4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 26, 2024
in Khas
Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Grup muspus Komunitas Mahima yang baru | Foto: Hizkia

BUAH usaha dari Fuad Hasan—kala itu menjabat sebagai Mendikbud tahun 1985-1993—dan Sapardi Djoko Damono yang ingin mempopulerkan puisi Indonesia ke kalangan anak sekolah, maka lahirlah Ari Reda. Duo musisi folk yang aktif mengalihwahanakan puisi menjadi lagu—dan menembangkannya—sejak tahun 1988 silam.

Kemunculan Ari Reda dengan musikalisasi puisinya, semacam kendaraan yang memperlancar atau lebih mendekatkan puisi ke masyarakat dengan kemasan lagu. Sehingga, kini, jika berbicara tentang musikalisasi puisi, barangkali kiblat dari musikalisasi puisi Indonesia adalah duet legendaris Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

Banyak musikus generasi baru yang lahir dari keindahan suara Ari Reda—dengarkan saja Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari, dan Aku Ingin. Tapi Heri Windi Anggara, musisi asal Bali yang fokus dalam bidang musikalisasi puisi, meyakini jika muspus (singkatan dari musikalisasi puisi) sudah berkembang sejak zaman Sunan Kalijaga.

Sedangkan di Bali sendiri, muspus sudah berkembang sejak tahun 1960-an di tiga kabupaten, yakni di Jembrana, Buleleng, dan Denpasar.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri jika upaya memusikkan puisi atau menggabungkan seni baca puisi dengan seni musik yang dilakukan oleh Ari Reda, sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan musikalisasi puisi di Indonesia.

Grup muspus Komunitas Mahima saat launching mini album di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Di Buleleng, misalnya, diam-diam muncul kelompok musikalisasi puisi yang dengan konsisten telah menghasilkan karya musikalisasi puisi sebanyak tiga album. Meskipun sempat vakum, kini, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima, bangkit kembali dengan anggota baru dan warna musik yang lebih eksploratif.

Pada tahun 2024, Rahatri Ningrat (Gek Ning), Mila Romana, Gung Divata, Dadidu, Gung Andre, dan Ari Fernando, mencoba membangkitkan kembali kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima dengan menghadirkan empat lagu bernuansa lebih segar—tak melulu gelap, sendu, keras, sebagaimana muspus-muspus pada umumnya.

“Kami terbentuk (lagi) pada saat acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima, beberapa bulan yang lalu,” kata Gek Ning ketika dihubungi di sela-sela kesibukannya menjadi seorang guru di salah satu SMA di Buleleng.

Ia bercerita, pada saat itu, dirinya diminta untuk menampilkan musikalisasi puisi pada saat acara pembukaan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang berlangsung pada 17 November 2023 yang lalu.

“Saat itu kami membawakan empat lagu. Dua muspus dari album Raya-Raya Cinta, satu muspus dari Interior Danau, dan satu muspus garapan baru, Pada Suatu Hari Nanti,” ujar Gek Ning.

Empat karya musikalisasi puisi yang mereka sajikan kali ini adalah Pada Suatu Hari Nanti, puisi karya Sapardi Djoko Damono; Untuk Gadisku, karya Tuti Dirgha; Tuhan Milik Siapa, karya Made Adnyana Ole; dan Sajak Cinta Bidadari, karya Nuryana Asmaudi SA.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Pada tanggal 15 Maret 2024, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima ini sukses mengadakan konser dan sekaligus launching mini album Mahima, di acara Mahima March March March 2024 yang berlangsung di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dalam kesempatan itu, mereka bercerita tentang bagaimana proses kreatif mereka dalam mengalihwahanakan seni baca ke dalam seni dengar tersebut. Menurut Gek Ning, pemilihan tema sangat penting sebagai langkah awal untuk membuat musikalisasi puisi.

“Jika temanya sudah ketemu, selanjutnya melakukan pembacaan terhadap puisi yang akan dijadikan muspus. Ini untuk menentukan pemenggalan-pemenggalan,” jelasnya, setelah selesai tampil di acara Mahima March March March 2024, Jumat (17/03/24) malam.

Di hadapan penonton kala itu, dengan semangat Gek Ning menjelaskan bagaimana tahap-demi tahap ketika membuat musikalisasi puisi. “Kemudian, tahap selanjutnya adalah menerjemahkan puisi ke dalam musik. Dengan penentuan nada menggunakan gitar dan elemen-elemen lain sebagai penyempurna,” sambungnya dengan semangat.

Sedangkan Dadi—dalam kelompok ini ia kadang menyanyi, kadang juga main piano—menyampaikan sikap dirinya dalam memandang musikalisasi puisi. Menurutnya, bermain musikalisasi puisi adalah bagaimana cara menyalurkan selera musik kita dengan menggunakan lirik yang berasal dari puisi. “Untuk puisi Pada Suatu Hari Nanti, saya membawanya ke nuansa yang lebih happy,” katanya.

Benar, untuk lagu ini, kelompok Musikalisasi Puisi Mahima berhasil keluar dari bayang-bayang Pada Suatu Hari Nanti versi Ari Reda—yang terkenal itu. Meskipun, hal itu juga mendapat respon yang beragam dari para pendengar yang saat itu hadir menyaksikan mereka perform.

“Dengan menggubah puisi itu menjadi musik ala-ala Britpop, saya ingin puisi ini lebih dekat dengan generasi muda sekarang,” tutur Dadi, mencoba meyakinkan pendengar.

Sedangkan dalam pemilihan puisi Untuk Gadisku, adalah sebuah bentuk rasa kebanggan untuk membawa penyair Buleleng ke dalam karya-karya muspus mereka. Benar, Tuti Dirgha adalah seorang penulis dari Buleleng yang karya-karyanya, termasuk antologi puisinya, diterbitkan di Penerbit Mahima sendiri.

Satu fakta yang menarik adalah, Tuti Dirgha merupakan ibunda dari salah satu vokalis Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima, yakni A.A Ayu Rahatri Ningrat, atau yang lebih akrab disapa Gek Ning.

Satu puisi yang akhirnya mereka pilih untuk dimusikalisasikan adalah puisi karya Made Adnyana Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa. Menurut pengakuan Dadi, puisi romantis dengan bumbu-bumbu satire itu merupakan sebuah puisi yang diciptakan Made Adnyana Ole sebagai hadiah pernikahannya dengan sang istri.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

“Setelah selesai mengaransemen Sajak Cinta Bidadari, saya kemudian mengaransemen puisi Pak Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa,” cupa Dadi. Kemudian ia menambahkan, “Karena bagi saya, puisi itu sangat spesial dalam hidup saya.” Ia tampak bangga mengucapkan hal tersebut.

Gek Ning, sebagai generasi lama dalam kelompok musikalisasi puisi ini, dalam kesempatan lain, ia menceritakan bagiamana usahanya dalam menghidupkan kembali kelompok musikalisasi ini dengan formasi yang baru. “Saya mengajak mereka, karena saya melihat mereka memiliki pemahaman tentang musik yang sangat bagus. Dan mereka memiliki minat juga untuk mencoba bermain musikalisasi puisi,” jelasnya.

Ia kembali menuturkan, pada awal pembentukannya, mereka sempat kesulitan dalam hal menyamakan persepsi tentang puisi. Namun, untungnya, mereka saling terbuka dan legowo dalam menerima hasil atau keputusan diskusi—tentang puisi—yang mereka lakukan.

Meski sebagian besar dari kelompok musikalisasi puisi ini adalah orang-orang yang sudah memiliki pengalaman di bidang musik dengan genrenya masing-masing, namun mereka tetap mengaku kesulitan dalam menentukan nada untuk dipakai dalam musikalisasi puisi.

“Kalau susahnya sih pas menentukan nada. Karena nada akan menentukan ke mana arah musik selanjutnya,” ucap salah satu dari mereka saat sesi diskusi di Rumah Belajar Komunitas Mahima beberapa waktu yang lalu.

Walaupun sebagai kelompok musikalisasi puisi dengan latar belakang kesukaan, atau selera musik yang berbeda-beda, mereka optimis dan terus berusaha untuk tetap bereksplorasi dengan pendekatan-pendekatan musik yang mereka ketahui.

Dengan begitu, bisa dikatakan, Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima akan terus mengelurkan karya musikalisasi puisi dengan menggunakan berbagai unsur genre ke dalam karya mereka ke depannya.

“Kami berharap, semoga bisa selalu konsisten dalam musikalisasi puisi, agar terus dapat menghasilkan karya-karya yang lebih fresh ke depannya,” ujar Gek Ning, memungkasi sesi diskusi malam itu. Sekadar informasi, karya-karya musikalisasi Komunitas Mahima dapat ditonton dan dengarkan di kanal Youtube Komunitas Mahima.[T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Jaswanto

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Suara Perlawanan dalam Alunan Musikalisasi Puisi Budang Bading Badung | Catatan Tatkala May May May 2023
Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisimuspusPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa

Next Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co