2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hadiah Kematian dalam Perayaan Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 27, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

KETAKUTAN manusia akan kematian dapat dijabarkan dengan pandangan sains mengenai dorongan insting dasar makhluk hidup. Sains mengatakan bahwa salah satu kepentingan dasar makhluk hidup, selain mempertahankan informasi melalui genetik yang diturunkan, adalah  memperpanjang usia selama mungkin. Dorongan ini juga yang membuat berbagai makhluk hidup–dari sekian banyak yang pernah ada di muka bumi–bisa lolos dari seleksi alam dan tetap lestari hingga saat ini.

Jika menilik ke belakang, upaya menghindari kematian sudah terjadi sejak awal manusia ada. Upaya penghindaran terhadap maut pada akhirnya tetap berujung pada realita bahwa segala sesuatu yang pernah lahir pada akhirnya akan mati.

Harapan yang tidak sesuai dengan realita membuat kecemasan dan ketakutan. Hal tersebut membuat kematian menjadi objek diskursus yang serius sejak zaman awal serta menimbulkan berbagai kepercayaan akan kematian yang menentramkan.

Pada perkembangan peradaban, usaha manusia tidak hanya dilakukan secara psikologis untuk menguatkan diri dalam menghadapi kematian yang pasti tapi tak jelas waktunya. Usaha-usaha rasional, logis, dan saintifik juga terus dilakukan untuk menjawab akar masalah utama: hidup sepanjang mungkin. Kalau bisa, abadi!

Usaha tersebut mencangkup penelitian-penelitian terapi terbaru pada segala jenis penyakit, teknologi anti penuaan sel, rekayasa pengganti organ-organ manusia, dan masih banyak lagi.

Walaupun masih dalam perjalanan dan memiliki ujung yang belum terlihat, sains dan teknologi yang percepatannya makin berlipat sangat mungkin menghadirkan jawaban yang tidak dapat dicerna logika kita di masa kini: masa depan manusia yang bebas dari kematian.

Jika boleh berimajinasi, seperti di film Chappie, saat tubuh organik ini memang tidak bisa bertahan permanen, kesadaran manusia yang terletak di otak bisa saja dapat dipindahkan ke tubuh buatan yang baru. Seperti menganti baju lama tak layak pakai dengan baju baru yang masih bagus. Siapa yang tahu?

Mari berandai-andai. Jika seandainya kehidupan abadi tercapai, apakah jawaban akan pertanyaan besar manusia terhadap kematian dapat selesai? Jika masih belum terbayang, bagaimana kalau kita menggunakan film Bicentinneal Man sebagai objek metafora untuk membahas ini?

Pada film Bicentinneal Man, tokoh utama bukanlah manusia. Bahkan, tokoh utama dan berputarnya semesta utama pada film ini adalah robot yang tidak bisa mati dan berada di titik paradoks dari kekurangan manusia.

Andrew Martin, sebagai tokoh utama dalam film Bicentinneal Man, adalah robot rumah tangga dengan artificial intelligence yang mampu belajar menyerupai manusia dari sisi pengembangan emosi dan kesadaran diri. Kemampuan mengembangkan kesadaran diri ini yang membuat ia lebih menyerupai manusia dibandingkan robot-robot lainnya.

Kemampuan mengembangkan kesadaran diri pada akhirnya membuat Andrew dapat memiliki perasaan serta pikiran yang subjektif, unik, dan otentik yang menyerupai manusia sebagai individu. Tetapi, Andrew tidak puas dengan sampai menyerupai manusia saja. Ia masih ingin menjadi manusia seutuhnya.

Andrew mengawali usahanya dengan memperbaharui tubuh robotnya agar bisa hidup lebih lama–di cerita ini, robot juga bisa mati jika suku cadangnya rusak dan menyebabkan kesadaran hilang–agar memiliki waktu yang lama untuk mencari identitas “manusia sejati”. Pada usianya yang cukup lama jika dibandingkan ukuran usia manusia, Andrew sudah mengalami semua tahapan manusia, dari kanak – kanak, dewasa, hingga merasakan cinta.

Andrew melewati beberapa kali jatuh cinta pada manusia. Kebetulan, perempuan yang dicintai adalah keturunan dari majikannya dahulu. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Andrew berhasil menjalin hubungan percintaan dan hendak mendaftarkan pernikahan ke pemerintah. Usulan tersebut pada awalnya tidak disetujui oleh pemerintah akibat pernikahan harus dilakukan oleh dua orang manusia. Dan syarat dari menjadi manusia adalah: hidup!

Lalu apakah Andrew tidak hidup? Bukankah ia memiliki kesadaran dan berfungsi seperti layaknya manusia biasa? Sanggahan yang muncul adalah: bagaimana sesuatu dikatakan “hidup” jika ia tidak akan mati?

Pesan filosofis pada film ini sejalan dengan pandangan “hidup menjadi nyata dengan hadirnya kematian” oleh Heidegger yang dipaparkan kembali oleh Budi Hardiman pada buku yang berjudul Filsafat Maut. Akar dari pandangan ini adalah kematian yang merupakan pengalaman yang sangat subjektif dan tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Seseorang bisa saja meraba-merasakan adanya kematian saat maut datang pada orang lain. Tetapi, orang tersebut hanya mengasumsikan pengalaman kematian karena ia sendiri belum mengalaminya secara langsung.

Perabaan akan kematian saat seseorang masih hidup pada akhirnya membuat seseorang memahami bahwa hidup memiliki batas waktu yang pasti tapi entah di mana. Batasan inilah yang akan membuat kehidupan menjadi nyata; kehidupan menjadi ada saat kematian merupakan sebuah kepastian.

Cara pandang serupa juga dilakukan oleh kaum samurai. Mengutip buku yang sama dan dijabarkan oleh Lili Tjahjadi, para samurai mendapatkan makna dalam menjalani kehidupannya saat mereka sadar penuh bahwa setiap detik kehidupan selalu beririsan dengan kematian.

Seperti yang disampaikan oleh Yamamoto Tsunemoto dalam Hagakure: “Jalan sang bushi ditemukan dalam kematian.” Pandangan ini membuat keberanian dan suka-cita samurai untuk mati dalam tugas adalah hal yang tidak dapat dinego.

Bahkan, saat periode tenang dan minim konflik di jaman dinasti Tokugawa, samurai yang meninggalkan pedang dan berganti profesi keseharian menjadi pegawai serta mengurusi administrasi harus tetap merenungi kematian setiap pagi. Hal tersebut bertujuan sama: untuk merasakan makna hidup.

Makna hidup yang muncul dengan adanya kematian setidaknya dapat memberikan pandangan baru mengenai maut yang ditakuti. Akan tetapi, cobalah untuk hati-hati dalam mencerna pandangan tersebut, terutama pada sikap samurai terhadap kematian. Apalagi, jika didalami lebih lanjut, jalan pedang yang diambil samurai akan membuat mereka dengan mudah melakukan seppuku untuk mengakhiri hidup dengan tangan sendiri demi memperbaiki martabat yang ternoda. Karena hilangnya martabat sama artinya dengan hilangnya makna hidup.

Tetap bernapas tanpa memiliki makna hidup sama seperti mayat hidup. Dengan kematian, berhenti menjadi mayat hidup serta meraih kembali makna hidup yang hilang akan dapat tercapai. Dari sini saja dapat dilihat bahwa pandangan tersebut akan sangat fatal jika tidak dipahami dengan bijak. Jadi, jangan telan mentah – mentah.

Padangan tersebut sama sekali tidak mendukung pembaca untuk melegalkan bunuh diri akibat frustrasi dengan kehidupan. Kehidupan yang berantakan tidak dapat diubah menjadi bermakna dengan cara mati.

Saat kematian adalah hal yang pasti dan akhirnya membuat hidup menjadi utuh, kehidupan yang selalu berjalan mengarah ke garis akhir tetap perlu diisi dengan perjuangan dan suka cita. Suka cita inilah yang akan membuat manusia mendapatkan makna di setiap detik hidupnya.

Menikmati dan merayakan hidup sepenuhnya sampai senyuman maut datang dengan sendirinya. Seperti sysipus yang merayakan takdirnya untuk mendorong batu ke atas bukit seumur hidup, walau ia tahu bahwa batu tersebut akan selalu kembali menggelinding ke bawah.

Fatum Brutum Amor fati![T]

Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Tags: kematianrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas

Next Post

Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik

Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co