4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda

Bayu Suwiartha by Bayu Suwiartha
February 2, 2018
in Esai

Foto: http://wulandewisaraswati.blogspot.co.id

SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan menampilkan puluhan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Bali.

Bagi saya dan kawan-kawan yang dulu sempat mencecap manis pahit ber-muspus ria di Teater Angin SMA N 1 Denpasar, acara lomba musikalisasi puisi (kini menyanyikan puisi) yang digelar Komunitas Kertas Budaya ini selalu menyisakan kenangan yang tak habisnya untuk diperbincangkan.

Dalam rangka itulah, saya yang papa dan awam dalam dunia per-muspus-an memberanikan diri urung tulisan untuk menggenapi kemeriahan lomba yang akan digelar nantinya. Seperti pepatah bilang, ada gula, ada semut. Ada yang lomba, tentu mesti ada tukang sorak-sorainya. Betul?

Bila boleh jujur, dapat dikatakan bahwa musikalisasi puisi (mari kita sepakati untuk penyebutan berikutnya dengan muspus) cenderung sudah menemukan “pakem”nya sendiri. Jika kita melihat karya dari tahun 2000-an hingga sekarang, kebanyakan musikalisasi puisi yang hadir mengambil genre ballad.

Genre ballad mampu mewadahi puisi yang rata-rata menceritakan kisah yang dramatik sehingga sesuai dengan karakter musik ballad yang menceritakan sebuah kisah dan bisa menjadi dramatik. Akibatnya, banyak karya muspus cenderung beraliran ballad.

Untuk alat musik yang digunakan, biasanya menggunakan alat musik non elektrik seperti gitar akustik, jimbe, flute. Beberapa kali, sempat pula saya menonton, ada yang menggunakan benda-benda sekitar seperti tong sampah, besi gelontongan yang dipukul dan barang-barang bekas. Bahkan ada yang menggunakan anggota tubuhnya seperti bibir (bersiul atau format acapela).

Jadi dalam hal penggunaan alat, para penggiat muspus cukup kreatif dalam memadukan berbagai alat musik dan barang-barang yang ada di sekitar mereka untuk proses kreatif mencipta musikalisasi puisi.

Hal yang hampir sama saya alami ketika masih berproses di Teater Angin pada 2009 hingga 2012. Pertama kali berproses, saya rajin didengarkan karya-karya dari album Tentang Angin I dan II. Kesan pertama saya kala itu, musiknya begitu sederhana dan kedengaran seperti lagu tempoe doeloe. Namun, makna dan suasana puisi bisa tersampaikan. Setelah saya perhatikan, ciri khas dari muspus anak TA ialah merinding di beberapa lagu (barangkali karena mendengarnya di lapangan tenis dan ada angin sepoi-sepoi jadinya merinding, kali ya).
Tapi serius, muspus anak TA periode 2000-2009 membuat saya seolah mampu membayangkan suasana dan makna puisi dengan tepat. Mungkin, itulah yang membuat kami selalu juara kala itu.

Mencoba Eksperimen Baru

Tahun 2010, generasi saya mencoba membuat lagu dengan genre ballad dan hasilnya kami gagal total. Singkatnya kami kalah (tidak mendapat juara 1) di berbagai lomba yg diadakan pada periode itu.

Setelah kekalahan yang cenderung menyakitkan, kami tetap berkarya dan mencoba memberi warna baru pada muspus TA. Mayun, Wisnu, Krisna, dan Edo menjadi inisiator perubahan dengan mengubah genre menjadi sedikit pop (easy listening), menambahkan instrumen bass (awalnya bass sangat ditabukan di muspus TA), vokalis wanita hanya 2 (biasanya kalau di TA suara cewek dan cowoknya banyak) namun tetap mempertahankan ciri khas bisa membuat orang “merinding” ketika mendengarkan karya TA.

Awalnya terjadi pro dan kontra ketika kami dengarkan pada alumni yang cenderung mempertahankan muspus itu harus ballad. Mungkin perubahan yang kami lakukan cukup ekstrim pada masa itu. Lagu “Tong Potong Roti” yang kami aransemen (kini bisa diunduh di laman youtube.com) adalah lagu yang diikutsertakan dalam lomba musikalisasi di Jembrana kala itu.

Beberapa orang berpendapat bahwa kami gagal menyampaikan makna dan membangkitkan suasana puisi tersebut. Namun, kami tetap pede dan terus berkarya.

Inipun terus kami lakukan pada aransemen setelahnya yakni, Sajak Kembang Melati (Puisi karya Dhenok Kristianti) dan Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi (karya Goenawan Mohamad). Kami kembali pada “akarnya” muspus TA namun tetap dengan gaya kami sendiri. Alhasil, 3 muspus tersebut sering dinyanyikan oleh generasi TA sekarang.

Dari sinilah kami berpikir, benarkah muspus mesti selalu ditempatkan pada ruang yang ‘seram’? Atau boleh jadi muspus tak ubahnya seperti lagu biasa yang semestinya memuat orang ingin mendengar lagi dan lagi?

Menuju Pemahaman yang Berbeda

Tamat dari SMA, beberapa alumni Teater Angin masih eksis di bidang musikalisasi puisi. Yodie Aryantika (alumni tahun 2004) sering diundang untuk menjadi juri muspus dan memiliki beberapa karya setelah lulus SMA. Hendika (ditambah beberapa alumni tahun 2005-2012) menghimpun diri dalam Komunitas Senang Bertemu Dengan Anda (SBDA).

Mereka tetap dengan jalur ballad, terutama SDBA. Komunitas ini mempertahankan “roh” muspus TA dan membawa kearah yang berbeda. Berbeda yang saya maksud di sini adalah nada-nada mereka sekarang lebih mudah dihafal dan diingat.

Lalu berikutnya, Mayun, kawan angkatan saya yang sedari dulu bingung, selalu gonta-ganti komunitas, kini meneguhkan diri membentuk EUGENIA. Di sinilah ia bebas bereksplorasi dengan paham “easy listening”-nya. Ada beberapa muspusnya yang beraliran pop, jazz, smooth jazz. Yang paling menarik bagi saya adalah aransemen puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono (bisa ditonton via youtube.com dengan keyword Eugenia all I ask).

Dari SDBA maupun EUGENIA, saya melihat mereka membawa musikalisasi puisi kearah yang berbeda. SBDA membawanya ke arah apresiasi sastra yang tetap berpegang teguh pada teks sedangkan EUGENIA menempatkan musikalisasi puisi untuk lebih dekat dengan pendengarnya.


Tujuan Awal

Kalau boleh berpendapat, perkembangan muspus di Bali cenderung mengalami stagnansi. Hal ini disebabkan karena telah terbentuk pakem-pakem yang justru mengancam punahnya masyarakat yang ingin mendalami cabang ini.

Sampai hari ini, hanya beberapa komunitas dan teater yang berani melakukan suatu gebrakan atau inovasi agar musikalisasi puisi bisa diterima di kalangan masyarakat umum dan makin banyak generasi muda yang ingin mencipta musikalisasi puisi.

Pada workshop musik puisi yang mengundang Fileski sebagai pembicara, saya mendapat beberapa poin penting. Pertama, musikalisasi puisi/muspus/musik puisi ibarat sebuah katalisator yang mempercepat pengenalan puisi pada masyarakat. Kasarnya, puisi itu susah dipahami, kata-kata yang cenderung ribet, dan masih ada berjuta alasan mengenai puisi.

Nah, dengan musikalisasi puisi yang tepat dari sisi pemaknaan dan nada yang mudah diingat akan mempermudah “pendekatan” oleh puisi kepada masyarakat luas. Contoh, lagu Panggung Sandiwara yang dipopulerkan oleh God Bless. Itu puisi karya Taufik Ismail.

Kedua, jangan kotak-kotakan atau jangan dipakemkan suatu musikalisasi puisi. Maksudnya biarlah kita bereksplorasi dengan genre yang kita sukai. Dibawa ke jazz boleh, blues boleh asal tetap suasana dan makna puisi bisa tersampaikan secara benar kepada masyarakat.

Kalau mas Jengki bilang (sewaktu lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan oleh Disperindag Kota Denpasar 28-30 Oktober 2016) kurang lebih seperti ini, “jangan kau sakiti puisi itu. Mereka sudah memiliki jiwa sendiri. Dan jangan kau lecehkan dengan aransemen yang tidak tepat”.

Tapi, kalau pendapatku semua orang memiliki interpretasi berbeda tentang puisi. Kalau mau aransemen muspus, tanya juga orang yang mengerti sastra terutama puisi supaya tidak salah makna dan suasana.

Nah, dari hal yang saya sampaikan ini, mungkinkah akan ditemui pada lomba yang akan digelar oleh Komunitas Kertas Budaya? Mengingat, lomba ini bukanlah Musikalisasi Puisi, melainkan Menyanyikan Puisi.

Apakah yang membedakannya? Bisakah lomba ini memberi warna tersendiri jika dibandingkan dengan lomba yang sudah diadakan sebelumnya?

Maka, saudara-saudara, segeralah minta izin kepada ortu, pacar, atau selingkuhan untuk singgah barang dua sampai tiga hari. Tak perlu membawa bekal yang berlebihan, sebab panggung lomba pun bisa menjadi tempat bermukim, menghabiskan malam bersama kawan-kawan Jembrana dan peserta lomba lainnya.

Masalah konsumsi? Tak usah khawatir. Sudah ada rompyok kopi yang senantiasa menyajikan berbagai makanan dan minuman seperti cinta Om Nanoq padamu. Jadi, apalagikah yang mesti ditunggu? (T)

Tags: musikPuisiTeaterTeater Angin
Share71TweetSendShareSend
Previous Post

Tes Guru di Karangasem: Menanti Balasan dari Gadis yang Sudah Lama “Ditembak”

Next Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Bayu Suwiartha

Bayu Suwiartha

Sarjana Jurusan Matematika, Unud. Menjadi manajer kelompok musikalisasi puisi EUGENIA. Punya studio rekaman Ba’N’ Ba Pro. Alumni Teater Angin SMA N 1 Denpasar.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co