23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter Sumi | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
November 21, 2021
in Cerpen
Dokter Sumi | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Maafkan keadaan rumahku ini. Tak sebagus tempat tinggalmu.” Made temanku sewaktu SMP memulai perbincangan denganku. Ia tidak seberuntung diriku. Hidupnya amat sederhana, tapi tak pernah mengeluh. Selalu saja kulihat kedamaian dalam hatinya. Ia pelihara beragam unggas di rumahnya. Itik dan beberapa entog berkeliaran di rumahnya. Rumahnya memang bertembok bata, belum sempat diplester sudah didahului oleh lumut yang melukisnya. Beragam lukisan lumut kulihat dari realis sampai yang abstrak.

Aku duduk di balai sakapat. Tempat yang biasa digunakan jika ada yang mengunjungi rumahnya. Dari tempat itu, bisa terlihat keindahan yang tersembunyi di semesta ini. “Sedari dulu kerjamu seperti ini?” tanyaku.

Ia tak segera menjawab. Ia lebarkan pipinya. “Nasib baik tidak berpihak padaku. Setelah tamat SMP, aku tak bisa melanjutkan karena faktor biaya. Aku jalani hidupku seperti ini. Aku sudah berusaha mencari jalan kehidupan, tapi inilah hidup yang terkadang amat susah ditafsirkan.”

Ia teman sebangkuku waktu dulu. Otaknya cukup bagus. Aku paling sering bertanya dengannya. Ia paling jago matematika di kelasku. Jika guru tidak masuk, dialah yang mengajari teman-temanku. Ia anak kesayangan guru matematika kami. Kalau tak ada yang bisa menjawab tugas dari guruku, ialah yang ditunjuk paling akhir. Tapi itulah hidup. Kepintaran yang dimilikinya harus pupus karena keadaan keluarganya. Ia jalani hidup sesederhana ini. Ia sodorkan ketela yang baru saja habis dikukusnya. Kuambil satu. Kunikmati. Kurasakan kenikmatan dalam setiap tarikan ketela ke kerongkonganku. “Kenapa kurasakan kenikmatan di sini?” bisikku. “Padahal, hidupnya amat sederhana.”

Ia tak banyak tanya padaku. Seperti kebiasaannya sewaktu SMP dulu. ia jarang bicara. Mungkin sadar akan keberadaan dirinya yang serba kurang.”Gimana kalau rumahmu kuperbaiki?”

Ia tersenyum tipis. “Tak usah. Biarkan saja. Aku merasakan kenyamanan. Aku tak mau merepotkan siapapun. Biarlah hidup ini kujalani seperti ini. Dulu juga ada yang mau merehab rumahku, tapi aku tak memberikannya.”

“Kenapa?” tanyaku ingin tahu.

Ia menarik napasnya. “Rumah ini meskipun begitu di dalamnya ada cinta. Istriku yang membangunnya. Aku tak berani mengganti tiang-tiangnya. Jika kuganti, kuyakin istriku tak akan bisa terima. Itu ada delapan tiang kayu. Kedelapannya istriku yang mengerjakannya. Aku bersyukur punya istri seperti dia walau sebentar. Kematian tak bisa dilawan. Ia meninggal saat melahirkan anakku. Anakku juga bersamanya. Aku tak mau menghilangkan rasa cintanya hanya karena sebuah rumah sebagai tempat berteduh. Cinta itulah tempat berteduhku. Cinta itulah rumahku. Cinta meneduhkan hatiku.”

Aku semakin simpati dengan sikapnya. Tak kusangka temanku sederhana seperti ini menyimpan cintanya yang tulus kepada istrinya. Mungkin jika sepertiku sudah beralih pikiran. Bisa-bisa menikah lagi. Aku menjadi orang bodoh terhadap kehidupan. Orang yang kukira menderita ternyata ada aliran cinta di dalamnya.

“Sering-seringlah kemari!” pintanya. “Aku juga kangen sama teman-teman yang lainnya. Aku yakin teman-temanku sudah menjadi orang sukses.”

Aku mengangguk. Kukatakan bahwa teman-temannya ada yang menjadi hakim. Ada yang menjadi pengacara, ada yang menjadi jaksa bahkan ada yang menjadi dokter. Kusampaikan juga temannya yang sering minta jawaban padanya. Sumi. Gadis yang baru remaja itu.

Ia tersenyum. “Sumi memang cantik. Tapi…”

“Tapiiiiiiiiiiiiii kamu jatuh cinta. Hahhahahahaha.”

Ia tertawa lebar. Aku juga tertawa. Kukatakan ia sudah menjadi dokter spesialis. “Jika kau berobat padanya, pasti tak akan dikasi bayar.”

“Hahahahaha! Tidak, aku tak mau sakit. Jangan sampaikan kehidupanku seperti ini. Ia memang gadis baik dan pintar juga. Cuma aku lebih mampu dalam bidang matematika saja. Yang lainnya Sumi memang jago.”

“Kau selalu merendah. Gimana kalau Sumi ke sini? Apa kau akan menolak?”

“Ndak sih. Tapi khan malu aku ini. Rumahku seperti ini.”

“Kuyakin Sumi tak akan terpengaruh sama rumahmu. Aku tahu Sumi itu masih menyimpan sesuatu padamu.”

Sore itu, aku pulang. Aku tak berhasil membujuk temanku ini. Pantang baginya untuk meminta bantuan pada orang lain. Meskipun seperti itu, tapi cinta selalu ia rawat sepanjang hidupnya. Diam-diam kufoto dirinya dan rumahnya. Kukirimi Sumi. Ia balik bertanya. “Siapa ini? Gagah sekali.”

“Kau ternyata jatuh hati juga padanya?”

“Ah, nggak cuma memuji saja.”

“Siapa tahu dari pujian bisa tergoda.”

Ia temanku sebangku waktu SMP dulu.” Ia cepat mengingatnya.

“Putraaaaaaaaaaaaaaa! Ke mana saja kau selama ini? Aku kangen padamu.”

“Nah, apa yang kuduga sebelumnya ternyata benar. Cinta monyetmu kambuh lagi. Hahahahaha!”

“Pokoknya ajak aku ke sana. Tidak boleh tidak. Aku harus bertemu Putra. Ia teman karibku dulu. Tak boleh lupa sama teman apapun keadaannya.”

“Bagus! Bu Dokter. Tapi, aku pasti akan disalahkan sama Putra. Ia katakan tak boleh disampaikan sama Sumi. Memangnya kalian pernah ada janji?”

“Ndak sih. Tapi mungkin pernah ada yang pernah kuucapkan. Tapi apa ya?” Pokoknya besok, aku harus bertemu Putra. Tidak boleh tidak. Apapun alasanmu. Kau harus mengantarku ke rumahnya.”

Besok pagi, kebetulan Sabtu, Sumi tak membuka praktik. Kami ke rumah Putra kembali. Kami susuri jalan menuju rumahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan menuju rumahnya masih berdiri tegak. Kesejukan mengalari perjalanan kami. Suara burung menyertai kami. “Damai sekali desa ini.”

“Benar Sumi. Beda dengan kehidupan kita. Rumah kita dikitari tembok beton. Halaman beton. Di sini kita bisa menghirup bau tanah. Bau tumbuhan yang masih memancarkan cintanya pada kehidupan. Di sini, tak ada pohon plastik. Tak ada bunga plastik serba alami.”

Kami menuju rumah Putra. Ia baru saja selesai menyiangi rumput di halamannya. “Kamu ini mimpi atau gimana?” tanyanya.

“Katanya boleh sering-sering ke sini?”

“Ya boleh. Tapi khan baru kemarin. Aku jadi curiga? Pasti ada yang kau cari ke sini?”

“Ndak. Aku hanya mengantarkan Bu Dokter.”

“Oh Bu Dokter. Maaf Bu, rumah ini tidak sehat. Di sini duduk Bu Dokter. Nanti Ibu kotor duduk di sana.”

Air mata Sumi meleleh. Ia tak menduga Putra yang pernah ia janjikan dulu seperti ini. “Jangan mendekat Bu Dokter. Tubuhku kotor dan bau juga.”

Sumi terus mendekati Putra ia memeluknya erat sekali dan air matanya terus menetes. “Aku masih mencintaimu Putra. Aku Sumi. Maaf, aku meninggalkanmu.” [T]

Catatan:

  • Sakapat: rumah bertiang empat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung

Next Post

Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan "Beyond" Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co