13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 8, 2023
in Ulas Buku
Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Cover buku novel Plitik

Politik, di tangan Nanoq da Kansas, penulis asal Jembrana-Bali menjadi tema sentral dalam novelnya. Berbeda dengan novel lain dengan tema sama, politik dalam novel ‘PLITIK’ (Bali Kauh Publishing, 2019) bukanlah sesuatu yang serius, misalnya berangkat dari kejadian dalam kurun waktu tertentu atau mengupas tokoh politik. ‘PLITIK’ bisa dibilang novel satire; penulis menjadikan dan menganggap politik sesuatu yang jenaka, lucu dan patut dilihat dengan kacamata “lain”: bercanda, guyon, tanpa menghilangkan makna dan isi, juga pesan yang ingin disampaikan penulis.

Di Bali, terutama di desa-desa, kata “politik” sering diucapkan sebagai “plitik”, terlebih oleh orang tua. Pun dalam novel “PLITIK”, penulis menjadikan orang tua sebagai subjek cerita, yang digambarkan melalui tokoh “kakek” berusia 88 tahun. Pada awal novel, digambarkan situasi menjelang Pemilu, lengkap dengan hiruk-pikuk kampanye, debat politik, bahkan perseteruan hingga memasuki lingkup terkecil di masyarakat: keluarga.

Karena dianggap sepuh dan menjadi saksi sejarah dalam banyak Pemilu, tokoh “kakek” diburu para wartawan untuk dimintai pendapatnya mengenai Pemilu. Bahkan, dibuatkan konferensi pers di sebuah warung kopi. “Kakek” menjawab pertanyaaan wartawan dengan lugas. Penulis dengan apik mengemas percakapan dan memberi gambaran suasana serta membangun dramatisasi.

Konferensi pers itu berlangsung seru, para wartawan saling melontarkan pertanyaan dan diskusi digambarkan berlangsung seru. Hingga kemudian, seorang pedangang es melewati warung kopi tempat konferensi pers diadakan. Wartawan kehausan, mereka memesan es, hingga kemudian salah seorang wartawan mengamati stiker di gerobak es, gambar salah satu calon presiden.

Alhasil, stiker tersebut pun menjadi pergunjingan dan bahan berita. Bagi mereka, pedagang es itu partisan dan perlu dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Nahas, pedagang es tersebut, tertabrak mobil. Di dekat belokan ke kanan yang dipenuhi spanduk dan baliho caleg, dagang es serut yang masih muda itu tertabrak sedan. Kepalanya pecah dan dia mati di tempat.

Situasi menjadi runyam, karena pada gerobak es terdapat stiker salah satu capres, yang membuat petugas keamanan sibuk selain berhati-hati, karena kejadian ini tak biasa dan jarang terjadi.

Adegan di awal novel tersebut berlanjut dengan banyak kejadian yang bagi saya pembaca novel seperti menyaksikan sebuah pementasan teater. Nanoq, selaku penulis terlihat jeli memainkan dan mengatur ritme penceritaan. Maklum saja, pada awal karirnya ia dikenal sebagai pemain dan sutradara teater yang banyak memproduksi karya serta pementasan teater di Bali.

Agaknya, kepiawaian Nanoq da Kansas sebagai pegiat teater terbawa ketika menulis novel. Sehingga novel ‘PLITIK’ agak berbeda dengan pakem dan aturan penulisan novel yang ada selama ini. Di dalam novel ini, kita bisa temui penggalan puisi, esai, bahkan monolog yang memperkuat “ruh” novel. Namun, hal ini juga bisa sebaliknya; membuat pembaca menjadi bosan dan membalikkan kesan bahwa novel ini dibawakan secara sederhana, khas novel satire.

Secara garis besar, novel ‘PLITIK’ berhasil dalam banyak hal, salah satunya menggambarkan cara orang Bali membicarakan politik. Masyarakat Bali sempat mengalami trauma politik terutama pasca 1965 di mana Bali menjadi salah satu tempat di Indonesia yang mengalami pergolakan besar pada masa itu.

Menurut Geoffrey Robinson dalam bukunya berjudul Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, setidaknya ada sebanyak 80.000 orang yang menjadi korban pembantaian di Bali pada periode Desember 1965 dan awal 1966. Kekisruhan tersebut tak lepas dari situasi politik dunia saat itu, dan hingga kini terdapat banyak versi.

Satu hal yang pasti, setelah itu masyarakat Bali menjadi takut dan trauma jika membicarakan politik, karena tragedi 1965-1966 berkaitan erat dengan partai beraliran komunis dan banyak warga yang dibunuh disebut berafiliasi dengan partai tersebut.

Sejak era Reformasi pada 1998, keberanian untuk berbicara menyangkut politik muncul kembali. Baik secara langsung dalam obrolan di warung kopi atau balai banjar, juga setelah munculnya media sosial; orang Bali tak lagi takut menulis atau berdiskusi tentang politik. Misalnya, ketika terdapat hal yang dianggap keliru, masyarakat berani bicara dan diskusi menjadi “ramai” baik di media sosial atau kehidupan nyata.

Novel ‘PLITIK’ merekam berbagai peristiwa tersebut dengan sangat baik. Nanoq selaku penulis bahkan menggambarkan dialog-dialog di mana orang Bali membicaraka dalam novel ini. Juga—dan ini menarik—ia menuliskan ulang apa yang dituliskan para sahabatnya dalam status Facebook menjadi bahan novel. Hal ini tak banyak dilakukan penulis Bali yang selama ini dalam karya-karya mereka sangat “tertib” pada aturan penulisan novel yang dianggap baku.

Alhasil, novel ‘PLITIK’ bisa dibilang bentuk novel yang ‘lain’, memberontak dari apa yang banyak ditulis penulis Bali. Jika pun ada beberapa novel dengan tema politik, lebih pada novel semi-otobiografi, seperti misalnya yang ditulis oleh Putu Oka Sukanta yang merupakan saksi sejarah tragedi 1965-1966.

Agaknya, novel ‘PLITIK’ mendekati bentuk novel-novel karya Putu Wijaya yang bergaya realis dan eksperimental. Terutama, “terror mental” atau klimaks-klimaks yang tak terduga, jauh dari bayangan pembaca, membuat keterkejutan usai membaca bagian akhir novel tersebut.

Begitulah, novel ‘PLITIK’ secara sosiologis memberi gambaran betapa orang Bali menganggap politik bukanlah sesuatu yang tunggal; tak hanya bersifat serius, tetapi juga hal yang satire, seperti dalam tajen atau sabung ayam, ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, semua pihak terhibur, tak ada yang merasa dirugikan.

Politik bagi orang Bali juga demikian, walaupun kerap kali merisaukan dan ‘menjengkelkan’, ia merupakan bagian dari sebuah permainan yang barang tentu menghibur, lucu, yang kemudian menjadi bahan obrolan di balai banjar, warung kopi, atau bahkan ruang-ruang diskusi di internet.

Sesuai keterangan dalam buku, novel ‘PLITIK’ adalah bagian pertama dari novel trilogi; ‘PLITIK’, ‘GAS’ dan satu judul lagi yang belum ditentukan,  Sebagai bagian dari trilogi, novel ‘PLITIK’ berhasil mengajak saya sebagai pembaca untuk mengetahui kelanjutan cerita. Satu hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini adalah penulis seakan ‘memaksakan’ pemikirannya. Beberapa bagian novel memuat esai yang pernah ditulis oleh penulis, sebagai pelengkap jalan pemikiran yang ditawarkan.

Bagi saya hal tersebut mengurangi hak pembaca memiliki pemaknaan tersendiri tentang peristiwa, penokohan dan alur cerita. Menurut saya, biarlah pembaca menikmati cerita tanpa harus dijejali dengan kutipan esai. Walaupun ini sebuah eksperimen baru, perlu juga diperhatikan soal selera pembaca yang sejatinya memang berlainan; tergantung usia, latar belakang budaya, juga pendidikan.

Dalam amatan saya, penulis merasa ingin segera menyelesaikan novel yang ia tulis, tanpa proses pengendapan yang sejatinya sangat penting. Pembaca, pada bagian tertentu dalam novel ‘PLITIK’ seperti disuguhi “air bah” opini penulis, yang membuat kenikmatan dalam mencerna isi dan jalan cerita menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Semoga ini menjadi bisa pertimbangan penulis dalam menulis sekuel selanjutnya. [T]

Paradoks Politik dan Etnisitas dalam Novel Plitik Karya Nanoq da Kansas
Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas
Purnama Kapat dan Ingatan tentang “Rajer Babat”
Tags: jembrananovelPolitiksastraSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Manik Sukadana | 5 Puisi Pertama dalam Project Ning Ai

Next Post

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co