3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Tulisan Dokter Jelek?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 6, 2023
in Esai
Kisah-kisah Unik Pendidikan Dokter | Merayakan HUT ke-4 FK Undiksha

TERUS TERANG SAJA, saya sendiri tersenyum geli saat menulis artikel ini. Tema ini merupakan isu klasik yang tetap menjadi misteri hingga kini. Tulisan jelek memang menjadi salah satu ciri khas yang disematkan pada profesi dokter, selain tentu saja ciri-ciri khas lain seorang dokter.

Ciri-ciri lain seorang dokter adalah memakai kacamata, walaupun ada juga penjahat yang memakai kacamata, seperti pembunuh berantai legendaris, Jeffrey Dahmer asal Wisconsin, US yang dijuluki The Milwaukee Monster.

Selain itu, seorang dokter dikaitkan dengan penampilan rapi, klimis dan wangi serta ramah murah senyum. Saya setuju, sebagian besar penampilan dokter memang demikian. Meskipun saya punya seorang senior sekaligus guru, yang mengajar saya di fakultas kedokteran pada saat pendidikan pra klinik, penampilannya begitu awut-awutan seakan tak pernah menyisir rambut. Meskipun demikian, pasien beliau sangat banyak.

Artinya, penampilan tak selalu menentukan. Terbalik dengan anggapan sikap dokter yang ramah, zaman dulu dokter justru umumnya dikenal judes dan menakutkan. Jadi, anggapan dokter ramah tersebut sepertinya lebih tepat sebagai sebuah harapan dan doa dari masyarakat.

Kini harapan dan doa tersebut boleh dibilang sudah menjadi kenyataan. Hanya sedikit dokter yang bersikap kurang ramah kepada pasiennya. Namun, masih ada yang tetap perlu didoakan yaitu, agar tulisan dokter tidak lagi jelek, hahaha.

Ada banyak teori tentang sebab musabab tulisan dokter yang jelek. Bahkan ada yang nyerempet teori konspirasi. Teori tersebut mengatakan, tulisan dokter jelek, terutama tulisan resep obatnya agar obat-obat yang digunakan oleh dokter tersebut tidak ditiru oleh dokter atau orang lain.

Dapat kita bayangkan, seakan-akan di sini ada motif ilmu rahasia yang tidak boleh diketahui oleh para musuh. Mirip seperti kisah-kisah dunia persilatan yang penuh dendam dan kejutan. Celakanya, sering kali apoteker atau petugas apoteknya pun tak dapat membaca tulisan resep tersebut. Artinya nyata sudah kesaktian apoteker maupun petugas apoteknya jauh di bawah sang pendekar, yaitu dokter.

Jika tulisan resep tak terbaca, ini pasti tidak buat pasien. Jangan-jangan pasien bisa ikut celaka. Dan belum tentu dokternya sendiri akan selamat, walaupun telah dianggap sebagai pendekar sakti mandraguna. Karena kesalahan memberikan obat dapat dituntut secara hukum.

Yang lebih lucu lagi, ada dokter yang juga tak bisa membaca tulisannya sendiri yang ditulis sebelumnya. Artinya lantaran saking tinggi ilmunya, ia sendiri sampai tak sanggup menggapai. Kalau sudah begini, kita mau tanya siapa?

Dengan berbagai fakta-fakta tersebut, akar teori konspirasi begitu lapuk dan pohon konspirasinya tumbang seketika. Lalu teori apa lagi yang dapat menjelaskan tulisan dokter yang jelek ini?

Untuk itu, saya akan melihat saya sendiri sebagai seorang dokter. Menurut setidaknya para perawat, tulisan saya dianggap terlalu seni. Atau lebih tepatnya susah dibaca. Mungkin jika jujur, mereka mau bilang tulisan saya, jelek, clear! 

Karena cukup banyak yang menilai demikian, saya memutuskan untuk setuju dan mengakui diagnosis tersebut. Jadi jika sebagai dokter saya membuat diagnosis penyakit pasien, para nakes maupun apoteker pun membuat diagnosis tulisan saya. Meskipun berpenyakit, menurut mereka tulisan saya masih bisa diobati. Yang penting sabar dan rajin latihan. Itulah kemudian maka saya menerima dengan ikhlas diagnosis tersebut dan terus berlatih menulis yang bagus dan rapi.

Padahal, saat sekolah dulu, tulisan saya dikenal sehat eh maaf, rapi dan bagus. Bahkan sering dikira tulisan murid cewek. Apalagi saat saya menulis puisi untuk cewek yang saya kagumi. Saya tulis dengan sangat apik dan rapi. Masalahnya cewek tersebut sangat membenci puisi, gagal total. Artinya, tulisan baik dan rapi saja belum cukup.

Kemudian saya cek dan re-check. Rupanya tulisan saya menjadi semakin jelek karena kebiasaan menulis yang terlalu cepat. Kenapa menulis harus cepat? Ini terkait dengan kondisi dokter-dokter di Indonesia yang menangani pasien terlalu banyak. Dan selain menulis resep, dokter pun harus menulis segala macam data sebagai kelengkapan dokumen pelayanan medis tersebut.

Di sisi lain, dokter sangat tidak menyukai administrasi yang terlalu ribet dan njlimet. Dokter lebih tertarik dengan pelayanan, sesuai dengan substansinya. Namun harus diingat, karena saat ini aspek hukum atau medikolegal sangat penting maka para dokter mesti menerima dan melengkapi hal-hal yang dirasakan tidak nyaman tersebut. Lebih baik tidak nyaman di depan agar aman di kemudian hari.

Nah, karena setiap hari menulis banyak dan cepat-cepat, akhirnya tulisan saya dan dokter pada umumnya menjadi kurang baik. Ada yang ditulis cuma separuh kata atau nama obat, ada yang tampak seperti garis saja atau jika obat hanya nampak dosisnya saja, dan sebagainya.

Saya merasa terlalu yakin, apa yang saya tulis, pasti diketahui oleh perawat maupun apoteker. Seakan-akan tidak menggunakan pulpen, melainkan menulis dengan hati. Sayangnya, hati kita tak selalu berpaut dan bertemu di pandangan yang sama.

Syukurlah saya, dan semoga saja, sejawat lain juga menyadari hal ini. Mau tak mau, suka tidak suka, kami harus kembali belajar menulis yang baik dan rapi. Setidaknya mudah dibaca, meskipun font-nya kurang bagus atau seni.

Ini memang menggelikan. Setelah belasan tahun belajar bidang medis sebagai dokter ahli dengan keterampilan tambahan, akhirnya saya harus kembali belajar menulis seperti anak bungsu saya yang masih SD.

Apakah tulisan dokter menjadi  jelek semata-mata karena kebiasaan menulis cepat dan banyak saja? Ternyata tidak.

Ada penyakit tulisan jelek yang lebih parah lagi yaitu, tulisan jelek bawaan. Penyakit tulisan jeleknya tersebut sudah diidap sebelum yang bersangkutan menjadi dokter. Makanya ada guyonan, “Baru SMA, tulisanmu sudah kayak tulisan dokter saja. Jeleknya minta ampun!”  Nah yang begini pengobatannya lebih sulit lagi. Namanya juga bawaan. Mungkin tangannya perlu dioperasi mungkin.

Apabila yang bersangkutan kemudian menjadi dokter dan lalu menulis buru-buru, apakah yang akan terjadi? Apakah tulisannya menjadi jelek kuadrat atau sebaliknya secara ajaib menjadi baik karena minus kali minus adalah plus. Hahaha! [T]

BACA esai-esai lain dari penulis DOKTER ARYA

“Nerang” dan “Laser Pemecah Awan”
Cerita-cerita Ringan Dokter (1): Tarif Praktek
Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi
Tags: dokterDokter Arya NugrahakesehatanPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Benci Tapi Rindu : Kaum Reformis dan Upaya Menghidupkan Orde Baru

Next Post

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati

Pertanyaan-Pertanyaan yang Dialami Menjelang Pagi | Pidato Mahima March March March – Wulan Dewi Saraswati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co