2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 3, 2022
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sejak kecil, Grudug selalu dibisiki oleh orang tua, bibi, paman, dan keluarga lainnya, “Habiskan makananmu biar ayam gak mati,” kata mereka. Belakangan ini, tiba-tiba kata-kata itu mondar-mandir dalam kepala Grudug, tapi ia pikir, bisikan itu mesti dibalik. Harusnya begini, “Jangan habiskan makanan biar ayam gak mati.”

Pariwisata Bali sesungguhnya tidak melulu tampak berhubungan dengan orang-orang, tetapi diam-diam mereka menyelinap dalam benak banyak orang. Entah bagian mana: penampilan, sikap, termasuk penataan rumah. Grudug selalu berandai untuk tinggal di rumah yang memiliki halaman seperti taman di villa atau hotel. Ah lugu banget. Di sana, tanaman tak melulu harus rapi seperti di taman kota. Kadang, tanaman terlihat berantakan tapi tetap saja enak dilihat. Grudug yakin itu tertata dengan cara yang berbeda dengan tanaman di taman kota yang umumnya Grudug jumpai.

“Tampilan begitu, meski tertata, tetap mudah diikuti,” pikir Grudug.

Tapi sialnya, cara berpikir menyeluruh semacam itu, lho, ya, mesti dipakai dalam hal-hal yang terlihat sepele seperti ini. Karena itu, jangan berharap taman seperti itu bisa terwujud atau bertahan di rumah—walaupun kau sudah merawat taman itu sepenuh hati. Ada masalah serius yang mesti ditanggulangi: serbuan para ayam!

Kampung memang lekat dengan ayam. Barangkali, sebagian orang berpikir ini stereotif, tapi tunggu dulu. Ini kenyataan. Ayam selalu dibutuhkan. Kalau tidak untuk upacara, bisa untuk hobi, tajen, dan sebangsanya itu. Tak sedikit pula yang memelihara ayam tanpa punya alasan. Memelihara ya untuk memelihara. Orang tipe ini biasanya hanya berbekal keyakinan: suatu saat pasti bermanfaat.

Ayah Grudug tampaknya memiliki masalah dengan caranya memelihara ayam—dia adalah tipe terakhir—setiap orang yang menawarinya ayam, ia akan terima—Grudug tahu, sesekali ayahnya menodong dari teman baiknya. Tapi perlakuan pada mereka tak pernah sama dari pemilik sebelumnya. Bila pemilik sebelumnya memperlakukan mereka seperti Malika si kedelai hitam pilihan, ayah Grudug malah melepas ayam-ayam itu begitu saja, dan Grudug tak menyukai sikap ayam-ayam yang kurang terpelajar itu. Berak sembarangan.

Ayam sesungguhnya adalah ancaman bagi taman, Saudara-saudara. Coba saja Saudara bayangkan: Saudara menanam tanaman hias yang paling dimimpikan banyak orang, Saudara rawat sebagaimana tanaman itu terlihat di halaman hotel atau villa. Begitulah hal yang dilakukan Grudug. Dan, simsalabim! Pasukan ayam peliharaan ayah Grudug datang untuk berak sembarangan di halaman rumah, memakan pucuk-pucuk daun muda, mematahkan dahan-dahan muda. Mereka seperti negara api yang menyerang!

Kau tahu, kadang anak muda seperti Grudug memiliki kepala yang ramah pada tamu: “tahi silakan naik ke sini!” Maka tak segan Grudug melempar ayam-ayam itu dengan sandal, sapu lidi, atau se-soroh-nya. Semua itu Grudug lakukan atas dasar agar ayam tidak berkeliaran di halaman rumah, tidak memakan daun, batang muda.

Tai dan daun cacat jarang Grudug lihat di halaman hotel, Bung! Tentu Grudug ingin situasi yang begitu juga. Tapi selain itu, “Jika pacar datang ke rumah, masak iya, sepatu hak tingginya menginjak tahi ayam karena berkunjung ke rumah,” gumam Grudug. Ah… Grudug akan merasa harga dirinya lenyap jika itu sampai terjadi. Dan, lemparan-lemparan itu berlangsung berkali-kali, berhari-hari—sebagai bentuk protes atas ekspansi para ayam.

Tanpa banyak bicara, ayahnya memberikan ayam-ayam itu pada tetangga. Memang itulah yang Grudug inginkan. Tentu Grudug merasa menang. Beberapa hari tanpa kehadiran ayam di halaman rumah, rasanya seperti menikmati liburan: tak ada tahi berserak, tak ada daun yang baru patah, tak ada bunga yang rusak. Maklum, ayah Grudug memelihara ayam ber-genre Hardcore! Alias ayam Bangkok. Saudara tahu, tahinya bisa sebesar jempol.

Tapi sesungguhnya, ada sesuatu yang hilang sejak saat itu—yang Grudug sadari belakangan, dan kadang inilah yang membuat Grudug menyesal bukan kepalang atas perlakuan itu. Ayam di rumah bukan hanya untuk peliharaan, bukan hanya untuk hobi, tetapi mereka sesungguhnya menjadi bagian dari ekosistem pengolahan sisa makanan. Ah, ampun! Grudug rupanya telah menjadi biang kerok pemutus ekosistem itu.

Ketika ayam-ayam itu masih ada, Grudug—sebagaimana ayah atau ibunya—biasanya menaruh nasi pada satu tempat. Setiap sore, nasi itu akan disetor pada ayam, dan untuk nasi malam akan disetor pada pagi hari. Semua makanan benar-benar habis tak ada sisa sama sekali!

Penyesalan selalu datang belakangan. Tentu. Grudug tumbuh dengan mitos harus menghabiskan makanan. Dan bisikan dari kecil itu telah melekat begitu kuat dalam kepala Grudug. Tapi, tunggu dulu. Ketika ayam-ayam itu masih ada, sesungguhnya Grudug menghapus dosa sisa nasi itu dengan melemparnya ke kerumunan ayam. Mereka akan makan dengan lahap sisa nasi Grudug. Mereka membuat nasi sisa itu tak terbuang sia-sia. Kau tahu, mereka memiliki mata yang jeli dan paruh yang cukup baik untuk membersihkan sebiji nasi.

Dan sialnya, kadang penyesalan membawa kita pada hayalan-hayalan yang tidak fiks. Ekosistem ini, Grudug pikir tidak hanya terencana pada peliharaan. Tetapi terjadi pula pada pengelolaan sampah rumah tangga. Kadang orang Bali suka latah. Ya, latah tren! Semestinya, setiap rumah memiliki teba—halaman belakang rumah yang biasa menjadi tempat pembuangan sampah. Itulah TPA rumah tangga. Semestinya, tempat ini telah menyelesaikan sebagian masalah sampah. Tapi, sebagian orang sudah tidak memiliki TPA lagi, karena belakang rumah telah disulap menjadi tempat artifisial: “Kita perlu tempat healing,” kata Grudug sebelum menyesali perbuatannya.

Karena alasan itulah ia berencana meletakkan Gazebo di teba atau membuat kolam ikan koi yang justru menghabiskan banyak makanan, yang harus dibeli khusus, mengeluarkan biaya listrik untuk mesin air, dan sebagainya. Teba juga seharusnya menjadi tempat para ayam untuk mencari makan. Grudug pikir ada dua masalah ketika kita latah menerima bentuk-bentuk pariwisata: kita menatapnya hanya dengan kacamata bentuk sehingga kita memperkosa ruang dan memutus sebagian pengetahuan, kedua kita menjadi boros, berlagak sebagai turis.

Tapi sekarang, nasi sisa hanya menjadi sampah, lalu busuk, kemudian direbut lalat. Bahkan ini tampak lebih menjijikkan daripada kotoran ayam. Grudug mestinya mensyukuri penyesalan itu! [T]

Tags: Kolom GrudugPariwisataRumahSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Next Post

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co