2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Pesan Moral Keagamaan dari Sinetron “Para Pencari Tuhan”

Achmad Uzair Assyaakir by Achmad Uzair Assyaakir
April 11, 2023
in Ulas Film
Menelisik Pesan Moral Keagamaan dari Sinetron “Para Pencari Tuhan”

Poster sinetron Para Pencari Tuhan | Foto: Google

MASIH SEGAR DALAM INGATAN SAYA, tahun 2007, saat sinetron Para Pencari Tuhan atau yang biasa disingkat menjadi PPT mengawali debutnya. Tak hanya membuat sahur dengan nasi lauk-pauk yang tersaji di depan saya sekeluarga menjadi lebih lezat, melainkan tontonan islami ini juga memicu gelak tawa.

 Ini kemudian menjadi hal yang penting guna mereformasi keyakinan kita dewasa ini soalan agama. Agama yang sering dibawakan dengan sikap mencak-mencak, gemar mengkafir-kafirkan, atau terkesan “dikit-dikit sesat”, kini agak tercerahkan dan bergeser kearah komedi.

Secara tersirat, hal ini menandakan bahwa “Islam” tidak melulu harus diantarkan dengan cara ceramah, melingkar kajian, atau talkshow-talkshow islami yang biasa hadir di televisi, tetapi juga boleh tercurah melalui sinema elektronik yang sarat akan kelucuan dan pesan moral.

Diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema, dengan penulisan naskah dan dialog yang seringkali mengandung satire sekaligus menohok perihal agama islam, Para Pencari Tuhan seakan-akan tak pernah kehabisan ide untuk nongol setiap tahunnya.

Disutradarai oleh Deddy Mizwar yang sekaligus merangkap menjadi aktor dengan nama Bang Jack, pesan-pesan islami secara verbal maupun non-verbal dapat terlontar dengan ringan serta mudah diterima oleh penonton. Tidak bersifat menggurui malah membikin kita untuk introspeksi diri.

Hal itu tersebab entah karena dilatarbelakangi oleh tokoh pembawa terang sinar agama Islam-nya, yakni Deddy Mizwar yang berperan sebagai marbot masjid, atau entah karena pesannya yang dikemas dengan jenaka serta dekat dengan isu-isu sosial keagamaan yang ada di sekitar kita.

Mengawali sepak terjangnya, sinetron Para Pencari Tuhan diisi oleh grup lawak senior Trio Bajaj yang terdiri dari Melki, Isa, dan Aden. Trio inilah yang berperan sebagai kriminal serta berpengetahuan terlampau minim perihal agama. Kelak, mereka bertemu dengan Bang Jack, dua sejoli Asrul dan Udin, Pak Jalal, dan tokoh-tokoh lainnya.

Melalui ketidaktahuan ketiga pelawak tadi tentang Tuhan dan agama Islam, penonton seakan-akan hendak diarahkan serta dibimbing menuju Islam yang damai dan benar. Jalan yang ditempuh Trio Bajaj dalam kisah ini merupakan jalan yang boleh mengocok perut, tapi jika diselami lebih dalam, maka kita akan menemui nilai-nilai sosial keagamaan yang berkelindan erat dengan masyarakat.

Pada tahun ini, Para Pencari Tuhan sudah memasuki jilid yang ke-16. Yang mana dikarenakan lama penayangannya, sinetron ini menerima rekor dari Museum Rekor Indonesia untuk serial religi Ramadan berkelanjutan terlama.

Atas kekonsistenan serta kualitasnya yang tetap dipertahankan, semoga Para Pencari Tuhan bisa menjadi suri tauladan di kancah persinetronan Indonesia. Sekaligus mematahkan stigma bahwa bukan hanya sinetron berbau teenlit saja yang bisa laris, tapi “yang ada” unsur agama-agamanya juga bisa dibikin manis.

Pengemasan secara keseluruhan, pemilihan karakter, penokohan, serta—lagi-lagi—dialog menjadi salah satu ciri khas tersendiri. Jika pada awal-awal jilid, tagline sinetron ini adalah “kiamat sudah dekat”, maka sekarang berganti menjadi “kiamat semakin dekat”. Saya agak tergelitik dengan salah satu dialog di dalamnya.

“Mana, katanya kiamat sudah dekat, kok enggak kiamat-kiamat?”

“Kiamat bukan sudah dekat lagi, tapi semakin dekat!”

Dialog-dialog seperti itu agaknya berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran sutradara bersama tim. Perubahan tagline dikarenakan “kiamat yang belum terjadi” meski sudah berbelas-belas jilid Para Pencari Tuhan menghiasi layar televisi pun menjadi persoalan.

 Penggunaan tagline yang sama bakal menimbulkan semacam ketidakpercayaan di hadapan penonton. Semacam “ini sudah dekat mulu perasaan dari tahun ke tahun tidak berubah”, maka dengan perubahan “semakin dekat” saja sudah bisa memberi penekanan kepada  penonton, bahwa semakin banyak jilid yang ada di PPT, semakin dekat pula kita dengan akhir zaman.

Ramadan tahun lalu, tema yang diangkat adalah pondok pesantren lansia, sedangkan pada Ramadan tahun ini ada empat sekawan anak punk yang mencari jati diri: dan sudah tentu pencariannya melalui ajaran agama islam. Bukan hanya sekadar setiap jilid yang memiliki fokus atau persoalan sosial keagamaannya tersendiri, tetapi kebernasan hikmah dari setiap episode-nya membuat penonton tak mau kelewatan menonton barang satu scene saja.

Tak dapat dimungkiri, humor atau hiburan adalah salah satu jalan yang ramah sekaligus mudah diterima oleh banyak orang. Maka dengan hadirnya sinetron Para Pencari Tuhan, boleh jadi merupakan angin segar bagi agama islam di era teknologi ini. Agar kemudian banyak yang mulai mengenal Islam. Barangkali awal-awal dipicu dengan tawa, tapi tidak menutup kemungkinan ke depannya akan menjadi lebih serius dan mempelajari ajaran agama Islam secara lebih mendalam. Insya Allah. [T]

Mitos Patriarki Dalam Sinetron “Dunia Terbalik”
Menikah Tak Disetujui Ortu, Tirulah Sinetron, Biar Lucu…
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Tags: agamaIslamPara Pencari Tuhansinetron
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertimbangan dalam Memilih Game Musik yang Menyenangkan dan Bermanfaat

Next Post

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Achmad Uzair Assyaakir

Achmad Uzair Assyaakir

Anak Kesayangan Emak, yang meromantisasi buku; film; dan kopi. Bisa disapa melalui IG: @uzairasy

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Setelah Tes Membuat Canang dan Klakat, Terpilih 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co