2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nerang” dan “Laser Pemecah Awan”

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
March 21, 2022
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tiba-tiba seorang wanita paruh baya, memakai helm proyek, kedua tangannya menggenggam bejana kuningan, batang pemukul dan segenggam dupa, melintasi sirkuit di depan tribun utama. Di bawah hujan yang masih mengguyur, ia melangkah dengan penuh keyakinan sembari melakukan sebuah gerakan metodis.

Setiap mata, sesaat berhenti mengedip menyaksikan peristiwa unik dalam perhelatan balapan motor internasional yang sangat modern di sirkuit Mandalika, Lombok Tengah tadi sore. Rasanya dalam sejarah balapan Moto GP (Grad Prix Motorcycle Racing), baru kali ini terjadi peristiwa perpaduan tradisi lokal yang begitu tua dengan turnamen olahraga otomotif yang sangat modern, yang sedemikian ramai terekspos media.

Era digital media sosial dan jurnalisme warga begitu terasa dampaknya bukan hanya dalam hal kemudahan akses informasi untuk masyarakat, namun juga variasi berita yang begitu kaya dan berwarna. Sebelum era digital saat ini, dalam budaya masyarakat Bali, tradisi nerang atau menangkal hujan oleh seorang pawang hujan, dilakukan  dengan “bersembunyi” di belakang layar.

Saya meyakini, karena hal-hal yang bersifat kebathinan atau “kesaktian” itu tidak perlu dipamerkan. Namun zaman telah berubah, ritual memindahkan awan, yang merupakan cara untuk menangkal hujan, kini dilakukan secara terbuka dan menjadi viral. Kita yakin, itu bukanlah hal yang salah atau sebuah kesombongan, namun lebih dipengaruhi oleh perubahan zaman belaka. Bahkan kita melihatnya bahwa pawang hujan saat ini lebih fair dan berani karena, baik jika berhasil maupun gagal semua orang akan mengetahuinya.

Maka peristiwa unik itu telah memecah rasa jenuh dan tegang bukan hanya untuk para biker yang tertunda palagannya akibat hujan yang nakal, juga bagi kita semua rakyat Indonesia yang was-was. Pagelaran prestisius ini telah menyejajarkan bangsa kita dalam satu garis kecemerlangan dengan bangsa-bangsa maju. Dan meski cuaca atau hujan bukanlah sebuah human error, namun kita sangat menyesal jika race batal atau ditunda karena sirkuit becek, sungguh sayang sekali.

Kehujanan Gara-Gara Pawang Hujan – Cerita Konyol Penuh Amanat

Sang pawang hujan pun telah mencuri perhatian dunia dengan aksinya. Sejumlah pebalap dan timnya tersenyum riang menyaksikan peristiwa langka tersebut. Bahkan Fabio Quartararo, pebalap Yamaha itu, berusaha meniru gaya pawang hujan dari paddock-nya sambil tertawa gembira.

Kita yang terus berharap hujan segera reda seakan-akan hati kita telah bersatu dengan sang pawang, meskipun sebelumnya mungkin bersikap apriori dengan ritual ini. Tentu saja generasi yang milenial dan scientific tak lagi akrab dengan tradisi yang terkesan spekulatif ini.

Namun realitanya, ritual menangkal hujan tetap berkelindan dalam budaya masyarakat kita hingga kini. Secara pribadi, mendiang kakek saya sendiri adalah salah seorang pawang hujan terpandang dan disegani di desa saya. Bahkan almarhum, memiliki tak sedikit murid yang ikut belajar menjadi pawang hujan. Namun, betulkah ritual memindahkan awan ini spekulatif?

Secara matematis, jika ada dua kemungkinan, sukses atau gagal, maka peluang sukses tentu akan selalu 50%. Jika ini disebut spekulatif, ya boleh saja. Kita memang harus akui, metode mengusir awan dengan energi supra natural itu tidak akan pernah dapat dikaji secara ilmiah dan belum pernah ada riset terkait tingkat keberhasilannya.

Maka pada titik ini, nuansa spekulatif dapat dimaklumi. Para pawang hujan pun tak pernah meminta untuk diakui oleh masyarakat ilmiah, karena dasarnya adalah keyakinan, menyerupai keyakinan terhadap agama.

Raja Fiktif di Dunia Kedokteran

Dalam filsafat masyarakat Bali, ritual ini didasarkan pada konsep Dasa Aksara, huruf suci yang mengaitkan energi personal dengan energi alam. Mantra-mantra suci akan menghantarkan harapan-harapan kerendahan hati kita kepada energi yang maha agung di dalam alam semesta untuk diberikan hari yang cerah dan terang.

Saya sering bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi misalnya pada saat yang sama ada pawang lain yang memohon sebaliknya, yaitu hujan deras? Tidakkah ada kemungkinan, di sirkuit internasional Pertamina Mandalika ada pawang yang bersembunyi dan meminta hujan? Bukankah, sejak pagi cuaca cukup cerah dan bahkan sangat panas, namun  hujan tiba-tiba tumpah ketika race utama akan dimulai? Maka sebuah spekulasi akan selalu diikuti oleh hantaman-hantaman spekulasi yang lain.

Bahkan sebagai generasi modern pun kita masih sering keliru terhadap realitas. Masih banyak yang salah tentang “sinar laser” pemecah awan. Lampu sorot yang sinarnya di arahkan ke angkasa tersebut bukanlah sinar laser. Itu sebetulnya lampu sorot biasa yang digunakan sebagai petanda bahwa dari sumber sinar tersebut ada sebuah kegiatan dan cahaya yang dihasilkannya diharapkan menarik perhatian warga untuk menghadirinya. Sementara sinar laser merupakan sinar khusus yang penggunaannya diatur sangat ketat, terutama di bidang medis maupun industri mengingat efek samping yang bisa diakibatkannya. Dan lampu sorot tersebut pun tidak mempunyai kemampuan untuk memecah awan, baik karena keterbatasan kekuatan suhunya maupun  jarak awan yang terlampau jauh tinggi.

Bermain-main Dengan Tuhan Dalam Angka-angka

Hal yang secara ilmiah memang terbukti dapat mencegah hujan di suatu lokasi adalah, dengan menaburkan butiran halus garam dalam jumlah yang besar. Garam atau zat dengan rumus kimia NaCl tersebut merupakan material hidrofilik yang dapat mempercepat kondensasi titik-titik air dalam awan sehingga lebih cepat menjadi hujan agar tidak jatuh di lokasi yang diharapkan cerah. Inilah yang dikenal sebagai rekayasa hujan, karena awan dapat dihentikan, di atas laut misalnya dan turun sebagai hujan di sana.

Hal ini sebetulnya sudah dilakukan untuk kepentingan penyelenggaraan seri Moto GP ke-2 tahun ini di sirkuit Mandalika. Beberapa pesawat Cesna TNI AU telah menaburkan garam sekitar 3 ton pada awan yang diperkirakan menuju desa Kuta. Namun pada detik-detik start akan dimulai, hujan justru tetap mengguyur begitu deras di sana.

Dalam kegalauan semua pihak, tiba-tiba seorang wanita paruh baya, memakai helm proyek, kedua tangannya menggenggam bejana kuningan, batang pemukul dan segenggam dupa, melintasi sirkuit di depan tribun utama. Di bawah hujan yang masih mengguyur, ia melangkah dengan penuh keyakinan sembari melakukan sebuah gerakan metodis. Beberapa saat kemudian, ajaib, hujan pun reda dan adu kebut para pebalap kelas dunia memuaskan hati seluruh bangsa dan penggemar Moto GP di seantero dunia. [T]

Tags: filsafat baliMotoGP Mandalikapawang hujan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Percakapan Tengah Malam

Next Post

Malam Purnama, Dadong Brayut dan Kalarau di Nusa Penida

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Malam Purnama, Dadong Brayut dan Kalarau di Nusa Penida

Malam Purnama, Dadong Brayut dan Kalarau di Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co