2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 16, 2022
in Ulasan
Pameran Gagasan – Ngejot, Rong di Fraksi Epos

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos yang berlangsung sejak 5 Februari – 27 Maret di South Beach – Kuta, Bali.

Jika membicarakan pameran seni, biasanya pengunjung atau penikmat  akan melihat bentuk karya. Entah itu lukisan, instalasi, keramik, kain, patung, gambar, maket dan apapun itu. Di pintu masuk pameran juga ada semacam poster atau tulisan panjang dari kurator atau penulis pameran, pengantar tersebut dalam rangka memberi informasi dan gambaran besar gagasan dari pemeran yang sedang berlangsung.

Hal yang jabarkan di atas, patah begitu saja jika kita mengunjungi pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos yang berlangsung sejak  5 Februari – 27 Maret di South Beach – Kuta, Bali. Kenapa patah? Mari saya jelaskan.

Black Menu adalah kelompok seniman yang digagas oleh Sastraning Danuraga – Aga dan Made Agus Darmika – Solar. Dua pemuda ini berlatar belakang seni rupa dan keduanya pernah mencicipi ruang belajar kreatif di lingkungan Yogjakarta.

Di Bali mereka tengah membaca ulang wilayah kesenian, memetakan segala kemungkinan yang dapat mereka kerjakan. Salah satunya menggaet Made Susanta sebagai kurator di pameran Black Menu kali ini.

Sementara Studiodikubu juga digagas oleh dua pemuda dari Denpasar, Rasmana (Balon) dan Esa. Mereka bergerak di bidang arsitektur dan design interior. Kedua kawan muda ini merupakan kawan yang sedang gelisah dalam membaca realitas sosial yang terjadi di dekat lingkungan mereka tinggal. Sehingga karya dan diskusi menjadi ruang yang cukup intensif jika kita berkunjung ke pamerannya.

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di South Beach – Kuta, Bali.

Black Menu membawa tajuk Ngejot  sementara Studiodikubu mengusung Rong. Ngejot adalah membagikan sesuatu (kerap berupa makanan) kepada keluarga, tetangga, kawan, atau kepada orang lain yang pantas (dengan pertimbangan tertentu) untuk diberi ejotan.

Ngejot biasanya dilakukan oleh masyarakat Bali pada saat mereka melaksanakan upacara atau pada hari raya. Isi ejotan-nya berupa makanan, sembako, buah dan lain sebagainya. Bentuk silahturahmi  antar keluarga atau di lingkungan sekitar. Bentuk ngejot ini kemudian berkembang menjadi gagasan dan ide antar seniman.

Jadi ide Black Menu, mengajak dua orang Agus Mediana (Cupruk) dan Gusti Dalem, dua seniman  ini ngejot gagasan mereka ke pameran Black Menu. Tidak ada satupun karya jadi, yang dipamerkan. Malah mereka menginginkan karya tersebut berangsur tumbuh di ruang pamer. Ruang pamer di Fraksi Epos, merupakan tempat karya berkembang. Mereka tengah memamerkan proses berkarya.

Studiodikubu membentangkan Rong sebagai ruang sempit tempat leluhur yang kita puja, kita percaya terhadap dimensi lain yang hadir di Rong tersebut. Ada keteguhan yang kita percaya bersama sehingga membentuk suatu kenyamanan dalam berkeyakinan. Jika ditarik dengan isu pembangunan di Kota Denpasar, luas tanah sempit menjadi pilihan nyaman bagi keluarga yang tidak mampu membeli tanah luas.

  • BACA JUGA: Menghidupkan Kuta dengan Pameran Neodalan: Tilem Kesangȇ dalam Fraksi Epos 2022

Apa yang dilakukan kemudian untuk menuju kenyamanan itu, Studiodikubu menawarkan furniture lepas rangkai – knockdown, sebagai bentuk alternatif dari ruang sempit. Pamerannya tidak ada benda jadi, tapi hanya lembaran triplek berbagai bentuk yang telah dimodifikasi agar satu lembar dan lembar lainnya dapat disatukan tanpa bantuan paku atau lem. Ya mungkin bisa dikatakan semacam puzzle bermain.

Perlu saya jabarkan secara deskriptif bagaimana ruang pamer yang ditawarkan oleh kedua pameran ini. Di Black Menu, pengunjung akan menemukan deretan tulisan yang dirangkai oleh partisi kayu, tulisan ini merupakan jabaran profile seniman yang Ngejot, serta kerangka gagasan Black Menu.

Pameran Black Menu dan Studiodikubu di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos di South Beach – Kuta, Bali.

Jika menengok lebih ke dalam ruangan, ada meja triplek yang di atasnya terdapat alat, bahan, ornamen, serpihan benda, benda-benda tersebut merupakan remahan riset dari Agus Mediana dan Gusti Dalem. Ada satu meja yang sama besarnya, diisi penuh dengan alat-alat kerja pertukangan, layaknya studio kerja. Satu lagi meja kecil, dan lampu yang menyorot ke meja tersebut, di meja ada kertas-kertas orat-oret, sketsa, serta gambar-gambar yang mungkin saja ada kaitannya dengan pameran ini.

Satu hal yang menarik bagi saya, Black Menu menata ruangan layaknya pertunjukan, dengan lampu sorot yang ditujukan pada bagian-bagian tertentu. Memberi efek kepada pengunjung seperti memasuki dimensi kerja seseorang.

“Ya saya merasakannya, ruangannya dominan gelap, namun penataan cahaya yang pas, membuat saya sebagai pengunjung kayak intim banget ngomong sama senimannya. Aneh ya, saya kira akan melihat instalasi, ternyata gagasannya akan dibuat langsung di sini,” kata Gita Mira, salah satu kawan pengunjung yang sempat saya tanyakan di sana.

Sementara di Studiodikubu, tampak ruang kosong melompong mendominasi, dengan cahaya menyeluruh ke segala sisi ruangan. Ada dua kursi berwarna hitam, merupakan karya mereka dari hasil riset terhadap pohon bunga jepun. Sementara di tengah bediri satu meja, dari lembar triplek knockdown yang saya ceritakan tadi.

Di hari pertama pembukaan, penjaga pameran nampak ramah menyapa pengunjung yang datang, dengan langsung menceritakan gagasan mereka. Hingga akhirnya mereka sama-sama mengerjakan kursi dan meja. Sambil bercerita yang tidak hanya beririsan pada bahan pameran, namun juga berkembang ke sejarah, sosio kultural, kependudukan, ukuran tubuh, dan lain sebagainya.

“Aku tadi awalnya bingung banget lho, kok nggak ada yang dipamerin, ternyata lebih ke interaktif kayak gini yah. Tumben aku ke pameran bertemu dengan yang seperti ini. Nggak percuma aku jauh -jauh ke Kuta nok,” ujar Eka salah satu pengunjung yang saat itu juga ikut merangkai kursi bersama saya.

Jadi saya sarankan kepada teman-teman yang berkunjung ke pameran mereka, jangan malu bertanya, langsung saja tanyakan ini pameran tentang apa. Mereka pasti akan datang dengan ramah, karena sekali lagi proses menjadi titik kunci dalam pameran tersebut. Jarang sekali memang ada seniman yang mau untuk menceritakan proses di dapur, atau para kawan penikmat yang mau datang ke studio seniman, hanya untuk mengobrol dan mendalami proses kekaryaan.

Selama proses ini dibuat, Black Menu perlahan menampakan wujud instalasi yang ingin mereka bangun bersama Agus Mediana. Sementara Studiodikubu setiap hari kedatangan tamu, yang ingin tahu gagasan mereka, di sejumlah dinding pameran juga ada tempelan ide, gambar, meme, sketsa, dari kawan-kawan pengunjung.

Pameran ini masih berlangsung sampai akhir Maret, silahkan datang yah. Selain ada dua studio di atas, ada pula MACAN Studio (Pinky Gurl), DUE HATUE, Yayasan Peduli Setan dan SUKSMA Bali. Serta setiap akhir pekan dipenuhi dengan pertunjukan, pementasan musik, showcase, dan party.

Mari datang… [T]

Tags: KutaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bakwan Pak Kardi di Singaraja, Berdiri Sejak 1965, Enaknya Bertahan Hingga Kini

Next Post

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi  Festival Sastra Bali Modern

Paling Muda Paling Tua Menulis Kritik | Dari Diskusi Festival Sastra Bali Modern

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co