2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta Rahasia | Cerpen Luh Meilani Novita Sari

Luh Meilani Novita Sari by Luh Meilani Novita Sari
July 17, 2022
in Cerpen
Cinta Rahasia | Cerpen Luh Meilani Novita Sari

Lemukih masih berselimut mendung. Gerimis terasa begitu dingin dalam hembusan angin. Darah terasa seperti getah, bergerak lambat mengikuti rima detak jantung tersembunyi. Hanya pohon pohon kopi yang tahu bahwa cinta terjadi secara rahasia di sana.

Ketika senja semakin merapat, Amel mulai menggigil merasakan dingin. Angga meletakkan kopi di meja bambu kecil persis di ujung jari tangan kanannya.

“Minumlah! Badanmu bisa terasa lebih hangat!” Angga membuka pembicaraan.

“Kopi Lemukih yang kau seduh?” Amel merapatkan hidungnya ke cangkir putih itu.

“Hanya itu yang ada di warung kita. Aku tidak mungkin menyajikan yang lain.”

“Benarkah?

“Kau curiga atau meragukan kesetiaanku.”

“Kalau begitu kapan kau nikahi aku?” Amel menjebak.

“Aku sudah menikah.”

“Tapi itu bukan denganku.”

“Ya. Kau benar, Kau mengambil cintaku dari Mona!”

“Aku hanya mau anak kandunganku ini jelas ayahnya sebelum dia lahir.”

“Sudahlah, Mel. Jangan jebak aku. Katakan saja kau mau aku tiduri.”

“Kau memang pandai menghiburku. Tapi hari ini aku lelah. Sebaiknya kau tiduri Mona.”

“Itu akan sia-sia. Jangan buat aku menderita.”

“Mona istrimu. Dia menunggumu.”

“Tapi kau kekasihku. Jangan bangunkan cemburu itu lagi.”

“Kalau begitu buatlah keputusan.”

Angga terdiam. Kedua telapak tangannya mendorong wajahnya ke belakang kepala. Dia melangkah ke tepi warung membelakangi Amel lalu balik lagi meletakkan kedua tangannya di pundak Amel

“Hari ini, lima tahun aku menikahi Mona.”

“Aku tahu. Tidurilah dia malam ini. Kau sudah terlalu sering berbaring di kamarku. Bernegosiasilah dengannya.”

“Sekarang, itu menjadi semakin tidak mungkin Mel!”

“Kamu bertengkar lagi?”

“Tidak, Dia bilang akan kembali dari Bangkok malam ini.”

“Kalau begitu jemputlah dia.”

“Dia lagi tidak ingin dijemput.”

“Itu hanya sandiwara perempuan. Tidak curiga.”

“Itu tidak penting, Ini menguntungkanku.”

Telepon berdering di saku Angga. Dia mengangkatnya dan berbicara menjauh. Amel bangkit dari duduknya menyeduhkan kopi buat Angga. Otaknya terus bekerja mengasah panah-panah kamanya. Amel tidak mengerti mengapa hari ini merasakan cemburu. Dia berjalan merapat ke Angga di sudut warung.

“Hmm. Wajahmu lelah. Kopi ini baik untukmu!”

“Kamu membuatku betah di sini.”

“Mona menunggumu.”

“Ya. Dia menungguku besok di sidang pengadilan.”

“Kalian akan bercerai?”

“Amel…Amel. Rupanya terjebak ego!”

“Lalu untuk apa pengadilan?”

“Mona mengadopsi anak perempuan.”

“Itu sebuah kemajuan. Sesuatu yang baik buat lima tahun penantianmu. Kau akan sibuk. Saatnya buat keputusan.”

“Keputusan apa? Kamu cemburu.”

“Ya. Aku cemburu karena di rahimku sekarang anakmu menunggu ayahnya.”

“Kamu hamil?”

Amel terdiam. Dia memandang Angga begitu dalam berharap tanggung jawab yang pasti. Perlahan air matanya berderai. Baru ini kali dia terlihat begitu lemah.

“Ini sudah tiga bulan, Angga! Kamu harus ambil kesempatan ini untuk buat keputusan. Aku tidak mau rahimku hanya menjadi rumah pelarian cintamu.”

Angga diam membisu. Dia bahkan belum menyentuh kopi di hadapannya sama sekali. Pikirannya berat tetapi dia juga tidak mungkin menyakiti Mona atau pun Amel. Suaranya mulai berat.

“Baiklah! Aku akan menikahimu secara rahasia.”

“Maksudmu kita menikah secara diam-diam? Siapa yang mau jadi saksinya? Apa tidak lebih baik terus terang dengan Mona. Kita bisa besarkan anak ini bersama-sama!”

Belum lagi sempat menjawab tawaran Amel, telepon Angga berdering lagi. Mona mengabarkan bahwa pesawat mungkin akan melewati cuaca buruk dan berharap bisa berjumpa.

“Mona mengatakan penerbangannya menghadapi cuaca buruk!”

“Baiklah kita berdoa untuk kebaikan bersama.”

Amel berdoa dengan khusuknya. Angga juga berdoa. Tetapi dia berdoa dalam baying-bayang kegelisahan. Meski ada lintasan kebimbangan yang menghantui, Angga dan Amel tetap berharap Tuhan memberikan mereka jalan keluar yang terbaik.

Malam semakin melambat, Amel meninggalkan Angga di sudut warung. Ia melangkah pelan dan menuju kamarnya. Angga menyusul dan memeluknya dari belakang. Pelukannya begitu dalam. Tangan melingkar di bawah buah dada. Napasnya memberi tahu bahwa denyut jantungnya meningkat. Tidak ada kata-kata. Amel membalasnya, kedua tangannya melengkung di tengkuk Angga dalam asmara yang menghangat. Desahnya menjadi ilusi. Mereka bercumbu begitu lepas melupakan segala beban. Sepi semakin menggila. Mereka menutup warung kopi itu. Lampu padam, hanya di kamar tampak temaram. Pergumulan tak terhindarkan. Permainan cinta rahasia tampaknya mau dan mau lagi memasuki babak baru yang mendebarkan.

“Aku hamil, buatlah keputusan, Angga!”

“Jangan sekarang, jantungku masih berdebar. Peluklah aku lebih erat!”

“Itu karena kamu takut, jangan jadi pengecut!”

“Pengecut? Ah aku kira tidak. Hanya waktunya saja yang belum tepat!”

“Apa menunggu perutku lebih membesar lagi begitu? Bersikaplah jantan. Kau sudah menunggu lima tahun untuk ini!” Desakan Amel seperti menjadi pendulum dalam kepala Angga. Pendulum itu bergerak terus samkin kencang hingga menutup setiap lubang pelarian Angga. Dia hanya punya satu pilihan yakni berpoligami.

“Kau benar, kau mengorbankan rahimku untukku!”

“Ambillah keputusan tanpa harus merasa bersalah. Katakana kepada Mona bahwa poligami adalah takdirmu!”

“Dia pasti sangat marah!”

“Itu pasti. Tapi itu tidak akan lama. Mona akan sakit hati padamu. Jangan sekali-kali kau sakiti lagi fisiknya. Dia wanita yang mulia, hanya nasibnya yang kurang beruntung. Aku sebenarnya tidak sampai hati menyakitinya. Tapi kau telah membuatku tidak berdaya. Jadi aku juga berada dalam posisi yang sulit. jangan biarkan aku menanggung aib ini sendirian. Ambillah keputusan, ini bukan keinginanku. Ini perintah anakmu yang ada dalam rahimku, Angga!” Amel terus menggiring Angga agar tidak terbelenggu oleh keraguan yang ada dalam hatinya. Dia seperti sedang menerima wejangan Sri Krisna kepada Arjuna di Kurusetra.

“Aku akan ambil keputusan setelah sidang di pengadilan besok!”

“Anakmu merekam janjimu. Kalau kau ragu, kelak anakmu juga peragu, kalau kau kesatria, kelak anakmu ini akan menjadi kesatria yang pemberani!”

Dialog perselingkuhan itu terus mengalir. Amel semakin mesra. Angga terperdaya seperti sedang berenang dalam lautan kopi Lemukih yang dahsyat.

Cuaca Nopember membuat Lemukih semakin membeku. Pohon-pohon kopi di perkebunan siap menghibahkan nektar kepada lebah yang menjadikannya berbuah. Amel dan Angga bermain cemburu dalam jebakan buluh perindu, sembari menunggu pagi yang tak menentu.

“Angga bangunlah. Mona sudah menunggu!”

“Apakah teleponku berdering tadi?”

“Aku kira tidak, apa kamu mengaktifkannya?”

“Akan kuhidupkan!”

Angga memencet tombol on, ia terlihat sedikit panik, karena di telepon yang ia genggam tidak ada panggilan masuk.

“Coba kau lihat, mungkin ada pesan?”

“Juga tidak ada!”

“Coba kau cari tahu lewat perusahaan atau temannya!”

“Akan kucoba!”

Angga menelepon Dwipa, seorang divisi penerbangan, tetapi teleponnya selalu sibuk. Angga semakin gelisah. Ia ingat percakapan terakhir dengan Mona. Angga menelusuri berita online. Dia terperangah kaget bukan kepalang. Surat kabar tersebut memberitakan bahwa pesawat menuju Bandara Ngurah Rai telah mengalami critical eleven atau Plus Three Minus Eight di Teluk Bangkok. Pesawat telah dikabarkan hancur berkeping-keping. Ketika Angga menelusuri chanel Youtube, ia mendapatkan berita bahwa tim penyelamat sedang berjibaku mengevakuasi para korban.

“Mona…Mona…Mona!”

Angga gemetaran beberapa saat menjadi lumpuh, Amel memeluk dan menenangkannya. Tangisnya tak lagi bisa dibendung, Amel seketika juga ikut menangis.

“Pergilah, kau harus kuat, kau sudah berjanji akan menjemput Mona!”

“Biarkan aku sendiri!”

Angga bangkit dan menghela napas beberapa kali kemudian ia berkemas. Amel melepaskannya dengan segala iba. Ia tidak pernah berharap Mona harus mengalami peristiwa tragis seperti itu. Tetapi ia juga sadar rupanya Tuhan memberi jalan bagi anak yang sedang ia kandung.

Dua minggu berlalu jasad Mona dimakamkan. Seminggu berselang, Angga menerima barang-barang Mona. Sebuah kotak kecil bertuliskan, untuk kekasih suamiku tercinta Prana Angga. Ia tidak segera mencari tahu isi kotak itu dan hanya meletakkan di sebuah kotak kaca yang di bagian atasnya terdapat miniatur Mona dan pesawat boing 727 MAX 8.

Enam bulan berselang, Angga menikahi Amel. Persis tiga puluh hari sebelum putrinya lahir. Suatu ketika Amel merasa kontraksi, Angga sedikit panik sehingga secara tidak sengaja menyenggol miniatur dan menyebabkan satu sisi kotak akhirnya pecah. Peristiwa itu menggerakkan hatinya untuk mengetahui isi kotak yang dulu ditujukan kepadanya. Ia menemukan sebuah kertas dalam miniatur itu dan menariknnya.

Dalam surat itu, Mona menceritakan bahwa ia sudah mengetahui bahwa Angga dan Amel telah selingkuh. Perselingkuhan itu ia ketahui dari Mirna, seorang rekan kerja yang merupakan teman dekat Amel. Sebenarnya Mona cemburu, tetapi karena cintanya yang begitu dalam dengan Angga, ia berusaha menyembunyikan sendiri dan menahan rasa sakit yang ia alami.

Pada bagian akhir suratnya Mona menuliskan, “Tuhan kalau hari ini Engkau memanggilku, biarkanlah suamiku menikahi Amel, karena kelak aku akan lahir lewat rahimnya. Tuhan lindungilah suamiku!”

Angga menyodorkan surat itu kepada Amel di rumah sakit. Beberapa saat kemudian putrinya lahir. Untuk mengenang kebaikan Mona dan ketulusan cinta yang Mona berikan kepadanya mereka akhirnya sepakat menuliskan nama putri itu Mona Putri Amel di akta kelahirnnya, Buleleng 11 Nopember 2022. [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra | Nur Illahi, Pertemuan-Pertemuan

Next Post

Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Luh Meilani Novita Sari

Luh Meilani Novita Sari

Pengajar di SMK Negeri 1 Sawan, Buleleng, Bali

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co