14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kehilangan yang Memunculkan Kesedihan

Krisna Aji by Krisna Aji
August 14, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

BEBERAPA pasien yang sempat membaca tulisan di tatkala yang berjudul “Hadiah Kematian pada Perayaan Kehidupan” sempat meminta saya untuk menulis hal yang lebih berhubungan dengan masalah yang mereka alami. Masalah yang dimaksud adalah ketakutan akan kematian orang yang dicintai. Sedangkan, tulisan sebelumnya lebih fokus membahas ketakutan terhadap kematian yang akan hadir pada diri sendiri.

Kematian diri akan menyebabkan hilangnya semua hal yang melekat. Orang lain, pencapaian, harta kebendaan, bahkan diri sendiri. Semua cerita akan berhenti di satu titik. Kondisi yang pasti tapi entah kapan datangnya itu akan menimbulkan ketakutan. Walaupun demikian, saat kematian benar – benar muncul, tidak ada yang bisa memastikan apakah yang mengalami kematian tetap mengalami perasaan sedih. Karena, kematian diri sendiri adalah hal yang belum terjadi. Kematian tetaplah pengalaman subjektif dan tidak bisa dirasakan oleh orang lain. Saat kematian datang bagi orang lain, pengalaman akan titik akhir itu hanya sebatas perkiraan abstrak bagi orang yang masih hidup.

Saat pengalaman kematian yang akan dialami diri merupakan perkiraan yang abstrak, tentu rasa sedih akibat kehilangan semua entitas yang melekat pada diri juga sebatas perkiraan semata. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang masih hidup dan ditinggalkan. Orang yang masih hidup mengalami pengalaman nyata.

Pengalaman nyata yang dirasakan dan masih bergulir bersama kehidupan membuat seseorang terperangkap dalam kesedihan. Kesedihan muncul akibat “hilangnya objek cinta” (lost of love object) di mana hal ini juga sering digaungkan oleh aliran psikoanalisis. Rasa kehilangan yang datang menggantikan perginya objek yang dilekati.

Sumber dari kehilangan adalah memiliki. Seseorang tidak akan merasa kehilangan jika tidak pernah merasa memiliki. Jika dilihat dari sudut pandang itu, tentu masalah utama dari kehilangan bukanlah realitas dari objek, tetapi persepsi kelekatan terhadap objek. Sekali lagi, persepsi kelekatan terhadap objek adalah masalahnya.

Memandang kelekatan sebagai sumber masalah sebenarnya sudah diajarkan oleh berbagai kebijaksanaan kuna, contohnya pada ajaran Hindu – Buddha. Seperti pada ajaran Buddha mengenai dukkha dan anicca. Dukkha berarti penderitaan. Penderitaan adalah konsekuensi dari kelekatan terhadap apapun karena semua hal didunia ini memiliki satu ciri mutlak, yaitu ketidakkekalan–annica.

Semua orang akan menghindar jauh – jauh dari segala hal yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Sebaliknya, secara alamiah semua orang akan menyukai dan mendekat ke segala hal yang menimbulkan kegembiraan. Jika dikaitkan dengan kelekatan, seseorang akan mengalami penderitaan saat ia melekat terhadap kondisi buruk yang menghampiri. Penderitaan muncul saat itu juga. Sebaliknya, seseorang akan merasa gembira saat melekat dengan sesuatu yang positif. Akan tetapi, kegembiraan yang muncul dari kelekatan tersebut adalah bom waktu. Karena, penderitaan besar akan muncul saat usia dari hal menyenangkan habis. Pada akhirnya kualitas dari penderitaan akan sebesar kebahagiaan yang dirasakan akibat kelekatan.

Sama halnya dengan kematian orang terdekat. Awalnya orang terdekat menimbulkan kebahagiaan dan suka cita. Suka cita dicengkeram agar tidak pergi. Lalu kesedihan muncul saat sifat asli dari keberadaan objek menunjukkan wajahnya: tidak kekal.

Kesedihan yang muncul akibat kehilangan akan disikapi sebagai ancaman oleh mental manusia. Jika memandang teori Kubler Ross, sikap mental tersebut memiliki tahapan yang bermula dari penyangkalan, kemarahan, penawaran, depresi, lalu berakhir dengan–jika berhasil–penerimaan.

Saat periode awal kehilangan, menyangkal adalah cara yang paling sering dilakukan. Penyangkalan muncul akibat sifat dasar dari keberadaan objek tidak bisa diterima. Mencoba bermain aman di area imajinasi karena realita tidak sesuai ekspektasi. Akan tetapi, tetap saja tidak ada gunanya karena realita tetap bergulir dengan hukumnya sendiri.

Saat penyangkalan tetap tidak berhasil mengubah realita, kemarahan akan muncul. Kemarahan bisa diarahkan kepada siapa saja. Pada situasi, orang lain, atau diri sendiri. Pada akhirnya, kemarahan tidak dapat mengubah apa – apa. Semua tetap sama. Realita tetap kokoh pada sifat dasarnya. Tidak ada yang bisa disalahkan. Marah hanya menghabiskan energi yang sia – sia.

Kemarahan yang tidak berbuah hasil akan membuat diri mengubah strategi. Jika tidak bisa dipaksa, bagaimana jika ditawar pelan – pelan? Melakukan penawaran seolah realita adalah pedagang pasar tumpah yang masih memiliki kelenturan dalam menentukan sikap. Tapi tetap saja, tawaran seperti apapun tetap tidak mampu mengubah kondisi.

Saat semua hal sudah dilakukan dan tidak ada yang berubah, putus asa muncul menggantikan semua cara. Putus asa beraroma kesedihan yang muncul akibat penolakan akan ketidakkekalan. Penderitaan muncul. Semua akibat kelekatan yang tidak disadari.

Penderitaan berakhir saat seseorang dapat menyadari sepenuh hati bahwa tidak ada yang kekal. Tahap akhir dari kehilangan pun tiba, yaitu menerima dan merelakan. Fase ini adalah fase paling tenang dalam periode kehilangan. Tidak ada lagi usaha sia – sia untuk melawan arus.

Seseorang yang sudah berada pada fase penerimaan kadang masih dapat mundur ke fase – fase sebelumnya. Kembali ke fase depresi, menawar, marah, dan bahkan penyangkalan. Itu terjadi karena mental seseorang tidak selalu dalam kondisi yang baik. Apa lagi jika penerimaan belum paripurna.

Mencapai tahap penerimaan bukanlah hal yang mudah bagi beberapa orang. Ada beberapa psikoterapi yang dapat digunakan untuk membantu agar sampai ke tahap tersebut. Akan tetapi, bukan berarti tahap akhir tidak bisa dicapai dengan usaha sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan mandiri adalah dengan meminjam konsep mindfulness akan pengalaman dan mengalami.

Hal positif atau negatif hanya sebatas pengalaman. Pengalaman yang datang dan pada akhirnya pergi dengan sendirinya. Seperti bentuk awan yang selalu berubah pada langit yang sama. Sadar bahwa saat ini, di sini, aku sedang mengalami sesuatu dan pengalaman ini akan berganti dengan pengalaman lainnya. Sadar akan pengalaman yang sedang bergulir tanpa membenci ataupun menyukai pengalaman tersebut. Karena, membenci dan menyukai adalah kelekatan yang sama. Biarkan saja mengalir apa adanya dengan pandangan yang benar bahwa semua hal tidak ada yang kekal.

Pada akhirnya, kesadaran akan gembira dan sedih adalah keping mata uang yang sama. Besaran suka cita terhadap sesuatu akan sebanding dengan penderitaan yang muncul. Suka cita muncul akibat rasa memiliki sesuatu yang bersifat positif dan akan berubah menjadi penderitaan saat hal positif itu hilang. Seperti kata pepatah Bali: “Amongken liangne, amonto sebete”. Artinya, sebesar apa kebahagiaanmu, sebesar itu pula kesedihanmu. [T]

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Hadiah Kematian dalam Perayaan Hidup
Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Tags: kesedihankesehatan jiwakesehatan mental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

24 Perupa dalam Tema “Karma Wong Kawya” di Pameran Bali Megarupa 2024

Next Post

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co