23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadi, Begitulah, Banjir Bukan Hanya Persoalan Jakarta, Tapi Juga Bali

Wayan Redika by Wayan Redika
October 24, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Jadi, Begitulah, Banjir Bukan Hanya Persoalan Jakarta, Tapi Juga Bali

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Hari Minggu, 16 Oktober 20922, Pulau Bali terasa baik-baik saja. Tentu banyak warga berlibur ke obyek wisata, atau istirahat di rumah bersama keluarga, setelah melewati hari-hari capek kerja.

Senin, 17 Oktober 2022, kerja dimulai lagi. Tapi Senin itu barangkali tak banyak yang bisa fokus bekerja. Laman-laman media sosial dipenuhi berita dan foto-foto bencana banjir. Hujan Minggu malam hingga dinihari telah menimbulkan duka mendalam bagi Bali.

Orang-orang di Bali menonton, merasakan dan berdoa— mungkin dengan rasa ngeri dan kesedihan yang mendalam—video pendek dan foto bencana di media sosial. Hingga siang, hingga sore, hingga Senin tiba pada malam, berita bencana terus meruyak media sosial, saling susul menyusul, dari Jembrana, Karangasem, Tabanan, Bangli balik lagi ke Kabupaten Badung.

Terakhir dilaporkan, sedikitnya empat orang meninggal, satu hilang, ratusan bangunan rusak terendam banjir dan banyak bangunan rumah, pura, sanggah, dan bangunan lain hanyut. Sejumlah jembatan putus.  Gerak lalu-lalang orang-orang dan kendaraan lumpuh di sejumlah ruas jalan.

Jadi, persoalan banjir ternyata bukan Jakarta saja. Bali juga. Ini harus diingat, harus jadi persoalan juga di Bali, yang tak hanya dibicarakan, melainkan juga dicari solusinya.

Selama ini banjir Jakarta seakan menjadi trend tahunan yang semestinya cukup memberi pelajaran bagi Bali. Namun karena kita memang tak pernah serius mau belajar dari pengalaman sendiri, maupun dari pengalaman di luar sana, sehingga bencana itu terjadi lagi di Bali. Demikian berulang kali.

Kebanyakan di antara kita hanya suka bicara layaknya pengamat atau asik menonton dan menyalahkan satu sama lain. Tak pernah berpikir kongkret soal solusi. Padahal luapan lumpur itu selalu mengancam kita, bencana memang tak pandang tempat. Bisa terjadi di mana-mana bahkan memungkinkan lebih dasyat dari Jakarta.

Sayangnya kita masih suka menjadikan banjir Ibukota sebagai trending topic, ditambahi bumbu gorengan politik. Ini pertanda dominan di antara kita sungguh gemar melihat ke luar, kagum buta pada keadaan di luar sana. Kecil berpikir tentang kemungkinan ancaman di depan mata.

Introspeksi dan evaluasi berakhir pada cataatan kertas semata, tak jelas kelanjutannya.

Banjir adalah bencana, mahadahsyat mengancam jiwa kita, merusak tatanan dan peradaban. Pilu tentang banjir Jakarta boleh saja menjadi contoh sebagai dasar berpikir bagi kita yang berada di luar Jakarta.

Mengatasi ancaman bencana yang nyata ini harus dilakukan upaya mitigasi yang terencana dan sistematis. Tidak zamannya kalau kita hanya punya kemauan penanganan saat kejadian saja, padahal dalam kehidupan sehari-hari secara sadar kita telah membuat potensi banjir itu semakin berkembang bahkan ke depan—kalau tak disikapi serius—akan masif terjadi.

Bali, tentu bukan Jakarta. Namun, jangan terlena, Bali juga bukan daerah yang kebal banjir. Masyarakat Denpasar misalnya di kawasan Pura Demak, Malboro, Panjer dan lain-lain, harusnya sudah cukup membuat Walikota dan pejabat terkait lain untuk berpikir serius soal ini. Daerah tersebut termasuk rawan disapa banjir, dan terus berulang terjadi.

Penyadaran Masyarakat.

Jika mitigasi strategis tidak diupayakan dengan aturan yang ketat, niscaya kejadian demi kejadian akan terus terjadi. Mitigasi bisa dimulai dari penyadaran komunal kepada masyarakat secara luas—dilakukan serius dan terus menerus—untuk meminimalkan perilaku yang berpotensi rerjadinya banjir. Saya melihat keseriusan ini yang masih perlu ditingkatkan.

Perilaku masyarakat yang sembarang membuang sampah di got-got saluran air hujan, harus diatur dengan sanksi dan harus berani menerapkannya.

Demikian pula dengan penggunaan trotoar yang diniatkan hanya untuk para pejalan kaki. Ternyata banyak warung kecil atau warung besar ekspansi usahanya hingga ke trotoar. Hal ini kemudian ditiru oleh pengusaha yang lain seakan tak ada aturan yang melarang. Atau seakan memang dibiarkan itu terjadi.

Semakin lama justru semakin banyak lanskap semacam ini. Saya membayangkan kalau sudah banyak orang jualan dan dibiarkan menyadap trotoar sebagai tempat usaha, justru ini akan membuat Pemerintah semakin sulit menertibkannya. Penertiban segelintir orang tentu jauh lebih mudah dibandingkan menertibkan banyak orang. Lakukan dengan tegas yang benar-benar tegas.

Memang kalau bicara soal ketegasan terbilang masih mahal di negeri ini, kita terkesan sangat permisif dalam menyelesaikan persoalan. Tapi jangan menunggu sampai trotoar habis beralih fungsi. Karena kecenderungan ini akan membuat masalah sosial yang sangat kompleks.

Pemanfaatan dan alih fungsi lahan persawahan juga penting diberi perhatian.Kondisi yang terjadi khususnya di Kota Denpasar sudah berada di titik ironi. Pembangunan perumahan baru di atas lahan persawahan terus saja terjadi. Ketegasan bertindak dan keberanian menghentikan kantong-kantong perumahan baru yang tak berizin membutuhkan keberanian.

Tegas tak pandang bulu. Pengemang kecil-kecil semakin berani, tak peduli jalur hijau pun mereka rabas dan difungsikan menjadi perumahan baru, toh faktanya bisa berlanjut, melenggang dan aman-aman saja.

Mari kita berpikir ke depan, kecerobohan semacam ini akan membuat potensi banjir di perkotaan semakin besar. Kalau aturan mitigasinya ada, maka jangan berikan kesempatan kepada oknum masyarakat untuk bisa melanggarnya. Apapun dalihnya harus ditindak tegas dan tak ada kompromi, siapapun mereka!

Banjir pada Senin yang terjadi di banyak tempat di Bali, yang dampaknya sangat memprihatinkan sebetulnya tidak sekonyong-konyong, sebelumnya juga pernah terjadi. Hujan yang turun tengah malam hingga pagi membuat sungai-sungai penuh dengan air hujan dan material limbah kiriman dari hulu.

Bila sudah demikian air akan mencari ruang aliran baru dan menghantam apapun penghalang di depannya. Ini adalah kecemasan baru bagi masyarakat pinggiran sungai. Kecemasan kita bersama atas berulangnya kejadian demi kejadian.

Apa yang terjadi di hulu sungai sangat terang, karena tak ada lagi pohon-pohon penyangga dan daerah resapan air yang cukup. Lahan telah banyak dikonversi menjadi lahan olahan. Dan ini telah berlangsung lama, ntah Pemerintah sudah tau soal ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat. Faktanya ya kita masih melihat buah karma yang terjadi Senin lalu itu.

Sungguh ironi dan prihatin bila kita hanya membahas banjir Jakarta, padahal sesungguhnya celana dalam kita di Bali sudah basah tenggelam gerusan air hujan dari bukit.

Karena itu harus diciptakan suasana yang benar-benar bisa meyakinkan kita untuk terhindar dari ancaman serupa. Paling tidak kita harus berkehendak untuk membuat karma baik bagi anak cucu kita ke depan.

Mari perbanyak memandang lingkungan kita biar menjadi sumber kedamaian. Kurangi membahas hal-hal yang berada di luar sana, biarkan banjir Jakarta digoreng para pakar politik.[T]

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932
Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan
Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?
Tags: balibanjirlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diskon Hotel dan Jaket Baru | Terima Kasih, Pemerintah Jepang

Next Post

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Wayan Redika

Wayan Redika

Pelukis, penyair, tinggal di Denpasar. Lukisan bias ditemukan sebagai ilustrasi dalam puisi-puisi yang dimuat di tatkala.co

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co