24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Son Lomri by Son Lomri
July 29, 2024
in Ulas Film
Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

TOKOH utama film Maria Ado’e (2020), Maria, membuka cerita dengan wajah letih sepulang dari sekolah. Sementara seorang perempuan, tetangga kamar Maria, baru saja keluar dari kamar mandi yang bersebalahan dengan kamar tidur Maria itu, menatapnya sangat sinis sambil berjalan pergi dengan menutup hidungnya.

Maria berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sedangkan tetangga kamarnya dari daerah lain. Tetapi mereka tinggal satu kontrakkan, dan kamarnya saling berhadapan, pula sangat dekat. Tatapan dan wajah sinis tak berhenti saat mereka berpapasan di depan pintu tadi.

Tetangga kamar Maria menyemprotkan pewangi ruangan ke jejak Maria terakhir berdiri. Suara semprotan yang nyaring terdengar sampai ke dalam kamar Maria. Srooot..srooot..srooot….

Maria bau. Begitulah kira-kira adegan itu ingin menyampaikan sesuatu secara vulgar. Tingkah laku yang frontal tersebut tentunya tak mengenakan perasaan Maria. Karena itu Maria membeli segala macam pewangi badan dan ruangan, pengusir kecoa, juga body lotion agar dirinya tak bau saat diendus si tetangga.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ya, tetangganya sering mengendus, memastikan bau Maria tidak ada di segala sudut rumah itu: tetangganya seperti anjing—atau memang anjing? Sedang benda-benda yang mengeluarkan bau wangi itu terkumpul lebih banyak di meja belajar Maria daripada buku bacaan. Maria memiliki ketakutan tersendiri sebagai minoritas.

Bahkan, walaupun Maria sudah memakainya berulang kali itu parfum, sepertinya stereotip buruk terhadap “ras” kepada orang timur, lebih menyengat daripada bau yang menguar dari kulit Maria yang alamiah. Dari sanalah wacana rasisme itu dapat dilihat dari film Maria Ado’e yang disutradarai oleh Gleinda Stefany tahun 2020.

Setidaknya, pesan yang saya tangkap dari film tersebut—hendak menyampaikan pesan “genting”—bahwa fenomena rasisme masih belum selesai di tubuh bangsa ini, terutama rasisme terhadap masyarakat Indonesia bagian Timur, dalam hal ini NTT—yang kerap menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa dirinya superior, merasa diri lebih modern hanya karena toiletnya duduk.

Film Maria Ado’e diputar bersama empat film pendek lainnya—“Mana Handphoneku”, “Tergila-gila”, “Coblosan”, dan “Pengen Hape”—oleh Komunitas Singaraja Menonton di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam rangka Minikino Monthly Screening & Discussion Jully, Sabtu (26/6/2024) lalu. Film tersebut membuka diskusi terkait bagaimana isu rasisme yang sampai hari ini belum juga selesai.

Setahun sebelum film itu digarap, tepatnya di tahun 2019, fenomena rasisme telah terjadi di Surabaya, menimpa anak Papua, dan itu cukup membuat geger satu negara, terutama di daerah Papua sendiri kasus tersebut sangat menyala.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Film yang digarap oleh Gleida masih ada menariknya walaupun isu rasisme masih terkesan klise sebenarnya, tapi apa boleh buat, selagi rasisme ada di dunia ini, khusunya Indonesia Raya ini, film seperti Maria Ado’e harus tetap dibuat, diputar—dan disebar luaskan ke anak cucu.

Di samping isu rasial yang diwacanakan oleh Gleida melalui filmnya, ada sisi lain yang terangkat, yaitu perjuangan dan pemberontakan bagaimana Maria—sebagai seorang anak NTT— yang melancong ke Jawa untuk merubah nasib melalui pendidikan, berusaha keras untuk dirinya bisa diterima dilingkungan tempatnya tinggal.

Perjuangan itu termanifestasikan ketika adegan Maria menggosok tangannya dengan beklin—pemutih untuk pakaian—di sela-sela mencuci bajunya kemudian mengguyur badannya dengan air beklin bekas cuciannya itu agar kulit hitamnya menjadi putih. Agar tetangga kamarnya tidak mengatai dia si hitam lagi.

Adegan yang lebih ironis, Maria selalu berjuang untuk tidak meninggalkan jejak (sampah), bahkan bau dirinya sekalipun yang selalu diendus tetangga kamarnya itu di segala sudut. Ia semprotkan juga alat-alat pewangi ruangan, salah satunya di dapur bekasnya masak. Maria, menjadi sesosok yang sangat sial di republik ini barangkali, terutama hidup di Pulau Jawa?

Namun yang disayangkan, sekadar mengutip pendapat Made Adnyana Ole saat sesi diskusi, secara teknis jalan cerita film tersebut terdapat adegan tidak selaras dengan wacana rasisme yang sedang dimainkan atau masih bocor secara pengemasannya.

Suasana diskusi setelah menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ialah adegan di akhir cerita, ketika Maria memasak babi yang ia ambil dari kulkas bersama ketika kontrakan sedang sepi—adegan atau simbolik itu justru lebih tendesi pada ranah atau isu agama (mayoritas) di sana.

Sehingga adegan itu tidak ngena secara wacana, yang ingin menyenggol isu warna kulit atau bentuk tubuh yang berbeda. Ketika Maria ditanya “Bau apa di kulkas situ?” oleh tetangga kamarnya berkulitnya putih—khas perawatan—dia menjawab, “Babi!”

“Hal demikian masih terasa rancu—walaupun secara teknis pengambilan gambar nyaris sempurna,” kata Ole, panggilan akrab sastrawan dan wartawan senior itu. “Untuk film dengan muatan rasisme terkait warna kulit, tapi ditutup dengan adegan yang lebih mengarah isu agama seperti “babi” tadi, sepertinya kurang masuk atau masih cacat secara logika,” sambungnya.

Namun, walaupun begitu, adegan tersebut, menurut hemat saya, masih sangat mengejutkan penonton, walaupun endingnya memang kurang masuk akal. Dan, secara tontonan, film ini asyik untuk dinikmati, dipandang sebagai pemberontakan sederhana sosok Maria setelah tak dihargai setiap usahanya untuk menjadi wangi dan memutihkan warna kulitnya.

Menjelang akhir cerita, sekali lagi, dan ini adegan yang paling saya suka, Maria menyebut tetangganya yang intoleran tersebut dengan sebuatan “BABI”—sambil angkat jari tengah, fuck you! Bagi saya, ini sebuah pemberontakan.[T]

Percayalah, Semua Doa Itu Baik: Catatan Kecil Film “Berdoa, Mulai”
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
Tags: Film Maria Ado'efilm pendekKomunitas MahimaSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Next Post

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co