23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Jalanan: Penghubung atau Pemutus?

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 26, 2023
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

SEORANG PECALANG tiba tiba menghentikan laju motor Grudug. Sementara itu, Grudug telat, dan mesti segera sampai di Denpasar pada waktu yang telah ia sepakati dengan teman-temannya. Grudug yakin, siapa pun akan ngedumel dalam situasi seperti itu, sebagaimana dirinya yang terperangkap dalam macet, dan telepon yang terus-menerus berdering. Hambatan ini tak terduga, tapi ada, dan selalu terasa tiba-tiba. Pecalang itu berkata pada Grudug bahwa warga banjar sedang menjalankan upacara.

Pikiran jernih mungkin hanya hadir ketika kita sedang tenang. Jalanan mulai lenggang, orang-orang mulai bubar, dan beberapa menit kemudian, macet pun terurai. Grudug suka cerita-cerita mistis—umumnya penakut seperti dirinya menyukai cerita mistis.

Ia sering mendengar cerita tentang kesakralan jalanan, lebih-lebih perempatan, pertigaan, dan semua itu adalah tempat strategis untuk ngeleak—paling tidak begitulah kisah yang ia dengar. “Jalanan, rupanya memang memberi kita waktu untuk melamun, membuat kita mudah terpancing untuk marah, dan kadang-kadang jalanan bisa mengantar kita pada maut,” Grudug mencoba memetik pesan moral dari peristiwa yang dia anggap petaka.

“Ya… jalanan memang sakral!” gumam Grudug seperti menemukan sesuatu paling baru di dunia ini. “Mungkin aku tak keliru: Kita tak pernah bisa menebak dengan akurat orang-orang yang menggunakan jalanan.

Bisa saja seorang perampok bank, atau sekelompok ormas radikal, pembunuh paling jitu, atau bahkan artis paling terkenal sedang lewat depan rumah kita. Mereka melintasi tempat—jika rumah kita di pinggir jalan—yang hanya dibatasi pagar rumah,” katanya dalam hati. “Selalu ada misteri di jalanan. Kita tak pernah tahu,” lanjutnya.

Suatu kali, Grudug melewati Ubud yang lenggang. Dari rumahnya ke Kedewatan, dalam situasi yang sepi, ia hanya membutuhkan waktu antara 15-20 menit. Tapi, dalam situasi normal, Grudug membutuhkan waktu hingga 1 jam. “40 menit sia-sia di jalan,” pikirnya.

Jalan memang memberi Grudug ruang untuk berpikir, dan merenung—karena kalau di rumah ia selalu sibuk dengan sosmed, game, atau youtube—tapi kenyataannya, jalan macet selalu membuatnya merasa sebal. “Situasi ini akan membuat kita menjadi terasing,” sanggah Grudug terhadap pikirannya sendiri.

“Mungkin, para pejabat butuh pengawal agar mereka tidak emosi di jalan. Ya, kalau mereka emosi, tentu saja mereka tak bisa memikirkan negara ini dengan jernih, bukan? Ya… ya… mereka berpikir jernih. Sementara kalau orang orang, ya boleh lah emosi, jontok-jontokan di jalan pun tak masalah.” Sesungguhnya, Grudug mulai merasa geli dengan pikirannya sendiri.

Ubud dalam kepala Grudug adalah botol—semacam botol bir. Ubud punya kapasitas tertentu namun orang-orang datang ke sana berdesak-desakan hingga air dalam botol itu meluap, tetapi tetap dipaksakan untuk menampung semua itu. Mungkin situasi ini juga mirip dengan minibus yang kelebihan penumpang: di dalam minimus terdapat banyak orang, tetapi kita tak bisa leluasa ngobrol sehingga kita tetap saja kesepian dalam keramaian itu.

Grudug merasa bahwa jalanan yang padat akan membuat orang menjadi asing, bahkan dengan tetangga di depan rumah. Ia mencoba membayangkan orang yang tinggal di sebelah selatan jalanan padat yang ingin ke sisi utara jalan.

Untuk menyeberang ke sisi utara jalan, tentu seseorang itu harus menunggu jalanan lebih lenggang, dan itu butuh kesabaran, padahal jarak seberang tak lebih dari 5 meter. “Barangkali, hubungan kita dengan tetangga juga dipengaruhi oleh kepadatan lalu lintas,” kata Grudug dalam hati.

Kisah ini Grudug dengar dari seorang kawannya. Cerita itu benar-benar melekat dalam kepala Grudug. Temannya itu adalah orang beruntung yang sempat mengalami perubahan kondisi jalanan di sana—situasi jalanan yang sepi, yang belum menjadi jalur alternatif pariwisata, hingga menjelma jalanan padat, pepat, dan menyebalkan.

Teman Grudug itu merasakan hal yang paling sederhana telah berubah. Dulu, temannya itu kerap membeli rujak, tipat cantok, atau barang-barang lain di seberang rumahnya, tapi kini tidak lagi.

Memang terlihat sepele, tapi hal ini selalu membuatnya menggerutu. Pasalnya, hal ini adalah masalah, tapi Grudug tak pernah menemukan jalan keluar. Ah.. dasar Grudug. Meskipun ia menemukan jalan keluar, toh ia tak akan melakukan apa-apa.

Sejak jalanan di desa itu menjadi semakin macet, ia mulai jarang membeli makanan di seberang. Bahkan, ketika ia benar-benar menginginkan sesuatu yang dijual di sana, teman Grudug itu merasa lebih baik menahan keinginannya, yang lama-lama membuatnya benar-benar tak menginginkan hal-hal itu. Grudug memiliki pertanyaan lain, “Bagaimana dengan hubungan mereka, yang dulunya kerap saling singgah-menyinggahi, lalu dihadang oleh kepadatan jalan raya?”

Cerita itu muncul begitu saja dalam kepala Grudug ketika ia dihentikan oleh Pecalang, dan ia melanjutkan lamunannya sambil menarik pelan gas motornya: “seandainya warga di wilayah-wilayah padat itu tidak memiliki alasan untuk berkegiatan di jalanan, mungkin mereka akan tersekat selamanya oleh jalanan yang tak ramah itu,” Grudug menelan ludah. Perasaan kesal itu ia singkirkan karena menurutnya, ada hal penting yang orang-orang desa sedang lakukan.

Tampaknya Grudug mulai bijaksana, ia memikirkan warga yang melakukan perjalanan sepanjang desa atau dari satu desa ke desa lainnya. Ia percaya bahwa upacara seperti “Melancaran” yang biasa dilakukan dari ujung desa ke ujung lainnya akan memberi kedekatan antara penghuni dan ruang itu sendiri.

“Jalan kaki akan membuat siapa pun menjadi sehat (sedangkal itulah cara Grudug memikirkan cara untuk sehat) dan jalan kaki akan membuat kita membayangkan tata letak perumahan, melihat situasi desa secara lebih khusyuk, dan semua itu mungkin bisa dibayangkan sebagai cara untuk menghilangkan keasingan yang diciptakan oleh jalanan, lebih-lebih jalanan yang padat.”

Bagi perantau seperti Grudug, desa adalah rumah, dan itu berarti rumah bukan hanya sekedar pekarangan yang telah dibatasi pagar. Sementara itu, Grudug tetap melamun, dan tetap tidak menemukan satu pun jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Mungkin, Gurudug tak butuh jawaban, ia hanya butuh melamun. [T]

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam
Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi

Next Post

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co