15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Son Lomri by Son Lomri
July 29, 2024
in Ulas Film
Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

TOKOH utama film Maria Ado’e (2020), Maria, membuka cerita dengan wajah letih sepulang dari sekolah. Sementara seorang perempuan, tetangga kamar Maria, baru saja keluar dari kamar mandi yang bersebalahan dengan kamar tidur Maria itu, menatapnya sangat sinis sambil berjalan pergi dengan menutup hidungnya.

Maria berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sedangkan tetangga kamarnya dari daerah lain. Tetapi mereka tinggal satu kontrakkan, dan kamarnya saling berhadapan, pula sangat dekat. Tatapan dan wajah sinis tak berhenti saat mereka berpapasan di depan pintu tadi.

Tetangga kamar Maria menyemprotkan pewangi ruangan ke jejak Maria terakhir berdiri. Suara semprotan yang nyaring terdengar sampai ke dalam kamar Maria. Srooot..srooot..srooot….

Maria bau. Begitulah kira-kira adegan itu ingin menyampaikan sesuatu secara vulgar. Tingkah laku yang frontal tersebut tentunya tak mengenakan perasaan Maria. Karena itu Maria membeli segala macam pewangi badan dan ruangan, pengusir kecoa, juga body lotion agar dirinya tak bau saat diendus si tetangga.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ya, tetangganya sering mengendus, memastikan bau Maria tidak ada di segala sudut rumah itu: tetangganya seperti anjing—atau memang anjing? Sedang benda-benda yang mengeluarkan bau wangi itu terkumpul lebih banyak di meja belajar Maria daripada buku bacaan. Maria memiliki ketakutan tersendiri sebagai minoritas.

Bahkan, walaupun Maria sudah memakainya berulang kali itu parfum, sepertinya stereotip buruk terhadap “ras” kepada orang timur, lebih menyengat daripada bau yang menguar dari kulit Maria yang alamiah. Dari sanalah wacana rasisme itu dapat dilihat dari film Maria Ado’e yang disutradarai oleh Gleinda Stefany tahun 2020.

Setidaknya, pesan yang saya tangkap dari film tersebut—hendak menyampaikan pesan “genting”—bahwa fenomena rasisme masih belum selesai di tubuh bangsa ini, terutama rasisme terhadap masyarakat Indonesia bagian Timur, dalam hal ini NTT—yang kerap menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa dirinya superior, merasa diri lebih modern hanya karena toiletnya duduk.

Film Maria Ado’e diputar bersama empat film pendek lainnya—“Mana Handphoneku”, “Tergila-gila”, “Coblosan”, dan “Pengen Hape”—oleh Komunitas Singaraja Menonton di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam rangka Minikino Monthly Screening & Discussion Jully, Sabtu (26/6/2024) lalu. Film tersebut membuka diskusi terkait bagaimana isu rasisme yang sampai hari ini belum juga selesai.

Setahun sebelum film itu digarap, tepatnya di tahun 2019, fenomena rasisme telah terjadi di Surabaya, menimpa anak Papua, dan itu cukup membuat geger satu negara, terutama di daerah Papua sendiri kasus tersebut sangat menyala.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Film yang digarap oleh Gleida masih ada menariknya walaupun isu rasisme masih terkesan klise sebenarnya, tapi apa boleh buat, selagi rasisme ada di dunia ini, khusunya Indonesia Raya ini, film seperti Maria Ado’e harus tetap dibuat, diputar—dan disebar luaskan ke anak cucu.

Di samping isu rasial yang diwacanakan oleh Gleida melalui filmnya, ada sisi lain yang terangkat, yaitu perjuangan dan pemberontakan bagaimana Maria—sebagai seorang anak NTT— yang melancong ke Jawa untuk merubah nasib melalui pendidikan, berusaha keras untuk dirinya bisa diterima dilingkungan tempatnya tinggal.

Perjuangan itu termanifestasikan ketika adegan Maria menggosok tangannya dengan beklin—pemutih untuk pakaian—di sela-sela mencuci bajunya kemudian mengguyur badannya dengan air beklin bekas cuciannya itu agar kulit hitamnya menjadi putih. Agar tetangga kamarnya tidak mengatai dia si hitam lagi.

Adegan yang lebih ironis, Maria selalu berjuang untuk tidak meninggalkan jejak (sampah), bahkan bau dirinya sekalipun yang selalu diendus tetangga kamarnya itu di segala sudut. Ia semprotkan juga alat-alat pewangi ruangan, salah satunya di dapur bekasnya masak. Maria, menjadi sesosok yang sangat sial di republik ini barangkali, terutama hidup di Pulau Jawa?

Namun yang disayangkan, sekadar mengutip pendapat Made Adnyana Ole saat sesi diskusi, secara teknis jalan cerita film tersebut terdapat adegan tidak selaras dengan wacana rasisme yang sedang dimainkan atau masih bocor secara pengemasannya.

Suasana diskusi setelah menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ialah adegan di akhir cerita, ketika Maria memasak babi yang ia ambil dari kulkas bersama ketika kontrakan sedang sepi—adegan atau simbolik itu justru lebih tendesi pada ranah atau isu agama (mayoritas) di sana.

Sehingga adegan itu tidak ngena secara wacana, yang ingin menyenggol isu warna kulit atau bentuk tubuh yang berbeda. Ketika Maria ditanya “Bau apa di kulkas situ?” oleh tetangga kamarnya berkulitnya putih—khas perawatan—dia menjawab, “Babi!”

“Hal demikian masih terasa rancu—walaupun secara teknis pengambilan gambar nyaris sempurna,” kata Ole, panggilan akrab sastrawan dan wartawan senior itu. “Untuk film dengan muatan rasisme terkait warna kulit, tapi ditutup dengan adegan yang lebih mengarah isu agama seperti “babi” tadi, sepertinya kurang masuk atau masih cacat secara logika,” sambungnya.

Namun, walaupun begitu, adegan tersebut, menurut hemat saya, masih sangat mengejutkan penonton, walaupun endingnya memang kurang masuk akal. Dan, secara tontonan, film ini asyik untuk dinikmati, dipandang sebagai pemberontakan sederhana sosok Maria setelah tak dihargai setiap usahanya untuk menjadi wangi dan memutihkan warna kulitnya.

Menjelang akhir cerita, sekali lagi, dan ini adegan yang paling saya suka, Maria menyebut tetangganya yang intoleran tersebut dengan sebuatan “BABI”—sambil angkat jari tengah, fuck you! Bagi saya, ini sebuah pemberontakan.[T]

Percayalah, Semua Doa Itu Baik: Catatan Kecil Film “Berdoa, Mulai”
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
Tags: Film Maria Ado'efilm pendekKomunitas MahimaSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Next Post

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co