1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dimas, Calon Jemaah Haji Termuda dari Bali:  Ia Gantikan Ayahnya yang Meninggal Sebelum Jadwal Keberangkatan

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
May 25, 2024
in Khas
Dimas, Calon Jemaah Haji Termuda dari Bali:  Ia Gantikan Ayahnya yang Meninggal Sebelum Jadwal Keberangkatan

Dimas (kanan) dan ibunya. Foto : Yudi Setiawan

DI sebelah Utara Masjid At-Taqwa, Kelurahan Kampung Bugis, Buleleng, Bali, angin laut berembus dengan pelan. Di dalam gang kecil itu, tiga orang anak kecil sedang asik bermain engklek dengan riang gembira. Sedang, di dua rumah terakhir sebelum bibir pantai, tampak penghuni rumah sedang merapikan karpet-karpet yang baru saja ditinggalkan tamu-tamunya.

Rumah tersebut milik Zaenab Zainudin. Perempuan pensiunan guru sekolah dasar itu mengaku rumahnya akhir-akhir ini memang sering kedatangan tamu.

“Akhir-akhir ini banyak yang silaturahmi ke rumah, kadang saudara, kadang juga tetangga di kampung sini,” ujarnya memulai pembicaraan. Jum’at, 24 Mei, 2024.

Benar, kedatangan orang-orang itu lantaran Zaenab bersama anaknya akan menunaikan ibadah haji tahun ini. Yang menarik perhatian, anaknya itu menjadi calon jamaah haji termuda dari Bali. Anaknya itu bernama Dimas Adi Sudarmono, biasa disapa dengan nama Dimas.

Zaenab menjelaskan, keberangkatan Dimas, putranya itu, menjadi calon jemaah haji termuda dari Bali karena menggantikan mendiang suaminya yang telah meninggal dunia dua tahun lalu.

“Saya dan ayahnya Dimas sudah mendaftar haji sejak April tahun 2013, dan rencananya kuota keberangkatan kami itu di tahun 2025,” ujar perempuan berusia 61 tahun itu. “Karena ada penambahan jumlah kuota calon jamaah haji untuk tahun 2024, akhirnya jadwal keberangkatan haji dimajukan di tahun 2024 ini,” tambahnya

Ya, di Indonesia, untuk calon jemaah haji memang harus menunggu hingga bertahun-tahun untuk mendapatkan kuota keberangkatan ke tanah suci tersebut. Seperti Zaenab misalnya, harus menunggu sebelas tahun

Namun sayang, dengan rasa sesak yang tertahan, ia menceritakan bahwa suaminya meninggal dunia dua tahun lalu sebelum mendapatkan jadwal keberangkatan hajinya. “Karena ayahnya Dimas meninggal, jadinya Dimas yang menggantikan ayahnya untuk berangkat haji.

Dimas, pemuda kelahiran 26 Desember 2005 itu, ternyata tidak mengetahui jika kedua orang tuanya telah mendaftar haji sejak tahun 2013. Ia mengaku baru mengetahui kedua orang tuanya mendaftar haji pada Februari awal tahun 2024.

“Ya kaget awalnya, sama sekali tidak pernah diceritakan kalau orang tua sudah mendaftar haji,” ujarnya dengan malu-malu.

Dimas pada awalnya menolak ketika diminta untuk menggantikan ayahnya berangkat haji bersama ibunya. Alasannya, ia merasa malu untuk menyandang gelar haji pada  umurnya yang masih 18 tahun.

“Awalnya nolak. Karena malu. Masak masih muda sudah dipanggil haji,” ujar pemuda berbaju koko itu.

Namun, karena tidak ada pilihan lain, akhirnya ia mengiyakan tawaran tersebut. Meski pada awalnya ia menolak karena rasa malu, kini, ia merasa yakin dan bertekad untuk menjadi calon Jemaah haji termuda dari Bali.

“Setelah dipikir-pikir, akhirnya saya mengiyakan ajakan itu. Kasian Ibu sudah tua kalau tidak ada pendamping, toh ke tanah suci juga keinginan semua umat muslim, kan?” jelasnya.

Dimas tahu bahwa di Makkah, jamaah haji tidak hanya datang dari Indonesia saja. Dan sebagai anak laki-laki dengan fisik yang masih bugar, ketika nanti sudah berada di Makkah, Arab Saudi, ia akan sepenuh hati untuk mendampingi ibunya. “Takut Ibu nyasar sebenarnya, jadinya saya di sana selain beribadah, juga fokus mendampingi ibu,” terangnya.

Ketika ditanya mengenai persiapannya sebelum berangkat menunaikan ibadah haji, Dimas, sekali lagi, mengaku bahwa sebenarnya rasa malu tersebut belum benar-benar hilang. Ia masih memiliki rasa ketakutan jika harus menyandang gelar haji di usia muda.

“Saya kan suka pelihara ayam, takutnya nanti kalau sudah menjadi haji dan masih suka bermain ayam, orang-orang ngiranya saya mau adu ayam,” ujarnya sembari tertawa.

Ditambah lagi, ia mengaku banyak teman-temannya yang sudah memanggilnya haji. “Pak Haji, Pak Haji,” begitu katanya mengutip teman-temannya yang membercandainya.

Benar. Di Indonesia, gelar haji bukan semata-mata sebagai penanda bahwa orang tersebut sudah pernah menunaikan ibadah haji di Makkah saja. Melainkan, ada sebuah anggapan bahwa orang yang telah berhaji haruslah memiliki perilaku yang baik, dan dapat menjadi contoh yang baik pula di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga, hal itulah yang membuat Dimas merasa memiliki beban jika harus menyandang gelar haji di usia muda. Tetapi, ia mengaku, ketika sepulang dari tanah suci Makkah, akan berupaya menjadi pribadi yang lebih baik agar menjadi haji yang mabrur.

Meski ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji adalah cita-cita seluruh umat muslim, Dimas merasa bingung antara harus merasa senang atau merasa sedih. Mengingat bahwa yang seharusnya berangkat menunaikan ibadah haji adalah kedua orang tuanya.

Dari sorot matanya Dimas seperti menyimpan rasa sedih yang mendalam. Terlebih ketika dia berkata, “Seharusnya ayah yang berangkat, tapi ayah sekarang sudah tidak ada.”.

Kalimat itu terucap dengan suara yang bergetar barangkali karena perasaan yang begitu hebat dari dalam hatinya.

Sehingga, ia mengaku telah menyimpan doa dan harapan yang akan ia panjatkan ketika sedang berada di hadapan Ka’bah nantinya. Benar, umat muslim meyakini bahwa berdoa di hadapan kiblat dari seluruh umat muslim di penjuru dunia tersebut sangatlah mustajab. Atau dengan kata lain cepat terkabul.

“Saya nanti di sana mau berdoa memohon kesembuhan Ibu supaya bisa berjalan normal lagi,” katanya. Sesaat setelah memberi jeda, ia menambahkan “Karena orang tua tinggal ibu saja, saya berharap ibu supaya cepat pulih agar bisa bareng Dimas terus sampai Dimas sukses nanti,” tambahnya sembari megusap pelan kedua bola matanya.

Dimas sedang merapikan perlengkapan hajinya. Foto : Bayu

Selain mendoakan kesembuhan ibunya, Dimas mengaku juga mendapatkan banyak titipan doa dari teman-temannya. Ia mengaku, titipan doa teman-temannya itu bermacam-macam. Dari yang serius sampai yang tidak serius pula.

“Teman-teman saya juga titip doa. Ada yang minta didoakan supaya sukses, supaya sehat terus, ada juga sampai yang meminta didoakan agar cepat mendapatkan jodoh,” jelasnya.

Padahal, ia mengaku, untuk mendoakan teman agar cepat mendapatkan jodoh sangatlah berat baginya. “Sebelum mendoakan teman saya supaya cepat mendapat jodoh, tentu saja saya duluan yang berdoa supaya dipertemukan dengan jodoh saya, kan saya juga belum ada jodoh,” tambahnya sembari tertawa.

Selain mendoakan kesembuhan ibunya dan teman-temannya, Dimas juga berdoa agar keberangkatanya menunaikan ibadah haji berjalan lancar. Sebab, ia memiliki rasa kekhawatiran ketika nanti sedang berada di atas pesawat.

“Sebenarnya takut naik pesawat, apalagi ini pertama kalinya saya naik pesawat,” jelasnya.

Meski begitu, Dimas mencoba menguatkan rasa ketakutannya itu dengan keyakinan jika kelak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hal itu sudah menjadi takdirnya.

“Ya kalau terjadi gimana-gimana, matinya kan syahid,” terangnya.

Nemun, dengan cepat ibunya menambahkan,” Ya semoga tidaklah. Berangkat selamat, pulangpun selamat,” tambahnya.

Dimas dan Ibunya akan berangkat ke Makkah bersama 727 calon Jemaah haji lainnya dari Provinsi Bali. Dengan jumlah tersebut, Dimas tercatat sebagai calon jamaah haji termuda dari Bali dengan usia 18 tahun 4 bulan. [T]

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)
Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (2)
Obituari Ustadz Mar’i Aly Baslom | Ustadz yang Ramah dan Dicintai Warga Muslim Singaraja
Keindahan Lain di Nusa Penida: Toya Pakeh, Satu Desa Penduduknya Muslim
Menikmati Kehangatan Akulturasi Budaya di Desa Pegayaman Bersama Mahasiswa Norwegia
Tags: hajiibadah hajiMuslimmuslim balimuslim buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Puisi-puisi Angga Wijaya | Di Canggu, Sajak-Sajak ini Untukmu

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Angga Wijaya | Di Canggu, Sajak-Sajak ini Untukmu

Puisi-puisi Angga Wijaya | Di Canggu, Sajak-Sajak ini Untukmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co