12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
March 26, 2023
in Kuliner
Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Porsi babi genyol Mendarta | Foto Dian Ayu

BILA SAYA HARUS bertanya, Babi Guling atau Babi Genyol, apa pilihan anda? Dan bila pertanyaan itu hadir kepada saya, maka jawaban saya adalah: tidak ada.

Wah, wah, tolong normalkan kembali kedua alis anda yang mengkerut, atau garis bibir anda yang sedang berlekuk karena mungkin tengah meboya membaca kalimat pertama di atas. Saya tidak salah menyantumkan pernyataan. Hanya saja, saya memang belum memberi penjelasan yang bisa membuktikan ke-semeton-an saya sebagai warga Bali. Ngok.. ngok.. ngok..

Pernah suatu kali saya menyimak review jujur, akurat, terpercaya, dan tentunya bikin ngiler tentang kedahsyatan nasi babi genyol Men Darta dari Pak Ole (baca: Made Adnyana Ole, pimred tatkala.co). Saya selalu ingat bagaimana detail beliau menjelaskan kenikmatan sepiring nasi babi genyol sambil menelan ludah berkali-kali. Dan ajaibnya, saya juga ikut gelek-gelek walau hanya mendengar cerita saja.

Perasaan ingin mencoba akhirnya muncul. Lama saya simpan perasaan itu walau sudah saya lewati warung Men Darta berkali-kali. Hingga akhirnya, saya dengan kebetulan mengadakan kesempatan untuk mencobanya.

Tepatnya di suatu siang menuju sore di hari Jumat, di minggu ketiga bulan Maret tahun 2023. Situasi pada saat itu, saya tengah gebug hujan sedari saya masih di jalur Gitgit yang mengular hingga sampai di daerah Baturiti yang lurus mulus. Saya kedinginan, perut ikut keroncongan. Begitulah, tiba-tiba motor saya langsung terparkir di bawah plang bertuliskan “Babi Genyol Men Darta”.

Tidak terlalu lama, sekitar kurang dari lima menit menunggu, seporsi Babi Genyol sudah tersedia di hadapan saya. Itu poin plus. Secawan jukut balung, dan sepiring nasi berisi sate lilit, lawar, paru, gorengan daging, kerupuk babi, sambel, dan tentu saja bintang utamanya sepotong babi genyol terpampang di paling atas antara lauk lainnya. Nasi babi genyol Men Darta adalah nasi babi genyol pertama bagi saya. Benar, sebelumnya saya tidak pernah mencoba nasi babi genyol sama sekali.

Saya tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan seporsi hidangan itu. Saya penasaran pada rasa dari semua jenis lauk yang dihadirkan. Kepala saya terkadang manggut-manggut, alis saya kadang terlalu mengkerut, juga bahu saya terkadang luruh seperti tidak punya tenaga yang cukup untuk menahannya tetap tegak. Lalu saat hanya tulang-tulang balung saja yang terisa, saya setuju nasi babi genyol Men Darta itu enak. Walau bagi saya, ya, tidak ada hal yang terlalu istimewa kecuali kulit babi genyolnya yang meleleh walau tidak saya kunyah dengan tenaga. Itu highlight dari saya.

Porsi babi genyol Men Darta | Foto Dian Ayu

Setelah melepas rasa penasaran terhadap nasi babi genyol, saya lanjutkan perjalan menuju Denpasar. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, saya melewati warung nasi babi guling Men Janji. Memori ketika saya mencoba seporsi nasi di sana terkuar kembali, dan secara tidak sengaja langsung membandingkan dengan seporsi nasi babi genyol yang baru saja saya nikmati.

Pada umumnya, bumbu dasar babi guling dan babi genyol itu tidak jauh berbeda. Keduanya menggunakan base genep, sebagai ciri dari olahan khas orang Bali. Pelengkap yang ada juga serupa:  jukut balung, lawar, sambel, dan gorengan.Harga yang ditawarkan untuk seporsinya  juga sama, yaitu Rp. 25.000 saja. Kalau begitu, apa yang bisa kita bandingkan dari kedua makanan terpapan atas itu?

Saya sebagai orang yang doyan makan, terbiasa mengategorikan makanan sebagai makanan yang enak banget atau enak aja. Dasar yang biasa saya gunakan adalah tampilan, aroma, rasa, dan tekstur dalam satu porsi sajian makanan. Dan inilah poin pentingnya dalam penilaian saya terhadap babi guling dan babi genyol.

Babi Guling dan Babi Genyol

Siapa yang tidak suka babi guling? Mungkin hanya sepersekian orang saja  yang bilang “Saya!”. Saya tidak menghakimi itu, tapi tentu banyak yang setuju dengan saya bahwa babi guling itu memang makanan kategori ‘enak banget loh gaesss.’

Saya tidak akan lagi membincangkan tentang base genep¸ karena kebanyakan dari kita sudah tahu tentang itu. Yang lebih menarik bagi saya adalah tentang jargon (sebut saja demikian) “Tes Kriuk”. Banyak orang membuat konten video atas kenyaringan kriukan kulit babi guling, dan ternyata banyak juga yang tertarik untuk menontonnya.

 Itu yang saya maksud tentang tekstur, suatu hal yang saya sebut ‘memikat’ ketika menyantap babi guling: perasaan bahagia mendengar suara ngeritik. Tidak jarang, orang rela membayar lebih mahal untuk mendapat potongan kulit garing yang lebih besar. Lantas menurut saya, di sanalah tekstur memegang kuasa yang cukup besar untuk memengaruhi penilaian terhadap suatu makanan. Dari poin ini, babi guling unggul sementara dari babi genyol.

Tetapi walau demikian, sudah tentu juga ada yang tidak begitu doyan dengan kritik be guling. Saya contohnya, hehehe. Saya salah seorang yang tidak bisa mengonsumsi kritik be guling dalam porsi yang banyak. Hanya sekali gigitan, sudah lebih dari cukup bagi saya. Perasaan eneg masih sering terasa.

Saya jauh lebih menyukai bila kulit babi guling itu direbus, dan disajikan dengan balung sebagai olahan jukut. Kulit babi guling yang direbus akan memiliki tekstur kenyal, atau yang sering saya sebut sebagai tekstur grenyel-grenyel, yang menurut saya sangat cocok dipadukan dengan kuah jukut base genep.

Sama seperti tekstur babi genyol. Daging babi akan dimasak dengan base genep dengan direbus dalam waktu tertentu, dan akan menghadirkan tekstur yang empuk dan kenyal. Terkhusus di bagian antara kulit dan lemaknya—yang bila dengan waktu yang pas, akan memberikan tekstur kenyal yang sempurna. Wah, sangat nikmat bila dimakan bersamaan dengan nasi hangat dan sambel sere.

Atas dasar itu, walaupun babi genyol tidaklah sepopuler babi guling, bagi saya sendiri, babi genyol memiliki kedudukan yang setara dengan babi guling. Keduanya memiliki poin memikat masing-masing dan tergantung dari preferensi kita pribadi sebagai penikmatnya. Babi guling dengan sensasi kulit ngeritik, dan babi genyol dengan sensai kulit yang kenyal-lumer.

Jadi, bila sekali lagi saya bertanya, teman-teman akan memilih berada di tim yang mana? [T]

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja
Babi Guling Tidak Boleh, Ayam Guling pun Jadi di Warung Mbok Eka Banyuning Singaraja
Tags: babi genyolbabi gulingkulinerkuliner khas balirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Jalanan: Penghubung atau Pemutus?

Next Post

Jejak Gde Dharmaja di Pemkab Buleleng: Dari Tukang Surat Hingga Perencana Pembangunan

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Gde Dharmaja di Pemkab Buleleng: Dari Tukang Surat Hingga Perencana Pembangunan

Jejak Gde Dharmaja di Pemkab Buleleng: Dari Tukang Surat Hingga Perencana Pembangunan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co