23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Kadek Risma Widiantari by Kadek Risma Widiantari
April 14, 2023
in Esai
Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Ilustrasi tatkala.co | Kadek Risma Widiantari

LAGU BERJUDUL Friendzone kembali hit. Lagu yang dirilis pada tahun 2012 itu dinyanyikan Budi Doremi—musisi pop kenamanan itu.

Di kalangan kaula muda, istilah friendzone memang sedang populer. Dan karena itu lagu yang liriknya berisi curhatan-curhatan tragis—lagu yang menjadi ost sebuah film berjudul ‘Catatan Akhir Kuliah’ pada tahun 2015—itu kembali melejit.

“Zona hanya teman”, atau friendzone, sebuah kondisi pertemanan antara perempuan dan laki-laki dengan salah satu pihak memiliki ketertarikan seksual. Hmm.. atau mungkin keduanya sama-sama memiliki perasaan? Itu rahasia Tuhan. Berdalih “tidak ingin merusak pertemanan”, malah terjebak friendzone, begitu biasanya.

Lagu di atas membawa kita seolah-seolah berada pada kondisi yang sangat mengenaskan. Setiap kata demi kata dalam lirik lagu tersebut, menjadi relate dengan apa yang dirasakan oleh mereka yang sedang dalam situasi friendzone.

Banyak orang akhirnya fokus pada setiap kata yang terdapat dalam lirik lagu itu. “Kita jalan berdua, bergandeng tangan tapi tak jadian”. Begitu sepotong kalimat yang dilantunkan Budi dengan suara merdunya.

Dan, seperti secuil kata yang pernah aku baca dari sebuah novel—maaf, aku tidak mengingat judulnya. Begini katanya: “Loyalitas akan berakhir, ketika benefit berhenti”. Loyalitas sendiri bisa berarti sebuah kesetiaan yang ditunjukan kepada seseorang. Kesetiaan bisa saja hilang sewaktu-waktu ketika kita sudah tidak mendapatkan benefit.

Begitu juga dengan friendzone, ketika sudah merasa tidak saling membutuhkan dan tidak mendapatkan manfaat apapun dari hubungan ambigu yang dijalani, maka percayalah semua itu akan berakhir seiring dengan berjalannya waktu.

***

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, tentunya aku menjadi pendengar yang baik untuk teman-teman tercinta. Tak sedikit dari mereka yang pernah berada pada posisi friendzone. Emm…mungkin aku juga pernah. Hehe. (Sudah sudah, jangan menvonis diri sendiri.)

Kondisi seperti ini memang sangat ambigu—dan hubungan ambigu itu nyata adanya. Bayangkan, saling memberi kabar, tanpa ada status yang jelas.  Aku, kamu, dan kalian, pasti pernah mengalaminya—oh, maaf, ralat: mungkin.

Setelah dipikir-pikir, aneh memang. “Kenapa gemar sekali menyakiti diri sendiri?” Inilah fenomena yang marak terjadi pada anak muda saat ini.

Perasaan nyaman memang muncul tanpa aba-aba. Justru semakin menggebu-gebu ketika kita merasa terhubung dengan seseorang yang mempunyai hobi sama, genre musik sama hingga selera humor yang sama.

Mana bisa mengelak dengan hubungan—yang sudah terbiasa bersama—selama bertahun-tahun?

Terjebak dalam zona nyaman secara terus menerus, dapat menjadi boomerang bagi diri sendiri. Boom! Semua bisa meledak sewaktu-waktu. Terjebak dalam friendzone membuat emosi-emosi negatif akan terus megisi ruang di kepala. Kecewa, marah, takut, tertekan dan putus asa tidak dapat dikendalikan lagi.

Mungkin awalnya kamu akan percaya, jika pertemanan lawan jenis itu bisa murni tanpa adanya perasaan lebih (maksudnya pertemanan yang lebih dari sekadar teman). Padahal, pada kenyataannya, situasi seperti itu susah dilakukan.

Ya, kamu sering chat-an sama dia, pergi berdua, berbagi cerita, peduli satu sama lain hingga—suatu yang terkadang tidak kamu sadari—kamu bergantung padanya. Pokonya, apa-apa selalu dia. Layaknya menjadi seorang “mas pacar” atau “mbak pacar”.

***

Sebelum lanjut soal friendzone, coba perhatikan narasi di bawah ini:

Teruntuk laki-laki baik hati yang setiap hari bertanya “kenapa perempuan sering PHP?”, sini aku kasih penjelasannya.

Sebenarnya tidak semua perempuan seperti itu. Beberapa perempuan tidak ada maksud untuk memberi harapan palsu. Tapi, sebenarnya lebih seperti perumpamaan lama: “jinak-jinak merpati” (berpura-pura sulit didekati dan didapatkan hatinya).

Kami juga bukan takut berkomitmen; kami juga ingin punya pacar, sebagai penyemangat. Lantas, kenapa kadang tidak mau diajak pacaran?

Tunggu! Jangan cepat melabeli kami dengan julukan pemberi harapan palsu ya, Boys! Karena banyak faktor penyebab kenapa kami begitu.

Faktor pertama, karena kami memang belum mau pacaran dan hanya sekadar ingin mencari teman untuk sharing saja. Sedangkan yang kedua, kalian kadang tidak konsisten saat melakukan pendekatan dengan kami. Kadang ada, kadang hilang. Huft..menyebalkan!

Dengan begitu, jadinya kami maju mundur, antara mau buka hati atau tidak. Ibarat seperti saat kalian bertamu ke rumah kami dan hanya menunggu di teras tanpa pernah mengetuk pintu. Bagaimana mungkin kami persilakan kalian duduk di ruang tamu?

Ya, begitulah kira-kira. Bagaimana kami membuka pintu, sedangkan kalian berada di situasi antara mau pulang atau bertamu.

***

Kembali membahas friendzone. Jika Anda sudah mencermati narasi di atas, tentu Anda tahu alasan kenapa beberapa perempuan gampang terjebak dalam situasi friendzone.

Aku pikir alasan pertama memang sering menjadi faktor pendukung paling kuat. Selama belum ada kesepakatan untuk berkomitmen, suatu hubungan tidak bisa berkembang menjadi “lebih dari sekadar teman”.

Namun, teman-teman jangan khawatir, kali ini aku akan memberikan beberapa cara supaya Anda bisa keluar dari zona friendzone.

 Dilansir dari halodoc, terdapat beberapa cara agar kita tidak terjebak ke dalam hubungan tanpa status yang tragis ini. Mari resapi dan ikuti!

Tidak perlu selalu ada untuknya

Selalu menyediakan diri kapanpun untuk si dia, adalah kesalahan paling mendasar yang dilakukan orang-orang di dalam hubungan pertemanan.

Jangan pernah menempatkan diri sebagai seorang teman yang selalu ada dan mengiyakan segala sesuatunya, karena ini dapat menimbulkan perasaan lebih dari teman dan ketergantungan. Yaps.. ujung-ujungnya susah untuk lepas.

Jangan terlalu berlebihan, berikan batasan. Batasi apa yang bisa kamu lakukan untuk teman laki-laki.

Hindari skinship dengan teman lawan jenis

Beri batasan-batasan fisik, sebab terkadang hal ini dapat menimbulkan benih-benih cinta yang kita tidak tahu datangnya darimana. Apalagi elusan di kepala, waduh.. yang satu ini sih sangat cepat memantik kobaran api asmara.

Jangan hangout hanya berdua saja

Jangan hangout hanya berdua saja, nanti yang ketiganya setan. Haha.. bercanda. Maksudnya, pergilah beramai-ramai dengan mengajak teman-teman untuk bergabung. Dengan begitu, kita dapat terhindar dari suasana seolah-olah seperti sedang berkencan dengan dia.

Tidak perlu ada rasa marah ketika si dia tidak mengabari

Memang bukan kewajiban kan, untuk memberi kabar setiap waktu kepada si dia. Jatuhnya malah seperti satpam, yang harus laporan setiap saat. Hehehe. Berhentilah bersikap terlalu posesif, karena mereka hanyalah seorang teman biasa.

Gimana? Sanggup kalian melakukannya? Tenang, lakukanlah secara perlahan. Kita berhak untuk pergi sebentar dari kehidupan teman kita. Tentu, itu karena dunia kita tidak melulu tentang dia dan dia lagi.

Jadi, jika temanmu hanya menganggap kamu sebagai seorang teman, kamu tidak boleh memaksa dia atau menunggu lama sampai kura-kura bisa lari untuk menerima cintamu.

Santai saja, jangan diambil pusing, nanti malah jadi pening. Dibawa happy aja, friendzone bukan berarti pertemanan kita clear and done, bukan?[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking!
Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja

Pantai, Tempat Berkumpulnya Orang-orang Stress
Penggemar Boys Love Series Thailand, Apakah Salah?
Tags: cintaesaipersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Made Pasca Wirsutha: Berawal Jadi Guide Teman, Menjadi Rekonstruktor Tarian

Next Post

“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih

Kadek Risma Widiantari

Kadek Risma Widiantari

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di STAH N mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih

“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co