3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Repertoar “Kelangensih” Karya Desak Suarti Laksmi: Kombinasi antara Bali, India, dan Barat

Jaswanto by Jaswanto
June 10, 2024
in Khas
Repertoar “Kelangensih” Karya Desak Suarti Laksmi: Kombinasi antara Bali, India, dan Barat

Pementasan "Kelangensih" di Festival Komponis Wrdhi Cwaram | Foto: Amri

SEBAGAI seorang yang sering menonton film dan mendengar lagu India, pada saat repertoar “Kelangensih” karya Desak Suarti Laksmi—salah satu komposer perempuan senior di Bali—dimainkan di atas panggung Festival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaram di Sasana Budaya, Singaraja, saya mendengarkannya dengan khidmat.

Ornamentasi musikal “Kelangensih”, menurut awam saya, secara unison divariasikan dengan permainan vokal/instrumental solo, saling sahut menyahut, dan divariasikan dengan teknik olah vokal yang berbeda dalam frasa dan kalimat lagu yang saling bergelut dalam kesatuan harmoni.

Jika dilihat dari etimologi, kelangensih berasal dari dua kata, yakni kelangen (bahasa Bali) yang berarti larut-terbuai dalam suasana keindahan hati, dan asih-kasih yang memiliki nuansa ikatan kerinduan atau cinta.

“Kelangensih” diawali dengan tembang  kidung Bali yang magis. Desak Suarti—yang juga dosen ISI Denpasar itu—melantunkan kidung Wilet Mayura—kidung yang bertutur tentang cinta kasih yang mempunyai melodi dan olahan nada yang unik—dengan teknik gregel, luk, dan cengkok yang khas.

“Kidung ini berbeda dengan jenis kidung-kidung lainnya,” ucap Desak menjelaskan seusai pementasan, Sabtu (1/6/2024) malam.

Tak berselang lama, seusai Desak mendendangkan kidung tersebut, Jyothi Devi Krishnanandayani—salah satu perempuan muda yang berperan dalam repertoar “Kelangensih”—melantunkan sebuah lagu India yang merdu sambil memainkan harmonium di pangkuannya.

Saat melihat dan mendengar Jyothi  Devi melanggamkam lagu dengan teknik vokal India (alap) sekaligus memainkan alat musik gamit itu, saya teringat satu lagu berjudul “Tujhe Yaad Na Meri Aayee” dalam film Kahar Johar—yang terkenal (cengeng)—Kuch Kuch Hota Hai (1998).

(Lagu tersebut mengiringi Anjali Sharma (Kajol) yang sedang patah hati saat mendapati bahwa Rahul Khanna (Shah Rukh Khan), orang yang Anjali cintai, lebih memilih Tina Malhotra yang diperankan Rani Mukerji.)

Sama seperti Jyothi Devi, saat menyanyikan lagu Tujhe Yaad Na Meri, Alka Yagnik dan Manpreet Akhtar juga diiringi dengan suara harmonium—walaupun penguasaan alap Devi masih jauh jika dibandingkan dengan kedua penyanyi India tersebut.

Sekadar menyebut satu contoh, dalam vokal India, Lata Mangeshkar—salah satu penyanyi playback paling terkenal di India—menampilkan pendekatan alap yang unik dan sangat ekspresif saat membawakan lagu klasiknya.

Alap Mangeshkar dicirikan oleh kedalaman emosi dan keindahan lirisnya. Dia memiliki kemampuan luar biasa untuk menyampaikan berbagai macam emosi melalui vokalisasinya—dan itu membuat penampilan alap-nya sangat menyentuh dan menggugah.

Coba dengarkan lagu “Humko Humise Chura Lo” dan “Aankhein Khuli” dalam film Mohabbatein (2000), atau lagu-lagu dalam film Veer-Zaara (2004), atau lagu “Kabhi Khushi Kabhie Gham”, Anda akan merasakan berbagai emosi yang hidup dalam setiap nada dan suara yang keluar dari mulut Lata Mangeshkar.  

Atau jika Anda alergi mendengarkan lagu India, Anda bisa mendengar alap Mageshkar dalam lagu “Sekuntum Mawar Merah”, “Orang Asing”, “Datang Untuk Pergi”, “Di Tepi Pantai”, “Wahai Pesona”, dan “Musim Cinta” dalam Album Khusus Soneta Volume 1-Lata Mangeshkar Ratu Dangdut Dunia yang berkolaborasi dengan sang Raja Dangdut, Rhoma Irama.

Namun, meski tak semerdu Alka dan Manpreet saat menyanyikan lagu sedih tersebut, malam itu, Devi cukup baik saat bernyanyi dengan teknik alap India—teknik vokal India dengan eksposisi improvisasi raga yang memukau dan meditatif.

Benar. “Kelangensih” merupakan sebuah garapan lintas budaya (kombinasi) yang bermula dari keinginan Desak Suarti untuk mengangkat teknik olah vokal Bali dan menggabungkannya dengan teknik olah vokal India—Desak menyebutnya karya musik inovatif.

Pola “Kelangensih” digarap dari karakteristik olah vokal Bali—sebuah kidung Wilet Mayura—dipadu dengan teknik olah vokal Hindustani “alap” dan diramu dengan musik chamber yang didominasi oleh instrumen alat gesek, tiup, dan perkusi.

Karya musik ini, menurut Desak, bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal berupa kidung keagamaan dan mengangkatnya ke jenjang yang lebih tinggi dengan memadukan unsur-unsur musik yang berbeda dengan tradisi konvensional.

“Dengan karya inovasi ini, semoba bermanfaat membuka wawasan para seniman untuk selalu mencoba hal yang baru dan tidak terbelenggu dengan pola-pola tradisi sesuai dengan kebiasaannya,” ujarnya.

Di Bali, vokal pembuka dalam seni suara, kata Desak lagi, belum memiliki sebutan atau nama sekalipun orang Bali biasa menyanyikannya. Padahal, dalam seni karawitan-instrumental Bali, pembukaan dinamakan dengan “pangrangrang”—pada umumnya lebih banyak dilgunakan oleh instrumen seperti gender rambat, trompong, atau permainan lagu dalam suling. Sedangkan di India, bentuk vokal pembuka itu disebut “alap”.

Tak hanya memasukkan teknik vokal dan alat musik India (harmonium dan tabla), Desak juga memakai alat musik Barat seperti viola, gitar, flute, dan keyboard. Jadi, repertoar ini semacam “tempelan-tempelan” antara alap dan musik India, tembang Bali, dan alat musik Barat yang disesuaikan dengan kebutuhan melodi, irama, ritme, dan dinamika lagu dengan pemakaian sukat (ukuran) dan tangga nada yang diinginkan.

Medium ungkap dari jenis instrumen tersebut memiliki fleksibilitas adaptif dan mampu membangun suasana hati yang tentram, penuh cinta kasih, sebagaimana tema sentral dari repertoar ini.

Sehingga, secara chorus dengan berbagai varian ornamentasi dan aransemenya, didukung dengan pemilihan jenis musik chamber sebagai medium garap instrumentalis pengiringnya, penyanyi seolah membawa pendengar ke alam tenang yang belum terjamah.

Di India, khususnya bagian utara, teknik vokal India(alap)—dalam hal ini lagu-lagu India tradisional—biasanya diiringi dengan alat musik seperti harmonium, tanpura, sitar, tabla, dan lainnya. Vokal atau musik klasik Hindustan adalah harta karun berupa teknik yang rumit. Inti dari tradisi musik India, menurut sebuah artikel di Serenade the Music of India, terletak pada alap, eksposisi improvisasi raga yang memukau dan meditatif.

Alap berfungsi sebagai pengenalan penting pada raga, mengatur suasana hati, dan menciptakan hubungan mendalam antara musisi, penonton, dan dewa (the divine). Selama berabad-abad, musisi klasik Hindustan yang legendaris telah mengembangkan gaya dan teknik alap yang berbeda, masing-masing ditandai dengan pendekatan unik dalam menyampaikan esensi raga dan melibatkan pendengar dalam perjalanan spiritual yang mendalam.

“Teknik olah vokal Hindustani dalam repertoar ini fokus pada teknik olah vokal gamaka, andolan, kana swar, murki, meend dan alap,” terang Desak.

Proses penciptaan “Kelangensih”, menurut Desak, diawali dengan meneliti berbagai jenis genre kidung dan hasil penelitiannya didokumentasikan menjadi sebuah buku berjudul “Imba Kidung Yadnya (Dharmagita)”. Sumber-sumber materi yang didapat lalu dituangkan ke dalam bentuk ide, gagasan, dan konsep garapan sesuai dengan kaidah-kaidah dalam penciptaan seni musik.

Selanjutnya dilakukan “ekplorasi” untuk mendapat gambaran dan kemungkinan-kemungkinan kesesuian frasa lagu yang dijajarkan pada komposisi seperti pada bagan komposisi yang telah dibahas di atas.

“Tahap berikutnya improvisasi. Sebuah tahapan berproses dengan mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan frasa-frasa kalimat lagu, termasuk ornamentasinya. Ini membutuhkan proses panjang sebagai bagian inti sebuah kreativitas penciptaan,” ujar Desak.

Proses improvisasi, lanjut Desak, berjalan beriringan dengan para pelaku/penyaji, baik vokalis maupun para musisi instrumentalnya. Komposisi secara menyeluruh, ornamentasi detail, membangun dinamika, dan menentukan format akhir adalah merupakan bagian mengalir dari transisi akhir improvisasi menuju pembentukan (forming).

Apa yang dilakukan Desak dalam “Kelangensih” memang hanya sekadar menempel unsur-unsur Bali, India, dan Barat. Namun, terlepas dari semua itu, karya musik ini tetap bisa diapresiasi—karena modal materi tradisi yang dikembangkan secara kreatif dan inovatif, sekali lagi, bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal berupa kidung keagamaan dan mengangkatnya ke jenjang yang lebih dari sekadar warisan masa silam.[T]

Membicarakan Kembali Identitas Musikal Dangin Njung dan Dauh Njung di Bali Utara
Gong Mebarung Banjar Paketan dan Desa Umejero: Karya Rekonstruksi dan Reinterpretasi
Bersama Swasthi Bandem dan Luh Menek, Membincangkan Peran Perempuan dalam Seni Pertunjukan
Tags: baliBaratFestival Komponis Perempuan Wrdhi Cwaramindiamusikrepertoar Kelangensih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Robbyan Abel Ramdhon | Menunggu Maria

Next Post

Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT

Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co