2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadi, Begitulah, Banjir Bukan Hanya Persoalan Jakarta, Tapi Juga Bali

Wayan Redika by Wayan Redika
October 24, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Jadi, Begitulah, Banjir Bukan Hanya Persoalan Jakarta, Tapi Juga Bali

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Hari Minggu, 16 Oktober 20922, Pulau Bali terasa baik-baik saja. Tentu banyak warga berlibur ke obyek wisata, atau istirahat di rumah bersama keluarga, setelah melewati hari-hari capek kerja.

Senin, 17 Oktober 2022, kerja dimulai lagi. Tapi Senin itu barangkali tak banyak yang bisa fokus bekerja. Laman-laman media sosial dipenuhi berita dan foto-foto bencana banjir. Hujan Minggu malam hingga dinihari telah menimbulkan duka mendalam bagi Bali.

Orang-orang di Bali menonton, merasakan dan berdoa— mungkin dengan rasa ngeri dan kesedihan yang mendalam—video pendek dan foto bencana di media sosial. Hingga siang, hingga sore, hingga Senin tiba pada malam, berita bencana terus meruyak media sosial, saling susul menyusul, dari Jembrana, Karangasem, Tabanan, Bangli balik lagi ke Kabupaten Badung.

Terakhir dilaporkan, sedikitnya empat orang meninggal, satu hilang, ratusan bangunan rusak terendam banjir dan banyak bangunan rumah, pura, sanggah, dan bangunan lain hanyut. Sejumlah jembatan putus.  Gerak lalu-lalang orang-orang dan kendaraan lumpuh di sejumlah ruas jalan.

Jadi, persoalan banjir ternyata bukan Jakarta saja. Bali juga. Ini harus diingat, harus jadi persoalan juga di Bali, yang tak hanya dibicarakan, melainkan juga dicari solusinya.

Selama ini banjir Jakarta seakan menjadi trend tahunan yang semestinya cukup memberi pelajaran bagi Bali. Namun karena kita memang tak pernah serius mau belajar dari pengalaman sendiri, maupun dari pengalaman di luar sana, sehingga bencana itu terjadi lagi di Bali. Demikian berulang kali.

Kebanyakan di antara kita hanya suka bicara layaknya pengamat atau asik menonton dan menyalahkan satu sama lain. Tak pernah berpikir kongkret soal solusi. Padahal luapan lumpur itu selalu mengancam kita, bencana memang tak pandang tempat. Bisa terjadi di mana-mana bahkan memungkinkan lebih dasyat dari Jakarta.

Sayangnya kita masih suka menjadikan banjir Ibukota sebagai trending topic, ditambahi bumbu gorengan politik. Ini pertanda dominan di antara kita sungguh gemar melihat ke luar, kagum buta pada keadaan di luar sana. Kecil berpikir tentang kemungkinan ancaman di depan mata.

Introspeksi dan evaluasi berakhir pada cataatan kertas semata, tak jelas kelanjutannya.

Banjir adalah bencana, mahadahsyat mengancam jiwa kita, merusak tatanan dan peradaban. Pilu tentang banjir Jakarta boleh saja menjadi contoh sebagai dasar berpikir bagi kita yang berada di luar Jakarta.

Mengatasi ancaman bencana yang nyata ini harus dilakukan upaya mitigasi yang terencana dan sistematis. Tidak zamannya kalau kita hanya punya kemauan penanganan saat kejadian saja, padahal dalam kehidupan sehari-hari secara sadar kita telah membuat potensi banjir itu semakin berkembang bahkan ke depan—kalau tak disikapi serius—akan masif terjadi.

Bali, tentu bukan Jakarta. Namun, jangan terlena, Bali juga bukan daerah yang kebal banjir. Masyarakat Denpasar misalnya di kawasan Pura Demak, Malboro, Panjer dan lain-lain, harusnya sudah cukup membuat Walikota dan pejabat terkait lain untuk berpikir serius soal ini. Daerah tersebut termasuk rawan disapa banjir, dan terus berulang terjadi.

Penyadaran Masyarakat.

Jika mitigasi strategis tidak diupayakan dengan aturan yang ketat, niscaya kejadian demi kejadian akan terus terjadi. Mitigasi bisa dimulai dari penyadaran komunal kepada masyarakat secara luas—dilakukan serius dan terus menerus—untuk meminimalkan perilaku yang berpotensi rerjadinya banjir. Saya melihat keseriusan ini yang masih perlu ditingkatkan.

Perilaku masyarakat yang sembarang membuang sampah di got-got saluran air hujan, harus diatur dengan sanksi dan harus berani menerapkannya.

Demikian pula dengan penggunaan trotoar yang diniatkan hanya untuk para pejalan kaki. Ternyata banyak warung kecil atau warung besar ekspansi usahanya hingga ke trotoar. Hal ini kemudian ditiru oleh pengusaha yang lain seakan tak ada aturan yang melarang. Atau seakan memang dibiarkan itu terjadi.

Semakin lama justru semakin banyak lanskap semacam ini. Saya membayangkan kalau sudah banyak orang jualan dan dibiarkan menyadap trotoar sebagai tempat usaha, justru ini akan membuat Pemerintah semakin sulit menertibkannya. Penertiban segelintir orang tentu jauh lebih mudah dibandingkan menertibkan banyak orang. Lakukan dengan tegas yang benar-benar tegas.

Memang kalau bicara soal ketegasan terbilang masih mahal di negeri ini, kita terkesan sangat permisif dalam menyelesaikan persoalan. Tapi jangan menunggu sampai trotoar habis beralih fungsi. Karena kecenderungan ini akan membuat masalah sosial yang sangat kompleks.

Pemanfaatan dan alih fungsi lahan persawahan juga penting diberi perhatian.Kondisi yang terjadi khususnya di Kota Denpasar sudah berada di titik ironi. Pembangunan perumahan baru di atas lahan persawahan terus saja terjadi. Ketegasan bertindak dan keberanian menghentikan kantong-kantong perumahan baru yang tak berizin membutuhkan keberanian.

Tegas tak pandang bulu. Pengemang kecil-kecil semakin berani, tak peduli jalur hijau pun mereka rabas dan difungsikan menjadi perumahan baru, toh faktanya bisa berlanjut, melenggang dan aman-aman saja.

Mari kita berpikir ke depan, kecerobohan semacam ini akan membuat potensi banjir di perkotaan semakin besar. Kalau aturan mitigasinya ada, maka jangan berikan kesempatan kepada oknum masyarakat untuk bisa melanggarnya. Apapun dalihnya harus ditindak tegas dan tak ada kompromi, siapapun mereka!

Banjir pada Senin yang terjadi di banyak tempat di Bali, yang dampaknya sangat memprihatinkan sebetulnya tidak sekonyong-konyong, sebelumnya juga pernah terjadi. Hujan yang turun tengah malam hingga pagi membuat sungai-sungai penuh dengan air hujan dan material limbah kiriman dari hulu.

Bila sudah demikian air akan mencari ruang aliran baru dan menghantam apapun penghalang di depannya. Ini adalah kecemasan baru bagi masyarakat pinggiran sungai. Kecemasan kita bersama atas berulangnya kejadian demi kejadian.

Apa yang terjadi di hulu sungai sangat terang, karena tak ada lagi pohon-pohon penyangga dan daerah resapan air yang cukup. Lahan telah banyak dikonversi menjadi lahan olahan. Dan ini telah berlangsung lama, ntah Pemerintah sudah tau soal ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat. Faktanya ya kita masih melihat buah karma yang terjadi Senin lalu itu.

Sungguh ironi dan prihatin bila kita hanya membahas banjir Jakarta, padahal sesungguhnya celana dalam kita di Bali sudah basah tenggelam gerusan air hujan dari bukit.

Karena itu harus diciptakan suasana yang benar-benar bisa meyakinkan kita untuk terhindar dari ancaman serupa. Paling tidak kita harus berkehendak untuk membuat karma baik bagi anak cucu kita ke depan.

Mari perbanyak memandang lingkungan kita biar menjadi sumber kedamaian. Kurangi membahas hal-hal yang berada di luar sana, biarkan banjir Jakarta digoreng para pakar politik.[T]

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932
Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan
Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?
Tags: balibanjirlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diskon Hotel dan Jaket Baru | Terima Kasih, Pemerintah Jepang

Next Post

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Wayan Redika

Wayan Redika

Pelukis, penyair, tinggal di Denpasar. Lukisan bias ditemukan sebagai ilustrasi dalam puisi-puisi yang dimuat di tatkala.co

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co