2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
March 26, 2023
in Kuliner
Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Porsi babi genyol Mendarta | Foto Dian Ayu

BILA SAYA HARUS bertanya, Babi Guling atau Babi Genyol, apa pilihan anda? Dan bila pertanyaan itu hadir kepada saya, maka jawaban saya adalah: tidak ada.

Wah, wah, tolong normalkan kembali kedua alis anda yang mengkerut, atau garis bibir anda yang sedang berlekuk karena mungkin tengah meboya membaca kalimat pertama di atas. Saya tidak salah menyantumkan pernyataan. Hanya saja, saya memang belum memberi penjelasan yang bisa membuktikan ke-semeton-an saya sebagai warga Bali. Ngok.. ngok.. ngok..

Pernah suatu kali saya menyimak review jujur, akurat, terpercaya, dan tentunya bikin ngiler tentang kedahsyatan nasi babi genyol Men Darta dari Pak Ole (baca: Made Adnyana Ole, pimred tatkala.co). Saya selalu ingat bagaimana detail beliau menjelaskan kenikmatan sepiring nasi babi genyol sambil menelan ludah berkali-kali. Dan ajaibnya, saya juga ikut gelek-gelek walau hanya mendengar cerita saja.

Perasaan ingin mencoba akhirnya muncul. Lama saya simpan perasaan itu walau sudah saya lewati warung Men Darta berkali-kali. Hingga akhirnya, saya dengan kebetulan mengadakan kesempatan untuk mencobanya.

Tepatnya di suatu siang menuju sore di hari Jumat, di minggu ketiga bulan Maret tahun 2023. Situasi pada saat itu, saya tengah gebug hujan sedari saya masih di jalur Gitgit yang mengular hingga sampai di daerah Baturiti yang lurus mulus. Saya kedinginan, perut ikut keroncongan. Begitulah, tiba-tiba motor saya langsung terparkir di bawah plang bertuliskan “Babi Genyol Men Darta”.

Tidak terlalu lama, sekitar kurang dari lima menit menunggu, seporsi Babi Genyol sudah tersedia di hadapan saya. Itu poin plus. Secawan jukut balung, dan sepiring nasi berisi sate lilit, lawar, paru, gorengan daging, kerupuk babi, sambel, dan tentu saja bintang utamanya sepotong babi genyol terpampang di paling atas antara lauk lainnya. Nasi babi genyol Men Darta adalah nasi babi genyol pertama bagi saya. Benar, sebelumnya saya tidak pernah mencoba nasi babi genyol sama sekali.

Saya tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan seporsi hidangan itu. Saya penasaran pada rasa dari semua jenis lauk yang dihadirkan. Kepala saya terkadang manggut-manggut, alis saya kadang terlalu mengkerut, juga bahu saya terkadang luruh seperti tidak punya tenaga yang cukup untuk menahannya tetap tegak. Lalu saat hanya tulang-tulang balung saja yang terisa, saya setuju nasi babi genyol Men Darta itu enak. Walau bagi saya, ya, tidak ada hal yang terlalu istimewa kecuali kulit babi genyolnya yang meleleh walau tidak saya kunyah dengan tenaga. Itu highlight dari saya.

Porsi babi genyol Men Darta | Foto Dian Ayu

Setelah melepas rasa penasaran terhadap nasi babi genyol, saya lanjutkan perjalan menuju Denpasar. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, saya melewati warung nasi babi guling Men Janji. Memori ketika saya mencoba seporsi nasi di sana terkuar kembali, dan secara tidak sengaja langsung membandingkan dengan seporsi nasi babi genyol yang baru saja saya nikmati.

Pada umumnya, bumbu dasar babi guling dan babi genyol itu tidak jauh berbeda. Keduanya menggunakan base genep, sebagai ciri dari olahan khas orang Bali. Pelengkap yang ada juga serupa:  jukut balung, lawar, sambel, dan gorengan.Harga yang ditawarkan untuk seporsinya  juga sama, yaitu Rp. 25.000 saja. Kalau begitu, apa yang bisa kita bandingkan dari kedua makanan terpapan atas itu?

Saya sebagai orang yang doyan makan, terbiasa mengategorikan makanan sebagai makanan yang enak banget atau enak aja. Dasar yang biasa saya gunakan adalah tampilan, aroma, rasa, dan tekstur dalam satu porsi sajian makanan. Dan inilah poin pentingnya dalam penilaian saya terhadap babi guling dan babi genyol.

Babi Guling dan Babi Genyol

Siapa yang tidak suka babi guling? Mungkin hanya sepersekian orang saja  yang bilang “Saya!”. Saya tidak menghakimi itu, tapi tentu banyak yang setuju dengan saya bahwa babi guling itu memang makanan kategori ‘enak banget loh gaesss.’

Saya tidak akan lagi membincangkan tentang base genep¸ karena kebanyakan dari kita sudah tahu tentang itu. Yang lebih menarik bagi saya adalah tentang jargon (sebut saja demikian) “Tes Kriuk”. Banyak orang membuat konten video atas kenyaringan kriukan kulit babi guling, dan ternyata banyak juga yang tertarik untuk menontonnya.

 Itu yang saya maksud tentang tekstur, suatu hal yang saya sebut ‘memikat’ ketika menyantap babi guling: perasaan bahagia mendengar suara ngeritik. Tidak jarang, orang rela membayar lebih mahal untuk mendapat potongan kulit garing yang lebih besar. Lantas menurut saya, di sanalah tekstur memegang kuasa yang cukup besar untuk memengaruhi penilaian terhadap suatu makanan. Dari poin ini, babi guling unggul sementara dari babi genyol.

Tetapi walau demikian, sudah tentu juga ada yang tidak begitu doyan dengan kritik be guling. Saya contohnya, hehehe. Saya salah seorang yang tidak bisa mengonsumsi kritik be guling dalam porsi yang banyak. Hanya sekali gigitan, sudah lebih dari cukup bagi saya. Perasaan eneg masih sering terasa.

Saya jauh lebih menyukai bila kulit babi guling itu direbus, dan disajikan dengan balung sebagai olahan jukut. Kulit babi guling yang direbus akan memiliki tekstur kenyal, atau yang sering saya sebut sebagai tekstur grenyel-grenyel, yang menurut saya sangat cocok dipadukan dengan kuah jukut base genep.

Sama seperti tekstur babi genyol. Daging babi akan dimasak dengan base genep dengan direbus dalam waktu tertentu, dan akan menghadirkan tekstur yang empuk dan kenyal. Terkhusus di bagian antara kulit dan lemaknya—yang bila dengan waktu yang pas, akan memberikan tekstur kenyal yang sempurna. Wah, sangat nikmat bila dimakan bersamaan dengan nasi hangat dan sambel sere.

Atas dasar itu, walaupun babi genyol tidaklah sepopuler babi guling, bagi saya sendiri, babi genyol memiliki kedudukan yang setara dengan babi guling. Keduanya memiliki poin memikat masing-masing dan tergantung dari preferensi kita pribadi sebagai penikmatnya. Babi guling dengan sensasi kulit ngeritik, dan babi genyol dengan sensai kulit yang kenyal-lumer.

Jadi, bila sekali lagi saya bertanya, teman-teman akan memilih berada di tim yang mana? [T]

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja
Babi Guling Tidak Boleh, Ayam Guling pun Jadi di Warung Mbok Eka Banyuning Singaraja
Tags: babi genyolbabi gulingkulinerkuliner khas balirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Jalanan: Penghubung atau Pemutus?

Next Post

Jejak Gde Dharmaja di Pemkab Buleleng: Dari Tukang Surat Hingga Perencana Pembangunan

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Gde Dharmaja di Pemkab Buleleng: Dari Tukang Surat Hingga Perencana Pembangunan

Jejak Gde Dharmaja di Pemkab Buleleng: Dari Tukang Surat Hingga Perencana Pembangunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co