24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Repertoar “Ng”, Pranamya Swari, dan Proses Kreatifnya

Jaswanto by Jaswanto
June 19, 2024
in Persona
Repertoar “Ng”, Pranamya Swari, dan Proses Kreatifnya

Ni Putu Pranamya Swari

DI atas panggung Sasana Budaya, Singaraja, di hadapan penonton yang duduk bergerombol di tribune, lima perempuan muda duduk menghadap gamelan selonding yang ditata berhadap-hadapan, tiga di sisi kanan dan dua di sisi kiri. Salah satu di antara perempuan tersebut adalah Ni Putu Pranamya Swari—atau yang akrab dipanggil Mya.

Malam itu, tak hanya sebagai penabuh atau pemain saja, Mya juga sekaligus berperan sebagai komposer karya yang dipentaskan. Karya musik tersebut bertajuk “Ng”, salah satu repertoar yang dipertunjukkan dan dibicarakan dalam Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram, Sabtu (1/6/2024) malam.

Dalam produksi karya tersebut, Pranamya Swari melibatkan Ayu Santi Novita, Dea Krisna Putri, Acharya Savitri, dan Dayu Laksmi sebagai penabuh; dan Sanggar Bumi Bajra—sebuah platform kreatif untuk eksplorasi dan kolaborasi vokal, teater, tari, dan perkusi—sebagai kolaborator. Mya mengaku mendapat inspirasi dari senior-seniornya di Bumi Bajra.

“Ng” mulai dimainkan. Suara selonding yang dipukul dengan lembut dan hati-hati, mencipta suasana tenang dan sublim di tengah suara bising Jalan Veteran, Paket Agung, Singaraja. Mendengar suara alat musik tradisional Bali itu, Sasana Budaya seolah menjelma tempat meditasi yang menyegarkan pikiran dari hiruk-pikuk aktivitas dan beban pekerjaan sehari-hari.

Selonding yang dimainkan Mya dan kawan-kawannya—vibrasi bunyinya—malam itu seolah mampu mengantarkan pendengar sampai pada dimensi murni yang hening, khusuk, sehingga mampu menstimulasi ketenangan dan kesejukan yang dapat menjernihkan pikiran. Musik (sound) memang sudah sejak lama dijadikan media alternatif penyembuhan atau sekadar merefesh diri dari kepenatan.

Repertoar “Ng” gubahan Mya berangkat dari fenomena orang Bali yang sering menggunakan intonasi nasal—bersangkutan dengan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mengeluarkan udara melalui hidung—“ng” dalam beragam aktifitas, baik dalam suasana religius (bergumam mengartikulasikan mantra-mantra) mapun yang berkaitan dengan estetika (tradisi lisan, bermusik).

Ni Putu Pranamya Swari | Foto: Rusdy

Selain itu, penggunaan nasal “ng” juga tampak pada proses menuangkan gending-gending—para pengrawit tradisi mengartikulasikan “ng” dalam berproses kreatif mereka. Dari fenomena tersebut, Mya menyajikan komposisi “ng” dalam barungan gambelan selonding.

Pada komposisi tersebut, “ng” diartikulasikan pada bilah-bilah selonding yang merepresentasikan olah pernapasan yang dikeluarkan oleh suara nasal dan mencoba untuk bermain secara random—dalam hal ini memainkan instrumen dengan ukuran pernapasan (nasal) dari masing-masing pemainnya.

Hal tersebut dilakukan dengan maksud membentuk artikulasi getaran nada dengan olah pernapasan menjadi ukuran ritme dalam bermusik. Bertemunya getaran nada yang tidak beraturan tersebut akan menghasilkan modulasi suara atau bunyi yang dibiarkan berbunyi apa adanya.

Sifat bilah-bilah nada yang lateral dipicu oleh eksplosif seperti pengucapan “ed” yang bisa diartikulasikan ke dalam bentuk hentakan dan menghasilkan gelombang/dentuman. Tentu, peranan suara nasal “ng” akan tetap harmoni dengan getaran besinya.

Namun, meskipun tidak sepenuhnya dimainkan secara random—tapi kembali pada esensi, “Ng” bermaksud ingin menuju ritme yang tak sama tapi menghasilkan sebuah komposisi musik dengan olahan “ng” pada keseluruhan nada selonding.

Repertoar debutan ini menggunakan formula/sistem kerja “ng” pada getaran nada selonding dengan metode eksplorasi, sehingga menghasilkan modulasi suara yang artikulatif. “Menurut saya ini adalah karya terbaik yang saya ciptakan,” ujar Mya kepada tatkala.co, Rabu (12/6/2024) siang.

Ni Putu Pranamya Swari, yang dilahirkan di Denpasar pada 1998, merupakan pelaku seni pertunjukan yang khusus mendalami seni karawitan Bali—walaupun dalam bidang ini ia tidak pernah belajar secara formal. Mya lulus dari jurusan Bisnis dan Manajemen di Politeknik Negeri Bali.

“Saya tumbuh dan besar di keluarga dokter dan dosen,” kata Mya. Lantas, bagaimana Mya menjadi seorang komposer? “Bapak yang memaksa saya untuk belajar kesenian tradisi,” jawabnya. Mya belajar berkesenian di Sanggar Maha Bajra Sandhi asuhan Ida Wayan Oka Granoka Gong—atau yang akrab dipanggil Tu Aji Granoka Gong, sebagaimana Mya menyebutnya.

Di Sanggar Bajra Sandhi itulah, Mya belajar menumbuhkan dan membangun semangat berkesenian. Dan selain itu, dalam proses berkesenian Mya, nama Wayan Kayumas tentu tak boleh dilupakan. “Ia yang menggenjot saya dalam kesenian gender wayang,” tutur Mya seolah sekaligus mengucapkan rasa terima kasih kepada nama yang ia sebut. Selain belajar seni musik tradisi, Mya juga mempelajari sedikit tentang tari dan seni pertunjukan.

Ni Putu Pranamya Swari bersama para penabuhnya | Foto: Rusdy

Meskipun tidak belajar kesenian di sekolah atau institusi formal, bagi Mya, kesenian—khususnya karawitan—merupakan “nyawa”. Menurutnya, saat ini, kesenian dijadikan sebagai media healing di tengah-tengah kesibukannya sebagai pebisnis.

Sebagai seorang yang tumbuh di lingkungan akademisi dan dokter, pikiran Mya tampaknya tak jauh-jauh dari frasa penyembuhan (healing), ketenangan jiwa, dan keseimbangan. Dan itulah tampaknya yang hendak ia sampaikan dalam repertoar “Ng”, yakni harmonisasi yang timbul di dalam ketenangan dan konsentrasi.  

Saat ditanya mengenai apa yang ia perjuangan dan apa yang hendak dicapai dalam berkeseniannya, Mya menjawab dengan praktis, “Sebagai media healing dan mengasah teamwork.” Meski begitu, perempuan muda yang saat ini dipercaya menjadi Manajer Naluri Manca itu, pernah vakum selama bertahun-tahun dalam kesenian karawitan karena mengenyam pendidikan di Politeknik Negeri Bali.

Namun, setelah kevakuman tersebut, Mya mencoba berkarya kembali dalam Festival Taksapala. Jiwa karawitan yang sudah mengalir dalam darahnya itu mulai bangkit kembali. Hingga setelah itu, Mya kembali berkarya bersama Bumi Bajra dan juga Naluri Manca.

“Yang membuat saya menjadi seperti sekarang adalah keinginan saya untuk tetap mencintai kesenian tradisi. Dan setiap saya melakukan kegiatan tradisi ini, saya merasa heal—sembuh,” kata Mya.

Sebagai seniman perempuan, Mya mengaku pernah merasa diremehkan dan dianggap tidak bisa menabuh dengan durasi yang lama. Ia juga pernah merasa “diasingkan”. Tapi setelah ia berhasil membuktikan kepada orang-orang bahwa perempuan juga bisa berkarya, di tengah perkembangan penabuh perempuan saat ini yang sudah berkembang pesat, Mya merasa sudah ada kesetaraan gender dalam kesenian Bali.

Menurut Mya, tantangan dan kesulitannya sebagai seniman perempuan adalah eksplorasi yang terbatas. Baginya banyak ranah yang masih dianggap tabu, yang kadang kala sulit untuk ditembus seorang perempuan—ia tidak menyebutkan contohnya.

“Proses kreatif yang cukup struggle walaupun challenging,” ujarnya. Sejak dilahirkan, perempuan seolah sudah berada dalam bingkai, dalam klasifikasi-klasifikasi dengan konteks tertentu. Ada begitu banyak bentuk penyeragaman kepada perempuan, termasuk standar kecantikan. Menurut Mya tidak adil ketika para perempuan itu harus diseragamkan, harus begini, harus begitu, secara moral diatur harus begini-begitu.

Ni Putu Pranamya Swari (paling kiri) saat diskusi karya | Foto: Rusdy

Sampai di sini, layaknya Melati Suryodarmo, Mya juga ingin mendorong seniman perempuan muda untuk lebih kuat dalam pemikiran dan juga kritis terhadap medium mereka. Dalam hal tersebut maka perlu pembentukan perspektif, juga menyusun strategi artistiknya seperti apa. Seniman perempuan harus paham yang seperti itu, karena situasi sekarang semakin kompleks.

“Saya sangat setuju dengan ide kesetaraan. Semua insan, baik laki-laki maupun perempuan, juga memiliki hasrat yang sama dalam melakukan apa pun termasuk kesenian,” kata Mya tegas. Dalam waktu dekat ini, Mya berharap dapat kolaborasi dengan seniman seni pertunjukan dan membuat karya seni tari dan tabuh kontemporer. Itu keinginan yang bagus.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Repertoar “Kelangensih” Karya Desak Suarti Laksmi: Kombinasi antara Bali, India, dan Barat
Membicarakan Kembali Identitas Musikal Dangin Njung dan Dauh Njung di Bali Utara
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan
Tags: Festival Komponis Perempuan Wrdhi CwaramSanggar Bumi BajraSanggar Maha Bajra Sandhi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Danau Tamblingan, Sumber Air, Objek Wisata, dan Hal-hal yang Dilakukan Mahasiswa

Next Post

Logika Kacau Kriteria Lomba Gong Kebyar Wanita di Jembrana

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Logika Kacau Kriteria Lomba Gong Kebyar Wanita di Jembrana

Logika Kacau Kriteria Lomba Gong Kebyar Wanita di Jembrana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co