24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat Untukmu, Para Pejuang Skripsi

Jaswanto by Jaswanto
September 3, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

HAI, bagaimana kabar kalian hari ini? Saya harap kalian baik-baik saja. Oh iya, bagaimana kabar skripsi kalian? Belum sama sekali? Hehe….

Pada saat masih menjadi mahasiswa akhir, saya pernah lama tidak mengerjakan skripsi. Lama sekali. Selain karena—jujur saja—malas, tentu ada banyak alasan lain kenapa saya tidak mengerjakan skripsi. Untuk yang ini, hanya beberapa orang saja yang saya kasih tahu. Kalian cukup tahu kalau dulu saya pemalas saja.

Oh iya, kemarin saya membuka IG, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya mendapati sebuah video seorang mahasiswi nangis di kamarnya. Mahasiswi itu nangis sesegukan dengan kertas berserakan. Seorang temannya mencoba menenangkannya sambil merekamnya. Tentu, mahasiswi itu menangis karena skripsinya tidak selesai-selesai. Dia stres, depresi. Dia lelah. Dia capek. Dan, mungkin, dia hendak menyerah.

Saya yang pernah mengalami sebagai mahasiswa akhir kadang juga merasakan hal itu—walaupun nggak sampek nangis, si. Dan saya pikir banyak mahasiswa akhir yang begini.

Saya ingat, pada 2019, Tirto pernah menerbitkan sebuah indepth berjudul Skripsi, Depresi, dan Bunuh Diri: “Everybody Hurts”. Artikel yang ditulis oleh Aulia Adam itu melaporkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa akhir yang mengalami depresi karena skripsinya tak kunjung selesai.

Tak hanya itu, Aulia juga menyampaikan beberapa penelitian terkait, seperti riset Benny Prawira Siauw, seorang ahli kajian bunuh diri (suicidolog) sekaligus kepala Koordinator Into the Light; dan riset Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi.

Dalam risetnya, dari 284 responden mahasiswa di Jakarta dengan rentang umur 18-24 tahun, Benny menemukan 34,5 persen mahasiswa mempunyai pikiran suicidal thought—perasaan, pikiran, dan keinginan untuk bunuh diri sebagai satu-satunya cara mengatasi masalah dalam hidup—dalam satu tahun terakhir. Angka itu melebihi persentase mahasiswa di Yogyakarta.

Sedangkan hasil riset Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi, mengungkapkan bahwa pemerikiran suicidal kerap berkaitan dengan pengalaman pelecehan seksual saat masih kecil, gejala depresi, terlibat perkelahian fisik, masalah akademis, dan masalah sosial-lingkungan.

Masih dari sumber yang sama, menurut Benny, tren depresi di kalangan muda—rentang usia mahasiswa—sudah terbaca di banyak negara.

Kepala Koordinator Into the Light—komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri yang terbentuk pada 2013—ini mencontohkan Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia sebagai negara dengan angka bunuh diri yang tinggi.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Penelitian yang sama pernah dikerjakan oleh Karl Peltzer, Supa Pengpid, dan Siyan Yi pada 2017 yang dirilis Journal of Psychiarty. Survei ini dilakukan pada 4.675 mahasiswa S1 dari Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, dengan rentang umur responden 18-23 tahun.

Sebanyak 231 respondennya adalah mahasiswa Yogyakarta. Hasilnya, 6,9 persen mahasiswa Yogyakarta punya pemikiran bunuh diri, salah satu terkecil di kawasan ASEAN.

Tetapi, terlepas dari itu semua, apa iya semudah itu menyerah?

Saya tahu ini berat. Saya tahu kalian canggung untuk menghubungi dosen pembimbing. Saya tahu ketakutan dan kekhawatiranmu lebih besar daripada keberanianmu untuk melangkah. Bahkan saya tak hanya sekadar tahu, tapi juga pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Kita pernah berada dalam kondisi yang sama, walaupun mungkin, situasinya berbeda. Barangkali saya lebih buruk, kalian lebih baik. Atau malah sebaliknya.

Dulu, saat saya mulai sadar sudah masuk semester 13, setiap minggu saya mengerjakan skripsi. Sehari 6-10 halaman. Tiga hari bisa sampai bab 3. Dan ajaib, saat itu rasanya pikiran mulai ringan. Beban berat yang selama itu saya rasakan, perlahan mulai berkurang. Saya tidak ngebut, pelan-pelan tapi konsisten. Sebab saya termasuk orang yang lemah terhadap tekanan. Jadi, dalam seminggu, saya tetap meluangkan waktu untuk istirahat, maksudnya, dalam sehari itu, saya sama sekali tidak mengerjakan skripsi.

Kalian juga bisa seperti itu. Jangan di kamar atau di kontrakan mulu. Kalian akan merasa semakin sumpek. Jadinya stres. Sekali-kali kalian harus keluar, mencari suasana baru. Nongkrong sama teman, jalan sama pacar kalau punya, berkunjung ke tempat-tempat wisata (kalau saya ke alam), atau bisa melakukan hobi kalian.

Yang jelas, jangan diam di kontrakan aja! Cukup kok kerjain skripsi dari Senin-Jumat, misalnya. Sabtu-Minggu, bisa kalian jadikan untuk berinteraksi atau mencari suasana baru. Tapi jangan sampai melewati batas. Karena terlalu asyik bersenang-senang, ujung-ujungnya lupa lagi mengerjakan skripsi. Plis, jangan seperti saya yang lulus sampai semester 14.

Dan bagi kalian mahasiswa akhir yang bekerja full time, saya tahu beban kalian sepertinya lebih berat—walaupun saya yakin tidak semua merasa berat. Kalian sudah capek kerja, tapi harus menyelesaikan tugas akhir juga. Kalian hebat. Saya salut. Saya yakin kalian bisa. Intinya jangan malas. Sebab, untuk menghancurkan diri sendiri, kita tak perlu menjadi orang jahat, cukup malas saja itu sudah hancur hidup kita.

Kalian jangan merasa sendiri, ya. Jangan telat makan. Jangan hanya dipikir, tapi dikerjakan. Jaga kesehatan, jalin komunikasi yang baik dengan dosen, dan jangan dulu menyerah. Kalian masih ada waktu, masih ada kesempatan.

Jangan takut gagal. Memangnya kenapa si kalau gagal? Bukankah dalam hidup ini kita tak harus bisa mengatasi segala hal, memenangi pertarungan, melewati proses dengan gemilang, dan hal lain semacam itu? Kita hanya manusia biasa, loh. Dan kata Phutut EA, “kita boleh menyerah kalah”, kok. Hehehe.

Jadi, meski segala sesuatunya tampak pesimis, meski kalian merasa gundah dan tidak berdaya, kalian tidak boleh kehilangan satu hal yang membuat kita tetap hidup: harapan—yang oleh Paulo Coelho, “kata yang diperlakukan dengan begitu sinis oleh para pseudo-intelektual, yang menganggap kata itu sebagai sinonimnya ‘tipu daya’. Kata yang telah begitu banyak dimanipulasi oleh pemerintah yang membuat janji-janji yang tak ingin mereka penuhi, sehingga menimbulkan lebih banyak luka di hati orang-orang. Kata yang telah begitu sering bangun bersama kita di pagi hari, terluka parah saat hari beranjang siang, mati menjelang malam, dan lahir kembali keesokan harinya.

Terakhir, ada pepatah yang disampaikan oleh seorang bijak, “…bencana tidak bisa dilawan”; tetapi ada juga pepatah lainnya, “… di mana ada kehidupan, masih ada harapan.” Semangat, ya![T]

BACA artikel CANGKRUK yang lain dari penulis JASWANTO

Tags: bunuh diridepresimahasiswaSkripsistres
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kado Ulang Tahun SD Negeri 1 Batungsel: Catatan Seorang Alumni

Next Post

Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Arak Les: Percampuran Adrenalin Petani dan Keteguhan Pengrajin | Cerita Singgah Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co