17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remaja, Mental Illness, dan Cara Menghindarinya

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
June 25, 2023
in Esai
Remaja, Mental Illness, dan Cara Menghindarinya

Ilustrasi tatkala.co

SAAT INI KESEHATAN MENTAL seseorang memang sangat penting untuk diberi perhatian khusus. Sebab, sudah banyak kasus percobaan bunuh diri yang terjadi akibat beban pikiran yang dirasakan oleh seseorang, khususnya remaja.

Kita ketahui bahwa kekuatan mental masing-masing individu tidak semuanya sama. Sehingga, kemungkinannya, mereka yang memutuskan untuk mengakhiri atau melukai diri sendiri, merupakan orang-orang yang membutuhkan perhatian lebih.

Orang-orang tersebut beberapa di antaranya bisa jadi terjebak dalam permasalahan hidup yang seolah tidak bisa ditemukan jalan keluarnya. Atau mungkin saja, mereka tidak memiliki seseorang untuk sekadar berbagi cerita, kemudian memendam semua masalah sendirian, lalu berakhir dengan mengakhiri hidupnya.

Gangguan kesehatan mental atau dalam bahasa kerennya kerap disebut mental illness ini, sudah mendapatkan perhatian dari lembaga kesehatan dunia, World Federation of Mental Health (WFMH), dan diperingati setiap tanggal 10 Oktober sejak tahun 1992.

Mental illness (mental disorder), dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, disebut juga dengan gangguan mental atau jiwa, adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Kondisi ini dapat terjadi sesekali atau berlangsung dalam waktu yang lama (kronis).

Meski rumit, gangguan kesehatan mental termasuk penyakit yang dapat diobati. Bahkan, sebagian besar penderita mental disorder masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari selayaknya orang normal.

Namun, pada kondisi yang lebih buruk, seseorang mungkin perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit untuk menangani kondisinya. Tak jarang, kondisi ini pun dapat memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri kehidupannya.

Walaupun kesadaran tentang kesehatan mental sudah ada sejak lama, tidak menutup kemungkinan, banyak orang yang masih terperangkap dalam mental illness. Sebenarnya sangat disayangkan, jika para remaja saat ini banyak yang mengalami mental illness, karena secara tidak langsung, hal ini akan mempengaruhi aktifitas—bahkan masa depannya.

Pemicu mental illnesss pada remaja

Kondisi masa kecil bisa menjadi pemicu mental illness. Masa kecil memang hal paling mengesankan bagi kebanyakan orang. Sebab, pada masa ini, seseorang mendapatkan perhatian dan kasih sayang oleh orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga dan kerabat terdekat.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa merasakan hal tersebut, beberapa orang justru mendapat suatu kenyataan pahit, broken home, misalnya. Anak yang mengalaminya akan merasakan kepedihan dan beban tekanan mental yang sangat besar dalam dirinya.

Apalagi, jika rumah yang mereka jadikan sebagai tempat pulang sudah tidak tertata dengan lengkap. Dan ketika beranjak remaja, mereka melihat teman-teman seusianya yang masih dapat merasakan kehangatan bersama keluarga, tentu perasaan sedih akan semakin berkecamuk dalam dirinya.

Hal di atas termasuk menjadi salah satu faktor seseorang mengalami mental illness saat remaja—karena trauma masa lalu yang dihadapi.

Saat anak mulai beranjak ke masa remaja, yang merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, berbagai macam permasalahan baru mulai berdatangan. Berbeda halnya ketika masih kecil yang mungkin hanya memikirkan besok sekolah dan bermain, pada masa remaj, orang-orang cenderung sudah mulai memikirkan hal yang lebih dari itu.

Banyak remaja saat ini mengalami mental illness, karena mereka tidak mampu untuk mengatasi permasalahannya sendiri, baik itu dalam lingkungan perkuliahan, keluarga, hubungan pertemanan, maupun hubungan asmara.

Bagaimana hal-hal tersebut dapat memicu terjadinya mental illness pada remaja?

Kita mulai dari dunia perkuliahan. Tekanan yang terjadi pada masa perkuliahan tidak bisa dianggap remeh. Beban tugas yang didapatkan di kampus, kegiatan-kegiatan yang mewajibkan mahasiswa untuk selalu ikut berpartisipasi, deadline skripsi, salah jurusan, dosen killer, circle pertemanan yang buruk, rencana karir setelah lulus, ekspektasi dan realita yang tidak konkret, mungkin, hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang pada masa transisi anak-anak menuju dewasa ini.

Kemudian, dalam hubungan keluarga, dukungan dan motivasi sangat diperlukan ketika para remaja sedang menghadapi masa-masa yang sulit. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, keluarga seharusnya adalah tempat pulang yang nyaman untuk bercerita, berkeluh kesah dan sandaran yang dapat dipercaya.

Lalu, bagaimana jika keluarga sendiri tidak bisa memberikan tempat pulang yang nyaman tersebut? Orang tua yang tidak memiliki waktu untuk anak-anaknya, saudara yang tidak peduli satu sama lain, kemudian, ke mana tempat pulang untuk remaja-remaja tersebut? Alhasil, mereka akan mencari tempat pulangnya sendiri pada orang lain yang menurut mereka dapat mengerti dan mampu memahami kondisinya.

Hubungan asmara, tak jarang digunakan sebagai peralihan terakhir oleh orang-orang yang mengalami mental illness untuk tempat pulang dan mendapatkan motivasinya kembali. Mungkin saja, mereka merasa jauh lebih baik ketika menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi, di tengah semrawutnya permasalahan yang sedang dihadapi.

Memiliki seseorang untuk berbagi cerita atau someone to talk merupakan hal yang dapat memberikan pengaruh baik terhadap suasana hati seseorang. Akan tetapi, tidak sedikit remaja juga mendapatkan permasalaahan dalam hubungan asmaranya.

Ketika mereka mempercayai seseorang sebagai tempat pulang, ternyata, pada akhirnya dipatahkan kembali oleh keadaan. Tidak bisa dimungkiri lagi, hal ini dapat menambah rasa putus asa bagi para remaja—karena tempat pulang terakhir yang mereka anggap paling nyaman tidak sesuai dengan harapannya.

Cara menghindari mental illness

Berdasarkan keterangan dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, sebanyak 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental dan 15,5 juta remaja Indonesia lainnya mengalami masalah mental.

Sementara itu, dalam data yang dihimpun oleh World Bank, kasus bunuh diri mencapai 2,4 per 100 ribu penduduk di Indonesia. Ini tentu bukan angka yang sedikit. Siapapun perlu menanggapinya secara serius, mengingat, para remaja inilah yang akan menjadi tonggak terdepan dalam memajukan Indonesia di masa depan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitu kiranya pepatah yang sering digunakan oleh orang-orang. Artinya, ada baiknya jika kita dapat menghindari mental illness tersebut sebelum keadaan semakin sulit untuk dikendalikan dan angka penderitanya bertambah banyak.

Lalu, bagaimana caranya?

Aktifitas sederhana seperti olahraga ketika memiliki waktu luang atau memberikan waktu istirahat untuk diri sendiri bersama musik favorit, misalnya, merupakan aktifitas yang mampu memperbaiki suasana hati seseorang. Sehingga, masalah-masalah yang dihadapi sejenak dapat dilupakan, atau setidaknya aktifitas seperti itu dapat memulihkan energi yang telah terkuras sebelumnya. Begitu seterusnya.

Kita tidak perlu merasa selalu kuat dalam menghadapi masalah, ketika dirasa tubuh dan pikiran mulai kembali lelah, cara ini dapat dilakukan secara berulang. Dengan memberi me time atau waktu untuk diri sendiri, secara tidak langsung, seseorang akan lebih memahami jati dirinya, dan bagaimana pentingnya kehidupan yang sedang dijalani saat ini.

Selanjutnya, seseorang kadang terlalu memikirkan hal yang tidak penting atau hal yang bukan menjadi tugasnya. Sehingga overthinking tidak dapat dihindari lagi dan alhasil masalah akan semakin bertambah rumit.

Hal-hal yang tidak penting—dan bukan menjadi tugas kita—seperti memikirkan bagaimana orang lain menilai diri kita, apakah orang lain dapat bertindak koperatif terhadap apa yang akan kita lakukan, atau berpikir apakah orang lain akan menyukai kita, memang layak dibuang  di keranjang sampah.

Hal-hal seperti ini terkadang membuat seseorang mengalami overthinking dan tentu jika terus menerus dibiarkan, akan berakibat buruk pada kondisi kesehatan. Oleh karena itu, cobalah berhenti membuang waktu dengan memberikan perhatian lebih terhadap pendapat atau hasil dari apa yang sedang kita lakukan saat ini.

Terkadang, kita perlu berani untuk tidak disukai. Sehingga, pikiran akan terhindar dari bagaimana ekspektasi orang lain terhadap diri sendiri, yang mungkin saja timbul dari overthinking tersebut.

Dan, saya rasa, kita tidak perlu memenuhi segala ekspektasi kehidupan yang ada—karena itu bukan tugas yang harus dilakukan. Berjalanlah sesuai dengan apa yang diinginkan dan lakukan dengan baik, tanpa bertumpu pada hasil yang akan didapatkan.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Gangguan Jiwa, “Bebainan”, dan Hal-hal Lain yang Tak Usah Disembunyikan
“Schizophrenia”, Jiwa yang Entah, Proses yang Betah – Sejumlah Catatan Sebelum Pentas
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali

“The Marginalist”: Pameran Foto dan Diskusi ODGJ, Mental Health, dan Advokasi Kaum Marginal
Tags: kejiwaankesehatan jiwakesehatan mentaltips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuh Rekonstruksi Karya I Wayan Lotring dalam Parade Palegongan Klasik Duta Badung dan Gianyar

Next Post

Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co