12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi

Hana Retno Erdianti by Hana Retno Erdianti
February 6, 2022
in Khas
Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi

Gili, ibu lutung, yang sedang dirawat [Foto: Dok Hana Retno]

Ini kisah nyata dan pilu dari seekor lutung. Kisah yang hingga kini, ketika aku ingat lagi, selalu menerbitkan rasa sedih dan pilu di hati.

Kisah ini dimulai di suatu siang yang begitu terik, di penghujung tahun 2019.  Tiba-tiba terdengar dering gawai. Saat itu aku sudah hendak tidur siang. Mata sudah setengah pejam, dan otak sudah siap masuk ke dunia mimpi (mungkin mimpi ke Paris untuk melihat keindahan salju dan hiasan pohon Natal).

Dering gawai terus-menerus berbunyi menandakan sang penelepon sudah tidak sabar untuk bercerita. Aku bangun dari ranjang. Dengan suara yang masih serak karena sudah dua jam tidak minum air, akhirnya kuangkat gawai itu.

Ternyata si penelepon adalah teman yang sedang berjaga di kantor Taman Nasional Bali Barat (TNBB), tempatku bekerja sebagai dokter hewan. Kebetulan hari itu Sabtu, jadi aku bisa BBS alias bobok bobok siang di rumah.  

Cerita si teman mengalir dengan suara cepat dan terdengar agak gawat. Intinya ia berharap kehadiranku di kantor. Tanpa banyak tanya, aku segera melajukan sepeda motor, untuk ke kantor saat itu juga.

Sesampai di kantor aku melihat seekor lutung tergeletak dengan luka di bahu kanan. Luka sepertinya tertusuk sesuatu. Aku terhenyak. Dibantu teman-teman kubawa lutung itu ke tempat yang lebih nyaman.

Pada dasarnya lutung adalah hewan buas, tapi lutung yang terluka itu sungguh tampak lemah, bahkan untuk menyeringai saja dia tak mampu.

Ibu lutung saat ditemukan [Foto: Dok Hana Retno]

Apa yang terjadi? Apakah dia terluka parah? Apakah ada yang berusaha mencelakakainya? Pertanyaan itu terus berputar di benakku sewaktu melihat lutung itu.  Matanya yang menatap penuh kekosongan seperti memohon tapi entah apa yang dimohonkan.

Akhirnya kuperiksa fisik  lutung ini, ada luka di bahunya tapi tidak terlalu dalam. Segera kuobati lukanya, dan kucoba memberikan makanan dan minuman. Dia mau menelan tapi tidak mau memandangku.

Matanya terus saja lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan. Kemudian kumelihat ke arah dadanya, terkejutlah aku saat melihat payudaranya bengkak. Kuperikasa ulang kelaminnya. Yap, benar, ternyata dia betina dan sedang menyusui.

Karena hari sudah menjelang malam, dan akupun sedang meninggalkan dua anak di rumah, akhirnya aku pulang dengan meninggalkan ibu lutung itu di kantor.

Esok pagi aku kembali menemui ibu lutung dan keadaannya masih sama. Tergolek lemah tak berdaya.

Aku penasaran sekali, apa yang membuat dia begitu lemah? Padahal patah tulang tidak ada. Tidak ada juga keluar darah dari telinga sebagai tanda ada perdarahan di otak.

Saat aku mencoba untuk membuka mulutnya pun dia hanya diam dan pasrah, padahal seandainya taringnya menancap di tanganku, entah apa yang akan terjadi. Mungkin dia tahu aku bukan orang jahat, mungkin dia tahu bahwa aku hanya ingin menolongnya.

Awal Ditemukan

Lutung itu ditemukan di hutan Gilimanuk, Bali Barat. Seorang teman bercerita tentang ibu lutung itu. Teman itu kebetulan melihat dari jauh, ibu lutung ini awalnya menggendong anak bersama gerombolan lutung yang lain. Bulu anaknya masih berwarna jingga.

Lutung itu berteriak-teriak penuh ketakutan. Kelompok lutung yang lain juga sama, berteriak-teriak saling sahut-menyahut. Tak lama setelah itu, terdengar suara braaakkk. Itu suara yang sangat keras. Ternyata ada cabang pohon sawo patah. Ibu lutung itu terjatuh. Saat ditemukan, anak lutung yang tadinya berada dalam gendongan, hilang entah ke mana.

Sebenarnya belum diketahui secara jelas kenapa gerombolan lutung itu ketakutan dan menjerit-jerit, lalu berlarian, hingga terjadi kecelakaan jatuhnya ibu lutung itu dari pohon sawo yang patah, terluka, dan kehilangan anaknya. Kemungkinan yang paling mungkin, ada pemburu yang mengintervensi para lutung itu di dalam hutan.

Ibu lutung saat dirawat darurat [Foto: Dok Hana Retno]

Belakangan kerap ditemukaan adanya jual-beli anak lutung di pasar gelap. Anak lutung dicari orang karena bulunya yang bagus. Aku pernah rescue atau menyelamatkan anak lutung di sebuah toko pakan hewan yang kemungkinan anak lutung itu diambil di hutan.

Atas fenomena itulah, besar dugaan anak dari ibu lutung yang terluka itu diculik oleh pemburu untuk diperjual-belikan.

Dibantu Yayasan

Sudah dua hari ibu lutung itu tergolek.  Aku memutuskan untuk membawa ibu lutung ini ke suatu yayasan yang memang menangani satwa liar. Kebetulan manager yayasan itu temanku. Kuceritakan keadaan ibu lutung ini dan ia langsung menyarankan untuk dibawa ke yayasan agar lutung itu mendapat perawatan intensif.

Saat itu aku baru satu minggu kerja di TNBB.  Selain itu, aku baru saja mendapat kemalangan. Mertuaku meninggal, sedangkan aku harus segera ke TNBB karena SK penempatanku sudah kuterima. Suasana yang panik itu mengakibatkan banyak hal tertinggal di rumahku yang dulu,  termasuk  obat-obatan. Sehingga aku tidak bisa menangani lutung itu secara intensif.

Sampai di lokasi yayasan, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, kami ditemui temanku yang kebetulan sama profesinya denganku, sebagai dokter hewan. Beliau kemudian memeriksa si ibu lutung tapi hasilnya pun sama.

Secara fisik tak ada luka yang berarti. Tapi kenapa dia masih saja lemah?

Karena hari sudah menjelang pagi, aku kembali pulang ke rumahku di Gilimanuk dan kami berjanji akan selalu berkomikasi melalui gawai. 

Besoknya, temanku menelepon. Ia membawa ibu lutung itu ke klinik yang lebih lengkap peralatan medisnya. Tujuannya untuk me-rontgen dan ct- scan tubuh ibu lutung.

Ibu lutung saat sudah mau berdiri [Foto: Dok Hana Retno]

Dengan harap-harap cemas, aku terus melihat ke arah gawaiku menanti kabar baik. Akhirnya temanku menelepon dan hasilnya membuatku terkejut, si ibu lutung ini sehat, tak ada perdarahan otak, tak ada patah tulang, tak ada organ tubuhnya yang terganggu.

Kami pun sama-sama terdiam dengan gawai yang masih menempel di telinga, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya kami mengambil kesimpulan. Ibu lutung ini mengalami depresi setelah kehilangan anaknya. Tentu bukan kesimpulan yang tanpa alasan. Payudaranya bengkak, dan ibu lutung itu selalu diam, dengan tatapan mata kosong.

Dan, kami pun sama-sama menangis. Kami teringat anak-anak kami yang kami tinggal di rumah. Teringat bagaimana payudara kami yang penuh terisi ASI jika tidak disusukan ke bayi kami.

Apalagi, kami sempat aku video call, dan temanku itu memperlihatkan si ibu lutung yang payudaranya terlihat semakin bengkak. Temanku berinisiatif untuk mengompres payudaranya agar tidak bengkak dan sakit.

Hari berganti hari, dengan kesibukan pekerjaan dan rumah tangga, aku hanya tau kabar si ibu lutung melalui gawai saja. Terlihat dia sudah bisa makan sendiri, sudah mau berdiri tapi yang membuat mata ini meneteskan air mata adalah sorot matanya yang kosong.

Melalui video call aku berbicara dengannya, aku berjanji untuk segera mempertemukan dia dengan keluarganya di hutan Gilimanuk. Yang penting dia sehat dulu. Bahkan temanku berusaha mencarikan teman satu spesies untuknya agar dia tak sedih lagi.

Banyak harapan aku titipkan ke dia, bahkan aku sudah melakukan survey di tempat mana ibu lutung itu bisa tinggal apabila dia udah bisa kembali ke hutan.

Tapi dering gawai di sepertiga malam mengagetkanku. Tepat di hari ke-10 sejak dia kutemukan tergeletak di tanah, si ibu lutung pergi meninggalkan dunia ini. Pergi dengan sepi, pergi dengan wajah sedihnya, pergi dengan membawa harapan para perawatnya.  Harapan besar memang sempat muncul karena ibu lutung itu sebenarnya sudah mulai mau makan pucuk daun dan buah murbey setelah beberapa hari tak mau makan.

Ibu lutung saat tak mau makan [Foto: Dok Hana Retno]

Aku dan temanku hanya bisa menangis berdua, terisak-isak tanpa suara, teringat pandangan matanya yang kosong, teringat payudaranya yang bengkak. Sakit rasanya dada ini, entah ada apa ini, terasa sekali kehilangan ini, aku hanya mampu meremas selimutku takut membangunkan kedua anakku.

Temanku hanya bisa minta maaf karena tidak bisa membawa kembali ibu lutung untuk menemui keluarganya di hutan gilimanuk. Dan dengan tangis yang sama-sama tertahan kami sepakat menamainya Gili.

Gili, tenanglah disana, aku tidak tahu apakah anakmu selamat atau tidak. Jikalau anakmu tidak selamat karena tidak dapat air susumu, maka kuberdoa kepada Tuhan agar engkau dipertemukan dengan anakmu dan bisa menyusui sepuasnya.

Dan aku banyak memetik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa depresi pada ibu tidak hanya terjadi pada manusia tetapi juga bisa pada hewan.

Dengan cerita ini aku ingin membuka pikiran semua orang. Please, sayangi wanitamu, lindungi dia, jangan biarkan dia sendiri dan terdiam, lemahkan egomu, lembutkan hatimu.

Teruntuk diriku sendiri, jangan terlalu memaksakan untuk menjadi kuat, sesekali boleh menjadi lemah. Depresi sangat berbahaya. Yuks, sehatkan badan kita, sehatkan pikiran kita, selalu memohon perlindungan kepada Tuhan. [T]

Tags: faunaGilimanukhewanibulutungPerempuanTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja, Lontar Dibaca Anak Muda, Sehingga Tetap Terawat

Next Post

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Hana Retno Erdianti

Hana Retno Erdianti

Dokter hewan. Bertugas di Taman Nasional Bali Barat. Tinggal di Gilimanuk

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co