7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gangguan Jiwa, “Bebainan”, dan Hal-hal Lain yang Tak Usah Disembunyikan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 8, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, saya hampir sebulan tak bisa tidur,” keluh pasien sore itu.”Padahal tak ada memikirkan suatu masalah apapun”, lanjutnya. Tetapi mata ini tak mau terpejam sampai pagi. “Ini  membuat saya terganggu, tenaga jadi lemah keesokan harinya”.

Pasien-pasien dengan keluhan seperti ini makin sering saya temukan. Baik di tempat praktek pribadi maupun saat tugas di puskesmas. Keluhan yang lain juga ada, misalnya sakit tak sembuh-sembuh, berpindah-pindah, yang saat dilakukan pemeriksaan fisik tak ditemukan gangguan yang berarti dari pasien tersebut. Ada istilah medis yang khas untuk pasien seperti ini. “Shopping Doctor “. Jadi, pasien ini hanya ingin ketemu dan bercakap dengan tenaga medis, dan itu sebenarnya cukup membantu psikologis yang bersangkutan.

Kebetulan beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti seminar tentang kesehatan jiwa. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan  tentang kesehatan jiwa, termasuk perkembangan terbarunya. Dan ini membuat saya menaruh perhatian yang lebih besar pada pasien dengan keluhan seperti ini. Biasanya saya meluangkan lebih banyak waktu untuk mereka. Dan gangguan tidur merupakan salah satu gangguan paling awal dan ringan dari kecurigaan gangguan jiwa tersebut. Yang seharusnya sudah mulai ditangani dengan baik dan menyeluruh, untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa yang lebih parah dan lebih susah untuk diobati.

Selain gangguan tidur, beberapa gejala lain yang perlu jadi perhatian kita, antara lain : pasien dengan banyak keluhan, berpindah pindah dan  tanpa kelainan fisik yang ditemukan, bisa kita curigai ke arah gangguan cemas. Lalu pasien yang mengalami perubahan perilaku yang mendadak dan tiba tiba (biasanya pada wanita dan remaja ) perlu dipertimbangkan kemungkinan depresi.

Dan banyak kasus yang masih kita temukan di era milenial ini adalah fenomena bebainan yang menimpa wanita remaja pada sebuah kelompok yang bisa sampai beberapa orang. Secara medis barangkali ada suatu istilah khusus untuk fenomena ini yaitu gangguan konversi. Dan satu yang pasti, menangani pasien dengan keluhan seperti ini memerlukan waktu yang lebih lama dan kesabaran ekstra untuk kita sebagai petugas kesehatan dalam mendengarkan keluhan mereka yang sepertinya tak masuk akal dan dibuat buat.

Ironisnya seorang penderita gangguan jiwa biasanya malu untuk menceritakan keluhannya tersebut pada orang lain, dan keluarganya pun enggan untuk lebih tahu dan tergerak  membawanya ke pelayanan kesehatan. Biasanya mereka lebih cenderung mengajak penderita tersebut ke pengobatan non medis, mungkin ini menyangkut kepercayaan dan kekurang- tahuan terkait sakit yang tak terlihat secara fisik bagi mereka.

Ini membuat kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa mereka yang datang kepada kita, hanya sebagian kecil saja dari penderita yang sebenarnya ada di masyarakat. Seperti sebuah puncak gunung es yang terlihat di permukaan, sedang dibawah air sana jumlahnya sudah berkali lipat dari yang bisa kita temukan.

Kecenderungan masyarakat untuk mencari pertolongan non medis pada  pasien tanpa keluhan fisik seperti ini semestinya tak perlu disesali. Saya ingat betul saat kuliah diperkenalkan konsep kesehatan jiwa oleh seorang dosen,(LK Suryani) yaitu konsep biopsikososiobudayaspiritual. Jadi kesehatan jiwa seseorang dipengaruhi oleh begitu banyak faktor.

Sesuai konsep yang tadi , sederhananya selain faktor biologis,  psikologis dan yang ternyata juga sangat berpengaruh adalah situasi sosial budaya dimana individu itu berada, dan keyakinan yang dianut pasien maupun keluarganya itu. Untuk pengaruh sosial budaya ini barangkali tak perlu kita pertanyakan lagi. Sebuah study yang pernah saya baca, mengatakan mayarakat berkelompok seperti kita di Indonesia lebih membantu untuk penderita gannguan jiwa secara umum dibandingkan pada masyarakat individualistis seperti di negara barat sana.

Dan satu kejadian yang membuat dosen saya  menaruh perhatian  serius pada pengaruh sosial budaya termasuk unsur spiritualnya terhadap kesehatan jiwa individu dan masyarakat secara luas bisa saya ceritakan disini dan saya rasakan kebenarannya. Saat ada seseorang meninggal, keluarga biasanya melaksanakan prosesi metuun/nakonang di baas pipis, menanyakan kepada roh orang yang meninggal tersebut tentang penyebab kematiannya.

Biasanya, betapapun sedihnya keluarga yang ditinggalkan tersebut, setelah prosesi ini mereka akan bisa menerima dengan ikhlas kepergian anggota keluarganya tersebut. Fenomena ini yang ditangkap oleh guru saya tersebut dan dia meyakini peran sosial budaya termasuk spitual terhadap kesehatan jiwa  seseorang.

Pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan menaruh perhatian cukup besar terhadap kesehatan jiwa masyrakat . Ini tercermin pada kebijakan  mereka. Program andalan Kemenkes PIS-PK, mensyaratkan petugas puskesmas turun ke lapangan menjemput bola terhadap seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.

Ada poin penderita gangguan jiwa yang harus ditanyakan kepada keluarga yang dikunjungi dari 12 indikator yang menentukan status kesehatan keluarga itu. Kemudian dalam penentuan SPM (standar pelayanan mInimal ) bidang kesehatan. Penanganan penderita gangguan jiwa menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di sebuah kabupaten, sesuai dengan semangat otonomi daerah.

Pasien dengan gangguan jiwa yang tergolong ringan, biasanya masih bisa kita tangani di fasilitas kesehatan primer, dalam hal ini dokter umum dan Puskesmas. Dan ketersediaan obat pun cukup memadai. Yang lebih diperlukan memang mengetahui lebih dini tentang gangguan tersebut sehingga penganan pertama mungkin dengan konseling sederhana yang memang kita telah dilatih untuk melakukannya.

Tetapi untuk pasien dengan gejala yang lebih berat memang perlu penganan yang lebih komperehensif dari tenaga profesional dalam hal ini dokter spesialis kedokteran jiwa. Yang sayangnya masih sedikit keberadaannya. Di kabupaten Buleleng dengan 600 ribu penduduk cuma ada dua dokter spesialis jiwa. Situasi ini memang sebuah tantangan untuk kami di garda terdepan kesehatan untuk bisa mendeteksi masyarakat dengan gangguan jiwa yang masih ringan, dan yang terpenting bisa menggerakkan masyarakat untuk berperan lebih besar untuk  penanggulangan gangguan jiwa ini.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami ganguan jiwa. Beberapa yang saya pelajari di bangku kuliah, kemudian saya sesuaikan degan situasi yang saya temui di praktek. Keturunan memang berpengaruh, keluarga yang ada riwayat gangguan jiwa akan lebih sering terkena. Kepribadian, dalam hal ini introvert dan kurang terbuka juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Beberapa yang saya simpulkan antara lain, pola asuh dalam keluarga, individu yang dimanja, dan merupakan keluarga besar dengan banyak anak. Kemudian anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Kejadian yang mengguncangkan yang dialami seseorang, misalnya kehilangan orang yang dicintai, bahkan kejadian di luar diri, semisal Bom Bali pun bisa menimbulkan gangguan jiwa tersebut.

Dan kenyataan lain bahwa faktor psikologis pun sangat berpengaruh pada ketahanan fisik seseorang terhadap penyakit fisik yang diderita. Banyak saya temui pasien yang semula sehat, ataupun menderita  penyakit serius, begitu mengalami kejadian berat (ditingal pasangan, konflik keluarga, kejadian buruk  pada anak-anaknya) seketika menjadi drop kondisi fisiknya, dan penyakit yang semula yang masih bisa ditanggungkannya, menjadi bertambah parah bahkan berujung kematian.

Seharusnya kita mesti jujur mengakui, penderita gangguan jiwa banyak di sekitar kita, bisa tetangga , keluarga, barangkali kita sendiri pernah mengalami episode gangguan dalam skala yang ringan . Perlu kebesaran hati kita untuk mengakuinya, dan pasti tergerak untuk mencari pertolongan profesional untuk menghindari gangguan lebih lanjut yang lebih parah dan susah untuk disembukan.

Dan untuk kami petugas kesehatan mestinya tak segan untuk berkomunikasi dengan pengobat tradisional lain yang ada di masyarakat sesuai dengan konsep Biopsikososiobudayaspiritual tadi. Saya sendiri biasanya tak segan segan untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk sekedar ngobrol dan menggali kemungkinan-kemungkinan adanya masalah pada kejiwaan pasien saya di praktek maupun di tempat tugas. Kebetulan puskesmas saya di daerah pegunungan, yang masyarakatnya petani.

Di musim panen kopi seperti ini kunjungan pasien ke puskesmas bisa dihitung dengan jari. Jadi tak heran kalau saya biasanya menghabiskan waktu dengan pasien cukup lama, bisa setengah jam satu pasien. Dan saya merasakan kelegaan di wajah mereka usai ngobrol ngalor ngidul dengan saya, begitupun yang saya rasakan. Bisa sekedar membantu dengan hanya menjadi teman bicara mereka.

Akhirnya, sesuai harapan, motto terbaru dari WHO, NO HEALTH WITHOUT MENTAL HEALTH..tak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Dan sesuai  satu syair  pada lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya

Kesehatan jiwa tak boleh lagi kita dustakan. [T]

Tags: Gangguan JiwakesehatanOrang Dengan Gangguan Jiwa
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Sulit Mengawali, Sulit juga Berpisah – [Catatan dari KKN Undiksha dari Desa Dawan Kaler]

Next Post

Cinta dalam Sebungkus Tempe – [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Cinta dalam Sebungkus Tempe  – [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

Cinta dalam Sebungkus Tempe - [Ngobrol Kreatif Bersama Pak Nur di Bulfest 2019]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co