2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi

Hana Retno Erdianti by Hana Retno Erdianti
February 6, 2022
in Khas
Kisah Pilu Ibu Lutung di Hutan Gilimanuk: Anak Diculik, Luka Bahu Luka Hati dan Depresi

Gili, ibu lutung, yang sedang dirawat [Foto: Dok Hana Retno]

Ini kisah nyata dan pilu dari seekor lutung. Kisah yang hingga kini, ketika aku ingat lagi, selalu menerbitkan rasa sedih dan pilu di hati.

Kisah ini dimulai di suatu siang yang begitu terik, di penghujung tahun 2019.  Tiba-tiba terdengar dering gawai. Saat itu aku sudah hendak tidur siang. Mata sudah setengah pejam, dan otak sudah siap masuk ke dunia mimpi (mungkin mimpi ke Paris untuk melihat keindahan salju dan hiasan pohon Natal).

Dering gawai terus-menerus berbunyi menandakan sang penelepon sudah tidak sabar untuk bercerita. Aku bangun dari ranjang. Dengan suara yang masih serak karena sudah dua jam tidak minum air, akhirnya kuangkat gawai itu.

Ternyata si penelepon adalah teman yang sedang berjaga di kantor Taman Nasional Bali Barat (TNBB), tempatku bekerja sebagai dokter hewan. Kebetulan hari itu Sabtu, jadi aku bisa BBS alias bobok bobok siang di rumah.  

Cerita si teman mengalir dengan suara cepat dan terdengar agak gawat. Intinya ia berharap kehadiranku di kantor. Tanpa banyak tanya, aku segera melajukan sepeda motor, untuk ke kantor saat itu juga.

Sesampai di kantor aku melihat seekor lutung tergeletak dengan luka di bahu kanan. Luka sepertinya tertusuk sesuatu. Aku terhenyak. Dibantu teman-teman kubawa lutung itu ke tempat yang lebih nyaman.

Pada dasarnya lutung adalah hewan buas, tapi lutung yang terluka itu sungguh tampak lemah, bahkan untuk menyeringai saja dia tak mampu.

Ibu lutung saat ditemukan [Foto: Dok Hana Retno]

Apa yang terjadi? Apakah dia terluka parah? Apakah ada yang berusaha mencelakakainya? Pertanyaan itu terus berputar di benakku sewaktu melihat lutung itu.  Matanya yang menatap penuh kekosongan seperti memohon tapi entah apa yang dimohonkan.

Akhirnya kuperiksa fisik  lutung ini, ada luka di bahunya tapi tidak terlalu dalam. Segera kuobati lukanya, dan kucoba memberikan makanan dan minuman. Dia mau menelan tapi tidak mau memandangku.

Matanya terus saja lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan. Kemudian kumelihat ke arah dadanya, terkejutlah aku saat melihat payudaranya bengkak. Kuperikasa ulang kelaminnya. Yap, benar, ternyata dia betina dan sedang menyusui.

Karena hari sudah menjelang malam, dan akupun sedang meninggalkan dua anak di rumah, akhirnya aku pulang dengan meninggalkan ibu lutung itu di kantor.

Esok pagi aku kembali menemui ibu lutung dan keadaannya masih sama. Tergolek lemah tak berdaya.

Aku penasaran sekali, apa yang membuat dia begitu lemah? Padahal patah tulang tidak ada. Tidak ada juga keluar darah dari telinga sebagai tanda ada perdarahan di otak.

Saat aku mencoba untuk membuka mulutnya pun dia hanya diam dan pasrah, padahal seandainya taringnya menancap di tanganku, entah apa yang akan terjadi. Mungkin dia tahu aku bukan orang jahat, mungkin dia tahu bahwa aku hanya ingin menolongnya.

Awal Ditemukan

Lutung itu ditemukan di hutan Gilimanuk, Bali Barat. Seorang teman bercerita tentang ibu lutung itu. Teman itu kebetulan melihat dari jauh, ibu lutung ini awalnya menggendong anak bersama gerombolan lutung yang lain. Bulu anaknya masih berwarna jingga.

Lutung itu berteriak-teriak penuh ketakutan. Kelompok lutung yang lain juga sama, berteriak-teriak saling sahut-menyahut. Tak lama setelah itu, terdengar suara braaakkk. Itu suara yang sangat keras. Ternyata ada cabang pohon sawo patah. Ibu lutung itu terjatuh. Saat ditemukan, anak lutung yang tadinya berada dalam gendongan, hilang entah ke mana.

Sebenarnya belum diketahui secara jelas kenapa gerombolan lutung itu ketakutan dan menjerit-jerit, lalu berlarian, hingga terjadi kecelakaan jatuhnya ibu lutung itu dari pohon sawo yang patah, terluka, dan kehilangan anaknya. Kemungkinan yang paling mungkin, ada pemburu yang mengintervensi para lutung itu di dalam hutan.

Ibu lutung saat dirawat darurat [Foto: Dok Hana Retno]

Belakangan kerap ditemukaan adanya jual-beli anak lutung di pasar gelap. Anak lutung dicari orang karena bulunya yang bagus. Aku pernah rescue atau menyelamatkan anak lutung di sebuah toko pakan hewan yang kemungkinan anak lutung itu diambil di hutan.

Atas fenomena itulah, besar dugaan anak dari ibu lutung yang terluka itu diculik oleh pemburu untuk diperjual-belikan.

Dibantu Yayasan

Sudah dua hari ibu lutung itu tergolek.  Aku memutuskan untuk membawa ibu lutung ini ke suatu yayasan yang memang menangani satwa liar. Kebetulan manager yayasan itu temanku. Kuceritakan keadaan ibu lutung ini dan ia langsung menyarankan untuk dibawa ke yayasan agar lutung itu mendapat perawatan intensif.

Saat itu aku baru satu minggu kerja di TNBB.  Selain itu, aku baru saja mendapat kemalangan. Mertuaku meninggal, sedangkan aku harus segera ke TNBB karena SK penempatanku sudah kuterima. Suasana yang panik itu mengakibatkan banyak hal tertinggal di rumahku yang dulu,  termasuk  obat-obatan. Sehingga aku tidak bisa menangani lutung itu secara intensif.

Sampai di lokasi yayasan, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, kami ditemui temanku yang kebetulan sama profesinya denganku, sebagai dokter hewan. Beliau kemudian memeriksa si ibu lutung tapi hasilnya pun sama.

Secara fisik tak ada luka yang berarti. Tapi kenapa dia masih saja lemah?

Karena hari sudah menjelang pagi, aku kembali pulang ke rumahku di Gilimanuk dan kami berjanji akan selalu berkomikasi melalui gawai. 

Besoknya, temanku menelepon. Ia membawa ibu lutung itu ke klinik yang lebih lengkap peralatan medisnya. Tujuannya untuk me-rontgen dan ct- scan tubuh ibu lutung.

Ibu lutung saat sudah mau berdiri [Foto: Dok Hana Retno]

Dengan harap-harap cemas, aku terus melihat ke arah gawaiku menanti kabar baik. Akhirnya temanku menelepon dan hasilnya membuatku terkejut, si ibu lutung ini sehat, tak ada perdarahan otak, tak ada patah tulang, tak ada organ tubuhnya yang terganggu.

Kami pun sama-sama terdiam dengan gawai yang masih menempel di telinga, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya kami mengambil kesimpulan. Ibu lutung ini mengalami depresi setelah kehilangan anaknya. Tentu bukan kesimpulan yang tanpa alasan. Payudaranya bengkak, dan ibu lutung itu selalu diam, dengan tatapan mata kosong.

Dan, kami pun sama-sama menangis. Kami teringat anak-anak kami yang kami tinggal di rumah. Teringat bagaimana payudara kami yang penuh terisi ASI jika tidak disusukan ke bayi kami.

Apalagi, kami sempat aku video call, dan temanku itu memperlihatkan si ibu lutung yang payudaranya terlihat semakin bengkak. Temanku berinisiatif untuk mengompres payudaranya agar tidak bengkak dan sakit.

Hari berganti hari, dengan kesibukan pekerjaan dan rumah tangga, aku hanya tau kabar si ibu lutung melalui gawai saja. Terlihat dia sudah bisa makan sendiri, sudah mau berdiri tapi yang membuat mata ini meneteskan air mata adalah sorot matanya yang kosong.

Melalui video call aku berbicara dengannya, aku berjanji untuk segera mempertemukan dia dengan keluarganya di hutan Gilimanuk. Yang penting dia sehat dulu. Bahkan temanku berusaha mencarikan teman satu spesies untuknya agar dia tak sedih lagi.

Banyak harapan aku titipkan ke dia, bahkan aku sudah melakukan survey di tempat mana ibu lutung itu bisa tinggal apabila dia udah bisa kembali ke hutan.

Tapi dering gawai di sepertiga malam mengagetkanku. Tepat di hari ke-10 sejak dia kutemukan tergeletak di tanah, si ibu lutung pergi meninggalkan dunia ini. Pergi dengan sepi, pergi dengan wajah sedihnya, pergi dengan membawa harapan para perawatnya.  Harapan besar memang sempat muncul karena ibu lutung itu sebenarnya sudah mulai mau makan pucuk daun dan buah murbey setelah beberapa hari tak mau makan.

Ibu lutung saat tak mau makan [Foto: Dok Hana Retno]

Aku dan temanku hanya bisa menangis berdua, terisak-isak tanpa suara, teringat pandangan matanya yang kosong, teringat payudaranya yang bengkak. Sakit rasanya dada ini, entah ada apa ini, terasa sekali kehilangan ini, aku hanya mampu meremas selimutku takut membangunkan kedua anakku.

Temanku hanya bisa minta maaf karena tidak bisa membawa kembali ibu lutung untuk menemui keluarganya di hutan gilimanuk. Dan dengan tangis yang sama-sama tertahan kami sepakat menamainya Gili.

Gili, tenanglah disana, aku tidak tahu apakah anakmu selamat atau tidak. Jikalau anakmu tidak selamat karena tidak dapat air susumu, maka kuberdoa kepada Tuhan agar engkau dipertemukan dengan anakmu dan bisa menyusui sepuasnya.

Dan aku banyak memetik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa depresi pada ibu tidak hanya terjadi pada manusia tetapi juga bisa pada hewan.

Dengan cerita ini aku ingin membuka pikiran semua orang. Please, sayangi wanitamu, lindungi dia, jangan biarkan dia sendiri dan terdiam, lemahkan egomu, lembutkan hatimu.

Teruntuk diriku sendiri, jangan terlalu memaksakan untuk menjadi kuat, sesekali boleh menjadi lemah. Depresi sangat berbahaya. Yuks, sehatkan badan kita, sehatkan pikiran kita, selalu memohon perlindungan kepada Tuhan. [T]

Tags: faunaGilimanukhewanibulutungPerempuanTaman Nasional Bali Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja, Lontar Dibaca Anak Muda, Sehingga Tetap Terawat

Next Post

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Hana Retno Erdianti

Hana Retno Erdianti

Dokter hewan. Bertugas di Taman Nasional Bali Barat. Tinggal di Gilimanuk

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Belum Sempat Ditiduri Mahasiswa, Asrama Baru STAH Mpu Kuturan Jadi Tempat Isoter

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co