14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 26, 2024
in Khas
Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Grup muspus Komunitas Mahima yang baru | Foto: Hizkia

BUAH usaha dari Fuad Hasan—kala itu menjabat sebagai Mendikbud tahun 1985-1993—dan Sapardi Djoko Damono yang ingin mempopulerkan puisi Indonesia ke kalangan anak sekolah, maka lahirlah Ari Reda. Duo musisi folk yang aktif mengalihwahanakan puisi menjadi lagu—dan menembangkannya—sejak tahun 1988 silam.

Kemunculan Ari Reda dengan musikalisasi puisinya, semacam kendaraan yang memperlancar atau lebih mendekatkan puisi ke masyarakat dengan kemasan lagu. Sehingga, kini, jika berbicara tentang musikalisasi puisi, barangkali kiblat dari musikalisasi puisi Indonesia adalah duet legendaris Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

Banyak musikus generasi baru yang lahir dari keindahan suara Ari Reda—dengarkan saja Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari, dan Aku Ingin. Tapi Heri Windi Anggara, musisi asal Bali yang fokus dalam bidang musikalisasi puisi, meyakini jika muspus (singkatan dari musikalisasi puisi) sudah berkembang sejak zaman Sunan Kalijaga.

Sedangkan di Bali sendiri, muspus sudah berkembang sejak tahun 1960-an di tiga kabupaten, yakni di Jembrana, Buleleng, dan Denpasar.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri jika upaya memusikkan puisi atau menggabungkan seni baca puisi dengan seni musik yang dilakukan oleh Ari Reda, sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan musikalisasi puisi di Indonesia.

Grup muspus Komunitas Mahima saat launching mini album di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Di Buleleng, misalnya, diam-diam muncul kelompok musikalisasi puisi yang dengan konsisten telah menghasilkan karya musikalisasi puisi sebanyak tiga album. Meskipun sempat vakum, kini, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima, bangkit kembali dengan anggota baru dan warna musik yang lebih eksploratif.

Pada tahun 2024, Rahatri Ningrat (Gek Ning), Mila Romana, Gung Divata, Dadidu, Gung Andre, dan Ari Fernando, mencoba membangkitkan kembali kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima dengan menghadirkan empat lagu bernuansa lebih segar—tak melulu gelap, sendu, keras, sebagaimana muspus-muspus pada umumnya.

“Kami terbentuk (lagi) pada saat acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima, beberapa bulan yang lalu,” kata Gek Ning ketika dihubungi di sela-sela kesibukannya menjadi seorang guru di salah satu SMA di Buleleng.

Ia bercerita, pada saat itu, dirinya diminta untuk menampilkan musikalisasi puisi pada saat acara pembukaan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang berlangsung pada 17 November 2023 yang lalu.

“Saat itu kami membawakan empat lagu. Dua muspus dari album Raya-Raya Cinta, satu muspus dari Interior Danau, dan satu muspus garapan baru, Pada Suatu Hari Nanti,” ujar Gek Ning.

Empat karya musikalisasi puisi yang mereka sajikan kali ini adalah Pada Suatu Hari Nanti, puisi karya Sapardi Djoko Damono; Untuk Gadisku, karya Tuti Dirgha; Tuhan Milik Siapa, karya Made Adnyana Ole; dan Sajak Cinta Bidadari, karya Nuryana Asmaudi SA.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Pada tanggal 15 Maret 2024, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima ini sukses mengadakan konser dan sekaligus launching mini album Mahima, di acara Mahima March March March 2024 yang berlangsung di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dalam kesempatan itu, mereka bercerita tentang bagaimana proses kreatif mereka dalam mengalihwahanakan seni baca ke dalam seni dengar tersebut. Menurut Gek Ning, pemilihan tema sangat penting sebagai langkah awal untuk membuat musikalisasi puisi.

“Jika temanya sudah ketemu, selanjutnya melakukan pembacaan terhadap puisi yang akan dijadikan muspus. Ini untuk menentukan pemenggalan-pemenggalan,” jelasnya, setelah selesai tampil di acara Mahima March March March 2024, Jumat (17/03/24) malam.

Di hadapan penonton kala itu, dengan semangat Gek Ning menjelaskan bagaimana tahap-demi tahap ketika membuat musikalisasi puisi. “Kemudian, tahap selanjutnya adalah menerjemahkan puisi ke dalam musik. Dengan penentuan nada menggunakan gitar dan elemen-elemen lain sebagai penyempurna,” sambungnya dengan semangat.

Sedangkan Dadi—dalam kelompok ini ia kadang menyanyi, kadang juga main piano—menyampaikan sikap dirinya dalam memandang musikalisasi puisi. Menurutnya, bermain musikalisasi puisi adalah bagaimana cara menyalurkan selera musik kita dengan menggunakan lirik yang berasal dari puisi. “Untuk puisi Pada Suatu Hari Nanti, saya membawanya ke nuansa yang lebih happy,” katanya.

Benar, untuk lagu ini, kelompok Musikalisasi Puisi Mahima berhasil keluar dari bayang-bayang Pada Suatu Hari Nanti versi Ari Reda—yang terkenal itu. Meskipun, hal itu juga mendapat respon yang beragam dari para pendengar yang saat itu hadir menyaksikan mereka perform.

“Dengan menggubah puisi itu menjadi musik ala-ala Britpop, saya ingin puisi ini lebih dekat dengan generasi muda sekarang,” tutur Dadi, mencoba meyakinkan pendengar.

Sedangkan dalam pemilihan puisi Untuk Gadisku, adalah sebuah bentuk rasa kebanggan untuk membawa penyair Buleleng ke dalam karya-karya muspus mereka. Benar, Tuti Dirgha adalah seorang penulis dari Buleleng yang karya-karyanya, termasuk antologi puisinya, diterbitkan di Penerbit Mahima sendiri.

Satu fakta yang menarik adalah, Tuti Dirgha merupakan ibunda dari salah satu vokalis Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima, yakni A.A Ayu Rahatri Ningrat, atau yang lebih akrab disapa Gek Ning.

Satu puisi yang akhirnya mereka pilih untuk dimusikalisasikan adalah puisi karya Made Adnyana Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa. Menurut pengakuan Dadi, puisi romantis dengan bumbu-bumbu satire itu merupakan sebuah puisi yang diciptakan Made Adnyana Ole sebagai hadiah pernikahannya dengan sang istri.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

“Setelah selesai mengaransemen Sajak Cinta Bidadari, saya kemudian mengaransemen puisi Pak Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa,” cupa Dadi. Kemudian ia menambahkan, “Karena bagi saya, puisi itu sangat spesial dalam hidup saya.” Ia tampak bangga mengucapkan hal tersebut.

Gek Ning, sebagai generasi lama dalam kelompok musikalisasi puisi ini, dalam kesempatan lain, ia menceritakan bagiamana usahanya dalam menghidupkan kembali kelompok musikalisasi ini dengan formasi yang baru. “Saya mengajak mereka, karena saya melihat mereka memiliki pemahaman tentang musik yang sangat bagus. Dan mereka memiliki minat juga untuk mencoba bermain musikalisasi puisi,” jelasnya.

Ia kembali menuturkan, pada awal pembentukannya, mereka sempat kesulitan dalam hal menyamakan persepsi tentang puisi. Namun, untungnya, mereka saling terbuka dan legowo dalam menerima hasil atau keputusan diskusi—tentang puisi—yang mereka lakukan.

Meski sebagian besar dari kelompok musikalisasi puisi ini adalah orang-orang yang sudah memiliki pengalaman di bidang musik dengan genrenya masing-masing, namun mereka tetap mengaku kesulitan dalam menentukan nada untuk dipakai dalam musikalisasi puisi.

“Kalau susahnya sih pas menentukan nada. Karena nada akan menentukan ke mana arah musik selanjutnya,” ucap salah satu dari mereka saat sesi diskusi di Rumah Belajar Komunitas Mahima beberapa waktu yang lalu.

Walaupun sebagai kelompok musikalisasi puisi dengan latar belakang kesukaan, atau selera musik yang berbeda-beda, mereka optimis dan terus berusaha untuk tetap bereksplorasi dengan pendekatan-pendekatan musik yang mereka ketahui.

Dengan begitu, bisa dikatakan, Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima akan terus mengelurkan karya musikalisasi puisi dengan menggunakan berbagai unsur genre ke dalam karya mereka ke depannya.

“Kami berharap, semoga bisa selalu konsisten dalam musikalisasi puisi, agar terus dapat menghasilkan karya-karya yang lebih fresh ke depannya,” ujar Gek Ning, memungkasi sesi diskusi malam itu. Sekadar informasi, karya-karya musikalisasi Komunitas Mahima dapat ditonton dan dengarkan di kanal Youtube Komunitas Mahima.[T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Jaswanto

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Suara Perlawanan dalam Alunan Musikalisasi Puisi Budang Bading Badung | Catatan Tatkala May May May 2023
Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisimuspusPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa

Next Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails
Next Post
Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co