30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warna Baru dalam Ekosistem Perfilman di Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
January 21, 2024
in Khas
Warna Baru dalam Ekosistem Perfilman di Singaraja

Suasana pemutaran dan diskusi film "Prim Art Edition" | Foto: Singaraja Menonton

“AWALNYA karena pandemi. Karena tidak banyak kerjaan, iseng-iseng bikin film,” kata Agus Primarta, agak terbata. Hadirin menyimaknya dengan serius. Pandemi, mungkin memang jahat; menghancurkan sebagian kehidupan. Dan menyerah adalah jalan yang paling mudah. Tapi, kata Mumu Aloha, hidup pada zaman teknologi yang memberikan jalan alternatif dan berbagai kemungkinan lain yang nyaris tiada batas, menempuh jalan paling mudah rasanya bukan pilihan yang elok.

Orang-orang berdatangan ke kedai kopi sederhana di Jalan Sedap Malam Banyuasri, Singaraja, itu. Pulang tiga, datang lima. Kebanyakan kaula muda. Tetapi, tampaknya tak banyak yang menaruh minat terhadap sekumpulan orang yang sedang berdiskusi tentang film—yang baru saja selesai diputar—yang duduk tepat di sudut paling strategis di kedai kopi deKakiang.

Tapi Gus Prim—panggilan akrab Agus Primarta—tak mengindahkan itu. Meski hanya sedikit orang yang memperhatikan dan menyimaknya, ia tetap berbinar menceritakan proses kreatifnya selama memproduksi beberapa film pendek. “Lalu saya ikut lomba. Dan siapa sangka, film itu dinobatkan sebagai film terbaik dari duaratusan film yang mendaftar,” katanya menggebu. Film yang ia maksud berjudul Seni di Tengah Pandemi yang ia garap bersama timnya pada tahun 2021.

Kardian Narayana dan Agus Primarta pada saat sesi diskusi / Foto: Prim Art

Motivasi Gus Prim memproduksi film pendek salah satunya adalah mengikuti perlombaan yang diselenggarakan di Tanah Air. Pada 2021, film pendek berjudul Seni di Tengah Pandemi yang dia sutradarai dan produksi berhasil meraih Indihome Indie Movie Awards 2021. Sedangkan, di tahun yang sama, film pendeknya yang berjudul Tirta lolos sebagai official selection dalam program Begadang Filmmaking Competition Minikino Film Week 2021.

Sebelum Gus Prim mengungkap perjalanannya menjadi sutradara film pendek, lebih dulu hadirin disajikan lima film yang pernah ia produksi, yakni Made (2022), Tirta (2021), Sesal (2021), Seni di Tengah Pandemi (2021), dan Nyambutin (2021). Pemutaran dan diskusi film yang bertajuk “Prim Art Edition” itu  diselenggarakan oleh komunitas mikro sinema Singaraja Menonton yang bekerjasama dengan Kedai deKakiang, Jumat (20/1/2024) malam.

Made adalah sebuah film pendek fiksi berdurasi 07.53 menit. Film ini bercerita tentang keinginan seseorang anak kecil bernama Made. Namun, karena kondisi kehidupan yang tidak berpihak, ia harus mengubur keinginannya itu. Sedangkan empat film lainnya, semua berkisah tentang kondisi Covid-19, dari dilema seniman, sampai upacara keagamaan yang dibatasi dan penuh aturan atas satu alasan: demi keselamatan dan kebaikan bersama.

Suasana pemutaran dan diskusi film “Prim Art Edition” / Foto: Singaraja Menonton

Kelima film yang diputar tidak luput dari komentar dan kritik. Budayawan sekaligus wartawan senior Made Adnyana Ole mengatakan bahwa film-film yang dibikin Gus Prim memiliki kelemahan dari segi cerita. Gus Prim dinilai gagal dalam membuat alur yang membuat penonton penasaran. Menurut Pemred tatkala.co itu, beberapa alur cerita, khususnya dalam film Made, mengabaikan nalar dan logika.

“Kalau bikin cerita, puncak konflik itu bukan di ending. Tapi ada di beberapa adegan sebelum ending,” Ole menjelaskan. Gus Prim mengangguk-angguk sembari serius mendengarkan. Sepertinya ia sangat berterima kasih kepada tokoh yang dianggapnya “guru” itu.

Tetapi, terlepas dari saran dan kritik Made Adnyana Ole, satu hal yang harus diakui adalah bahwa Gus Prim termasuk sutradara muda yang cukup produktif, sebagaimana dikatakan Kardian Narayana, Direktur Program Singaraja Menonton, saat membuka diskusi.

“Bahkan dia berhasil memiliki semacam kelompok film sendiri dan tumbuh bersama. Di Buleleng, dia termasuk sutradara yang produktif,” ujar Kardian.

Apa yang dikatakan Kardian ada benarnya. Selain produktif, Gus Prim juga memiliki tim yang solid. Bayangkan, selama tahun 2021, setidaknya mereka berhasil memproduksi empat film. Kondisi ini tentu merupakan kabar baik bagi ekosistem perfilman di Singaraja. Mengingat, sejauh ini, selain Sang Karsa, nyaris tak ada kelompok lain di Singaraja yang produktif dan serius dalam menghasilkan film.

“Kami masih menggunakan dana pribadi setiap kali memproduksi film. Aktor-aktornya pun temen-temen sendiri,” kata Gus Prim melanjutkan ceritanya. Ini adalah kenyataan yang harus dihadapi setiap kreator. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan.

Suasana pemutaran dan diskusi film “Prim Art Edition” / Foto: Prim Art

Gus Prim memang bukan satu-satunya sutradara muda di Buleleng, tapi apa yang dilakukannya bersama timnya yang tergabung dalam Prim Art Production adalah sebuah ikhtiar yang harus didukung dan diapresiasi. Pasalnya, diakui atau tidak, Prim Art Production telah memberi semangat dan warna baru dalam dunia film di Kota Pendidikan ini. Ia, juga Singaraja Menonton barangkali, dapat menjadi pupuk untuk menumbuh-kembangkan dan mendukung ekosistem perfilman di Singaraja menjadi lebih baik.  

Berbicara ekosistem kesenian, termasuk film, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan: kreasi, manajemen produksi, distribusi, konsumsi, dan apresiasi. Jika kelima hal tersebut sudah berada di dalam satu tempat yang sama, maka ekosistem kesenian baru bisa dibilang sehat. Sebab, satu saja hilang dari rel tersebut, sulit rasanya membayangkan sebuah kesenian dapat berlangsung-berkembang sampai pada titik kemajuan.

“Next, saya akan bikin film yang serius untuk festival. Sekarang sedang riset tentang petani cengkih di Tigawasa,” Gus Prim berkomitmen kepada dirinya sendiri dan kepada orang-orang yang hadir sebelum Kardian Narayana menutup acara pemutaran dan diskusi film malam itu.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika
Minikino Film Week 2023 dan Hidupnya Ruang Kolaboratif di Singaraja
Tags: balifilmfilm pendekSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik, sampai Kebudayaan yang Luntur

Next Post

Menilik Perjuangan Organisasi Mahasiswa Pergerakan di Singaraja dalam Mempertahankan Eksistensinya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Menilik Perjuangan Organisasi Mahasiswa Pergerakan di Singaraja dalam Mempertahankan Eksistensinya

Menilik Perjuangan Organisasi Mahasiswa Pergerakan di Singaraja dalam Mempertahankan Eksistensinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co