2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“All Eyes on Rafah” – Dilema antara Sensasi dan Fakta

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
June 1, 2024
in Opini
“All Eyes on Rafah” – Dilema antara Sensasi dan Fakta

Kredit Foto: cnbcindonesia.com

Menyambung tulisan saya terdahulu tentang Paradoks di Timur Tengah, kali ini saya tergerak untuk berkomentar tentang gerakan viral beberapa hari belakangan, siapapun yang membaca tulisan ini pasti familiar dan bahkan turut pula meramaikannya: All Eyes on Rafah.

Gerakan ini adalah reaksi keras masyarakat dunia terhadap serangan sadis nan mematikan Israel ke Rafah, tempat perlindungan sekaligus kota terakhir di Jalur Gaza, terutama pada Minggu (26/5) dan Selasa (28/5).

Setidaknya 71 orang tewas termasuk wanita dan anak-anak serta 249 lainnya luka-luka (detik.com). Tentang bagaimana data dan fakta mengenai tragedi tersebut, silahkan kawan-kawan simak laporan dari berbagai kanal berita terpercaya, niscaya lengkap semua wacana dan analisisnya.

Disisi lain, ada satu persoalan yang menurut saya cukup menarik; Gambar yang menyertai seruan All Eyes on Rafah di media sosial.

Ini bukan gambar asli melainkan rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan pemandangan udara dari sebuah kamp yang ditata dalam barisan tenda, dengan tulisan “All eyes on Rafah” di tengahnya. Template gambar AI tersebut dibuat oleh pengguna Instagram dengan akun @shahv4012.

 Pengguna ini menggunakan fitur Instagram “Add Yours” untuk memungkinkan pengguna lain membagikan gambar tersebut dengan lebih mudah. Dalam tiga hari terakhir, gambar diatas telah dibagikan lebih dari 46 juta kali dan mendominasi wacana media sosial mengenai agresi Israel di Gaza (cnbcindonesia.com).  Bagaimana sebetulnya etika gerakan aktivis di dunia digital?

Perdebatan

For your reference, gerakan ini terinspirasi dari pernyataan “all eyes on Rafah” oleh Rick Peeperkom, Direktur Kantor Wilayah Pendudukan Palestina di WHO, yang secara harfiah bermakna “Semua mata tertuju pada Rafah”. Dia mengajak masyarakat global untuk menggalakkan solidaritas dan kepedulian terhadap penderitaan warga Rafah akibat serangan Israel dan langsung mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan di Media Sosial, termasuk Indonesia, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Figur publik terkenal, baik selebritis maupun olahragawan internasional seperti Bella Hadid, Celeste Barber, Nicola Coughlan, dan Ousmane Dembele ikut berpartisipasi. Hanya saja, kampanye tersebut mendapat sorotan terbaru yang menyinggung dilema aktivisme di era media sosial terutama berhubungan dengan kesengajaan menciptakan sensasi untuk menarik perhatian publik versus menjaga transparansi dan validitas informasi.

Perlu diingat, saya tidak sedang meremehkan gerakan masyarakat sipil global ini, melainkan turut bersimpati. Meski demikian, menjunjung validitas informasi harus tetap menjadi pilar penting dalam prinsip dasar aktivisme oleh siapapun. Jangan sampai motif mulia terdegradasi oleh taktik problematik.

Lanskap Media Sosial dan Sifat Algoritma

Lanskap media sosial saat ini memang menghadapkan aktivis pada godaan untuk mengambil jalan sensasionalisme demi merebut perhatian publik. Algoritma platform digital cenderung mempromosikan konten yang provokatif dan mengundang engagement dibanding substansi. Studi dari Pew Research Center pada 2021, setelah menganalisis konten Youtube dan Facebook, menunjukkan bahwa konten emosional dan kontroversial memiliki peluang lebih besar untuk viral dibandingkan konten informatif yang netral.

Dalam konteks ini, aktivis sering kali dihadapkan pada dilema antara memproduksi konten yang dapat menjangkau audiens luas namun berisiko melibatkan disinformasi atau mempertahankan integritas informasi tetapi dengan jangkauan yang terbatas.

Dalam kasus “All Eyes on Rafah”, upaya menggalang empati global untuk korban konflik justru terganggu lantaran kredibilitas kampanye dipertanyakan. Energi dan diskusi publik lebih tersedot untuk memperdebatkan etika taktik penggunaan foto AI dibanding substansi isu kemanusiaan di Rafah.

Jalan menuju tipping point opini publik menjadi terhambat. Tanpa landasan kredibilitas, sensasi yang diciptakan hanya menjadi ledakan sesaat yang tak berkelanjutan untuk menggerakkan perubahan.

Meski demikian, saya cukup memaklumi alasan mengapa para pendukung kampanye lebih condong menggunakan foto AI. Itu adalah alternatif untuk merepresentasikan penderitaan warga secara visual. Ditambah persoalan repotnya mengakses zona konflik.

Visi Aktivisme di Era Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi AI dan visualisasi seperti Virtual Reality (VR) di masa mendatang membuka peluang tapi juga risiko baru bagi aktivisme. Di satu sisi, kemampuan mereproduksi realitas secara realistis dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan edukasi dan membangun empati terhadap isu-isu kemanusiaan.

Namun di sisi lain, jika tidak diimbangi kejujuran dan transparansi, teknologi tersebut berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan persepsi palsu yang justru kontraproduktif. Kredibilitas aktivisme bisa terkikis jika terlalu mengedepankan sensasi dengan manipulasi realitas.

Pada akhirnya, bagaimana aktivisme menavigasi lanskap media baru tidak cukup dengan mengeksploitasi sensasionalisme dan mengejar viralitas semata. Diperlukan strategi konten yang mengombinasikan sensasi untuk membuka jalan diikuti penyampaian substansi dengan transparansi dan validasi data. Aktivis perlu memastikan bahwa informasi yang disebarkan telah diverifikasi dan dipresentasikan dengan konteks yang tepat.

Hanya dengan prinsip integritas dan kredibilitas yang kokoh, aktivisme mampu melampaui kepanikan sesaat menuju membangun kesadaran mendalam untuk menggerakkan perubahan nyata. Kasus “All Eyes on Rafah” kiranya menjadi pelajaran berharga bahwa di tengah gempuran konten media sosial, publik semakin meningkatkan sensitivitas mereka terhadap disinformasi.

Itu artinya, meskipun sensasi dapat membuka mata dunia terhadap isu-isu penting, keberlanjutan dan dampak nyata dari gerakan tersebut sangat bergantung pada kepercayaan publik.

Oleh karena itu, masa depan aktivisme harus berlandaskan pada transparansi, validasi data, dan strategi komunikasi yang bertanggung jawab. Dengan begitu, aktivisme dapat terus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif di masyarakat. [T]

Paradoks di Tanah Suci: Ketika Keyakinan Dianiaya
Mutu Kuliah Mahal, Siapa Peduli?
Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global
Tags: media sosialTimur Tengah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Next Post

“Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
“Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

"Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk" karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co