4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mitos Patriarki Dalam Sinetron “Dunia Terbalik”

L Margi by L Margi
July 5, 2019
in Ulasan
Mitos Patriarki Dalam Sinetron “Dunia Terbalik”

Google

Satu hal yang terpikirkan dalam benak saya tentang tayangan hiburan di televisi. Apa mungkin masih ada yang bisa menarik perhatian kita dari sisi kebaharuan dan kebermanfaatan?

Saya rasa pelaku industri pertelevisian hanya berlindung pada zona aman demi yang dinamakan bisnis. Rating yang tunggi membuat  mereka akan mempertahankan sebuah tontonan meski tidak  bermutu sekalipun.

Sejalan berkembangnya teknologi informasi, hal tersebut tidaklah menjadi kerisauan masyarakat. Pada akhirnya kebutuhan sebuah informasi atau hiburan yang dulu kita dapatkan dari televisi bergeser pada keasyikan masyarakat mengakses internet. Mereka cenderung lebih banyak menggunakan waktunya untuk bersinggungan dengan sosmed dan media online.

Hal ini membuktikan bahwa internet adalah media yang terkenal sangat interaktif mampu menggeser televisi sebagai multi-mediatik.

Lalu apakah memang semua hiburan yang ditayangkan televisi sama sekali tidak ada yang bisa kita lirik sebagai sesuatu yang menarik? Ternyata tidak juga. Masih ada tayangan sinetron di salah satu stasiun televisi yang memang masih relevan dan bisa dinikmati baik sebagai sebuah hiburan maupun dijadikan sebagai proses berpikir.

Sinetron “Dunia Terbalik” yang tayang setiap malam di RCTI  memberi gambaran kehidupan nyata dan bisa kita temui di sekitar kita. Dunia terbalik mengangkat isu tentang kultur yang ada di sebuah Desa Ciraos – Jawa Barat. Di mana para penduduknya masih memegang dan mencintai budaya secara turun temurun.

Secara umum budaya memiliki pengertian sebagai cara hidup sekelompok manusia yang berkembang dan diwariskan secara turun temurun. Tentu saja meski bagainanapun kemajuan perkembangan dunia, maka budaya akan tetap dipertahankan bagi sebagian masyarakat. Seperti halnya masyarakat Ciraos menyadari bahwa mereka lahir dari budaya dan tentu saja tidak akan bisa lepas dari budaya tersebut,

Dalam sinetron Dunia terbalik memperlihatkan bagaimana budaya yang tidak lazim bagi kebanyakan masyarakat. Para wanita (seorang istri) yang menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja sebagai TKW di Luar Negeri, sedangkan laki-laki (Suami) menjadi bapak rumah tangga – mengurus dan membesarkan anak-anaknya.

Empat pemeran suami dalam sinetron ini adalah Akum (Agus Kuncoro), Aceng (Sutan Simatupang), Dadang (Indra Borowo), Idoy (Bambang Chandra Bayu). Mereka bertukar peran dengan para istri untuk mengasuh dan membesarkan anak. Para istri mereka menjadi TKW di beberapa negara seperti Hongkong dan Arab.

Dalam tayangan setiap episode dimunculkan berbagai konflik mulai dari konflik internal sampai pada konflik eksternal. Beberapa konflik dalam sinetron ini diantaranya:

Dadang dengan naluri kelaki-lakiannya yang tentu saja tidak bisa dipungkiri. Menjalin hubungan LDR dengan istri tentu saja membuat ia menjadi menempatkan sebagian perasaannya pada wanita lain di kampung tersebut (Entin yang diperankan oleh Rosnita Putri Permata). Begiti pula dengan Akum dan Ibu Guru Yola.

Kang Karnadi yang harus dihadapkan pada kenyataan istrinya pulang ke Indonesia dalam keadaan hamil karena pemerkosaan di Negara tempat ia bekerja. Bagaimana istrinya menanggung sanksi sosial dan kebencian dari suami dan anaknya atas kejadian tersebut.

Ceu Edah yang meninggal karena kerusuhan di Hongkong dan meninggalkan satu anak yang masih kecil. Jauh sebelum itu Istri Edoy juga menjadi korban TKW yang meninggal dunia di Luar Negeri.

Kegelisahan anak-anak muda (Perempuan) Ciraos tentang budaya yang mengikat mereka – apakah mereka harus mengikuti budaya tersebut?

Meskipun terlihat konflik dalam sinetron ini terlihat cukup rumit, namun sinetron ini termasuk dikategorikan sitetron komedi. Pesan moral dari setiap kejadian dalam sinetron ini tidak selalu menjual kesedihan atau bahkan berunsur doktrin, namun terkadang bahkan mengundang gelak tawa.

***

Sinetron Dunia Terbalik tidak hanya sekedar menunjukkan budaya yang berkembang di sebagian wilayah, namun juga menunjukkan perubahan sosial peran gender. Semakin luas ruang gerak perempuan memperoleh akses pendidikan yang tinggi dan kebijakan pemerintah yang mendukung, maka perempuan juga memiliki kesempatan sama dengan laik-laki – di berbagai bidang ranah publik.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Elly Marika Maya Mahad dengan judul Representasi Fatherhood (Majalah Ayah Bunda). Penelitian ini menunjukkan bahwa ada sebuah perlawanan mitos patriarki yang berkembang. Hal ini dianggap sangat penting bagi peneliti karena adanya perubahan sosial, dimana perempuan mampu bekerja di ranah publik. Dengan demikian tentu saja peran laki-laki juga harus bisa melakukan segala pekerjaan domestik.

Terlepas dari penelitian tersebut, saya merasa ada juga beberapa hal perempuan yang lebih fundamental dan harus dijaga selain upaya mematahkan mitos patriarki. Menilik sinetron Dunia Terbalik seharusnya membuat kita menjadi berpikir beberapa hal fatal yang seharusnya tidak terjadi diantaranya:

  • Dari sisi psikologis antara ibu dan seorang anak.

Sebuah keluarga utuh saja terkadang masih ada kendala dalam pola asuh dan muncul berbagai konflik. Lebih-lebih hubungan yang tergambar pada sinetron Dunia terbalik.

  • Dari sisi keselamatan diri perempuan

Sekuat apapun peremuan, bukankah ia berhak mendapat perlindungan diri dari pihak manapun terlebih dari pihak keluarga. Tidak sedikit kita mendengar para pekerja wanita di Luar Negeri yang mendapat perlakuan tidak selayaknya. Penyiksaan, pemerkosaan, bahkan sampai pada kematian yang tak wajar.

***

Dua hal yang menarik dalam sinetron Dunia Terbalik dan saya rasa layak dijadikan rujukan adalah cerita dari sinetron ini mewakili realitas sosial yang ada dalam masyarakat dan permasalahan yang ditampilkan juga mengajak kita peka dan berpikir kritis pada konflik sosial yang ada di sekitar. [T]

Tags: laki-lakipatriarkiresensisinetron
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Kelor untuk Kesehatan: Dari Mistis hingga Bisnis, Dari “Jukut” hingga “Laklak”

Next Post

Festival Tepi Sawah Dibuka Aneka Workshop Bertema Budaya Indonesia

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Festival Tepi Sawah Dibuka Aneka Workshop Bertema Budaya Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co