23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Peradaban Pura Gunung Kawi: Menceritakan Simfoni Abadi di Puncak Batu Padas

Kadek Juni Damayanti by Kadek Juni Damayanti
July 20, 2024
in Khas
Jejak Peradaban Pura Gunung Kawi: Menceritakan Simfoni Abadi di Puncak Batu Padas

Penulis: Kadek Juni Damayanti, Angeli Anatasya, dan Nyoman Aril Raditya Tirta, — mahasiswa Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional, Denpasar, Bali

***

BERANGKAT dari ketertarikan atas megahnya ukiran tebing batu padas pada slide show materi pariwisata budaya di kelas, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan dalam program field research.  Program ini adalah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa Program S1 Pariwisata di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional, Denpasar, Bali.

Kami pun menuju lokasi relief atau ukiran tebing batu padas di Gunung Kawi, Tampaksiring, Gianyar, Bali. Ternyata di lembah itu, yakni Lembah Sungai Pakerisan, memang berdiri megah Pura Gunung Kawi. Ini sebuah situs yang sarat dengan nilai sejarah dan spiritualitas di Bali. Hal inilah yang menginisiasi kami untuk beranjak mengunjungi Pura Gunung Kawi itu.

Situs itu terletak di Desa Tampaksiring.  Perjalanan menuju daya tarik wisata ini dapat ditempuh kurang lebih 2 jam ke arah utara dari kampus kami, kampus Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional.

Pagi hari kami melewati jalan-jalan pedesaan dan pemandangan sawah terasering subak, dan suasana itu membangkitkan gairah yang mengesankan untuk perjalanan field research kali ini.

Setibanya di area parkir, kami lanjutkan jalan kaki menuju pintu masuk (entrance gate). Kagetnya ternyata sudah ada pemandu wisata lokal (guide) yang menunggu dan menyambut kami. Pemandu itu, Nyoman Arta Sudana, yang lebih dikenal dengan nama Nyoman Manis, sesuai dengan manis senyumnya.

Nyoman Manis bertanya, “Apakah ada yang menstruasi?”

Pertanyaan dasar untuk memastikan tidak boleh ada yang mengabaikan kesucian dan kesakralan areal suci Pura. Selanjutnya kami dipastikan menggunakan pakaian yang pantas dan selendang.

Gambar Peraturan Pura Gunung Kawi

Kami menuju areal utama Pura Gunung Kawi. Ini adalah perjalanan menuruni sekitar 315 anak tangga dengan disusun batu kali yang rapi.

Selain memusatkan mata pada banyaknya anak tangga, kami juga menyaksikan sambutan alir sungai yang jernih dan suara merdu air terjun, menciptakan suasana yang tenang dan mendalam.

Pak Manis menjelaskan bahwa subak (areal persawahan di sekitar Pura Gunung Kawi, sebagai sistem pengairan  pertanian tradisional Bali, mendapat aliran air sepenuhnya dari sumber mata air di Tirta Empul.

Sepanjang perjalanan turun kita juga disuguhin barang kerajinan tangan khas dengan seni tampak siring. Barang-barang kerajinan itu ditawarkan kepada tamu yang berkunjung ke Pura itu.

Kami, mahasiswa Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional dalam program field research di Gunung Kawi

Tiba di areal utama kawasan Pura Gunung kawi, muncul rasa lega dan bangga melihat megahnya candi-candi yang kokoh menempel pada dinding tebing batu padas. Dibangun pada abad ke-11, Pura Gunung Kawi dipersembahkan sebagai penghormatan kepada Raja Anak Wungsu dari dinasti Warmadewa.

Tempat ini sangat luas sekitar 50 hektar dan membaginya pada Kompleks yang terdiri dari 10 candi atau “candi-gunung” yang dipercaya sebagai makam raja dan keluarganya, meskipun ada juga yang meyakini bahwa candi-candi tersebut adalah tempat pemujaan. Ada 9 candi utama dan 1 candi lainnya di sisi selatan.

Di Pura Gunung Kawi ini terdapat 5 kawasan yang diperuntukkan sebagai tempat suci atau Pura,  yakni Pura Kawan, Pura Puncak Gunung Kawi, Pura Taman Suci, dan Pura Melanting.

Relief atau ukiran candi di tebing padu padas

Masih terpesona oleh keahlian ukir para seniman pada masa lalu yang mampu menciptakan karya seni monumental dengan alat-alat sederhana, terlintas ingatan kami pada materi slide show, bahwa ada mitos jika dulunya candi ini dibuat oleh kuku seorang patih dari Kerajaan Bedahulu yang bernama Patih Kebo Iwa.

Ingin menghilangkan rasa penasaran, hal itu kami tanyakan ke Pak Manis selaku pemandu wisata. Meskipun belum ada bukti–bukti yang membenarkannya. Namun mendengar kisah keiklasan dari Patih Kebo Iwa cukup membayar rasa penasaran kami.

Pak Manis menambahkan bahwa tempat ini hingga saat ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali namun khusus pada situs purbakala pada candi-candi saja. Ini dikarenakan situs tidak diperbolehkan untuk diganggu ataupun diubah oleh masyarakat lokal, karena kalau situs ini berubah maka sejarahnya pun juga ikut berubah dan hal ini ada dalam peraturan perundang-undangan.

Setelah paham akan penjelasan tersebut, kemudian kami diajak melanjutkan perjalanan ke 1 candi lainnya yang lokasinya tidak jauh dari area candi utama, kurang lebih 15 menit. Betapa terkesima dengan kokohnya batu tebing seakan menjadi gerbang. Tidak cuma itu, kami sempat tertegun sejenak ketika kembali menemukan air terjun yang masih alami, hingga kami menemukan Candi ke-10 yang bernama Candi Prasadha Ukir di penghujung jalan.

Seolah candi terisolir sendiri, dan mata kembali tertuju dengan rasa penasaran pada tempat meditasi yang fisiknya menyerupai rumah jaman dulu. Pak Manis sekilas membenarkan jika dulunya tempat ini digunakan sebagai tempat bersemedi dan tidak sedikit yang datang atau tangki’ memohon petunjuk spiritual secara pribadi.

Secara keseluruhan, Pura Gunung Kawi adalah harta karun Bali yang menawarkan pandangan mendalam tentang sejarah dan spiritualitas. Dengan pendekatan yang tepat dalam pelestarian dan pengelolaan pariwisata, kita dapat memastikan bahwa situs ini akan terus kokoh sebagai lintas peradaban dan kebanggaan bagi generasi mendatang.

Harmoninasi yang benar adanya di antaranya pariwisata, budaya dan spiritualitas ada di sini. Wisatawan datang menciptakan peluang usaha bagi masyarakat lokal seperti kerajinan tangan, kain tradisional, dan oleh-oleh unik yang dapat dibeli wisatawan.  Aktivitas ini meningkatkan pendapatan yang serta merta untuk memelihara dan menjaga tradisi budaya tetap berlangsung di tempat ini.

Warisan ini adalah tanggung jawab bersama, dan dengan dedikasi serta komitmen, kita dapat menjamin bahwa keindahan dan keagungan Pura Gunung Kawi akan tetap lestari sepanjang masa. Salam Pariwisata. [T]

Berkunjung dan Membayangkan Masa Lalu di Rumah Batuan, Rumah Tradisional di Desa Batuan-Gianyar
Tags: baliGianyarGunung KawiPura Gunung Kawisitus gunung kawi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula

Next Post

Kerasnya Quarter Life Crisis Dalam EP Terbaru re: NAN, “Lost Consciousness Pt.2” — “Hadapi Depresi, ¼ Adalah Rencana”

Kadek Juni Damayanti

Kadek Juni Damayanti

Mahasiswa Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional, Denpasar, Bali. Program Studi S1 Pariwisata

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Kerasnya Quarter Life Crisis Dalam EP Terbaru re: NAN, “Lost Consciousness Pt.2” — “Hadapi Depresi, ¼ Adalah Rencana”

Kerasnya Quarter Life Crisis Dalam EP Terbaru re: NAN, "Lost Consciousness Pt.2" -- “Hadapi Depresi, ¼ Adalah Rencana”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co