6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
August 2, 2024
in Ulas Film
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”

Gambar Cuplikan Film ‘Sekawan Limo’ Diambil dari CNN Indonesia

MANUSIA adalah makhluk hidup yang memiliki keterbatasan. Dalam beberapa hal, manusia masih belum mampu menelaah sesuatu di luar batas nalar dan logikanya.

Manusia di dalam kehidupan, juga hanya bisa memprediksi sesuatu berlandaskan teori dan kejadian yang sudah terjadi. Untuk hal yang lebih luas, tidak ada satupun manusia di dunia yang benar-benar mampu memastikan seperti apa situasi dunia di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai masa depan, tidak akan bisa dilepaskan dengan pasangan mesranya yang bernama masa lalu. Sebagai cermin keadaan dan periode yang telah lewat, masa lalu memiliki kecenderungan membawa kesan dan aura yang sangat pekat.

Tidak jarang masa lalu menjelma sebagai tali penjerat yang membuat manusia sangat terjerat. Bahkan yang lebih mengerikan, masa lalu juga bisa hadir sebagai teror hantu yang kehadirannya bisa sangat menakutkan.

Cermin kehidupan ini terefleksi lewat film Sekawan Limo yang hadir di pertengahan tahun 2024. Karya besutan YouTubers terkenal Bayu Skak ini tidak hanya menyajikan film bergenre horor-komedi seperti biasanya. Lebih dari pada itu, film ini sukses menyajikan kekentalan budaya Jawa dan nilai luhur yang membuat rasa dalam raga terperanga.

Dari banyaknya pesan moral yang tersurat maupun tersirat, salah satu pengetahuan yang terlintas sesaat diri ini selesai menonton film ini adalah ajian Tri Samaya.

Mengenal Tri Samaya

Tri Samaya adalah konsepsi luhur akan kehidupan yang mencerminkan 3 alur waktu.

Tiga Alur waktu ini, terdiri atas: 1) ‘Atita’ yang menjadi cermin akan masa lalu, 2) ‘Wartamana’ yang menjadi cermin akan masa kini, serta 3) Anagata yang menjadi cermin akan masa depan. Ketiga alur waktu ini, menjadi hakikat konkret yang akan selalu menemani manusia dalam menjalani kehidupan (Sukrawati, 2019: 114).

Meskipun terlihat sederhana, banyak manusia yang sering tertipu daya akan ajian Tri Samaya. Ada manusia yang terlalu terjebak akan masa lalunya, ada juga manusia yang terlalu mengkhawatirkan seperti apa masa depannya.

Dua situasional tersebut, pada akhirnya membawa konsekuensi, dimana manusia tidak bisa menikmati kehidupannya di masa sekarang.

Melarikan Diri dari Masa Lalu

Setiap manusia pasti memiliki substansi yang disebut masa lalu. Entah hal tersebut menjadi sesuatu yang mengagumkan, atau justru menjadi sesuatu yang kelam. Untuk sebagian besar orang, masa lalu cenderung bisa menjadi kenangan buruk yang mengerikan.

Tidak jarang, beberapa pihak memilih untuk tidak menerima, melarikan diri, atau justru mengutuk masa lalunya yang kurang berkenan. Padahal esensi dari hadirnya Atita, sesungguhnya menjadi cermin pembelajaran terbaik untuk umat manusia yang dikenal dengan istilah “Pengalaman”.

Kegundahan akan masa lalu inilah yang terefleksi secara jelas melalui beberapa karakter di Film Sekawan Limo.

Dikisahkan saat perjalanan mendaki gunung, beberapa karakter seperti Lenni yang diperankan oleh Nadya Arina, Andrew yang diperankan oleh Indra Pramujito, serta Dicky yang diperankan oleh Firza Valaza, tidak ada yang berani menatap ke belakang guna menghadapi masa lalu.

Mereka cenderung menghindar, bahkan hampir mengambil jalan pintas, dan mengorbankan sesuatu yang berharga.

*Apa sesuatu yang berharga itu? Silahkan tonton Filmnya saja nggih, saya tidak mau spoiler, hehehee.

Dihantui Masa Lalu di Masa Sekarang

Bukannya berhasil menjadi pil penenang, masa lalu yang dipaksa diabaikan, justru menjelma menjadi hantu yang membawa teror menakutkan Tidak salah apabila beberapa manusia yang masih dihantui masa lalu, malah tidak berhasil menikmati jalan yang tengah mereka lalui sekarang.

Padahal, esensi dari ajian Wartamana atau masa kini adalah sesuatu yang perlu diprioritaskan, karena menjadi kunci penentu kehidupan.

Refleksi akan hantu masa lalu secara gamblang tergambar dalam film Sekawan Limo. Dimana karakter-karakternya yang terlalu terjebak akan perintah ‘tidak boleh menengok ke belakang’, justru gagal memperoleh pengalaman bermakna dalam pendakian.

Mereka masih terbayang-bayang akan kenangan di belakang, padahal ada kenangan indah yang mestinya bisa mereka nikmati sepanjang perjalanan.

Masa Depan Tidaklah Seburuk Itu!

Disamping membawa suasana masa kini yang tidak menyenangkan, teror hantu masa lalu juga bisa menghadirkan rasa kekhawatiran akan masa depan. Hal tersebut dikarenakan, sesuatu yang tidak mengenakkan di periode lampau, sangat ditakutkan bisa terulang kembali di periode yang akan datang.

Tidak jarang, situasi ini justru membawa orang-orang menjadi terlalu cemas akan seperti apa hari esok. Padahal dari sisi ajian Tri Samaya, Anagata atau Masa Depan hanya Sang Penguasa Waktu-lah yang mengetahuinya.

Dalam film Sekawan Limo, kecemasan akan masa depan juga tercermin secara jelas. Dimana dengan bekal masa lalu yang kelam, serta kegagalan dalam menikmati perjalan, juga berimbas pada ketakutan akan situasi di masa depan.

Hal ini juga turut membawa pada perjalanan pendakian yang menemui kesesatan, berputar-putar, dan tidak menemukan jalan pulang.

Titik terangnya pun tiba, ketika mereka berhasil mengalahkan hantu masa lalu dan berkenan menikmati jalan yang tengah mereka lalui. Dari sanalah muncul secercah harapan, akan puncak masa depan yang lebih baik dan menyenangkan.

 Dengan demikian, film Sekawan Limo bisa dikatakan telah berhasil menjadi karya yang membawa kembali pesan esensial ajian Tri Samaya dalam kehidupan.

Masa lalu sebagai bekal pengalaman, masa kini sebagai kunci prioritas, serta masa depan yang tak selamanya bisa diprediksi, diharapkan bisa selalu berusaha dimengerti dan dipedomani. Terlebih pada hakikatnya, setiap manusia atas restu Sang Sutradara, bisa menjadi pemeran utama di setiap episode yang mereka tentukan masing-masing.

Sekarang tinggal memilih, apakah di akhir nanti ingin menjadi happy ending atau sad ending? [T]

Daftar Referensi

  • Sukrawati, Ni Made. 2019. Acara Agama Hindu. Denpasar: UNHI Press.


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Siapa ‘Sang Dewi’ di Balik Hari Raya Saraswati?
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: filmhindujawaresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Tunas Mekar Pengosekan Ubud, Lahir 1958, Dibeli dari Hasil “Maderep” Padi

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2024, Panggung Kebebasan Itu Telah Dibuka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co