2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 16, 2022
in Ulasan
Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos yang berlangsung sejak 5 Februari – 27 Maret di South Beach – Kuta, Bali.

Jika membicarakan pameran seni, biasanya pengunjung atau penikmat  akan melihat bentuk karya. Entah itu lukisan, instalasi, keramik, kain, patung, gambar, maket dan apapun itu. Di pintu masuk pameran juga ada semacam poster atau tulisan panjang dari kurator atau penulis pameran, pengantar tersebut dalam rangka memberi informasi dan gambaran besar gagasan dari pemeran yang sedang berlangsung.

Hal yang jabarkan di atas, patah begitu saja jika kita mengunjungi pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos yang berlangsung sejak  5 Februari – 27 Maret di South Beach – Kuta, Bali. Kenapa patah? Mari saya jelaskan.

Black Menu adalah kelompok seniman yang digagas oleh Sastraning Danuraga – Aga dan Made Agus Darmika – Solar. Dua pemuda ini berlatar belakang seni rupa dan keduanya pernah mencicipi ruang belajar kreatif di lingkungan Yogjakarta.

Di Bali mereka tengah membaca ulang wilayah kesenian, memetakan segala kemungkinan yang dapat mereka kerjakan. Salah satunya menggaet Made Susanta sebagai kurator di pameran Black Menu kali ini.

Sementara Studiodikubu juga digagas oleh dua pemuda dari Denpasar, Rasmana (Balon) dan Esa. Mereka bergerak di bidang arsitektur dan design interior. Kedua kawan muda ini merupakan kawan yang sedang gelisah dalam membaca realitas sosial yang terjadi di dekat lingkungan mereka tinggal. Sehingga karya dan diskusi menjadi ruang yang cukup intensif jika kita berkunjung ke pamerannya.

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di South Beach – Kuta, Bali.

Black Menu membawa tajuk Ngejot  sementara Studiodikubu mengusung Rong. Ngejot adalah membagikan sesuatu (kerap berupa makanan) kepada keluarga, tetangga, kawan, atau kepada orang lain yang pantas (dengan pertimbangan tertentu) untuk diberi ejotan.

Ngejot biasanya dilakukan oleh masyarakat Bali pada saat mereka melaksanakan upacara atau pada hari raya. Isi ejotan-nya berupa makanan, sembako, buah dan lain sebagainya. Bentuk silahturahmi  antar keluarga atau di lingkungan sekitar. Bentuk ngejot ini kemudian berkembang menjadi gagasan dan ide antar seniman.

Jadi ide Black Menu, mengajak dua orang Agus Mediana (Cupruk) dan Gusti Dalem, dua seniman  ini ngejot gagasan mereka ke pameran Black Menu. Tidak ada satupun karya jadi, yang dipamerkan. Malah mereka menginginkan karya tersebut berangsur tumbuh di ruang pamer. Ruang pamer di Fraksi Epos, merupakan tempat karya berkembang. Mereka tengah memamerkan proses berkarya.

Studiodikubu membentangkan Rong sebagai ruang sempit tempat leluhur yang kita puja, kita percaya terhadap dimensi lain yang hadir di Rong tersebut. Ada keteguhan yang kita percaya bersama sehingga membentuk suatu kenyamanan dalam berkeyakinan. Jika ditarik dengan isu pembangunan di Kota Denpasar, luas tanah sempit menjadi pilihan nyaman bagi keluarga yang tidak mampu membeli tanah luas.

  • BACA JUGA: Menghidupkan Kuta dengan Pameran Neodalan: Tilem Kesangȇ dalam Fraksi Epos 2022

Apa yang dilakukan kemudian untuk menuju kenyamanan itu, Studiodikubu menawarkan furniture lepas rangkai – knockdown, sebagai bentuk alternatif dari ruang sempit. Pamerannya tidak ada benda jadi, tapi hanya lembaran triplek berbagai bentuk yang telah dimodifikasi agar satu lembar dan lembar lainnya dapat disatukan tanpa bantuan paku atau lem. Ya mungkin bisa dikatakan semacam puzzle bermain.

Perlu saya jabarkan secara deskriptif bagaimana ruang pamer yang ditawarkan oleh kedua pameran ini. Di Black Menu, pengunjung akan menemukan deretan tulisan yang dirangkai oleh partisi kayu, tulisan ini merupakan jabaran profile seniman yang Ngejot, serta kerangka gagasan Black Menu.

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di South Beach – Kuta, Bali.

Jika menengok lebih ke dalam ruangan, ada meja triplek yang di atasnya terdapat alat, bahan, ornamen, serpihan benda, benda-benda tersebut merupakan remahan riset dari Agus Mediana dan Gusti Dalem. Ada satu meja yang sama besarnya, diisi penuh dengan alat-alat kerja pertukangan, layaknya studio kerja. Satu lagi meja kecil, dan lampu yang menyorot ke meja tersebut, di meja ada kertas-kertas orat-oret, sketsa, serta gambar-gambar yang mungkin saja ada kaitannya dengan pameran ini.

Satu hal yang menarik bagi saya, Black Menu menata ruangan layaknya pertunjukan, dengan lampu sorot yang ditujukan pada bagian-bagian tertentu. Memberi efek kepada pengunjung seperti memasuki dimensi kerja seseorang.

“Ya saya merasakannya, ruangannya dominan gelap, namun penataan cahaya yang pas, membuat saya sebagai pengunjung kayak intim banget ngomong sama senimannya. Aneh ya, saya kira akan melihat instalasi, ternyata gagasannya akan dibuat langsung di sini,” kata Gita Mira, salah satu kawan pengunjung yang sempat saya tanyakan di sana.

Sementara di Studiodikubu, tampak ruang kosong melompong mendominasi, dengan cahaya menyeluruh ke segala sisi ruangan. Ada dua kursi berwarna hitam, merupakan karya mereka dari hasil riset terhadap pohon bunga jepun. Sementara di tengah bediri satu meja, dari lembar triplek knockdown yang saya ceritakan tadi.

Di hari pertama pembukaan, penjaga pameran nampak ramah menyapa pengunjung yang datang, dengan langsung menceritakan gagasan mereka. Hingga akhirnya mereka sama-sama mengerjakan kursi dan meja. Sambil bercerita yang tidak hanya beririsan pada bahan pameran, namun juga berkembang ke sejarah, sosio kultural, kependudukan, ukuran tubuh, dan lain sebagainya.

“Aku tadi awalnya bingung banget lho, kok nggak ada yang dipamerin, ternyata lebih ke interaktif kayak gini yah. Tumben aku ke pameran bertemu dengan yang seperti ini. Nggak percuma aku jauh -jauh ke Kuta nok,” ujar Eka salah satu pengunjung yang saat itu juga ikut merangkai kursi bersama saya.

Jadi saya sarankan kepada teman-teman yang berkunjung ke pameran mereka, jangan malu bertanya, langsung saja tanyakan ini pameran tentang apa. Mereka pasti akan datang dengan ramah, karena sekali lagi proses menjadi titik kunci dalam pameran tersebut. Jarang sekali memang ada seniman yang mau untuk menceritakan proses di dapur, atau para kawan penikmat yang mau datang ke studio seniman, hanya untuk mengobrol dan mendalami proses kekaryaan.

Selama proses ini dibuat, Black Menu perlahan menampakan wujud instalasi yang ingin mereka bangun bersama Agus Mediana. Sementara Studiodikubu setiap hari kedatangan tamu, yang ingin tahu gagasan mereka, di sejumlah dinding pameran juga ada tempelan ide, gambar, meme, sketsa, dari kawan-kawan pengunjung.

Pameran ini masih berlangsung sampai akhir Maret, silahkan datang yah. Selain ada dua studio di atas, ada pula MACAN Studio (Pinky Gurl), DUE HATUE, Yayasan Peduli Setan dan SUKSMA Bali. Serta setiap akhir pekan dipenuhi dengan pertunjukan, pementasan musik, showcase, dan party.

Mari datang… [T]

Tags: KutaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bakwan Pak Kardi di Singaraja, Berdiri Sejak 1965, Enaknya Bertahan Hingga Kini

Next Post

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi  Festival Sastra Bali Modern

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co