2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Kadek Risma Widiantari by Kadek Risma Widiantari
April 14, 2023
in Esai
Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone

Ilustrasi tatkala.co | Kadek Risma Widiantari

LAGU BERJUDUL Friendzone kembali hit. Lagu yang dirilis pada tahun 2012 itu dinyanyikan Budi Doremi—musisi pop kenamanan itu.

Di kalangan kaula muda, istilah friendzone memang sedang populer. Dan karena itu lagu yang liriknya berisi curhatan-curhatan tragis—lagu yang menjadi ost sebuah film berjudul ‘Catatan Akhir Kuliah’ pada tahun 2015—itu kembali melejit.

“Zona hanya teman”, atau friendzone, sebuah kondisi pertemanan antara perempuan dan laki-laki dengan salah satu pihak memiliki ketertarikan seksual. Hmm.. atau mungkin keduanya sama-sama memiliki perasaan? Itu rahasia Tuhan. Berdalih “tidak ingin merusak pertemanan”, malah terjebak friendzone, begitu biasanya.

Lagu di atas membawa kita seolah-seolah berada pada kondisi yang sangat mengenaskan. Setiap kata demi kata dalam lirik lagu tersebut, menjadi relate dengan apa yang dirasakan oleh mereka yang sedang dalam situasi friendzone.

Banyak orang akhirnya fokus pada setiap kata yang terdapat dalam lirik lagu itu. “Kita jalan berdua, bergandeng tangan tapi tak jadian”. Begitu sepotong kalimat yang dilantunkan Budi dengan suara merdunya.

Dan, seperti secuil kata yang pernah aku baca dari sebuah novel—maaf, aku tidak mengingat judulnya. Begini katanya: “Loyalitas akan berakhir, ketika benefit berhenti”. Loyalitas sendiri bisa berarti sebuah kesetiaan yang ditunjukan kepada seseorang. Kesetiaan bisa saja hilang sewaktu-waktu ketika kita sudah tidak mendapatkan benefit.

Begitu juga dengan friendzone, ketika sudah merasa tidak saling membutuhkan dan tidak mendapatkan manfaat apapun dari hubungan ambigu yang dijalani, maka percayalah semua itu akan berakhir seiring dengan berjalannya waktu.

***

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, tentunya aku menjadi pendengar yang baik untuk teman-teman tercinta. Tak sedikit dari mereka yang pernah berada pada posisi friendzone. Emm…mungkin aku juga pernah. Hehe. (Sudah sudah, jangan menvonis diri sendiri.)

Kondisi seperti ini memang sangat ambigu—dan hubungan ambigu itu nyata adanya. Bayangkan, saling memberi kabar, tanpa ada status yang jelas.  Aku, kamu, dan kalian, pasti pernah mengalaminya—oh, maaf, ralat: mungkin.

Setelah dipikir-pikir, aneh memang. “Kenapa gemar sekali menyakiti diri sendiri?” Inilah fenomena yang marak terjadi pada anak muda saat ini.

Perasaan nyaman memang muncul tanpa aba-aba. Justru semakin menggebu-gebu ketika kita merasa terhubung dengan seseorang yang mempunyai hobi sama, genre musik sama hingga selera humor yang sama.

Mana bisa mengelak dengan hubungan—yang sudah terbiasa bersama—selama bertahun-tahun?

Terjebak dalam zona nyaman secara terus menerus, dapat menjadi boomerang bagi diri sendiri. Boom! Semua bisa meledak sewaktu-waktu. Terjebak dalam friendzone membuat emosi-emosi negatif akan terus megisi ruang di kepala. Kecewa, marah, takut, tertekan dan putus asa tidak dapat dikendalikan lagi.

Mungkin awalnya kamu akan percaya, jika pertemanan lawan jenis itu bisa murni tanpa adanya perasaan lebih (maksudnya pertemanan yang lebih dari sekadar teman). Padahal, pada kenyataannya, situasi seperti itu susah dilakukan.

Ya, kamu sering chat-an sama dia, pergi berdua, berbagi cerita, peduli satu sama lain hingga—suatu yang terkadang tidak kamu sadari—kamu bergantung padanya. Pokonya, apa-apa selalu dia. Layaknya menjadi seorang “mas pacar” atau “mbak pacar”.

***

Sebelum lanjut soal friendzone, coba perhatikan narasi di bawah ini:

Teruntuk laki-laki baik hati yang setiap hari bertanya “kenapa perempuan sering PHP?”, sini aku kasih penjelasannya.

Sebenarnya tidak semua perempuan seperti itu. Beberapa perempuan tidak ada maksud untuk memberi harapan palsu. Tapi, sebenarnya lebih seperti perumpamaan lama: “jinak-jinak merpati” (berpura-pura sulit didekati dan didapatkan hatinya).

Kami juga bukan takut berkomitmen; kami juga ingin punya pacar, sebagai penyemangat. Lantas, kenapa kadang tidak mau diajak pacaran?

Tunggu! Jangan cepat melabeli kami dengan julukan pemberi harapan palsu ya, Boys! Karena banyak faktor penyebab kenapa kami begitu.

Faktor pertama, karena kami memang belum mau pacaran dan hanya sekadar ingin mencari teman untuk sharing saja. Sedangkan yang kedua, kalian kadang tidak konsisten saat melakukan pendekatan dengan kami. Kadang ada, kadang hilang. Huft..menyebalkan!

Dengan begitu, jadinya kami maju mundur, antara mau buka hati atau tidak. Ibarat seperti saat kalian bertamu ke rumah kami dan hanya menunggu di teras tanpa pernah mengetuk pintu. Bagaimana mungkin kami persilakan kalian duduk di ruang tamu?

Ya, begitulah kira-kira. Bagaimana kami membuka pintu, sedangkan kalian berada di situasi antara mau pulang atau bertamu.

***

Kembali membahas friendzone. Jika Anda sudah mencermati narasi di atas, tentu Anda tahu alasan kenapa beberapa perempuan gampang terjebak dalam situasi friendzone.

Aku pikir alasan pertama memang sering menjadi faktor pendukung paling kuat. Selama belum ada kesepakatan untuk berkomitmen, suatu hubungan tidak bisa berkembang menjadi “lebih dari sekadar teman”.

Namun, teman-teman jangan khawatir, kali ini aku akan memberikan beberapa cara supaya Anda bisa keluar dari zona friendzone.

 Dilansir dari halodoc, terdapat beberapa cara agar kita tidak terjebak ke dalam hubungan tanpa status yang tragis ini. Mari resapi dan ikuti!

Tidak perlu selalu ada untuknya

Selalu menyediakan diri kapanpun untuk si dia, adalah kesalahan paling mendasar yang dilakukan orang-orang di dalam hubungan pertemanan.

Jangan pernah menempatkan diri sebagai seorang teman yang selalu ada dan mengiyakan segala sesuatunya, karena ini dapat menimbulkan perasaan lebih dari teman dan ketergantungan. Yaps.. ujung-ujungnya susah untuk lepas.

Jangan terlalu berlebihan, berikan batasan. Batasi apa yang bisa kamu lakukan untuk teman laki-laki.

Hindari skinship dengan teman lawan jenis

Beri batasan-batasan fisik, sebab terkadang hal ini dapat menimbulkan benih-benih cinta yang kita tidak tahu datangnya darimana. Apalagi elusan di kepala, waduh.. yang satu ini sih sangat cepat memantik kobaran api asmara.

Jangan hangout hanya berdua saja

Jangan hangout hanya berdua saja, nanti yang ketiganya setan. Haha.. bercanda. Maksudnya, pergilah beramai-ramai dengan mengajak teman-teman untuk bergabung. Dengan begitu, kita dapat terhindar dari suasana seolah-olah seperti sedang berkencan dengan dia.

Tidak perlu ada rasa marah ketika si dia tidak mengabari

Memang bukan kewajiban kan, untuk memberi kabar setiap waktu kepada si dia. Jatuhnya malah seperti satpam, yang harus laporan setiap saat. Hehehe. Berhentilah bersikap terlalu posesif, karena mereka hanyalah seorang teman biasa.

Gimana? Sanggup kalian melakukannya? Tenang, lakukanlah secara perlahan. Kita berhak untuk pergi sebentar dari kehidupan teman kita. Tentu, itu karena dunia kita tidak melulu tentang dia dan dia lagi.

Jadi, jika temanmu hanya menganggap kamu sebagai seorang teman, kamu tidak boleh memaksa dia atau menunggu lama sampai kura-kura bisa lari untuk menerima cintamu.

Santai saja, jangan diambil pusing, nanti malah jadi pening. Dibawa happy aja, friendzone bukan berarti pertemanan kita clear and done, bukan?[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking!
Andai Aku Punya Pintu ke Mana Saja

Pantai, Tempat Berkumpulnya Orang-orang Stress
Penggemar Boys Love Series Thailand, Apakah Salah?
Tags: cintaesaipersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Made Pasca Wirsutha: Berawal Jadi Guide Teman, Menjadi Rekonstruktor Tarian

Next Post

“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih

Kadek Risma Widiantari

Kadek Risma Widiantari

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di STAH N mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih

“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co