23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehilangan yang Memunculkan Kesedihan

Krisna Aji by Krisna Aji
August 14, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

BEBERAPA pasien yang sempat membaca tulisan di tatkala yang berjudul “Hadiah Kematian pada Perayaan Kehidupan” sempat meminta saya untuk menulis hal yang lebih berhubungan dengan masalah yang mereka alami. Masalah yang dimaksud adalah ketakutan akan kematian orang yang dicintai. Sedangkan, tulisan sebelumnya lebih fokus membahas ketakutan terhadap kematian yang akan hadir pada diri sendiri.

Kematian diri akan menyebabkan hilangnya semua hal yang melekat. Orang lain, pencapaian, harta kebendaan, bahkan diri sendiri. Semua cerita akan berhenti di satu titik. Kondisi yang pasti tapi entah kapan datangnya itu akan menimbulkan ketakutan. Walaupun demikian, saat kematian benar – benar muncul, tidak ada yang bisa memastikan apakah yang mengalami kematian tetap mengalami perasaan sedih. Karena, kematian diri sendiri adalah hal yang belum terjadi. Kematian tetaplah pengalaman subjektif dan tidak bisa dirasakan oleh orang lain. Saat kematian datang bagi orang lain, pengalaman akan titik akhir itu hanya sebatas perkiraan abstrak bagi orang yang masih hidup.

Saat pengalaman kematian yang akan dialami diri merupakan perkiraan yang abstrak, tentu rasa sedih akibat kehilangan semua entitas yang melekat pada diri juga sebatas perkiraan semata. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang masih hidup dan ditinggalkan. Orang yang masih hidup mengalami pengalaman nyata.

Pengalaman nyata yang dirasakan dan masih bergulir bersama kehidupan membuat seseorang terperangkap dalam kesedihan. Kesedihan muncul akibat “hilangnya objek cinta” (lost of love object) di mana hal ini juga sering digaungkan oleh aliran psikoanalisis. Rasa kehilangan yang datang menggantikan perginya objek yang dilekati.

Sumber dari kehilangan adalah memiliki. Seseorang tidak akan merasa kehilangan jika tidak pernah merasa memiliki. Jika dilihat dari sudut pandang itu, tentu masalah utama dari kehilangan bukanlah realitas dari objek, tetapi persepsi kelekatan terhadap objek. Sekali lagi, persepsi kelekatan terhadap objek adalah masalahnya.

Memandang kelekatan sebagai sumber masalah sebenarnya sudah diajarkan oleh berbagai kebijaksanaan kuna, contohnya pada ajaran Hindu – Buddha. Seperti pada ajaran Buddha mengenai dukkha dan anicca. Dukkha berarti penderitaan. Penderitaan adalah konsekuensi dari kelekatan terhadap apapun karena semua hal didunia ini memiliki satu ciri mutlak, yaitu ketidakkekalan–annica.

Semua orang akan menghindar jauh – jauh dari segala hal yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Sebaliknya, secara alamiah semua orang akan menyukai dan mendekat ke segala hal yang menimbulkan kegembiraan. Jika dikaitkan dengan kelekatan, seseorang akan mengalami penderitaan saat ia melekat terhadap kondisi buruk yang menghampiri. Penderitaan muncul saat itu juga. Sebaliknya, seseorang akan merasa gembira saat melekat dengan sesuatu yang positif. Akan tetapi, kegembiraan yang muncul dari kelekatan tersebut adalah bom waktu. Karena, penderitaan besar akan muncul saat usia dari hal menyenangkan habis. Pada akhirnya kualitas dari penderitaan akan sebesar kebahagiaan yang dirasakan akibat kelekatan.

Sama halnya dengan kematian orang terdekat. Awalnya orang terdekat menimbulkan kebahagiaan dan suka cita. Suka cita dicengkeram agar tidak pergi. Lalu kesedihan muncul saat sifat asli dari keberadaan objek menunjukkan wajahnya: tidak kekal.

Kesedihan yang muncul akibat kehilangan akan disikapi sebagai ancaman oleh mental manusia. Jika memandang teori Kubler Ross, sikap mental tersebut memiliki tahapan yang bermula dari penyangkalan, kemarahan, penawaran, depresi, lalu berakhir dengan–jika berhasil–penerimaan.

Saat periode awal kehilangan, menyangkal adalah cara yang paling sering dilakukan. Penyangkalan muncul akibat sifat dasar dari keberadaan objek tidak bisa diterima. Mencoba bermain aman di area imajinasi karena realita tidak sesuai ekspektasi. Akan tetapi, tetap saja tidak ada gunanya karena realita tetap bergulir dengan hukumnya sendiri.

Saat penyangkalan tetap tidak berhasil mengubah realita, kemarahan akan muncul. Kemarahan bisa diarahkan kepada siapa saja. Pada situasi, orang lain, atau diri sendiri. Pada akhirnya, kemarahan tidak dapat mengubah apa – apa. Semua tetap sama. Realita tetap kokoh pada sifat dasarnya. Tidak ada yang bisa disalahkan. Marah hanya menghabiskan energi yang sia – sia.

Kemarahan yang tidak berbuah hasil akan membuat diri mengubah strategi. Jika tidak bisa dipaksa, bagaimana jika ditawar pelan – pelan? Melakukan penawaran seolah realita adalah pedagang pasar tumpah yang masih memiliki kelenturan dalam menentukan sikap. Tapi tetap saja, tawaran seperti apapun tetap tidak mampu mengubah kondisi.

Saat semua hal sudah dilakukan dan tidak ada yang berubah, putus asa muncul menggantikan semua cara. Putus asa beraroma kesedihan yang muncul akibat penolakan akan ketidakkekalan. Penderitaan muncul. Semua akibat kelekatan yang tidak disadari.

Penderitaan berakhir saat seseorang dapat menyadari sepenuh hati bahwa tidak ada yang kekal. Tahap akhir dari kehilangan pun tiba, yaitu menerima dan merelakan. Fase ini adalah fase paling tenang dalam periode kehilangan. Tidak ada lagi usaha sia – sia untuk melawan arus.

Seseorang yang sudah berada pada fase penerimaan kadang masih dapat mundur ke fase – fase sebelumnya. Kembali ke fase depresi, menawar, marah, dan bahkan penyangkalan. Itu terjadi karena mental seseorang tidak selalu dalam kondisi yang baik. Apa lagi jika penerimaan belum paripurna.

Mencapai tahap penerimaan bukanlah hal yang mudah bagi beberapa orang. Ada beberapa psikoterapi yang dapat digunakan untuk membantu agar sampai ke tahap tersebut. Akan tetapi, bukan berarti tahap akhir tidak bisa dicapai dengan usaha sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan mandiri adalah dengan meminjam konsep mindfulness akan pengalaman dan mengalami.

Hal positif atau negatif hanya sebatas pengalaman. Pengalaman yang datang dan pada akhirnya pergi dengan sendirinya. Seperti bentuk awan yang selalu berubah pada langit yang sama. Sadar bahwa saat ini, di sini, aku sedang mengalami sesuatu dan pengalaman ini akan berganti dengan pengalaman lainnya. Sadar akan pengalaman yang sedang bergulir tanpa membenci ataupun menyukai pengalaman tersebut. Karena, membenci dan menyukai adalah kelekatan yang sama. Biarkan saja mengalir apa adanya dengan pandangan yang benar bahwa semua hal tidak ada yang kekal.

Pada akhirnya, kesadaran akan gembira dan sedih adalah keping mata uang yang sama. Besaran suka cita terhadap sesuatu akan sebanding dengan penderitaan yang muncul. Suka cita muncul akibat rasa memiliki sesuatu yang bersifat positif dan akan berubah menjadi penderitaan saat hal positif itu hilang. Seperti kata pepatah Bali: “Amongken liangne, amonto sebete”. Artinya, sebesar apa kebahagiaanmu, sebesar itu pula kesedihanmu. [T]

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Hadiah Kematian dalam Perayaan Hidup
Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Tags: kesedihankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

24 Perupa dalam Tema “Karma Wong Kawya” di Pameran Bali Megarupa 2024

Next Post

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co