih cinta pada gurumu itu!” kata Erlangga lagi.

“Astaghfirullah, Mas! Kenapa pikiranmu seburuk itu padaku?” Gadis itu memang masih perasaan cinta pada lelaki menjadi cinta pertamanya itu. “Aku sudah menjadi milikmu, Mas.”

“Jasadmu memang milikku, namun hatimu masih menjadi miliknya.”

Air mata gadis itu meleleh ketika suaminya mengatakan seperti itu padanya. Betapa tidak, sejak memutuskan menerima untuk menikah dengan pemuda itu, ia bertekad untuk melupakan lelaki yang pernah menjadi cintanya, melupakan apa yang pernah ia lakukan dengan cintanya, dan berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran dan hatinya. Siapa lagi kalau yang ia lakukan hanya demi suaminya. Tapi lihatlah, lihatlah sekarang! Apa yang dikatakan oleh suaminya?

“Mulai detik ini, kamu akan kukembalikan kepada keluargamu,” ucap suaminya dengan kedua mata sembab.

“Kau tega padaku, Mas. Kau tega mengatakan bahwa aku yang bermasalah. Kau tidak bisa menerima keadaan. Kau tidak bisa menerima takdir.” Tangis gadis itu semakin pecah, lalu ia meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamar.

***

Pak Akmal terlihat sibuk siang itu ketika Bu Febri mengetuk pintu ruangannya.

“Iya, Bu.”

“Pak, di kantor guru ada seseorang yang mau masuk sebagai karyawan TU.”

“Apakah sudah menemui kepala sekolah, Bu?”

“Sudah. Sama kepala sekolah dia diminta untuk menemui sampeyan.”

“Suruh saja ke sini, Bu.”

Sambil menunggu seseorang yang mau menjadi karyawan TU itu, lelaki tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum rampung. Tak lama setelah itu, terdengarlah suara uluk salam seorang gadis dari luar. Suara yang tidak asing baginya. Lalu, Pak Akmal membuka pintu dan terkejutlah ia ketika tahu siapa yang berdiri di hadapannya saat itu.

“Amel!”

Seusai pulang bekerja, ia membawa gadis itu makan di luar sambil menonton film.

“Suamiku menuduhku akulah yang mandul,” kata gadis itu dengan sedih. “Padahal menurut keterangan surat dari dokter, masalah itu ada pada dirinya. Berbagai cara telah kami coba, namun hasilnya sama saja. Bahkan, suamiku datang ke gurunya untuk meminta bantuan. Setelah sebulan menunggu, hasilnya sia-sia. Dan puncaknya, ia menyalahkan aku dan mengembalikan aku pada keluargaku.”

Pak Akmal mendengarkan cerita gadis itu dengan saksama. Andai saja waktu itu ia langsung menikahinya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.

“Aku pun telah bercerai dengan istriku. Anakku memilih tinggal bersamaku,” ujar lelaki itu. “Mungkin inilah saatnya waktu untuk kita. Amel, apakah kau mau menjadi istriku?”

Gadis itu mengangguk dengan berurai air mata. Kata-kata itulah yang selama ini ia tunggu-tunggu dari orang yang dicintainya itu.

Setelah dua bulan pernikahan, terjadilah perubahan pada tubuh Amel. Ia kini dikabarkan telah hamil enam minggu. Sepasang suami istri itu sama-sama bahagia sambil menatap bulan jingga di atas atap rumah mereka. [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Next Post

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali -- Serangkain Indonesia Tour VMO

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co