3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Jalanan: Penghubung atau Pemutus?

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 26, 2023
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

SEORANG PECALANG tiba tiba menghentikan laju motor Grudug. Sementara itu, Grudug telat, dan mesti segera sampai di Denpasar pada waktu yang telah ia sepakati dengan teman-temannya. Grudug yakin, siapa pun akan ngedumel dalam situasi seperti itu, sebagaimana dirinya yang terperangkap dalam macet, dan telepon yang terus-menerus berdering. Hambatan ini tak terduga, tapi ada, dan selalu terasa tiba-tiba. Pecalang itu berkata pada Grudug bahwa warga banjar sedang menjalankan upacara.

Pikiran jernih mungkin hanya hadir ketika kita sedang tenang. Jalanan mulai lenggang, orang-orang mulai bubar, dan beberapa menit kemudian, macet pun terurai. Grudug suka cerita-cerita mistis—umumnya penakut seperti dirinya menyukai cerita mistis.

Ia sering mendengar cerita tentang kesakralan jalanan, lebih-lebih perempatan, pertigaan, dan semua itu adalah tempat strategis untuk ngeleak—paling tidak begitulah kisah yang ia dengar. “Jalanan, rupanya memang memberi kita waktu untuk melamun, membuat kita mudah terpancing untuk marah, dan kadang-kadang jalanan bisa mengantar kita pada maut,” Grudug mencoba memetik pesan moral dari peristiwa yang dia anggap petaka.

“Ya… jalanan memang sakral!” gumam Grudug seperti menemukan sesuatu paling baru di dunia ini. “Mungkin aku tak keliru: Kita tak pernah bisa menebak dengan akurat orang-orang yang menggunakan jalanan.

Bisa saja seorang perampok bank, atau sekelompok ormas radikal, pembunuh paling jitu, atau bahkan artis paling terkenal sedang lewat depan rumah kita. Mereka melintasi tempat—jika rumah kita di pinggir jalan—yang hanya dibatasi pagar rumah,” katanya dalam hati. “Selalu ada misteri di jalanan. Kita tak pernah tahu,” lanjutnya.

Suatu kali, Grudug melewati Ubud yang lenggang. Dari rumahnya ke Kedewatan, dalam situasi yang sepi, ia hanya membutuhkan waktu antara 15-20 menit. Tapi, dalam situasi normal, Grudug membutuhkan waktu hingga 1 jam. “40 menit sia-sia di jalan,” pikirnya.

Jalan memang memberi Grudug ruang untuk berpikir, dan merenung—karena kalau di rumah ia selalu sibuk dengan sosmed, game, atau youtube—tapi kenyataannya, jalan macet selalu membuatnya merasa sebal. “Situasi ini akan membuat kita menjadi terasing,” sanggah Grudug terhadap pikirannya sendiri.

“Mungkin, para pejabat butuh pengawal agar mereka tidak emosi di jalan. Ya, kalau mereka emosi, tentu saja mereka tak bisa memikirkan negara ini dengan jernih, bukan? Ya… ya… mereka berpikir jernih. Sementara kalau orang orang, ya boleh lah emosi, jontok-jontokan di jalan pun tak masalah.” Sesungguhnya, Grudug mulai merasa geli dengan pikirannya sendiri.

Ubud dalam kepala Grudug adalah botol—semacam botol bir. Ubud punya kapasitas tertentu namun orang-orang datang ke sana berdesak-desakan hingga air dalam botol itu meluap, tetapi tetap dipaksakan untuk menampung semua itu. Mungkin situasi ini juga mirip dengan minibus yang kelebihan penumpang: di dalam minimus terdapat banyak orang, tetapi kita tak bisa leluasa ngobrol sehingga kita tetap saja kesepian dalam keramaian itu.

Grudug merasa bahwa jalanan yang padat akan membuat orang menjadi asing, bahkan dengan tetangga di depan rumah. Ia mencoba membayangkan orang yang tinggal di sebelah selatan jalanan padat yang ingin ke sisi utara jalan.

Untuk menyeberang ke sisi utara jalan, tentu seseorang itu harus menunggu jalanan lebih lenggang, dan itu butuh kesabaran, padahal jarak seberang tak lebih dari 5 meter. “Barangkali, hubungan kita dengan tetangga juga dipengaruhi oleh kepadatan lalu lintas,” kata Grudug dalam hati.

Kisah ini Grudug dengar dari seorang kawannya. Cerita itu benar-benar melekat dalam kepala Grudug. Temannya itu adalah orang beruntung yang sempat mengalami perubahan kondisi jalanan di sana—situasi jalanan yang sepi, yang belum menjadi jalur alternatif pariwisata, hingga menjelma jalanan padat, pepat, dan menyebalkan.

Teman Grudug itu merasakan hal yang paling sederhana telah berubah. Dulu, temannya itu kerap membeli rujak, tipat cantok, atau barang-barang lain di seberang rumahnya, tapi kini tidak lagi.

Memang terlihat sepele, tapi hal ini selalu membuatnya menggerutu. Pasalnya, hal ini adalah masalah, tapi Grudug tak pernah menemukan jalan keluar. Ah.. dasar Grudug. Meskipun ia menemukan jalan keluar, toh ia tak akan melakukan apa-apa.

Sejak jalanan di desa itu menjadi semakin macet, ia mulai jarang membeli makanan di seberang. Bahkan, ketika ia benar-benar menginginkan sesuatu yang dijual di sana, teman Grudug itu merasa lebih baik menahan keinginannya, yang lama-lama membuatnya benar-benar tak menginginkan hal-hal itu. Grudug memiliki pertanyaan lain, “Bagaimana dengan hubungan mereka, yang dulunya kerap saling singgah-menyinggahi, lalu dihadang oleh kepadatan jalan raya?”

Cerita itu muncul begitu saja dalam kepala Grudug ketika ia dihentikan oleh Pecalang, dan ia melanjutkan lamunannya sambil menarik pelan gas motornya: “seandainya warga di wilayah-wilayah padat itu tidak memiliki alasan untuk berkegiatan di jalanan, mungkin mereka akan tersekat selamanya oleh jalanan yang tak ramah itu,” Grudug menelan ludah. Perasaan kesal itu ia singkirkan karena menurutnya, ada hal penting yang orang-orang desa sedang lakukan.

Tampaknya Grudug mulai bijaksana, ia memikirkan warga yang melakukan perjalanan sepanjang desa atau dari satu desa ke desa lainnya. Ia percaya bahwa upacara seperti “Melancaran” yang biasa dilakukan dari ujung desa ke ujung lainnya akan memberi kedekatan antara penghuni dan ruang itu sendiri.

“Jalan kaki akan membuat siapa pun menjadi sehat (sedangkal itulah cara Grudug memikirkan cara untuk sehat) dan jalan kaki akan membuat kita membayangkan tata letak perumahan, melihat situasi desa secara lebih khusyuk, dan semua itu mungkin bisa dibayangkan sebagai cara untuk menghilangkan keasingan yang diciptakan oleh jalanan, lebih-lebih jalanan yang padat.”

Bagi perantau seperti Grudug, desa adalah rumah, dan itu berarti rumah bukan hanya sekedar pekarangan yang telah dibatasi pagar. Sementara itu, Grudug tetap melamun, dan tetap tidak menemukan satu pun jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Mungkin, Gurudug tak butuh jawaban, ia hanya butuh melamun. [T]

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam
Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi

Next Post

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co