2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter Sumi | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
November 21, 2021
in Cerpen
Dokter Sumi | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Maafkan keadaan rumahku ini. Tak sebagus tempat tinggalmu.” Made temanku sewaktu SMP memulai perbincangan denganku. Ia tidak seberuntung diriku. Hidupnya amat sederhana, tapi tak pernah mengeluh. Selalu saja kulihat kedamaian dalam hatinya. Ia pelihara beragam unggas di rumahnya. Itik dan beberapa entog berkeliaran di rumahnya. Rumahnya memang bertembok bata, belum sempat diplester sudah didahului oleh lumut yang melukisnya. Beragam lukisan lumut kulihat dari realis sampai yang abstrak.

Aku duduk di balai sakapat. Tempat yang biasa digunakan jika ada yang mengunjungi rumahnya. Dari tempat itu, bisa terlihat keindahan yang tersembunyi di semesta ini. “Sedari dulu kerjamu seperti ini?” tanyaku.

Ia tak segera menjawab. Ia lebarkan pipinya. “Nasib baik tidak berpihak padaku. Setelah tamat SMP, aku tak bisa melanjutkan karena faktor biaya. Aku jalani hidupku seperti ini. Aku sudah berusaha mencari jalan kehidupan, tapi inilah hidup yang terkadang amat susah ditafsirkan.”

Ia teman sebangkuku waktu dulu. Otaknya cukup bagus. Aku paling sering bertanya dengannya. Ia paling jago matematika di kelasku. Jika guru tidak masuk, dialah yang mengajari teman-temanku. Ia anak kesayangan guru matematika kami. Kalau tak ada yang bisa menjawab tugas dari guruku, ialah yang ditunjuk paling akhir. Tapi itulah hidup. Kepintaran yang dimilikinya harus pupus karena keadaan keluarganya. Ia jalani hidup sesederhana ini. Ia sodorkan ketela yang baru saja habis dikukusnya. Kuambil satu. Kunikmati. Kurasakan kenikmatan dalam setiap tarikan ketela ke kerongkonganku. “Kenapa kurasakan kenikmatan di sini?” bisikku. “Padahal, hidupnya amat sederhana.”

Ia tak banyak tanya padaku. Seperti kebiasaannya sewaktu SMP dulu. ia jarang bicara. Mungkin sadar akan keberadaan dirinya yang serba kurang.”Gimana kalau rumahmu kuperbaiki?”

Ia tersenyum tipis. “Tak usah. Biarkan saja. Aku merasakan kenyamanan. Aku tak mau merepotkan siapapun. Biarlah hidup ini kujalani seperti ini. Dulu juga ada yang mau merehab rumahku, tapi aku tak memberikannya.”

“Kenapa?” tanyaku ingin tahu.

Ia menarik napasnya. “Rumah ini meskipun begitu di dalamnya ada cinta. Istriku yang membangunnya. Aku tak berani mengganti tiang-tiangnya. Jika kuganti, kuyakin istriku tak akan bisa terima. Itu ada delapan tiang kayu. Kedelapannya istriku yang mengerjakannya. Aku bersyukur punya istri seperti dia walau sebentar. Kematian tak bisa dilawan. Ia meninggal saat melahirkan anakku. Anakku juga bersamanya. Aku tak mau menghilangkan rasa cintanya hanya karena sebuah rumah sebagai tempat berteduh. Cinta itulah tempat berteduhku. Cinta itulah rumahku. Cinta meneduhkan hatiku.”

Aku semakin simpati dengan sikapnya. Tak kusangka temanku sederhana seperti ini menyimpan cintanya yang tulus kepada istrinya. Mungkin jika sepertiku sudah beralih pikiran. Bisa-bisa menikah lagi. Aku menjadi orang bodoh terhadap kehidupan. Orang yang kukira menderita ternyata ada aliran cinta di dalamnya.

“Sering-seringlah kemari!” pintanya. “Aku juga kangen sama teman-teman yang lainnya. Aku yakin teman-temanku sudah menjadi orang sukses.”

Aku mengangguk. Kukatakan bahwa teman-temannya ada yang menjadi hakim. Ada yang menjadi pengacara, ada yang menjadi jaksa bahkan ada yang menjadi dokter. Kusampaikan juga temannya yang sering minta jawaban padanya. Sumi. Gadis yang baru remaja itu.

Ia tersenyum. “Sumi memang cantik. Tapi…”

“Tapiiiiiiiiiiiiii kamu jatuh cinta. Hahhahahahaha.”

Ia tertawa lebar. Aku juga tertawa. Kukatakan ia sudah menjadi dokter spesialis. “Jika kau berobat padanya, pasti tak akan dikasi bayar.”

“Hahahahaha! Tidak, aku tak mau sakit. Jangan sampaikan kehidupanku seperti ini. Ia memang gadis baik dan pintar juga. Cuma aku lebih mampu dalam bidang matematika saja. Yang lainnya Sumi memang jago.”

“Kau selalu merendah. Gimana kalau Sumi ke sini? Apa kau akan menolak?”

“Ndak sih. Tapi khan malu aku ini. Rumahku seperti ini.”

“Kuyakin Sumi tak akan terpengaruh sama rumahmu. Aku tahu Sumi itu masih menyimpan sesuatu padamu.”

Sore itu, aku pulang. Aku tak berhasil membujuk temanku ini. Pantang baginya untuk meminta bantuan pada orang lain. Meskipun seperti itu, tapi cinta selalu ia rawat sepanjang hidupnya. Diam-diam kufoto dirinya dan rumahnya. Kukirimi Sumi. Ia balik bertanya. “Siapa ini? Gagah sekali.”

“Kau ternyata jatuh hati juga padanya?”

“Ah, nggak cuma memuji saja.”

“Siapa tahu dari pujian bisa tergoda.”

Ia temanku sebangku waktu SMP dulu.” Ia cepat mengingatnya.

“Putraaaaaaaaaaaaaaa! Ke mana saja kau selama ini? Aku kangen padamu.”

“Nah, apa yang kuduga sebelumnya ternyata benar. Cinta monyetmu kambuh lagi. Hahahahaha!”

“Pokoknya ajak aku ke sana. Tidak boleh tidak. Aku harus bertemu Putra. Ia teman karibku dulu. Tak boleh lupa sama teman apapun keadaannya.”

“Bagus! Bu Dokter. Tapi, aku pasti akan disalahkan sama Putra. Ia katakan tak boleh disampaikan sama Sumi. Memangnya kalian pernah ada janji?”

“Ndak sih. Tapi mungkin pernah ada yang pernah kuucapkan. Tapi apa ya?” Pokoknya besok, aku harus bertemu Putra. Tidak boleh tidak. Apapun alasanmu. Kau harus mengantarku ke rumahnya.”

Besok pagi, kebetulan Sabtu, Sumi tak membuka praktik. Kami ke rumah Putra kembali. Kami susuri jalan menuju rumahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan menuju rumahnya masih berdiri tegak. Kesejukan mengalari perjalanan kami. Suara burung menyertai kami. “Damai sekali desa ini.”

“Benar Sumi. Beda dengan kehidupan kita. Rumah kita dikitari tembok beton. Halaman beton. Di sini kita bisa menghirup bau tanah. Bau tumbuhan yang masih memancarkan cintanya pada kehidupan. Di sini, tak ada pohon plastik. Tak ada bunga plastik serba alami.”

Kami menuju rumah Putra. Ia baru saja selesai menyiangi rumput di halamannya. “Kamu ini mimpi atau gimana?” tanyanya.

“Katanya boleh sering-sering ke sini?”

“Ya boleh. Tapi khan baru kemarin. Aku jadi curiga? Pasti ada yang kau cari ke sini?”

“Ndak. Aku hanya mengantarkan Bu Dokter.”

“Oh Bu Dokter. Maaf Bu, rumah ini tidak sehat. Di sini duduk Bu Dokter. Nanti Ibu kotor duduk di sana.”

Air mata Sumi meleleh. Ia tak menduga Putra yang pernah ia janjikan dulu seperti ini. “Jangan mendekat Bu Dokter. Tubuhku kotor dan bau juga.”

Sumi terus mendekati Putra ia memeluknya erat sekali dan air matanya terus menetes. “Aku masih mencintaimu Putra. Aku Sumi. Maaf, aku meninggalkanmu.” [T]

Catatan:

  • Sakapat: rumah bertiang empat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung

Next Post

Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan "Beyond" Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co