2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Jalanan: Penghubung atau Pemutus?

Agus Wiratama by Agus Wiratama
March 26, 2023
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

SEORANG PECALANG tiba tiba menghentikan laju motor Grudug. Sementara itu, Grudug telat, dan mesti segera sampai di Denpasar pada waktu yang telah ia sepakati dengan teman-temannya. Grudug yakin, siapa pun akan ngedumel dalam situasi seperti itu, sebagaimana dirinya yang terperangkap dalam macet, dan telepon yang terus-menerus berdering. Hambatan ini tak terduga, tapi ada, dan selalu terasa tiba-tiba. Pecalang itu berkata pada Grudug bahwa warga banjar sedang menjalankan upacara.

Pikiran jernih mungkin hanya hadir ketika kita sedang tenang. Jalanan mulai lenggang, orang-orang mulai bubar, dan beberapa menit kemudian, macet pun terurai. Grudug suka cerita-cerita mistis—umumnya penakut seperti dirinya menyukai cerita mistis.

Ia sering mendengar cerita tentang kesakralan jalanan, lebih-lebih perempatan, pertigaan, dan semua itu adalah tempat strategis untuk ngeleak—paling tidak begitulah kisah yang ia dengar. “Jalanan, rupanya memang memberi kita waktu untuk melamun, membuat kita mudah terpancing untuk marah, dan kadang-kadang jalanan bisa mengantar kita pada maut,” Grudug mencoba memetik pesan moral dari peristiwa yang dia anggap petaka.

“Ya… jalanan memang sakral!” gumam Grudug seperti menemukan sesuatu paling baru di dunia ini. “Mungkin aku tak keliru: Kita tak pernah bisa menebak dengan akurat orang-orang yang menggunakan jalanan.

Bisa saja seorang perampok bank, atau sekelompok ormas radikal, pembunuh paling jitu, atau bahkan artis paling terkenal sedang lewat depan rumah kita. Mereka melintasi tempat—jika rumah kita di pinggir jalan—yang hanya dibatasi pagar rumah,” katanya dalam hati. “Selalu ada misteri di jalanan. Kita tak pernah tahu,” lanjutnya.

Suatu kali, Grudug melewati Ubud yang lenggang. Dari rumahnya ke Kedewatan, dalam situasi yang sepi, ia hanya membutuhkan waktu antara 15-20 menit. Tapi, dalam situasi normal, Grudug membutuhkan waktu hingga 1 jam. “40 menit sia-sia di jalan,” pikirnya.

Jalan memang memberi Grudug ruang untuk berpikir, dan merenung—karena kalau di rumah ia selalu sibuk dengan sosmed, game, atau youtube—tapi kenyataannya, jalan macet selalu membuatnya merasa sebal. “Situasi ini akan membuat kita menjadi terasing,” sanggah Grudug terhadap pikirannya sendiri.

“Mungkin, para pejabat butuh pengawal agar mereka tidak emosi di jalan. Ya, kalau mereka emosi, tentu saja mereka tak bisa memikirkan negara ini dengan jernih, bukan? Ya… ya… mereka berpikir jernih. Sementara kalau orang orang, ya boleh lah emosi, jontok-jontokan di jalan pun tak masalah.” Sesungguhnya, Grudug mulai merasa geli dengan pikirannya sendiri.

Ubud dalam kepala Grudug adalah botol—semacam botol bir. Ubud punya kapasitas tertentu namun orang-orang datang ke sana berdesak-desakan hingga air dalam botol itu meluap, tetapi tetap dipaksakan untuk menampung semua itu. Mungkin situasi ini juga mirip dengan minibus yang kelebihan penumpang: di dalam minimus terdapat banyak orang, tetapi kita tak bisa leluasa ngobrol sehingga kita tetap saja kesepian dalam keramaian itu.

Grudug merasa bahwa jalanan yang padat akan membuat orang menjadi asing, bahkan dengan tetangga di depan rumah. Ia mencoba membayangkan orang yang tinggal di sebelah selatan jalanan padat yang ingin ke sisi utara jalan.

Untuk menyeberang ke sisi utara jalan, tentu seseorang itu harus menunggu jalanan lebih lenggang, dan itu butuh kesabaran, padahal jarak seberang tak lebih dari 5 meter. “Barangkali, hubungan kita dengan tetangga juga dipengaruhi oleh kepadatan lalu lintas,” kata Grudug dalam hati.

Kisah ini Grudug dengar dari seorang kawannya. Cerita itu benar-benar melekat dalam kepala Grudug. Temannya itu adalah orang beruntung yang sempat mengalami perubahan kondisi jalanan di sana—situasi jalanan yang sepi, yang belum menjadi jalur alternatif pariwisata, hingga menjelma jalanan padat, pepat, dan menyebalkan.

Teman Grudug itu merasakan hal yang paling sederhana telah berubah. Dulu, temannya itu kerap membeli rujak, tipat cantok, atau barang-barang lain di seberang rumahnya, tapi kini tidak lagi.

Memang terlihat sepele, tapi hal ini selalu membuatnya menggerutu. Pasalnya, hal ini adalah masalah, tapi Grudug tak pernah menemukan jalan keluar. Ah.. dasar Grudug. Meskipun ia menemukan jalan keluar, toh ia tak akan melakukan apa-apa.

Sejak jalanan di desa itu menjadi semakin macet, ia mulai jarang membeli makanan di seberang. Bahkan, ketika ia benar-benar menginginkan sesuatu yang dijual di sana, teman Grudug itu merasa lebih baik menahan keinginannya, yang lama-lama membuatnya benar-benar tak menginginkan hal-hal itu. Grudug memiliki pertanyaan lain, “Bagaimana dengan hubungan mereka, yang dulunya kerap saling singgah-menyinggahi, lalu dihadang oleh kepadatan jalan raya?”

Cerita itu muncul begitu saja dalam kepala Grudug ketika ia dihentikan oleh Pecalang, dan ia melanjutkan lamunannya sambil menarik pelan gas motornya: “seandainya warga di wilayah-wilayah padat itu tidak memiliki alasan untuk berkegiatan di jalanan, mungkin mereka akan tersekat selamanya oleh jalanan yang tak ramah itu,” Grudug menelan ludah. Perasaan kesal itu ia singkirkan karena menurutnya, ada hal penting yang orang-orang desa sedang lakukan.

Tampaknya Grudug mulai bijaksana, ia memikirkan warga yang melakukan perjalanan sepanjang desa atau dari satu desa ke desa lainnya. Ia percaya bahwa upacara seperti “Melancaran” yang biasa dilakukan dari ujung desa ke ujung lainnya akan memberi kedekatan antara penghuni dan ruang itu sendiri.

“Jalan kaki akan membuat siapa pun menjadi sehat (sedangkal itulah cara Grudug memikirkan cara untuk sehat) dan jalan kaki akan membuat kita membayangkan tata letak perumahan, melihat situasi desa secara lebih khusyuk, dan semua itu mungkin bisa dibayangkan sebagai cara untuk menghilangkan keasingan yang diciptakan oleh jalanan, lebih-lebih jalanan yang padat.”

Bagi perantau seperti Grudug, desa adalah rumah, dan itu berarti rumah bukan hanya sekedar pekarangan yang telah dibatasi pagar. Sementara itu, Grudug tetap melamun, dan tetap tidak menemukan satu pun jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Mungkin, Gurudug tak butuh jawaban, ia hanya butuh melamun. [T]

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam
Yang Tumbuh Pada Tanah Tubuh | Catatan Proses Latihan Metode Suzuki Untuk Pelatihan Aktor di Indonesia
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi

Next Post

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Babi Guling Vs Babi Genyol, Siapa Pemenangnya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co