4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Workshop Pengawak Lelambatan Pegongan dari Yayasan Janahita Mandala, Merespon Telaga Sebagai Benih Reka Cipta

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
November 30, 2022
in Khas
Workshop Pengawak Lelambatan Pegongan dari Yayasan Janahita Mandala, Merespon Telaga Sebagai Benih Reka Cipta

yaitu I Ketut Gede Asnawa, SS.KAR., MA saat memberikan Workshop Pengawak Lelambatan Pegongan di Museum Puri Lukisan Ubud

YAYASAN JANAHITA MANDALA dari tanggal 25 sampai dengan 27 November menggelar acara kebudayaan yang diberi tajuk Ubud Campuhan Budaya dengan mengusung tema “Tattaka Wisudha Citta, Telaga Benih Reka Budaya”.

Kegiatan kebudayaan merespon keutamaan telaga sebagai wadah bersemainya aliran air yang mengalir secara konsisten sebagai kredo dari gerakan penggalian pemikiran serta aktualisasi kebudayaan dalam pondasi neo-klasik.

Workshop Pengawak Lelambatan Pegongan adalah salah satu kegiatan edukatif mengenai penyusunan gending pengawak lelambatan pegongan dari kreator lelambatan bereputasi yaitu I Ketut Gede Asnawa, SS.KAR., MA pada hari Minggu tanggal 27 November 2022 bertempat di Wantilan Museum Puri Lukisan, Ubud.

Workshop pengawak lelambatan pegongan diikuti oleh para kreator gamelan, seniman gamelan, dosen, komunitas gamelan, mahasiswa ISI Denpasar dan para siswa SMK Negeri 3 Sukawati. Workshop mengenai pengawak lelambatan ini diberikan untuk memberikan pengetahuan mengenai penyusunan bagian pengawak dari kreator yang telah banyak dan berpengalaman melahirkan karya-karya lelambatan.

Lelambatan adalah salah satu bentuk gending dari gamelan pegongan. Gamelan pegongan merujuk pada barungan Gamelan Gong Gede dengan struktur sistem musikal terpusat pada tungguhan gong. Menurut Ketut Gede Asnawa berdasarkan analisis dari Collin McPhee gamelan pegongan memiliki komposisi untuk konteks seremonial dan memiliki formulasi yang bersifat komplek dan statis.

Bersifat statis dalam artian apapun nama repertoar yang dimainkan strukturnya tidak berubah seperti dimulai dari kawitan, pengawak, pengisep, bebaturan, embat-embatan, dan pengecet (tabuh telu atau gegilakan).

Kemudian lebih lanjut Ketut Gede Asnawa kembali menyarikan pemikiran McPhee mengenai bentuk gending yang diklasifikasikan ke dalam dua jenis yaitu Gending Ageng dan Gending Gangsaran. Gending ageng berorientasi pada kalimat gending yang panjang sedangkan gending gangsaran bersifat lebih cepat dan alurnya relatif pendek-pendek.

Dalam pemikiran lain I Wayan Madra Aryasa berpendapat dari segi bentuk komposisi terdapat dua tipe yaitu motif lelambatan dan motif gegancangan. Motif lelambatan bercirikan ukuran lagu bersifat panjang, bersifat metris dan terikat dengan pola komposisi yang ketat. Kemudian motif gegancangan ukuran lagu bersifat pendek dan tanggung, benyak menggunakan ornamentasi ubit-ubitan dan pola komposisi yang kurang ketat (1984/85:64).

Dari kedua pendapat mengenai bentuk gending bahwa dapat ditarik bahwa Gending Ageng turunannya adalah tipe gending pengawak dan gending gangsaran adalah bentuk tipe gegancangan.

Foto: Proses Praktik Penyusunan Pengawak Lelambatan

Pada gending lelambatan terdapat bagian gending yang disebut dengan pengawak. Untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan pengawak maka harus dianalisis dari akar katanya sebelum lebih jauh mengurai cara kerja musikal. Pengawak berasal dari kata awak yang berarti badan (body).

Dalam melacak esensi pengawak yang berasal dari kata awak berarti badan maka digunakan analogi yang disebut ‘sarwa telu’ yaitu mengklasifikasi menjadi tiga bagian kepala, badan dan kaki. Jika pengawak adalah badan maka terdapat kepala sebagai sumber dan kaki sebagai penyangga. Lebih lanjut jika berbicara pada ruang badan maka disana terjadi mengenai mekanisme dari organ-organ.

Dalam mekanisme badan organ-organ tersebut terdapat sistem dan struktur sehingga menjadikan kehidupan. Kepala sebagai sumber untuk memerintahkan alur mekanisme organ badan serta kemudian disangga oleh kaki. Analogi tersebut jika ditarik dalam cara kerja musikal pengawak adalah tempat terjadinya progresi melodi yang mengalir secara terstruktur menuju bagian frasa (palet) seperti jegog, kempli dan kempur yang juga bertugas sebagai penanda pungtuasi. Kemudian berakhir menuju identitas pengawak pada pukulan gong.

Asnawa mengatakan, dalam susunan mekanisme pengawak lelambatan selalu dimulai dengan dua hal yaitu memunculkan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Jika terdapat sebuah jawaban mengacu pada tonal tertentu seperti nada ‘nding” maka pertanyaannya bagaimana cara menuju tonal ‘ding’?.

Kemudian muncul beragam penjelasan untuk mengarah jatuhnya tonal ‘ding’ dengan segala aksen dan frasanya maka itu adalah bahasa lain dari cara kerja progresi nada dalam melewati dan menuju palet-palet pungtuasi seperti jegog, kempli dan kempur. Mengambil lintasan tinggi atau rendah dalam skala angkepan (sistem oktaf dalam gamelan Bali). Seberapa panjang progresi melodi melewati kanal-kanal pungtuasi tergantung frame tabuh berapa yang dipilih seperti jika memilih tabuh pat maka akan melewati dua baris yang dinamakan penyumu, empat pungtuasi kempli dan empat pungtuasi kempur baru kemudian melaju dengan dua baris disebut milpil sebelum diputus dengan gongan.

Lebih lanjut Asnawa memaparkan dalam menyusun pengawak lelambatan diperlukan tiga syarat teknis yang harus diperhatikan oleh para komposer yaitu 1) Keterampilan, 2) Sensitivitas dan 3) Imajinasi. Keterampilan merujuk pada penguasaan teknik permainan seluruh tungguhan dalam barungan gamelan sebagai modal penggarapan melodi dan pepayasan termasuk angsel.

Sensitivitas diperlukan untuk memberikan ekpresi rasa dalam konteks bayun gending, aes uncab, kenyang lempung pada setiap palet dalam satu pada. Imajinasi menentukan mengenai bentuk, alur, kountur dan dinamika dari melodi serta pepayasan. Ketiga syarat itu harus dipegang oleh komposer dalam penyusunan gending pengawak lelambatan dan bahkan untuk penciptaan gending gamelan lainnya.

Praktik Penyusunan Pengawak Lelambatan

Selain memberikan penjelasan secara pedagogis Asnawa juga memberikan tata cara penyusunan pengawak lelambatan dengan metode pratktik langsung. Pada sesi praktik, Asnawa memberikan peserta sebuah gending pengawak tabuh dua lelambatan yang diberi judul ‘Ding Ro’.

Tabuh dua sebagai skema dari pengawak terdapat dua kali pukulan kempur dan dua kali pukulan kempli dengan susunan dua baris penyumu yang diakhiri dengan jatuhnya pukulan kempur. Dua baris menuju angsel kempli dan dua baris menuju angsel kempur.

Mengingat sebagai tabuh kedua maka, setelah angsel kempur ke dua maka dilanjutkan dengan bagian milpil menuju final gong.

Adapun notasi pengawak tabuh dua Ding Ro seperti berikut di bawah ini:

Laras yang digunakan adalah laras pelog slisir dan notasi mengacu pada tabuhan tungguhan calung.

*
*

Gending pengawak tabuh Ding Ro yang digunakan materi praktik dalam work shop oleh I Ketut Gede Asnawa di dalamnya terkandung formulasi musikal yang sangat menarik.

Formulasi musikal yang dimaksud adalah progresi melodi pada angsel kempli dan angsel kempur. Pada angsel kempli jika diamati pada notasi di bawah ini sebagai bahan analisasi progresi melodi.

*

Pada baris kedua yang berujung pada jatuhnya pukulan kempli (secara keseluruhan disebut dengan angsel kempli) menggunakan karakter progresi melodi ngubeng. Melodi ngubeng adalah pergerakan melodi yang mayoritas nada penyusunnya hanya satu nada berjalan dari satu nada menuju nada yang sama. Pada bentuk melodi angsel kempli di atas dapat dilihat ujung palet gending jatuh pada nada dung (7), serta dalam perjalanannya terdapat empat tumpuk nada dung (7).

Formulasi kedua terdapat pada angsel kempur adalah progresi melodi menggunakan karakter mejalan. Melodi mejalan adalah sebuah pergerakan melodi yang berjalan atau berpindah dari satu nada ke nada yang lain, konvensionalnya menggunakan nada tetangga (satu nada di atas atau di bawah) sebagi nada lintasan. Analisisnya dapat dilihat pada notasi di bawah ini:

*

Pada notasi di atas dapat dilihat pada pada akhir kalimat angsel kempur dengan nada deng (5). Perjalanan sebelum jatuhnya pukulan kempur nada-nadanya bergerak menuju nada tetangga dari ding (3) menuju dang (1), dang (1) menuju dung (7) dan dung (7) menuju deng (5).

Dari analisis progresi melodi ngubeng dan mejalan dalam pengawak tabuh dua Ding Ro terdapat konsep keseimbangan yang disebut antara diam dan berjalan. Diam dan berjalan adalah sebuah cara untuk melahirkan variasi. Selain itu juga untuk memberikan nafas dalam perjalanan atau sistem sebuah melodi dalam menuju titik sentral yang disebut dengan gong.

Workshop pengawak lelambatan pegongan ini digelar untuk memberikan edukasi mengenai tata cara menyusun gending pengawak yang terarah dan terstruktur. Kemudian juga terdapat proses analisis untuk mengurasi “epistemologi” dari I Ketut Gede Asnawa dalam menyusun pengawak lelambatan.

Hasil analisis yang berpijak dari gending pengawak tabuh dua Ding Ro karya I Ketut Gede Asnawa menemukan formulasi pergerakan atau progresi nada beserta dengan teknik penyusunannya. Pengetahuan mengenai formulasi progresi nada seperti yang dijelaskan dan dibagikan oleh Asnawa bermanfaat dan dapat dikembangkan oleh para komposer gamelan Bali sesuai denga kebutuhan garapnya. [T]

Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud Cokorda Gde Agung Ichiro Sukawati dan Ketua Panitia Ubud Campuhan Budaya Cokorda Gde Bayu Putra menyerahkan piagam kepada I Ketut Gede Asnawa, SS.KAR., MA

Peserta workshop Workshop Pengawak Lelambatan Pegongan di Museum Puri Lukisan, Ubud

Ubud Campuhan Budaya 2022, Cok Ace: Pelestarian Kebudayaan Diteruskan Anak Muda Secara Lebih Hebat
Ubud Campuhan Budaya 2022: Ibarat Telaga Sebagai Ruang Imaji Demi Tumbuhnya Pusparagam Kreativitas
Banyumili, Karya Neo-Klasik Untuk Gamelan Selonding | Sublimasi Nilai Telaga Sebagai Benih Penciptaan
Tags: gong lelambatankesenian baliUbudUbud Campuhan Budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seraya Popcorn, Usaha Kreatif Agus Tripayana Membangkitkan Jagung Desa Seraya

Next Post

Pelestarian Bahasa Bali, Kebijakan Setengah Hati?

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Pelestarian Bahasa Bali, Kebijakan Setengah Hati?

Pelestarian Bahasa Bali, Kebijakan Setengah Hati?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co