2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gangguan Jiwa, “Bebainan”, dan Hal-hal Lain yang Tak Usah Disembunyikan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 8, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, saya hampir sebulan tak bisa tidur,” keluh pasien sore itu.”Padahal tak ada memikirkan suatu masalah apapun”, lanjutnya. Tetapi mata ini tak mau terpejam sampai pagi. “Ini  membuat saya terganggu, tenaga jadi lemah keesokan harinya”.

Pasien-pasien dengan keluhan seperti ini makin sering saya temukan. Baik di tempat praktek pribadi maupun saat tugas di puskesmas. Keluhan yang lain juga ada, misalnya sakit tak sembuh-sembuh, berpindah-pindah, yang saat dilakukan pemeriksaan fisik tak ditemukan gangguan yang berarti dari pasien tersebut. Ada istilah medis yang khas untuk pasien seperti ini. “Shopping Doctor “. Jadi, pasien ini hanya ingin ketemu dan bercakap dengan tenaga medis, dan itu sebenarnya cukup membantu psikologis yang bersangkutan.

Kebetulan beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti seminar tentang kesehatan jiwa. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan  tentang kesehatan jiwa, termasuk perkembangan terbarunya. Dan ini membuat saya menaruh perhatian yang lebih besar pada pasien dengan keluhan seperti ini. Biasanya saya meluangkan lebih banyak waktu untuk mereka. Dan gangguan tidur merupakan salah satu gangguan paling awal dan ringan dari kecurigaan gangguan jiwa tersebut. Yang seharusnya sudah mulai ditangani dengan baik dan menyeluruh, untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa yang lebih parah dan lebih susah untuk diobati.

Selain gangguan tidur, beberapa gejala lain yang perlu jadi perhatian kita, antara lain : pasien dengan banyak keluhan, berpindah pindah dan  tanpa kelainan fisik yang ditemukan, bisa kita curigai ke arah gangguan cemas. Lalu pasien yang mengalami perubahan perilaku yang mendadak dan tiba tiba (biasanya pada wanita dan remaja ) perlu dipertimbangkan kemungkinan depresi.

Dan banyak kasus yang masih kita temukan di era milenial ini adalah fenomena bebainan yang menimpa wanita remaja pada sebuah kelompok yang bisa sampai beberapa orang. Secara medis barangkali ada suatu istilah khusus untuk fenomena ini yaitu gangguan konversi. Dan satu yang pasti, menangani pasien dengan keluhan seperti ini memerlukan waktu yang lebih lama dan kesabaran ekstra untuk kita sebagai petugas kesehatan dalam mendengarkan keluhan mereka yang sepertinya tak masuk akal dan dibuat buat.

Ironisnya seorang penderita gangguan jiwa biasanya malu untuk menceritakan keluhannya tersebut pada orang lain, dan keluarganya pun enggan untuk lebih tahu dan tergerak  membawanya ke pelayanan kesehatan. Biasanya mereka lebih cenderung mengajak penderita tersebut ke pengobatan non medis, mungkin ini menyangkut kepercayaan dan kekurang- tahuan terkait sakit yang tak terlihat secara fisik bagi mereka.

Ini membuat kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa mereka yang datang kepada kita, hanya sebagian kecil saja dari penderita yang sebenarnya ada di masyarakat. Seperti sebuah puncak gunung es yang terlihat di permukaan, sedang dibawah air sana jumlahnya sudah berkali lipat dari yang bisa kita temukan.

Kecenderungan masyarakat untuk mencari pertolongan non medis pada  pasien tanpa keluhan fisik seperti ini semestinya tak perlu disesali. Saya ingat betul saat kuliah diperkenalkan konsep kesehatan jiwa oleh seorang dosen,(LK Suryani) yaitu konsep biopsikososiobudayaspiritual. Jadi kesehatan jiwa seseorang dipengaruhi oleh begitu banyak faktor.

Sesuai konsep yang tadi , sederhananya selain faktor biologis,  psikologis dan yang ternyata juga sangat berpengaruh adalah situasi sosial budaya dimana individu itu berada, dan keyakinan yang dianut pasien maupun keluarganya itu. Untuk pengaruh sosial budaya ini barangkali tak perlu kita pertanyakan lagi. Sebuah study yang pernah saya baca, mengatakan mayarakat berkelompok seperti kita di Indonesia lebih membantu untuk penderita gannguan jiwa secara umum dibandingkan pada masyarakat individualistis seperti di negara barat sana.

Dan satu kejadian yang membuat dosen saya  menaruh perhatian  serius pada pengaruh sosial budaya termasuk unsur spiritualnya terhadap kesehatan jiwa individu dan masyarakat secara luas bisa saya ceritakan disini dan saya rasakan kebenarannya. Saat ada seseorang meninggal, keluarga biasanya melaksanakan prosesi metuun/nakonang di baas pipis, menanyakan kepada roh orang yang meninggal tersebut tentang penyebab kematiannya.

Biasanya, betapapun sedihnya keluarga yang ditinggalkan tersebut, setelah prosesi ini mereka akan bisa menerima dengan ikhlas kepergian anggota keluarganya tersebut. Fenomena ini yang ditangkap oleh guru saya tersebut dan dia meyakini peran sosial budaya termasuk spitual terhadap kesehatan jiwa  seseorang.

Pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan menaruh perhatian cukup besar terhadap kesehatan jiwa masyrakat . Ini tercermin pada kebijakan  mereka. Program andalan Kemenkes PIS-PK, mensyaratkan petugas puskesmas turun ke lapangan menjemput bola terhadap seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.

Ada poin penderita gangguan jiwa yang harus ditanyakan kepada keluarga yang dikunjungi dari 12 indikator yang menentukan status kesehatan keluarga itu. Kemudian dalam penentuan SPM (standar pelayanan mInimal ) bidang kesehatan. Penanganan penderita gangguan jiwa menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di sebuah kabupaten, sesuai dengan semangat otonomi daerah.

Pasien dengan gangguan jiwa yang tergolong ringan, biasanya masih bisa kita tangani di fasilitas kesehatan primer, dalam hal ini dokter umum dan Puskesmas. Dan ketersediaan obat pun cukup memadai. Yang lebih diperlukan memang mengetahui lebih dini tentang gangguan tersebut sehingga penganan pertama mungkin dengan konseling sederhana yang memang kita telah dilatih untuk melakukannya.

Tetapi untuk pasien dengan gejala yang lebih berat memang perlu penganan yang lebih komperehensif dari tenaga profesional dalam hal ini dokter spesialis kedokteran jiwa. Yang sayangnya masih sedikit keberadaannya. Di kabupaten Buleleng dengan 600 ribu penduduk cuma ada dua dokter spesialis jiwa. Situasi ini memang sebuah tantangan untuk kami di garda terdepan kesehatan untuk bisa mendeteksi masyarakat dengan gangguan jiwa yang masih ringan, dan yang terpenting bisa menggerakkan masyarakat untuk berperan lebih besar untuk  penanggulangan gangguan jiwa ini.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami ganguan jiwa. Beberapa yang saya pelajari di bangku kuliah, kemudian saya sesuaikan degan situasi yang saya temui di praktek. Keturunan memang berpengaruh, keluarga yang ada riwayat gangguan jiwa akan lebih sering terkena. Kepribadian, dalam hal ini introvert dan kurang terbuka juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Beberapa yang saya simpulkan antara lain, pola asuh dalam keluarga, individu yang dimanja, dan merupakan keluarga besar dengan banyak anak. Kemudian anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Kejadian yang mengguncangkan yang dialami seseorang, misalnya kehilangan orang yang dicintai, bahkan kejadian di luar diri, semisal Bom Bali pun bisa menimbulkan gangguan jiwa tersebut.

Dan kenyataan lain bahwa faktor psikologis pun sangat berpengaruh pada ketahanan fisik seseorang terhadap penyakit fisik yang diderita. Banyak saya temui pasien yang semula sehat, ataupun menderita  penyakit serius, begitu mengalami kejadian berat (ditingal pasangan, konflik keluarga, kejadian buruk  pada anak-anaknya) seketika menjadi drop kondisi fisiknya, dan penyakit yang semula yang masih bisa ditanggungkannya, menjadi bertambah parah bahkan berujung kematian.

Seharusnya kita mesti jujur mengakui, penderita gangguan jiwa banyak di sekitar kita, bisa tetangga , keluarga, barangkali kita sendiri pernah mengalami episode gangguan dalam skala yang ringan . Perlu kebesaran hati kita untuk mengakuinya, dan pasti tergerak untuk mencari pertolongan profesional untuk menghindari gangguan lebih lanjut yang lebih parah dan susah untuk disembukan.

Dan untuk kami petugas kesehatan mestinya tak segan untuk berkomunikasi dengan pengobat tradisional lain yang ada di masyarakat sesuai dengan konsep Biopsikososiobudayaspiritual tadi. Saya sendiri biasanya tak segan segan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk sekedar ngobrol dan menggali kemungkinan-kemungkinan adanya masalah pada kejiwaan pasien saya di praktek maupun di tempat tugas. Kebetulan puskesmas saya di daerah pegunungan, yang masyarakatnya petani.

Di musim panen kopi seperti ini kunjungan pasien ke puskesmas bisa dihitung dengan jari. Jadi tak heran kalau saya biasanya menghabiskan waktu dengan pasien cukup lama, bisa setengah jam satu pasien. Dan saya merasakan kelegaan di wajah mereka usai ngobrol ngalor ngidul dengan saya, begitupun yang saya rasakan. Bisa sekedar membantu dengan hanya menjadi teman bicara mereka.

Akhirnya, sesuai harapan, motto terbaru dari WHO, NO HEALTH WITHOUT MENTAL HEALTH..tak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Dan sesuai  satu syair  pada lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya

Kesehatan jiwa tak boleh lagi kita dustakan. [T]

Tags: Gangguan JiwakesehatanOrang Dengan Gangguan Jiwa
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Sulit Mengawali, Sulit juga Berpisah – [Catatan dari KKN Undiksha dari Desa Dawan Kaler]

Next Post

Cinta dalam Sebungkus Tempe – [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cinta dalam Sebungkus Tempe  – [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

Cinta dalam Sebungkus Tempe - [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co