23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 8, 2023
in Ulas Buku
Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Cover buku novel Plitik

Politik, di tangan Nanoq da Kansas, penulis asal Jembrana-Bali menjadi tema sentral dalam novelnya. Berbeda dengan novel lain dengan tema sama, politik dalam novel ‘PLITIK’ (Bali Kauh Publishing, 2019) bukanlah sesuatu yang serius, misalnya berangkat dari kejadian dalam kurun waktu tertentu atau mengupas tokoh politik. ‘PLITIK’ bisa dibilang novel satire; penulis menjadikan dan menganggap politik sesuatu yang jenaka, lucu dan patut dilihat dengan kacamata “lain”: bercanda, guyon, tanpa menghilangkan makna dan isi, juga pesan yang ingin disampaikan penulis.

Di Bali, terutama di desa-desa, kata “politik” sering diucapkan sebagai “plitik”, terlebih oleh orang tua. Pun dalam novel “PLITIK”, penulis menjadikan orang tua sebagai subjek cerita, yang digambarkan melalui tokoh “kakek” berusia 88 tahun. Pada awal novel, digambarkan situasi menjelang Pemilu, lengkap dengan hiruk-pikuk kampanye, debat politik, bahkan perseteruan hingga memasuki lingkup terkecil di masyarakat: keluarga.

Karena dianggap sepuh dan menjadi saksi sejarah dalam banyak Pemilu, tokoh “kakek” diburu para wartawan untuk dimintai pendapatnya mengenai Pemilu. Bahkan, dibuatkan konferensi pers di sebuah warung kopi. “Kakek” menjawab pertanyaaan wartawan dengan lugas. Penulis dengan apik mengemas percakapan dan memberi gambaran suasana serta membangun dramatisasi.

Konferensi pers itu berlangsung seru, para wartawan saling melontarkan pertanyaan dan diskusi digambarkan berlangsung seru. Hingga kemudian, seorang pedangang es melewati warung kopi tempat konferensi pers diadakan. Wartawan kehausan, mereka memesan es, hingga kemudian salah seorang wartawan mengamati stiker di gerobak es, gambar salah satu calon presiden.

Alhasil, stiker tersebut pun menjadi pergunjingan dan bahan berita. Bagi mereka, pedagang es itu partisan dan perlu dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Nahas, pedagang es tersebut, tertabrak mobil. Di dekat belokan ke kanan yang dipenuhi spanduk dan baliho caleg, dagang es serut yang masih muda itu tertabrak sedan. Kepalanya pecah dan dia mati di tempat.

Situasi menjadi runyam, karena pada gerobak es terdapat stiker salah satu capres, yang membuat petugas keamanan sibuk selain berhati-hati, karena kejadian ini tak biasa dan jarang terjadi.

Adegan di awal novel tersebut berlanjut dengan banyak kejadian yang bagi saya pembaca novel seperti menyaksikan sebuah pementasan teater. Nanoq, selaku penulis terlihat jeli memainkan dan mengatur ritme penceritaan. Maklum saja, pada awal karirnya ia dikenal sebagai pemain dan sutradara teater yang banyak memproduksi karya serta pementasan teater di Bali.

Agaknya, kepiawaian Nanoq da Kansas sebagai pegiat teater terbawa ketika menulis novel. Sehingga novel ‘PLITIK’ agak berbeda dengan pakem dan aturan penulisan novel yang ada selama ini. Di dalam novel ini, kita bisa temui penggalan puisi, esai, bahkan monolog yang memperkuat “ruh” novel. Namun, hal ini juga bisa sebaliknya; membuat pembaca menjadi bosan dan membalikkan kesan bahwa novel ini dibawakan secara sederhana, khas novel satire.

Secara garis besar, novel ‘PLITIK’ berhasil dalam banyak hal, salah satunya menggambarkan cara orang Bali membicarakan politik. Masyarakat Bali sempat mengalami trauma politik terutama pasca 1965 di mana Bali menjadi salah satu tempat di Indonesia yang mengalami pergolakan besar pada masa itu.

Menurut Geoffrey Robinson dalam bukunya berjudul Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, setidaknya ada sebanyak 80.000 orang yang menjadi korban pembantaian di Bali pada periode Desember 1965 dan awal 1966. Kekisruhan tersebut tak lepas dari situasi politik dunia saat itu, dan hingga kini terdapat banyak versi.

Satu hal yang pasti, setelah itu masyarakat Bali menjadi takut dan trauma jika membicarakan politik, karena tragedi 1965-1966 berkaitan erat dengan partai beraliran komunis dan banyak warga yang dibunuh disebut berafiliasi dengan partai tersebut.

Sejak era Reformasi pada 1998, keberanian untuk berbicara menyangkut politik muncul kembali. Baik secara langsung dalam obrolan di warung kopi atau balai banjar, juga setelah munculnya media sosial; orang Bali tak lagi takut menulis atau berdiskusi tentang politik. Misalnya, ketika terdapat hal yang dianggap keliru, masyarakat berani bicara dan diskusi menjadi “ramai” baik di media sosial atau kehidupan nyata.

Novel ‘PLITIK’ merekam berbagai peristiwa tersebut dengan sangat baik. Nanoq selaku penulis bahkan menggambarkan dialog-dialog di mana orang Bali membicaraka dalam novel ini. Juga—dan ini menarik—ia menuliskan ulang apa yang dituliskan para sahabatnya dalam status Facebook menjadi bahan novel. Hal ini tak banyak dilakukan penulis Bali yang selama ini dalam karya-karya mereka sangat “tertib” pada aturan penulisan novel yang dianggap baku.

Alhasil, novel ‘PLITIK’ bisa dibilang bentuk novel yang ‘lain’, memberontak dari apa yang banyak ditulis penulis Bali. Jika pun ada beberapa novel dengan tema politik, lebih pada novel semi-otobiografi, seperti misalnya yang ditulis oleh Putu Oka Sukanta yang merupakan saksi sejarah tragedi 1965-1966.

Agaknya, novel ‘PLITIK’ mendekati bentuk novel-novel karya Putu Wijaya yang bergaya realis dan eksperimental. Terutama, “terror mental” atau klimaks-klimaks yang tak terduga, jauh dari bayangan pembaca, membuat keterkejutan usai membaca bagian akhir novel tersebut.

Begitulah, novel ‘PLITIK’ secara sosiologis memberi gambaran betapa orang Bali menganggap politik bukanlah sesuatu yang tunggal; tak hanya bersifat serius, tetapi juga hal yang satire, seperti dalam tajen atau sabung ayam, ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, semua pihak terhibur, tak ada yang merasa dirugikan.

Politik bagi orang Bali juga demikian, walaupun kerap kali merisaukan dan ‘menjengkelkan’, ia merupakan bagian dari sebuah permainan yang barang tentu menghibur, lucu, yang kemudian menjadi bahan obrolan di balai banjar, warung kopi, atau bahkan ruang-ruang diskusi di internet.

Sesuai keterangan dalam buku, novel ‘PLITIK’ adalah bagian pertama dari novel trilogi; ‘PLITIK’, ‘GAS’ dan satu judul lagi yang belum ditentukan,  Sebagai bagian dari trilogi, novel ‘PLITIK’ berhasil mengajak saya sebagai pembaca untuk mengetahui kelanjutan cerita. Satu hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini adalah penulis seakan ‘memaksakan’ pemikirannya. Beberapa bagian novel memuat esai yang pernah ditulis oleh penulis, sebagai pelengkap jalan pemikiran yang ditawarkan.

Bagi saya hal tersebut mengurangi hak pembaca memiliki pemaknaan tersendiri tentang peristiwa, penokohan dan alur cerita. Menurut saya, biarlah pembaca menikmati cerita tanpa harus dijejali dengan kutipan esai. Walaupun ini sebuah eksperimen baru, perlu juga diperhatikan soal selera pembaca yang sejatinya memang berlainan; tergantung usia, latar belakang budaya, juga pendidikan.

Dalam amatan saya, penulis merasa ingin segera menyelesaikan novel yang ia tulis, tanpa proses pengendapan yang sejatinya sangat penting. Pembaca, pada bagian tertentu dalam novel ‘PLITIK’ seperti disuguhi “air bah” opini penulis, yang membuat kenikmatan dalam mencerna isi dan jalan cerita menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Semoga ini menjadi bisa pertimbangan penulis dalam menulis sekuel selanjutnya. [T]

Paradoks Politik dan Etnisitas dalam Novel Plitik Karya Nanoq da Kansas
Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas
Purnama Kapat dan Ingatan tentang “Rajer Babat”
Tags: jembrananovelPolitiksastraSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Manik Sukadana | 5 Puisi Pertama dalam Project Ning Ai

Next Post

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co