14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Calon Lawan”: Sebuah Alegori Perebutan Kekuasaan Hari Ini

Jaswanto by Jaswanto
October 25, 2023
in Ulas Pentas
“Calon Lawan”: Sebuah Alegori Perebutan Kekuasaan Hari Ini

Adegan-adegan pertarungan dalam pementasan "Calon Lawan" / Foto: @agusnoor

“Lawan terkuat bukanlah yang terhebat, tapi yang tak terlihat.”

SYAHDAN, di dunia pertarungan bawah tanah terjadi ketegangan antarkelompok yang saling berebut pengaruh dan ingin menjadi pimpinan. Dalam ketegangan, muncul sosok misterius, yang mampu berkelebat lebih cepat dari bayangan. Mereka kemudian menyebutnya sebagai Pendekar Tanpa Bayangan—atau dalam beberapa dialog disebut Pendekar Sakti Tanpa Nama—yang seakan mampu mengendalikan keadaan dalam senyap.

Dua kelompok yang berseteru, kelompok Kapak Emas dan Kelompok Naga Api, mencoba membangun kongsi, menyusun kekuatan bersama untuk menghadapi kekuatan yang tak terlihat itu. Guru Besar kedua perguruan tersebut sampai harus turun gunung untuk menyatukan kekuatan, terlebih ketika mulai terendus adanya kelompok rahasia Burung Putih. Kongsi terbentuk, tetapi rapuh dan gampang digoyah. Banyak yang diam-diam menyimpan ambisi dan memainkan intrik.

Di atas adalah sinopsis pertunjukan yang bertajuk Calon Lawan karya Agus Noor. Karya ini digelar di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada Jumat (20/10/2023) dan Sabtu (21/10/2023). Di dalam karya yang dipentaskan oleh Indonesia Kita—yang dipimpin Butet Kartaredjasa—Agus Noor bekerja dengan Joind Bayuwinanda (asisten sutradara); Josh Marcy (penata tari); Arie Pekar (penata musik); D. Bulqini (penata artistik); Ocklay (penata panggung); Deray Setyadi (penata cahaya); Olla Simatupang (penata kostum); Sena Sukarya (penata rias); Yossy Herman (penata suara); dan Tinton Prianggoro (penata panggung).

Adegan-adegan pertarungan dalam pementasan “Calon Lawan” / Foto: @agusnoor

Untuk pemain, Calon Lawan melibatkan para pesohor seperti Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Inaya Wahid, Yu Ningsih, Wisben, Joned, Mucle, Joel Kriwil, Sri Krishna Encik, Joind Bayuwinanda, kelompok Wushu Inti Bayangan,  dan penyanyi, Oppie Andaresta. Selain itu, ada juga Jakarta Street Music (pemusik) dan Dansity Dance Company (penari).

Berlatar pertarungan antarkelompok pendekar, Calon Lawan sebenarnya adalah pertunjukan alegori tentang berbagai peristiwa hari-hari ini, menjelang perebutan kekuasaan. Pertunjukan dengan durasi nyaris tiga jam lebih itu, menyajikan sesuatu yang berbeda: panggung yang penuh pertarungan adu jotos dan duel, seperti dalam film-film kungfu dan gengster. Dalam hal ini, kelompok Wushu Inti Bayangan sukses menghadirkan adegan-adegan tersebut.

Sebagai sutrada, sebagaimana gaya lakon-lakon yang digarap, Agus Noor tetap menghadirkan humor, satire, dan plot yang tak terduga.

Di sela-sela pertunjukan, Sri Krishna Encik tampil membawakan lagu-lagu milik penyanyi legendaris Sawung Jabo. Sempat disebutkan oleh Agus Noor bahwa selain menyambut pesta elektoral, Calon Lawan sekaligus “merayakan dan menghormati para maestro seni Indonesia” sebagai wujud “selalu berhutang budi dari apa yang dicapai dari pendahulu-pendahulu kita.”

Kritik yang Humoris

Pada awal pertunjukan, setelah dibuka dengan penampilan apik dari tim Wushu Inti Bayangan, melalui Marwoto dan Inaya Wahid, Calon Lawan memberikan lawakan yang banyak mengambil isu sosial yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Misalnya ketika anak buah Marwoto menyinggung soal pajak kepada seorang penjual bunga (Oppie Andaresta) otomatis pajaknya berbunga, dan mengoreksi kalimat temannya tentang ‘asuransi’ menjadi ‘kirikansi’ (anak anjing) karena jumlahnya yang kecil.

Adegan-adegan pertarungan dalam pementasan “Calon Lawan” / Foto: @agusnoor

Para pemain—khususnya Inaya Wahid—juga mengangkat fenomena pemilihan umum yang sedang terjadi di pemerintahan, seperti soal usia yang masih di bawah umur dan MK. Calon wakil presiden, Mahfud MD yang hadir sebagai tamu undangan di pementasan itu, turut menjadi  korban ‘roasting’ para pemain. Sedangkan pasangannya, Ganjar Pranowo, tak berhenti tertawa mendengar celetukan-celetukan satir Inaya dan tingkah konyol duet antara Cak Lontong dan Akbar.

Sampai di sini saya merasa heran mengapa Mahfud MD dan Ganjar tertawa terbahak-bahak, padahal yang Agus Noor dkk. wujudkan adalah satire atas perilaku yang mereka lakukan. Oh, mungkin, dari sini, mereka sedang atau perlu belajar untuk menertawakan diri sendiri.

Seperti biasa, kelompok Indonesia Kita memang senang dengan kritik segar dengan mengusung sentuhan budaya di setiap pementasannya. Menjelang Pemilu 2024, rakyat Indonesia tengah disuguhi berbagai macam calon dengan segala pesona dan jani-janjinya. Semua calon ini akan saling melawan satu sama lain dan mengadu kelebihannya masing-masing untuk memenangi hati rakyat.

Dalam Calon Lawan, calon-calon yang awalnya tampak berlawanan dan bermusuhan, bahkan sampai meletupkan bumbu perseteruan di antara para pendukungnya, pada akhirnya malah berada dalam satu kubu, kongsi. Yang sebelumnya tampak beroposisi, menjadi saling mendukung. Dengan plot yang tak terduga, mana tokoh yang baik dan jahat menjadi kabur, tak tampak, semua tokoh justru dibuat memiliki kedua sifat tersebut. Awalnya kita anggap baik, pada beberapa adegan justru menampakkan sifat sebaliknya: jahat.

Agus Noor, Sawung Jabo, dan Butet Kartaredjasa / Foto: @agusnoor

Hal tersebut tampak jelas dalam adegan menjelang akhir pertunjukkan, saat semua kelompok perguruan bertemu dalam satu tempat di mana Pendekar Tanpa Bayangan atau Tanpa Nama tinggal. Pada adegan tersebut, Cak Lontong (pemimpin perguruan Naga Api), yang awalnya tampak seperti tokoh baik-baik, justru menjelma menjadi tokoh jahat yang telah memasang dinamit dan siap meledakkan semuanya. Ia pula yang menyusupkan orang-orang ke dalam perguruan Kapak Emas—yang dipimpin Marwoto—untuk membuat onar. Semua itu dilakukan Cak Lontong untuk menjadi pemimpin semua perguruan.

Namun, usaha Cak Lontong untuk meledakkan (baca: membunuh atau mengancam) semua orang gagal karena detonatornya—yang dipelesetkan oleh beberapa pemain menjadi vibrator dll, yang lantas membuat penonton tak berhenti tertawa—telah dicuri oleh Akbar (muridnya di perguruan Naga Api). Karena merasa memegang kuasa, Akbar hendak meledakkan dinamit, tapi lagi-lagi gagal karena alat pemicu tersebut telah dicuri oleh penjual bunga sekaligus pujaan hati Akbar (Oppie Andaresta).

Oppie juga tak bisa meledakkan dinamit, sebab detonator yang asli telah diambil oleh Mucle (yang berperan sebagai suami Inaya). Mucle, pemilik toko kelontong miskin itu, juga ingin berkuasa. Tapi ia gagal, sebab Inaya telah mengambil alat tersebut. Pada akhirnya, dinamit itu tak jadi meledak, sebab detonatornya hanya menjadi rebutan. Mereka sibuk berebut, memainkan intrik, menelikung satu sama lain.   

Hal di atas menjadi tamparan terhadap orang-orang yang terlibat dalam perebutan kekuasaan politik praktis. Tamparan tersebut bahkan tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Kendati kita seakan dibuat tertawa, tetapi sebenarnya kita diajak untuk menertawakan kegetiran, kejahatan, kelicikan mereka yang sibuk dengan kekuasaan. Sedangkan sebagai rakyat, kita acap kali menjadi korban.

Manusia memang serigala yang kebahagiaannya terdiri dari “memperoleh kegembiraan.” Sedangkan kegembiraan terletak dalam kepuasan mengkonsumsi dan “mengeruk” komoditi, kekuasaan, pemandangan, makanan, minuman, rokok, kuliah, buku-buku, film-film, semuanya dikonsumsi, ditelan.

Butet dan Yu Ningsih / Foto: @butetkartaredjasa

Dunia merupakan satu obyek besar bagi selera makan kita, kata Erich Fromm. Sebuah apel besar, botol besar, payudara besar; kita adalah pengisapnya, yang selamanya merindukan, mengharapkan—dan selamanya tidak puas. Watak kita disesuaikan untuk menukarkan dan menerima, membuat barter dan mengkonsumsi; segala-galanya, obyek yang spiritual juga material, menjadi suatu obyek tukar-menukar dan obyek konsumsi.

Calon Lawan berusaha menampilkan praktik para pemimpin, dari nasional sampai lokal, yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Lembaga-lembaga negara dan pemerintahan yang sibuk mengorupsi dirinya sendiri. Tak salah bila pada akhirnya mereka merasa sekadar menjadi slilit yang ketlingsut di kegaduhan retorika dan tumpukan hitung-hitungan.

Alhasil menurut hemat saya karya ini menarik, di mana para pemain melakukan kritik dengan cara yang sederhana, implisit, dan penuh homor. Memang, humor—apalagi yang bersifat protes sosial—sangat digemari akhir-akhir ini. Orang-orang yang risau dan tidak puas terhadap keadaan masyarakat maupun polah-tingkah birokrat, demi menjaga keseimbangan jiwa, menumpahkan perasaan ketidakpuasan itu melalui tulisan-tulisan—atau ungkapan-ungkapan, pertunjukan—yang terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius.

Beberapa pengeluaran energi agresif yang bersifat primitif memang tidak bisa dituangkan begitu saja karena adanya batasan dalam masyarakat, maka desas-desus yang hendak disebarluaskan itu diubah dahulu ke dalam lelucon.[T]

BACA ULAS PENTAS lainnya atau baca artikel lain dari JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Tags: Agus NoorTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran MANUSIA: Telur Setengah Matang, Merespon Isu Kehamilan Anak dengan Seni Ala Bali

Next Post

IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi

IMBIPU, Ikatan Mahasiswa Bima dan Dompu di Singaraja: Menjaring Ilmu, Menjaring Ikan, Menjaring Relasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co