24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda

Bayu Suwiartha by Bayu Suwiartha
February 2, 2018
in Esai

Foto: http://wulandewisaraswati.blogspot.co.id

SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan menampilkan puluhan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Bali.

Bagi saya dan kawan-kawan yang dulu sempat mencecap manis pahit ber-muspus ria di Teater Angin SMA N 1 Denpasar, acara lomba musikalisasi puisi (kini menyanyikan puisi) yang digelar Komunitas Kertas Budaya ini selalu menyisakan kenangan yang tak habisnya untuk diperbincangkan.

Dalam rangka itulah, saya yang papa dan awam dalam dunia per-muspus-an memberanikan diri urung tulisan untuk menggenapi kemeriahan lomba yang akan digelar nantinya. Seperti pepatah bilang, ada gula, ada semut. Ada yang lomba, tentu mesti ada tukang sorak-sorainya. Betul?

Bila boleh jujur, dapat dikatakan bahwa musikalisasi puisi (mari kita sepakati untuk penyebutan berikutnya dengan muspus) cenderung sudah menemukan “pakem”nya sendiri. Jika kita melihat karya dari tahun 2000-an hingga sekarang, kebanyakan musikalisasi puisi yang hadir mengambil genre ballad.

Genre ballad mampu mewadahi puisi yang rata-rata menceritakan kisah yang dramatik sehingga sesuai dengan karakter musik ballad yang menceritakan sebuah kisah dan bisa menjadi dramatik. Akibatnya, banyak karya muspus cenderung beraliran ballad.

Untuk alat musik yang digunakan, biasanya menggunakan alat musik non elektrik seperti gitar akustik, jimbe, flute. Beberapa kali, sempat pula saya menonton, ada yang menggunakan benda-benda sekitar seperti tong sampah, besi gelontongan yang dipukul dan barang-barang bekas. Bahkan ada yang menggunakan anggota tubuhnya seperti bibir (bersiul atau format acapela).

Jadi dalam hal penggunaan alat, para penggiat muspus cukup kreatif dalam memadukan berbagai alat musik dan barang-barang yang ada di sekitar mereka untuk proses kreatif mencipta musikalisasi puisi.

Hal yang hampir sama saya alami ketika masih berproses di Teater Angin pada 2009 hingga 2012. Pertama kali berproses, saya rajin didengarkan karya-karya dari album Tentang Angin I dan II. Kesan pertama saya kala itu, musiknya begitu sederhana dan kedengaran seperti lagu tempoe doeloe. Namun, makna dan suasana puisi bisa tersampaikan. Setelah saya perhatikan, ciri khas dari muspus anak TA ialah merinding di beberapa lagu (barangkali karena mendengarnya di lapangan tenis dan ada angin sepoi-sepoi jadinya merinding, kali ya).
Tapi serius, muspus anak TA periode 2000-2009 membuat saya seolah mampu membayangkan suasana dan makna puisi dengan tepat. Mungkin, itulah yang membuat kami selalu juara kala itu.

Mencoba Eksperimen Baru

Tahun 2010, generasi saya mencoba membuat lagu dengan genre ballad dan hasilnya kami gagal total. Singkatnya kami kalah (tidak mendapat juara 1) di berbagai lomba yg diadakan pada periode itu.

Setelah kekalahan yang cenderung menyakitkan, kami tetap berkarya dan mencoba memberi warna baru pada muspus TA. Mayun, Wisnu, Krisna, dan Edo menjadi inisiator perubahan dengan mengubah genre menjadi sedikit pop (easy listening), menambahkan instrumen bass (awalnya bass sangat ditabukan di muspus TA), vokalis wanita hanya 2 (biasanya kalau di TA suara cewek dan cowoknya banyak) namun tetap mempertahankan ciri khas bisa membuat orang “merinding” ketika mendengarkan karya TA.

Awalnya terjadi pro dan kontra ketika kami dengarkan pada alumni yang cenderung mempertahankan muspus itu harus ballad. Mungkin perubahan yang kami lakukan cukup ekstrim pada masa itu. Lagu “Tong Potong Roti” yang kami aransemen (kini bisa diunduh di laman youtube.com) adalah lagu yang diikutsertakan dalam lomba musikalisasi di Jembrana kala itu.

Beberapa orang berpendapat bahwa kami gagal menyampaikan makna dan membangkitkan suasana puisi tersebut. Namun, kami tetap pede dan terus berkarya.

Inipun terus kami lakukan pada aransemen setelahnya yakni, Sajak Kembang Melati (Puisi karya Dhenok Kristianti) dan Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi (karya Goenawan Mohamad). Kami kembali pada “akarnya” muspus TA namun tetap dengan gaya kami sendiri. Alhasil, 3 muspus tersebut sering dinyanyikan oleh generasi TA sekarang.

Dari sinilah kami berpikir, benarkah muspus mesti selalu ditempatkan pada ruang yang ‘seram’? Atau boleh jadi muspus tak ubahnya seperti lagu biasa yang semestinya memuat orang ingin mendengar lagi dan lagi?

Menuju Pemahaman yang Berbeda

Tamat dari SMA, beberapa alumni Teater Angin masih eksis di bidang musikalisasi puisi. Yodie Aryantika (alumni tahun 2004) sering diundang untuk menjadi juri muspus dan memiliki beberapa karya setelah lulus SMA. Hendika (ditambah beberapa alumni tahun 2005-2012) menghimpun diri dalam Komunitas Senang Bertemu Dengan Anda (SBDA).

Mereka tetap dengan jalur ballad, terutama SDBA. Komunitas ini mempertahankan “roh” muspus TA dan membawa kearah yang berbeda. Berbeda yang saya maksud di sini adalah nada-nada mereka sekarang lebih mudah dihafal dan diingat.

Lalu berikutnya, Mayun, kawan angkatan saya yang sedari dulu bingung, selalu gonta-ganti komunitas, kini meneguhkan diri membentuk EUGENIA. Di sinilah ia bebas bereksplorasi dengan paham “easy listening”-nya. Ada beberapa muspusnya yang beraliran pop, jazz, smooth jazz. Yang paling menarik bagi saya adalah aransemen puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono (bisa ditonton via youtube.com dengan keyword Eugenia all I ask).

Dari SDBA maupun EUGENIA, saya melihat mereka membawa musikalisasi puisi kearah yang berbeda. SBDA membawanya ke arah apresiasi sastra yang tetap berpegang teguh pada teks sedangkan EUGENIA menempatkan musikalisasi puisi untuk lebih dekat dengan pendengarnya.


Tujuan Awal

Kalau boleh berpendapat, perkembangan muspus di Bali cenderung mengalami stagnansi. Hal ini disebabkan karena telah terbentuk pakem-pakem yang justru mengancam punahnya masyarakat yang ingin mendalami cabang ini.

Sampai hari ini, hanya beberapa komunitas dan teater yang berani melakukan suatu gebrakan atau inovasi agar musikalisasi puisi bisa diterima di kalangan masyarakat umum dan makin banyak generasi muda yang ingin mencipta musikalisasi puisi.

Pada workshop musik puisi yang mengundang Fileski sebagai pembicara, saya mendapat beberapa poin penting. Pertama, musikalisasi puisi/muspus/musik puisi ibarat sebuah katalisator yang mempercepat pengenalan puisi pada masyarakat. Kasarnya, puisi itu susah dipahami, kata-kata yang cenderung ribet, dan masih ada berjuta alasan mengenai puisi.

Nah, dengan musikalisasi puisi yang tepat dari sisi pemaknaan dan nada yang mudah diingat akan mempermudah “pendekatan” oleh puisi kepada masyarakat luas. Contoh, lagu Panggung Sandiwara yang dipopulerkan oleh God Bless. Itu puisi karya Taufik Ismail.

Kedua, jangan kotak-kotakan atau jangan dipakemkan suatu musikalisasi puisi. Maksudnya biarlah kita bereksplorasi dengan genre yang kita sukai. Dibawa ke jazz boleh, blues boleh asal tetap suasana dan makna puisi bisa tersampaikan secara benar kepada masyarakat.

Kalau mas Jengki bilang (sewaktu lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan oleh Disperindag Kota Denpasar 28-30 Oktober 2016) kurang lebih seperti ini, “jangan kau sakiti puisi itu. Mereka sudah memiliki jiwa sendiri. Dan jangan kau lecehkan dengan aransemen yang tidak tepat”.

Tapi, kalau pendapatku semua orang memiliki interpretasi berbeda tentang puisi. Kalau mau aransemen muspus, tanya juga orang yang mengerti sastra terutama puisi supaya tidak salah makna dan suasana.

Nah, dari hal yang saya sampaikan ini, mungkinkah akan ditemui pada lomba yang akan digelar oleh Komunitas Kertas Budaya? Mengingat, lomba ini bukanlah Musikalisasi Puisi, melainkan Menyanyikan Puisi.

Apakah yang membedakannya? Bisakah lomba ini memberi warna tersendiri jika dibandingkan dengan lomba yang sudah diadakan sebelumnya?

Maka, saudara-saudara, segeralah minta izin kepada ortu, pacar, atau selingkuhan untuk singgah barang dua sampai tiga hari. Tak perlu membawa bekal yang berlebihan, sebab panggung lomba pun bisa menjadi tempat bermukim, menghabiskan malam bersama kawan-kawan Jembrana dan peserta lomba lainnya.

Masalah konsumsi? Tak usah khawatir. Sudah ada rompyok kopi yang senantiasa menyajikan berbagai makanan dan minuman seperti cinta Om Nanoq padamu. Jadi, apalagikah yang mesti ditunggu? (T)

Tags: musikPuisiTeaterTeater Angin
Share71TweetSendShareSend
Previous Post

Tes Guru di Karangasem: Menanti Balasan dari Gadis yang Sudah Lama “Ditembak”

Next Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Bayu Suwiartha

Bayu Suwiartha

Sarjana Jurusan Matematika, Unud. Menjadi manajer kelompok musikalisasi puisi EUGENIA. Punya studio rekaman Ba’N’ Ba Pro. Alumni Teater Angin SMA N 1 Denpasar.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co