24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadi, Begitulah, Banjir Bukan Hanya Persoalan Jakarta, Tapi Juga Bali

Wayan Redika by Wayan Redika
October 24, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Jadi, Begitulah, Banjir Bukan Hanya Persoalan Jakarta, Tapi Juga Bali

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Hari Minggu, 16 Oktober 20922, Pulau Bali terasa baik-baik saja. Tentu banyak warga berlibur ke obyek wisata, atau istirahat di rumah bersama keluarga, setelah melewati hari-hari capek kerja.

Senin, 17 Oktober 2022, kerja dimulai lagi. Tapi Senin itu barangkali tak banyak yang bisa fokus bekerja. Laman-laman media sosial dipenuhi berita dan foto-foto bencana banjir. Hujan Minggu malam hingga dinihari telah menimbulkan duka mendalam bagi Bali.

Orang-orang di Bali menonton, merasakan dan berdoa— mungkin dengan rasa ngeri dan kesedihan yang mendalam—video pendek dan foto bencana di media sosial. Hingga siang, hingga sore, hingga Senin tiba pada malam, berita bencana terus meruyak media sosial, saling susul menyusul, dari Jembrana, Karangasem, Tabanan, Bangli balik lagi ke Kabupaten Badung.

Terakhir dilaporkan, sedikitnya empat orang meninggal, satu hilang, ratusan bangunan rusak terendam banjir dan banyak bangunan rumah, pura, sanggah, dan bangunan lain hanyut. Sejumlah jembatan putus.  Gerak lalu-lalang orang-orang dan kendaraan lumpuh di sejumlah ruas jalan.

Jadi, persoalan banjir ternyata bukan Jakarta saja. Bali juga. Ini harus diingat, harus jadi persoalan juga di Bali, yang tak hanya dibicarakan, melainkan juga dicari solusinya.

Selama ini banjir Jakarta seakan menjadi trend tahunan yang semestinya cukup memberi pelajaran bagi Bali. Namun karena kita memang tak pernah serius mau belajar dari pengalaman sendiri, maupun dari pengalaman di luar sana, sehingga bencana itu terjadi lagi di Bali. Demikian berulang kali.

Kebanyakan di antara kita hanya suka bicara layaknya pengamat atau asik menonton dan menyalahkan satu sama lain. Tak pernah berpikir kongkret soal solusi. Padahal luapan lumpur itu selalu mengancam kita, bencana memang tak pandang tempat. Bisa terjadi di mana-mana bahkan memungkinkan lebih dasyat dari Jakarta.

Sayangnya kita masih suka menjadikan banjir Ibukota sebagai trending topic, ditambahi bumbu gorengan politik. Ini pertanda dominan di antara kita sungguh gemar melihat ke luar, kagum buta pada keadaan di luar sana. Kecil berpikir tentang kemungkinan ancaman di depan mata.

Introspeksi dan evaluasi berakhir pada cataatan kertas semata, tak jelas kelanjutannya.

Banjir adalah bencana, mahadahsyat mengancam jiwa kita, merusak tatanan dan peradaban. Pilu tentang banjir Jakarta boleh saja menjadi contoh sebagai dasar berpikir bagi kita yang berada di luar Jakarta.

Mengatasi ancaman bencana yang nyata ini harus dilakukan upaya mitigasi yang terencana dan sistematis. Tidak zamannya kalau kita hanya punya kemauan penanganan saat kejadian saja, padahal dalam kehidupan sehari-hari secara sadar kita telah membuat potensi banjir itu semakin berkembang bahkan ke depan—kalau tak disikapi serius—akan masif terjadi.

Bali, tentu bukan Jakarta. Namun, jangan terlena, Bali juga bukan daerah yang kebal banjir. Masyarakat Denpasar misalnya di kawasan Pura Demak, Malboro, Panjer dan lain-lain, harusnya sudah cukup membuat Walikota dan pejabat terkait lain untuk berpikir serius soal ini. Daerah tersebut termasuk rawan disapa banjir, dan terus berulang terjadi.

Penyadaran Masyarakat.

Jika mitigasi strategis tidak diupayakan dengan aturan yang ketat, niscaya kejadian demi kejadian akan terus terjadi. Mitigasi bisa dimulai dari penyadaran komunal kepada masyarakat secara luas—dilakukan serius dan terus menerus—untuk meminimalkan perilaku yang berpotensi rerjadinya banjir. Saya melihat keseriusan ini yang masih perlu ditingkatkan.

Perilaku masyarakat yang sembarang membuang sampah di got-got saluran air hujan, harus diatur dengan sanksi dan harus berani menerapkannya.

Demikian pula dengan penggunaan trotoar yang diniatkan hanya untuk para pejalan kaki. Ternyata banyak warung kecil atau warung besar ekspansi usahanya hingga ke trotoar. Hal ini kemudian ditiru oleh pengusaha yang lain seakan tak ada aturan yang melarang. Atau seakan memang dibiarkan itu terjadi.

Semakin lama justru semakin banyak lanskap semacam ini. Saya membayangkan kalau sudah banyak orang jualan dan dibiarkan menyadap trotoar sebagai tempat usaha, justru ini akan membuat Pemerintah semakin sulit menertibkannya. Penertiban segelintir orang tentu jauh lebih mudah dibandingkan menertibkan banyak orang. Lakukan dengan tegas yang benar-benar tegas.

Memang kalau bicara soal ketegasan terbilang masih mahal di negeri ini, kita terkesan sangat permisif dalam menyelesaikan persoalan. Tapi jangan menunggu sampai trotoar habis beralih fungsi. Karena kecenderungan ini akan membuat masalah sosial yang sangat kompleks.

Pemanfaatan dan alih fungsi lahan persawahan juga penting diberi perhatian.Kondisi yang terjadi khususnya di Kota Denpasar sudah berada di titik ironi. Pembangunan perumahan baru di atas lahan persawahan terus saja terjadi. Ketegasan bertindak dan keberanian menghentikan kantong-kantong perumahan baru yang tak berizin membutuhkan keberanian.

Tegas tak pandang bulu. Pengemang kecil-kecil semakin berani, tak peduli jalur hijau pun mereka rabas dan difungsikan menjadi perumahan baru, toh faktanya bisa berlanjut, melenggang dan aman-aman saja.

Mari kita berpikir ke depan, kecerobohan semacam ini akan membuat potensi banjir di perkotaan semakin besar. Kalau aturan mitigasinya ada, maka jangan berikan kesempatan kepada oknum masyarakat untuk bisa melanggarnya. Apapun dalihnya harus ditindak tegas dan tak ada kompromi, siapapun mereka!

Banjir pada Senin yang terjadi di banyak tempat di Bali, yang dampaknya sangat memprihatinkan sebetulnya tidak sekonyong-konyong, sebelumnya juga pernah terjadi. Hujan yang turun tengah malam hingga pagi membuat sungai-sungai penuh dengan air hujan dan material limbah kiriman dari hulu.

Bila sudah demikian air akan mencari ruang aliran baru dan menghantam apapun penghalang di depannya. Ini adalah kecemasan baru bagi masyarakat pinggiran sungai. Kecemasan kita bersama atas berulangnya kejadian demi kejadian.

Apa yang terjadi di hulu sungai sangat terang, karena tak ada lagi pohon-pohon penyangga dan daerah resapan air yang cukup. Lahan telah banyak dikonversi menjadi lahan olahan. Dan ini telah berlangsung lama, ntah Pemerintah sudah tau soal ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat. Faktanya ya kita masih melihat buah karma yang terjadi Senin lalu itu.

Sungguh ironi dan prihatin bila kita hanya membahas banjir Jakarta, padahal sesungguhnya celana dalam kita di Bali sudah basah tenggelam gerusan air hujan dari bukit.

Karena itu harus diciptakan suasana yang benar-benar bisa meyakinkan kita untuk terhindar dari ancaman serupa. Paling tidak kita harus berkehendak untuk membuat karma baik bagi anak cucu kita ke depan.

Mari perbanyak memandang lingkungan kita biar menjadi sumber kedamaian. Kurangi membahas hal-hal yang berada di luar sana, biarkan banjir Jakarta digoreng para pakar politik.[T]

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932
Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan
Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?
Tags: balibanjirlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diskon Hotel dan Jaket Baru | Terima Kasih, Pemerintah Jepang

Next Post

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Wayan Redika

Wayan Redika

Pelukis, penyair, tinggal di Denpasar. Lukisan bias ditemukan sebagai ilustrasi dalam puisi-puisi yang dimuat di tatkala.co

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Spill The Tea Danuraga, Tapi Harus Nonton Ya! | Bagian 2

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co