2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Pesan Moral Keagamaan dari Sinetron “Para Pencari Tuhan”

Achmad Uzair Assyaakir by Achmad Uzair Assyaakir
April 11, 2023
in Ulas Film
Menelisik Pesan Moral Keagamaan dari Sinetron “Para Pencari Tuhan”

Poster sinetron Para Pencari Tuhan | Foto: Google

MASIH SEGAR DALAM INGATAN SAYA, tahun 2007, saat sinetron Para Pencari Tuhan atau yang biasa disingkat menjadi PPT mengawali debutnya. Tak hanya membuat sahur dengan nasi lauk-pauk yang tersaji di depan saya sekeluarga menjadi lebih lezat, melainkan tontonan islami ini juga memicu gelak tawa.

 Ini kemudian menjadi hal yang penting guna mereformasi keyakinan kita dewasa ini soalan agama. Agama yang sering dibawakan dengan sikap mencak-mencak, gemar mengkafir-kafirkan, atau terkesan “dikit-dikit sesat”, kini agak tercerahkan dan bergeser kearah komedi.

Secara tersirat, hal ini menandakan bahwa “Islam” tidak melulu harus diantarkan dengan cara ceramah, melingkar kajian, atau talkshow-talkshow islami yang biasa hadir di televisi, tetapi juga boleh tercurah melalui sinema elektronik yang sarat akan kelucuan dan pesan moral.

Diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema, dengan penulisan naskah dan dialog yang seringkali mengandung satire sekaligus menohok perihal agama islam, Para Pencari Tuhan seakan-akan tak pernah kehabisan ide untuk nongol setiap tahunnya.

Disutradarai oleh Deddy Mizwar yang sekaligus merangkap menjadi aktor dengan nama Bang Jack, pesan-pesan islami secara verbal maupun non-verbal dapat terlontar dengan ringan serta mudah diterima oleh penonton. Tidak bersifat menggurui malah membikin kita untuk introspeksi diri.

Hal itu tersebab entah karena dilatarbelakangi oleh tokoh pembawa terang sinar agama Islam-nya, yakni Deddy Mizwar yang berperan sebagai marbot masjid, atau entah karena pesannya yang dikemas dengan jenaka serta dekat dengan isu-isu sosial keagamaan yang ada di sekitar kita.

Mengawali sepak terjangnya, sinetron Para Pencari Tuhan diisi oleh grup lawak senior Trio Bajaj yang terdiri dari Melki, Isa, dan Aden. Trio inilah yang berperan sebagai kriminal serta berpengetahuan terlampau minim perihal agama. Kelak, mereka bertemu dengan Bang Jack, dua sejoli Asrul dan Udin, Pak Jalal, dan tokoh-tokoh lainnya.

Melalui ketidaktahuan ketiga pelawak tadi tentang Tuhan dan agama Islam, penonton seakan-akan hendak diarahkan serta dibimbing menuju Islam yang damai dan benar. Jalan yang ditempuh Trio Bajaj dalam kisah ini merupakan jalan yang boleh mengocok perut, tapi jika diselami lebih dalam, maka kita akan menemui nilai-nilai sosial keagamaan yang berkelindan erat dengan masyarakat.

Pada tahun ini, Para Pencari Tuhan sudah memasuki jilid yang ke-16. Yang mana dikarenakan lama penayangannya, sinetron ini menerima rekor dari Museum Rekor Indonesia untuk serial religi Ramadan berkelanjutan terlama.

Atas kekonsistenan serta kualitasnya yang tetap dipertahankan, semoga Para Pencari Tuhan bisa menjadi suri tauladan di kancah persinetronan Indonesia. Sekaligus mematahkan stigma bahwa bukan hanya sinetron berbau teenlit saja yang bisa laris, tapi “yang ada” unsur agama-agamanya juga bisa dibikin manis.

Pengemasan secara keseluruhan, pemilihan karakter, penokohan, serta—lagi-lagi—dialog menjadi salah satu ciri khas tersendiri. Jika pada awal-awal jilid, tagline sinetron ini adalah “kiamat sudah dekat”, maka sekarang berganti menjadi “kiamat semakin dekat”. Saya agak tergelitik dengan salah satu dialog di dalamnya.

“Mana, katanya kiamat sudah dekat, kok enggak kiamat-kiamat?”

“Kiamat bukan sudah dekat lagi, tapi semakin dekat!”

Dialog-dialog seperti itu agaknya berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran sutradara bersama tim. Perubahan tagline dikarenakan “kiamat yang belum terjadi” meski sudah berbelas-belas jilid Para Pencari Tuhan menghiasi layar televisi pun menjadi persoalan.

 Penggunaan tagline yang sama bakal menimbulkan semacam ketidakpercayaan di hadapan penonton. Semacam “ini sudah dekat mulu perasaan dari tahun ke tahun tidak berubah”, maka dengan perubahan “semakin dekat” saja sudah bisa memberi penekanan kepada  penonton, bahwa semakin banyak jilid yang ada di PPT, semakin dekat pula kita dengan akhir zaman.

Ramadan tahun lalu, tema yang diangkat adalah pondok pesantren lansia, sedangkan pada Ramadan tahun ini ada empat sekawan anak punk yang mencari jati diri: dan sudah tentu pencariannya melalui ajaran agama islam. Bukan hanya sekadar setiap jilid yang memiliki fokus atau persoalan sosial keagamaannya tersendiri, tetapi kebernasan hikmah dari setiap episode-nya membuat penonton tak mau kelewatan menonton barang satu scene saja.

Tak dapat dimungkiri, humor atau hiburan adalah salah satu jalan yang ramah sekaligus mudah diterima oleh banyak orang. Maka dengan hadirnya sinetron Para Pencari Tuhan, boleh jadi merupakan angin segar bagi agama islam di era teknologi ini. Agar kemudian banyak yang mulai mengenal Islam. Barangkali awal-awal dipicu dengan tawa, tapi tidak menutup kemungkinan ke depannya akan menjadi lebih serius dan mempelajari ajaran agama Islam secara lebih mendalam. Insya Allah. [T]

Mitos Patriarki Dalam Sinetron “Dunia Terbalik”
Menikah Tak Disetujui Ortu, Tirulah Sinetron, Biar Lucu…
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Tags: agamaIslamPara Pencari Tuhansinetron
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertimbangan dalam Memilih Game Musik yang Menyenangkan dan Bermanfaat

Next Post

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Achmad Uzair Assyaakir

Achmad Uzair Assyaakir

Anak Kesayangan Emak, yang meromantisasi buku; film; dan kopi. Bisa disapa melalui IG: @uzairasy

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co