3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
August 17, 2024
in Cerpen
Bulan Jingga di Atap Rumah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

ERLANGGA hampir saja putus asa setelah berkali-kali ia dan istrinya datang ke dokter spesialis untuk memeriksakan kesuburan. Sebab hasilnya ia tetap tidak bisa memberikan seorang buah hati untuk istrinya. Sang istri pun telah beberapa kali diberondong oleh orangtuanya sendiri dan keluarganya yang lain kapan akan punya bayi. Sampai macam besi panas telinganya ditanyai pertanyaan yang sama secara berulang-ulang, dan jawabannya juga sama, insyaAllah. InsyaAllah itu kapan akan terjadi, maka jawaban lain akan bersuara, Allahu a’lam. Padahal, tetangga sebelah rumahnya yang baru dua bulan menikah sekarang sudah hamil muda. Begitu juga dengan keponakan suaminya yang baru bongkar onderdil sudah hamil dua minggu.

Karena kehamilan itu tak kunjung-kunjung hadir, membuat hubungannya dengan istrinya menjadi seperti rawon tanpa penyedap rasa, hambar. Lagu dangdut Kandungan yang dibawakan oleh Rhoma Irama dan Soneta Grup seperti kaset kusut, meliuk-liuk. Lirik yang penuh keceriaan justru berubah menjadi lirik yang merajam-rajam hati lelaki muda itu. Oh, Tuhan, apakah nasibnya akan sama dengan para nabi yang diberi keturunan di hari tuanya, ketika ia sudah menjadi kakek-kakek? “Mungkin aku harus menemui beliau.” Akhirnya, Erlangga menemui orang itu.

***

Di belahan kota yang lain, seorang lelaki paro baya, tapi wajah dan pembawaannya seperti seorang remaja meski umurnya sudah berkepala empat, sedang dirundung wajah sedih. Tak lama kemudian, seorang guru paro baya menguluk salam di depan pintu ruang kantor lelaki paro baya itu.

“Pak Akmal, bisa saya dibuatkan raport milik Citra?” kata guru perempuan senior itu. “Kan Citra nggak punya raport semester ganjil?”

“Apakah surat mutasinya Citra sudah dikirim, Bu?” tanya guru lelaki bernama Pak Nizam itu.

“Sudah, Pak. Nanti uang kontribusinya saya kasih.”

“Baik, Bu.” Guru lelaki itu menyanggupi permintaan kawan sejawatnya. Dengan lincah karena sudah menguasai seluk-beluk dokumentasi, lelaki itu langsung menduplikat format raport semester ganjil dan merubah nama siswa yang sedang dibuatkan raport. Ia copas nomor induknya lengkap dengan alamat dan nama orangtuanya.

Tak sampai lima belas menit, pekerjaan yang diberikan padanya sudah selesai. Lalu, ia langsung mengeprint-nya.

“Sudah selesai, Bu.” Ia tersenyum.

“Terima kasih, Pak Akmal.” Guru perempuan senior yang tak lain adalah gurunya itu menerima lembaran raport yang baru saja selesai di-print dari tangan Pak Akmal. Lalu, ia memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah padanya.

“Sama-sama, Bu.”

Baru saja keceriaan hinggap di wajahnya, rasa hampa itu pun kembali merajai hatinya. Betapa tidak, sudah hampir tiga bulan ini ia tidak digaji oleh kepala sekolahnya. Sementara dirinya harus menafkahi keluarganya. Istrinya sudah ngambek stadium akhir karena sudah tidak punya uang simpanan lagi buat belanja. Anaknya tadi minta agar dibelikan es krim. Keponakannya yang cowok juga minta. Keponakan yang cewek minta dibelikan boneka.

Pulsa token listrik juga belum dibayar. Kepalanya cenut-cenut selama seminggu ini karena gaji yang diharapkan tak kunjung diberikan. Padahal, hari Senin yang lalu, kepala sekolahnya habis menerima kucuran dana BOS. Pergi ke mana larinya dana hibah dari pemerintah itu kalau bukan diambilnya sendiri. Sebab bulan depan kepala sekolahnya yang juga seorang kiai mau berangkat naik haji ke tanah suci. Dengan uang yang baru saja diterimanya dari upah membuat raport itu akan ia gunakan untuk membelikan apa yang diminta oleh anak-anak itu.

Sambil menunggu pekerjaan datang, pikirannya kembali disita oleh kondisi hidupnya yang menderita. Tidak. Ia sama sekali tidak pernah mengeluhkan nasibnya yang tidak sejahtera. Ia tidak pernah protes sama Tuhan yang telah membuat hidupnya seperti ini. Tidak. Sebab Tuhan telah mengaruniakan otak yang cerdas untuknya, dan Tuhan menyuruhnya agar ia mencari rizki dengan otak cerdasnya itu.

Sebenarnya selain bekerja di sekolah tersebut ia juga mengarang puisi dan cerpen yang dikirimnya ke koran. Bahkan, bulan ini ia sudah menyusun sebuah buku cerpen. Tapi…

***

Setelah memencet bel masuk di jam kedua, lelaki itu segera meninggalkan ruangannya untuk pergi mengisi pelajaran di kelas XI. Selain menulis, ia juga mengajar bahasa Inggris dan merangkap sebagai kepala TU. Di saat penjualan bukunya mengalami penurunan akibat semakin sepinya pembeli, ia memutuskan untuk mencari kerja sampingan di siang hari.

Dan, dengan ijazah S1 yang dimilikinya ia pun diterima sebagai guru pengampu bidang studi bahasa Inggris. Karena posisi kepala TU kosong, ia pun diminta oleh kepala sekolah agar menempati posisi tersebut di samping mengajar dan ia menyanggupi. Tapi, sampai di penghujung bulan ketiga ini, ia dan guru-guru yang lain belum juga menerima gaji.

Saat ia menguluk salam dan masuk ke dalam kelas tersebut, ingatannya kembali terlempar ke masa empat tahun yang lalu. Ketika itu, ia dapat dua tahun mengajar. Dan pada tahun ajaran baru, hatinya tertambat pada seorang gadis manis yang ia sebut Sweet Girl. Gadis itu adalah seorang yatim piatu, dan sejak kedua orangtuanya meninggal, ia diasuh oleh pamannya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri.

Perasaan cinta itu tiba-tiba muncul ketika Pak Akmal sedang mengajar bahasa Inggris. Ia menciptakan sebuah metode pendekatan terhadap siswa dengan cara membaca kata demi kata. Pas tiba giliran di meja gadis itu, jantung Pak Akmal berdegup kencang. Pandangan keduanya saling bersirobok. Begitu pun seterusnya kejadian itu terjadi secara berulang-ulang.

Karena magma di dalam hatinya hampir meledak, lelaki itu pun mencari gadis tersebut. Setelah ketemu, diam membisukan keduanya. Lalu, tanpa canggung, Pak Akmal mendekatinya dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu rupanya pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang dicintainya itu. Pak Akmal membawanya ke kamar mandi dan di dalam sana keduanya saling mengungkapkan cinta yang sudah tak tertahankan. Tiga tahun lamanya guru dan siswa itu menjalin hubungan rahasia. Tapi, setelah gadis itu lulus SMA, ia dijodohkan dengan seorang pemuda yang bekerja di kantor pengairan.

***

Sudah sebulan Erlangga menanti hasil yang diberikan oleh gurunya itu. Ya, di tengah keputusasaannya yang tak kunjung punya anak, ia mendatangi guru yang telah meruwatnya. Tapi, di tengah-tengah penantian itu, pemuda itu merasakan jenuh. Ia menyalahkan istrinya tidak bisa hamil.

“Apa salahnya jika datang lagi ke Pak Tarsun, Mas?” ujar istrinya sambil memegangi lengan suaminya itu.

“Untuk apa lagi kita ke sana? Semua cara telah kita tempuh. Tapi kamu tahu sendiri hasilnya bagaimana?” kata Erlangga kesal. Sikapnya berubah. Bahkan, ia tak sudi lagi menatap wajah gadis itu. “Mungkin kita sudah ditakdirkan tidak punya anak.”

Erlangga menepis tangan istrinya dan ia duduk di kursi ruang tamu sambil menyalakan rokok.

“Lalu kamu menyalahkan kalau aku mandul?!” Istrinya tersinggung atas perubahan sikap dan kata-kata yang meluncur dari mulut suaminya barusan. “Kalau kamu sudah tak cinta padaku lagi, aku pasrah kau ceraikan, Mas.”

“Aku curiga sama kamu. Mungkin kamu tidak bisa hamil karena hatimu masih cinta pada gurumu itu!” kata Erlangga lagi.

“Astaghfirullah, Mas! Kenapa pikiranmu seburuk itu padaku?” Gadis itu memang masih perasaan cinta pada lelaki menjadi cinta pertamanya itu. “Aku sudah menjadi milikmu, Mas.”

“Jasadmu memang milikku, namun hatimu masih menjadi miliknya.”

Air mata gadis itu meleleh ketika suaminya mengatakan seperti itu padanya. Betapa tidak, sejak memutuskan menerima untuk menikah dengan pemuda itu, ia bertekad untuk melupakan lelaki yang pernah menjadi cintanya, melupakan apa yang pernah ia lakukan dengan cintanya, dan berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran dan hatinya. Siapa lagi kalau yang ia lakukan hanya demi suaminya. Tapi lihatlah, lihatlah sekarang! Apa yang dikatakan oleh suaminya?

“Mulai detik ini, kamu akan kukembalikan kepada keluargamu,” ucap suaminya dengan kedua mata sembab.

“Kau tega padaku, Mas. Kau tega mengatakan bahwa aku yang bermasalah. Kau tidak bisa menerima keadaan. Kau tidak bisa menerima takdir.” Tangis gadis itu semakin pecah, lalu ia meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamar.

***

Pak Akmal terlihat sibuk siang itu ketika Bu Febri mengetuk pintu ruangannya.

“Iya, Bu.”

“Pak, di kantor guru ada seseorang yang mau masuk sebagai karyawan TU.”

“Apakah sudah menemui kepala sekolah, Bu?”

“Sudah. Sama kepala sekolah dia diminta untuk menemui sampeyan.”

“Suruh saja ke sini, Bu.”

Sambil menunggu seseorang yang mau menjadi karyawan TU itu, lelaki tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum rampung. Tak lama setelah itu, terdengarlah suara uluk salam seorang gadis dari luar. Suara yang tidak asing baginya. Lalu, Pak Akmal membuka pintu dan terkejutlah ia ketika tahu siapa yang berdiri di hadapannya saat itu.

“Amel!”

Seusai pulang bekerja, ia membawa gadis itu makan di luar sambil menonton film.

“Suamiku menuduhku akulah yang mandul,” kata gadis itu dengan sedih. “Padahal menurut keterangan surat dari dokter, masalah itu ada pada dirinya. Berbagai cara telah kami coba, namun hasilnya sama saja. Bahkan, suamiku datang ke gurunya untuk meminta bantuan. Setelah sebulan menunggu, hasilnya sia-sia. Dan puncaknya, ia menyalahkan aku dan mengembalikan aku pada keluargaku.”

Pak Akmal mendengarkan cerita gadis itu dengan saksama. Andai saja waktu itu ia langsung menikahinya, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.

“Aku pun telah bercerai dengan istriku. Anakku memilih tinggal bersamaku,” ujar lelaki itu. “Mungkin inilah saatnya waktu untuk kita. Amel, apakah kau mau menjadi istriku?”

Gadis itu mengangguk dengan berurai air mata. Kata-kata itulah yang selama ini ia tunggu-tunggu dari orang yang dicintainya itu.

Setelah dua bulan pernikahan, terjadilah perubahan pada tubuh Amel. Ia kini dikabarkan telah hamil enam minggu. Sepasang suami istri itu sama-sama bahagia sambil menatap bulan jingga di atas atap rumah mereka. [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Kota Bandit | Cerpen Daviatul Umam
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Next Post

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO

Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali -- Serangkain Indonesia Tour VMO

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co