14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 16, 2022
in Ulasan
Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos yang berlangsung sejak 5 Februari – 27 Maret di South Beach – Kuta, Bali.

Jika membicarakan pameran seni, biasanya pengunjung atau penikmat  akan melihat bentuk karya. Entah itu lukisan, instalasi, keramik, kain, patung, gambar, maket dan apapun itu. Di pintu masuk pameran juga ada semacam poster atau tulisan panjang dari kurator atau penulis pameran, pengantar tersebut dalam rangka memberi informasi dan gambaran besar gagasan dari pemeran yang sedang berlangsung.

Hal yang jabarkan di atas, patah begitu saja jika kita mengunjungi pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos yang berlangsung sejak  5 Februari – 27 Maret di South Beach – Kuta, Bali. Kenapa patah? Mari saya jelaskan.

Black Menu adalah kelompok seniman yang digagas oleh Sastraning Danuraga – Aga dan Made Agus Darmika – Solar. Dua pemuda ini berlatar belakang seni rupa dan keduanya pernah mencicipi ruang belajar kreatif di lingkungan Yogjakarta.

Di Bali mereka tengah membaca ulang wilayah kesenian, memetakan segala kemungkinan yang dapat mereka kerjakan. Salah satunya menggaet Made Susanta sebagai kurator di pameran Black Menu kali ini.

Sementara Studiodikubu juga digagas oleh dua pemuda dari Denpasar, Rasmana (Balon) dan Esa. Mereka bergerak di bidang arsitektur dan design interior. Kedua kawan muda ini merupakan kawan yang sedang gelisah dalam membaca realitas sosial yang terjadi di dekat lingkungan mereka tinggal. Sehingga karya dan diskusi menjadi ruang yang cukup intensif jika kita berkunjung ke pamerannya.

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di South Beach – Kuta, Bali.

Black Menu membawa tajuk Ngejot  sementara Studiodikubu mengusung Rong. Ngejot adalah membagikan sesuatu (kerap berupa makanan) kepada keluarga, tetangga, kawan, atau kepada orang lain yang pantas (dengan pertimbangan tertentu) untuk diberi ejotan.

Ngejot biasanya dilakukan oleh masyarakat Bali pada saat mereka melaksanakan upacara atau pada hari raya. Isi ejotan-nya berupa makanan, sembako, buah dan lain sebagainya. Bentuk silahturahmi  antar keluarga atau di lingkungan sekitar. Bentuk ngejot ini kemudian berkembang menjadi gagasan dan ide antar seniman.

Jadi ide Black Menu, mengajak dua orang Agus Mediana (Cupruk) dan Gusti Dalem, dua seniman  ini ngejot gagasan mereka ke pameran Black Menu. Tidak ada satupun karya jadi, yang dipamerkan. Malah mereka menginginkan karya tersebut berangsur tumbuh di ruang pamer. Ruang pamer di Fraksi Epos, merupakan tempat karya berkembang. Mereka tengah memamerkan proses berkarya.

Studiodikubu membentangkan Rong sebagai ruang sempit tempat leluhur yang kita puja, kita percaya terhadap dimensi lain yang hadir di Rong tersebut. Ada keteguhan yang kita percaya bersama sehingga membentuk suatu kenyamanan dalam berkeyakinan. Jika ditarik dengan isu pembangunan di Kota Denpasar, luas tanah sempit menjadi pilihan nyaman bagi keluarga yang tidak mampu membeli tanah luas.

  • BACA JUGA: Menghidupkan Kuta dengan Pameran Neodalan: Tilem Kesangȇ dalam Fraksi Epos 2022

Apa yang dilakukan kemudian untuk menuju kenyamanan itu, Studiodikubu menawarkan furniture lepas rangkai – knockdown, sebagai bentuk alternatif dari ruang sempit. Pamerannya tidak ada benda jadi, tapi hanya lembaran triplek berbagai bentuk yang telah dimodifikasi agar satu lembar dan lembar lainnya dapat disatukan tanpa bantuan paku atau lem. Ya mungkin bisa dikatakan semacam puzzle bermain.

Perlu saya jabarkan secara deskriptif bagaimana ruang pamer yang ditawarkan oleh kedua pameran ini. Di Black Menu, pengunjung akan menemukan deretan tulisan yang dirangkai oleh partisi kayu, tulisan ini merupakan jabaran profile seniman yang Ngejot, serta kerangka gagasan Black Menu.

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di South Beach – Kuta, Bali.

Jika menengok lebih ke dalam ruangan, ada meja triplek yang di atasnya terdapat alat, bahan, ornamen, serpihan benda, benda-benda tersebut merupakan remahan riset dari Agus Mediana dan Gusti Dalem. Ada satu meja yang sama besarnya, diisi penuh dengan alat-alat kerja pertukangan, layaknya studio kerja. Satu lagi meja kecil, dan lampu yang menyorot ke meja tersebut, di meja ada kertas-kertas orat-oret, sketsa, serta gambar-gambar yang mungkin saja ada kaitannya dengan pameran ini.

Satu hal yang menarik bagi saya, Black Menu menata ruangan layaknya pertunjukan, dengan lampu sorot yang ditujukan pada bagian-bagian tertentu. Memberi efek kepada pengunjung seperti memasuki dimensi kerja seseorang.

“Ya saya merasakannya, ruangannya dominan gelap, namun penataan cahaya yang pas, membuat saya sebagai pengunjung kayak intim banget ngomong sama senimannya. Aneh ya, saya kira akan melihat instalasi, ternyata gagasannya akan dibuat langsung di sini,” kata Gita Mira, salah satu kawan pengunjung yang sempat saya tanyakan di sana.

Sementara di Studiodikubu, tampak ruang kosong melompong mendominasi, dengan cahaya menyeluruh ke segala sisi ruangan. Ada dua kursi berwarna hitam, merupakan karya mereka dari hasil riset terhadap pohon bunga jepun. Sementara di tengah bediri satu meja, dari lembar triplek knockdown yang saya ceritakan tadi.

Di hari pertama pembukaan, penjaga pameran nampak ramah menyapa pengunjung yang datang, dengan langsung menceritakan gagasan mereka. Hingga akhirnya mereka sama-sama mengerjakan kursi dan meja. Sambil bercerita yang tidak hanya beririsan pada bahan pameran, namun juga berkembang ke sejarah, sosio kultural, kependudukan, ukuran tubuh, dan lain sebagainya.

“Aku tadi awalnya bingung banget lho, kok nggak ada yang dipamerin, ternyata lebih ke interaktif kayak gini yah. Tumben aku ke pameran bertemu dengan yang seperti ini. Nggak percuma aku jauh -jauh ke Kuta nok,” ujar Eka salah satu pengunjung yang saat itu juga ikut merangkai kursi bersama saya.

Jadi saya sarankan kepada teman-teman yang berkunjung ke pameran mereka, jangan malu bertanya, langsung saja tanyakan ini pameran tentang apa. Mereka pasti akan datang dengan ramah, karena sekali lagi proses menjadi titik kunci dalam pameran tersebut. Jarang sekali memang ada seniman yang mau untuk menceritakan proses di dapur, atau para kawan penikmat yang mau datang ke studio seniman, hanya untuk mengobrol dan mendalami proses kekaryaan.

Selama proses ini dibuat, Black Menu perlahan menampakan wujud instalasi yang ingin mereka bangun bersama Agus Mediana. Sementara Studiodikubu setiap hari kedatangan tamu, yang ingin tahu gagasan mereka, di sejumlah dinding pameran juga ada tempelan ide, gambar, meme, sketsa, dari kawan-kawan pengunjung.

Pameran ini masih berlangsung sampai akhir Maret, silahkan datang yah. Selain ada dua studio di atas, ada pula MACAN Studio (Pinky Gurl), DUE HATUE, Yayasan Peduli Setan dan SUKSMA Bali. Serta setiap akhir pekan dipenuhi dengan pertunjukan, pementasan musik, showcase, dan party.

Mari datang… [T]

Tags: KutaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bakwan Pak Kardi di Singaraja, Berdiri Sejak 1965, Enaknya Bertahan Hingga Kini

Next Post

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi  Festival Sastra Bali Modern

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co