2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehilangan yang Memunculkan Kesedihan

Krisna Aji by Krisna Aji
August 14, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

BEBERAPA pasien yang sempat membaca tulisan di tatkala yang berjudul “Hadiah Kematian pada Perayaan Kehidupan” sempat meminta saya untuk menulis hal yang lebih berhubungan dengan masalah yang mereka alami. Masalah yang dimaksud adalah ketakutan akan kematian orang yang dicintai. Sedangkan, tulisan sebelumnya lebih fokus membahas ketakutan terhadap kematian yang akan hadir pada diri sendiri.

Kematian diri akan menyebabkan hilangnya semua hal yang melekat. Orang lain, pencapaian, harta kebendaan, bahkan diri sendiri. Semua cerita akan berhenti di satu titik. Kondisi yang pasti tapi entah kapan datangnya itu akan menimbulkan ketakutan. Walaupun demikian, saat kematian benar – benar muncul, tidak ada yang bisa memastikan apakah yang mengalami kematian tetap mengalami perasaan sedih. Karena, kematian diri sendiri adalah hal yang belum terjadi. Kematian tetaplah pengalaman subjektif dan tidak bisa dirasakan oleh orang lain. Saat kematian datang bagi orang lain, pengalaman akan titik akhir itu hanya sebatas perkiraan abstrak bagi orang yang masih hidup.

Saat pengalaman kematian yang akan dialami diri merupakan perkiraan yang abstrak, tentu rasa sedih akibat kehilangan semua entitas yang melekat pada diri juga sebatas perkiraan semata. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang masih hidup dan ditinggalkan. Orang yang masih hidup mengalami pengalaman nyata.

Pengalaman nyata yang dirasakan dan masih bergulir bersama kehidupan membuat seseorang terperangkap dalam kesedihan. Kesedihan muncul akibat “hilangnya objek cinta” (lost of love object) di mana hal ini juga sering digaungkan oleh aliran psikoanalisis. Rasa kehilangan yang datang menggantikan perginya objek yang dilekati.

Sumber dari kehilangan adalah memiliki. Seseorang tidak akan merasa kehilangan jika tidak pernah merasa memiliki. Jika dilihat dari sudut pandang itu, tentu masalah utama dari kehilangan bukanlah realitas dari objek, tetapi persepsi kelekatan terhadap objek. Sekali lagi, persepsi kelekatan terhadap objek adalah masalahnya.

Memandang kelekatan sebagai sumber masalah sebenarnya sudah diajarkan oleh berbagai kebijaksanaan kuna, contohnya pada ajaran Hindu – Buddha. Seperti pada ajaran Buddha mengenai dukkha dan anicca. Dukkha berarti penderitaan. Penderitaan adalah konsekuensi dari kelekatan terhadap apapun karena semua hal didunia ini memiliki satu ciri mutlak, yaitu ketidakkekalan–annica.

Semua orang akan menghindar jauh – jauh dari segala hal yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Sebaliknya, secara alamiah semua orang akan menyukai dan mendekat ke segala hal yang menimbulkan kegembiraan. Jika dikaitkan dengan kelekatan, seseorang akan mengalami penderitaan saat ia melekat terhadap kondisi buruk yang menghampiri. Penderitaan muncul saat itu juga. Sebaliknya, seseorang akan merasa gembira saat melekat dengan sesuatu yang positif. Akan tetapi, kegembiraan yang muncul dari kelekatan tersebut adalah bom waktu. Karena, penderitaan besar akan muncul saat usia dari hal menyenangkan habis. Pada akhirnya kualitas dari penderitaan akan sebesar kebahagiaan yang dirasakan akibat kelekatan.

Sama halnya dengan kematian orang terdekat. Awalnya orang terdekat menimbulkan kebahagiaan dan suka cita. Suka cita dicengkeram agar tidak pergi. Lalu kesedihan muncul saat sifat asli dari keberadaan objek menunjukkan wajahnya: tidak kekal.

Kesedihan yang muncul akibat kehilangan akan disikapi sebagai ancaman oleh mental manusia. Jika memandang teori Kubler Ross, sikap mental tersebut memiliki tahapan yang bermula dari penyangkalan, kemarahan, penawaran, depresi, lalu berakhir dengan–jika berhasil–penerimaan.

Saat periode awal kehilangan, menyangkal adalah cara yang paling sering dilakukan. Penyangkalan muncul akibat sifat dasar dari keberadaan objek tidak bisa diterima. Mencoba bermain aman di area imajinasi karena realita tidak sesuai ekspektasi. Akan tetapi, tetap saja tidak ada gunanya karena realita tetap bergulir dengan hukumnya sendiri.

Saat penyangkalan tetap tidak berhasil mengubah realita, kemarahan akan muncul. Kemarahan bisa diarahkan kepada siapa saja. Pada situasi, orang lain, atau diri sendiri. Pada akhirnya, kemarahan tidak dapat mengubah apa – apa. Semua tetap sama. Realita tetap kokoh pada sifat dasarnya. Tidak ada yang bisa disalahkan. Marah hanya menghabiskan energi yang sia – sia.

Kemarahan yang tidak berbuah hasil akan membuat diri mengubah strategi. Jika tidak bisa dipaksa, bagaimana jika ditawar pelan – pelan? Melakukan penawaran seolah realita adalah pedagang pasar tumpah yang masih memiliki kelenturan dalam menentukan sikap. Tapi tetap saja, tawaran seperti apapun tetap tidak mampu mengubah kondisi.

Saat semua hal sudah dilakukan dan tidak ada yang berubah, putus asa muncul menggantikan semua cara. Putus asa beraroma kesedihan yang muncul akibat penolakan akan ketidakkekalan. Penderitaan muncul. Semua akibat kelekatan yang tidak disadari.

Penderitaan berakhir saat seseorang dapat menyadari sepenuh hati bahwa tidak ada yang kekal. Tahap akhir dari kehilangan pun tiba, yaitu menerima dan merelakan. Fase ini adalah fase paling tenang dalam periode kehilangan. Tidak ada lagi usaha sia – sia untuk melawan arus.

Seseorang yang sudah berada pada fase penerimaan kadang masih dapat mundur ke fase – fase sebelumnya. Kembali ke fase depresi, menawar, marah, dan bahkan penyangkalan. Itu terjadi karena mental seseorang tidak selalu dalam kondisi yang baik. Apa lagi jika penerimaan belum paripurna.

Mencapai tahap penerimaan bukanlah hal yang mudah bagi beberapa orang. Ada beberapa psikoterapi yang dapat digunakan untuk membantu agar sampai ke tahap tersebut. Akan tetapi, bukan berarti tahap akhir tidak bisa dicapai dengan usaha sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan mandiri adalah dengan meminjam konsep mindfulness akan pengalaman dan mengalami.

Hal positif atau negatif hanya sebatas pengalaman. Pengalaman yang datang dan pada akhirnya pergi dengan sendirinya. Seperti bentuk awan yang selalu berubah pada langit yang sama. Sadar bahwa saat ini, di sini, aku sedang mengalami sesuatu dan pengalaman ini akan berganti dengan pengalaman lainnya. Sadar akan pengalaman yang sedang bergulir tanpa membenci ataupun menyukai pengalaman tersebut. Karena, membenci dan menyukai adalah kelekatan yang sama. Biarkan saja mengalir apa adanya dengan pandangan yang benar bahwa semua hal tidak ada yang kekal.

Pada akhirnya, kesadaran akan gembira dan sedih adalah keping mata uang yang sama. Besaran suka cita terhadap sesuatu akan sebanding dengan penderitaan yang muncul. Suka cita muncul akibat rasa memiliki sesuatu yang bersifat positif dan akan berubah menjadi penderitaan saat hal positif itu hilang. Seperti kata pepatah Bali: “Amongken liangne, amonto sebete”. Artinya, sebesar apa kebahagiaanmu, sebesar itu pula kesedihanmu. [T]

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Hadiah Kematian dalam Perayaan Hidup
Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Tags: kesedihankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

24 Perupa dalam Tema “Karma Wong Kawya” di Pameran Bali Megarupa 2024

Next Post

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co