26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda

Bayu Suwiartha by Bayu Suwiartha
February 2, 2018
in Esai

Foto: http://wulandewisaraswati.blogspot.co.id

SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan menampilkan puluhan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Bali.

Bagi saya dan kawan-kawan yang dulu sempat mencecap manis pahit ber-muspus ria di Teater Angin SMA N 1 Denpasar, acara lomba musikalisasi puisi (kini menyanyikan puisi) yang digelar Komunitas Kertas Budaya ini selalu menyisakan kenangan yang tak habisnya untuk diperbincangkan.

Dalam rangka itulah, saya yang papa dan awam dalam dunia per-muspus-an memberanikan diri urung tulisan untuk menggenapi kemeriahan lomba yang akan digelar nantinya. Seperti pepatah bilang, ada gula, ada semut. Ada yang lomba, tentu mesti ada tukang sorak-sorainya. Betul?

Bila boleh jujur, dapat dikatakan bahwa musikalisasi puisi (mari kita sepakati untuk penyebutan berikutnya dengan muspus) cenderung sudah menemukan “pakem”nya sendiri. Jika kita melihat karya dari tahun 2000-an hingga sekarang, kebanyakan musikalisasi puisi yang hadir mengambil genre ballad.

Genre ballad mampu mewadahi puisi yang rata-rata menceritakan kisah yang dramatik sehingga sesuai dengan karakter musik ballad yang menceritakan sebuah kisah dan bisa menjadi dramatik. Akibatnya, banyak karya muspus cenderung beraliran ballad.

Untuk alat musik yang digunakan, biasanya menggunakan alat musik non elektrik seperti gitar akustik, jimbe, flute. Beberapa kali, sempat pula saya menonton, ada yang menggunakan benda-benda sekitar seperti tong sampah, besi gelontongan yang dipukul dan barang-barang bekas. Bahkan ada yang menggunakan anggota tubuhnya seperti bibir (bersiul atau format acapela).

Jadi dalam hal penggunaan alat, para penggiat muspus cukup kreatif dalam memadukan berbagai alat musik dan barang-barang yang ada di sekitar mereka untuk proses kreatif mencipta musikalisasi puisi.

Hal yang hampir sama saya alami ketika masih berproses di Teater Angin pada 2009 hingga 2012. Pertama kali berproses, saya rajin didengarkan karya-karya dari album Tentang Angin I dan II. Kesan pertama saya kala itu, musiknya begitu sederhana dan kedengaran seperti lagu tempoe doeloe. Namun, makna dan suasana puisi bisa tersampaikan. Setelah saya perhatikan, ciri khas dari muspus anak TA ialah merinding di beberapa lagu (barangkali karena mendengarnya di lapangan tenis dan ada angin sepoi-sepoi jadinya merinding, kali ya).
Tapi serius, muspus anak TA periode 2000-2009 membuat saya seolah mampu membayangkan suasana dan makna puisi dengan tepat. Mungkin, itulah yang membuat kami selalu juara kala itu.

Mencoba Eksperimen Baru

Tahun 2010, generasi saya mencoba membuat lagu dengan genre ballad dan hasilnya kami gagal total. Singkatnya kami kalah (tidak mendapat juara 1) di berbagai lomba yg diadakan pada periode itu.

Setelah kekalahan yang cenderung menyakitkan, kami tetap berkarya dan mencoba memberi warna baru pada muspus TA. Mayun, Wisnu, Krisna, dan Edo menjadi inisiator perubahan dengan mengubah genre menjadi sedikit pop (easy listening), menambahkan instrumen bass (awalnya bass sangat ditabukan di muspus TA), vokalis wanita hanya 2 (biasanya kalau di TA suara cewek dan cowoknya banyak) namun tetap mempertahankan ciri khas bisa membuat orang “merinding” ketika mendengarkan karya TA.

Awalnya terjadi pro dan kontra ketika kami dengarkan pada alumni yang cenderung mempertahankan muspus itu harus ballad. Mungkin perubahan yang kami lakukan cukup ekstrim pada masa itu. Lagu “Tong Potong Roti” yang kami aransemen (kini bisa diunduh di laman youtube.com) adalah lagu yang diikutsertakan dalam lomba musikalisasi di Jembrana kala itu.

Beberapa orang berpendapat bahwa kami gagal menyampaikan makna dan membangkitkan suasana puisi tersebut. Namun, kami tetap pede dan terus berkarya.

Inipun terus kami lakukan pada aransemen setelahnya yakni, Sajak Kembang Melati (Puisi karya Dhenok Kristianti) dan Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi (karya Goenawan Mohamad). Kami kembali pada “akarnya” muspus TA namun tetap dengan gaya kami sendiri. Alhasil, 3 muspus tersebut sering dinyanyikan oleh generasi TA sekarang.

Dari sinilah kami berpikir, benarkah muspus mesti selalu ditempatkan pada ruang yang ‘seram’? Atau boleh jadi muspus tak ubahnya seperti lagu biasa yang semestinya memuat orang ingin mendengar lagi dan lagi?

Menuju Pemahaman yang Berbeda

Tamat dari SMA, beberapa alumni Teater Angin masih eksis di bidang musikalisasi puisi. Yodie Aryantika (alumni tahun 2004) sering diundang untuk menjadi juri muspus dan memiliki beberapa karya setelah lulus SMA. Hendika (ditambah beberapa alumni tahun 2005-2012) menghimpun diri dalam Komunitas Senang Bertemu Dengan Anda (SBDA).

Mereka tetap dengan jalur ballad, terutama SDBA. Komunitas ini mempertahankan “roh” muspus TA dan membawa kearah yang berbeda. Berbeda yang saya maksud di sini adalah nada-nada mereka sekarang lebih mudah dihafal dan diingat.

Lalu berikutnya, Mayun, kawan angkatan saya yang sedari dulu bingung, selalu gonta-ganti komunitas, kini meneguhkan diri membentuk EUGENIA. Di sinilah ia bebas bereksplorasi dengan paham “easy listening”-nya. Ada beberapa muspusnya yang beraliran pop, jazz, smooth jazz. Yang paling menarik bagi saya adalah aransemen puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono (bisa ditonton via youtube.com dengan keyword Eugenia all I ask).

Dari SDBA maupun EUGENIA, saya melihat mereka membawa musikalisasi puisi kearah yang berbeda. SBDA membawanya ke arah apresiasi sastra yang tetap berpegang teguh pada teks sedangkan EUGENIA menempatkan musikalisasi puisi untuk lebih dekat dengan pendengarnya.


Tujuan Awal

Kalau boleh berpendapat, perkembangan muspus di Bali cenderung mengalami stagnansi. Hal ini disebabkan karena telah terbentuk pakem-pakem yang justru mengancam punahnya masyarakat yang ingin mendalami cabang ini.

Sampai hari ini, hanya beberapa komunitas dan teater yang berani melakukan suatu gebrakan atau inovasi agar musikalisasi puisi bisa diterima di kalangan masyarakat umum dan makin banyak generasi muda yang ingin mencipta musikalisasi puisi.

Pada workshop musik puisi yang mengundang Fileski sebagai pembicara, saya mendapat beberapa poin penting. Pertama, musikalisasi puisi/muspus/musik puisi ibarat sebuah katalisator yang mempercepat pengenalan puisi pada masyarakat. Kasarnya, puisi itu susah dipahami, kata-kata yang cenderung ribet, dan masih ada berjuta alasan mengenai puisi.

Nah, dengan musikalisasi puisi yang tepat dari sisi pemaknaan dan nada yang mudah diingat akan mempermudah “pendekatan” oleh puisi kepada masyarakat luas. Contoh, lagu Panggung Sandiwara yang dipopulerkan oleh God Bless. Itu puisi karya Taufik Ismail.

Kedua, jangan kotak-kotakan atau jangan dipakemkan suatu musikalisasi puisi. Maksudnya biarlah kita bereksplorasi dengan genre yang kita sukai. Dibawa ke jazz boleh, blues boleh asal tetap suasana dan makna puisi bisa tersampaikan secara benar kepada masyarakat.

Kalau mas Jengki bilang (sewaktu lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan oleh Disperindag Kota Denpasar 28-30 Oktober 2016) kurang lebih seperti ini, “jangan kau sakiti puisi itu. Mereka sudah memiliki jiwa sendiri. Dan jangan kau lecehkan dengan aransemen yang tidak tepat”.

Tapi, kalau pendapatku semua orang memiliki interpretasi berbeda tentang puisi. Kalau mau aransemen muspus, tanya juga orang yang mengerti sastra terutama puisi supaya tidak salah makna dan suasana.

Nah, dari hal yang saya sampaikan ini, mungkinkah akan ditemui pada lomba yang akan digelar oleh Komunitas Kertas Budaya? Mengingat, lomba ini bukanlah Musikalisasi Puisi, melainkan Menyanyikan Puisi.

Apakah yang membedakannya? Bisakah lomba ini memberi warna tersendiri jika dibandingkan dengan lomba yang sudah diadakan sebelumnya?

Maka, saudara-saudara, segeralah minta izin kepada ortu, pacar, atau selingkuhan untuk singgah barang dua sampai tiga hari. Tak perlu membawa bekal yang berlebihan, sebab panggung lomba pun bisa menjadi tempat bermukim, menghabiskan malam bersama kawan-kawan Jembrana dan peserta lomba lainnya.

Masalah konsumsi? Tak usah khawatir. Sudah ada rompyok kopi yang senantiasa menyajikan berbagai makanan dan minuman seperti cinta Om Nanoq padamu. Jadi, apalagikah yang mesti ditunggu? (T)

Tags: musikPuisiTeaterTeater Angin
Share71TweetSendShareSend
Previous Post

Tes Guru di Karangasem: Menanti Balasan dari Gadis yang Sudah Lama “Ditembak”

Next Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Bayu Suwiartha

Bayu Suwiartha

Sarjana Jurusan Matematika, Unud. Menjadi manajer kelompok musikalisasi puisi EUGENIA. Punya studio rekaman Ba’N’ Ba Pro. Alumni Teater Angin SMA N 1 Denpasar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Liburan Mahasiswa Semester 7 dan Pertanyaan-Pertanyaan yang tak Asyik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co