2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

Jaswanto by Jaswanto
June 1, 2024
in Khas
“Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

Ketiga sarkofagus karya Ulin Ni'am Yusron | Foto: Rusdy

ULIN Ni’am Yusron membuat tiga sarkofagus berelief kehidupan manusia Gilimanuk di masa prasejarah. Ketiga benda prasejarah yang berfungsi sebagai kuburan, peti mayat, atau wadah kubur itu diletakkan, ditata, di kawasan Museum Prasejarah Manusia Gilimanuk, Jembrana, Bali.

Angin pantai Selat Bali berkesiur. Suara-suara feri yang berlabuh menggema di langit Gilimanuk. Suara itu berat seperti keluar dari mulut makhkuk mitologi yang asing. Obor-obor minyak tanah yang ditancap membentuk pagar, apinya meliuk, mengecil pada batas nyala. Orang-orang yang datang malam itu duduk di tanah beralas tikar pandan yang khas. Mereka saling berbincang, menunggu acara dimulai.

Pada saat tarhim Isya mendaulat udara Gilimanuk, Ulin, si empunya acara, berdiri dan memberi sambutan. Sebagaimana acara seremonial pada umumnya, dengan bahasa Indonesia yang bernada Jawa, Komisaris ITDC itu memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan, khususnya kepada rektor ISI, para promotor, dewan penguji, dan pejabat di lingkungan Pemerintah Jembrana yang berkesempatan hadir.

“Ini ujian tahap kelima saya untuk mendapat gelar doktor, itu pun kalau malam ini lulus,” ujar Ulin yang disambut gelak-tawa hadirin. Benar. Malam itu Ulin memang sedang melakukan Ujian Tertutup Program Studi Seni-Program Doktor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar di Museum Prasejarah Manusia Gilimanuk, Rabu (29/5/2024) malam.

Seperti yang telah disampaikan di paragraf pertama, Ulin membuat tiga sarkofagus dengan relief kehidupan di dinding-dindingnya. Karya seni (disertasi) yang bertajuk “Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” ini bertumpu pada teknik kolaborasi dengan pekerja animasi dalam menerjemahkan interpretasi para pakar arkeologi untuk dapat menghasilkan relief bermutu. Ulin menyebutnya, arkeoart.

Ulin Ni’am Yusron saat menjelaskan karyanya kepada para tamu undangan | Foto: Rusdy

Menurut Ulin, disertasi ini dibuat dengan menerapkan metode metarsa (metode terpadu arkeologi dan seni) untuk mengintegrasikan disiplin arkeologi dan seni melalui tahapan empati, definisi, ideasi, prototipe, dan pengujian.

Pendekatan ini mengombinasikan wawasan sejarah, arkeologi, seni, dan desain, untuk menciptakan relief yang tidak hanya menambah kekayaan informasi museum, tetapi juga mengomunikasikan pentingnya leluhur dan warisan budaya kepada masyarakat Bali.

“Ini juga sebuah usaha mencari kawitan dari manusia Gilimanuk,” kata Ulin.

Berdasar pada latar belakang penciptaan yang termuat dalam katalog ujian tertutup yang dibagikan Ulin kepada para tamu yang ia undang, tugas karya seni yang menggambarkan kehidupan manusia Gilimanuk ini mencoba menjadi medium edukatif yang efektif—menjadi jembatan masa lalu dan masa kini serta memperluas pemahaman tentang bagaimana integrasi lintas disiplin dapat memperkaya narasi budaya.

“Karya ini, sekali lagi, mencoba membangun pola relasi yang semakin kuat antara lintas disiplin ilmu. Karya cipta memang harus mewakili atau mencerminkan kehendak zaman dan masyarakat. Dan pendidikan adalah hulu dari cipta karsa masyarakat,” terang Prof. Dr. I Wayan (Kun) Adnyana, Rektor ISI Denpasar, saat memberi sambutan.

Dalam kata lain, “Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” ini lahir dari proses kolaborasi antara banyak pihak. Dengan pola pendekatan yaang terstruktur dan koboratif—yang disertai dengan kesiapan untuk adaptasi dan inovasi—seperti ini, menurut Ulin, adalah esensi dalam menciptakan karya seni yang menggabungkan keindahan, kedalaman ilmiah, dan relevansi kultural dalam satu mangkuk bernama kesenian.

“Ini dapat memantik atau memancing karya-karya seniman selanjutnya,” ujar Ulin. Benar. Karya yang ia hadirkan memang berpeluang untuk membuka jalan bagi dialog yang berkelanjutan antara masa lalu dan masa kini, serta menginspirasi generasi mendatang untuk menjelajahi dan memelihara warisan budaya dengan cara yang baru dan kreatif. “Museum perlu suasana baru,” sambung seniman-akademisi berambut gondrong itu.    

Tafsir Kehidupan Prasejarah Manusia Gilimanuk

Sebagaimana telah banyak dituliskan para peneliti prasejarah, bahwa manusia Gilimanuk memiliki ciri khas percampuran migran ras Mongoloid dan penduduk asli ras Australomelanesid. Manusia Gilimanuk, sampai sejauh ini, dianggap sebagai kelompok manusia prasejarah yang hidup di awal Masehi.

Pada tahun 1960-1963, penelitian kepurbakalaan Bali yang dilakukan oleh R.P Soejono mengindikasikan bahwa sebelum kebudayaan Hindu berkembang di Bali, telah berkembang suatu kebudayaan prasejarah yang meliputi: paleolitik, opi-paleolitik, neolitik, perhubungan kebudayaan megalitik, dan logam awal.

Kita tahu, mengacu pada pendapat arkeolog, termasuk R.P Soejono—orang yang menemukan situs prasejarah manusia Gilimanuk pada 1962 itu—tentu saja, sisa-sisa peninggalan budaya dari masa prasejarah dikelompokkan dalam beberapa masa, yaitu masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa perundagian. Pada masa bercocok tanam atau masa neolitik ini muncul tradisi budaya tersendiri yang dikenal dengan kebudayaan megalitik.

Relief manusia memikul binatang buruan di dinding sarkofagus 1 | Foto: Rusdy

Dan dalam konteks karya seni yang bertajuk “Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” ini, Ulin mencoba menafsir—kalau bukan mengimajinasikan atau membayangkan—kehidupan prasejarah manusia Gilimanuk pada abad yang jauh dan menuangkannya ke dalam relief-relief yang dibubuhkan di dinding-dinding sarkofagus ciptaannya.

Manusia Gilimanuk pada masa prasejarah, dalam bayangan Ulin, adalah mereka yang memikul binatang buruan, memasak-meramu dengan gerabah, menaiki perahu, dan menaruh mayat di dalam batu-batu sarkofagus. Tak ada yang salah dalam tafsir selama itu memiliki dasar yang kuat. Dan tafsir, bisa saja salah.

Saat melihat relief yang terdapat di dinding sarkofagus pertama—yang menggambarkan kehidupan sehari-hari manusia Gilimanuk melalui adegan pemukiman, kegiatan memasak, dan perdagangan—kita dapat melihat dua manusia (prasejarah) sedang memikul binatang buruan. Kalau tidak salah, relief seperti ini juga ada pada dinding Candi Borobudur. Bedanya, relief di Borobudur menggambarkan orang-orang yang memikul ikan, bukan hewan berkaki empat.

Relief memikul hewan buruan ini juga kerap digunakan para sineas animasi dalam film-film mereka. Banyak adegan kartun yang menggunakan laku berburu seperti itu. Lantas, apakah memang begitu cara manusia Gilimanuk zaman prasejarah membawa binatang buruannya? Tak ada yang dapat memastikan. Tetapi yang jelas, pada sarkofagus (satu) ciptaan Ulin, mengilustrasikan interaksi sosial dan ekonomi dalam komunitas, serta hubungan mereka (manusia prasejarah) dengan lingkungan alam sekitar.

Relief manusia mengendarai perahu di dinding sarkofagus 2 | Foto: Rusdy

Pada sarkofagus dua, yang terletak di tengah-tengah antara sarkofagus satu dan tiga, terdapat relief orang-orang mengendarai perahu. Ini menggambarkan kegiatan orang-orang mengumpulkan makanan dengan cara bertani, berkebun, dan melaut—sebuah citra kehidupan ekonomi manusia Gilimanuk.

Mengenai masa bercocok tanam, kepercayaan begitu kental dengan sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati, terumata kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari yang telah mati terhadap kesejateraan dan kesuburan tanaman. Pada masa ini masyarakat memiliki kepercayaan bahwa roh manusia tidak lenyap pada saat meninggal dan masih mempengaruhi kehidupan manusia.

Dalam kepercayaan pada masa bercocok tanam, upacara yang paling menonjol adalah upacara pada waktu penguburan. Mengenai hal ini, situs Gilimanuk adalah situs yang lengkap dan luas di Pulau Bali. Pola penguburan bermacam-macam, dengan bekal kubur yang bermacam-macam pula, serta temuan-temuan lain yang bervariasi.

Menurut Soejono dalam disertasi yang berjudul “Sistem-Sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali” (1977), di situs Gilimanuk ada beberapa pola penguburan, yaitu kuburan tanpa wadah, baik sekunder maupun primer; kubur dengan tempayan; dan sarkofagus.

Relief manusia berkumpul di sekitar sarkofagus di dinding sarkofagus 3 | Foto: Rusdy

Dan inilah relief yang tertuang dalam sarkofagus tiga ciptaan Ulin—yang menggambarkan sistem penguburan manusia Gilimanuk dengan menampilkan relief sekelompok orang yang berkumpul di sekitar sarkofagus yang berisi jenazah dan bekal kubur yang digambarkan secara detail.

Tafsir, sebagaimana dalam ilmu agama, sangat penting dilakukan. Namun, menafsir juga tidak semudah seperti yang kita bayangkan. Tafsir memutuhkan pengetahuan sejarah, antropologi, metode, logika, untuk mencapai hasil yang, paling tidak, mendekati kebenaran. Tafsir yang tak mengindahkan syarat-syarat tafsir, alias ngawur, alih-alih mencerahkan justru malah menyesatkan—sebagaimana yang terjadi dalam kasus beragama.  

Tafsir kehidupan manusia Gilimanuk dalam “Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” ini, jika dilihat dari kombinasi pendekatan yang digunakan, barangkali memang bukan tafsir yang ngawur. Tafsir ini dilakukan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan berdasar pada kajian sejarah, antropologi, dan kesenian.

Dengan begitu, relief-relief yang digambar di dinding ketiga sarkofagus tersebut, dapat menjadi pemantik visual yang menumbuhkan imajinasi kita masing-masing dalam membayangkan bagaimana kehidupan manusia Gilimanuk pada masa prasejarah.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

“Me Drawing” Art Exhibition di Purga Gallery Café Ubud untuk Hari Menggambar Nasional
Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida
Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar
Tags: disertasiISI Denpasarmanusia GilimanukMuseum Prasejarah Manusia GilimanuksarkofagusUlin Ni'am Yusron
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“All Eyes on Rafah” – Dilema antara Sensasi dan Fakta

Next Post

Puisi-puisi Moels | Ini Mereka Sunyi Timponan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Moels |  Ini Mereka Sunyi Timponan

Puisi-puisi Moels | Ini Mereka Sunyi Timponan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co