14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Calon Lawan”: Sebuah Alegori Perebutan Kekuasaan Hari Ini

Jaswanto by Jaswanto
October 25, 2023
in Ulas Pentas
“Calon Lawan”: Sebuah Alegori Perebutan Kekuasaan Hari Ini

Adegan-adegan pertarungan dalam pementasan "Calon Lawan" / Foto: @agusnoor

“Lawan terkuat bukanlah yang terhebat, tapi yang tak terlihat.”

SYAHDAN, di dunia pertarungan bawah tanah terjadi ketegangan antarkelompok yang saling berebut pengaruh dan ingin menjadi pimpinan. Dalam ketegangan, muncul sosok misterius, yang mampu berkelebat lebih cepat dari bayangan. Mereka kemudian menyebutnya sebagai Pendekar Tanpa Bayangan—atau dalam beberapa dialog disebut Pendekar Sakti Tanpa Nama—yang seakan mampu mengendalikan keadaan dalam senyap.

Dua kelompok yang berseteru, kelompok Kapak Emas dan Kelompok Naga Api, mencoba membangun kongsi, menyusun kekuatan bersama untuk menghadapi kekuatan yang tak terlihat itu. Guru Besar kedua perguruan tersebut sampai harus turun gunung untuk menyatukan kekuatan, terlebih ketika mulai terendus adanya kelompok rahasia Burung Putih. Kongsi terbentuk, tetapi rapuh dan gampang digoyah. Banyak yang diam-diam menyimpan ambisi dan memainkan intrik.

Di atas adalah sinopsis pertunjukan yang bertajuk Calon Lawan karya Agus Noor. Karya ini digelar di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada Jumat (20/10/2023) dan Sabtu (21/10/2023). Di dalam karya yang dipentaskan oleh Indonesia Kita—yang dipimpin Butet Kartaredjasa—Agus Noor bekerja dengan Joind Bayuwinanda (asisten sutradara); Josh Marcy (penata tari); Arie Pekar (penata musik); D. Bulqini (penata artistik); Ocklay (penata panggung); Deray Setyadi (penata cahaya); Olla Simatupang (penata kostum); Sena Sukarya (penata rias); Yossy Herman (penata suara); dan Tinton Prianggoro (penata panggung).

Adegan-adegan pertarungan dalam pementasan “Calon Lawan” / Foto: @agusnoor

Untuk pemain, Calon Lawan melibatkan para pesohor seperti Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Inaya Wahid, Yu Ningsih, Wisben, Joned, Mucle, Joel Kriwil, Sri Krishna Encik, Joind Bayuwinanda, kelompok Wushu Inti Bayangan,  dan penyanyi, Oppie Andaresta. Selain itu, ada juga Jakarta Street Music (pemusik) dan Dansity Dance Company (penari).

Berlatar pertarungan antarkelompok pendekar, Calon Lawan sebenarnya adalah pertunjukan alegori tentang berbagai peristiwa hari-hari ini, menjelang perebutan kekuasaan. Pertunjukan dengan durasi nyaris tiga jam lebih itu, menyajikan sesuatu yang berbeda: panggung yang penuh pertarungan adu jotos dan duel, seperti dalam film-film kungfu dan gengster. Dalam hal ini, kelompok Wushu Inti Bayangan sukses menghadirkan adegan-adegan tersebut.

Sebagai sutrada, sebagaimana gaya lakon-lakon yang digarap, Agus Noor tetap menghadirkan humor, satire, dan plot yang tak terduga.

Di sela-sela pertunjukan, Sri Krishna Encik tampil membawakan lagu-lagu milik penyanyi legendaris Sawung Jabo. Sempat disebutkan oleh Agus Noor bahwa selain menyambut pesta elektoral, Calon Lawan sekaligus “merayakan dan menghormati para maestro seni Indonesia” sebagai wujud “selalu berhutang budi dari apa yang dicapai dari pendahulu-pendahulu kita.”

Kritik yang Humoris

Pada awal pertunjukan, setelah dibuka dengan penampilan apik dari tim Wushu Inti Bayangan, melalui Marwoto dan Inaya Wahid, Calon Lawan memberikan lawakan yang banyak mengambil isu sosial yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Misalnya ketika anak buah Marwoto menyinggung soal pajak kepada seorang penjual bunga (Oppie Andaresta) otomatis pajaknya berbunga, dan mengoreksi kalimat temannya tentang ‘asuransi’ menjadi ‘kirikansi’ (anak anjing) karena jumlahnya yang kecil.

Adegan-adegan pertarungan dalam pementasan “Calon Lawan” / Foto: @agusnoor

Para pemain—khususnya Inaya Wahid—juga mengangkat fenomena pemilihan umum yang sedang terjadi di pemerintahan, seperti soal usia yang masih di bawah umur dan MK. Calon wakil presiden, Mahfud MD yang hadir sebagai tamu undangan di pementasan itu, turut menjadi  korban ‘roasting’ para pemain. Sedangkan pasangannya, Ganjar Pranowo, tak berhenti tertawa mendengar celetukan-celetukan satir Inaya dan tingkah konyol duet antara Cak Lontong dan Akbar.

Sampai di sini saya merasa heran mengapa Mahfud MD dan Ganjar tertawa terbahak-bahak, padahal yang Agus Noor dkk. wujudkan adalah satire atas perilaku yang mereka lakukan. Oh, mungkin, dari sini, mereka sedang atau perlu belajar untuk menertawakan diri sendiri.

Seperti biasa, kelompok Indonesia Kita memang senang dengan kritik segar dengan mengusung sentuhan budaya di setiap pementasannya. Menjelang Pemilu 2024, rakyat Indonesia tengah disuguhi berbagai macam calon dengan segala pesona dan jani-janjinya. Semua calon ini akan saling melawan satu sama lain dan mengadu kelebihannya masing-masing untuk memenangi hati rakyat.

Dalam Calon Lawan, calon-calon yang awalnya tampak berlawanan dan bermusuhan, bahkan sampai meletupkan bumbu perseteruan di antara para pendukungnya, pada akhirnya malah berada dalam satu kubu, kongsi. Yang sebelumnya tampak beroposisi, menjadi saling mendukung. Dengan plot yang tak terduga, mana tokoh yang baik dan jahat menjadi kabur, tak tampak, semua tokoh justru dibuat memiliki kedua sifat tersebut. Awalnya kita anggap baik, pada beberapa adegan justru menampakkan sifat sebaliknya: jahat.

Agus Noor, Sawung Jabo, dan Butet Kartaredjasa / Foto: @agusnoor

Hal tersebut tampak jelas dalam adegan menjelang akhir pertunjukkan, saat semua kelompok perguruan bertemu dalam satu tempat di mana Pendekar Tanpa Bayangan atau Tanpa Nama tinggal. Pada adegan tersebut, Cak Lontong (pemimpin perguruan Naga Api), yang awalnya tampak seperti tokoh baik-baik, justru menjelma menjadi tokoh jahat yang telah memasang dinamit dan siap meledakkan semuanya. Ia pula yang menyusupkan orang-orang ke dalam perguruan Kapak Emas—yang dipimpin Marwoto—untuk membuat onar. Semua itu dilakukan Cak Lontong untuk menjadi pemimpin semua perguruan.

Namun, usaha Cak Lontong untuk meledakkan (baca: membunuh atau mengancam) semua orang gagal karena detonatornya—yang dipelesetkan oleh beberapa pemain menjadi vibrator dll, yang lantas membuat penonton tak berhenti tertawa—telah dicuri oleh Akbar (muridnya di perguruan Naga Api). Karena merasa memegang kuasa, Akbar hendak meledakkan dinamit, tapi lagi-lagi gagal karena alat pemicu tersebut telah dicuri oleh penjual bunga sekaligus pujaan hati Akbar (Oppie Andaresta).

Oppie juga tak bisa meledakkan dinamit, sebab detonator yang asli telah diambil oleh Mucle (yang berperan sebagai suami Inaya). Mucle, pemilik toko kelontong miskin itu, juga ingin berkuasa. Tapi ia gagal, sebab Inaya telah mengambil alat tersebut. Pada akhirnya, dinamit itu tak jadi meledak, sebab detonatornya hanya menjadi rebutan. Mereka sibuk berebut, memainkan intrik, menelikung satu sama lain.   

Hal di atas menjadi tamparan terhadap orang-orang yang terlibat dalam perebutan kekuasaan politik praktis. Tamparan tersebut bahkan tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Kendati kita seakan dibuat tertawa, tetapi sebenarnya kita diajak untuk menertawakan kegetiran, kejahatan, kelicikan mereka yang sibuk dengan kekuasaan. Sedangkan sebagai rakyat, kita acap kali menjadi korban.

Manusia memang serigala yang kebahagiaannya terdiri dari “memperoleh kegembiraan.” Sedangkan kegembiraan terletak dalam kepuasan mengkonsumsi dan “mengeruk” komoditi, kekuasaan, pemandangan, makanan, minuman, rokok, kuliah, buku-buku, film-film, semuanya dikonsumsi, ditelan.

Butet dan Yu Ningsih / Foto: @butetkartaredjasa

Dunia merupakan satu obyek besar bagi selera makan kita, kata Erich Fromm. Sebuah apel besar, botol besar, payudara besar; kita adalah pengisapnya, yang selamanya merindukan, mengharapkan—dan selamanya tidak puas. Watak kita disesuaikan untuk menukarkan dan menerima, membuat barter dan mengkonsumsi; segala-galanya, obyek yang spiritual juga material, menjadi suatu obyek tukar-menukar dan obyek konsumsi.

Calon Lawan berusaha menampilkan praktik para pemimpin, dari nasional sampai lokal, yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Lembaga-lembaga negara dan pemerintahan yang sibuk mengorupsi dirinya sendiri. Tak salah bila pada akhirnya mereka merasa sekadar menjadi slilit yang ketlingsut di kegaduhan retorika dan tumpukan hitung-hitungan.

Alhasil menurut hemat saya karya ini menarik, di mana para pemain melakukan kritik dengan cara yang sederhana, implisit, dan penuh homor. Memang, humor—apalagi yang bersifat protes sosial—sangat digemari akhir-akhir ini. Orang-orang yang risau dan tidak puas terhadap keadaan masyarakat maupun polah-tingkah birokrat, demi menjaga keseimbangan jiwa, menumpahkan perasaan ketidakpuasan itu melalui tulisan-tulisan—atau ungkapan-ungkapan, pertunjukan—yang terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius.

Beberapa pengeluaran energi agresif yang bersifat primitif memang tidak bisa dituangkan begitu saja karena adanya batasan dalam masyarakat, maka desas-desus yang hendak disebarluaskan itu diubah dahulu ke dalam lelucon.[T]

BACA ULAS PENTAS lainnya atau baca artikel lain dari JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Tags: Agus NoorTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran MANUSIA: Telur Setengah Matang, Merespon Isu Kehamilan Anak dengan Seni Ala Bali

Next Post

IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi

IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co