23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | “Aon” dan Kesemestaan Ida Ketut Bagus Sena

Seriyoga Parta by Seriyoga Parta
February 20, 2021
in Esai
Gurat Memoar | “Aon” dan Kesemestaan Ida Ketut Bagus Sena

Ida Bagus Sena [lukisan by Vincent Chandra]

Salah satu di antara sedikitnya seniman muda Bali yang masih memegang erat pakem tradisi seni lukis itu adalah Ida Bagus Sena asal Tebasaya Ubud. Nilai Tradisi tersebut tidak hanya berupa gerak estetik di permukaan atau stilistik, tetapi juga terbangunnya sebuah sistem dasar pengetahuan teknik melukis.

Sebagaimana tradisi melukis di Ubud yang bertahan sampai saat ini tetap memakai teknik yang sama seperti para pendahulunya sewaktu tahun 1930-an lalu. Tradisi teknik itu menjadi sebuah ’konvensi’ yang terus dipegang dari generasi ke generasi oleh seniman Bali khususnya di Ubud.

Ia lahir dari keluarga seniman (pelukis), kakeknya adalah Ida Bagus Made Kembeng salah pelukis era Pitamaha karyanya mendapatkan apresiasi internasional berupa Internasional Medali pada pameran Kolonial di Perancis tahun 1937.

Pamannya juga seorang pelukis yang sangat terkenal yaitu Ida Bagus Made (poleng), dikenal sebagai sosok dengan dedikasi tinggi penuh idealisme dan memilih hidup asketis. Orang tuanya sendiri juga seorang pelukis yaitu Ida Bagus Wiri dan pamannya yang lain adalah seorang dalang. Sehingga dapat dipastikan darah seni mengalir deras dalam dirinya, dan menghantarkannya menapaki jalan kesenimanan sebagai pelukis yang memiliki ciri rupa khas berkarakter filosofi.

Kekhasan dalam karya Sena ternyata tidak menurun begitu saja dari leluhurnya pun dari ayahnya sendiri, temuan estetik tersebut ia capai dari hasil pergaulan pribadinya yang begitu intens dalam ruang-ruang sepi kesehariannya; diselingi dengan menjalani tugas ngayah untuk upacara adat dan agama.

Sebagai bagian dari masyarakat Bali ia tidak dapat lepas dari kegiatan adat (sosial) dan ritual (agama), jika dilihat dari kaca mata modern aktivitas ngayah tersebut dapat menyita waktu-waktu produktif sehingga dianggap merugikan. Tetapi bagi masyarakat Bali, waktu (kala) adalah bagian dari sirkulasi kosmologi yang di dalamnya ada dimensi pribadi dan dimensi-dimensi soal yang tidak dapat ditolak dan harus dijalani sebagai bagian dari keharmonisan kosmos.

Baginya kondisi  adat di Bali tersebut tidak dianggap sebagai beban, tetapi justru bagian dari jalan dan tantangan kehidupannya yang menempuh jalan seniman. Kesenian khususnya seni lukis menjadi sarana baginya untuk menuangkan nilai-nilai kehidupan yang tengah dijalani. Karyanya tidak hanya menampilkan keindahan (estetika) visual semata, tetapi sebuah ramuan dari interpretasi dan penghayatnya terhadap nilai-nilai kehidupan.

Proses berkarya bagi sosok eksentrik ini, adalah proses yang kompleks yang melibatkan pemikiran dan sensibilitas rupa. Sehingga proses yang dijalani selama menyelesaikan karya ini sangatlah panjang, menghabiskan waktu dua setengah tahun. Sungguh sebuah proses yang sangat lama, karena bagi Sena melukis bukan hanya perkara menggurat bentuk dan menggoreskan kuwas saja. Tetapi merupakan sebuah ritus yang dijalaninya secara khusuk sembari merenungi dan menghayati makna-makna kehidupan, melalui tuntunan nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran hidup yang bersumber dari ajaran agama Hindu yang senantiasa dikontekstualisasikan dengan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Hal yang menarik tentang lukisannya adalah caranya mengkonstruksi narasi besar di dalam kanvas, yang disertai dengan upaya mengkontekstualisasikan narasi besar ajaran agama dengan kehidupan kesehariannya sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur adat dan budaya. Ia tidak bermaksud membuat pernyataan verbal yang memihak atau pun mengkritik berbagai silang penafsiran yang terjadi di masyarakat. Menyampaikan pesan mendalam yang melibatkan berbagai macam simbol, perihal pentingnya mempertahankan budaya tradisi dan nilai-nilai yang termaktub di dalamnya.

Sena menegaskan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, dan tidak berwenang untuk mengomentari apa pun selain memilih dengan cara berkutat dengan pemikiran melalui bahasa rupa dan simbol-simbol. Secara visual karya ini terbagi atas dua lapisan yaitu latar depan dan latar belakang, komposisi juga terbagi dua atas dan bawah.

Karyanya menerapkan teknik tradisional yang ketat dimulai dengan mensketsa (ngorten), membuat gelap terang (ngabur/banyuin), mencari dan menegaskan bentuk (ngucek, ngeskes), dan diakhiri dengan membuat detail (nyawi). Teknik melukis ini sudah mentradisi di daerah Ubud dan Batuan, walaupuan terdapat perbedaan dalam penekanan prosesnya.

Teknik klasik yang diterapkan dalam karya-karyanya tidak hanya sebatas perkara media untuk mengungkapkan gagasan, tetapi juga bagian dari konten yang tengah dibahasakan melalui bahasa rupa khas. Komposisi antara gelap dan terang tidak hanya berhenti menjadi permainan visual semata, tetapi memiliki maksud untuk mengungkapkan konten.

Pembagian gelap yang menjadi latar belakang (background) adalah refleksi dari narasi kehidupan yang tengah ia soroti. Sedangkan bagian depan (foreground) dibuat lebih menonjol secara visual melalui warna dan pencahayaan, adalah lapisan makna yang memiliki dimensi filosofi disadur dari kitab Itihasa yaitu Mahabarata.

Pola bercerita dengan metode dua lapisan dimensi antara foreground dan background, digabungkan dengan pola klasik pembagian ruang menjadi dua yaitu ruang bawah dan ruang atas. Ruang bawah adalah dimensi mikro kosmos alam manusia yang terikat nilai, dan ruang atas adalah dimensi makro kosmos alam yang maha agung yang bebas nilai.

Sebagai manusia biasa ia menyadari dirinya hanyalah setitik kecil yang berada di dalam lingkaran sosial, sehingga keterikatan diri dengan lingkungan dan bahkan alam adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana tercermin dalam motif khas yang menyerupai api atau awan (aon) yang ternyata berasal dari motif Patre Punggel. Sebuah motif klasik dalam khasanah seni ukir Bali. Berupa titik yang melingkar berbentuk spiral dan terhubung satu dengan lainnya, seperti itulah Sena memaknai dirinya menjadi bagian dari masyarakat dan bahkan alam. [T]

  • Tulisan ini merupakan nukilan dari pengantar Kurator PameranTunggal Ida  Bagus Sena “ Muter Tatwa” di Museum Puri Lukisan Ubud, Agustus 2018

BACA JUGA

Ilustrasi: Ida Bagus Sena sedang melukis [Vincent Chandra]

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Tags: baliIda Ketut Bagus SenaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Next Post

Makanan Bukan Sekadar Sajian | Bisa Jadi Karya Seni, Simbol Kekerabatan dan Persembahan

Seriyoga Parta

Seriyoga Parta

Wayan Seriyoga Parta, M.Sn, lahir di Tabanan 1980, pengelola program Komunitas Klinik Seni Taxu, redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch (2004-2005), staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo, Founder Gurat Institute. Founder & Kurator Arc of Bali Art Award,

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Makanan Bukan Sekadar Sajian | Bisa Jadi Karya Seni, Simbol Kekerabatan dan Persembahan

Makanan Bukan Sekadar Sajian | Bisa Jadi Karya Seni, Simbol Kekerabatan dan Persembahan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co