2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati dan Bahasa Bebas Bencana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
October 22, 2022
in Opini
Saraswati dan Bahasa Bebas Bencana

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Kumbhakarna tiba-tiba tersentak tatkala menyadari lidahnya telah keliru berucap. Wajahnya tiba-tiba tertunduk lesu ketika teringat pada nasibnya. Tirakat keras yang dilakukannya benar-benar sudah pupus. Sungguh memilukan, seorang kesatria perkasa yang semestinya berlaga di medan perang kini harus beristirahat panjang di atas ranjang.

Kumbhakarna tahu bila kesaruan nasibnya adalah ulah Dewi Saraswati, sang penguasa kata-kata. Kumbhakarna berusaha tegar dan tak ingin menyalahkan siapapun. Ia sekaligus mafhum bila segalanya terjadi karena kelengahan pikirannya. Ia sadar hanya peminjam kata-kata dari penguasanya yang sejati sehingga tidak seutuhnya merasa berhak untuk mengajukan protes.

Kalau punya kesempatan tentu dia cuma ingin berpesan kepada setiap orang bahwa kata-kata itu laksana alat pinjaman yang mesti dipergunakan dengan penuh kehati-hatian. Bila tidak mawas maka alat itu dapat menjadi rusak, melukai orang lain, atau kedua-duanya. Meski tidak sering secara eksplisit disampaikan, si pemilik pastilah memiliki standar harapan agar alat miliknya tetap aman ketika dipinjamkan.

Saban enam bulan (menurut perhitungan Kalender Bali) umat Hindu di Bali memperingati kemuliaan Devi yang telah memusnahkan upaya keras Kumbhakarna. Bisa jadi para bijak di masa lampau telah menyadari jika Kumbhakarna yang sangat perkasa saja dapat diperdaya oleh Sang Devi, apalagi manusia biasa yang penuh kelemahan.

Hal itu pulalah yang menyebabkan ajaran-ajaran tentang pengendalian lisan bertebaran dalam tradisi Hindu Nusantara. Kendatipun berdasarkan sumber-sumber tekstual juga tampak bila tradisi ‘puasa bicara’ merupakan kelanjutan dari kebiasaan orang-orang suci di Tanah Bharata.

Salah satu narasi yang cukup populer tentang ‘puasa bicara’ dapat ditemukan dalam Teks Adiparwa Jawa Kuno yang mengisahkan seorang pendeta mulia bernama Bhagawan Samiti yang sangat taat menjalankan puasa bicara (monabrata).

Ketika sang pendeta tengah tekun melaksanakan monabrata di dalam hutan dekat pertapaannya tiba-tiba Raja Parikesit lewat untuk mengejar binatang buruan. Saat melihat keberadaan sang pendeta, Raja Parikesit segera menanyakan arah pergi binatang buruan yang sedang dibuntutinya.

Tentu saja sang pendeta tidak menjawab pertanyaan Raja Parikesit karena dapat membatalkan brata yang tengah dijalaninya. Kebisuan Bhagawan Samiti membuat Raja Parikesit merasa tidak dihargai sehingga membalasnya dengan mengalungkan bangakai ular di leher sang pendeta.

Peristiwa pelecehan tersebut diketahui oleh putera Bhagawan Samiti yang pemarah bernama Sang Srenggi. Saking murkanya atas perlakuan Parikesit kepada ayahandanya, Sang Srenggi mengutuk Raja Parikesit tewas tergigit Naga Taksaka dalam waktu tujuh hari. Kendatipun segala upaya telah dilakukan untuk melindungi Raja Parikesit dari kutukan Sang Srenggi namun akhirnya nyawa sang raja tidak dapat diselamatkan.

Kisah tersebut mengindikasikan pelaku-pelaku monabrata sangatlah istimewa. Orang-orang yang berani mengganggu pelaku brata tersebut akan menerima akibat yang fatal. Ketentuan itu tak terkecualikan juga bagi seorang raja besar sekaliber Parikesit.

Sejatinya Parikesit adalah sosok yang istimewa. Sebab ketika tercemar oleh racun panah Asvattama saat masih berada dalam kandungan Utari, Bhatara Kresnapun turut berupaya keras untuk menyelamatkan nyawanya. Sayangnya ketika tanpa sengaja mengganggu pendeta yang tengah melaksanakan monabrata, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Monabrata menduduki posisi yang penting dalam Agama Hindu karena merupakan prototipebagi pengendalian kata-kata secara lebih luas. Orang-orang yang terbiasa berbicara dengan bebas pastilah merasakan kesulitan-kesulitan ketika mulai berlatih monabrata. Pada tahap ini manusia juga menyadari bila berkata-kata merupakan kebutuhan yang mendasar dan sangat rentan untuk lepas kontrol.

Banyak orang kerap baru berpikir ulang atau menyesali diri ketika ucapannya telah salah arah. Temuan kata-kata secara fungsional sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan produktif sekaligus juga dibayangi oleh potensinya yang dapat menimbulkan bencana. Kata-kata lazimnya dipergunakan dalam aktivitas komunikasi.

Komunikasi sendiri berasal dari bahasa latin cum (bersama) dan units (satu). Secara lebih jelas istilah tersebut dihubungkan dengan kata latin communio yang mengarah kepada hubungan untuk mencapai kesatuan. Kendatipun telah diarahkan sebagai alat untuk mencapai hubungan yang menentramkan namun seringkali kata-kata juga secara tidak sengaja atau dengan sengaja disimpangkan sehingga mengakibatkan dampak-dampak yang tidak diharapkan.

Satu-satunya solusi untuk mewujudkan komunikasi yang penuh etika adalah mendidik pelaku-pelakunya dengan bersungguh-sungguh. Bahasa pada dasarnnya tidak hanya berfungsi dalam urusan-urusan eksternal seperti untuk menyampaikan maksud tertentu kepada orang lain seperti merayu, membujuk, memberitahu, menyampaikan keluhan, dan sebagainya. Secara lebih privat bahasa memiliki peran dalam menata proses berpikir seseorang pada dimensi internal.

Wilhelm Von Humbolt menyatakan bahasa terdiri dari dua bagian yakni bunyi dan pemikiran. Bunyi merupakan struktur eksternal sedangkan pemikiran adalah struktur internal. Struktur eksternal berupa bunyi dapat didengar oleh orang lain ketika seorang penutur tengah berbicara. Uniknya ketika berada dalam kesendirian suara-suara seperti yang dimiliki oleh struktur eksternal juga tetap mengendap dan berputar-putar dalam pikiran seseorang.

Bayangkan ketika bahasa tidak dikenal oleh seorang individu maka orang tersebut bahkan menjadi sangat sulit untuk melakukan monolog dengan dirinya sendiri. Pastinya orang-orang yang berada dalam kondisi demikian juga sangat sulit untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya yang lain.

Para penganut Hindu telah semenjak lampau menyadari anugerah bahasa yang sangat kompleks oleh karenanya tiada henti-hentinya melakukan pemujaan kepada Saraswati. Di Bali, orang-orang yang sangat pintar sekalipun tidak berani takabur dan tetap menjadikan Saraswati sebagai junjungannya. Terlebih ketika akan membuka kitab-kitab utama bahkan yang sebenarnya telah dikuasainya di luar kepada seorang ahli tetap akan memohon restu dari Dewi Saraswati.

Budaya semacam itu sejatinya dapat mencegah kemunculan orang-orang pintar yang bertindak sekehendak hatinya. Dalam dimensi keilmuan juga menghindarkan kebebasnilaian dari ilmu pengetahuan. Pada kondisi yang terarah semacam itu orang-orang cerdas belajar ilmu-ilmu pengetahuan utama bagi transformasi diri sekaligus sebagai wujud loyalitas sosialnya. Pengejawantahan lebih lanjut dari monabrata adalah praktiknya dalam relasi sosial.

Setelah berpikir dan bermonolog internal dengan matang seseorang kemudian dapat menata perkataannya secara berhati-hati ketika berinteraksi dalam lingkungan sosialnya. Terkait dengan hal itu  Sarasamuscaya 75 memperingatkan terdapat empat hal yang tidak pantas terdapat dalam perkataan, yakni ucapan yang jahat, ucapan kasar, ucapan yang mengandung fitnah, dan ucapan yang mengandung dusta (nyang tanpa prawrttyaning, wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna, ujar mithya).

Kelanjutan dari tradisi lisan tentu dapat ditemukan pada tradisi tulisan. Manusia dengan kecerdasannya mampu menata tulisan sebagaimana menata kata-kata. Ketika tradisi virtual semakin mapan tradisi tulisan juga semakin berkembang pesat. Orang-orang dapat menulis atau menemukan konten tulisan apapun dengan mudah seolah tanpa batas. Puncaknya muncul tulisan-tulisan bertipe programming language yang semakin populer dari hari ke hari. Bahasa tipe itu juga dapat melantarkan maksud-maksud pembuatnya, seperti halnya kata-kata konvensional.

Tampak jelas juga bila programming language yang dengan mudah menghegemoni ucapan dan tulisan konvensional dapat merubah cara pandang maupun budaya para penggandrungnya. Seperti kehadiran media virtual yang dengan tiba-tiba dapat menggeser kebiasaan-kebiasaan lama secara instan. Dengan demikian kehadiran tipe bahasa baru seperti itu patut kita waspadai karena tabiatnya yang belum banyak dikenal.

Von Humbolt pernah berpendapat jika cara pandang seseorang tentang kehidupan dan budaya disesuaikan dengan bahasa asalnya. Apabila seseorang ingin membebaskan diri dari garis bahasa asalnya maka harus mempelajari bahasa lain. Demikian pula ketika ingin mengubah cara pandangnya maka seseorang harus mengenal budaya serta dialek bahasa lain terlebih dahulu. Bersandar pada gagasan Humbold tersebut semestinya disiapkan langkah-langkah antisipasi agar bahasa-bahasa varian baru tidak menimbulkan kekacauan.

Kendatipun formatnya telah sangat maju, programming language tetaplah berada di bawah kekuasaan Dewi Saraswati sebagai penguasa bahasa/ kata-kata (Vagdevi, Vagisvari). Sebab programming language meruapakan perkembangan lebih lanjut dari bahasa konvensional yang telah eksis sebelumnya.

Guna mengindari ‘terpeleset’ ketika menggunakan bahasa fitur baru maka setiap orang mesti memuja Dewi Saraswati dengan bersungguh-sungguh. Sang Devi selalu mengarahkan pemuja-pemujanya untuk menggunakan bahasa dalam bentuk apapun dengan benar. Selanjutnya para pemuja yang menyadari bila bahasa yang dipergunakan bukan seutuhnya milik dirinya akan sangat berhati-hati.

Perayaan Saraswati di Bali bukanlah sekadar mengupacarai naskah-naskah kuno yang telah dikeurubuti rayap, namun juga mengupacarai format-format bahasa masa depan yang dipastikan tidak melahirkan bencana. Kita optimis bahwa Saraswati selalu relevan menjadi payung zaman yang beradab. [T]

Saraswati: Kecantikan Misterius dari Sains dan Seni yang Tidak Ada Habisnya
Sri Mpu Sri Dharmapala Vajrapani: Pemuja Budha dan Saraswati dari Timur
Memuja Saraswati, Keriangan yang Sama dari Seluruh Dunia
Tags: BahasaDewi SaraswatiHari SaraswatihinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Bandem Tentang Festival Seni: Kurator Perlu Melakukan Riset yang Baik

Next Post

Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co