13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 16, 2022
in Khas
Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi  Festival Sastra Bali Modern

Pembicara dan para peserta diskusi Festival Sastra Bali modern lewat zoom

Diskusi virtual “Yang Muda Yang Tua Menulis Kritik Sastra Bali Modern” oleh Festival Sastra Bali Modern – Pertama dan Terbesar di Dunia, diawali dengan musikalisasi puisi oleh Komunitas Cemara Angin dengan judul Puisi Margarana karya Wayan Rugeg Nataran dan Musikalisasi puisi oleh Sastra Welang – Puisi Gendingan Buung karya Tatukung.

Sembari menunggu peserta diskusi yang memasuki ruangan virtual. Saya, sebagai moderator, merasa seperti berbelanja ke toko oleh-oleh yang iringi lagu syahdunya Gus Teja. Ah tapi sayang , toko oleh-oleh tidak seperti penulis kritik sastra Bali Modern, belum menjamur di mana-mana. Untuk itu diskusi-diskusi pematik seperti ini diharapkan dapat memberi pupuk bergizi kepada kawan yang mungkin saja saat ini tengah belajar untuk menulis kritik.

Diskusi ini dilaksanakan setelah adanya lomba kritik sastra Bali Modern yang dilaksanakan oleh Suara Saking Bali. Lomba ini tidak berhenti pada tataran juara saja, namun mencoba menjabarkan di atas meja, siapa saja peserta yang terlibat, latar belakang peserta, wilayah tinggal, rentangan usia, serta karya yang dianggap bagus dan kurang bagus, atau jelek saja belum.

Kemudian dari menata data tersebut, bertemulah kawan-kawan penggagas dengan diksi “paling”. Memang dengan sangat mudah untuk menggunakan ke”palingan” ini, karena selalu berada pada pemahaman oposisi biner. Dalam diskusi yang berlangsung pada Sabtu, 12 Februari 2022, digunakan konteks seberangan umur, yakni Paling Muda dengan Paling Tua. Mengundang  Nabila  kelahiran 2005 yang masih duduk di bangku SMA dengan I Komang Warsa kelahiran 1969 yang berprofesi sebagai guru.

Nabila dalam paparannya mengatakan, ini kali pertama mengikuti lomba menulis kritik, dan menjadi pengalaman menarik dalam melakukan eksplorasi ide dan gagasan dalam menulis. Dirinya juga mendapat bimbingan dan dorongan dari guru Bahasa Bali di SMA Bali Mandara, Weda Sanjaya. Selain itu ia kerap membaca majalah Suara Saking Bali, yang memberikan stimulus pemikirannya untuk mulai menulis.

“Di sekolah saya belum ada kelompok, jadi masih sama mentor, tapi deg deg an juga ternyata yang ikut lomba banyak, dan usianya jauh di atas saya” ujarnya

Bapak Komang Warsa juga mengapresiasi lomba kritik semacam ini, adalah sebuah pemantik untuk memunculkan nama-nama baru dalam skena kepenulisan kritik terutama untuk karya Sastra Bali Modern. Baginya ekosistem sastra tidak akan berjalan jika tidak adanya tukang kritik yang menulis. Agar para penulis buku mengetahui celah, lubang, dan kemungkinan pembacaan lain jika ingin menulis lagi dikemudian hari.

Lebih jauh Pak Komang juga mengkritik terkait tidak adanya kategorisasi umur pada lomba kritik ini. Sebab ia merasa tidak adil karena pertarungan karyanya jadi jomplang, tentu hal ini mengacu pada layer ilmu pengetahuan seseorang di usia tertentu. Mungkin saja hal ini menjadi pertimbangan ke depan, agar yang muda dapat bertarung pada usia yang sama.

“Penting itu, kalau gini kan, saya bertemu dan bertarung dengan anak saya jadinya (mengacu Nabila) , jika tidak ada kategorisasi usia yang ditetapkan” kata pak Komang.

Kritik ini langsung ditanggapi oleh Putu Supartika selaku penyelanggara lomba, ia membebaskan siapapun yang mengikuti lomba. Tidak terpaut umur sekalipun. Baginya lomba ini adalah stimulus untuk menumbuhkan ruang-ruang kritik di segala lini. Baginya tidak menjadi masalah pertarungan tulisan itu berbaur, yang jadi masalahnya jika kawan-kawan berhenti di lomba saja, kemudian tidak bergerak pada kritik-kritik selanjutnya.

“Kami memang tidak membatasi kok, hal ini menjadi bebas saja, siapa saja boleh ikut, tentu ini memiliki kemungkinan lain waktu lomba berlangsung. Belum tentu yang muda tulisannya kalah sama yang senior, begitu juga sebaliknya. Saya ingin melihat hal tersebut.” ujar Putu

Hal ini juga ditanggapi oleh Wayan Sumahardika, tentu pertimbangan kategori ini tidak bisa dibebankan ke Suara Saking Bali. Bisa jadi kepada kawan-kawan yang ingin membuat hal serupa di luar konteks lomba, seperti jaringan guru bahasa Bali antar sekolah. Mungkin saja jaringan kerja kreatif  ini  dapat menumbuhkan ruang kesusastraan Bali Modern melalui hegemoni sekolah. Pertanyaanya adalah ;

“Apakah  guru bahasa Bali berjejaring dan bagaimana pergerakan jaringannya, sejauh mana kemudian gerakannya?” tanya Suma

Langsung ditanggap oleh Weda Sanjaya selaku Guru Bahasa Bali, ia menjelaskan jaringan perlahan sedang terbentuk melalui diskusi-diskusi kecil yang ia lakukan antar sekolah bahkan antar kabupaten. Sayangnya, guru Bahasa Bali yang menulis sastra masih tergolong sedikit. Malah yang menulis Sastra Bali Modern dari jurusan berbeda. Sebagai guru ia sudah melakukan pembinaan di sekolahnya, agar tampil dan unjuk kebolehan dalam lomba-lomba semacam ini.

“Saya mulai dari sekolah saya, agar anak-anak percaya diri, saya yang mendorong, sekaligus mendampingi. Jaringan kerja guru Bahasa Bali sedang mengarah pada jalur yang sedang dibicarakan, memang dibutuhkan sistem komunitas juga di luar kerja guru.” tanggapnya.

Bagi saya sebagai seorang moderator, titik berat diskusi kemarin ialah pada kategorisasi usia lomba dan bagaimana kerja jaringan para pelaku Sastra Bali Modern bergerak. Dalam setiap kesenian apapun itu, memang dibutuhkan modal sosial untuk membangun ruang yang luas, modal sosial ini merupakan analisis-analisis hubungan diluar yang turut mengembangkan sastra Bali Modern.

Sebut saja ada penulis, kritikus, hegemoni sekolah, dinas kepemerintahan terkait, penerbit, yayasan, majalah bahasa Bali, komunitas antar daerah, pencinta lontar, bahkan di luar keilmuan sastra seperti ekonomi, sejarah, antropolog, sosiolog, dan lain sebagainya. Hubungan hubungan setiap lini inilah yang harus dipetakan secara jernih, agar mengetahui apakah hubungan tersebut memiliki kerja yang baik, menguntungkan, atau merugikan.

Data hubungan ini kemudian perlahan dapat dipraktekkan menjadi satu gerakan bersama. Sehingga nantinya dapat menciptakan lingkungan kesenian yang sehat – bugar dan tetap berkelanjutan. Nak sing nawang masih, suara saking Bali ne, kel nu ape sing, yen tokoh utamanya merasa bosan. Bisa gen suud lomba care kene. Maka ……. ?

Diskusi sore itu berjalan 2 jam, mungkin yang saya catat di tulisan ini tidak sepenuhnya saya jabarkan. Penutupnya ialah Musikalisasi Kelompok Sekali Pentas dengan puisi berjudul Gendingan Buung karya Tatukung. Kelompok Sekali Pentas dimotori oleh Heri Windi Anggara – kawan saya  yang sering tampil membawakan musikalisasi puisi di berbagai event di Bali.[T]

Tags: BukuFestival Sastra Bali ModernLomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modernsastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Next Post

“Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

“Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co