24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“All Eyes on Rafah” – Dilema antara Sensasi dan Fakta

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
June 1, 2024
in Opini
“All Eyes on Rafah” – Dilema antara Sensasi dan Fakta

Kredit Foto: cnbcindonesia.com

Menyambung tulisan saya terdahulu tentang Paradoks di Timur Tengah, kali ini saya tergerak untuk berkomentar tentang gerakan viral beberapa hari belakangan, siapapun yang membaca tulisan ini pasti familiar dan bahkan turut pula meramaikannya: All Eyes on Rafah.

Gerakan ini adalah reaksi keras masyarakat dunia terhadap serangan sadis nan mematikan Israel ke Rafah, tempat perlindungan sekaligus kota terakhir di Jalur Gaza, terutama pada Minggu (26/5) dan Selasa (28/5).

Setidaknya 71 orang tewas termasuk wanita dan anak-anak serta 249 lainnya luka-luka (detik.com). Tentang bagaimana data dan fakta mengenai tragedi tersebut, silahkan kawan-kawan simak laporan dari berbagai kanal berita terpercaya, niscaya lengkap semua wacana dan analisisnya.

Disisi lain, ada satu persoalan yang menurut saya cukup menarik; Gambar yang menyertai seruan All Eyes on Rafah di media sosial.

Ini bukan gambar asli melainkan rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan pemandangan udara dari sebuah kamp yang ditata dalam barisan tenda, dengan tulisan “All eyes on Rafah” di tengahnya. Template gambar AI tersebut dibuat oleh pengguna Instagram dengan akun @shahv4012.

 Pengguna ini menggunakan fitur Instagram “Add Yours” untuk memungkinkan pengguna lain membagikan gambar tersebut dengan lebih mudah. Dalam tiga hari terakhir, gambar diatas telah dibagikan lebih dari 46 juta kali dan mendominasi wacana media sosial mengenai agresi Israel di Gaza (cnbcindonesia.com).  Bagaimana sebetulnya etika gerakan aktivis di dunia digital?

Perdebatan

For your reference, gerakan ini terinspirasi dari pernyataan “all eyes on Rafah” oleh Rick Peeperkom, Direktur Kantor Wilayah Pendudukan Palestina di WHO, yang secara harfiah bermakna “Semua mata tertuju pada Rafah”. Dia mengajak masyarakat global untuk menggalakkan solidaritas dan kepedulian terhadap penderitaan warga Rafah akibat serangan Israel dan langsung mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan di Media Sosial, termasuk Indonesia, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Figur publik terkenal, baik selebritis maupun olahragawan internasional seperti Bella Hadid, Celeste Barber, Nicola Coughlan, dan Ousmane Dembele ikut berpartisipasi. Hanya saja, kampanye tersebut mendapat sorotan terbaru yang menyinggung dilema aktivisme di era media sosial terutama berhubungan dengan kesengajaan menciptakan sensasi untuk menarik perhatian publik versus menjaga transparansi dan validitas informasi.

Perlu diingat, saya tidak sedang meremehkan gerakan masyarakat sipil global ini, melainkan turut bersimpati. Meski demikian, menjunjung validitas informasi harus tetap menjadi pilar penting dalam prinsip dasar aktivisme oleh siapapun. Jangan sampai motif mulia terdegradasi oleh taktik problematik.

Lanskap Media Sosial dan Sifat Algoritma

Lanskap media sosial saat ini memang menghadapkan aktivis pada godaan untuk mengambil jalan sensasionalisme demi merebut perhatian publik. Algoritma platform digital cenderung mempromosikan konten yang provokatif dan mengundang engagement dibanding substansi. Studi dari Pew Research Center pada 2021, setelah menganalisis konten Youtube dan Facebook, menunjukkan bahwa konten emosional dan kontroversial memiliki peluang lebih besar untuk viral dibandingkan konten informatif yang netral.

Dalam konteks ini, aktivis sering kali dihadapkan pada dilema antara memproduksi konten yang dapat menjangkau audiens luas namun berisiko melibatkan disinformasi atau mempertahankan integritas informasi tetapi dengan jangkauan yang terbatas.

Dalam kasus “All Eyes on Rafah”, upaya menggalang empati global untuk korban konflik justru terganggu lantaran kredibilitas kampanye dipertanyakan. Energi dan diskusi publik lebih tersedot untuk memperdebatkan etika taktik penggunaan foto AI dibanding substansi isu kemanusiaan di Rafah.

Jalan menuju tipping point opini publik menjadi terhambat. Tanpa landasan kredibilitas, sensasi yang diciptakan hanya menjadi ledakan sesaat yang tak berkelanjutan untuk menggerakkan perubahan.

Meski demikian, saya cukup memaklumi alasan mengapa para pendukung kampanye lebih condong menggunakan foto AI. Itu adalah alternatif untuk merepresentasikan penderitaan warga secara visual. Ditambah persoalan repotnya mengakses zona konflik.

Visi Aktivisme di Era Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi AI dan visualisasi seperti Virtual Reality (VR) di masa mendatang membuka peluang tapi juga risiko baru bagi aktivisme. Di satu sisi, kemampuan mereproduksi realitas secara realistis dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan edukasi dan membangun empati terhadap isu-isu kemanusiaan.

Namun di sisi lain, jika tidak diimbangi kejujuran dan transparansi, teknologi tersebut berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan persepsi palsu yang justru kontraproduktif. Kredibilitas aktivisme bisa terkikis jika terlalu mengedepankan sensasi dengan manipulasi realitas.

Pada akhirnya, bagaimana aktivisme menavigasi lanskap media baru tidak cukup dengan mengeksploitasi sensasionalisme dan mengejar viralitas semata. Diperlukan strategi konten yang mengombinasikan sensasi untuk membuka jalan diikuti penyampaian substansi dengan transparansi dan validasi data. Aktivis perlu memastikan bahwa informasi yang disebarkan telah diverifikasi dan dipresentasikan dengan konteks yang tepat.

Hanya dengan prinsip integritas dan kredibilitas yang kokoh, aktivisme mampu melampaui kepanikan sesaat menuju membangun kesadaran mendalam untuk menggerakkan perubahan nyata. Kasus “All Eyes on Rafah” kiranya menjadi pelajaran berharga bahwa di tengah gempuran konten media sosial, publik semakin meningkatkan sensitivitas mereka terhadap disinformasi.

Itu artinya, meskipun sensasi dapat membuka mata dunia terhadap isu-isu penting, keberlanjutan dan dampak nyata dari gerakan tersebut sangat bergantung pada kepercayaan publik.

Oleh karena itu, masa depan aktivisme harus berlandaskan pada transparansi, validasi data, dan strategi komunikasi yang bertanggung jawab. Dengan begitu, aktivisme dapat terus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif di masyarakat. [T]

Paradoks di Tanah Suci: Ketika Keyakinan Dianiaya
Mutu Kuliah Mahal, Siapa Peduli?
Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global
Tags: media sosialTimur Tengah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nilai Pancasila dan Karakter Bangsa

Next Post

“Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
“Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk” karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

"Cipta Relief Raga Jiwani Manusia Gilimanuk" karya Ulin Yusron: Tafsir Kehidupan Abad Prasejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co