23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Tulisan Dokter Jelek?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 6, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

TERUS TERANG SAJA, saya sendiri tersenyum geli saat menulis artikel ini. Tema ini merupakan isu klasik yang tetap menjadi misteri hingga kini. Tulisan jelek memang menjadi salah satu ciri khas yang disematkan pada profesi dokter, selain tentu saja ciri-ciri khas lain seorang dokter.

Ciri-ciri lain seorang dokter adalah memakai kacamata, walaupun ada juga penjahat yang memakai kacamata, seperti pembunuh berantai legendaris, Jeffrey Dahmer asal Wisconsin, US yang dijuluki The Milwaukee Monster.

Selain itu, seorang dokter dikaitkan dengan penampilan rapi, klimis dan wangi serta ramah murah senyum. Saya setuju, sebagian besar penampilan dokter memang demikian. Meskipun saya punya seorang senior sekaligus guru, yang mengajar saya di fakultas kedokteran pada saat pendidikan pra klinik, penampilannya begitu awut-awutan seakan tak pernah menyisir rambut. Meskipun demikian, pasien beliau sangat banyak.

Artinya, penampilan tak selalu menentukan. Terbalik dengan anggapan sikap dokter yang ramah, zaman dulu dokter justru umumnya dikenal judes dan menakutkan. Jadi, anggapan dokter ramah tersebut sepertinya lebih tepat sebagai sebuah harapan dan doa dari masyarakat.

Kini harapan dan doa tersebut boleh dibilang sudah menjadi kenyataan. Hanya sedikit dokter yang bersikap kurang ramah kepada pasiennya. Namun, masih ada yang tetap perlu didoakan yaitu, agar tulisan dokter tidak lagi jelek, hahaha.

Ada banyak teori tentang sebab musabab tulisan dokter yang jelek. Bahkan ada yang nyerempet teori konspirasi. Teori tersebut mengatakan, tulisan dokter jelek, terutama tulisan resep obatnya agar obat-obat yang digunakan oleh dokter tersebut tidak ditiru oleh dokter atau orang lain.

Dapat kita bayangkan, seakan-akan di sini ada motif ilmu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh para musuh. Mirip seperti kisah-kisah dunia persilatan yang penuh dendam dan kejutan. Celakanya, sering kali apoteker atau petugas apoteknya pun tak dapat membaca tulisan resep tersebut. Artinya nyata sudah kesaktian apoteker maupun petugas apoteknya jauh di bawah sang pendekar, yaitu dokter.

Jika tulisan resep tak terbaca, ini pasti tidak buat pasien. Jangan-jangan pasien bisa ikut celaka. Dan belum tentu dokternya sendiri akan selamat, walaupun telah dianggap sebagai pendekar sakti mandraguna. Karena kesalahan memberikan obat dapat dituntut secara hukum.

Yang lebih lucu lagi, ada dokter yang juga tak bisa membaca tulisannya sendiri yang ditulis sebelumnya. Artinya lantaran saking tinggi ilmunya, ia sendiri sampai tak sanggup menggapai. Kalau sudah begini, kita mau tanya siapa?

Dengan berbagai fakta-fakta tersebut, akar teori konspirasi begitu lapuk dan pohon konspirasinya tumbang seketika. Lalu teori apa lagi yang dapat menjelaskan tulisan dokter yang jelek ini?

Untuk itu, saya akan melihat saya sendiri sebagai seorang dokter. Menurut setidaknya para perawat, tulisan saya dianggap terlalu seni. Atau lebih tepatnya susah dibaca. Mungkin jika jujur, mereka mau bilang tulisan saya, jelek, clear! 

Karena cukup banyak yang menilai demikian, saya memutuskan untuk setuju dan mengakui diagnosis tersebut. Jadi jika sebagai dokter saya membuat diagnosis penyakit pasien, para nakes maupun apoteker pun membuat diagnosis tulisan saya. Meskipun berpenyakit, menurut mereka tulisan saya masih bisa diobati. Yang penting sabar dan rajin latihan. Itulah kemudian maka saya menerima dengan ikhlas diagnosis tersebut dan terus berlatih menulis yang bagus dan rapi.

Padahal, saat sekolah dulu, tulisan saya dikenal sehat eh maaf, rapi dan bagus. Bahkan sering dikira tulisan murid cewek. Apalagi saat saya menulis puisi untuk cewek yang saya kagumi. Saya tulis dengan sangat apik dan rapi. Masalahnya cewek tersebut sangat membenci puisi, gagal total. Artinya, tulisan baik dan rapi saja belum cukup.

Kemudian saya cek dan re-check. Rupanya tulisan saya menjadi semakin jelek karena kebiasaan menulis yang terlalu cepat. Kenapa menulis harus cepat? Ini terkait dengan kondisi dokter-dokter di Indonesia yang menangani pasien terlalu banyak. Dan selain menulis resep, dokter pun harus menulis segala macam data sebagai kelengkapan dokumen pelayanan medis tersebut.

Di sisi lain, dokter sangat tidak menyukai administrasi yang terlalu ribet dan njlimet. Dokter lebih tertarik dengan pelayanan, sesuai dengan substansinya. Namun harus diingat, karena saat ini aspek hukum atau medikolegal sangat penting maka para dokter mesti menerima dan melengkapi hal-hal yang dirasakan tidak nyaman tersebut. Lebih baik tidak nyaman di depan agar aman di kemudian hari.

Nah, karena setiap hari menulis banyak dan cepat-cepat, akhirnya tulisan saya dan dokter pada umumnya menjadi kurang baik. Ada yang ditulis cuma separuh kata atau nama obat, ada yang tampak seperti garis saja atau jika obat hanya nampak dosisnya saja, dan sebagainya.

Saya merasa terlalu yakin, apa yang saya tulis, pasti diketahui oleh perawat maupun apoteker. Seakan-akan tidak menggunakan pulpen, melainkan menulis dengan hati. Sayangnya, hati kita tak selalu berpaut dan bertemu di pandangan yang sama.

Syukurlah saya, dan semoga saja, sejawat lain juga menyadari hal ini. Mau tak mau, suka tidak suka, kami harus kembali belajar menulis yang baik dan rapi. Setidaknya mudah dibaca, meskipun font-nya kurang bagus atau seni.

Ini memang menggelikan. Setelah belasan tahun belajar bidang medis sebagai dokter ahli dengan keterampilan tambahan, akhirnya saya harus kembali belajar menulis seperti anak bungsu saya yang masih SD.

Apakah tulisan dokter menjadi  jelek semata-mata karena kebiasaan menulis cepat dan banyak saja? Ternyata tidak.

Ada penyakit tulisan jelek yang lebih parah lagi yaitu, tulisan jelek bawaan. Penyakit tulisan jeleknya tersebut sudah diidap sebelum yang bersangkutan menjadi dokter. Makanya ada guyonan, “Baru SMA, tulisanmu sudah kayak tulisan dokter saja. Jeleknya minta ampun!”  Nah yang begini pengobatannya lebih sulit lagi. Namanya juga bawaan. Mungkin tangannya perlu dioperasi mungkin.

Apabila yang bersangkutan kemudian menjadi dokter dan lalu menulis buru-buru, apakah yang akan terjadi? Apakah tulisannya menjadi jelek kuadrat atau sebaliknya secara ajaib menjadi baik karena minus kali minus adalah plus. Hahaha! [T]

BACA esai-esai lain dari penulis DOKTER ARYA

“Nerang” dan “Laser Pemecah Awan”
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi
Tags: dokterDokter Arya NugrahakesehatanPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benci Tapi Rindu : Kaum Reformis dan Upaya Menghidupkan Orde Baru

Next Post

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co