6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remaja, Mental Illness, dan Cara Menghindarinya

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
June 25, 2023
in Esai
Remaja, Mental Illness, dan Cara Menghindarinya

Ilustrasi tatkala.co

SAAT INI KESEHATAN MENTAL seseorang memang sangat penting untuk diberi perhatian khusus. Sebab, sudah banyak kasus percobaan bunuh diri yang terjadi akibat beban pikiran yang dirasakan oleh seseorang, khususnya remaja.

Kita ketahui bahwa kekuatan mental masing-masing individu tidak semuanya sama. Sehingga, kemungkinannya, mereka yang memutuskan untuk mengakhiri atau melukai diri sendiri, merupakan orang-orang yang membutuhkan perhatian lebih.

Orang-orang tersebut beberapa di antaranya bisa jadi terjebak dalam permasalahan hidup yang seolah tidak bisa ditemukan jalan keluarnya. Atau mungkin saja, mereka tidak memiliki seseorang untuk sekadar berbagi cerita, kemudian memendam semua masalah sendirian, lalu berakhir dengan mengakhiri hidupnya.

Gangguan kesehatan mental atau dalam bahasa kerennya kerap disebut mental illness ini, sudah mendapatkan perhatian dari lembaga kesehatan dunia, World Federation of Mental Health (WFMH), dan diperingati setiap tanggal 10 Oktober sejak tahun 1992.

Mental illness (mental disorder), dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, disebut juga dengan gangguan mental atau jiwa, adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Kondisi ini dapat terjadi sesekali atau berlangsung dalam waktu yang lama (kronis).

Meski rumit, gangguan kesehatan mental termasuk penyakit yang dapat diobati. Bahkan, sebagian besar penderita mental disorder masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari selayaknya orang normal.

Namun, pada kondisi yang lebih buruk, seseorang mungkin perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit untuk menangani kondisinya. Tak jarang, kondisi ini pun dapat memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri kehidupannya.

Walaupun kesadaran tentang kesehatan mental sudah ada sejak lama, tidak menutup kemungkinan, banyak orang yang masih terperangkap dalam mental illness. Sebenarnya sangat disayangkan, jika para remaja saat ini banyak yang mengalami mental illness, karena secara tidak langsung, hal ini akan mempengaruhi aktifitas—bahkan masa depannya.

Pemicu mental illnesss pada remaja

Kondisi masa kecil bisa menjadi pemicu mental illness. Masa kecil memang hal paling mengesankan bagi kebanyakan orang. Sebab, pada masa ini, seseorang mendapatkan perhatian dan kasih sayang oleh orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga dan kerabat terdekat.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa merasakan hal tersebut, beberapa orang justru mendapat suatu kenyataan pahit, broken home, misalnya. Anak yang mengalaminya akan merasakan kepedihan dan beban tekanan mental yang sangat besar dalam dirinya.

Apalagi, jika rumah yang mereka jadikan sebagai tempat pulang sudah tidak tertata dengan lengkap. Dan ketika beranjak remaja, mereka melihat teman-teman seusianya yang masih dapat merasakan kehangatan bersama keluarga, tentu perasaan sedih akan semakin berkecamuk dalam dirinya.

Hal di atas termasuk menjadi salah satu faktor seseorang mengalami mental illness saat remaja—karena trauma masa lalu yang dihadapi.

Saat anak mulai beranjak ke masa remaja, yang merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, berbagai macam permasalahan baru mulai berdatangan. Berbeda halnya ketika masih kecil yang mungkin hanya memikirkan besok sekolah dan bermain, pada masa remaj, orang-orang cenderung sudah mulai memikirkan hal yang lebih dari itu.

Banyak remaja saat ini mengalami mental illness, karena mereka tidak mampu untuk mengatasi permasalahannya sendiri, baik itu dalam lingkungan perkuliahan, keluarga, hubungan pertemanan, maupun hubungan asmara.

Bagaimana hal-hal tersebut dapat memicu terjadinya mental illness pada remaja?

Kita mulai dari dunia perkuliahan. Tekanan yang terjadi pada masa perkuliahan tidak bisa dianggap remeh. Beban tugas yang didapatkan di kampus, kegiatan-kegiatan yang mewajibkan mahasiswa untuk selalu ikut berpartisipasi, deadline skripsi, salah jurusan, dosen killer, circle pertemanan yang buruk, rencana karir setelah lulus, ekspektasi dan realita yang tidak konkret, mungkin, hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang pada masa transisi anak-anak menuju dewasa ini.

Kemudian, dalam hubungan keluarga, dukungan dan motivasi sangat diperlukan ketika para remaja sedang menghadapi masa-masa yang sulit. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, keluarga seharusnya adalah tempat pulang yang nyaman untuk bercerita, berkeluh kesah dan sandaran yang dapat dipercaya.

Lalu, bagaimana jika keluarga sendiri tidak bisa memberikan tempat pulang yang nyaman tersebut? Orang tua yang tidak memiliki waktu untuk anak-anaknya, saudara yang tidak peduli satu sama lain, kemudian, ke mana tempat pulang untuk remaja-remaja tersebut? Alhasil, mereka akan mencari tempat pulangnya sendiri pada orang lain yang menurut mereka dapat mengerti dan mampu memahami kondisinya.

Hubungan asmara, tak jarang digunakan sebagai peralihan terakhir oleh orang-orang yang mengalami mental illness untuk tempat pulang dan mendapatkan motivasinya kembali. Mungkin saja, mereka merasa jauh lebih baik ketika menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi, di tengah semrawutnya permasalahan yang sedang dihadapi.

Memiliki seseorang untuk berbagi cerita atau someone to talk merupakan hal yang dapat memberikan pengaruh baik terhadap suasana hati seseorang. Akan tetapi, tidak sedikit remaja juga mendapatkan permasalaahan dalam hubungan asmaranya.

Ketika mereka mempercayai seseorang sebagai tempat pulang, ternyata, pada akhirnya dipatahkan kembali oleh keadaan. Tidak bisa dimungkiri lagi, hal ini dapat menambah rasa putus asa bagi para remaja—karena tempat pulang terakhir yang mereka anggap paling nyaman tidak sesuai dengan harapannya.

Cara menghindari mental illness

Berdasarkan keterangan dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, sebanyak 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental dan 15,5 juta remaja Indonesia lainnya mengalami masalah mental.

Sementara itu, dalam data yang dihimpun oleh World Bank, kasus bunuh diri mencapai 2,4 per 100 ribu penduduk di Indonesia. Ini tentu bukan angka yang sedikit. Siapapun perlu menanggapinya secara serius, mengingat, para remaja inilah yang akan menjadi tonggak terdepan dalam memajukan Indonesia di masa depan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitu kiranya pepatah yang sering digunakan oleh orang-orang. Artinya, ada baiknya jika kita dapat menghindari mental illness tersebut sebelum keadaan semakin sulit untuk dikendalikan dan angka penderitanya bertambah banyak.

Lalu, bagaimana caranya?

Aktifitas sederhana seperti olahraga ketika memiliki waktu luang atau memberikan waktu istirahat untuk diri sendiri bersama musik favorit, misalnya, merupakan aktifitas yang mampu memperbaiki suasana hati seseorang. Sehingga, masalah-masalah yang dihadapi sejenak dapat dilupakan, atau setidaknya aktifitas seperti itu dapat memulihkan energi yang telah terkuras sebelumnya. Begitu seterusnya.

Kita tidak perlu merasa selalu kuat dalam menghadapi masalah, ketika dirasa tubuh dan pikiran mulai kembali lelah, cara ini dapat dilakukan secara berulang. Dengan memberi me time atau waktu untuk diri sendiri, secara tidak langsung, seseorang akan lebih memahami jati dirinya, dan bagaimana pentingnya kehidupan yang sedang dijalani saat ini.

Selanjutnya, seseorang kadang terlalu memikirkan hal yang tidak penting atau hal yang bukan menjadi tugasnya. Sehingga overthinking tidak dapat dihindari lagi dan alhasil masalah akan semakin bertambah rumit.

Hal-hal yang tidak penting—dan bukan menjadi tugas kita—seperti memikirkan bagaimana orang lain menilai diri kita, apakah orang lain dapat bertindak koperatif terhadap apa yang akan kita lakukan, atau berpikir apakah orang lain akan menyukai kita, memang layak dibuang  di keranjang sampah.

Hal-hal seperti ini terkadang membuat seseorang mengalami overthinking dan tentu jika terus menerus dibiarkan, akan berakibat buruk pada kondisi kesehatan. Oleh karena itu, cobalah berhenti membuang waktu dengan memberikan perhatian lebih terhadap pendapat atau hasil dari apa yang sedang kita lakukan saat ini.

Terkadang, kita perlu berani untuk tidak disukai. Sehingga, pikiran akan terhindar dari bagaimana ekspektasi orang lain terhadap diri sendiri, yang mungkin saja timbul dari overthinking tersebut.

Dan, saya rasa, kita tidak perlu memenuhi segala ekspektasi kehidupan yang ada—karena itu bukan tugas yang harus dilakukan. Berjalanlah sesuai dengan apa yang diinginkan dan lakukan dengan baik, tanpa bertumpu pada hasil yang akan didapatkan.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Gangguan Jiwa, “Bebainan”, dan Hal-hal Lain yang Tak Usah Disembunyikan
“Schizophrenia”, Jiwa yang Entah, Proses yang Betah – Sejumlah Catatan Sebelum Pentas
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali

“The Marginalist”: Pameran Foto dan Diskusi ODGJ, Mental Health, dan Advokasi Kaum Marginal
Tags: kejiwaankesehatan jiwakesehatan mentaltips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuh Rekonstruksi Karya I Wayan Lotring dalam Parade Palegongan Klasik Duta Badung dan Gianyar

Next Post

Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
0
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

Read moreDetails

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
0
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

Read moreDetails

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails
Next Post
Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co