22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warna Bali, Natural Balinese Colors in The Contemporary Art –Pameran 14 Perupa di Gala Rupa Balinesia Art Space

Seriyoga Parta by Seriyoga Parta
October 15, 2022
in Ulas Rupa
Warna Bali, Natural Balinese Colors in The Contemporary Art –Pameran 14 Perupa di Gala Rupa Balinesia Art Space

Sejumlah karya dalam pameran Warna Bali di Gala Rupa Balinesia Art Space Jln. Kubu Anyar, No.6, Kuta

Empat belas perupa kontemporer Bali memamerkan karya-karya mereka dengan tajuk Peradaban Amarna Warna Bali di Gala Rupa Balinesia Art Space, Jalan Kubu Anyar, No.6, Kuta, Bali. Pameran yang diselenggarakan Yayasan Gala Rupa Balinesia bersama Gurat Art Project ini dibuka Sabtu 15 Oktober 2022, Pukul 19;00 Wita dan akan berlangsung hingga 25 November 2022.

Tiga belas perupa itu adalah Agung Mangu Putra, Chusin Setiadikara, Dewa Ratayoga, Djaya Tjandra Kirana, Ketut Suwidiarta, Made Griyawan, Made Wiradana, Nyoman Erawan, Ni Nyoman Sani, Nyoman “Polenk” Rediasa, Wayan Suja, Wayan Sujana “Suklu”,Osbert Lyman dan, Wayan Redika.

Di bawah ini adalah tulisan pengantar dari curator pameran, I Wayan Seriyoga Parta, I Made Susanta Dwitanaya:

[][][]

Setiap gerak dan dinamika peradaban Bali yang membentang dari masa lampau hingga kini dijiwai oleh praktik religi Hindu Bali berbasis komunalitas dan ritual sangat dekat dengan berbagai budaya visual hingga seni rupa. Dunia seni rupa dan budaya visual yang tumbuh dalam rahim kebudayaan Bali tersebut, telah  menempatkan konsep dan praksis penerapan warna sebagai bagian penting baik sebagai bagian dari nilai artistik , estetika hingga simbolik yang sarat dengan nilai filosofis.

Warna secara filosofis ditempatkan dalam konsepsi tentang kesemestaan manusia Bali baik semesta diri maupun semesta alam .Warna adalah mandala yang menempati setiap arah mata angin, juga menyatu dalam konsep tentang ketubuhan. Tri Datu, Manca Warna hingga Nawa Sanga adalah konsep konsep yang sarat filosofis dan nilai simbolik pada kesemestaan, spiritualitas hingga magisme. Sedangkan secara aspek materialnya  warna dalam praksis budaya visual dan seni rupa dalam ruang lingkup tradisi, berbasis pada material alam.

Aspek filosofis dan material alam inilah yang mengkrontuksi Warna Bali, yang membentang dari filosofi, material, hingga nilai estetik. Juga aspek kesejarahan tentang hubungan  Bali dengan dunia luar yang terlihat dari penggunaan beberapa material yang tak dihasilkan di Bali seperti Batu Pere untuk pewarna kuning oker dan merah, Gincu dan Deluga untuk pewarna merah, serta Ancur (perekat hewani) untuk pengikat pigmen. Hanya mangsi atau jelaga sebagai pewarna hitam dan tulang babi dan tanduk kijang sebagai pewarna putihlah material pigmen yang memang berasal dan dihasilkan dari wilayah Bali.

Warna Bali sebagai media seni telah menyejarah dan mengakar dalam praktik budaya visual tradisional berlandaskan relegiusitas Hindu Bali. Hingga saat ini keberadaannya masih eksis pada sebagian praktik penciptaan para sangging terutama pada seni topeng, wayang kulit, ukiran, patung dan seni lukis wayang Kamasan.

Nilai spiritualitas dan relegi Hindu Bali memberi dasar kuat keberadaan warna Bali dengan karakteristik material dan tekniknya, dapat bertahan dari zaman ke zaman. Di dalamnya telah terangkum berbagai hal terkait dengan pengetahuan material, konvensi teknik, makna filosifi dan hubungan silang kebudayaan. Meskipun telah diketahui secara umum, namun praksis dan sistem pengetahuan warna Bali masih terbatas pada sangging tertentu saja, belum pernah ada upaya untuk merumuskannya menjadi ilmu pengetahuan yang mencangkup media (material, teknik) dan konsep filosofinya.

Untuk menempatkan Warna Bali sebagai sebuah pengetahuan tentu saja dibutuhkan sebuah upaya riset yang digerakkan secara bertahap dan berkelanjutan. Hal inilah yang menggerakkan Komunitas Budaya Gurat Indonesia melalui divisi Gurat Institute sebagai sebuah lembaga independen dalam bidang riset, kajian, kurasi, dan program program  yang berbasis pada  seni rupa dan budaya visual di Bali bekerjasama dengan Yayasan Gala Rupa Balinesia sejak tahun 2021 secara intens melakukan riset tentang warna Bali.

Tim riset  Gurat Institute melakukan penelusuran ke berbagai wilayah yang menjadi basis praksis penciptaan karya karya seni rupa tradisi Bali untuk memperoleh berbagai data terkait pengetahuan dan praktik penerapan warna Bali yang masih dilakukan oleh para sangging topeng di Singapadu dan Batuan, Pembuat Wayang kulit , hingga ke Kamasan.

Proses riset pertama ini dilakukan sebagai sebuah riset dasar untuk mengumpukan berbagai data dan temuan atas penggunaan material, penerapanya, dan nilai estetika yang dihasilkan. Data lapangan yang kemudian dielaborasi dengan berbagai studi  literatur terkait dengan aspek filosofis dan aspek kesejarahan yang dilamnya terkait dengan narasi silang budaya tersebut telah dibukukan.

***

Proses dan hasil riset dasar yang memuat berbagai data temuan dan studi literatur terkait Warna Bali dalam dimensi filosofis, historis hingga material dan estetika tersebut selanjutnya menjadi dasar dan pengembangan riset lebih jauh. Kekhasan medan sosial seni rupa Bali yang didalamnya membentang berbagai praksis yang berkembang secara dinamis dan bergerak bersamaan kini, mulai dari seni rupa tradisi, modern hingga kontemporer menjadi realitas sekaligus modal kultural untuk menggerakkan riset dasar warna Bali yang telah dilakukan sebelumnya kedalam praksis seni rupa modern kontemporer oleh para perupa Bali yang bergerak dalam medan sosial seni rupa modern kontemporer di Bali.

Maka sejak pertengahan tahun 2022 melalui salah satu divisi Komunitas Gurat Budaya Indonesia  yakni Gurat Art Project sebagai sebuah divisi yang bergerak dalam bidang kuratorial dan program seni rupa menggerakkan hasil riset Gurat Institute dalam sebuah program pameran yang mengajak 14 perupa modern-kontemporer Bali untuk mengeksplorasi dan mengaplikasikan warna Bali kedalam praksis kekaryaan mereka.

Sebagai perupa yang tumbuh dari medan seni modern-kontemporer, warna Bali dengan karakteristiknya yang natural merupakan media yang “baru” untuk praksis kekaryaan mereka. Sebagaimana dijelaskan di awal, hal ini dikarenakan terjadi keterputusan praksis warna Bali sebagai sebentuk pengetahuan dan sangat berjarak dengan praksis seni rupa modern dan kontemporer.

Sehingga ketika mereka mencoba mengeksplorasi media warna Bali terlebih dahulu perlu sebuah adaptasi dan pengenalan karakter media, karena warna Bali memiliki karakteristiknya tersendiri dengan bahan natural serta efek visual yang dihasilkannya sangat berbeda dengan warna sintetik.

Projek ini juga memilih kertas Ulantaga (Daluang) sebagai media utama untuk dikombinasikan dengan warna berbahan alam atau warna natural. Sebagaimana pemakaian bubuk tulang sebagai pigmen putih, jelaga atau mangsi sebagai pewarna hitam, Gincu (Cinabar) sebagai pewarna merah, batu Pere sebagai pewarna kuning,  dan biru dari daun Taum (Indigo). Lima basis warna alam tersebut menghasilkan karakter warna yang khas menyiratkan karakteristik warna yang dipakai pada karya-karya tradisional Bali, seperti dalam wayang kulit, topeng dan seni lukis wayang Kamasan.

Kelima warna itulah yang menjadi basis material utama yang diberikan kepada perupa yang telah memiliki basis kecenderungan karya masing-masing. Pemakaian kertas ulantaga dengan daya serap warna yang berbeda dengan kertas lukis pada umumnya memunculkan problematika yang menarik, menjadi tantangan tersendiri bagi para perupa  serta sekaligus peluang bagi hadirnya pendekatan pendekatan artistik yang juga menuntut penangan dengan teknik yang spesifik.

Karya-karya yang hadir dalam pameran ini menunjukkan beberapa karakteristik visual sebagai hasil dari proses eksplorasi atas material warna dan kertas ulantaga tersebut. Terdapat tiga kecenderungan eksplorasi, antara lain; eksplorasi pendekatan representasional realistik, pendekatan figuratif-simbolik, dan eksplorasi abstrak-formalis.

Masing-masing karya hadir dengan berbagai karakteristik artistik dalam upaya melahirkan capaian estetika. Nilai kesejarahan warna Bali dan kertas ulantaga melahirkan intepretasi yang bersumber pada memori visual tradisi, yang dilandasi dengan identifikasi karaktertik media warna Bali yang memiliki spesifikasi tersendiri. Memori memori visual tersebut menghantarkan mereka pada pilihan eksplorasi visual dan teknik serta pilihan eksplorasi subject matter yang dielaborasi dalam karya.

Nampak pada ekpslorasi karya Nyoman Erawan baik karya dua dimensi dan instalasi yang menggali potensi dan karakter media warna Bali terutama kertas ulantage dengan pendekatan artistik formalistik. Karya Made Griyawan dan Djaya Tjandra Kirana menimbang kembali kekuatan media warna Bali, sebagai sebentuk revitalisasi atas estetika tradisi. Ketut Suwidiarta menggali kekuatan garis yang dipadukan dengan karakter kertas artistik ulantage.

Chusin Setiadikara dan Wayan Sujana “Suklu” menggali kemungkinan artistik simbolik, berangkat dari pembacaan atas estetika seni lukis Kamasan. 

Eksplorasi dengan pendekatan rupa realistik dengan berpijak pada karakteristik artistik media  warna Bali dengan  mengali kemungkinan karakter kertas dan teknik menjadi konsentrasi eksplorasi karya Wayan Redika, Dewa Ratayoga, I Wayan Suja, I Nyoman Rediasa (Polenk), Nyoman Sani, dan Agung Mangu Putra. Karya-karya mereka membuka kemungkinan potensi media warna untuk pengembangan representasional dengan pendekatan spesifik media ini, yang cenderung berbeda dengan media konvensial cat minyak dan cat air. Efek serat dari kertas memicu  daya kreativitas Made Wiradana dan memantik spontanitas garis berpadu dengan warna melalui kekuatan figuratif karyanya.

Melihat fenomena astetika yang dilahirkan oleh perupa dalam pameran ini memperlihatkan potensi material warna Bali dan juga kertas ulantaga sebagai media yang lekat dengan praktik tradisi dapat digerakkan dan dikembangkan dalam konteks penciptaan karya karya seni rupa modern-kontemporer.

Pameran ini adalah awal dan momentum untuk menggerakkan kembali  praksis dan pengetahuan warna Bali dalam praksis penciptaan dan wacana seni rupa kontemporer. Melalui pendekatan yang berbasis pada eksplorasi media menuju kepada kesadaran medium, yang nantinya dapat menjadi daya tawar pada munculnya diskursus ‘baru’ seni rupa Bali kontemporer yang tidak hanya berpusar hanya persoalan tema dan subject matter. Kreativitas dalam mengembangkan basis pengetahuan praksis media warna Bali, tentu harus dibarengi dengan kecakapan teknis dan sensibilitas karakteristik media.[T]

Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik
“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist
Tags: Gurat InstitutePameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Hanya Cengkeh dan Tuak, Desa Tajun Punya Atlet Voli, Karate Hingga Motocross

Next Post

Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan

Seriyoga Parta

Seriyoga Parta

Wayan Seriyoga Parta, M.Sn, lahir di Tabanan 1980, pengelola program Komunitas Klinik Seni Taxu, redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch (2004-2005), staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo, Founder Gurat Institute. Founder & Kurator Arc of Bali Art Award,

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan

Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co