2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Zakiy Zulkarnaen by Zakiy Zulkarnaen
September 3, 2023
in Khas
Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Gede Eka (Deka), saat menjerang tuak di Dapur Bali Mula | Sket: Zakiy

AKU TAK begitu berminat—hanya untuk coba-coba saja—meminum alkohol di Bandung, kota tempatku berasal. Namun, entah kenapa, pada saat aku berkunjung ke Singaraja, Bali semacam ada dorongan untuk mencicipinya. Ya, bisa dibilang, ini adalah pengalaman ku berkenalan dengan minuman alkohol khas Bali, lebih tepatnya: arak.

Benar. Pengalaman istimewa itu aku alami pada saat berkunjung ke rumah produksi arak tradisional di kediaman Jero Mangku Yudi, tepatnya di Dapur Bali Mula, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di sana, setelah makan, tuan rumah biasa menawari tamu untuk mencoba arak langsung dari guci-guci yang dipajang di sebelah barnya. Penasaran, aku pun mencobanya.

Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, yang jelas, cairan bening dari guci yang bertuliskan 35% itu memacu adrenalin dan seolah mengintimidasiku untuk meneguknya. Maka, dengan segenap perasaan kikuk, perkenalanku pun dimulai. Aku memegang sloki yang sudah berisi arak dan perlahan meneguknya. Dan “HHMMM”, aku berpikir, ternyata begini rasanya, berbeda dengan ekspektasi yang aku bayangkan atau branding arak di luar sana.

Minuman yang terbuat dari nira lontar ini nyatanya tak membuatku sampai mengernyitkan dahi seperti saat mencoba minuman lokal lainnya. Rasanya lembut, cenderung pahit seperti bersoda, aromanya menyengat tapi tak menganggu, dan membuat perut serta dadaku instan terasa hangat sampai kehidung. Kelembutan dan kehangatan arak seakan bersatu dengan suasana hangat dari keramahan semua orang yang ada di sana.

Pohon lontar | Sket: Zakiy

Arak merupakan minuman khas Nusantara yang sudah ada sejak dulu. Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tak sebentar. Minuman ini dihasikan melalui proses yang panjang.

Di Desa Les, pembuatan arak dimulai dari menyadap nira buah lontar oleh petani yang memanjat pohon setiap hari. Setiap pohoh lontar menghasilkan sekitar 4 ember kecil nira. Sedangkan nira dihasilkan dari buah lontar “jantan” yang bentuknya memanjang.

Petani mengeluarkan air nira dengan memijat buah lontar sebelum mengiris ujung buah setiap hari. Kemudian nira akan menetes, sedikit demi sedikit, ke dalam ember di bawahnya—yang sebelumnya sudah disiapkan. Lalu, setiap hari para petani akan memanjat pohon lontar dan memanen nira lalu memindahkannya ke ember yang lebih besar. Ember besar itu berisi lau (sebutan untuk serabut kelapa) sebagai “bumbu” agar nira bisa berfermentasi menjadi tuak.

***

Di sebuah pagi, bersama Bli Boneng aku bertemu Pak Made, salah satu petani penyadap pohon lontar yang rumahnya ke arah Segara Tasik. Pak Made saat itu mengenakan baju bertuliskan My Trip My Adventure yang aku rasa sangat cocok dengan aktivitasnya yang memang pememacu andrenalin itu.

Pak Made memanjat sekitar 4-5 pohon lontar setiap hari—jumlah itu jauh lebih sedikit dibanding sebelum ia mengalami kecelakaan jatuh dari pohon lontar setinggi 15 meter. Meski begitu, menurutnya, dia merasa beruntung karena hanya cedera dan setelah sembuh masih memiliki keberanian untuk memanjat pohon lontar. Padahal, banyak kawannya yang tidak selamat.

Sejak insiden tersebut, kini ia hanya memanjat pohon lontar yang tak terlalu tinggi dan menyisakan beberapa pohon dengan tinggi 15-20 meter untuk anaknya. “Biar dia saja yang panjat,” ujarnya. Selain itu, Pak Made juga sudah tidak berani memanjat pohon lontar saat musim hujan, “terlalu berisiko,” katanya.

Semua cerita itu justru membuatku kikuk sekaligus tegang saat melihat Pak Made merangkul dan mulai memanjat batang pohon lontar setinggi 8 meter itu. Pak Made sendiri tampak santai. Ia memanjat pohon lontar seperti menaiki anak tangga saja. Jadi, dia yang memanjat, aku yang deg-degan.

Sembari masih memberikan senyum ke arah kameraku, tanpa ragu ia naik ke puncak pohon. Sesampainya di atas, ia duduk—dengan santai—di antara batang daun lontar, anteng menuangkan nira dari ember ke ember. Melihat ketenangnnya, aku yang di bawah sedikit lega.

Pak Made, penyadap nira | Sket: Zakiy

Tak hanya bertemu Pak Made, aku juga diajak Bli Boneng untuk berkunjung ke petani bernama Doyok untuk mengambil tuak. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini aku bersama Henta, Ersya, serta kedua anak Jero Yudi, Kadek dan Komang.

Bli Boneng membawa kami ke arah gunung di kawasan kebun yang lebih luas. Di sanalah rumah Doyok berada. Para petani sekitar menjadikan rumah Doyok sebagai titik kumpul setoran tuak untuk di ambil Bli Boneng setiap pagi atau sore untuk diolah menjadi arak di Dapur Bali Mula.

Nira lontar yang diambil sudah menjadi tuak wayah. Artinya, nira yang sudah mengalami proses fermentasi. Sebelum diambil, biasanya nira akan didiamkan semalam di rumah Doyok. Hal tersebut dilakukan supaya nira berfermentasi dan menghasilkan alkohol lebih banyak.

Bli Boneng, saat mengambil tuak | Sket: Zakiy

Di sekiar rumah Doyok, kami menyaksikan buah lontar “perempuan” dipetik dan dilemparkan ke tanah. “Dasss!”, suara daun kering tertimpa buah lontar. Pelan-pelan kami mendekat dan mencari buah lontar tadi. Tas ikea yang kubawa berakhir penuh dengan buah lontar, ada sekitar 6-7 buah di dalamnya. Buah-buah keras berbentuk bulat tapi gepeng itu kami bawa ke Bali Mula untuk di kupas.

Sesampainya kami di Bali Mula, Bli Boneng langsung membelah bagian atas buah dan memperlihatkan tiga biji buah lontar di dalam daging serabutnya. Daging itu, ketika diserok, teksturnya seperti kepala, kenyal tapi terlihat lebih transparan. Bentuknya jadi lebih mirip kolang-kaling namun dengan ukuran lebih besar dan ada sensasi cipratan air ketika digigit.

Buah lontar “perempuan” atau ental | Sket: Zakiy

Ah, aku tak menyangka, selain menengok tuak, ternyata aku juga menemukan buah lontar yang sempat viral itu di sini. Kejutan-kejutan kecil dari Desa Les yang sangat berkesan.

***

Tuak yang sudah sampai di Dapur Bali Mula akan segera dipanaskan dalam panci di atas tungku kayu bakar selama 4-5 jam. Kemudian uap dari perebusan tersebut akan mengalir melalui bambu yang sudah dimodifikasi dan diatur sedemikian rupa supaya bisa mendestilasi (menyuling) tuak menjadi arak.

Dari satu panci tuak rata-rata mengasilkan 4-6 botol arak dengan kandungan alkohol 20 sampai 60%. Tetesan pertama mengandung kadar alkohol paling tinggi, sedangkan tetesan selanjutnya akan mengalami penurunan. Ketika kadar alkohol dari satu panci sudah mencapai 20%, proses penggodokan akan dihentikan.

Tiap botol arak hasil destilasi akan diukur kadar alkoholnya dan di masukan ke botol besar atau guci sesuai kadar alkoholnya masing-masing. Sampai di sini, arak sudah siap dikonsumsi, meski proses fermentasi bisa dilanjutkan untuk mendapatkan kualitas terbaik—semakin lama proses penyimpanan arak, semakin berkualitas arak tersebut.

Gede Eka (Deka), saat menjerang tuak di Dapur Bali Mula | Sket: Zakiy

Di Dapur Bali Mula, proses destilasi dilakukan setiap hari oleh para pekerja seperti Parta, Hendra, Redi, dan Deka. Mereka bekerja secara bergantian. Aku sering bertemu Bli Deka—singkatan dari Gede Eka—di ruangan destilasi. Dia sering terlihat di ruangan tersebut untuk menunggu tungku-tungku tuak selesai di destilasi—bahkan tak jarang dia sampai menginap disana.

Satu waktu aku membantu Bli Deka menyusun kayu bakar di tungku. Dengan semangat yang menggebu aku terus menambahkan kayu bakar hingga menghasilkan api cukup besar. Seketika aku diingatkan olehnya, bahwa api yang terlalu besar itu membuat penguapan lebih cepat, sehingga hasilnya tidak akan bagus. Aku sedikit malu saat itu, terlihat sekali aku si anak kota sok tahu.

Tapi ternyata menarik, tahapan destilasinya mengajarkanku untuk lebih sabar dan taat dengan proses. Bahwa lebih cepat bukan berarti lebih baik; bahwa pengendalian dirilah salah satu kunci membuat arak berkualitas.

Sampai di sini, aku mulai bisa menerka kenapa arak Les yang kuminum begitu spesial, Ia lahir langsung dari kebaranian petani lontar dan di besarkan oleh keteguhan pengrajin demi menghasilkan kehangatan peneguknya. Meminum arak Les menjadi sebuah pengalaman unik dari desa di utara Bali ini.

***

Proses pembuatan arak di Bali Mula memang tidak bisa dilepaskan dari peran warga Les itu sendiri— bahan baku arak berlimpah di Desa Les. Sejak awal, hal itu sudah menjadi misi Jero Yudi untuk mengembangkan Desa Les sekaligus warganya melalui pengelolaan potensi Desa Les.

Tak hanya melalui arak, Jero Yudi juga memanfaatkan komoditi olahan warga lainnya seperti garam, minyak kelapa, gula, cuka, hingga hasil pertanian. Bagi Jero, berbagi bisa melalui hal-hal sederhana seperti membeli daun daluman dari warga untuk disajikan sebagai es daluman di Dapur Bali Mula.

“Hidup seperti aku itu susah. Menjadi pertarung bisnis tidak bisa, karena aku pemimpin umat. Aku tidak boleh menjadi pedagang sejati yang selalu ambil untung dengan berbagai cara. Aku tidak boleh berbohong sedikit pun,” Jero Yudi menegaskan prinsipnya sekaligus dilemanya sebagai pemangku yang masih aktif mengelola Dapur Bali Mula.

Guci tempat penyimpanan arak di Dapur Bali Mula | Sket: Zakiy

Ah, Dapur Bali Mula telah memberiku banyak hal. Selain memberikan pengalaman lain menikmati minuman destilasi seperti arak, melihat prosesnya lebih dekat, bercengkrama dengan para petani, Bali Mula juga memberikanku pelajaran kebijaksanaan dan arti di balik keberanian, kesabaran, dan kesederhanaan.

Kontras dan paradoks di Dapur Bali Mula menjadi cerminan bagaimana gunung dan lautan (nyegara gunung) membetuk desa ini. Seperti arak, misalnya, kehangatannya lahir dari adrenalin petani sekaligus keteguhan pengrajinnya.

Bahwa kualitas berseberangan—tapi saling melengkapi satu sama lain—itulah yang menurutku secara berkesinambungan menghidupkan Desa Les. Kualitas sederhana yang kulahap lewat arak, garam, minyak kelapa, serta hidangan lainnya, rasanya menghangatkan hatiku. Di Les, kesederhanaan sangat berkelimpahan. Les is more.[T]

Cuti Bersama? Cobalah Trekking Menyambut Fajar di Jalur Buu-Yangudi, Desa Les, Tejakula
“Desa Les Ngembak Festival”,  Memaknai Ngembak Geni Nyepi  Secara Lebih Luas
Mai Nongki ke Desa Les: Mereguk Kopi, Menikmati Menu dan Ingatan Tentang Desa
Ketut Kertiyasa dari Desa Les, Menjual Juruh, Tuak dan Rengginang Hingga Sumatera
Tags: arak balibalibulelengDesa LesPetani Lontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Surat Untukmu, Para Pejuang Skripsi

Next Post

“Bali Nanem Tuwuh”, Buku Persembahan Peradah untuk Bali

Zakiy Zulkarnaen

Zakiy Zulkarnaen

Creative strategist dari Bandung yang menghidupi dua dunia. Sehari hari bekerja di agensi marketing, menyusun data dan insight untuk campaign digital. Di satu sisi lainnya, memiliki ketertarikan pada budaya pangan nusantara, berusaha belajar dengan berkeliling dan menulis apa saja yang dimakan dan disaksikan.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Bali Nanem Tuwuh”, Buku Persembahan Peradah untuk Bali

"Bali Nanem Tuwuh", Buku Persembahan Peradah untuk Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co