4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 26, 2024
in Khas
Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Grup muspus Komunitas Mahima yang baru | Foto: Hizkia

BUAH usaha dari Fuad Hasan—kala itu menjabat sebagai Mendikbud tahun 1985-1993—dan Sapardi Djoko Damono yang ingin mempopulerkan puisi Indonesia ke kalangan anak sekolah, maka lahirlah Ari Reda. Duo musisi folk yang aktif mengalihwahanakan puisi menjadi lagu—dan menembangkannya—sejak tahun 1988 silam.

Kemunculan Ari Reda dengan musikalisasi puisinya, semacam kendaraan yang memperlancar atau lebih mendekatkan puisi ke masyarakat dengan kemasan lagu. Sehingga, kini, jika berbicara tentang musikalisasi puisi, barangkali kiblat dari musikalisasi puisi Indonesia adalah duet legendaris Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

Banyak musikus generasi baru yang lahir dari keindahan suara Ari Reda—dengarkan saja Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari, dan Aku Ingin. Tapi Heri Windi Anggara, musisi asal Bali yang fokus dalam bidang musikalisasi puisi, meyakini jika muspus (singkatan dari musikalisasi puisi) sudah berkembang sejak zaman Sunan Kalijaga.

Sedangkan di Bali sendiri, muspus sudah berkembang sejak tahun 1960-an di tiga kabupaten, yakni di Jembrana, Buleleng, dan Denpasar.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri jika upaya memusikkan puisi atau menggabungkan seni baca puisi dengan seni musik yang dilakukan oleh Ari Reda, sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan musikalisasi puisi di Indonesia.

Grup muspus Komunitas Mahima saat launching mini album di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Di Buleleng, misalnya, diam-diam muncul kelompok musikalisasi puisi yang dengan konsisten telah menghasilkan karya musikalisasi puisi sebanyak tiga album. Meskipun sempat vakum, kini, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima, bangkit kembali dengan anggota baru dan warna musik yang lebih eksploratif.

Pada tahun 2024, Rahatri Ningrat (Gek Ning), Mila Romana, Gung Divata, Dadidu, Gung Andre, dan Ari Fernando, mencoba membangkitkan kembali kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima dengan menghadirkan empat lagu bernuansa lebih segar—tak melulu gelap, sendu, keras, sebagaimana muspus-muspus pada umumnya.

“Kami terbentuk (lagi) pada saat acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima, beberapa bulan yang lalu,” kata Gek Ning ketika dihubungi di sela-sela kesibukannya menjadi seorang guru di salah satu SMA di Buleleng.

Ia bercerita, pada saat itu, dirinya diminta untuk menampilkan musikalisasi puisi pada saat acara pembukaan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang berlangsung pada 17 November 2023 yang lalu.

“Saat itu kami membawakan empat lagu. Dua muspus dari album Raya-Raya Cinta, satu muspus dari Interior Danau, dan satu muspus garapan baru, Pada Suatu Hari Nanti,” ujar Gek Ning.

Empat karya musikalisasi puisi yang mereka sajikan kali ini adalah Pada Suatu Hari Nanti, puisi karya Sapardi Djoko Damono; Untuk Gadisku, karya Tuti Dirgha; Tuhan Milik Siapa, karya Made Adnyana Ole; dan Sajak Cinta Bidadari, karya Nuryana Asmaudi SA.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Pada tanggal 15 Maret 2024, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima ini sukses mengadakan konser dan sekaligus launching mini album Mahima, di acara Mahima March March March 2024 yang berlangsung di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dalam kesempatan itu, mereka bercerita tentang bagaimana proses kreatif mereka dalam mengalihwahanakan seni baca ke dalam seni dengar tersebut. Menurut Gek Ning, pemilihan tema sangat penting sebagai langkah awal untuk membuat musikalisasi puisi.

“Jika temanya sudah ketemu, selanjutnya melakukan pembacaan terhadap puisi yang akan dijadikan muspus. Ini untuk menentukan pemenggalan-pemenggalan,” jelasnya, setelah selesai tampil di acara Mahima March March March 2024, Jumat (17/03/24) malam.

Di hadapan penonton kala itu, dengan semangat Gek Ning menjelaskan bagaimana tahap-demi tahap ketika membuat musikalisasi puisi. “Kemudian, tahap selanjutnya adalah menerjemahkan puisi ke dalam musik. Dengan penentuan nada menggunakan gitar dan elemen-elemen lain sebagai penyempurna,” sambungnya dengan semangat.

Sedangkan Dadi—dalam kelompok ini ia kadang menyanyi, kadang juga main piano—menyampaikan sikap dirinya dalam memandang musikalisasi puisi. Menurutnya, bermain musikalisasi puisi adalah bagaimana cara menyalurkan selera musik kita dengan menggunakan lirik yang berasal dari puisi. “Untuk puisi Pada Suatu Hari Nanti, saya membawanya ke nuansa yang lebih happy,” katanya.

Benar, untuk lagu ini, kelompok Musikalisasi Puisi Mahima berhasil keluar dari bayang-bayang Pada Suatu Hari Nanti versi Ari Reda—yang terkenal itu. Meskipun, hal itu juga mendapat respon yang beragam dari para pendengar yang saat itu hadir menyaksikan mereka perform.

“Dengan menggubah puisi itu menjadi musik ala-ala Britpop, saya ingin puisi ini lebih dekat dengan generasi muda sekarang,” tutur Dadi, mencoba meyakinkan pendengar.

Sedangkan dalam pemilihan puisi Untuk Gadisku, adalah sebuah bentuk rasa kebanggan untuk membawa penyair Buleleng ke dalam karya-karya muspus mereka. Benar, Tuti Dirgha adalah seorang penulis dari Buleleng yang karya-karyanya, termasuk antologi puisinya, diterbitkan di Penerbit Mahima sendiri.

Satu fakta yang menarik adalah, Tuti Dirgha merupakan ibunda dari salah satu vokalis Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima, yakni A.A Ayu Rahatri Ningrat, atau yang lebih akrab disapa Gek Ning.

Satu puisi yang akhirnya mereka pilih untuk dimusikalisasikan adalah puisi karya Made Adnyana Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa. Menurut pengakuan Dadi, puisi romantis dengan bumbu-bumbu satire itu merupakan sebuah puisi yang diciptakan Made Adnyana Ole sebagai hadiah pernikahannya dengan sang istri.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

“Setelah selesai mengaransemen Sajak Cinta Bidadari, saya kemudian mengaransemen puisi Pak Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa,” cupa Dadi. Kemudian ia menambahkan, “Karena bagi saya, puisi itu sangat spesial dalam hidup saya.” Ia tampak bangga mengucapkan hal tersebut.

Gek Ning, sebagai generasi lama dalam kelompok musikalisasi puisi ini, dalam kesempatan lain, ia menceritakan bagiamana usahanya dalam menghidupkan kembali kelompok musikalisasi ini dengan formasi yang baru. “Saya mengajak mereka, karena saya melihat mereka memiliki pemahaman tentang musik yang sangat bagus. Dan mereka memiliki minat juga untuk mencoba bermain musikalisasi puisi,” jelasnya.

Ia kembali menuturkan, pada awal pembentukannya, mereka sempat kesulitan dalam hal menyamakan persepsi tentang puisi. Namun, untungnya, mereka saling terbuka dan legowo dalam menerima hasil atau keputusan diskusi—tentang puisi—yang mereka lakukan.

Meski sebagian besar dari kelompok musikalisasi puisi ini adalah orang-orang yang sudah memiliki pengalaman di bidang musik dengan genrenya masing-masing, namun mereka tetap mengaku kesulitan dalam menentukan nada untuk dipakai dalam musikalisasi puisi.

“Kalau susahnya sih pas menentukan nada. Karena nada akan menentukan ke mana arah musik selanjutnya,” ucap salah satu dari mereka saat sesi diskusi di Rumah Belajar Komunitas Mahima beberapa waktu yang lalu.

Walaupun sebagai kelompok musikalisasi puisi dengan latar belakang kesukaan, atau selera musik yang berbeda-beda, mereka optimis dan terus berusaha untuk tetap bereksplorasi dengan pendekatan-pendekatan musik yang mereka ketahui.

Dengan begitu, bisa dikatakan, Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima akan terus mengelurkan karya musikalisasi puisi dengan menggunakan berbagai unsur genre ke dalam karya mereka ke depannya.

“Kami berharap, semoga bisa selalu konsisten dalam musikalisasi puisi, agar terus dapat menghasilkan karya-karya yang lebih fresh ke depannya,” ujar Gek Ning, memungkasi sesi diskusi malam itu. Sekadar informasi, karya-karya musikalisasi Komunitas Mahima dapat ditonton dan dengarkan di kanal Youtube Komunitas Mahima.[T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Jaswanto

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Suara Perlawanan dalam Alunan Musikalisasi Puisi Budang Bading Badung | Catatan Tatkala May May May 2023
Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisimuspusPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa

Next Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails
Next Post
Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co