13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akankah Mereka Mengemis Selamanya di Tepi Jalan Itu?

Ananta Kurnia by Ananta Kurnia
April 4, 2024
in Khas
Akankah Mereka Mengemis Selamanya di Tepi Jalan Itu?

Monyet di tepi jalan Taman Nasional Bali Barat | Foto: Ananta Kurnia

PADA tulisan sebelumnya saya mengulas tentang Pahlawan Sepanjang Jalan di tautan link https://tatkala.co/2024/03/25/cerita-dari-jalan-raya-sisi-hutan-bali-barat-hiburan-monyet-dan-pahlawan-jalanan/.  Kurang lebih isinya terkait pemandangan dan suasana yang menakjubkan ditawarkan oleh Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sepanjang jalan, namun banyak pengendara yang terlena untuk memberi pakan satwa liar sehingga mengakibatkan sampah kemasan berserakan sepanjang jalan yang menimbulkan keresahan..

Kali ini saya mengulas masalah selanjutnya yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Sebagai hewan primata yang cerdas namun tidak brilian, mereka memanfaatkan sisi humanis manusia, secara tidak sadar manusia akan memberi pakan mereka apabila monyet-monyet tersebut berada di pinggir jalan menyapa (dibaca mengemis) dari para pengendara.

Hal ini dilakukan setiap hari, setiap bulan dan bahkan sepanjang tahun. Dengan berbekal kecerdasan yang dangkal, para monyet memanfaatkan momen tersebut untuk bermalas-malasan mencari pakan di habitat aslinya. Karena mereka semua sudah terlatih dan terbiasa menyapa (dibaca mengemis) untuk mengais rejeki pakan dari iba manusia.

Setiap hari sudah dapat dipastikan banyak pengendara yang akan memberi makan mereka dengan hanya modal berkumpul dan kongkow-kongkow di pinggir jalan.

Apalagi makanan yang mereka dapatkan sejatinya cukup fantastis harganya dan sangat beragam menunya. Mulai dari yang paling lumrah yaitu buah-buahan sampai makanan mewah bagi mereka seperti ciki-ciki dan roti yang diproduksi oleh perusahaan terkenal. Bahkan hewan di kebun binatang pun kalah bersaing untuk urusan makan mewah dengan monyet-monyet itu.

Akibatnya para monyet menjadi malas mencari makanan pada habibatnya karena sudah tersedia di jalanan yang mengakibatkan aktivitas keseharian mereka menjadi monoton. Hanya mengemis meminta makanan sepanjang hari. Belum lagi resiko yang ditanggung para monyet liar ini sangat tinggi, yakni ditabrak lari oleh para pengendara yang melintas, minimal yang dialami adalah cedera patah tulang dan seringkali meninggal secara tragis di tengah jalan.

Jika demikian, siapa yang akan bertanggung jawab? Apakah pengendara, atau petugas Taman Nasional Bali Barat atau Pimpinan Kelompok Monyet yang tak becus mengarahkan massa anggotanya?

Kenyataannya, tak satu pun dari mereka dapat disalahkan, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan kinerja petugas Taman Nasional Bali Barat dengan cara mengabaikan monyet liar di sisi jalan, apapun yang terjadi.

Jika mereka tak diberi makan, selain tidak akan ada sampah, para monyet pun sadar dengan sendirinya dan akan comeback mencari makan ke habitat aslinya di dalam kawasan Taman Nasional. Resiko tabrak lari pun dapat dihindarkan sehingga tidak membuang nyawa monyet liar di Taman Nasional Bali Barat secara sia-sia.

Sebagai gambaran, pernahkah para pembaca memikirkan apabila para monyet yang mengemis ini tidak mendapatkan makanan yang dapat mencukupi kebutuhan hariannya? Kemanakah dia akan mencari? Apakah akan kembali ke habitatnya? Rasanya hanya sedikit yang kembali karena butuh waktu dan effort yang tidak isntan untuk mencari makan di alam liar.

Monyet di tepi jalan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) | Foto: Ananta Kurnia

Solusi terbaik dan tercerdas yang monyet lakukan adalah menjajah rumah-rumah, ruko-ruko dan toko-toko para penduduk sekitar. Selain waktu untuk mendapatkan makanan dengan cukup singkat, mata mereka pun terbiasa dengan tampilan makanan kemasan yang menggoda lidah. Dengan cara sat set sat set seperti ninja, banyak jajan maupun makanan lainnya yang berhasil dicuri oleh monyet akibat lengahnya pengawasan pemilik atau penjaga toko.

Hal ini dapat dibuktikan secara survei versi saya pribadi bahwa semua toko/ruko yang menjajakan makanan ringan di pinggir jalan di Kelurahan Gilimanuk, 99% di toko/ruko tersebut terdapat sebuah senjata ampuh untuk mengusir monyet. Senjata pamungkas itu adalah ketapel, suara pentalan karet yang keras dengan bunyi  “tepot” akan mengagetkan monyet yang sedang menyamar sebagai maling. Jika monyet sering merasakan seperti ini maka akan muncul trauma mendalam yang akan menakutkan para monyet untuk kembali beraksi.

Primata tersebut cukup cerdas, maka dari itu, menanggulanginya juga dengan cara yang cerdas dan bijaksana. Jangan memberi mereka makan, apalagi yang mewah, untuk membuat mereka jadi malas dan manja. Karena, lama-lama mereka juga akan malas mencari makan sendiri di habitatnya, sehingga mereka mengemis terus di pinggir jalan, atau kalau tak ada yang memberi makan, mereka akan mencuri ke rumah-rumah dan warung.

Jika monyet itu kembali terbiasa mencari makan di habitatnya, maka ia tak perlu lagi untuk bergerombol-gerombol di tepi jalan. Atau kalau pun mereka nongkrong di tepi jalan, mereka tak akan mengemis lagi, atau meminta-minta lagi. Dengan demikian, para pengendara yang ingin beristirahat di bahu jalan taman nasional pun dapat beristirahat dengan tenang tanpa gangguan pencurian atau perebutan makanan dari kawanan monyet.

Perjalanan menjadi lancar dengan lantunan nyanyian dari Burung Jalak Bali yang menghiasi telinga kita. Mari jaga keindahan alam kita dengan cara yang alami dan bijaksana.

Salam konservasi. [T]

Cerita dari Jalan Raya Sisi Hutan Bali Barat: Hiburan Monyet dan Pahlawan Jalanan
Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi
“Perselingkuhan” yang Indah dan Membanggakan di Pantai Karang Sewu Gilimanuk
Tags: faunaHutan Bali BaratkonservasiTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Struktural di Era Digital

Next Post

Ni Putu Anita Sofia Veronia, Menari Sejak Dalam Kandungan

Ananta Kurnia

Ananta Kurnia

Pengangguran. Lahir dan tinggal di Gilimanuk, Jembrana, Bali

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Ni Putu Anita Sofia Veronia, Menari Sejak Dalam Kandungan

Ni Putu Anita Sofia Veronia, Menari Sejak Dalam Kandungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co