27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remaja, Mental Illness, dan Cara Menghindarinya

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
June 25, 2023
in Esai
Remaja, Mental Illness, dan Cara Menghindarinya

Ilustrasi tatkala.co

SAAT INI KESEHATAN MENTAL seseorang memang sangat penting untuk diberi perhatian khusus. Sebab, sudah banyak kasus percobaan bunuh diri yang terjadi akibat beban pikiran yang dirasakan oleh seseorang, khususnya remaja.

Kita ketahui bahwa kekuatan mental masing-masing individu tidak semuanya sama. Sehingga, kemungkinannya, mereka yang memutuskan untuk mengakhiri atau melukai diri sendiri, merupakan orang-orang yang membutuhkan perhatian lebih.

Orang-orang tersebut beberapa di antaranya bisa jadi terjebak dalam permasalahan hidup yang seolah tidak bisa ditemukan jalan keluarnya. Atau mungkin saja, mereka tidak memiliki seseorang untuk sekadar berbagi cerita, kemudian memendam semua masalah sendirian, lalu berakhir dengan mengakhiri hidupnya.

Gangguan kesehatan mental atau dalam bahasa kerennya kerap disebut mental illness ini, sudah mendapatkan perhatian dari lembaga kesehatan dunia, World Federation of Mental Health (WFMH), dan diperingati setiap tanggal 10 Oktober sejak tahun 1992.

Mental illness (mental disorder), dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, disebut juga dengan gangguan mental atau jiwa, adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Kondisi ini dapat terjadi sesekali atau berlangsung dalam waktu yang lama (kronis).

Meski rumit, gangguan kesehatan mental termasuk penyakit yang dapat diobati. Bahkan, sebagian besar penderita mental disorder masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari selayaknya orang normal.

Namun, pada kondisi yang lebih buruk, seseorang mungkin perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit untuk menangani kondisinya. Tak jarang, kondisi ini pun dapat memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri kehidupannya.

Walaupun kesadaran tentang kesehatan mental sudah ada sejak lama, tidak menutup kemungkinan, banyak orang yang masih terperangkap dalam mental illness. Sebenarnya sangat disayangkan, jika para remaja saat ini banyak yang mengalami mental illness, karena secara tidak langsung, hal ini akan mempengaruhi aktifitas—bahkan masa depannya.

Pemicu mental illnesss pada remaja

Kondisi masa kecil bisa menjadi pemicu mental illness. Masa kecil memang hal paling mengesankan bagi kebanyakan orang. Sebab, pada masa ini, seseorang mendapatkan perhatian dan kasih sayang oleh orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga dan kerabat terdekat.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa merasakan hal tersebut, beberapa orang justru mendapat suatu kenyataan pahit, broken home, misalnya. Anak yang mengalaminya akan merasakan kepedihan dan beban tekanan mental yang sangat besar dalam dirinya.

Apalagi, jika rumah yang mereka jadikan sebagai tempat pulang sudah tidak tertata dengan lengkap. Dan ketika beranjak remaja, mereka melihat teman-teman seusianya yang masih dapat merasakan kehangatan bersama keluarga, tentu perasaan sedih akan semakin berkecamuk dalam dirinya.

Hal di atas termasuk menjadi salah satu faktor seseorang mengalami mental illness saat remaja—karena trauma masa lalu yang dihadapi.

Saat anak mulai beranjak ke masa remaja, yang merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, berbagai macam permasalahan baru mulai berdatangan. Berbeda halnya ketika masih kecil yang mungkin hanya memikirkan besok sekolah dan bermain, pada masa remaj, orang-orang cenderung sudah mulai memikirkan hal yang lebih dari itu.

Banyak remaja saat ini mengalami mental illness, karena mereka tidak mampu untuk mengatasi permasalahannya sendiri, baik itu dalam lingkungan perkuliahan, keluarga, hubungan pertemanan, maupun hubungan asmara.

Bagaimana hal-hal tersebut dapat memicu terjadinya mental illness pada remaja?

Kita mulai dari dunia perkuliahan. Tekanan yang terjadi pada masa perkuliahan tidak bisa dianggap remeh. Beban tugas yang didapatkan di kampus, kegiatan-kegiatan yang mewajibkan mahasiswa untuk selalu ikut berpartisipasi, deadline skripsi, salah jurusan, dosen killer, circle pertemanan yang buruk, rencana karir setelah lulus, ekspektasi dan realita yang tidak konkret, mungkin, hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang pada masa transisi anak-anak menuju dewasa ini.

Kemudian, dalam hubungan keluarga, dukungan dan motivasi sangat diperlukan ketika para remaja sedang menghadapi masa-masa yang sulit. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, keluarga seharusnya adalah tempat pulang yang nyaman untuk bercerita, berkeluh kesah dan sandaran yang dapat dipercaya.

Lalu, bagaimana jika keluarga sendiri tidak bisa memberikan tempat pulang yang nyaman tersebut? Orang tua yang tidak memiliki waktu untuk anak-anaknya, saudara yang tidak peduli satu sama lain, kemudian, ke mana tempat pulang untuk remaja-remaja tersebut? Alhasil, mereka akan mencari tempat pulangnya sendiri pada orang lain yang menurut mereka dapat mengerti dan mampu memahami kondisinya.

Hubungan asmara, tak jarang digunakan sebagai peralihan terakhir oleh orang-orang yang mengalami mental illness untuk tempat pulang dan mendapatkan motivasinya kembali. Mungkin saja, mereka merasa jauh lebih baik ketika menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi, di tengah semrawutnya permasalahan yang sedang dihadapi.

Memiliki seseorang untuk berbagi cerita atau someone to talk merupakan hal yang dapat memberikan pengaruh baik terhadap suasana hati seseorang. Akan tetapi, tidak sedikit remaja juga mendapatkan permasalaahan dalam hubungan asmaranya.

Ketika mereka mempercayai seseorang sebagai tempat pulang, ternyata, pada akhirnya dipatahkan kembali oleh keadaan. Tidak bisa dimungkiri lagi, hal ini dapat menambah rasa putus asa bagi para remaja—karena tempat pulang terakhir yang mereka anggap paling nyaman tidak sesuai dengan harapannya.

Cara menghindari mental illness

Berdasarkan keterangan dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, sebanyak 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental dan 15,5 juta remaja Indonesia lainnya mengalami masalah mental.

Sementara itu, dalam data yang dihimpun oleh World Bank, kasus bunuh diri mencapai 2,4 per 100 ribu penduduk di Indonesia. Ini tentu bukan angka yang sedikit. Siapapun perlu menanggapinya secara serius, mengingat, para remaja inilah yang akan menjadi tonggak terdepan dalam memajukan Indonesia di masa depan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitu kiranya pepatah yang sering digunakan oleh orang-orang. Artinya, ada baiknya jika kita dapat menghindari mental illness tersebut sebelum keadaan semakin sulit untuk dikendalikan dan angka penderitanya bertambah banyak.

Lalu, bagaimana caranya?

Aktifitas sederhana seperti olahraga ketika memiliki waktu luang atau memberikan waktu istirahat untuk diri sendiri bersama musik favorit, misalnya, merupakan aktifitas yang mampu memperbaiki suasana hati seseorang. Sehingga, masalah-masalah yang dihadapi sejenak dapat dilupakan, atau setidaknya aktifitas seperti itu dapat memulihkan energi yang telah terkuras sebelumnya. Begitu seterusnya.

Kita tidak perlu merasa selalu kuat dalam menghadapi masalah, ketika dirasa tubuh dan pikiran mulai kembali lelah, cara ini dapat dilakukan secara berulang. Dengan memberi me time atau waktu untuk diri sendiri, secara tidak langsung, seseorang akan lebih memahami jati dirinya, dan bagaimana pentingnya kehidupan yang sedang dijalani saat ini.

Selanjutnya, seseorang kadang terlalu memikirkan hal yang tidak penting atau hal yang bukan menjadi tugasnya. Sehingga overthinking tidak dapat dihindari lagi dan alhasil masalah akan semakin bertambah rumit.

Hal-hal yang tidak penting—dan bukan menjadi tugas kita—seperti memikirkan bagaimana orang lain menilai diri kita, apakah orang lain dapat bertindak koperatif terhadap apa yang akan kita lakukan, atau berpikir apakah orang lain akan menyukai kita, memang layak dibuang  di keranjang sampah.

Hal-hal seperti ini terkadang membuat seseorang mengalami overthinking dan tentu jika terus menerus dibiarkan, akan berakibat buruk pada kondisi kesehatan. Oleh karena itu, cobalah berhenti membuang waktu dengan memberikan perhatian lebih terhadap pendapat atau hasil dari apa yang sedang kita lakukan saat ini.

Terkadang, kita perlu berani untuk tidak disukai. Sehingga, pikiran akan terhindar dari bagaimana ekspektasi orang lain terhadap diri sendiri, yang mungkin saja timbul dari overthinking tersebut.

Dan, saya rasa, kita tidak perlu memenuhi segala ekspektasi kehidupan yang ada—karena itu bukan tugas yang harus dilakukan. Berjalanlah sesuai dengan apa yang diinginkan dan lakukan dengan baik, tanpa bertumpu pada hasil yang akan didapatkan.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Gangguan Jiwa, “Bebainan”, dan Hal-hal Lain yang Tak Usah Disembunyikan
“Schizophrenia”, Jiwa yang Entah, Proses yang Betah – Sejumlah Catatan Sebelum Pentas
Kekerasan dan Kesehatan Jiwa Masyarakat Bali

“The Marginalist”: Pameran Foto dan Diskusi ODGJ, Mental Health, dan Advokasi Kaum Marginal
Tags: kejiwaankesehatan jiwakesehatan mentaltips
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuh Rekonstruksi Karya I Wayan Lotring dalam Parade Palegongan Klasik Duta Badung dan Gianyar

Next Post

Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails
Next Post
Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Ada Permainan Tajog, Deduplak, dan Terompah dalam Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co