15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pekik Takbir Malam Hari Raya | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 29, 2024
in Cerpen
Pekik Takbir Malam Hari Raya | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

PRAMONO masih melanjutkan tugasnya sebagai kepala Pol PP, menggantikan seniornya, Samuji yang dicopot akibat ulahnya sendiri yang bejat. Dia kini jauh lebih tegas dan jauh lebih alim daripada awal bulan puasa. Semua telah dia lakukan untuk mencapai tingkat manusia setengah dewa. Selama sebulan penuh dia meluangkan waktunya di sela-sela bertugas dengan mengkhatamkan Al Quran 5-6 juz tiap bakda salat wajib. Kadang dia mengkhatamkan Al Quran 3 juz setelah salat Zhuhur maupun Ashar. Kalau biasanya dia tidak salat Dhuha, maka menjelang hari raya dia tampak rajin salat Dhuha dan salat-salat sunah lainnya. Dan yang jauh lebih mengagumkan dia kini telah memberanikan diri maju sebagai imam salat, memimpin para anggotanya. Tapi, yang membuat para anggotanya sungkan dan menundukkan kepalanya jika berpapasan dengan Pramono adalah saat lelaki itu memberikan tausiah singkat setelah melaksanakan salat.

“Wahai Saudaraku, sesungguhnya waktu yang kita miliki di dunia ini amat singkat. Sungguh sia-sia sekali jika waktu yang kita miliki ini bila diisi dengan hal-hal yang sama sekali tak berguna. Begitu juga selama kita melaksanakan ibadah puasa di bulan puasa ini, sungguh perbuatan sia-sia bila yang ada di dalam hati dan pikiran kita hanya perbuatan yang justru membuat kita semakin kotor dan berdosa,” kata Pramono ketika memberikan tausiah. “Jadi, marilah, Saudaraku. Mumpung kita masih diberikan kesempatan untuk bersua dengan bulan puasa, maka kita isi bulan suci ini dengan perbuatan-perbuatan yang mulia. Jangan membenci sesama, jangan mendengki, jangan mengghibah, jangan mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan mengganggu orang-orang yang tengah berpuasa. Tingkatkan pula ketakwaan dan keimanan kita.”

Mendengar pesan-pesan indah yang menyentuh jiwa dari komandannya, para anggota yang menjadi makmum menetestkan air mata.

Begitu pun ketika diadakan apel pagi itu, semua anggota yang berbaris di lapangan tampak khusyuk dan berdiri tegap. Misalkan seperti pagi itu. Kurang dua minggu lagi lebaran akan tiba. Aroma bulan puasa tinggal sisanya saja. Apalagi aroma wangi itu kini bercampur dengan aroma busuk neraka yang diembuskan oleh manusia-manusia yang tak berakal budi. Meski mereka telah dilarang untuk makan di muka umum, namun mereka tetap saja membandel. Banyak warung makan yang buka secara terang-terangan. Sudah jarang orangtua yang melarang anaknya untuk tidak minum di depan orang yang sedang berpuasa. Menandakan sudah semakin menipisnya ketakwaan dan keimanan pada Tuhan. Ajaran Nabi Muhammad cuman tinggal dongeng belaka.

“Pada apel pagi ini, sekali lagi saya tekankan bahwa tugas kita tidak hanya menertibkan para pedagang kaki lima yang tetap membandel berjualan di atas trotoar jalan utama kota dan partisipan partai yang memaku banner partainya di pohon-pohon kota yang merusak keindahan kota, tapi lebih dari itu,” kata Pramono dengan mendekatkan mulutnya dekat mik. “Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, selama hampir sebulan ini tidak sedikit di antara kita yang telah menyaksikan umat Islam banyak yang tidak berpuasa. Saya kurang tahu apa penyebab mereka tidak puasa. Mungkin mereka sudah jenuh kali. Banyak warung-warung makan yang terang-terangan berjualan di siang bolong.  Maka, pagi ini juga saya instruksikan kepada kalian untuk melakukan operasi.”

Seluruh anggotanya mendengarkan dengan saksama apa yang diperintahkan oleh komandan yang sangat mereka hormati.

“Selain itu, selama hampir sebulan ini saya banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat bahwa di daerah Tretes masih banyak PSK yang beroperasi menjajakan goa hantunya. Kita telah benar-benar kecolongan. Jadi sekarang, mari kita ciptakan suasana yang bersih dan kondusif dari para wanita penyandang tuna susila ini.”

Maka, dalam kondisi berpuasa, para anggota Pol PP di bawah komando Pramono bergegas menyisiri setiap sudut kota. Sasarannya adalah warung-warung makan yang masih nekat buka, para tukang becak yang nekat merokok di siang bolong, dan pekerja dinas kebersihan yang tidak berpuasa. Mereka akan digelandang ke markas Pol PP jika ada yang ketahuan tidak berpuasa.

Setelah berpatroli di tengah kota, mereka meluncur ke Tretes yang selama ini menjadi tempat para PSK menjajakan lekuk tubuhnya. Walhasil dari operasi mendadak itu mereka sukses menangkap lima wanita PSK yang semuanya masih duduk di bangku SMA dan kuliah.              

“Siapa nama kamu?” tanya Pramono saat menggelandang seorang gadis PSK menuju mobil truk.

“Melati, Pak.”

“Sekarang umurmu berapa?”

“19 tahun.”

“Masih kuliah?”

“Saya sudah drop out sejak kelas 2 Madrasah Aliyah, Pak.”

“Kenapa? Sering bolos?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Saya diperkosa sama kepala sekolah saya. Dia seorang kiai. Saya dipaksanya agar mau dijebolnya dengan iming-iming sekolah gratis. Akhirnya saya hamil dan kiai bejat itu tidak bertanggung jawab. Parahnya dia malah menuduh ayah saya hanya ingin memerasnya. Putus asa, akhirnya saya terjun ke pekerjaan ini,” jelas gadis itu.

Pramono merasa kasihan kepada gadis itu. Tak jarang mata gundunya selalu melihat ke arah dua gunung yang menonjol di balik kemeja putih transparan gadis itu.

“Kamu boleh beroperasi di wisma ini dengan catatan jangan sampai ketahuan anggota. Oh, iya. Apakah kamu bisa ….” Pramono membisikkan sesuatu di telinga gadis cantik itu.

“Berapa ronde?”

****

Tak terasa sudah tinggal dua hari lagi lebaran akan tiba. Malam itu, Pramono mengajak anak dan istrinya berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota kecil kami. Mereka membeli barang-barang keperluan dalam merayakan lebaran nanti. Kedua anak Pramono minta dibelikan baju lebaran. Istrinya minta dibelikan gamis mahal yang pernah diperagakan oleh salah satu model Ibu Kota. Pramono juga tak mau kalah. Dia berhasil membeli kemeja, jaket jins dan celana jins yang diperagakan oleh model di dalam banner depan toko. Setelah membeli pakaian, mereka memborong kue-kue, dan minuman sirup,           

Rencananya pula lebaran tahun ini Pramono akan mengajak keluarganya mudik ke kota kelahiran istrinya. Sudah tiga tahun sejak Covid 19 melanda, dia tidak menjenguk orangtua dan keluarga istrinya.                    

“Sudah lama kita tidak mudik ke rumah bapak, Ma,” kata Pramono ketika mereka hendak membeli parsel lebaran.

“Apakah ayah tidak halal bi halal ke rumah keluarga ayah dulu sebelum kita mudik ke kota kelahiran Mama?”

“Ah, buat apa kita halal bi halal ke rumah mereka?”

“Kan mereka keluarga Ayah juga?”

“Keluarga sih keluarga. Tapi mereka akan menganggap ayah sebagai keponakan, sepupu, anak dan om jika mereka ada maunya. Kamu tahu sendiri kan bagaima kelakuan abang sepupuku? Apakah kamu masih belum kapok dipermalukan begitu? Aku sih bukan dendam atau tidak mau mencari saudara, namun mereka tidak menganggap aku sebagai saudaranya. Buat apa?”

Istrinya Pramono tahu apa penyebab suaminya itu tidak mau bersilaturrahmi ke rumah saudaranya.      

“Sudahlah. Jangan membahas mereka lagi. Bosan. Mending kita pikirkan rencana mudik kita lusa.”

Pramono ringan tangan mengeluarkan uang gajiannya dari menjadi Kepala Pol PP untuk membelikan keluarga istrinya parsel lebaran. Sebab dia tahu persis bahwa betapa tak beruntungnya nasibnya sebelum ditakdirkan bekerja di Satpol PP.

Dulu, Pramono ingin sekali menjadi anggota polisi. Dengan tinggi tubuh yang sesuai dengan kriteria kepolisian dia sudah seharusnya mengenakan seragam perwira dengan lambang melati di pundak. Sayang, pria itu harus memadamkan cita-citanya ketika ayahnya harus mengakhiri hidupnya di atas rel kereta api. Gara-garanya adalah dua orang berjaket hitam datang untuk menagih utang kepada ayahnya. Padahal yang mengutang pada rentenir bukanlah ayahnya melainkan sepupu ayahnya yang saat itu sedang membutuhkan duit buat membayar angsuran rumah.

Ayahnya begitu mudah meminjami sepupunya itu surat akta tanah sebagai jaminan utang. Tapi sejak bulan itu sepupu ayahnya itu tidak mencicil utangnya. Lebih parahnya lagi, sepupu ayahnya memakai nama ayah Pramono sebagai peminjam sehingga debt collector menagih padanya. Karena tak mampu membayar, akhirnya surat akta tanah diambil oleh rentenir dan Pram sekeluarga diusir dari rumah mereka sendiri. Sampai detik ini Pram masih dendam dengan sepupu ayahnya itu. Atas saran dari ibunya, Pramono akhirnya mendaftar sebagai anggota Pol PP. Di sana dia menunjukkan bakat kepemimpinannya. Mungkin karena depresi berat, dua bulan setelah Pram diterima kerja, ayahnya bunuh diri.

“Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui mereka sebagai keluarga. Sebab gara-gara mereka aku urung jadi bintara polisi.”

“Oh, iya, Yah. Besok kan malam terakhir buka puasa. Apakah Ayah bisa bukber dengan anak-anak di rumah?”

“Kayaknya Ayah bukber dengan anak buah di kantor, Ma.”

“Baiklah kalau Ayah bukber sama anggota.”

****

Sebelum Magrib, Pramono telah berangkat. Dia mengenakan jaket kulit dan pakaian necis. Tidak lupa telah menyemprot pakaiannya dengan parfum. Kepada istrinya, Pramono bilang akan bukber di salah satu kafe. Tanpa curiga istrinya merelakan kepergian suaminya.

Tapi, Pramono tidak pergi ke kafe seperti yang dikatakan kepada istrinya. Dia mengarahkan motornya ke daerah Tretes. Sampai di lokasi dekat wisma dia menghubungi seseorang.

“Aku sudah sampai di depan wisma.”

“Bapak masuk saja langsung ke wisma. Saya sudah menyewa kamar.”

“Kamarmu nomor berapa?”

“Sepuluh.”

Pramono pun pergi ke kamar itu. Di depan kamar dia mengetuk pintu. Lalu, tampak di depannya gadis bernama Melati dengan pakaian yang berbeda dan, mengundang. Keduanya pun masuk. Lalu, di malam takbiran itu Pramono mengulum bibir gadis itu dengan penuh nafsu. Dan gadis itu membalasnya dengan penuh gairah. Tidak hanya itu saja, pria paro baya itu juga melucuti tali bra gadis itu dengan mulutnya dan mulai menyosor ke benjolan di dadanya. Gunung itu pun memancarkan lava.

Terakhir, kedua setan jalang itu bergumul di atas ranjang. Berkali-kali gadis itu memekik ketika Pramono menghunjamkan keperkasaannya.

Di dunia ini, tidak seorang pun ahli ibadah yang sempurna dan benar-benar takut kepada Tuhan, setinggi apa pun ilmunya. Sebab yang mereka harapkan dari Tuhan hanyalah pahala dan dosa, surga dan neraka. (*)

Probolinggo, April 2024.

Cerpen ini untukmu yang ada di sini.

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana | Upacara Diri

Next Post

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co