13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi

Hana Retno Erdianti by Hana Retno Erdianti
February 6, 2022
in Khas
Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi

Gili, ibu lutung, yang sedang dirawat [Foto: Dok Hana Retno]

Ini kisah nyata dan pilu dari seekor lutung. Kisah yang hingga kini, ketika aku ingat lagi, selalu menerbitkan rasa sedih dan pilu di hati.

Kisah ini dimulai di suatu siang yang begitu terik, di penghujung tahun 2019.  Tiba-tiba terdengar dering gawai. Saat itu aku sudah hendak tidur siang. Mata sudah setengah pejam, dan otak sudah siap masuk ke dunia mimpi (mungkin mimpi ke Paris untuk melihat keindahan salju dan hiasan pohon Natal).

Dering gawai terus-menerus berbunyi menandakan sang penelepon sudah tidak sabar untuk bercerita. Aku bangun dari ranjang. Dengan suara yang masih serak karena sudah dua jam tidak minum air, akhirnya kuangkat gawai itu.

Ternyata si penelepon adalah teman yang sedang berjaga di kantor Taman Nasional Bali Barat (TNBB), tempatku bekerja sebagai dokter hewan. Kebetulan hari itu Sabtu, jadi aku bisa BBS alias bobok bobok siang di rumah.  

Cerita si teman mengalir dengan suara cepat dan terdengar agak gawat. Intinya ia berharap kehadiranku di kantor. Tanpa banyak tanya, aku segera melajukan sepeda motor, untuk ke kantor saat itu juga.

Sesampai di kantor aku melihat seekor lutung tergeletak dengan luka di bahu kanan. Luka sepertinya tertusuk sesuatu. Aku terhenyak. Dibantu teman-teman kubawa lutung itu ke tempat yang lebih nyaman.

Pada dasarnya lutung adalah hewan buas, tapi lutung yang terluka itu sungguh tampak lemah, bahkan untuk menyeringai saja dia tak mampu.

Ibu lutung saat ditemukan [Foto: Dok Hana Retno]

Apa yang terjadi? Apakah dia terluka parah? Apakah ada yang berusaha mencelakakainya? Pertanyaan itu terus berputar di benakku sewaktu melihat lutung itu.  Matanya yang menatap penuh kekosongan seperti memohon tapi entah apa yang dimohonkan.

Akhirnya kuperiksa fisik  lutung ini, ada luka di bahunya tapi tidak terlalu dalam. Segera kuobati lukanya, dan kucoba memberikan makanan dan minuman. Dia mau menelan tapi tidak mau memandangku.

Matanya terus saja lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan. Kemudian kumelihat ke arah dadanya, terkejutlah aku saat melihat payudaranya bengkak. Kuperikasa ulang kelaminnya. Yap, benar, ternyata dia betina dan sedang menyusui.

Karena hari sudah menjelang malam, dan akupun sedang meninggalkan dua anak di rumah, akhirnya aku pulang dengan meninggalkan ibu lutung itu di kantor.

Esok pagi aku kembali menemui ibu lutung dan keadaannya masih sama. Tergolek lemah tak berdaya.

Aku penasaran sekali, apa yang membuat dia begitu lemah? Padahal patah tulang tidak ada. Tidak ada juga keluar darah dari telinga sebagai tanda ada perdarahan di otak.

Saat aku mencoba untuk membuka mulutnya pun dia hanya diam dan pasrah, padahal seandainya taringnya menancap di tanganku, entah apa yang akan terjadi. Mungkin dia tahu aku bukan orang jahat, mungkin dia tahu bahwa aku hanya ingin menolongnya.

Awal Ditemukan

Lutung itu ditemukan di hutan Gilimanuk, Bali Barat. Seorang teman bercerita tentang ibu lutung itu. Teman itu kebetulan melihat dari jauh, ibu lutung ini awalnya menggendong anak bersama gerombolan lutung yang lain. Bulu anaknya masih berwarna jingga.

Lutung itu berteriak-teriak penuh ketakutan. Kelompok lutung yang lain juga sama, berteriak-teriak saling sahut-menyahut. Tak lama setelah itu, terdengar suara braaakkk. Itu suara yang sangat keras. Ternyata ada cabang pohon sawo patah. Ibu lutung itu terjatuh. Saat ditemukan, anak lutung yang tadinya berada dalam gendongan, hilang entah ke mana.

Sebenarnya belum diketahui secara jelas kenapa gerombolan lutung itu ketakutan dan menjerit-jerit, lalu berlarian, hingga terjadi kecelakaan jatuhnya ibu lutung itu dari pohon sawo yang patah, terluka, dan kehilangan anaknya. Kemungkinan yang paling mungkin, ada pemburu yang mengintervensi para lutung itu di dalam hutan.

Ibu lutung saat dirawat darurat [Foto: Dok Hana Retno]

Belakangan kerap ditemukaan adanya jual-beli anak lutung di pasar gelap. Anak lutung dicari orang karena bulunya yang bagus. Aku pernah rescue atau menyelamatkan anak lutung di sebuah toko pakan hewan yang kemungkinan anak lutung itu diambil di hutan.

Atas fenomena itulah, besar dugaan anak dari ibu lutung yang terluka itu diculik oleh pemburu untuk diperjual-belikan.

Dibantu Yayasan

Sudah dua hari ibu lutung itu tergolek.  Aku memutuskan untuk membawa ibu lutung ini ke suatu yayasan yang memang menangani satwa liar. Kebetulan manager yayasan itu temanku. Kuceritakan keadaan ibu lutung ini dan ia langsung menyarankan untuk dibawa ke yayasan agar lutung itu mendapat perawatan intensif.

Saat itu aku baru satu minggu kerja di TNBB.  Selain itu, aku baru saja mendapat kemalangan. Mertuaku meninggal, sedangkan aku harus segera ke TNBB karena SK penempatanku sudah kuterima. Suasana yang panik itu mengakibatkan banyak hal tertinggal di rumahku yang dulu,  termasuk  obat-obatan. Sehingga aku tidak bisa menangani lutung itu secara intensif.

Sampai di lokasi yayasan, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, kami ditemui temanku yang kebetulan sama profesinya denganku, sebagai dokter hewan. Beliau kemudian memeriksa si ibu lutung tapi hasilnya pun sama.

Secara fisik tak ada luka yang berarti. Tapi kenapa dia masih saja lemah?

Karena hari sudah menjelang pagi, aku kembali pulang ke rumahku di Gilimanuk dan kami berjanji akan selalu berkomikasi melalui gawai. 

Besoknya, temanku menelepon. Ia membawa ibu lutung itu ke klinik yang lebih lengkap peralatan medisnya. Tujuannya untuk me-rontgen dan ct- scan tubuh ibu lutung.

Ibu lutung saat sudah mau berdiri [Foto: Dok Hana Retno]

Dengan harap-harap cemas, aku terus melihat ke arah gawaiku menanti kabar baik. Akhirnya temanku menelepon dan hasilnya membuatku terkejut, si ibu lutung ini sehat, tak ada perdarahan otak, tak ada patah tulang, tak ada organ tubuhnya yang terganggu.

Kami pun sama-sama terdiam dengan gawai yang masih menempel di telinga, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya kami mengambil kesimpulan. Ibu lutung ini mengalami depresi setelah kehilangan anaknya. Tentu bukan kesimpulan yang tanpa alasan. Payudaranya bengkak, dan ibu lutung itu selalu diam, dengan tatapan mata kosong.

Dan, kami pun sama-sama menangis. Kami teringat anak-anak kami yang kami tinggal di rumah. Teringat bagaimana payudara kami yang penuh terisi ASI jika tidak disusukan ke bayi kami.

Apalagi, kami sempat aku video call, dan temanku itu memperlihatkan si ibu lutung yang payudaranya terlihat semakin bengkak. Temanku berinisiatif untuk mengompres payudaranya agar tidak bengkak dan sakit.

Hari berganti hari, dengan kesibukan pekerjaan dan rumah tangga, aku hanya tau kabar si ibu lutung melalui gawai saja. Terlihat dia sudah bisa makan sendiri, sudah mau berdiri tapi yang membuat mata ini meneteskan air mata adalah sorot matanya yang kosong.

Melalui video call aku berbicara dengannya, aku berjanji untuk segera mempertemukan dia dengan keluarganya di hutan Gilimanuk. Yang penting dia sehat dulu. Bahkan temanku berusaha mencarikan teman satu spesies untuknya agar dia tak sedih lagi.

Banyak harapan aku titipkan ke dia, bahkan aku sudah melakukan survey di tempat mana ibu lutung itu bisa tinggal apabila dia udah bisa kembali ke hutan.

Tapi dering gawai di sepertiga malam mengagetkanku. Tepat di hari ke-10 sejak dia kutemukan tergeletak di tanah, si ibu lutung pergi meninggalkan dunia ini. Pergi dengan sepi, pergi dengan wajah sedihnya, pergi dengan membawa harapan para perawatnya.  Harapan besar memang sempat muncul karena ibu lutung itu sebenarnya sudah mulai mau makan pucuk daun dan buah murbey setelah beberapa hari tak mau makan.

Ibu lutung saat tak mau makan [Foto: Dok Hana Retno]

Aku dan temanku hanya bisa menangis berdua, terisak-isak tanpa suara, teringat pandangan matanya yang kosong, teringat payudaranya yang bengkak. Sakit rasanya dada ini, entah ada apa ini, terasa sekali kehilangan ini, aku hanya mampu meremas selimutku takut membangunkan kedua anakku.

Temanku hanya bisa minta maaf karena tidak bisa membawa kembali ibu lutung untuk menemui keluarganya di hutan gilimanuk. Dan dengan tangis yang sama-sama tertahan kami sepakat menamainya Gili.

Gili, tenanglah disana, aku tidak tahu apakah anakmu selamat atau tidak. Jikalau anakmu tidak selamat karena tidak dapat air susumu, maka kuberdoa kepada Tuhan agar engkau dipertemukan dengan anakmu dan bisa menyusui sepuasnya.

Dan aku banyak memetik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa depresi pada ibu tidak hanya terjadi pada manusia tetapi juga bisa pada hewan.

Dengan cerita ini aku ingin membuka pikiran semua orang. Please, sayangi wanitamu, lindungi dia, jangan biarkan dia sendiri dan terdiam, lemahkan egomu, lembutkan hatimu.

Teruntuk diriku sendiri, jangan terlalu memaksakan untuk menjadi kuat, sesekali boleh menjadi lemah. Depresi sangat berbahaya. Yuks, sehatkan badan kita, sehatkan pikiran kita, selalu memohon perlindungan kepada Tuhan. [T]

Tags: faunaGilimanukhewanibulutungPerempuanTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja, Lontar Dibaca Anak Muda, Sehingga Tetap Terawat

Next Post

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Hana Retno Erdianti

Hana Retno Erdianti

Dokter hewan. Bertugas di Taman Nasional Bali Barat. Tinggal di Gilimanuk

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co