25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dalem Dukut, Raja Nusa yang Tak Berdarah Nusa

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
November 28, 2021
in Opini
Dalem Dukut, Raja Nusa yang Tak Berdarah Nusa

Pura Dalem Dukut di Sukun, NP. [Foto: I Komang Windia]

Salah satu raja Nusa yang populer dan disegani oleh masyarakat Nusa Penida ialah Dalem Dukut. Beliau dikenal sebagai raja yang bijaksana. Di bawah pemerintahnnya, masyarakat Nusa merasa aman, tentram dan sejahtera. Padahal, raja Dalem Dukut tidak berdarah Nusa.

Jika merujuk pada buku Babad Nusa Penida yang ditulis oleh Mangku Budha (1997), nama Dalem Dukut memang tidak masuk dalam hierarki (silsilah) Dukuh Jumpungan. Begitu juga dengan versi-versi babad Nusa baik yang bertebaran di dunia maya maupun yang berkembang di kalangan masyarakat. Tak satu pun yang menyebutkan bahwa Dalem Dukut masuk dalam keluarga Ki Dukuh Jumpungan.

Lalu, Dalem Dukut termasuk trah siapa? Terkait dengan pertanyaan ini, banyak versi babad Nusa yang berkembang mengulas tentang kesejatian Dalem Dukut tetapi masih samar. Sumber buku, sumber digital dan cerita lisan masyarakat lokal menyinggung eksistensinya secara misterius. Hampir semuanya mengulas dalam kerangka mitologi.

Selama ini, saya belum menemukan referensi historis yang memadai tentang kesejatian raja Dalem Dukut. Referensi historis yang saya maksud ialah ada peristiwa atau kronologi yang bernilai fakta sejarah—yang menjadi pedoman membaca kesejatian raja Dalam Dukut. Mungkin yang paling kompeten mengungkap kasus ini nantinya ialah para peneliti, pakar filologi dan sejarawan.

Jika berbicara tentang kesejatian raja Dalem Dukut, kita pasti diarahkan ke sebuah dunia yang sama. Baik versi (cerita lisan) masyarakat lokal maupun referensi tertulis menggiring kita pada satu jalur yakni mitos.

Mitos dengan variasi versi, tetapi ujung pangkal kisahnya sama. Pusat mitosnya ada pada tiga tokoh yaitu Bathara Tohlangkir, Dalem Dukut dan raja Dalem Sawang. Dalem Sawang adalah orang yang berkuasa di Nusa Penida. Ia dikenal sebagai raja yang kanibal. Raja ini senang memakan rakyat Bali dan rakyatnya sendiri.

Konon, Dalem Sawang memiliki anak buah wong samar yang dipastu dari bekas pasukan I Renggan. Anak buah wong samar ini tersebar hampir di seluruh pelosok desa di Bali. Mereka menebar penyakit muntaber kepada rakyat Bali hingga meninggal. Mayat inilah yang dipersembahkan kepada raja Dalem Sawang.

Deskripsi kuat tentang kanibalisme ini dapat dilihat dalam Gaguritan Ratu Gede Mecaling, Karangasem, I milik I Ketut Kari, Br. Bias, Abang, Karangasem 21 Juni 2007 (dalam bentuk Pupuh Ginada) sebagai berikut: “Sambilang ngalungin basang, padha ngigel mangilehin, hapan lega mangranayang, mabunga bahan paparu, masengkuhub (masekuub) jajaringan, mahanting-hanting -/-  ungsilané /63/ mahuttama”.

Terjemahan bebasnya kurang lebih begini. Sembari berkalung usus, mereka (wong samar dan Dalem Sawang) menari berputar-putar karena saking gembiranya, paru-paru dipakai bunga, jajaringan dipakai kerudung, lever digunakan sebagai anting-anting.

Ulah kanibalismenya membuat Bhatara Tohlangkir menjadi marah. Tohlangkir mengambil rumput kasna. Kemudian, rumput itu dipuja dengan mantra-mantra. Dari ritual tersebut keluarlah anak laki-laki yang tampan. Anak itu diberi nama Dalem Dukut. Dalam bahasa Jawa kuno, “dukut” berarti rumput, sedangkan bahasa Balinya berarti padang. Dalem Dukut inilah yang diutus untuk menumpas raja Dalem Sawang yang zolim.

Berbekal keris Pencok Sahang (pemberian Tohlangkir), Dalem Dukut berhasil mengalahkan raja raksasa sakti, Dalem Sawang. Kemenangan Dalem Dukut sekaligus menjadi momen bagi dirinya untuk menjadi raja di Nusa Penida.

Dalem Dukut dipuja sebagai juru selamat, pahlawan dan sekaligus raja baru. Di pihak lain, kekalahan Dalem Sawang menimbulkan kekecewaan. Karena itu, ipar dari I Mecaling ini melenyapkan sumber mata air (asta gangga) di puncak Mundi, salah satu ikon kemakmuran masyarakat Nusa. Akibatnya, geografi Nusa Penida mendadak menjadi kering dan tandus.

Dalem Dukut marah dengan tindakan Dalem Sawang. Namun, ia tidak mampu membalikkan keadaan seperti semula. Ia harus ikhlas menerima warisan kondisi alam yang tandus. Meski demikian, raja Dalem Dukut tetap menjalankan pemerintahannya dengan baik. Ia mampu memimpin Nusa dengan bijak, adil dan makmur.

Tafsir Mitos Dalem Dukut

Dari cerita mitos di atas, maka kita akan berkesimpulan bahwa  Dalem Dukut berasal Bali seberang. Apakah dari Karangasem? Dari keluarga siapa? Lalu, apa kewenangan Tohlangkir (lewat utusan Dalem Dukut) mengintervensi kekuasaan di Nusa? Semua masih serba misterius.

Sama misteriusnya dengan mitos itu sendiri. Ketika mitos menjadi produk sastra masyarakat, ia sangat potensial mengandung variasi tafsir. Karena dalam mitos tersembunyi fakta-fakta sejarah (mungkin) yang dibungkus dengan simbol-simbol tertentu dalam cerita.

Begitu juga dengan mitos tentang kesejatian Dalem Dukut. Sangat terbuka untuk dinterpretasikan ulang. Sangat terbuka untuk diperdebatkan, termasuk tentang asal-usulnya.

Jika mencermati proses kelahiran Dalem Dukut, orang akan mengatakan peristiwa itu irasional. Namun, sebagai utusan dari Bali seberang mungkin bisa diterima sebagai fakta. Artinya, kuat dugaan bahwa Dalem Dukut berasal dari luar Nusa (dari Bali daratan).

Mengapa harus dikaitkan dengan tokoh Tohlangkir, Dewa (penguasa) yang berstana di Gunung Agung—puncak tertinggi di Bali? Pertama, saya menduga bahwa tokoh Tohlangkir merupakan spirit posisi tertinggi di Bali—simbol kekuasaan (power) tertinggi di Bali seberang. Penguasa tertinggi di Bali. Bisa jadi referensinya adalah raja yang berkuasa di Bali seberang saat itu.

Kedua, Sugi Lanus  (Bali Post, 2020) pernah menulis bahwa zaman dulu Bhatara Tohlangkir adalah dewa pujaan wajib bagi para penguasa tertinggi / raja di Bali. Kalau tidak taat memuja Bhatara Tohlangkir, maka disebutkan akan “pendek usia” (mungkin maksudnya usia pemerintahannya) dan nasibnya akan “terjungkal” (gampang dikalahkan/ diturunkan). Dalam konteks ini, seolah-olah ada cap legalitas super power agar dapat berkuasa lama dan disegani (mirib mungkin dengan mitos hubungan raja-raja Jawa dengan Nyi Loro Kidul).

Karena itu, kuat dugaan bahwa Dalem Dukut adalah utusan (ksatria) dari penguasa tertinggi (raja) Bali waktu itu. Utusan untuk menyelamatkan dan sekaligus mengambil alih kekuasaan di Nusa. Kok, bisa begitu?

Dari sinilah saya mencurigai bahwa zaman itu Nusa berada di bawah bayang-bayang kekuasaan dari kerajaan Bali seberang. Artinya, kala itu Nusa belum sepenuhnya menjadi kerajaan yang otonom. 

Sebelum era Dalem Sawang, Tohlangkir juga sukses mengalahkan (menundukkan) kekuasaan I Renggan. Misi I Renggan untuk menabrakkan perahu saktinya ke gunung Agung ambyar di tangan Tohlangkir. Perahu I Renggan dikoyak badai dan akhirnya tenggelam di Pulau Nusa Ceningan-Lembongan.

Era I Renggan mungkin dapat dibaca sebagai upaya ekspansi kekuasaan atau penundukkan terhadap Bali seberang. Memang hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Namun terlepas dari hasil, saya menafsirkan bahwa pada zaman I Renggan sudah ada gesekan power antara Nusa dan Bali seberang.

Memang dalam mitos tidak disebutkan secara eksplisit bahwa I Renggan seorang raja. Akan tetapi, fakta mitos menyebutkan I Renggan diceritakan memiliki misi ingin menabrakkan perahu saktinya ke Pulau Lombok dan Pulau Bali—setelah sukses menabrakkan Pulau Nusa Gede. Secara tersembunyi, kita bisa berpikiran bahwa I Renggan punya kekuasaan atau jangan-jangan ia adalah penguasa di Nusa.

Ketika I Renggan kalah dari Tohlangkir, apakah ini berarti Nusa berada di bawah kekuasaan Tohlangkir (baca: raja Bali)? Jika membaca skema silsilah Dukuh Jumpungan, Dalem Sawang adalah generasi satu tingkat di bawah I Renggan. Dalem Sawang bukan keturunan langsung dari Dukuh Jumpungan, tetapi masih punya hubungan keluarga dengan I Renggan (menantunya).

Pasca kekalahan I Renggan, babad Nusa Penida baru menyinggung soal raja Nusa yakni Dalem Sawang. Pada generasi Dalem Sawang ada kata utusan dari Bali seberang. Apakah hal ini berarti pasca kekalahan I Renggan menjadi tonggak bahwa Nusa berada di bawah kekuasaan Bali?

Jawabannya bisa jadi “ya”. Sebab, pada masa pemerintahan Dalem Sawang sudah ada utusan dari Bali untuk mengambil alih kekuasaan di Nusa. Hal ini berarti, raja Bali memiliki kewenangan mengontrol, mengatur dan mengendalikan pemerintahan di Nusa.

Fakta lainnya yang diungkap dalam mitos Dalem Dukut ialah soal rasa penerimaan dari masyarakat Nusa. Dalam mitos disinggung bahwa kedatangan Dalem Dukut di Nusa disambut baik oleh masyarakat Nusa kala itu. Momen kehadirannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Nusa.

Kondisi di atas memberikan gambaran bahwa masyarakat Nusa tidak nyaman dengan pemerintahan dari Dalem Sawang. Bisa jadi mereka sudah lama merasa ditelantarkan oleh raja Dalem Sawang. Karena Dalem Sawang mungkin hanya memikirkan ego atau kesenangannya sendiri.

Klaim raja yang kanibal atau memakan daging rakyat Nusa dan Bali seberang sangat dekat dengan perilaku egois. Deskripsi kanibalisme bisa jadi berkonotasi dengan raja yang sewenang-wenang. Atau kasarnya kejam. Dianggap kejam karena mungkin hanya memikirkan kesenangan diri sendiri, membuat rakyat menderita dan tidak peduli dengan nasib kehidupan rakyat.

Karena itu, masyarakat Nusa menyambut Dalem Dukut bak pahlawan. Sebaliknya, Dalem Sawang sangat benci atas kehadiran Dalem Dukut di Nusa. Dalem Sawang menganggap Dalem Dukut sebagai musuh besar.

Seiring perkembangan waktu, rasa permusuhan Dalem Sawang tidak hanya kepada Dalem Dukut tetapi meluber kepada masyarakat Nusa sendiri. Tindakan melenyapkan asta gangga (danau/ sumber mata air di Puncak Mundi) bukan hanya sebuah kutukan dari seorang Dalem Sawang, melainkan permusuhan abadi nan misterius kepada masyarakat Nusa Penida. Apakah ini  tindakan kanibalisme? Entahlah.[T]

Tags: Nusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dalang-Dalang Cilik dalam Euforia Hari Wayang Nasional 2021 di Bali

Next Post

Kolaborasi Tiga Chef di Adiwana Suweta, Ubud

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Tiga Chef di Adiwana Suweta, Ubud

Kolaborasi Tiga Chef di Adiwana Suweta, Ubud

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co