13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi Bukakak: Simbol Rasa Syukur Petani Desa Sudaji

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
July 6, 2023
in Khas
Tradisi Bukakak: Simbol Rasa Syukur Petani Desa Sudaji

Suasana Tradisi Bukakak di Desa Sudaji | Foto: Dok. Buleleng

SESAK penonton memenuhi perempatan Desa Sudaji pada Rabu, (5/72023) malam. Mereka mulai berdatangan dari jam setengah tujuh untuk menyaksikan Tradisi Bukakak yang akan berlangsung pada malam itu.

Ratusan penonton tersebut bukan hanya berasal dari Desa Sudaji saja, banyak wajah asing yang mungkin datang dari berbagai daerah sekitar, bahkan kala itu, terlihat beberapa turis asing atau bule yang ikut nimbrung di tengah keramaian untuk menyaksikan keseruan dari Tradisi Bukakak.

Tradisi Bukakak merupakan simbol wujud rasa syukur masyarakat Desa Sudaji akan hasil panen yang melimpah setiap tahunnya, khususnya untuk krama Subak di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Tradisi ini termasuk ke dalam serangkaian Pujawali—sebagai penutup acara—yang sedang berlangsung di Desa Sudaji, tepatnya dua hari setelah Purnama Kasa.

“Sudah turun temurun Tradisi Bukakak dilakukan di Desa Sudaji. Tradisi ini sebenarnya adalah simbol yang digunakan sebagai bentuk rasa syukur kami atas hasil panen petani yang melimpah. Sehingga setiap tahunnya kami selalu melakukan tradisi ini. Terdapat dua Bukakak di desa kami, yang pertama Bukakak Alit dan yang kedua Bukakak Ageng,” ujar Gede Suarsana, Ketua Pokdarwis Sudaji.

Menurut Suarsana, Bukakak Alit akan disiapkan dan diarak dari Pura Taman yang berada di Banjar Dukuh, Desa Sudaji menuju ke perempatan. Sedangkan untuk Bukakak Ageng dipersiapkan di Pura Desa Sudaji yang kemudian menyusul ke perempatan desa.

Bukakak Ageng / Foto: Dok. Sri

Bukakak sendiri merupakan babi guling yang dibakar setengah matang, kemudian diikat pada sanan bambu, yang selanjutnya diarak ke perempatan desa. Babi yang digunakan tersebut juga tidak boleh sembarangan.

Babi yang dapat digunakan untuk Bukakak harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti memiliki bulu yang hitam legam dan tidak boleh ada cacat di bagian tubuhnya.

Keseruan Bukakak

Mulai dari anak-anak, remaja dan orang tua, tidak sabar menunggu Tradisi Bukakak dimulai. Samar-samar terdengar ketidaksabaran penonton yang mungkin sudah lumayan lama berdiri di tempat ternyamannya untuk menyaksikan Bukakak.

Tak luput dari keramaian itu, beberapa pedagang yang berada di pinggir jalan, juga sibuk dengan dagangan dan pelanggannya. Anak-anak kecil yang merengek meminta berbelanja kepada orang tuanya, turut andil dalam mengisi hiruk pikuknya suasana malam itu.

Sampai pada akhirnya, dari arah barat perempatan, suara gong sayup-sayup terdengar mendekat. Dan diikuti oleh Bukakak Alit dengan penyongsongnya—orang-orang yang bertugas mengarak Bukakak—yang memakai ciri khas slayer segitiga berwarna merah di belakang pundaknya. Hal tersebut menarik perhatian seluruh penonton, seolah-olah semua mata tertuju ke arah barat saat itu.

Bukakak Alit sedang diarak / Foto: Dok. Sri

Para penyongsong Bukakak Alit mulai berlari ke arah perempatan, kemudian ke arah selatan untuk menjemput Bukakak Ageng. Mengetahui Bukakak Alit sudah tiba, dari arah selatan, Bukakak Ageng dengan penyongsongnya yang berciri khas menggunakan slayer segitiga berwarna hijau mulai berjalan menyusul Bukakak Alit untuk kembali ke perempatan desa.

Gemuruh tepuk tangan dan sorak penonton terdengar, ketika salah satu pembawa sundih (obor dari daun kelapa tua) mulai menderakan benda berisikan api tersebut ke badan Bukakak. Segera percikan api tercipta dari gesekan yang terjadi antara dua benda tersebut, kemudian kedua Bukakak dengan cepat berlarian ke arah utara perempatan, yang di iringi suara gamelan gong.

Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke barat lalu selatan, secara berulang, berlarian, seakan-akan penyongsong tidak merasa lelah dengan kondisi tersebut—bahkan terlihat sangat bersemangat dengan riangnya. Tak kalah dengan penyongsong, penonton juga bersemangat dan bersorak kegirangan melihat tradisi yang ditunggu-tunggu selama kurang lebih setahun terakhir itu.

Percikan api dari sundih daun kelapa beberapa kali terlihat, dan setelahnya penonton akan berteriak senang sambil bertepuk tangan melihat hal itu. Hingga pada pukulan dari sundih yang terakhir, menandakan bahwa tradisi Bukakak sudah berakhir dan kembali dibawa ke pura. Begitu juga para penonton, sedikit demi sedikit meninggalkan perempatan desa untuk segera kembali kerumah masing-masing.

Di jaba pura, ketika Bukakak sudah diletakkan ke jeroan pura, para penyongsong beristirahat dan meminum air sembari menikmati hidangan jajanan khas Bali seperti sumping, laklak dan yang lainnya sebelum kembali ke rumah mereka.

“Ini merupakan pengalaman pertama saya ikut nyongsong Bukakak, dan rasanya sangat bersemangat karena memang dari diri sendiri sudah ada niat untuk ngayah,” ujar Gede Adi, salah satu penyongsong Bukakak yang ditemui setelah acara selesai.

Adi mengaku, tiga hari yang lalu sebelum nyongsong, dia sudah menyiapkan diri agar memiliki stamina yang kuat untuk malam puncak Pujawali itu. “Supaya tidak sakit saya menghindari mengkonsumsi rokok dan minuman yang berbau alkohol, selain itu saya juga rutin olahraga seperti lari atau sekadar jalan santai,” katanya masih terengah-engah.

Bukakak harus tetap ada

Dahulu, karena beberapa hal, Tradisi Bukakak pernah tidak dilaksanakan, sehingga hal ini dipercaya mengakibatkan gagal panen yang berdampak ke semua hasil petani di Desa Sudaji. Hasil panen yang biasanya melimpah dan selalu bisa digunakan untuk keperluan Pujawali, saat itu mendadak menurun dan bisa dibilang sangat buruk. Mulai dari bulir-bulir padi banyak yang puyung atau kosong dan lahan petani yang sering terserang hama.

Guru Jro Darsana, Kelian Adat Subak Dukuh, menuturkan, semenjak kejadian gagal panen yang terjadi akibat tidak dilaksanakannya Tradisi Bukakak, masyarakat Desa Sudaji sudah tidak berani lagi untuk meniadakan tradisi ini. Bagaimanapun kondisi dan situasinya, tradisi ini harus tetap diselenggarakan.

Seperti misalnya pada saat Covid-19 lalu, Tradisi Bukakak memang tidak dilaksanakan secara terang-terangan di depan umum, dan tidak ada arak-arakan di perempatan desa. Akan tetapi, tradisi ini tetap dilakukan dengan cara hanya mengambil beberapa runtutan kegiatan yang sebisa mungkin tidak menimbulkan keramaian (kerumunan) banyak orang—Bukakak hanya dilakukan oleh krama subak saja.

Benar, rasa syukur kita terhadap apapun yang diperoleh dari Tuhan Yang Maha Esa melalui alam semesta memang patut untuk dipertahankan. Selain memiliki tujuan untuk membina keharmonisan antara Tuhan, manusia dan alam, Tradisi Bukakak yang dilakukan pada serangkaian Pujawali di Desa Sudaji ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang dapat dijadikan sebagai tradisi ikonik Desa Sudaji.[T]

Anugerah Desa Wisata Indonesia | Kegembiraan Warga Desa Sudaji Sambut Sandiaga Uno
Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji
ADWI 2022 | Desa Sudaji Juara 2 Kategori Desa Wisata Maju
Tradisi Ngangkid: Upacara Penyucian Roh di Pedawa
Tags: baliBudayaBudaya BalibulelengDesa Sudajiseni tradisionalTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Siswa SMKN 4 Bangli Memainkan Wayang Wong Kumbakarna Lina

Next Post

Survei LKPI : Mayoritas Masyarakat Ingin Presiden Paham Ekonomi

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Survei LKPI : Mayoritas Masyarakat Ingin Presiden Paham Ekonomi

Survei LKPI : Mayoritas Masyarakat Ingin Presiden Paham Ekonomi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co