2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 8, 2023
in Ulas Buku
Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Cover buku novel Plitik

Politik, di tangan Nanoq da Kansas, penulis asal Jembrana-Bali menjadi tema sentral dalam novelnya. Berbeda dengan novel lain dengan tema sama, politik dalam novel ‘PLITIK’ (Bali Kauh Publishing, 2019) bukanlah sesuatu yang serius, misalnya berangkat dari kejadian dalam kurun waktu tertentu atau mengupas tokoh politik. ‘PLITIK’ bisa dibilang novel satire; penulis menjadikan dan menganggap politik sesuatu yang jenaka, lucu dan patut dilihat dengan kacamata “lain”: bercanda, guyon, tanpa menghilangkan makna dan isi, juga pesan yang ingin disampaikan penulis.

Di Bali, terutama di desa-desa, kata “politik” sering diucapkan sebagai “plitik”, terlebih oleh orang tua. Pun dalam novel “PLITIK”, penulis menjadikan orang tua sebagai subjek cerita, yang digambarkan melalui tokoh “kakek” berusia 88 tahun. Pada awal novel, digambarkan situasi menjelang Pemilu, lengkap dengan hiruk-pikuk kampanye, debat politik, bahkan perseteruan hingga memasuki lingkup terkecil di masyarakat: keluarga.

Karena dianggap sepuh dan menjadi saksi sejarah dalam banyak Pemilu, tokoh “kakek” diburu para wartawan untuk dimintai pendapatnya mengenai Pemilu. Bahkan, dibuatkan konferensi pers di sebuah warung kopi. “Kakek” menjawab pertanyaaan wartawan dengan lugas. Penulis dengan apik mengemas percakapan dan memberi gambaran suasana serta membangun dramatisasi.

Konferensi pers itu berlangsung seru, para wartawan saling melontarkan pertanyaan dan diskusi digambarkan berlangsung seru. Hingga kemudian, seorang pedangang es melewati warung kopi tempat konferensi pers diadakan. Wartawan kehausan, mereka memesan es, hingga kemudian salah seorang wartawan mengamati stiker di gerobak es, gambar salah satu calon presiden.

Alhasil, stiker tersebut pun menjadi pergunjingan dan bahan berita. Bagi mereka, pedagang es itu partisan dan perlu dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Nahas, pedagang es tersebut, tertabrak mobil. Di dekat belokan ke kanan yang dipenuhi spanduk dan baliho caleg, dagang es serut yang masih muda itu tertabrak sedan. Kepalanya pecah dan dia mati di tempat.

Situasi menjadi runyam, karena pada gerobak es terdapat stiker salah satu capres, yang membuat petugas keamanan sibuk selain berhati-hati, karena kejadian ini tak biasa dan jarang terjadi.

Adegan di awal novel tersebut berlanjut dengan banyak kejadian yang bagi saya pembaca novel seperti menyaksikan sebuah pementasan teater. Nanoq, selaku penulis terlihat jeli memainkan dan mengatur ritme penceritaan. Maklum saja, pada awal karirnya ia dikenal sebagai pemain dan sutradara teater yang banyak memproduksi karya serta pementasan teater di Bali.

Agaknya, kepiawaian Nanoq da Kansas sebagai pegiat teater terbawa ketika menulis novel. Sehingga novel ‘PLITIK’ agak berbeda dengan pakem dan aturan penulisan novel yang ada selama ini. Di dalam novel ini, kita bisa temui penggalan puisi, esai, bahkan monolog yang memperkuat “ruh” novel. Namun, hal ini juga bisa sebaliknya; membuat pembaca menjadi bosan dan membalikkan kesan bahwa novel ini dibawakan secara sederhana, khas novel satire.

Secara garis besar, novel ‘PLITIK’ berhasil dalam banyak hal, salah satunya menggambarkan cara orang Bali membicarakan politik. Masyarakat Bali sempat mengalami trauma politik terutama pasca 1965 di mana Bali menjadi salah satu tempat di Indonesia yang mengalami pergolakan besar pada masa itu.

Menurut Geoffrey Robinson dalam bukunya berjudul Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, setidaknya ada sebanyak 80.000 orang yang menjadi korban pembantaian di Bali pada periode Desember 1965 dan awal 1966. Kekisruhan tersebut tak lepas dari situasi politik dunia saat itu, dan hingga kini terdapat banyak versi.

Satu hal yang pasti, setelah itu masyarakat Bali menjadi takut dan trauma jika membicarakan politik, karena tragedi 1965-1966 berkaitan erat dengan partai beraliran komunis dan banyak warga yang dibunuh disebut berafiliasi dengan partai tersebut.

Sejak era Reformasi pada 1998, keberanian untuk berbicara menyangkut politik muncul kembali. Baik secara langsung dalam obrolan di warung kopi atau balai banjar, juga setelah munculnya media sosial; orang Bali tak lagi takut menulis atau berdiskusi tentang politik. Misalnya, ketika terdapat hal yang dianggap keliru, masyarakat berani bicara dan diskusi menjadi “ramai” baik di media sosial atau kehidupan nyata.

Novel ‘PLITIK’ merekam berbagai peristiwa tersebut dengan sangat baik. Nanoq selaku penulis bahkan menggambarkan dialog-dialog di mana orang Bali membicaraka dalam novel ini. Juga—dan ini menarik—ia menuliskan ulang apa yang dituliskan para sahabatnya dalam status Facebook menjadi bahan novel. Hal ini tak banyak dilakukan penulis Bali yang selama ini dalam karya-karya mereka sangat “tertib” pada aturan penulisan novel yang dianggap baku.

Alhasil, novel ‘PLITIK’ bisa dibilang bentuk novel yang ‘lain’, memberontak dari apa yang banyak ditulis penulis Bali. Jika pun ada beberapa novel dengan tema politik, lebih pada novel semi-otobiografi, seperti misalnya yang ditulis oleh Putu Oka Sukanta yang merupakan saksi sejarah tragedi 1965-1966.

Agaknya, novel ‘PLITIK’ mendekati bentuk novel-novel karya Putu Wijaya yang bergaya realis dan eksperimental. Terutama, “terror mental” atau klimaks-klimaks yang tak terduga, jauh dari bayangan pembaca, membuat keterkejutan usai membaca bagian akhir novel tersebut.

Begitulah, novel ‘PLITIK’ secara sosiologis memberi gambaran betapa orang Bali menganggap politik bukanlah sesuatu yang tunggal; tak hanya bersifat serius, tetapi juga hal yang satire, seperti dalam tajen atau sabung ayam, ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, semua pihak terhibur, tak ada yang merasa dirugikan.

Politik bagi orang Bali juga demikian, walaupun kerap kali merisaukan dan ‘menjengkelkan’, ia merupakan bagian dari sebuah permainan yang barang tentu menghibur, lucu, yang kemudian menjadi bahan obrolan di balai banjar, warung kopi, atau bahkan ruang-ruang diskusi di internet.

Sesuai keterangan dalam buku, novel ‘PLITIK’ adalah bagian pertama dari novel trilogi; ‘PLITIK’, ‘GAS’ dan satu judul lagi yang belum ditentukan,  Sebagai bagian dari trilogi, novel ‘PLITIK’ berhasil mengajak saya sebagai pembaca untuk mengetahui kelanjutan cerita. Satu hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini adalah penulis seakan ‘memaksakan’ pemikirannya. Beberapa bagian novel memuat esai yang pernah ditulis oleh penulis, sebagai pelengkap jalan pemikiran yang ditawarkan.

Bagi saya hal tersebut mengurangi hak pembaca memiliki pemaknaan tersendiri tentang peristiwa, penokohan dan alur cerita. Menurut saya, biarlah pembaca menikmati cerita tanpa harus dijejali dengan kutipan esai. Walaupun ini sebuah eksperimen baru, perlu juga diperhatikan soal selera pembaca yang sejatinya memang berlainan; tergantung usia, latar belakang budaya, juga pendidikan.

Dalam amatan saya, penulis merasa ingin segera menyelesaikan novel yang ia tulis, tanpa proses pengendapan yang sejatinya sangat penting. Pembaca, pada bagian tertentu dalam novel ‘PLITIK’ seperti disuguhi “air bah” opini penulis, yang membuat kenikmatan dalam mencerna isi dan jalan cerita menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Semoga ini menjadi bisa pertimbangan penulis dalam menulis sekuel selanjutnya. [T]

Paradoks Politik dan Etnisitas dalam Novel Plitik Karya Nanoq da Kansas
Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas
Purnama Kapat dan Ingatan tentang “Rajer Babat”
Tags: jembrananovelPolitiksastraSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Manik Sukadana | 5 Puisi Pertama dalam Project Ning Ai

Next Post

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co