2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati dan Bahasa Bebas Bencana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
October 22, 2022
in Opini
Saraswati dan Bahasa Bebas Bencana

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Kumbhakarna tiba-tiba tersentak tatkala menyadari lidahnya telah keliru berucap. Wajahnya tiba-tiba tertunduk lesu ketika teringat pada nasibnya. Tirakat keras yang dilakukannya benar-benar sudah pupus. Sungguh memilukan, seorang kesatria perkasa yang semestinya berlaga di medan perang kini harus beristirahat panjang di atas ranjang.

Kumbhakarna tahu bila kesaruan nasibnya adalah ulah Dewi Saraswati, sang penguasa kata-kata. Kumbhakarna berusaha tegar dan tak ingin menyalahkan siapapun. Ia sekaligus mafhum bila segalanya terjadi karena kelengahan pikirannya. Ia sadar hanya peminjam kata-kata dari penguasanya yang sejati sehingga tidak seutuhnya merasa berhak untuk mengajukan protes.

Kalau punya kesempatan tentu dia cuma ingin berpesan kepada setiap orang bahwa kata-kata itu laksana alat pinjaman yang mesti dipergunakan dengan penuh kehati-hatian. Bila tidak mawas maka alat itu dapat menjadi rusak, melukai orang lain, atau kedua-duanya. Meski tidak sering secara eksplisit disampaikan, si pemilik pastilah memiliki standar harapan agar alat miliknya tetap aman ketika dipinjamkan.

Saban enam bulan (menurut perhitungan Kalender Bali) umat Hindu di Bali memperingati kemuliaan Devi yang telah memusnahkan upaya keras Kumbhakarna. Bisa jadi para bijak di masa lampau telah menyadari jika Kumbhakarna yang sangat perkasa saja dapat diperdaya oleh Sang Devi, apalagi manusia biasa yang penuh kelemahan.

Hal itu pulalah yang menyebabkan ajaran-ajaran tentang pengendalian lisan bertebaran dalam tradisi Hindu Nusantara. Kendatipun berdasarkan sumber-sumber tekstual juga tampak bila tradisi ‘puasa bicara’ merupakan kelanjutan dari kebiasaan orang-orang suci di Tanah Bharata.

Salah satu narasi yang cukup populer tentang ‘puasa bicara’ dapat ditemukan dalam Teks Adiparwa Jawa Kuno yang mengisahkan seorang pendeta mulia bernama Bhagawan Samiti yang sangat taat menjalankan puasa bicara (monabrata).

Ketika sang pendeta tengah tekun melaksanakan monabrata di dalam hutan dekat pertapaannya tiba-tiba Raja Parikesit lewat untuk mengejar binatang buruan. Saat melihat keberadaan sang pendeta, Raja Parikesit segera menanyakan arah pergi binatang buruan yang sedang dibuntutinya.

Tentu saja sang pendeta tidak menjawab pertanyaan Raja Parikesit karena dapat membatalkan brata yang tengah dijalaninya. Kebisuan Bhagawan Samiti membuat Raja Parikesit merasa tidak dihargai sehingga membalasnya dengan mengalungkan bangakai ular di leher sang pendeta.

Peristiwa pelecehan tersebut diketahui oleh putera Bhagawan Samiti yang pemarah bernama Sang Srenggi. Saking murkanya atas perlakuan Parikesit kepada ayahandanya, Sang Srenggi mengutuk Raja Parikesit tewas tergigit Naga Taksaka dalam waktu tujuh hari. Kendatipun segala upaya telah dilakukan untuk melindungi Raja Parikesit dari kutukan Sang Srenggi namun akhirnya nyawa sang raja tidak dapat diselamatkan.

Kisah tersebut mengindikasikan pelaku-pelaku monabrata sangatlah istimewa. Orang-orang yang berani mengganggu pelaku brata tersebut akan menerima akibat yang fatal. Ketentuan itu tak terkecualikan juga bagi seorang raja besar sekaliber Parikesit.

Sejatinya Parikesit adalah sosok yang istimewa. Sebab ketika tercemar oleh racun panah Asvattama saat masih berada dalam kandungan Utari, Bhatara Kresnapun turut berupaya keras untuk menyelamatkan nyawanya. Sayangnya ketika tanpa sengaja mengganggu pendeta yang tengah melaksanakan monabrata, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Monabrata menduduki posisi yang penting dalam Agama Hindu karena merupakan prototipebagi pengendalian kata-kata secara lebih luas. Orang-orang yang terbiasa berbicara dengan bebas pastilah merasakan kesulitan-kesulitan ketika mulai berlatih monabrata. Pada tahap ini manusia juga menyadari bila berkata-kata merupakan kebutuhan yang mendasar dan sangat rentan untuk lepas kontrol.

Banyak orang kerap baru berpikir ulang atau menyesali diri ketika ucapannya telah salah arah. Temuan kata-kata secara fungsional sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan produktif sekaligus juga dibayangi oleh potensinya yang dapat menimbulkan bencana. Kata-kata lazimnya dipergunakan dalam aktivitas komunikasi.

Komunikasi sendiri berasal dari bahasa latin cum (bersama) dan units (satu). Secara lebih jelas istilah tersebut dihubungkan dengan kata latin communio yang mengarah kepada hubungan untuk mencapai kesatuan. Kendatipun telah diarahkan sebagai alat untuk mencapai hubungan yang menentramkan namun seringkali kata-kata juga secara tidak sengaja atau dengan sengaja disimpangkan sehingga mengakibatkan dampak-dampak yang tidak diharapkan.

Satu-satunya solusi untuk mewujudkan komunikasi yang penuh etika adalah mendidik pelaku-pelakunya dengan bersungguh-sungguh. Bahasa pada dasarnnya tidak hanya berfungsi dalam urusan-urusan eksternal seperti untuk menyampaikan maksud tertentu kepada orang lain seperti merayu, membujuk, memberitahu, menyampaikan keluhan, dan sebagainya. Secara lebih privat bahasa memiliki peran dalam menata proses berpikir seseorang pada dimensi internal.

Wilhelm Von Humbolt menyatakan bahasa terdiri dari dua bagian yakni bunyi dan pemikiran. Bunyi merupakan struktur eksternal sedangkan pemikiran adalah struktur internal. Struktur eksternal berupa bunyi dapat didengar oleh orang lain ketika seorang penutur tengah berbicara. Uniknya ketika berada dalam kesendirian suara-suara seperti yang dimiliki oleh struktur eksternal juga tetap mengendap dan berputar-putar dalam pikiran seseorang.

Bayangkan ketika bahasa tidak dikenal oleh seorang individu maka orang tersebut bahkan menjadi sangat sulit untuk melakukan monolog dengan dirinya sendiri. Pastinya orang-orang yang berada dalam kondisi demikian juga sangat sulit untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya yang lain.

Para penganut Hindu telah semenjak lampau menyadari anugerah bahasa yang sangat kompleks oleh karenanya tiada henti-hentinya melakukan pemujaan kepada Saraswati. Di Bali, orang-orang yang sangat pintar sekalipun tidak berani takabur dan tetap menjadikan Saraswati sebagai junjungannya. Terlebih ketika akan membuka kitab-kitab utama bahkan yang sebenarnya telah dikuasainya di luar kepada seorang ahli tetap akan memohon restu dari Dewi Saraswati.

Budaya semacam itu sejatinya dapat mencegah kemunculan orang-orang pintar yang bertindak sekehendak hatinya. Dalam dimensi keilmuan juga menghindarkan kebebasnilaian dari ilmu pengetahuan. Pada kondisi yang terarah semacam itu orang-orang cerdas belajar ilmu-ilmu pengetahuan utama bagi transformasi diri sekaligus sebagai wujud loyalitas sosialnya. Pengejawantahan lebih lanjut dari monabrata adalah praktiknya dalam relasi sosial.

Setelah berpikir dan bermonolog internal dengan matang seseorang kemudian dapat menata perkataannya secara berhati-hati ketika berinteraksi dalam lingkungan sosialnya. Terkait dengan hal itu  Sarasamuscaya 75 memperingatkan terdapat empat hal yang tidak pantas terdapat dalam perkataan, yakni ucapan yang jahat, ucapan kasar, ucapan yang mengandung fitnah, dan ucapan yang mengandung dusta (nyang tanpa prawrttyaning, wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna, ujar mithya).

Kelanjutan dari tradisi lisan tentu dapat ditemukan pada tradisi tulisan. Manusia dengan kecerdasannya mampu menata tulisan sebagaimana menata kata-kata. Ketika tradisi virtual semakin mapan tradisi tulisan juga semakin berkembang pesat. Orang-orang dapat menulis atau menemukan konten tulisan apapun dengan mudah seolah tanpa batas. Puncaknya muncul tulisan-tulisan bertipe programming language yang semakin populer dari hari ke hari. Bahasa tipe itu juga dapat melantarkan maksud-maksud pembuatnya, seperti halnya kata-kata konvensional.

Tampak jelas juga bila programming language yang dengan mudah menghegemoni ucapan dan tulisan konvensional dapat merubah cara pandang maupun budaya para penggandrungnya. Seperti kehadiran media virtual yang dengan tiba-tiba dapat menggeser kebiasaan-kebiasaan lama secara instan. Dengan demikian kehadiran tipe bahasa baru seperti itu patut kita waspadai karena tabiatnya yang belum banyak dikenal.

Von Humbolt pernah berpendapat jika cara pandang seseorang tentang kehidupan dan budaya disesuaikan dengan bahasa asalnya. Apabila seseorang ingin membebaskan diri dari garis bahasa asalnya maka harus mempelajari bahasa lain. Demikian pula ketika ingin mengubah cara pandangnya maka seseorang harus mengenal budaya serta dialek bahasa lain terlebih dahulu. Bersandar pada gagasan Humbold tersebut semestinya disiapkan langkah-langkah antisipasi agar bahasa-bahasa varian baru tidak menimbulkan kekacauan.

Kendatipun formatnya telah sangat maju, programming language tetaplah berada di bawah kekuasaan Dewi Saraswati sebagai penguasa bahasa/ kata-kata (Vagdevi, Vagisvari). Sebab programming language meruapakan perkembangan lebih lanjut dari bahasa konvensional yang telah eksis sebelumnya.

Guna mengindari ‘terpeleset’ ketika menggunakan bahasa fitur baru maka setiap orang mesti memuja Dewi Saraswati dengan bersungguh-sungguh. Sang Devi selalu mengarahkan pemuja-pemujanya untuk menggunakan bahasa dalam bentuk apapun dengan benar. Selanjutnya para pemuja yang menyadari bila bahasa yang dipergunakan bukan seutuhnya milik dirinya akan sangat berhati-hati.

Perayaan Saraswati di Bali bukanlah sekadar mengupacarai naskah-naskah kuno yang telah dikeurubuti rayap, namun juga mengupacarai format-format bahasa masa depan yang dipastikan tidak melahirkan bencana. Kita optimis bahwa Saraswati selalu relevan menjadi payung zaman yang beradab. [T]

Saraswati: Kecantikan Misterius dari Sains dan Seni yang Tidak Ada Habisnya
Sri Mpu Sri Dharmapala Vajrapani: Pemuja Budha dan Saraswati dari Timur
Memuja Saraswati, Keriangan yang Sama dari Seluruh Dunia
Tags: BahasaDewi SaraswatiHari SaraswatihinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Bandem Tentang Festival Seni: Kurator Perlu Melakukan Riset yang Baik

Next Post

Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co