3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Made Pasca Wirsutha: Berawal Jadi Guide Teman, Menjadi Rekonstruktor Tarian

Dyah Sri Khrisna Aryantini by Dyah Sri Khrisna Aryantini
April 14, 2023
in Persona
I Made Pasca Wirsutha: Berawal Jadi Guide Teman, Menjadi Rekonstruktor Tarian

I Made Pasca Wirasutha | Dok. Penulis

PELESTARIAN SENI di Kabupaten Buleleng memang sangat gencar dilakukan oleh pemerintah maupun maestro-maestronya. Hal itu bisa kita lihat dengan banyaknya hasil rekontruksi karya seni terdahulu. Nah, salah satu hasil rekontruksi yang ada di Kabupaten Buleleng adalah Tari Legong Pengeleb.

Tari Legong Pengeleb adalah salah satu jenis tarian kekebyaran yang tercipta dari Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Tarian ini menggambarkan suasana hati kaum perempuan yang penuh kegembiraan dengan meluapkan ekspresi bahagia, sukacita, dan keagresifan.

Dyah Sri Khrisna Aryantini saat mementaskan Tari Legong Pengeleb

Menurut sejarah yang saya ingat, tarian ini lahir di zaman pergerakan nasional, bahkan jauh sebelum itu, karya seni ini lahir sejak zaman emansipasi wanita ketika Raden Ajeng (RA) Kartini sedang gencar memperjuangkan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.

Hingga tahun 2010, tarian fenomenal ini di rekonstruksi oleh I Made Pasca Wirsutha, S.Sn—tokoh yang kerap disapa Dek Pas atau Kocok.

Perjalanan Dek Pas Merekonstruksi Lengong Pengeleb

Dek Pas (Kocok), pria kelahiran Singaraja, 9 November 1981, ini memang terkenal dalam dunia rekonstruksi tarian Bali. Ia alumni ISI Denpasar. Dan sekarang ia  mengajar Seni Karawitan di SMKN 1 Sukasada.

Pada tahun 2003, untuk pertama kalinya, Dek Pas berhasil merekonstruksi Tari Kebyar Legong. 2004 ia kembali menghasilkan karya rekonstruksi tari, kali ini Tari Wiranjaya. Lalu Tari Legong Pengeleb (2010); Tari Cendrawasih Buleleng (2013); Tari Pudak Sinunggal gaya Dangin Njung (2016); Tari Palawakya gaya Dauh Njung (2017); dan Tabuh Sari Anom dan Bratayuda gaya Jagaraga (2018).

Untuk rekonstruksi Tari Legong Pengeleb sendiri, perjalanan Dek Pas dalam menggali tari ini sangatlah panjang. Begini kisahnya:

Awalnya, Dek Pas kedatangan seorang teman dari Canada bernama Erick Vandal. Tujuan Erick datang ke Buleleng adalah untuk merekam tabuh atau gending kekebyaran kuno yang ada di Desa Menyali. Dek Pas diminta untuk mengantarnya ke Desa Menyali.

“Kedatangan kami di Desa Menyali disambut hangat oleh para seniman yang ada di sana. Dan obrolan kami semakin dalam, sampai kami mendapatkan cerita tentang Tari Legong Pengeleb ini,” kisahnya, saat saya hubungi pada Kamis (13/04/23) siang.

Semenjak saat itu, Dek Pas tertarik untuk mengetahui lebih lanjut dan lebih dalam tentang tarian ini.

Ia bersungguh-sungguh; ia mencari informan, seorang seniman di Desa Menyali yang bernama Bape Baiq. Setelah bertemu dan berbincang membahas tarian ini, betapa kagetnya saat Dek Pas dimintai uang atas informasi yang Bape Baiq berikan.

“Saya hanya seorang guru, dan belum memiliki penghasilan yang cukup. Jadi  saya mengurungkan niat untuk hal tersebut,” akunya.

Tetapi, karena sudah kadung tertarik, tak lama kemudian ia kembali mengunjungi Desa Menyali. Kali ini ia mengunjungi Bape Carik dengan niat yang bersungguh-sungguh—dan meyakinkan dirinya jika ia berniat baik pasti hasilnya akan baik pula. Akhirnya, setelah beberapa kali pertemuan; setelah sekian purnama dilewati, ia berhasil mendapatkan informasi tentang Tari Legong Pengeleb.

“Sedikit demi sedikit, Bape Carik dan Bape Suandra memberikan informasi tentang gending atau iringan tari ini,” katanya.

Pada tahun 2010, tepatnya setelah ajang Pesta Kesenian Bali, Dek Pas  mendapat keseluruhan iringan Tari Lengong Pengeleb. Hanya saja, waktu itu Dek Pas masih takut untuk menyebarkan hasil rekonstruksi yang ia lakukan.

Higga akhir tahun 2010, saat Sanggar Cudamani, Ubud, Gianyar, mendapatkan projek tour ke Amerika dan mencari gending-gending kebyar Buleleng, Dek Pas baru merasa percaya diri untuk memberikan materi rekonstruksinya kepada sanggar tersebut.

Ya, hasil rekonstruksi Dek Pas, untuk pertama kalinya, dipentaskan oleh Sanggar Cudamani di Amerika dengan I Made Keranca, seniman dari Desa Jagaraga, sebagai penata tarinya. Baru setelah tour selesai, karya rekonstruksi ini dibawa ke Buleleng pada awal tahun 2011.

“Selanjutnya, hasil rekonstruksi saya dipentaskan Padepokan Seni Dwi Mekar, yang pada saat itu mewakili Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Buleleng diajang Pesta Kesenian Bali tahun 2011. (Di Desa Menyali tari ini sudah ada dari tahun 50an.),” kenangnya.

Yang Menarik dari Tari Legong Pengeleb

Hal menarik yang membuat Dek Pas menggali tari ini adalah dari sudut iringannya. Katanya, ia banyak mendengar tabuh-tabuh Tari Kebyar Legong dalam iringan Tari Legong Pengeleb. Memang, Tari Kebyar Legong sudah jauh tercipta sebelumnya. “Jadi saya sangat tertarik dengan hal ini,” katanya.

Dan, faktanya, selain ada kebyar di iringan Tari Legong Pengeleb, juga ada bagian-bagian lainnya seperti pengadeng atau pemanis. Tapi, hal ini berbeda dengan Tari Pelegongan yang ada di Bali Selatan. Bedanya, kalau di Bali Selatan, iringan pelegongan biasanya diiringi dengan instrumen kendang kecil (kendang krumpung), sedangkan di Bali Utara menggunakan kendang besar (kendang gede).

Selain itu, menurut Dek Pas, Tari Legong Pengeleb juga ada kemiripan dengan Tari Legong Saba yang ada di Gianyar. Memang, dulu seniman-seniman yang ada di Bali Selatan banyak yang belajar ke Bali Utara, tepatnya di Desa Jagaraga, Desa Menyali, dan Desa Sawan.

“Akhirnya diadakan semacam study banding.Gede Manik (seniman Buleleng sekaligus pencipta Tari Trunajaya) diajak ke Gianyar sedangkan Anak Agung Saba (seniman asal Gianyar sekaligus pencipta Tari Legong Saba) diajak ke Buleleng. Itu yang mendasari ide-ide iringan Tari Legong Pengeleb ini.” jelas Dek Pas.

Dan sekarang, sudah banyak yang mempersembahkan Tari Legong Pengeleb ini—walaupun tidak sedikit  pula yang mengubahnya sedikit-sedikit. Dek Pas merasa “kurang enak” akan hal itu—ia merasa perjuangannya untuk menggali karya ini sangatlah panjang dan dengan usaha yang keras.

Energi dari tarian ini tidak beda dengan tari kekebyaran yang ada di Buleleng. Sedikit cerita, sebagai orang yang pernah mementaskannya, saya memang sangat terkesan dengan karya ini.

Dari unsur gerak tari yang terkadung di dalamnya, memanglah sangat beragam—dan tarian ini termasuk tarian yang berat. Dilihat dari gerakannya, mulai dari jongkok sambil melompat, jalan sambil jongkok, melompat naik ke properti, wahhh… bisa dibayangkan betapa sulitnya, bukan?

Akhirnya, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Guru Cening (alm) dan Gede Negara atau Britem (alm), sekarang tarian ini sudah dikembalikan ke Desa Menyali.

Dan, Tari Legong Pengeleb akan dipentaskan kembali dalam ajang Pesta Kesenian Bali 2023 oleh Sekaha Gong Legendaris Desa Menyali. For your information, tarian ini juga sering dipentaskan di luar negeri, dari Amerika Serikat, Belgia, Belanda, hingga Canada.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Pekan Apresiasi Seni, Tari Magrumbungan, dan Pengalamanku sebagai Pembimbing
Tercipta Tari Maskot Desa Batur “Tirtha Mahamreta Pratistha” | Catatan Pengabdian ISI Denpasar di Desa Batur
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun
Tags: karawitanSeniseni taritari baliTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Sudiana dan Prof Lasmawan, Rektor Undiksha yang Pernah Gagal Nyalon Wakil Bupati

Next Post

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Dyah Sri Khrisna Aryantini

Dyah Sri Khrisna Aryantini

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi di STAH N Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co