22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
July 17, 2022
in Esai
Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Foto: Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Selayang Pandang

Ida Ratu Lingsir merupakan salah satu benda sakral disebut dengan pelawatan/tapakan yang sangat disucikan oleh Puri Agung Ubud, masyarakat Desa Adat Ubud dan sekitar. Ida Ratu Lingsir berwujud barong lebih spesifik barong ket.

Barong ket sendiri merupakan salah satu jenis barong yang ada di Bali selain barong macan, barong bangkal, barong asu, barong gajah, barong naga, barong kedinkling(belas-belasan) dan barong landung. Barong ket sendiri dengan mengambil metafora hewan singa yang sering dijumpai dalam pertunjukan tari barong dan calonarang.

Ida Ratu Lingsir menurut salah satu pengelingsir Puri Agung Ubud yaitu Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati juga di masa lalu disebut dengan Ratu Gede. Jika ditilik dari sejarahnya Ida Ratu Lingsir diyakini dibuat pada saat pemadegan Dewa Agung Jelantik di Puri Peliatan dan pemadegan Tjokorda Putu Sukawati di Puri Ubud.

Usia dari Ida Ratu Lingsir diperkiran sudah mencapai angka 250 tahun. Dalam Wretta Samatra Pura Batur Sari disebutkan bahwa Ida Ratu Lingsir topengnya (prerai) terbuat dari kayu pole keramat/suci yang berada di Puri Suci, Sebali-Bangkiang Sidem, Tegallalang (2022:14). Dari kayu pole yang sama sebelumnya sudah terwujud dua topeng/prerai barong ket yang disucikan yaitu Ida Ratu Nyeneng yang berstana di Pura Suci Desa Sebali-Bangkiang Sidem, Tegalalang dan Ratu Gede (juga disebut I Derawi) yang berstana di Puri Agung Peliatan (sekarang disungsung oleh Krama Banjar Tengah Peliatan serta berstana di Pura Madya).

Lebih lanjut Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan bahwa prerai topeng Ida Ratu Lingsir merupakan sisa potongan dari Ratu Gede Peliatan (I Derawi) yang diminta oleh Raja Betara Puri Agung Ubud kepada rakanda beliau di Puri Agung Peliatan untuk membuat prerai barong di Puri Agung Ubud. Mengingat Raja Betara di Puri Saren Ubud tidak mahir dalam membuat topeng yang menyebabkan kayu pole tersebut semakin tipis, maka beliau meminta bantuan kepada rakanda beliau di Puri Saren Kangin Baleran untuk dapat menyelesaikan sesuai dengan wujud ideal prerai barong ket. Setelah prerai barong ket selesai dipahat maka dibuatkanlah badan barong yang kemudian dinamakan Anusapati.

Pada awalnya Ida Ratu Lingsir yang masih bergelar Anusapati digunakan oleh Puri Agung Ubud untuk mewadahi masyarakat dalam konteks kesenian dengan kegiatan ngelawang. Sekehe ngelawang yang menarikan Anusapati saat itu berjumlah 25 orang. Perjalanan Sekehe lawangan dari Anusapati meliputi wilayah Desa Mengwi Badung hingga sampai ke Desa Batubulan, Sukawati.

Pada suatu kesempatan dalam perjalanan pulang ngelawang dari Mengwi terdapat peristiwa yang sangat aneh dan mistis yaitu salah satu pengiring dari Anusapati hilang. Mengetahui hal tersebut Raja Betara di Puri Agung Ubud menjadi marah, seraya berguman “Beh saling bang ngringwang gumi saling Nusapati, ngringwang seke selae gen be sing ngidang, ilang kanti seke besik sing tawange”. Artinya: “Hmm bagaimana mungkin diyakini untuk menjaga masyarakat, sedangkan menjaga 25 orang saja tidak bisa, bahkan ada yang hilang satu” (Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, 2019).

Foto: Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Dengan pasuecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, saat itu di malam hari barong Anusapati berlari ke arah barat dan menemukan salah satu pengiring yang hilang di jurang timur Desa Bongkasa. Mengingat keajaiban itu, maka mulai saat itu barong Anusapati diyakini memiliki kesaktian dan disakralkan sebagai sungsungan jagat Ubud.

Ida Ratu Lingsir Sebagai Pelawatan Pembaharu Ornamentasi Barong

Pada kisaran tahun 1970an Ida Ratu Lingsir direnovasi (diodak) saat itu dipimpin oleh Gusti Nyoman Lempad dan Kaki Rata dari Desa Puaya, Batuan. Saat itu juga dibantu oleh beberapa sangging dari Desa Puaya yaitu Kaki Tongkok, Bapak Oklan dan Nyoman Doble. Pada renovasi atau pewodakan saat itu ukiran busana Ida Ratu Lingsir menggunakan motif punggel dengan memunculkan pola katik (tangkai) lebih banyak sesuai dengan ciri khas Gusti Nyoman Lempad (Wawancara dengan Nyoman Doble).

Hal baru dari segi hiasan pada busana barong saat itu dengan menggunakan cangkok kaca dengan jumlah yang banyak menghiasi pola padma dan tetes pada ukiran kulit. Saat itu masih belum lumrah barong-barong menggunakan hiasan cangkok kaca dengan jumlah yang sangat banyak. Salah satu keunikan Ida Ratu Lingsir dengan barong-barong yang lain adalah dengan pola kepes pada kampid dara bagian runtut (ekor) belakang. Disamping itu, dapat dikatakan Ida Ratu Lingsir adalah barong pertama yang memasukkan unsur logam sebagai hiasan yaitu pada sekartaji yang berbahan emas murni bertahta permata mirah bangsing (Wawancara dengan Nyoman Selamet).

Pada tahun 1997 dibawah pengerajeg Tjokorda Agung Suyasa mempercayai I Nyoman Ruka dari Desa Puaya untuk kembali ngodak Ida Ratu Lingsir dengan tukang ukir pada saat itu Bapak Sudiana. Tatatahan sekartaji berbahan emas murni saat itu ditatah oleh Bapak Tika dari Bangli dengan teknik tatah tampak sida untuk mengganti sekartaji yang lama (Wawancara dengan Nyoman Selamet). Pada saat itu juga penanda kemunculan Cokorda Gde Raka Sukawati untuk mendalami seni sangging barong hingga saat ini. Selain itu pada ngodak tahun 1997 Ida Ratu Lingsir menggunakan rambut dari bulu jaran (kuda) merah.

Foto: Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Pada tahun 2009, Ida Ratu Lingsir kembali diodak di Pura Kemuda Saraswati dengan mengganti cat pada prerai, menganti bulu rambut, ukiran kulit dan tatahan emas pada sekartaji. Pengecatan (pawodakan) prerai dikerjakan oleh I Nyoman Selamet dan I Made Rudi. Busana dikerjakan oleh I Nyoman Ruka. Tatahan emas dikerjakan oleh Bapak Daging dari Desa Taro Kelod.

Hal baru dalam estetika pepayasan barong ket yang dicapai pada saat itu adalah adalah 1) Bentuk tatahan emas dengan pola punggel cembung dan timbul, 2) Menggunakan ijuk (duk) sebagai rambut dengan proses pengolahan tradisional dan 3) Menggunakan bros perak bertahta permata diamond sirkon untuk menghasilkan kesan tiga dimensi pada seluruh padma di ukiran kulit. Pada pawodakan saat itu dikomandoi oleh Cokorda Raka Kertyasa, Cokorda Gde Raka Sukawati dan Cokorda Ngurah Suyadnya.

Terakhir pada tahun 2019 kembali dilakukan pawodakan dengan mengganti busana menggunakan pola seperti gaya Gusti Nyoman Lempad dan Kaki Rata, kembali pada pola punggel dengan penonjolan katik (tangkai). Rambut dari ijuk (duk) diganti kembali dengan bulu jaran (kuda) merah dengan sangging Cokorda Gde Raka Sukawati dan I Wayan Gina dari Desa Bangkiang Sidem.

Pada pawodakan tahun 2019 ini terdapat tiga pencapaian yang sangat penting yaitu 1) Memasukkan perpaduan tatahan kulit dan perak pada busana, 2) Badong berbahan emas murni dengan bertahta miring, bangsing serta rubi dan 3) Karang tapel goak pada belakang payasan udeng menggunakan sekartaji dengan kekendoan berbahan perak yang ditatah timbul. Adapun sangging emas dari badong Ida Ratu Lingsir adalah I Made Pada dengan tim Lingga Buana Sari, Banjar Delod Seme, Desa Taro Kelod.

Ida Ratu Lingsir Sebagai Tedung Jagat Ubud

Pemilihan nama Anusapati sebelum bergelar Ida Ratu Lingsir setelah mengalami proses sakralisasi dan penyucian ialah sebagai sebuah tanda beliau diyakini sebagai pengayom. Kata Anusapati berdasarkan dengan Wreta Samatra Pura Batur Sari dimaknai sebagai A berarti menjadi. Nusa berarti pulau, wilayah atau kawasan dan Pati berarti raja, penguasa atau pimpinan (2022:14). Maka dengan nama Anusapati diharapkan mampu menjadi pelindung, pengayom dan penyelamat masyarakat Ubud dan sekitar.

Proses sakralisasi dari Anusapati menjadi bergelar Ida Ratu Lingsir mengingat keyakinan Puri Agung Ubud dan masyarakat Ubud sekitar sangat besar sebagai pancaran sinar suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud pelawatan barong ket. Sampai saat ini Ida Ratu Lingsir sangat disucikan dan disakralkan distanakan di Pura Batur Sari, Ubud. Ida Ratu Lingsir juga sebagai pengabih (pendamping) dari Ida Betara-Betari Khayangan Tiga Desa Adat Ubud dan Ida Betara Gunung Lebah Campuhan.

Sebagai pengayom masyarakat Ubud dan sekitar, ditunjukan pada prosesi Ngunye setiap sasih Keenem (bulan ke enam perhitungan Bali). Pada saat prosesi Ngunye, wilayah pelungan (menyaksikan) melingkup Desa Adat Kutuh, Desa Adat Taman Kaja, Banjar Taman Kelod dan Desa Adat Ubud sendiri. Hal ini menandakan bahwa wilayah jangkauan dari beberapa desa adat dan banjar tersebut begitu meyakini tuah dan anugrah Ida Ratu Lingsir dalam memberikan anugrah dan perlindungan bagi masyarakat. Terlebih pada sasih Keenem di Bali dipercaya sebagai periode wabah. Oleh sebab itu dengan nuwur Ida Ratu Lingsir untuk tedun (diundang untuk datang) ke desa mereka, diyakini membawa berkah dan dapat mengusir segala wabah yang dapat membahayakan warga desa secara jasmani dan rohani.

Selain itu Ida Ratu Lingsir kerap menghadiri penuwur dari masyarakat desa sekitar bahkan di luar wilayah Desa Adat Ubud untuk menyaksikan upacara besar setingkat Karya Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, Mepeselang dan Pedanan. Pada wilayah kelurahan Ubud, Ida Ratu Lingsir pernah tedun pada upacara besar di Desa Adat Kutuh, Desa Adat Junjungan, Desa Adat Tegalantang, Desa Adat Bentuyung Sakti, Desa Adat Padangtegal, Desa Adat Taman Kaja, Banjar Taman Kelod. Sedangkan di luar Kelurahan Ubud meliputi wilayah Desa Ada Sebali Bangkiang Sidem, Tegalalang, Desa Adat Tanggayuda, Desa Adat Bunutan, Desa Adat Payogan, Desa Adat Kedewatan, Desa Adat Penestanan, Pura Dalem Puri Peliatan, Desa Adat Taro Kaja (Pura Agung Gunung Raung) dan terkahir tedun ke Pura Payogan Agung Desa Ketewel Sukawati.

Merujuk dari pemaknaan Anusapati dan jangkaun petedunan Ida Ratu Lingsir maka tidak berlebihan jika beliau disematkan gelar tedung jagat. Tidak hanya sebagai tedung jagat Ubud bahkan mengayaomi hingga masyarakat desa di sekitar Ubud. Gelar Tedung jagat sebenarnya memiliki makna yang sama dengan Anusapati. Tedung berarti payung yang memayungi dan jagat adalah wilayah. Ida Ratu Lingsir merupakan sebuah tedung (payung) jagat yang selalu memberikan perlindungan dan pengayom bagi warga desa Ubud dan sekitar sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud tapakan pelawatan barong ket. [T]

  • Tulisan ini merupakan sebuah wujud bhakti dalam bentuk guratan pena kehadapan Ida Ratu Lingsir Jagat Ubud yang pada tahun ini di stana beliau dihaturkan upacara Karya Mepedudusan Agung pada rahina Buda Kliwon Wuku Pahang bertepatan dengan Purnama Kasa, tanggal 13 Juli 2022.
Tags: baliBaronghinduUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta Rahasia | Cerpen Luh Meilani Novita Sari

Next Post

Amisewaka-DLCC Dibuka dengan Pasar Rakyat Desa Les | Ada Es Rujak yang Beda

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Amisewaka-DLCC Dibuka dengan Pasar Rakyat Desa Les | Ada Es Rujak yang Beda

Amisewaka-DLCC Dibuka dengan Pasar Rakyat Desa Les | Ada Es Rujak yang Beda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa,
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa,

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co