2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 16, 2022
in Khas
Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi  Festival Sastra Bali Modern

Pembicara dan para peserta diskusi Festival Sastra Bali modern lewat zoom

Diskusi virtual “Yang Muda Yang Tua Menulis Kritik Sastra Bali Modern” oleh Festival Sastra Bali Modern – Pertama dan Terbesar di Dunia, diawali dengan musikalisasi puisi oleh Komunitas Cemara Angin dengan judul Puisi Margarana karya Wayan Rugeg Nataran dan Musikalisasi puisi oleh Sastra Welang – Puisi Gendingan Buung karya Tatukung.

Sembari menunggu peserta diskusi yang memasuki ruangan virtual. Saya, sebagai moderator, merasa seperti berbelanja ke toko oleh-oleh yang iringi lagu syahdunya Gus Teja. Ah tapi sayang , toko oleh-oleh tidak seperti penulis kritik sastra Bali Modern, belum menjamur di mana-mana. Untuk itu diskusi-diskusi pematik seperti ini diharapkan dapat memberi pupuk bergizi kepada kawan yang mungkin saja saat ini tengah belajar untuk menulis kritik.

Diskusi ini dilaksanakan setelah adanya lomba kritik sastra Bali Modern yang dilaksanakan oleh Suara Saking Bali. Lomba ini tidak berhenti pada tataran juara saja, namun mencoba menjabarkan di atas meja, siapa saja peserta yang terlibat, latar belakang peserta, wilayah tinggal, rentangan usia, serta karya yang dianggap bagus dan kurang bagus, atau jelek saja belum.

Kemudian dari menata data tersebut, bertemulah kawan-kawan penggagas dengan diksi “paling”. Memang dengan sangat mudah untuk menggunakan ke”palingan” ini, karena selalu berada pada pemahaman oposisi biner. Dalam diskusi yang berlangsung pada Sabtu, 12 Februari 2022, digunakan konteks seberangan umur, yakni Paling Muda dengan Paling Tua. Mengundang  Nabila  kelahiran 2005 yang masih duduk di bangku SMA dengan I Komang Warsa kelahiran 1969 yang berprofesi sebagai guru.

Nabila dalam paparannya mengatakan, ini kali pertama mengikuti lomba menulis kritik, dan menjadi pengalaman menarik dalam melakukan eksplorasi ide dan gagasan dalam menulis. Dirinya juga mendapat bimbingan dan dorongan dari guru Bahasa Bali di SMA Bali Mandara, Weda Sanjaya. Selain itu ia kerap membaca majalah Suara Saking Bali, yang memberikan stimulus pemikirannya untuk mulai menulis.

“Di sekolah saya belum ada kelompok, jadi masih sama mentor, tapi deg deg an juga ternyata yang ikut lomba banyak, dan usianya jauh di atas saya” ujarnya

Bapak Komang Warsa juga mengapresiasi lomba kritik semacam ini, adalah sebuah pemantik untuk memunculkan nama-nama baru dalam skena kepenulisan kritik terutama untuk karya Sastra Bali Modern. Baginya ekosistem sastra tidak akan berjalan jika tidak adanya tukang kritik yang menulis. Agar para penulis buku mengetahui celah, lubang, dan kemungkinan pembacaan lain jika ingin menulis lagi dikemudian hari.

Lebih jauh Pak Komang juga mengkritik terkait tidak adanya kategorisasi umur pada lomba kritik ini. Sebab ia merasa tidak adil karena pertarungan karyanya jadi jomplang, tentu hal ini mengacu pada layer ilmu pengetahuan seseorang di usia tertentu. Mungkin saja hal ini menjadi pertimbangan ke depan, agar yang muda dapat bertarung pada usia yang sama.

“Penting itu, kalau gini kan, saya bertemu dan bertarung dengan anak saya jadinya (mengacu Nabila) , jika tidak ada kategorisasi usia yang ditetapkan” kata pak Komang.

Kritik ini langsung ditanggapi oleh Putu Supartika selaku penyelanggara lomba, ia membebaskan siapapun yang mengikuti lomba. Tidak terpaut umur sekalipun. Baginya lomba ini adalah stimulus untuk menumbuhkan ruang-ruang kritik di segala lini. Baginya tidak menjadi masalah pertarungan tulisan itu berbaur, yang jadi masalahnya jika kawan-kawan berhenti di lomba saja, kemudian tidak bergerak pada kritik-kritik selanjutnya.

“Kami memang tidak membatasi kok, hal ini menjadi bebas saja, siapa saja boleh ikut, tentu ini memiliki kemungkinan lain waktu lomba berlangsung. Belum tentu yang muda tulisannya kalah sama yang senior, begitu juga sebaliknya. Saya ingin melihat hal tersebut.” ujar Putu

Hal ini juga ditanggapi oleh Wayan Sumahardika, tentu pertimbangan kategori ini tidak bisa dibebankan ke Suara Saking Bali. Bisa jadi kepada kawan-kawan yang ingin membuat hal serupa di luar konteks lomba, seperti jaringan guru bahasa Bali antar sekolah. Mungkin saja jaringan kerja kreatif  ini  dapat menumbuhkan ruang kesusastraan Bali Modern melalui hegemoni sekolah. Pertanyaanya adalah ;

“Apakah  guru bahasa Bali berjejaring dan bagaimana pergerakan jaringannya, sejauh mana kemudian gerakannya?” tanya Suma

Langsung ditanggap oleh Weda Sanjaya selaku Guru Bahasa Bali, ia menjelaskan jaringan perlahan sedang terbentuk melalui diskusi-diskusi kecil yang ia lakukan antar sekolah bahkan antar kabupaten. Sayangnya, guru Bahasa Bali yang menulis sastra masih tergolong sedikit. Malah yang menulis Sastra Bali Modern dari jurusan berbeda. Sebagai guru ia sudah melakukan pembinaan di sekolahnya, agar tampil dan unjuk kebolehan dalam lomba-lomba semacam ini.

“Saya mulai dari sekolah saya, agar anak-anak percaya diri, saya yang mendorong, sekaligus mendampingi. Jaringan kerja guru Bahasa Bali sedang mengarah pada jalur yang sedang dibicarakan, memang dibutuhkan sistem komunitas juga di luar kerja guru.” tanggapnya.

Bagi saya sebagai seorang moderator, titik berat diskusi kemarin ialah pada kategorisasi usia lomba dan bagaimana kerja jaringan para pelaku Sastra Bali Modern bergerak. Dalam setiap kesenian apapun itu, memang dibutuhkan modal sosial untuk membangun ruang yang luas, modal sosial ini merupakan analisis-analisis hubungan diluar yang turut mengembangkan sastra Bali Modern.

Sebut saja ada penulis, kritikus, hegemoni sekolah, dinas kepemerintahan terkait, penerbit, yayasan, majalah bahasa Bali, komunitas antar daerah, pencinta lontar, bahkan di luar keilmuan sastra seperti ekonomi, sejarah, antropolog, sosiolog, dan lain sebagainya. Hubungan hubungan setiap lini inilah yang harus dipetakan secara jernih, agar mengetahui apakah hubungan tersebut memiliki kerja yang baik, menguntungkan, atau merugikan.

Data hubungan ini kemudian perlahan dapat dipraktekkan menjadi satu gerakan bersama. Sehingga nantinya dapat menciptakan lingkungan kesenian yang sehat – bugar dan tetap berkelanjutan. Nak sing nawang masih, suara saking Bali ne, kel nu ape sing, yen tokoh utamanya merasa bosan. Bisa gen suud lomba care kene. Maka ……. ?

Diskusi sore itu berjalan 2 jam, mungkin yang saya catat di tulisan ini tidak sepenuhnya saya jabarkan. Penutupnya ialah Musikalisasi Kelompok Sekali Pentas dengan puisi berjudul Gendingan Buung karya Tatukung. Kelompok Sekali Pentas dimotori oleh Heri Windi Anggara – kawan saya  yang sering tampil membawakan musikalisasi puisi di berbagai event di Bali.[T]

Tags: BukuFestival Sastra Bali ModernLomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modernsastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Next Post

“Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Waspada, “Branding” Bali Kadaluwarsa!

“Agility” Bali untuk Lolos dari Disrupsi Pandemi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co