2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat Untukmu, Para Pejuang Skripsi

Jaswanto by Jaswanto
September 3, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

HAI, bagaimana kabar kalian hari ini? Saya harap kalian baik-baik saja. Oh iya, bagaimana kabar skripsi kalian? Belum sama sekali? Hehe….

Pada saat masih menjadi mahasiswa akhir, saya pernah lama tidak mengerjakan skripsi. Lama sekali. Selain karena—jujur saja—malas, tentu ada banyak alasan lain kenapa saya tidak mengerjakan skripsi. Untuk yang ini, hanya beberapa orang saja yang saya kasih tahu. Kalian cukup tahu kalau dulu saya pemalas saja.

Oh iya, kemarin saya membuka IG, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya mendapati sebuah video seorang mahasiswi nangis di kamarnya. Mahasiswi itu nangis sesegukan dengan kertas berserakan. Seorang temannya mencoba menenangkannya sambil merekamnya. Tentu, mahasiswi itu menangis karena skripsinya tidak selesai-selesai. Dia stres, depresi. Dia lelah. Dia capek. Dan, mungkin, dia hendak menyerah.

Saya yang pernah mengalami sebagai mahasiswa akhir kadang juga merasakan hal itu—walaupun nggak sampek nangis, si. Dan saya pikir banyak mahasiswa akhir yang begini.

Saya ingat, pada 2019, Tirto pernah menerbitkan sebuah indepth berjudul Skripsi, Depresi, dan Bunuh Diri: “Everybody Hurts”. Artikel yang ditulis oleh Aulia Adam itu melaporkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa akhir yang mengalami depresi karena skripsinya tak kunjung selesai.

Tak hanya itu, Aulia juga menyampaikan beberapa penelitian terkait, seperti riset Benny Prawira Siauw, seorang ahli kajian bunuh diri (suicidolog) sekaligus kepala Koordinator Into the Light; dan riset Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi.

Dalam risetnya, dari 284 responden mahasiswa di Jakarta dengan rentang umur 18-24 tahun, Benny menemukan 34,5 persen mahasiswa mempunyai pikiran suicidal thought—perasaan, pikiran, dan keinginan untuk bunuh diri sebagai satu-satunya cara mengatasi masalah dalam hidup—dalam satu tahun terakhir. Angka itu melebihi persentase mahasiswa di Yogyakarta.

Sedangkan hasil riset Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi, mengungkapkan bahwa pemerikiran suicidal kerap berkaitan dengan pengalaman pelecehan seksual saat masih kecil, gejala depresi, terlibat perkelahian fisik, masalah akademis, dan masalah sosial-lingkungan.

Masih dari sumber yang sama, menurut Benny, tren depresi di kalangan muda—rentang usia mahasiswa—sudah terbaca di banyak negara.

Kepala Koordinator Into the Light—komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri yang terbentuk pada 2013—ini mencontohkan Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia sebagai negara dengan angka bunuh diri yang tinggi.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Penelitian yang sama pernah dikerjakan oleh Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi pada 2017 yang dirilis Journal of Psychiarty. Survei ini dilakukan pada 4.675 mahasiswa S1 dari Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, dengan rentang umur responden 18-23 tahun.

Sebanyak 231 respondennya adalah mahasiswa Yogyakarta. Hasilnya, 6,9 persen mahasiswa Yogyakarta punya pemikiran bunuh diri, salah satu terkecil di kawasan ASEAN.

Tetapi, terlepas dari itu semua, apa iya semudah itu menyerah?

Saya tahu ini berat. Saya tahu kalian canggung untuk menghubungi dosen pembimbing. Saya tahu ketakutan dan kekhawatiranmu lebih besar daripada keberanianmu untuk melangkah. Bahkan saya tak hanya sekadar tahu, tapi juga pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Kita pernah berada dalam kondisi yang sama, walaupun mungkin, situasinya berbeda. Barangkali saya lebih buruk, kalian lebih baik. Atau malah sebaliknya.

Dulu, saat saya mulai sadar sudah masuk semester 13, setiap minggu saya mengerjakan skripsi. Sehari 6-10 halaman. Tiga hari bisa sampai bab 3. Dan ajaib, saat itu rasanya pikiran mulai ringan. Beban berat yang selama itu saya rasakan, perlahan mulai berkurang. Saya tidak ngebut, pelan-pelan tapi konsisten. Sebab saya termasuk orang yang lemah terhadap tekanan. Jadi, dalam seminggu, saya tetap meluangkan waktu untuk istirahat, maksudnya, dalam sehari itu, saya sama sekali tidak mengerjakan skripsi.

Kalian juga bisa seperti itu. Jangan di kamar atau di kontrakan mulu. Kalian akan merasa semakin sumpek. Jadinya stres. Sekali-kali kalian harus keluar, mencari suasana baru. Nongkrong sama teman, jalan sama pacar kalau punya, berkunjung ke tempat-tempat wisata (kalau saya ke alam), atau bisa melakukan hobi kalian.

Yang jelas, jangan diam di kontrakan aja! Cukup kok kerjain skripsi dari Senin-Jumat, misalnya. Sabtu-Minggu, bisa kalian jadikan untuk berinteraksi atau mencari suasana baru. Tapi jangan sampai melewati batas. Karena terlalu asyik bersenang-senang, ujung-ujungnya lupa lagi mengerjakan skripsi. Plis, jangan seperti saya yang lulus sampai semester 14.

Dan bagi kalian mahasiswa akhir yang bekerja full time, saya tahu beban kalian sepertinya lebih berat—walaupun saya yakin tidak semua merasa berat. Kalian sudah capek kerja, tapi harus menyelesaikan tugas akhir juga. Kalian hebat. Saya salut. Saya yakin kalian bisa. Intinya jangan malas. Sebab, untuk menghancurkan diri sendiri, kita tak perlu menjadi orang jahat, cukup malas saja itu sudah hancur hidup kita.

Kalian jangan merasa sendiri, ya. Jangan telat makan. Jangan hanya dipikir, tapi dikerjakan. Jaga kesehatan, jalin komunikasi yang baik dengan dosen, dan jangan dulu menyerah. Kalian masih ada waktu, masih ada kesempatan.

Jangan takut gagal. Memangnya kenapa si kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini kita tak harus bisa mengatasi segala hal, memenangi pertarungan, melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Kita hanya manusia biasa, loh. Dan kata Phutut EA, “kita boleh menyerah kalah”, kok. Hehehe.

Jadi, meski segala sesuatunya tampak pesimis, meski kalian merasa gundah dan tidak berdaya, kalian tidak boleh kehilangan satu hal yang membuat kita tetap hidup: harapan—yang oleh Paulo Coelho, “kata yang diperlakukan dengan begitu sinis oleh para pseudo-intelektual, yang menganggap kata itu sebagai sinonimnya ‘tipu daya’. Kata yang telah begitu banyak dimanipulasi oleh pemerintah yang membuat janji-janji yang tak ingin mereka penuhi, sehingga menimbulkan lebih banyak luka di hati orang-orang. Kata yang telah begitu sering bangun bersama kita di pagi hari, terluka parah saat hari beranjang siang, mati menjelang malam, dan lahir kembali keesokan harinya.

Terakhir, ada pepatah yang disampaikan oleh seorang bijak, “…bencana tidak bisa dilawan”; tetapi ada juga pepatah lainnya, “… di mana ada kehidupan, masih ada harapan.” Semangat, ya![T]

BACA artikel CANGKRUK yang lain dari penulis JASWANTO

Tags: bunuh diridepresimahasiswaSkripsistres
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kado Ulang Tahun SD Negeri 1 Batungsel: Catatan Seorang Alumni

Next Post

Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co