16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pekik Takbir Malam Hari Raya | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 29, 2024
in Cerpen
Pekik Takbir Malam Hari Raya | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

PRAMONO masih melanjutkan tugasnya sebagai kepala Pol PP, menggantikan seniornya, Samuji yang dicopot akibat ulahnya sendiri yang bejat. Dia kini jauh lebih tegas dan jauh lebih alim daripada awal bulan puasa. Semua telah dia lakukan untuk mencapai tingkat manusia setengah dewa. Selama sebulan penuh dia meluangkan waktunya di sela-sela bertugas dengan mengkhatamkan Al Quran 5-6 juz tiap bakda salat wajib. Kadang dia mengkhatamkan Al Quran 3 juz setelah salat Zhuhur maupun Ashar. Kalau biasanya dia tidak salat Dhuha, maka menjelang hari raya dia tampak rajin salat Dhuha dan salat-salat sunah lainnya. Dan yang jauh lebih mengagumkan dia kini telah memberanikan diri maju sebagai imam salat, memimpin para anggotanya. Tapi, yang membuat para anggotanya sungkan dan menundukkan kepalanya jika berpapasan dengan Pramono adalah saat lelaki itu memberikan tausiah singkat setelah melaksanakan salat.

“Wahai Saudaraku, sesungguhnya waktu yang kita miliki di dunia ini amat singkat. Sungguh sia-sia sekali jika waktu yang kita miliki ini bila diisi dengan hal-hal yang sama sekali tak berguna. Begitu juga selama kita melaksanakan ibadah puasa di bulan puasa ini, sungguh perbuatan sia-sia bila yang ada di dalam hati dan pikiran kita hanya perbuatan yang justru membuat kita semakin kotor dan berdosa,” kata Pramono ketika memberikan tausiah. “Jadi, marilah, Saudaraku. Mumpung kita masih diberikan kesempatan untuk bersua dengan bulan puasa, maka kita isi bulan suci ini dengan perbuatan-perbuatan yang mulia. Jangan membenci sesama, jangan mendengki, jangan mengghibah, jangan mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan mengganggu orang-orang yang tengah berpuasa. Tingkatkan pula ketakwaan dan keimanan kita.”

Mendengar pesan-pesan indah yang menyentuh jiwa dari komandannya, para anggota yang menjadi makmum menetestkan air mata.

Begitu pun ketika diadakan apel pagi itu, semua anggota yang berbaris di lapangan tampak khusyuk dan berdiri tegap. Misalkan seperti pagi itu. Kurang dua minggu lagi lebaran akan tiba. Aroma bulan puasa tinggal sisanya saja. Apalagi aroma wangi itu kini bercampur dengan aroma busuk neraka yang diembuskan oleh manusia-manusia yang tak berakal budi. Meski mereka telah dilarang untuk makan di muka umum, namun mereka tetap saja membandel. Banyak warung makan yang buka secara terang-terangan. Sudah jarang orangtua yang melarang anaknya untuk tidak minum di depan orang yang sedang berpuasa. Menandakan sudah semakin menipisnya ketakwaan dan keimanan pada Tuhan. Ajaran Nabi Muhammad cuman tinggal dongeng belaka.

“Pada apel pagi ini, sekali lagi saya tekankan bahwa tugas kita tidak hanya menertibkan para pedagang kaki lima yang tetap membandel berjualan di atas trotoar jalan utama kota dan partisipan partai yang memaku banner partainya di pohon-pohon kota yang merusak keindahan kota, tapi lebih dari itu,” kata Pramono dengan mendekatkan mulutnya dekat mik. “Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, selama hampir sebulan ini tidak sedikit di antara kita yang telah menyaksikan umat Islam banyak yang tidak berpuasa. Saya kurang tahu apa penyebab mereka tidak puasa. Mungkin mereka sudah jenuh kali. Banyak warung-warung makan yang terang-terangan berjualan di siang bolong.  Maka, pagi ini juga saya instruksikan kepada kalian untuk melakukan operasi.”

Seluruh anggotanya mendengarkan dengan saksama apa yang diperintahkan oleh komandan yang sangat mereka hormati.

“Selain itu, selama hampir sebulan ini saya banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat bahwa di daerah Tretes masih banyak PSK yang beroperasi menjajakan goa hantunya. Kita telah benar-benar kecolongan. Jadi sekarang, mari kita ciptakan suasana yang bersih dan kondusif dari para wanita penyandang tuna susila ini.”

Maka, dalam kondisi berpuasa, para anggota Pol PP di bawah komando Pramono bergegas menyisiri setiap sudut kota. Sasarannya adalah warung-warung makan yang masih nekat buka, para tukang becak yang nekat merokok di siang bolong, dan pekerja dinas kebersihan yang tidak berpuasa. Mereka akan digelandang ke markas Pol PP jika ada yang ketahuan tidak berpuasa.

Setelah berpatroli di tengah kota, mereka meluncur ke Tretes yang selama ini menjadi tempat para PSK menjajakan lekuk tubuhnya. Walhasil dari operasi mendadak itu mereka sukses menangkap lima wanita PSK yang semuanya masih duduk di bangku SMA dan kuliah.              

“Siapa nama kamu?” tanya Pramono saat menggelandang seorang gadis PSK menuju mobil truk.

“Melati, Pak.”

“Sekarang umurmu berapa?”

“19 tahun.”

“Masih kuliah?”

“Saya sudah drop out sejak kelas 2 Madrasah Aliyah, Pak.”

“Kenapa? Sering bolos?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Saya diperkosa sama kepala sekolah saya. Dia seorang kiai. Saya dipaksanya agar mau dijebolnya dengan iming-iming sekolah gratis. Akhirnya saya hamil dan kiai bejat itu tidak bertanggung jawab. Parahnya dia malah menuduh ayah saya hanya ingin memerasnya. Putus asa, akhirnya saya terjun ke pekerjaan ini,” jelas gadis itu.

Pramono merasa kasihan kepada gadis itu. Tak jarang mata gundunya selalu melihat ke arah dua gunung yang menonjol di balik kemeja putih transparan gadis itu.

“Kamu boleh beroperasi di wisma ini dengan catatan jangan sampai ketahuan anggota. Oh, iya. Apakah kamu bisa ….” Pramono membisikkan sesuatu di telinga gadis cantik itu.

“Berapa ronde?”

****

Tak terasa sudah tinggal dua hari lagi lebaran akan tiba. Malam itu, Pramono mengajak anak dan istrinya berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota kecil kami. Mereka membeli barang-barang keperluan dalam merayakan lebaran nanti. Kedua anak Pramono minta dibelikan baju lebaran. Istrinya minta dibelikan gamis mahal yang pernah diperagakan oleh salah satu model Ibu Kota. Pramono juga tak mau kalah. Dia berhasil membeli kemeja, jaket jins dan celana jins yang diperagakan oleh model di dalam banner depan toko. Setelah membeli pakaian, mereka memborong kue-kue, dan minuman sirup,           

Rencananya pula lebaran tahun ini Pramono akan mengajak keluarganya mudik ke kota kelahiran istrinya. Sudah tiga tahun sejak Covid 19 melanda, dia tidak menjenguk orangtua dan keluarga istrinya.                    

“Sudah lama kita tidak mudik ke rumah bapak, Ma,” kata Pramono ketika mereka hendak membeli parsel lebaran.

“Apakah ayah tidak halal bi halal ke rumah keluarga ayah dulu sebelum kita mudik ke kota kelahiran Mama?”

“Ah, buat apa kita halal bi halal ke rumah mereka?”

“Kan mereka keluarga Ayah juga?”

“Keluarga sih keluarga. Tapi mereka akan menganggap ayah sebagai keponakan, sepupu, anak dan om jika mereka ada maunya. Kamu tahu sendiri kan bagaima kelakuan abang sepupuku? Apakah kamu masih belum kapok dipermalukan begitu? Aku sih bukan dendam atau tidak mau mencari saudara, namun mereka tidak menganggap aku sebagai saudaranya. Buat apa?”

Istrinya Pramono tahu apa penyebab suaminya itu tidak mau bersilaturrahmi ke rumah saudaranya.      

“Sudahlah. Jangan membahas mereka lagi. Bosan. Mending kita pikirkan rencana mudik kita lusa.”

Pramono ringan tangan mengeluarkan uang gajiannya dari menjadi Kepala Pol PP untuk membelikan keluarga istrinya parsel lebaran. Sebab dia tahu persis bahwa betapa tak beruntungnya nasibnya sebelum ditakdirkan bekerja di Satpol PP.

Dulu, Pramono ingin sekali menjadi anggota polisi. Dengan tinggi tubuh yang sesuai dengan kriteria kepolisian dia sudah seharusnya mengenakan seragam perwira dengan lambang melati di pundak. Sayang, pria itu harus memadamkan cita-citanya ketika ayahnya harus mengakhiri hidupnya di atas rel kereta api. Gara-garanya adalah dua orang berjaket hitam datang untuk menagih utang kepada ayahnya. Padahal yang mengutang pada rentenir bukanlah ayahnya melainkan sepupu ayahnya yang saat itu sedang membutuhkan duit buat membayar angsuran rumah.

Ayahnya begitu mudah meminjami sepupunya itu surat akta tanah sebagai jaminan utang. Tapi sejak bulan itu sepupu ayahnya itu tidak mencicil utangnya. Lebih parahnya lagi, sepupu ayahnya memakai nama ayah Pramono sebagai peminjam sehingga debt collector menagih padanya. Karena tak mampu membayar, akhirnya surat akta tanah diambil oleh rentenir dan Pram sekeluarga diusir dari rumah mereka sendiri. Sampai detik ini Pram masih dendam dengan sepupu ayahnya itu. Atas saran dari ibunya, Pramono akhirnya mendaftar sebagai anggota Pol PP. Di sana dia menunjukkan bakat kepemimpinannya. Mungkin karena depresi berat, dua bulan setelah Pram diterima kerja, ayahnya bunuh diri.

“Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui mereka sebagai keluarga. Sebab gara-gara mereka aku urung jadi bintara polisi.”

“Oh, iya, Yah. Besok kan malam terakhir buka puasa. Apakah Ayah bisa bukber dengan anak-anak di rumah?”

“Kayaknya Ayah bukber dengan anak buah di kantor, Ma.”

“Baiklah kalau Ayah bukber sama anggota.”

****

Sebelum Magrib, Pramono telah berangkat. Dia mengenakan jaket kulit dan pakaian necis. Tidak lupa telah menyemprot pakaiannya dengan parfum. Kepada istrinya, Pramono bilang akan bukber di salah satu kafe. Tanpa curiga istrinya merelakan kepergian suaminya.

Tapi, Pramono tidak pergi ke kafe seperti yang dikatakan kepada istrinya. Dia mengarahkan motornya ke daerah Tretes. Sampai di lokasi dekat wisma dia menghubungi seseorang.

“Aku sudah sampai di depan wisma.”

“Bapak masuk saja langsung ke wisma. Saya sudah menyewa kamar.”

“Kamarmu nomor berapa?”

“Sepuluh.”

Pramono pun pergi ke kamar itu. Di depan kamar dia mengetuk pintu. Lalu, tampak di depannya gadis bernama Melati dengan pakaian yang berbeda dan, mengundang. Keduanya pun masuk. Lalu, di malam takbiran itu Pramono mengulum bibir gadis itu dengan penuh nafsu. Dan gadis itu membalasnya dengan penuh gairah. Tidak hanya itu saja, pria paro baya itu juga melucuti tali bra gadis itu dengan mulutnya dan mulai menyosor ke benjolan di dadanya. Gunung itu pun memancarkan lava.

Terakhir, kedua setan jalang itu bergumul di atas ranjang. Berkali-kali gadis itu memekik ketika Pramono menghunjamkan keperkasaannya.

Di dunia ini, tidak seorang pun ahli ibadah yang sempurna dan benar-benar takut kepada Tuhan, setinggi apa pun ilmunya. Sebab yang mereka harapkan dari Tuhan hanyalah pahala dan dosa, surga dan neraka. (*)

Probolinggo, April 2024.

Cerpen ini untukmu yang ada di sini.

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Upacara Diri

Next Post

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co