1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
July 17, 2022
in Esai
Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Foto: Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Selayang Pandang

Ida Ratu Lingsir merupakan salah satu benda sakral disebut dengan pelawatan/tapakan yang sangat disucikan oleh Puri Agung Ubud, masyarakat Desa Adat Ubud dan sekitar. Ida Ratu Lingsir berwujud barong lebih spesifik barong ket.

Barong ket sendiri merupakan salah satu jenis barong yang ada di Bali selain barong macan, barong bangkal, barong asu, barong gajah, barong naga, barong kedinkling(belas-belasan) dan barong landung. Barong ket sendiri dengan mengambil metafora hewan singa yang sering dijumpai dalam pertunjukan tari barong dan calonarang.

Ida Ratu Lingsir menurut salah satu pengelingsir Puri Agung Ubud yaitu Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati juga di masa lalu disebut dengan Ratu Gede. Jika ditilik dari sejarahnya Ida Ratu Lingsir diyakini dibuat pada saat pemadegan Dewa Agung Jelantik di Puri Peliatan dan pemadegan Tjokorda Putu Sukawati di Puri Ubud.

Usia dari Ida Ratu Lingsir diperkiran sudah mencapai angka 250 tahun. Dalam Wretta Samatra Pura Batur Sari disebutkan bahwa Ida Ratu Lingsir topengnya (prerai) terbuat dari kayu pole keramat/suci yang berada di Puri Suci, Sebali-Bangkiang Sidem, Tegallalang (2022:14). Dari kayu pole yang sama sebelumnya sudah terwujud dua topeng/prerai barong ket yang disucikan yaitu Ida Ratu Nyeneng yang berstana di Pura Suci Desa Sebali-Bangkiang Sidem, Tegalalang dan Ratu Gede (juga disebut I Derawi) yang berstana di Puri Agung Peliatan (sekarang disungsung oleh Krama Banjar Tengah Peliatan serta berstana di Pura Madya).

Lebih lanjut Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan bahwa prerai topeng Ida Ratu Lingsir merupakan sisa potongan dari Ratu Gede Peliatan (I Derawi) yang diminta oleh Raja Betara Puri Agung Ubud kepada rakanda beliau di Puri Agung Peliatan untuk membuat prerai barong di Puri Agung Ubud. Mengingat Raja Betara di Puri Saren Ubud tidak mahir dalam membuat topeng yang menyebabkan kayu pole tersebut semakin tipis, maka beliau meminta bantuan kepada rakanda beliau di Puri Saren Kangin Baleran untuk dapat menyelesaikan sesuai dengan wujud ideal prerai barong ket. Setelah prerai barong ket selesai dipahat maka dibuatkanlah badan barong yang kemudian dinamakan Anusapati.

Pada awalnya Ida Ratu Lingsir yang masih bergelar Anusapati digunakan oleh Puri Agung Ubud untuk mewadahi masyarakat dalam konteks kesenian dengan kegiatan ngelawang. Sekehe ngelawang yang menarikan Anusapati saat itu berjumlah 25 orang. Perjalanan Sekehe lawangan dari Anusapati meliputi wilayah Desa Mengwi Badung hingga sampai ke Desa Batubulan, Sukawati.

Pada suatu kesempatan dalam perjalanan pulang ngelawang dari Mengwi terdapat peristiwa yang sangat aneh dan mistis yaitu salah satu pengiring dari Anusapati hilang. Mengetahui hal tersebut Raja Betara di Puri Agung Ubud menjadi marah, seraya berguman “Beh saling bang ngringwang gumi saling Nusapati, ngringwang seke selae gen be sing ngidang, ilang kanti seke besik sing tawange”. Artinya: “Hmm bagaimana mungkin diyakini untuk menjaga masyarakat, sedangkan menjaga 25 orang saja tidak bisa, bahkan ada yang hilang satu” (Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, 2019).

Foto: Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Dengan pasuecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, saat itu di malam hari barong Anusapati berlari ke arah barat dan menemukan salah satu pengiring yang hilang di jurang timur Desa Bongkasa. Mengingat keajaiban itu, maka mulai saat itu barong Anusapati diyakini memiliki kesaktian dan disakralkan sebagai sungsungan jagat Ubud.

Ida Ratu Lingsir Sebagai Pelawatan Pembaharu Ornamentasi Barong

Pada kisaran tahun 1970an Ida Ratu Lingsir direnovasi (diodak) saat itu dipimpin oleh Gusti Nyoman Lempad dan Kaki Rata dari Desa Puaya, Batuan. Saat itu juga dibantu oleh beberapa sangging dari Desa Puaya yaitu Kaki Tongkok, Bapak Oklan dan Nyoman Doble. Pada renovasi atau pewodakan saat itu ukiran busana Ida Ratu Lingsir menggunakan motif punggel dengan memunculkan pola katik (tangkai) lebih banyak sesuai dengan ciri khas Gusti Nyoman Lempad (Wawancara dengan Nyoman Doble).

Hal baru dari segi hiasan pada busana barong saat itu dengan menggunakan cangkok kaca dengan jumlah yang banyak menghiasi pola padma dan tetes pada ukiran kulit. Saat itu masih belum lumrah barong-barong menggunakan hiasan cangkok kaca dengan jumlah yang sangat banyak. Salah satu keunikan Ida Ratu Lingsir dengan barong-barong yang lain adalah dengan pola kepes pada kampid dara bagian runtut (ekor) belakang. Disamping itu, dapat dikatakan Ida Ratu Lingsir adalah barong pertama yang memasukkan unsur logam sebagai hiasan yaitu pada sekartaji yang berbahan emas murni bertahta permata mirah bangsing (Wawancara dengan Nyoman Selamet).

Pada tahun 1997 dibawah pengerajeg Tjokorda Agung Suyasa mempercayai I Nyoman Ruka dari Desa Puaya untuk kembali ngodak Ida Ratu Lingsir dengan tukang ukir pada saat itu Bapak Sudiana. Tatatahan sekartaji berbahan emas murni saat itu ditatah oleh Bapak Tika dari Bangli dengan teknik tatah tampak sida untuk mengganti sekartaji yang lama (Wawancara dengan Nyoman Selamet). Pada saat itu juga penanda kemunculan Cokorda Gde Raka Sukawati untuk mendalami seni sangging barong hingga saat ini. Selain itu pada ngodak tahun 1997 Ida Ratu Lingsir menggunakan rambut dari bulu jaran (kuda) merah.

Foto: Ida Ratu Lingsir Tedung Jagat Ubud

Pada tahun 2009, Ida Ratu Lingsir kembali diodak di Pura Kemuda Saraswati dengan mengganti cat pada prerai, menganti bulu rambut, ukiran kulit dan tatahan emas pada sekartaji. Pengecatan (pawodakan) prerai dikerjakan oleh I Nyoman Selamet dan I Made Rudi. Busana dikerjakan oleh I Nyoman Ruka. Tatahan emas dikerjakan oleh Bapak Daging dari Desa Taro Kelod.

Hal baru dalam estetika pepayasan barong ket yang dicapai pada saat itu adalah adalah 1) Bentuk tatahan emas dengan pola punggel cembung dan timbul, 2) Menggunakan ijuk (duk) sebagai rambut dengan proses pengolahan tradisional dan 3) Menggunakan bros perak bertahta permata diamond sirkon untuk menghasilkan kesan tiga dimensi pada seluruh padma di ukiran kulit. Pada pawodakan saat itu dikomandoi oleh Cokorda Raka Kertyasa, Cokorda Gde Raka Sukawati dan Cokorda Ngurah Suyadnya.

Terakhir pada tahun 2019 kembali dilakukan pawodakan dengan mengganti busana menggunakan pola seperti gaya Gusti Nyoman Lempad dan Kaki Rata, kembali pada pola punggel dengan penonjolan katik (tangkai). Rambut dari ijuk (duk) diganti kembali dengan bulu jaran (kuda) merah dengan sangging Cokorda Gde Raka Sukawati dan I Wayan Gina dari Desa Bangkiang Sidem.

Pada pawodakan tahun 2019 ini terdapat tiga pencapaian yang sangat penting yaitu 1) Memasukkan perpaduan tatahan kulit dan perak pada busana, 2) Badong berbahan emas murni dengan bertahta miring, bangsing serta rubi dan 3) Karang tapel goak pada belakang payasan udeng menggunakan sekartaji dengan kekendoan berbahan perak yang ditatah timbul. Adapun sangging emas dari badong Ida Ratu Lingsir adalah I Made Pada dengan tim Lingga Buana Sari, Banjar Delod Seme, Desa Taro Kelod.

Ida Ratu Lingsir Sebagai Tedung Jagat Ubud

Pemilihan nama Anusapati sebelum bergelar Ida Ratu Lingsir setelah mengalami proses sakralisasi dan penyucian ialah sebagai sebuah tanda beliau diyakini sebagai pengayom. Kata Anusapati berdasarkan dengan Wreta Samatra Pura Batur Sari dimaknai sebagai A berarti menjadi. Nusa berarti pulau, wilayah atau kawasan dan Pati berarti raja, penguasa atau pimpinan (2022:14). Maka dengan nama Anusapati diharapkan mampu menjadi pelindung, pengayom dan penyelamat masyarakat Ubud dan sekitar.

Proses sakralisasi dari Anusapati menjadi bergelar Ida Ratu Lingsir mengingat keyakinan Puri Agung Ubud dan masyarakat Ubud sekitar sangat besar sebagai pancaran sinar suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud pelawatan barong ket. Sampai saat ini Ida Ratu Lingsir sangat disucikan dan disakralkan distanakan di Pura Batur Sari, Ubud. Ida Ratu Lingsir juga sebagai pengabih (pendamping) dari Ida Betara-Betari Khayangan Tiga Desa Adat Ubud dan Ida Betara Gunung Lebah Campuhan.

Sebagai pengayom masyarakat Ubud dan sekitar, ditunjukan pada prosesi Ngunye setiap sasih Keenem (bulan ke enam perhitungan Bali). Pada saat prosesi Ngunye, wilayah pelungan (menyaksikan) melingkup Desa Adat Kutuh, Desa Adat Taman Kaja, Banjar Taman Kelod dan Desa Adat Ubud sendiri. Hal ini menandakan bahwa wilayah jangkauan dari beberapa desa adat dan banjar tersebut begitu meyakini tuah dan anugrah Ida Ratu Lingsir dalam memberikan anugrah dan perlindungan bagi masyarakat. Terlebih pada sasih Keenem di Bali dipercaya sebagai periode wabah. Oleh sebab itu dengan nuwur Ida Ratu Lingsir untuk tedun (diundang untuk datang) ke desa mereka, diyakini membawa berkah dan dapat mengusir segala wabah yang dapat membahayakan warga desa secara jasmani dan rohani.

Selain itu Ida Ratu Lingsir kerap menghadiri penuwur dari masyarakat desa sekitar bahkan di luar wilayah Desa Adat Ubud untuk menyaksikan upacara besar setingkat Karya Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, Mepeselang dan Pedanan. Pada wilayah kelurahan Ubud, Ida Ratu Lingsir pernah tedun pada upacara besar di Desa Adat Kutuh, Desa Adat Junjungan, Desa Adat Tegalantang, Desa Adat Bentuyung Sakti, Desa Adat Padangtegal, Desa Adat Taman Kaja, Banjar Taman Kelod. Sedangkan di luar Kelurahan Ubud meliputi wilayah Desa Ada Sebali Bangkiang Sidem, Tegalalang, Desa Adat Tanggayuda, Desa Adat Bunutan, Desa Adat Payogan, Desa Adat Kedewatan, Desa Adat Penestanan, Pura Dalem Puri Peliatan, Desa Adat Taro Kaja (Pura Agung Gunung Raung) dan terkahir tedun ke Pura Payogan Agung Desa Ketewel Sukawati.

Merujuk dari pemaknaan Anusapati dan jangkaun petedunan Ida Ratu Lingsir maka tidak berlebihan jika beliau disematkan gelar tedung jagat. Tidak hanya sebagai tedung jagat Ubud bahkan mengayaomi hingga masyarakat desa di sekitar Ubud. Gelar Tedung jagat sebenarnya memiliki makna yang sama dengan Anusapati. Tedung berarti payung yang memayungi dan jagat adalah wilayah. Ida Ratu Lingsir merupakan sebuah tedung (payung) jagat yang selalu memberikan perlindungan dan pengayom bagi warga desa Ubud dan sekitar sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud tapakan pelawatan barong ket. [T]

  • Tulisan ini merupakan sebuah wujud bhakti dalam bentuk guratan pena kehadapan Ida Ratu Lingsir Jagat Ubud yang pada tahun ini di stana beliau dihaturkan upacara Karya Mepedudusan Agung pada rahina Buda Kliwon Wuku Pahang bertepatan dengan Purnama Kasa, tanggal 13 Juli 2022.
Tags: baliBaronghinduUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta Rahasia | Cerpen Luh Meilani Novita Sari

Next Post

Amisewaka-DLCC Dibuka dengan Pasar Rakyat Desa Les | Ada Es Rujak yang Beda

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Amisewaka-DLCC Dibuka dengan Pasar Rakyat Desa Les | Ada Es Rujak yang Beda

Amisewaka-DLCC Dibuka dengan Pasar Rakyat Desa Les | Ada Es Rujak yang Beda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co