14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taman, Halaman Belakang, dan Tahi Ayam

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 3, 2022
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sejak kecil, Grudug selalu dibisiki oleh orang tua, bibi, paman, dan keluarga lainnya, “Habiskan makananmu biar ayam gak mati,” kata mereka. Belakangan ini, tiba-tiba kata-kata itu mondar-mandir dalam kepala Grudug, tapi ia pikir, bisikan itu mesti dibalik. Harusnya begini, “Jangan habiskan makanan biar ayam gak mati.”

Pariwisata Bali sesungguhnya tidak melulu tampak berhubungan dengan orang-orang, tetapi diam-diam mereka menyelinap dalam benak banyak orang. Entah bagian mana: penampilan, sikap, termasuk penataan rumah. Grudug selalu berandai untuk tinggal di rumah yang memiliki halaman seperti taman di villa atau hotel. Ah lugu banget. Di sana, tanaman tak melulu harus rapi seperti di taman kota. Kadang, tanaman terlihat berantakan tapi tetap saja enak dilihat. Grudug yakin itu tertata dengan cara yang berbeda dengan tanaman di taman kota yang umumnya Grudug jumpai.

“Tampilan begitu, meski tertata, tetap mudah diikuti,” pikir Grudug.

Tapi sialnya, cara berpikir menyeluruh semacam itu, lho, ya, mesti dipakai dalam hal-hal yang terlihat sepele seperti ini. Karena itu, jangan berharap taman seperti itu bisa terwujud atau bertahan di rumah—walaupun kau sudah merawat taman itu sepenuh hati. Ada masalah serius yang mesti ditanggulangi: serbuan para ayam!

Kampung memang lekat dengan ayam. Barangkali, sebagian orang berpikir ini stereotif, tapi tunggu dulu. Ini kenyataan. Ayam selalu dibutuhkan. Kalau tidak untuk upacara, bisa untuk hobi, tajen, dan sebangsanya itu. Tak sedikit pula yang memelihara ayam tanpa punya alasan. Memelihara ya untuk memelihara. Orang tipe ini biasanya hanya berbekal keyakinan: suatu saat pasti bermanfaat.

Ayah Grudug tampaknya memiliki masalah dengan caranya memelihara ayam—dia adalah tipe terakhir—setiap orang yang menawarinya ayam, ia akan terima—Grudug tahu, sesekali ayahnya menodong dari teman baiknya. Tapi perlakuan pada mereka tak pernah sama dari pemilik sebelumnya. Bila pemilik sebelumnya memperlakukan mereka seperti Malika si kedelai hitam pilihan, ayah Grudug malah melepas ayam-ayam itu begitu saja, dan Grudug tak menyukai sikap ayam-ayam yang kurang terpelajar itu. Berak sembarangan.

Ayam sesungguhnya adalah ancaman bagi taman, Saudara-saudara. Coba saja Saudara bayangkan: Saudara menanam tanaman hias yang paling dimimpikan banyak orang, Saudara rawat sebagaimana tanaman itu terlihat di halaman hotel atau villa. Begitulah hal yang dilakukan Grudug. Dan, simsalabim! Pasukan ayam peliharaan ayah Grudug datang untuk berak sembarangan di halaman rumah, memakan pucuk-pucuk daun muda, mematahkan dahan-dahan muda. Mereka seperti negara api yang menyerang!

Kau tahu, kadang anak muda seperti Grudug memiliki kepala yang ramah pada tamu: “tahi silakan naik ke sini!” Maka tak segan Grudug melempar ayam-ayam itu dengan sandal, sapu lidi, atau se-soroh-nya. Semua itu Grudug lakukan atas dasar agar ayam tidak berkeliaran di halaman rumah, tidak memakan daun, batang muda.

Tai dan daun cacat jarang Grudug lihat di halaman hotel, Bung! Tentu Grudug ingin situasi yang begitu juga. Tapi selain itu, “Jika pacar datang ke rumah, masak iya, sepatu hak tingginya menginjak tahi ayam karena berkunjung ke rumah,” gumam Grudug. Ah… Grudug akan merasa harga dirinya lenyap jika itu sampai terjadi. Dan, lemparan-lemparan itu berlangsung berkali-kali, berhari-hari—sebagai bentuk protes atas ekspansi para ayam.

Tanpa banyak bicara, ayahnya memberikan ayam-ayam itu pada tetangga. Memang itulah yang Grudug inginkan. Tentu Grudug merasa menang. Beberapa hari tanpa kehadiran ayam di halaman rumah, rasanya seperti menikmati liburan: tak ada tahi berserak, tak ada daun yang baru patah, tak ada bunga yang rusak. Maklum, ayah Grudug memelihara ayam ber-genre Hardcore! Alias ayam Bangkok. Saudara tahu, tahinya bisa sebesar jempol.

Tapi sesungguhnya, ada sesuatu yang hilang sejak saat itu—yang Grudug sadari belakangan, dan kadang inilah yang membuat Grudug menyesal bukan kepalang atas perlakuan itu. Ayam di rumah bukan hanya untuk peliharaan, bukan hanya untuk hobi, tetapi mereka sesungguhnya menjadi bagian dari ekosistem pengolahan sisa makanan. Ah, ampun! Grudug rupanya telah menjadi biang kerok pemutus ekosistem itu.

Ketika ayam-ayam itu masih ada, Grudug—sebagaimana ayah atau ibunya—biasanya menaruh nasi pada satu tempat. Setiap sore, nasi itu akan disetor pada ayam, dan untuk nasi malam akan disetor pada pagi hari. Semua makanan benar-benar habis tak ada sisa sama sekali!

Penyesalan selalu datang belakangan. Tentu. Grudug tumbuh dengan mitos harus menghabiskan makanan. Dan bisikan dari kecil itu telah melekat begitu kuat dalam kepala Grudug. Tapi, tunggu dulu. Ketika ayam-ayam itu masih ada, sesungguhnya Grudug menghapus dosa sisa nasi itu dengan melemparnya ke kerumunan ayam. Mereka akan makan dengan lahap sisa nasi Grudug. Mereka membuat nasi sisa itu tak terbuang sia-sia. Kau tahu, mereka memiliki mata yang jeli dan paruh yang cukup baik untuk membersihkan sebiji nasi.

Dan sialnya, kadang penyesalan membawa kita pada hayalan-hayalan yang tidak fiks. Ekosistem ini, Grudug pikir tidak hanya terencana pada peliharaan. Tetapi terjadi pula pada pengelolaan sampah rumah tangga. Kadang orang Bali suka latah. Ya, latah tren! Semestinya, setiap rumah memiliki teba—halaman belakang rumah yang biasa menjadi tempat pembuangan sampah. Itulah TPA rumah tangga. Semestinya, tempat ini telah menyelesaikan sebagian masalah sampah. Tapi, sebagian orang sudah tidak memiliki TPA lagi, karena belakang rumah telah disulap menjadi tempat artifisial: “Kita perlu tempat healing,” kata Grudug sebelum menyesali perbuatannya.

Karena alasan itulah ia berencana meletakkan Gazebo di teba atau membuat kolam ikan koi yang justru menghabiskan banyak makanan, yang harus dibeli khusus, mengeluarkan biaya listrik untuk mesin air, dan sebagainya. Teba juga seharusnya menjadi tempat para ayam untuk mencari makan. Grudug pikir ada dua masalah ketika kita latah menerima bentuk-bentuk pariwisata: kita menatapnya hanya dengan kacamata bentuk sehingga kita memperkosa ruang dan memutus sebagian pengetahuan, kedua kita menjadi boros, berlagak sebagai turis.

Tapi sekarang, nasi sisa hanya menjadi sampah, lalu busuk, kemudian direbut lalat. Bahkan ini tampak lebih menjijikkan daripada kotoran ayam. Grudug mestinya mensyukuri penyesalan itu! [T]

Tags: Kolom GrudugPariwisataRumahSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Next Post

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Krisna Satya, Sikut Satak, dan Usaha Menerjemahkan Arsitektur dalam Anatomi Tubuh

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co