3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 8, 2023
in Ulas Buku
Novel “PLITIK”: Ketika Orang Bali Bicara Politik

Cover buku novel Plitik

Politik, di tangan Nanoq da Kansas, penulis asal Jembrana-Bali menjadi tema sentral dalam novelnya. Berbeda dengan novel lain dengan tema sama, politik dalam novel ‘PLITIK’ (Bali Kauh Publishing, 2019) bukanlah sesuatu yang serius, misalnya berangkat dari kejadian dalam kurun waktu tertentu atau mengupas tokoh politik. ‘PLITIK’ bisa dibilang novel satire; penulis menjadikan dan menganggap politik sesuatu yang jenaka, lucu dan patut dilihat dengan kacamata “lain”: bercanda, guyon, tanpa menghilangkan makna dan isi, juga pesan yang ingin disampaikan penulis.

Di Bali, terutama di desa-desa, kata “politik” sering diucapkan sebagai “plitik”, terlebih oleh orang tua. Pun dalam novel “PLITIK”, penulis menjadikan orang tua sebagai subjek cerita, yang digambarkan melalui tokoh “kakek” berusia 88 tahun. Pada awal novel, digambarkan situasi menjelang Pemilu, lengkap dengan hiruk-pikuk kampanye, debat politik, bahkan perseteruan hingga memasuki lingkup terkecil di masyarakat: keluarga.

Karena dianggap sepuh dan menjadi saksi sejarah dalam banyak Pemilu, tokoh “kakek” diburu para wartawan untuk dimintai pendapatnya mengenai Pemilu. Bahkan, dibuatkan konferensi pers di sebuah warung kopi. “Kakek” menjawab pertanyaaan wartawan dengan lugas. Penulis dengan apik mengemas percakapan dan memberi gambaran suasana serta membangun dramatisasi.

Konferensi pers itu berlangsung seru, para wartawan saling melontarkan pertanyaan dan diskusi digambarkan berlangsung seru. Hingga kemudian, seorang pedangang es melewati warung kopi tempat konferensi pers diadakan. Wartawan kehausan, mereka memesan es, hingga kemudian salah seorang wartawan mengamati stiker di gerobak es, gambar salah satu calon presiden.

Alhasil, stiker tersebut pun menjadi pergunjingan dan bahan berita. Bagi mereka, pedagang es itu partisan dan perlu dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Nahas, pedagang es tersebut, tertabrak mobil. Di dekat belokan ke kanan yang dipenuhi spanduk dan baliho caleg, dagang es serut yang masih muda itu tertabrak sedan. Kepalanya pecah dan dia mati di tempat.

Situasi menjadi runyam, karena pada gerobak es terdapat stiker salah satu capres, yang membuat petugas keamanan sibuk selain berhati-hati, karena kejadian ini tak biasa dan jarang terjadi.

Adegan di awal novel tersebut berlanjut dengan banyak kejadian yang bagi saya pembaca novel seperti menyaksikan sebuah pementasan teater. Nanoq, selaku penulis terlihat jeli memainkan dan mengatur ritme penceritaan. Maklum saja, pada awal karirnya ia dikenal sebagai pemain dan sutradara teater yang banyak memproduksi karya serta pementasan teater di Bali.

Agaknya, kepiawaian Nanoq da Kansas sebagai pegiat teater terbawa ketika menulis novel. Sehingga novel ‘PLITIK’ agak berbeda dengan pakem dan aturan penulisan novel yang ada selama ini. Di dalam novel ini, kita bisa temui penggalan puisi, esai, bahkan monolog yang memperkuat “ruh” novel. Namun, hal ini juga bisa sebaliknya; membuat pembaca menjadi bosan dan membalikkan kesan bahwa novel ini dibawakan secara sederhana, khas novel satire.

Secara garis besar, novel ‘PLITIK’ berhasil dalam banyak hal, salah satunya menggambarkan cara orang Bali membicarakan politik. Masyarakat Bali sempat mengalami trauma politik terutama pasca 1965 di mana Bali menjadi salah satu tempat di Indonesia yang mengalami pergolakan besar pada masa itu.

Menurut Geoffrey Robinson dalam bukunya berjudul Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, setidaknya ada sebanyak 80.000 orang yang menjadi korban pembantaian di Bali pada periode Desember 1965 dan awal 1966. Kekisruhan tersebut tak lepas dari situasi politik dunia saat itu, dan hingga kini terdapat banyak versi.

Satu hal yang pasti, setelah itu masyarakat Bali menjadi takut dan trauma jika membicarakan politik, karena tragedi 1965-1966 berkaitan erat dengan partai beraliran komunis dan banyak warga yang dibunuh disebut berafiliasi dengan partai tersebut.

Sejak era Reformasi pada 1998, keberanian untuk berbicara menyangkut politik muncul kembali. Baik secara langsung dalam obrolan di warung kopi atau balai banjar, juga setelah munculnya media sosial; orang Bali tak lagi takut menulis atau berdiskusi tentang politik. Misalnya, ketika terdapat hal yang dianggap keliru, masyarakat berani bicara dan diskusi menjadi “ramai” baik di media sosial atau kehidupan nyata.

Novel ‘PLITIK’ merekam berbagai peristiwa tersebut dengan sangat baik. Nanoq selaku penulis bahkan menggambarkan dialog-dialog di mana orang Bali membicaraka dalam novel ini. Juga—dan ini menarik—ia menuliskan ulang apa yang dituliskan para sahabatnya dalam status Facebook menjadi bahan novel. Hal ini tak banyak dilakukan penulis Bali yang selama ini dalam karya-karya mereka sangat “tertib” pada aturan penulisan novel yang dianggap baku.

Alhasil, novel ‘PLITIK’ bisa dibilang bentuk novel yang ‘lain’, memberontak dari apa yang banyak ditulis penulis Bali. Jika pun ada beberapa novel dengan tema politik, lebih pada novel semi-otobiografi, seperti misalnya yang ditulis oleh Putu Oka Sukanta yang merupakan saksi sejarah tragedi 1965-1966.

Agaknya, novel ‘PLITIK’ mendekati bentuk novel-novel karya Putu Wijaya yang bergaya realis dan eksperimental. Terutama, “terror mental” atau klimaks-klimaks yang tak terduga, jauh dari bayangan pembaca, membuat keterkejutan usai membaca bagian akhir novel tersebut.

Begitulah, novel ‘PLITIK’ secara sosiologis memberi gambaran betapa orang Bali menganggap politik bukanlah sesuatu yang tunggal; tak hanya bersifat serius, tetapi juga hal yang satire, seperti dalam tajen atau sabung ayam, ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, semua pihak terhibur, tak ada yang merasa dirugikan.

Politik bagi orang Bali juga demikian, walaupun kerap kali merisaukan dan ‘menjengkelkan’, ia merupakan bagian dari sebuah permainan yang barang tentu menghibur, lucu, yang kemudian menjadi bahan obrolan di balai banjar, warung kopi, atau bahkan ruang-ruang diskusi di internet.

Sesuai keterangan dalam buku, novel ‘PLITIK’ adalah bagian pertama dari novel trilogi; ‘PLITIK’, ‘GAS’ dan satu judul lagi yang belum ditentukan,  Sebagai bagian dari trilogi, novel ‘PLITIK’ berhasil mengajak saya sebagai pembaca untuk mengetahui kelanjutan cerita. Satu hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini adalah penulis seakan ‘memaksakan’ pemikirannya. Beberapa bagian novel memuat esai yang pernah ditulis oleh penulis, sebagai pelengkap jalan pemikiran yang ditawarkan.

Bagi saya hal tersebut mengurangi hak pembaca memiliki pemaknaan tersendiri tentang peristiwa, penokohan dan alur cerita. Menurut saya, biarlah pembaca menikmati cerita tanpa harus dijejali dengan kutipan esai. Walaupun ini sebuah eksperimen baru, perlu juga diperhatikan soal selera pembaca yang sejatinya memang berlainan; tergantung usia, latar belakang budaya, juga pendidikan.

Dalam amatan saya, penulis merasa ingin segera menyelesaikan novel yang ia tulis, tanpa proses pengendapan yang sejatinya sangat penting. Pembaca, pada bagian tertentu dalam novel ‘PLITIK’ seperti disuguhi “air bah” opini penulis, yang membuat kenikmatan dalam mencerna isi dan jalan cerita menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Semoga ini menjadi bisa pertimbangan penulis dalam menulis sekuel selanjutnya. [T]

Paradoks Politik dan Etnisitas dalam Novel Plitik Karya Nanoq da Kansas
Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel “Gas” Nanoq da Kansas
Purnama Kapat dan Ingatan tentang “Rajer Babat”
Tags: jembrananovelPolitiksastraSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Manik Sukadana | 5 Puisi Pertama dalam Project Ning Ai

Next Post

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Ruang Baca Publik Yang Sebenar-benarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co