18 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gangguan Jiwa, “Bebainan”, dan Hal-hal Lain yang Tak Usah Disembunyikan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 8, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, saya hampir sebulan tak bisa tidur,” keluh pasien sore itu.”Padahal tak ada memikirkan suatu masalah apapun”, lanjutnya. Tetapi mata ini tak mau terpejam sampai pagi. “Ini  membuat saya terganggu, tenaga jadi lemah keesokan harinya”.

Pasien-pasien dengan keluhan seperti ini makin sering saya temukan. Baik di tempat praktek pribadi maupun saat tugas di puskesmas. Keluhan yang lain juga ada, misalnya sakit tak sembuh-sembuh, berpindah-pindah, yang saat dilakukan pemeriksaan fisik tak ditemukan gangguan yang berarti dari pasien tersebut. Ada istilah medis yang khas untuk pasien seperti ini. “Shopping Doctor “. Jadi, pasien ini hanya ingin ketemu dan bercakap dengan tenaga medis, dan itu sebenarnya cukup membantu psikologis yang bersangkutan.

Kebetulan beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti seminar tentang kesehatan jiwa. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan  tentang kesehatan jiwa, termasuk perkembangan terbarunya. Dan ini membuat saya menaruh perhatian yang lebih besar pada pasien dengan keluhan seperti ini. Biasanya saya meluangkan lebih banyak waktu untuk mereka. Dan gangguan tidur merupakan salah satu gangguan paling awal dan ringan dari kecurigaan gangguan jiwa tersebut. Yang seharusnya sudah mulai ditangani dengan baik dan menyeluruh, untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa yang lebih parah dan lebih susah untuk diobati.

Selain gangguan tidur, beberapa gejala lain yang perlu jadi perhatian kita, antara lain : pasien dengan banyak keluhan, berpindah pindah dan  tanpa kelainan fisik yang ditemukan, bisa kita curigai ke arah gangguan cemas. Lalu pasien yang mengalami perubahan perilaku yang mendadak dan tiba tiba (biasanya pada wanita dan remaja ) perlu dipertimbangkan kemungkinan depresi.

Dan banyak kasus yang masih kita temukan di era milenial ini adalah fenomena bebainan yang menimpa wanita remaja pada sebuah kelompok yang bisa sampai beberapa orang. Secara medis barangkali ada suatu istilah khusus untuk fenomena ini yaitu gangguan konversi. Dan satu yang pasti, menangani pasien dengan keluhan seperti ini memerlukan waktu yang lebih lama dan kesabaran ekstra untuk kita sebagai petugas kesehatan dalam mendengarkan keluhan mereka yang sepertinya tak masuk akal dan dibuat buat.

Ironisnya seorang penderita gangguan jiwa biasanya malu untuk menceritakan keluhannya tersebut pada orang lain, dan keluarganya pun enggan untuk lebih tahu dan tergerak  membawanya ke pelayanan kesehatan. Biasanya mereka lebih cenderung mengajak penderita tersebut ke pengobatan non medis, mungkin ini menyangkut kepercayaan dan kekurang- tahuan terkait sakit yang tak terlihat secara fisik bagi mereka.

Ini membuat kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa mereka yang datang kepada kita, hanya sebagian kecil saja dari penderita yang sebenarnya ada di masyarakat. Seperti sebuah puncak gunung es yang terlihat di permukaan, sedang dibawah air sana jumlahnya sudah berkali lipat dari yang bisa kita temukan.

Kecenderungan masyarakat untuk mencari pertolongan non medis pada  pasien tanpa keluhan fisik seperti ini semestinya tak perlu disesali. Saya ingat betul saat kuliah diperkenalkan konsep kesehatan jiwa oleh seorang dosen,(LK Suryani) yaitu konsep biopsikososiobudayaspiritual. Jadi kesehatan jiwa seseorang dipengaruhi oleh begitu banyak faktor.

Sesuai konsep yang tadi , sederhananya selain faktor biologis,  psikologis dan yang ternyata juga sangat berpengaruh adalah situasi sosial budaya dimana individu itu berada, dan keyakinan yang dianut pasien maupun keluarganya itu. Untuk pengaruh sosial budaya ini barangkali tak perlu kita pertanyakan lagi. Sebuah study yang pernah saya baca, mengatakan mayarakat berkelompok seperti kita di Indonesia lebih membantu untuk penderita gannguan jiwa secara umum dibandingkan pada masyarakat individualistis seperti di negara barat sana.

Dan satu kejadian yang membuat dosen saya  menaruh perhatian  serius pada pengaruh sosial budaya termasuk unsur spiritualnya terhadap kesehatan jiwa individu dan masyarakat secara luas bisa saya ceritakan disini dan saya rasakan kebenarannya. Saat ada seseorang meninggal, keluarga biasanya melaksanakan prosesi metuun/nakonang di baas pipis, menanyakan kepada roh orang yang meninggal tersebut tentang penyebab kematiannya.

Biasanya, betapapun sedihnya keluarga yang ditinggalkan tersebut, setelah prosesi ini mereka akan bisa menerima dengan ikhlas kepergian anggota keluarganya tersebut. Fenomena ini yang ditangkap oleh guru saya tersebut dan dia meyakini peran sosial budaya termasuk spitual terhadap kesehatan jiwa  seseorang.

Pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan menaruh perhatian cukup besar terhadap kesehatan jiwa masyrakat . Ini tercermin pada kebijakan  mereka. Program andalan Kemenkes PIS-PK, mensyaratkan petugas puskesmas turun ke lapangan menjemput bola terhadap seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.

Ada poin penderita gangguan jiwa yang harus ditanyakan kepada keluarga yang dikunjungi dari 12 indikator yang menentukan status kesehatan keluarga itu. Kemudian dalam penentuan SPM (standar pelayanan mInimal ) bidang kesehatan. Penanganan penderita gangguan jiwa menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di sebuah kabupaten, sesuai dengan semangat otonomi daerah.

Pasien dengan gangguan jiwa yang tergolong ringan, biasanya masih bisa kita tangani di fasilitas kesehatan primer, dalam hal ini dokter umum dan Puskesmas. Dan ketersediaan obat pun cukup memadai. Yang lebih diperlukan memang mengetahui lebih dini tentang gangguan tersebut sehingga penganan pertama mungkin dengan konseling sederhana yang memang kita telah dilatih untuk melakukannya.

Tetapi untuk pasien dengan gejala yang lebih berat memang perlu penganan yang lebih komperehensif dari tenaga profesional dalam hal ini dokter spesialis kedokteran jiwa. Yang sayangnya masih sedikit keberadaannya. Di kabupaten Buleleng dengan 600 ribu penduduk cuma ada dua dokter spesialis jiwa. Situasi ini memang sebuah tantangan untuk kami di garda terdepan kesehatan untuk bisa mendeteksi masyarakat dengan gangguan jiwa yang masih ringan, dan yang terpenting bisa menggerakkan masyarakat untuk berperan lebih besar untuk  penanggulangan gangguan jiwa ini.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami ganguan jiwa. Beberapa yang saya pelajari di bangku kuliah, kemudian saya sesuaikan degan situasi yang saya temui di praktek. Keturunan memang berpengaruh, keluarga yang ada riwayat gangguan jiwa akan lebih sering terkena. Kepribadian, dalam hal ini introvert dan kurang terbuka juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Beberapa yang saya simpulkan antara lain, pola asuh dalam keluarga, individu yang dimanja, dan merupakan keluarga besar dengan banyak anak. Kemudian anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Kejadian yang mengguncangkan yang dialami seseorang, misalnya kehilangan orang yang dicintai, bahkan kejadian di luar diri, semisal Bom Bali pun bisa menimbulkan gangguan jiwa tersebut.

Dan kenyataan lain bahwa faktor psikologis pun sangat berpengaruh pada ketahanan fisik seseorang terhadap penyakit fisik yang diderita. Banyak saya temui pasien yang semula sehat, ataupun menderita  penyakit serius, begitu mengalami kejadian berat (ditingal pasangan, konflik keluarga, kejadian buruk  pada anak-anaknya) seketika menjadi drop kondisi fisiknya, dan penyakit yang semula yang masih bisa ditanggungkannya, menjadi bertambah parah bahkan berujung kematian.

Seharusnya kita mesti jujur mengakui, penderita gangguan jiwa banyak di sekitar kita, bisa tetangga , keluarga, barangkali kita sendiri pernah mengalami episode gangguan dalam skala yang ringan . Perlu kebesaran hati kita untuk mengakuinya, dan pasti tergerak untuk mencari pertolongan profesional untuk menghindari gangguan lebih lanjut yang lebih parah dan susah untuk disembukan.

Dan untuk kami petugas kesehatan mestinya tak segan untuk berkomunikasi dengan pengobat tradisional lain yang ada di masyarakat sesuai dengan konsep Biopsikososiobudayaspiritual tadi. Saya sendiri biasanya tak segan segan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk sekedar ngobrol dan menggali kemungkinan-kemungkinan adanya masalah pada kejiwaan pasien saya di praktek maupun di tempat tugas. Kebetulan puskesmas saya di daerah pegunungan, yang masyarakatnya petani.

Di musim panen kopi seperti ini kunjungan pasien ke puskesmas bisa dihitung dengan jari. Jadi tak heran kalau saya biasanya menghabiskan waktu dengan pasien cukup lama, bisa setengah jam satu pasien. Dan saya merasakan kelegaan di wajah mereka usai ngobrol ngalor ngidul dengan saya, begitupun yang saya rasakan. Bisa sekedar membantu dengan hanya menjadi teman bicara mereka.

Akhirnya, sesuai harapan, motto terbaru dari WHO, NO HEALTH WITHOUT MENTAL HEALTH..tak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Dan sesuai  satu syair  pada lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya

Kesehatan jiwa tak boleh lagi kita dustakan. [T]

Tags: Gangguan JiwakesehatanOrang Dengan Gangguan Jiwa
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Sulit Mengawali, Sulit juga Berpisah – [Catatan dari KKN Undiksha dari Desa Dawan Kaler]

Next Post

Cinta dalam Sebungkus Tempe – [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 17, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails
Next Post
Cinta dalam Sebungkus Tempe  – [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

Cinta dalam Sebungkus Tempe - [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 17, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co