14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Unexpected Reunion, Perjumpaan Tak Biasa Made Wianta dan Nyoman Erawan

Seriyoga Parta by Seriyoga Parta
May 25, 2023
in Ulas Rupa
Unexpected Reunion, Perjumpaan Tak Biasa Made Wianta dan Nyoman Erawan

Nyoman Erawan dan Made Wianta | Foto: Istimewa

  • Tulisan ini adalah pengantar untuk pameran Almarhum Made Wianta dan Nyoman Erawan, di Teh Villa Gallery Surabaya, tgl. 23 Mei – 28 Juli 2023

SENI RUPA BALI TUMBUH dengan keunikannya tersendiri. Paruh akhir abad ke 19 di Bali Utara sudah terjadi persentuhan dengan pengaruh Barat, dimulai dengan keterlibatan Ketut Gede dengan Van Der Tuuk membuat ilustrasi bercorak representasi realistik[1]. Ketut Gede melahirkan puluhan atau mungkin ratusan karya-karya di atas kertas dan kanvas yang dengan karakter visual yang cukup khas terkadang penuh satire. Sayang sekali terobosan karya-karya Ketut Gede tidak pernah diungkap sebagai bagian dari awal perkembangan seni lukis Bali yang mendapat persentuhan dengan pengaruh Barat.

Selama ini yang katah hanya tercatat kehadiran pelukis Rudolf Bonnet dan Walter Spies di Bali Selatan, menambatkan pengaruhnya dalam mendorong perkembangan dinamis seni rupa Bali dalam wadah Pita Maha. Sejak tahun 1930-an terjadi geliat kreativitas yang sangat dinamis di daerah Batuan,Ubud dan berpusat di Denpasar, seputaran Bali Hotel dan Museum Bali.

Geliat tersebut membawa perkembangan seni rupa menuju modernisasi, sebuah gerakan kolektif yang melakukan lompatan inovatif keluar langgam tradisionalnya. Karakter kaku turunan bahasa rupa tradisional wayang, perlahan bergerak menjadi plastis, dari ikonik menjadi representatif, gerakan ini muncul di kedalaman pedesaan.

Tidak berhenti sampai di sana, seni rupa Bali mengalami lompatan evolutif tahap berikutnya setelah paruh abad ke-20. Lahir generasi yang mengenyam pendidikan formal seni rupa, beberapa orang anak Bali yang lahir dari akar tradisi budaya Bali mulai memperluas cakrawala keseniannya.

Mereka memasuki pendidikan formal seni rupa, dari desa mereka mulai memberanikan diri memasuki kota. Menjelajahi pengetahuan seni rupa melalui bangku pendidikan formal, tahun 1950-an seiring pindahnya pusat pemerintahan dari Bali Utara menuju Bali Selatan, di Denpasar mulai berdiri sekolah-sekolah formal Sekolah Seni Rupa. Anak-anak muda dari penjuru Bali mulai mengasah dirinya melalui pendidikan formal ini, pembelajaran seni yang tadinya dijalani secara informal (melalui sistem cantrik berguru langsung ke pelukis senior), mulai tergantikan dengan kurikulum formal yang terstruktur.

Tidak cukup hanya sampai tahap pendidikan sekolah menengah atas, darah seni yang mengalir di dalam diri membawa generasi muda yang haus dengan pengetahuan memberanikan diri, menyebrang pulau menuju Jawa untuk menempuh pendidikan tinggi seni rupa. Pilihannya adalah kota Yogyakarta yang telah memiliki pendidikan tinggi akademi seni rupa ASRI, atau pendidikan seni rupa di ITB Bandung.

Keberanian untuk menyebrang ini akan membawa mereka kelak pada kegemilangan karir sebagai seniman-seniman besar yang membawa arus perubahan membawa tonggak baru perkembangan seni rupa modern Bali. Generasi awal yang memasuki ASRI Yogyakarta adalah Nyoman Gunarsa, Made Wianta, kemudian generasi berikutnya seperti Nyoman Erawan. Generasi muda yang ke ITB Bandung adalah Nyoman Tusan dan Wayan Djujul walaupun tidak sampai selesai.

Melalui generasi akademis inilah kemudian seni rupa Bali bertransformasi melahirkan wajah yang berbeda secara kasat mata, muncul diorama visual dengan struktur visual baru. Namun di dalamnya tersirat kandungan muatan konten internal yang berasal dari akar tradisi budaya Bali. Transformasi visual ini menunjukkan tahap perkembangan yang mengalami proses modernitas.

Kurator Jim Supangkat  menyatakan modernitas seni rupa Bali sebagai gerakan “avantgarde tradisi”, yang menunjukan hadirnya muatan lokalitas. Kondisi yang bertolak belakang dengan konsep Modern Barat yang justru meninggalkan dan menolak hal-hal yang berhubungan dengan nilai tradisi, karena tidak sesuai dengan semangat inovasi untuk mengejar kebaruan secara terus menerus. Maka dari itu karya-karya seniman Barat apalagi yang menunjukkan keterkaitan dengan muatan nilai-nilai tradisi budaya, tidak dianggap sebagai karya-karya seni modern.

Kronik pengantar ini menjadi pembuka saya untuk membahas sebuah pameran yang cukup fenomenal yang bertajuk “Perjumpaan Tak Biasa” (unexpected reunion). Pameran ini dikatakan fenomenal karena berhasil menyandingkan dua perupa Bali, yang mana karya cipta mereka mencerminkan persoalan wacana seni modern liyan yang berbeda dengan modernisme Barat.

Mereka sama-sama mengenyam pendidikan formal di Yogyakarta, Made Wianta pada waktu masih menyandang lembaga Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) sementara Nyoman Erawan ketika lembaga ini sudah bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI). Transformasi terakhir lembaga ini menjelma menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sampai saat ini.

Mereka mengenyam pendidikan seni dari dari lembaga yang sama, sama-sama memiliki jangkauan kreativitas yang luas penuh dinamika dan melampaui batasan-batasan. Mereka tidak hanya berkarya seni lukis, tangan-tangan kreatif mereka tidak pernah berhenti untuk mengulik berbagai media dan material seni yang tidak biasa. Mulai dari batu, bambu, kayu, benang, besi, barang bekas (found object) dan berbagai material dapat menjadi karya nan artistik dan mengandung muatan estetika, ketika mendapat sentuhan tangan kreatif mereka.

Tidak cukup memakai perantara berbagai media, tubuh pun menjadi medium untuk menumpahkan kegelisahan kreatif mereka akan berbagai fenomena yang mengimpresi. Karena itulah karya-karya mereka menjangkau kategori baru seperti seni instalasi, performance art, multimedia dan media baru.

Meskipun sama-sama menyandang perupa multi dimensi, kedua tokoh besar seni rupa Bali ini berada dalam dua kutub yang saling bertolak belakang secara konsep dan pandangan berkesenian. Selama ini seperti mustahil untuk mengajak mereka untuk dapat tampil bersama hanya berdua saja di dalam sebuah pameran, karena sama-sama memiliki visi, idealisme dan ego personal yang kuat satu sama lain. Apa perbedaan tersebut?  Mari kita kupas…..

Made Wianta berasal dari desa Apuan di kaki gunung Batu kau di wilayah Tabanan, adalah sosok dengan kemauan dan tekad yang kuat, memiliki cita-cita tinggi dan semangat yang berapi-api. Perjalan keseniannya sangat menarik, setelah mengenyam pendidikan dari ASRI, Wianta memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan formal di Academy des Beaux Arts, Brussel. Demi cita-cita tersebut tahun 1975 ia bertolak ke Belgia dengan semangat menggebu, namun sesampai di sana kenyataannya bertolak belakang semangatnya kandas membuatnya “nge-glandang” dan bekerja di sebuah restoran Indonesia “Le Barong” di Brussel. Di sana ia mengalami kondisi dititik nadir sehingga harus bekerja kasar mencuci piring untuk bertahan hidup.

Singkat cerita pengalaman pahit itu menjadi pelajaran penting baginya untuk menguatkan tekad menjadi seniman hebat, dan mengubah cara pandang dunia-nya terhadap nilai-nilai tradisional dan konsep modern.

Dalam catatan kurator Hendro Wiyanto menyitir pernyataan tegas Wianta, bahwa “kalau suatu kali aku ada di dunia orang kulit putih, maka terbukalah ruang-ruang yang selama ini terkunci. Aku akan berpikir kembali tentang tradisi… Tetapi betapapun juga saya tetap melukis dengan dasar-dasar falsafah Timur yang kudus”[2].

Penulis seni rupa asal Prancis Jean Couteau mencatatkan pernyataan seorang Wianta perihal posisinya sebagai seniman Bali sebagai berikut “apakah dalam karya saya tercermin suatu bentuk ataupun simbol-simbol khas Bali? Yang pasti, saya sebenarnya tak pernah sekalipun berkehendak untuk menjadi seorang seniman yang Bali”.

Berikutnya kembali ditegaskannya, “saya ingin melampaui batasan sebutan dan batasan tradisi apapun”. [3] Pernyataan ini menjadi penegasan terhadap karya-karyanya yang begitu eksploratif dan berupaya keluar dari keterkaitannya dengan nilai-nilai tradisi budaya. Karya-karya menghadirkan ekspresi formal yang sangat modernis.

Sementara Nyoman Erawan juga tak kalah menariknya. Erawan yang lahir pada tahun 1958 di Banjar Delod tangluk, Sukawati, Gianyar Bali, adalah seniman yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan masyarakat yang memegang teguh adat-istiadat dan tradisi religi Hindu Bali. Ayahnya pernah menjabat sebagai pamong desa dan juga menekuni sastra Bali (Jawa Kuno). Lingkungan keluarga menjadi medan pembelajaran seni secara informal yang berperan dalam menanamkan minat seni padanya sejak dini. Keterlibatannya dalam kegiatan adat dan religi, menumbuhkan kesadaran untuk lebih mendalam untuk memahami nilai yang terkandung dalam konsep upacara yadnya, yang sekaligus mendukung bagi proses kreativitas penciptaan karyanya.Penghayatan terhadap nilai-nilai beserta filosofi kosmologi Hindu, memberinya dasar untuk melakukan interpretasi-interpretasi dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut ke dalam konsep berkarya.

Keterlibatan yang mendalam dengan tradisi Bali dan mendalami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, membuat Erawan dengan sadar untuk tak pernah berhenti mengolah eksplorasi rupa yang memakai simbol dan ikon yang berasal tradisi budaya Bali.

Kurator seni rupa Rizky A. Zaelani menegaskan perihal kedasaran itu, “bagi Erawan, ia tak terlalu hirau dengan kategori dalam seni rupa atau rumusan persis untuk setiap jenis karyanya. Pokok terpenting bagi dirinya adalah menemukan tanda-tanda yang tepat untuk menyatakan intensinya menghubungkan orientasi dan sikap dirinya pada nilai-nilai hidup, adat, dan agama”[4].  Berkarya dalam ruang kreativitas Nyoman Erawan adalah sebuah ritus seni rupa, namun ritus ini “tidak sama persis dengan ritual agama, namun tetap mengartikulasikan secara khas kaitannya pada pemahaman dan pengalaman beragama” tandas Rizki.

Dalam tatapan saya kesadaran Erawan akan nilai-nilai tradisi teologi Hindu Bali membawanya pada penemuan metode berkarya yang berasal dari konsep Mandala atau di Bali dikenal sebagai konsep Dewata Nawa Sanga. Erawan selalu memaknai ruang tidak pernah nisbi, ruang baginya sudah memiliki kandungan nilai kosmos, sehingga tugasnya sebagai seniman adalah memaknai terus menerus keterhubungan kosmos tersebut.

Konsep ini membuat karya-karya melampaui batasan kategori-kategori gaya, aliran dan konsep-konsep rupa yang bersifat membatasi ruang kreativitas. Karya-karya Erawan menerjemahan hakiki atas nilai-nilai yang tak terbatas itu, ia juga memberi ruang lapang bagi interpretasi bebas atas karya sesuai impresi dan persepsi sang penikmat.

Membahas kedua tokoh besar dalam seni rupa Bali membutuhkan ruang yang besar, tentunya… Saya hanya bermaksud membuka cakrawala kita bersama bahwa kreativitas kedua master seni rupa ini memiliki keunikannya tersendiri, jika pun kini kita menyaksikan perjumpaan spesial pada pameran yang diinisiasi oleh Teh Villa Gallery, sajian karya-karya ini hanya sebagian kecil sebagai pintu masuk yang cukup signifikan untuk memasuki ruang kreativitas mereka yang tanpa batas.

Kekaryaan mereka memasuki wilayah ulang alik antara nilai tradisi dan modernitas,  yang menurut saya kreativitas mereka sudah sejak lama bahkan melampaui kategori seni rupa kontemporer. [T]

 Bali-Banyuwangi Mei 2023

                                                                                   


[1] Dewa Gede Purwita, MEMBACA EKSPERIMENTASI DALAM LUKISAN I KETUT GEDE SINGARAJA, https://doi.org/10.35886/nawalavisual.v2i1.66

[2] Hendro Wiyanto, 2004, Unseen As Seen by Made Wianta (Drawing 1977-2004), Gallery Canna & Wianta Foundation

[3] Jean Couteau, Made Wianta: Keindahan, Keraguan dan Pemertanyaan yang Kekal, katalog pameran tunggal Made Wianta di Kendra Galerry Seminyak 21 Februari – 21 Maret 2009 p.6

[4] Rizky A. Zaelani, 2pengetahuan, Nyoman Erawan Salvation of The Soul, Penerbit Art Denpasar

Warna Bali, Natural Balinese Colors in The Contemporary Art –Pameran 14 Perupa di Gala Rupa Balinesia Art Space
Gurat Memoar | “Aon” dan Kesemestaan Ida Ketut Bagus Sena
“Colors Is In The Atmosphere” — 3 Perupa Bali Dalam Pameran “Love Is In The Air ” di Teh Villa Gallery Surabaya
Tags: Made WiantaNyoman ErawanPameran Seni RupaSeni RupaSurabayaTeh Gallery
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Perlawanan dalam Alunan Musikalisasi Puisi Budang Bading Badung | Catatan Tatkala May May May 2023

Next Post

ORHIBA : Olah Raga, Spiritualitas dan Kesehatan

Seriyoga Parta

Seriyoga Parta

Wayan Seriyoga Parta, M.Sn, lahir di Tabanan 1980, pengelola program Komunitas Klinik Seni Taxu, redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch (2004-2005), staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo, Founder Gurat Institute. Founder & Kurator Arc of Bali Art Award,

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

ORHIBA : Olah Raga, Spiritualitas dan Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co