13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta Rahasia | Cerpen Luh Meilani Novita Sari

Luh Meilani Novita Sari by Luh Meilani Novita Sari
July 17, 2022
in Cerpen
Cinta Rahasia | Cerpen Luh Meilani Novita Sari

Lemukih masih berselimut mendung. Gerimis terasa begitu dingin dalam hembusan angin. Darah terasa seperti getah, bergerak lambat mengikuti rima detak jantung tersembunyi. Hanya pohon pohon kopi yang tahu bahwa cinta terjadi secara rahasia di sana.

Ketika senja semakin merapat, Amel mulai menggigil merasakan dingin. Angga meletakkan kopi di meja bambu kecil persis di ujung jari tangan kanannya.

“Minumlah! Badanmu bisa terasa lebih hangat!” Angga membuka pembicaraan.

“Kopi Lemukih yang kau seduh?” Amel merapatkan hidungnya ke cangkir putih itu.

“Hanya itu yang ada di warung kita. Aku tidak mungkin menyajikan yang lain.”

“Benarkah?

“Kau curiga atau meragukan kesetiaanku.”

“Kalau begitu kapan kau nikahi aku?” Amel menjebak.

“Aku sudah menikah.”

“Tapi itu bukan denganku.”

“Ya. Kau benar, Kau mengambil cintaku dari Mona!”

“Aku hanya mau anak kandunganku ini jelas ayahnya sebelum dia lahir.”

“Sudahlah, Mel. Jangan jebak aku. Katakan saja kau mau aku tiduri.”

“Kau memang pandai menghiburku. Tapi hari ini aku lelah. Sebaiknya kau tiduri Mona.”

“Itu akan sia-sia. Jangan buat aku menderita.”

“Mona istrimu. Dia menunggumu.”

“Tapi kau kekasihku. Jangan bangunkan cemburu itu lagi.”

“Kalau begitu buatlah keputusan.”

Angga terdiam. Kedua telapak tangannya mendorong wajahnya ke belakang kepala. Dia melangkah ke tepi warung membelakangi Amel lalu balik lagi meletakkan kedua tangannya di pundak Amel

“Hari ini, lima tahun aku menikahi Mona.”

“Aku tahu. Tidurilah dia malam ini. Kau sudah terlalu sering berbaring di kamarku. Bernegosiasilah dengannya.”

“Sekarang, itu menjadi semakin tidak mungkin Mel!”

“Kamu bertengkar lagi?”

“Tidak, Dia bilang akan kembali dari Bangkok malam ini.”

“Kalau begitu jemputlah dia.”

“Dia lagi tidak ingin dijemput.”

“Itu hanya sandiwara perempuan. Tidak curiga.”

“Itu tidak penting, Ini menguntungkanku.”

Telepon berdering di saku Angga. Dia mengangkatnya dan berbicara menjauh. Amel bangkit dari duduknya menyeduhkan kopi buat Angga. Otaknya terus bekerja mengasah panah-panah kamanya. Amel tidak mengerti mengapa hari ini merasakan cemburu. Dia berjalan merapat ke Angga di sudut warung.

“Hmm. Wajahmu lelah. Kopi ini baik untukmu!”

“Kamu membuatku betah di sini.”

“Mona menunggumu.”

“Ya. Dia menungguku besok di sidang pengadilan.”

“Kalian akan bercerai?”

“Amel…Amel. Rupanya terjebak ego!”

“Lalu untuk apa pengadilan?”

“Mona mengadopsi anak perempuan.”

“Itu sebuah kemajuan. Sesuatu yang baik buat lima tahun penantianmu. Kau akan sibuk. Saatnya buat keputusan.”

“Keputusan apa? Kamu cemburu.”

“Ya. Aku cemburu karena di rahimku sekarang anakmu menunggu ayahnya.”

“Kamu hamil?”

Amel terdiam. Dia memandang Angga begitu dalam berharap tanggung jawab yang pasti. Perlahan air matanya berderai. Baru ini kali dia terlihat begitu lemah.

“Ini sudah tiga bulan, Angga! Kamu harus ambil kesempatan ini untuk buat keputusan. Aku tidak mau rahimku hanya menjadi rumah pelarian cintamu.”

Angga diam membisu. Dia bahkan belum menyentuh kopi di hadapannya sama sekali. Pikirannya berat tetapi dia juga tidak mungkin menyakiti Mona atau pun Amel. Suaranya mulai berat.

“Baiklah! Aku akan menikahimu secara rahasia.”

“Maksudmu kita menikah secara diam-diam? Siapa yang mau jadi saksinya? Apa tidak lebih baik terus terang dengan Mona. Kita bisa besarkan anak ini bersama-sama!”

Belum lagi sempat menjawab tawaran Amel, telepon Angga berdering lagi. Mona mengabarkan bahwa pesawat mungkin akan melewati cuaca buruk dan berharap bisa berjumpa.

“Mona mengatakan penerbangannya menghadapi cuaca buruk!”

“Baiklah kita berdoa untuk kebaikan bersama.”

Amel berdoa dengan khusuknya. Angga juga berdoa. Tetapi dia berdoa dalam baying-bayang kegelisahan. Meski ada lintasan kebimbangan yang menghantui, Angga dan Amel tetap berharap Tuhan memberikan mereka jalan keluar yang terbaik.

Malam semakin melambat, Amel meninggalkan Angga di sudut warung. Ia melangkah pelan dan menuju kamarnya. Angga menyusul dan memeluknya dari belakang. Pelukannya begitu dalam. Tangan melingkar di bawah buah dada. Napasnya memberi tahu bahwa denyut jantungnya meningkat. Tidak ada kata-kata. Amel membalasnya, kedua tangannya melengkung di tengkuk Angga dalam asmara yang menghangat. Desahnya menjadi ilusi. Mereka bercumbu begitu lepas melupakan segala beban. Sepi semakin menggila. Mereka menutup warung kopi itu. Lampu padam, hanya di kamar tampak temaram. Pergumulan tak terhindarkan. Permainan cinta rahasia tampaknya mau dan mau lagi memasuki babak baru yang mendebarkan.

“Aku hamil, buatlah keputusan, Angga!”

“Jangan sekarang, jantungku masih berdebar. Peluklah aku lebih erat!”

“Itu karena kamu takut, jangan jadi pengecut!”

“Pengecut? Ah aku kira tidak. Hanya waktunya saja yang belum tepat!”

“Apa menunggu perutku lebih membesar lagi begitu? Bersikaplah jantan. Kau sudah menunggu lima tahun untuk ini!” Desakan Amel seperti menjadi pendulum dalam kepala Angga. Pendulum itu bergerak terus samkin kencang hingga menutup setiap lubang pelarian Angga. Dia hanya punya satu pilihan yakni berpoligami.

“Kau benar, kau mengorbankan rahimku untukku!”

“Ambillah keputusan tanpa harus merasa bersalah. Katakana kepada Mona bahwa poligami adalah takdirmu!”

“Dia pasti sangat marah!”

“Itu pasti. Tapi itu tidak akan lama. Mona akan sakit hati padamu. Jangan sekali-kali kau sakiti lagi fisiknya. Dia wanita yang mulia, hanya nasibnya yang kurang beruntung. Aku sebenarnya tidak sampai hati menyakitinya. Tapi kau telah membuatku tidak berdaya. Jadi aku juga berada dalam posisi yang sulit. jangan biarkan aku menanggung aib ini sendirian. Ambillah keputusan, ini bukan keinginanku. Ini perintah anakmu yang ada dalam rahimku, Angga!” Amel terus menggiring Angga agar tidak terbelenggu oleh keraguan yang ada dalam hatinya. Dia seperti sedang menerima wejangan Sri Krisna kepada Arjuna di Kurusetra.

“Aku akan ambil keputusan setelah sidang di pengadilan besok!”

“Anakmu merekam janjimu. Kalau kau ragu, kelak anakmu juga peragu, kalau kau kesatria, kelak anakmu ini akan menjadi kesatria yang pemberani!”

Dialog perselingkuhan itu terus mengalir. Amel semakin mesra. Angga terperdaya seperti sedang berenang dalam lautan kopi Lemukih yang dahsyat.

Cuaca Nopember membuat Lemukih semakin membeku. Pohon-pohon kopi di perkebunan siap menghibahkan nektar kepada lebah yang menjadikannya berbuah. Amel dan Angga bermain cemburu dalam jebakan buluh perindu, sembari menunggu pagi yang tak menentu.

“Angga bangunlah. Mona sudah menunggu!”

“Apakah teleponku berdering tadi?”

“Aku kira tidak, apa kamu mengaktifkannya?”

“Akan kuhidupkan!”

Angga memencet tombol on, ia terlihat sedikit panik, karena di telepon yang ia genggam tidak ada panggilan masuk.

“Coba kau lihat, mungkin ada pesan?”

“Juga tidak ada!”

“Coba kau cari tahu lewat perusahaan atau temannya!”

“Akan kucoba!”

Angga menelepon Dwipa, seorang divisi penerbangan, tetapi teleponnya selalu sibuk. Angga semakin gelisah. Ia ingat percakapan terakhir dengan Mona. Angga menelusuri berita online. Dia terperangah kaget bukan kepalang. Surat kabar tersebut memberitakan bahwa pesawat menuju Bandara Ngurah Rai telah mengalami critical eleven atau Plus Three Minus Eight di Teluk Bangkok. Pesawat telah dikabarkan hancur berkeping-keping. Ketika Angga menelusuri chanel Youtube, ia mendapatkan berita bahwa tim penyelamat sedang berjibaku mengevakuasi para korban.

“Mona…Mona…Mona!”

Angga gemetaran beberapa saat menjadi lumpuh, Amel memeluk dan menenangkannya. Tangisnya tak lagi bisa dibendung, Amel seketika juga ikut menangis.

“Pergilah, kau harus kuat, kau sudah berjanji akan menjemput Mona!”

“Biarkan aku sendiri!”

Angga bangkit dan menghela napas beberapa kali kemudian ia berkemas. Amel melepaskannya dengan segala iba. Ia tidak pernah berharap Mona harus mengalami peristiwa tragis seperti itu. Tetapi ia juga sadar rupanya Tuhan memberi jalan bagi anak yang sedang ia kandung.

Dua minggu berlalu jasad Mona dimakamkan. Seminggu berselang, Angga menerima barang-barang Mona. Sebuah kotak kecil bertuliskan, untuk kekasih suamiku tercinta Prana Angga. Ia tidak segera mencari tahu isi kotak itu dan hanya meletakkan di sebuah kotak kaca yang di bagian atasnya terdapat miniatur Mona dan pesawat boing 727 MAX 8.

Enam bulan berselang, Angga menikahi Amel. Persis tiga puluh hari sebelum putrinya lahir. Suatu ketika Amel merasa kontraksi, Angga sedikit panik sehingga secara tidak sengaja menyenggol miniatur dan menyebabkan satu sisi kotak akhirnya pecah. Peristiwa itu menggerakkan hatinya untuk mengetahui isi kotak yang dulu ditujukan kepadanya. Ia menemukan sebuah kertas dalam miniatur itu dan menariknnya.

Dalam surat itu, Mona menceritakan bahwa ia sudah mengetahui bahwa Angga dan Amel telah selingkuh. Perselingkuhan itu ia ketahui dari Mirna, seorang rekan kerja yang merupakan teman dekat Amel. Sebenarnya Mona cemburu, tetapi karena cintanya yang begitu dalam dengan Angga, ia berusaha menyembunyikan sendiri dan menahan rasa sakit yang ia alami.

Pada bagian akhir suratnya Mona menuliskan, “Tuhan kalau hari ini Engkau memanggilku, biarkanlah suamiku menikahi Amel, karena kelak aku akan lahir lewat rahimnya. Tuhan lindungilah suamiku!”

Angga menyodorkan surat itu kepada Amel di rumah sakit. Beberapa saat kemudian putrinya lahir. Untuk mengenang kebaikan Mona dan ketulusan cinta yang Mona berikan kepadanya mereka akhirnya sepakat menuliskan nama putri itu Mona Putri Amel di akta kelahirnnya, Buleleng 11 Nopember 2022. [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra | Nur Illahi, Pertemuan-Pertemuan

Next Post

Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Luh Meilani Novita Sari

Luh Meilani Novita Sari

Pengajar di SMK Negeri 1 Sawan, Buleleng, Bali

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co