23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter Sumi | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
November 21, 2021
in Cerpen
Dokter Sumi | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Maafkan keadaan rumahku ini. Tak sebagus tempat tinggalmu.” Made temanku sewaktu SMP memulai perbincangan denganku. Ia tidak seberuntung diriku. Hidupnya amat sederhana, tapi tak pernah mengeluh. Selalu saja kulihat kedamaian dalam hatinya. Ia pelihara beragam unggas di rumahnya. Itik dan beberapa entog berkeliaran di rumahnya. Rumahnya memang bertembok bata, belum sempat diplester sudah didahului oleh lumut yang melukisnya. Beragam lukisan lumut kulihat dari realis sampai yang abstrak.

Aku duduk di balai sakapat. Tempat yang biasa digunakan jika ada yang mengunjungi rumahnya. Dari tempat itu, bisa terlihat keindahan yang tersembunyi di semesta ini. “Sedari dulu kerjamu seperti ini?” tanyaku.

Ia tak segera menjawab. Ia lebarkan pipinya. “Nasib baik tidak berpihak padaku. Setelah tamat SMP, aku tak bisa melanjutkan karena faktor biaya. Aku jalani hidupku seperti ini. Aku sudah berusaha mencari jalan kehidupan, tapi inilah hidup yang terkadang amat susah ditafsirkan.”

Ia teman sebangkuku waktu dulu. Otaknya cukup bagus. Aku paling sering bertanya dengannya. Ia paling jago matematika di kelasku. Jika guru tidak masuk, dialah yang mengajari teman-temanku. Ia anak kesayangan guru matematika kami. Kalau tak ada yang bisa menjawab tugas dari guruku, ialah yang ditunjuk paling akhir. Tapi itulah hidup. Kepintaran yang dimilikinya harus pupus karena keadaan keluarganya. Ia jalani hidup sesederhana ini. Ia sodorkan ketela yang baru saja habis dikukusnya. Kuambil satu. Kunikmati. Kurasakan kenikmatan dalam setiap tarikan ketela ke kerongkonganku. “Kenapa kurasakan kenikmatan di sini?” bisikku. “Padahal, hidupnya amat sederhana.”

Ia tak banyak tanya padaku. Seperti kebiasaannya sewaktu SMP dulu. ia jarang bicara. Mungkin sadar akan keberadaan dirinya yang serba kurang.”Gimana kalau rumahmu kuperbaiki?”

Ia tersenyum tipis. “Tak usah. Biarkan saja. Aku merasakan kenyamanan. Aku tak mau merepotkan siapapun. Biarlah hidup ini kujalani seperti ini. Dulu juga ada yang mau merehab rumahku, tapi aku tak memberikannya.”

“Kenapa?” tanyaku ingin tahu.

Ia menarik napasnya. “Rumah ini meskipun begitu di dalamnya ada cinta. Istriku yang membangunnya. Aku tak berani mengganti tiang-tiangnya. Jika kuganti, kuyakin istriku tak akan bisa terima. Itu ada delapan tiang kayu. Kedelapannya istriku yang mengerjakannya. Aku bersyukur punya istri seperti dia walau sebentar. Kematian tak bisa dilawan. Ia meninggal saat melahirkan anakku. Anakku juga bersamanya. Aku tak mau menghilangkan rasa cintanya hanya karena sebuah rumah sebagai tempat berteduh. Cinta itulah tempat berteduhku. Cinta itulah rumahku. Cinta meneduhkan hatiku.”

Aku semakin simpati dengan sikapnya. Tak kusangka temanku sederhana seperti ini menyimpan cintanya yang tulus kepada istrinya. Mungkin jika sepertiku sudah beralih pikiran. Bisa-bisa menikah lagi. Aku menjadi orang bodoh terhadap kehidupan. Orang yang kukira menderita ternyata ada aliran cinta di dalamnya.

“Sering-seringlah kemari!” pintanya. “Aku juga kangen sama teman-teman yang lainnya. Aku yakin teman-temanku sudah menjadi orang sukses.”

Aku mengangguk. Kukatakan bahwa teman-temannya ada yang menjadi hakim. Ada yang menjadi pengacara, ada yang menjadi jaksa bahkan ada yang menjadi dokter. Kusampaikan juga temannya yang sering minta jawaban padanya. Sumi. Gadis yang baru remaja itu.

Ia tersenyum. “Sumi memang cantik. Tapi…”

“Tapiiiiiiiiiiiiii kamu jatuh cinta. Hahhahahahaha.”

Ia tertawa lebar. Aku juga tertawa. Kukatakan ia sudah menjadi dokter spesialis. “Jika kau berobat padanya, pasti tak akan dikasi bayar.”

“Hahahahaha! Tidak, aku tak mau sakit. Jangan sampaikan kehidupanku seperti ini. Ia memang gadis baik dan pintar juga. Cuma aku lebih mampu dalam bidang matematika saja. Yang lainnya Sumi memang jago.”

“Kau selalu merendah. Gimana kalau Sumi ke sini? Apa kau akan menolak?”

“Ndak sih. Tapi khan malu aku ini. Rumahku seperti ini.”

“Kuyakin Sumi tak akan terpengaruh sama rumahmu. Aku tahu Sumi itu masih menyimpan sesuatu padamu.”

Sore itu, aku pulang. Aku tak berhasil membujuk temanku ini. Pantang baginya untuk meminta bantuan pada orang lain. Meskipun seperti itu, tapi cinta selalu ia rawat sepanjang hidupnya. Diam-diam kufoto dirinya dan rumahnya. Kukirimi Sumi. Ia balik bertanya. “Siapa ini? Gagah sekali.”

“Kau ternyata jatuh hati juga padanya?”

“Ah, nggak cuma memuji saja.”

“Siapa tahu dari pujian bisa tergoda.”

Ia temanku sebangku waktu SMP dulu.” Ia cepat mengingatnya.

“Putraaaaaaaaaaaaaaa! Ke mana saja kau selama ini? Aku kangen padamu.”

“Nah, apa yang kuduga sebelumnya ternyata benar. Cinta monyetmu kambuh lagi. Hahahahaha!”

“Pokoknya ajak aku ke sana. Tidak boleh tidak. Aku harus bertemu Putra. Ia teman karibku dulu. Tak boleh lupa sama teman apapun keadaannya.”

“Bagus! Bu Dokter. Tapi, aku pasti akan disalahkan sama Putra. Ia katakan tak boleh disampaikan sama Sumi. Memangnya kalian pernah ada janji?”

“Ndak sih. Tapi mungkin pernah ada yang pernah kuucapkan. Tapi apa ya?” Pokoknya besok, aku harus bertemu Putra. Tidak boleh tidak. Apapun alasanmu. Kau harus mengantarku ke rumahnya.”

Besok pagi, kebetulan Sabtu, Sumi tak membuka praktik. Kami ke rumah Putra kembali. Kami susuri jalan menuju rumahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan menuju rumahnya masih berdiri tegak. Kesejukan mengalari perjalanan kami. Suara burung menyertai kami. “Damai sekali desa ini.”

“Benar Sumi. Beda dengan kehidupan kita. Rumah kita dikitari tembok beton. Halaman beton. Di sini kita bisa menghirup bau tanah. Bau tumbuhan yang masih memancarkan cintanya pada kehidupan. Di sini, tak ada pohon plastik. Tak ada bunga plastik serba alami.”

Kami menuju rumah Putra. Ia baru saja selesai menyiangi rumput di halamannya. “Kamu ini mimpi atau gimana?” tanyanya.

“Katanya boleh sering-sering ke sini?”

“Ya boleh. Tapi khan baru kemarin. Aku jadi curiga? Pasti ada yang kau cari ke sini?”

“Ndak. Aku hanya mengantarkan Bu Dokter.”

“Oh Bu Dokter. Maaf Bu, rumah ini tidak sehat. Di sini duduk Bu Dokter. Nanti Ibu kotor duduk di sana.”

Air mata Sumi meleleh. Ia tak menduga Putra yang pernah ia janjikan dulu seperti ini. “Jangan mendekat Bu Dokter. Tubuhku kotor dan bau juga.”

Sumi terus mendekati Putra ia memeluknya erat sekali dan air matanya terus menetes. “Aku masih mencintaimu Putra. Aku Sumi. Maaf, aku meninggalkanmu.” [T]

Catatan:

  • Sakapat: rumah bertiang empat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung

Next Post

Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan "Beyond" Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co